You are on page 1of 17

A.

Pengertian Metabolisme
Salah satu ciri yang menunjukkan gejala hidup pada makhluk hidup adalah
melakukan metabolisme. Semua bahan makanan seperti glukosa, asam amino, dan
asam lemak dapat menjadi sumber energi (ATP). Caranya adalah dengan
melakukan transformasi energi melalui proses metabolisme yang berlangsung di
dalam sel tubuh. Energi antara lain berguna untuk otot, sekresi kelenjar,
memelihara membrane potensial sel saraf dan sel otot, sintesis substansi sel.
Metabolisme adalah suatu proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh
semua makhluk hidup, proses ini merupakan pertukaran zat ataupun suatu
organism dengan lingkungannya. Metabolisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu
metabole yang berarti perubahan, dapat kita katakana bahwa makhluk hidup
mendapat, mengolah dan mengubah suatu zat melalui proses kimiawi untuk
mempertahankan hidupnya.
Metabolisme merupakan proses yang berlangsung dalam organisme,baik
secara mekanis maupun kimiawi.Metabolisme itu sendiri terdiri dari 2 proses
yaitu anabolisme(pembentukan molekul) dan Katabolisme (Penguraian molekul
Pada proses pencernaan makanan, karbohidrat mengalami proses hidrolisis
(penguraian dengan menggunakan molekul air). Proses pencernaan karbohidrat
terjadi dengan menguraikan polisakarida menjadi monosakarida.
Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis karena
metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.
Mengapa demikian? Karena enzim dibutuhkan untuk
memperlancar proses metabolisme, tanpa enzim proses ini tidak
akan berjalan dengan baik alias terhambat. Dengan kata lain
control dari metabolisme yang terus berjalan dalam tubuh
makhluk hidup bergantung pada aktivitas enzim.
Enzim merupakan senyawa protein yang berperan dalam
metabolisme yaitu sebagai biokatalisator yang mampu
mempercepat reaksi kimia tetapi tidak ikut bereaksi. Enzim
bekerja dengan cara menurunkun energi aktivitasi. Factor-faktor
yang mempengaruhi kerja enzim antara lain suhu, pH, zat
peghambat (Inhibitor), activator dan konsentrasi. Level enzim
pada tubuh makhluk hidup tergantung kebutuhan metabolisme.
B. Pengertian Obat Metabolisme

Metabolisme (biotransformasi) adalah suatu proses kimia di mana suatu obat


diubah didalam tubuh menjadi suatu metabolitnya. Perubahan kimia obat dalam
tubuh terutama terjadi pada jaringan dan organ-organ seperti hati, ginjal, paru dan
saluran cerna. Hati adalah organ tubuh yang merupakan tempat utama
metabolisme obat oleh karena mengandung lebih banyak enzim-enzim
metabolisme dibanding organ lain. setelah pemberian secara oral, obat diserap
oleh saluran cerna, masuk ke peredaran darah dan kemudian ke hati melalui efek
lintas pertama. aliran darah yang membawa obat atas senyawa organik asing
melewati sel-sel hati secara perlahan-lahan dan termetabolisis menjadi senyawa
yang mudah larut dalam air kemudian diekskresikan melalui urin. ( Siswandono,
Soekardjo, Bambang.2000.Kimia Medisinal, hal 65)

Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar (larut lemak)
menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan
perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tapi sebagian berubah
menjadi lebih aktif, kurang aktif, atau menjadi toksik.

(Syarif, Amir,dkk.1995. Farmakologi dan Terapi edisi V, hal 8)

Kecepatan biotransformasi umumnya bertambah bila konsentrasi obat meningkat.


Hal ini berlaku sampai titik dimana konsentrasi menjadi demikian tinggi hingga
seluruh molekul enzim yang melakukan pengubahan ditempati terus-menerus oleh
molekul obat dan tercapainya kecepatan biotransformasi yang konstan. Sebagai
contoh dapat dikemukakan natrium salisilat dan etanol bila diberikan dengan dosis
yang melebihi 5000mg dan 20g, pada grafik konsentrasi-waktu dari etanol.
Kecepatan biotransformasi konstan ini tampak dari turunnya secara konstan pula
dari konsentrasinya dalam darah.

Kecepatan biotransformasi umumnya bertambah bila konsentrasi obat meningkat.


Hal ini berlaku sampai titik dimana konsentrasi menjadi demikian tinggi hingga
seluruh molekul enzim yang melakukan pengubahan ditempati terus-menerus oleh
molekul obat dan tercapainya kecepatan biotransformasi yang konstan. Sebagai
contoh dapat dikemukakan natrium salisilat dan etanol bila diberikan dengan dosis
yang melebihi 5000mg dan 20g, pada grafik konsentrasi-waktu dari etanol.
Kecepatan biotransformasi konstan ini tampak dari turunnya secara konstan pula
dari konsentrasinya dalam darah.

faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme obat, antara lain:

1. Faktor genetik atau keturunan


perbedaan individu pada proses metabolisme sejumlah obat kadang-
kadang terjadi dalam sistem kehidupan. hal ini menunjukan bahwa faktor
genetik atau keturunan ikut berperan terhadap adanya perbedaan kecepatan
metabolisme obat.
2. Perbedaan spesies dan galur
Pada proses metabolisme obat, perubahan kimia yang terjadi pada spesies
dan galur kemungkinan sama atau sedikit berbeda, tetapi kadang-kadang
ada perbedaan yang cukup besar pada reaksi metabolismenya. pengamatan
pengaruh perbedaan spesies dan galur terhadap metabolisme obat sudah
banyak dilakukan, yaitu pada tipe reaksi metabolic atau perbedaan
kualitatif dan pada kecepatan metabolisme atau perbedaan kuantitatif.
3. Perbedaan jenis kelamin
Pada beberapa spesies binatang menunjukan ada pengaruh jenis kelamin
terhadap kecepatan metablisme obat. banyak obat dimetabolisis dengan
kecepatan yang sama baik pada tikus betina maupun tikus jantan. tikus
betina dewasa ternyata memetabolisis beberapa obat dengan kecepatan
yang lebih rendah. Pada manusia baru sedikit yang diketahui tentang
adanya pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadpa proses metabolisme
obat.
4. Perbedaan umum
Bayi dalam kandungan dan bayi yang baru lahir jumlah enzim-enzim
mikrosom hati yang diperlukan untuk memetabolisis obat relatif masih
sedikit sehingga sangat peka terhadap obat.
5. Penghambatan enzim metabolism
kadang-kadang pemberian terlebih dahulu atau secara bersama-sama suatu
senyawa yang menghambat kerja enzim metabolisme dapat meningkatkan
intensitas efek obat, memperpanjang masa kerja obat dan kemungkinan
juga meningkatkan k efek samping dan toksisitas.
6. Induksi Enzim Metabolisme
Kadang-kadang pemberian terlebih dahulu atau secara bersama-sama suatu
senyawa dapat meningkatkan kecepatan metabolisme obat dan
memperpendek masa kerja obat. Hal ini disebabkan senyawa tersebut
dapat meningkatkan aktivitas atau jumlah enzim metabolisme dan bukan
karena perubahan permeabilitas mikrosom atau oleh adanya reaksi
penghambatan. peningkatan aktivitas enzim metabolisme obat-obat
tertentu atau proses induksi enzim mempercepat proses metabolisme dan
menurunkan kadar obat bebas dalam plasma sehingga efek farmakologis
obat menurun dan masa kerjanya menjadi lebih singkat. induksi enzim
juga mempengaruhi tosisitas beberapa obat karena dapat meningkatkan
metabolisme dan pembentukan metabolit reaktif.
7. Faktor Lain
faktor lain yang dapat mempengaruhi metabolisme obat adalah diet
makanan, keadaan kurang gizi, gangguan keseimbangan hormon,
kehamilan, pengikatan obat oleh protein plasma, distribusi obat dalam
jaringan dan kedaan patologis hati.
C. Penggolongan Obat Metabolisme
1. Anoreksigenum
a. Definisi
Obat anoreksigenikum merupakan obat yang termasuk ke dalam suplemen
makanan yang berfungsi untuk menghambat nafsu makan sehingga sering
diklaim dapat menurunkan berat badan seseorang.
b. Cara Kerja Obat Anoreksigenikum
Menekan pusat nafsu makan di SSP
c. Contoh Obat Anoreksigenikum
Thermolyte
Termolyte merupakan obat penurun bada di apotik yang diformulasikan
dari tumbuh-tumbuhan dan diperkaya dengan asam amino, vitamin dan
mineral untuk menjaga stabilitas system metabolisme tubuh. Thermolyte
plus bekerja secra sinergis untuk menurunkan berat badan, membakar
lemak tubuh secara efektif dan mengurangi resiko selulit hingga 50 %.
Qsymia
Qsymia adalah obat untuk menurunkan berat badan yang merupakan
kombinasi antara phentermine dan topimarate (kejang obat/ migraine).
Topiramate dapat menurunkan berat badan melalui 3 cara, yaitu cara
memunculkan perasaan kenyang, membuat rasa makanan menjadi kurang
menarik, dan meningkatkan pembakaran kalori. Qsymia juga diklaim
sebagai obat yang dapat digunakan untuk jangka panjang. Akan tetapi
tidak dapat dikonsumsi oleh wanita yang sedang hamil, selain itu obat ini
juga hanya dijualdi apotek yang disertifikasi.
Xenical (orlistat)
Xenical cukup efektif untuk menurunkan berat badan, kemungkinan barat
badan akan turun 5% sampai 10% jika dikonsumsi dengan kalori diet
rendah lemak. Sebagian besar berat badan akan turun dalam 6 bulan
pertama sejak penggunaannya.
Kapsul ideal
Adalah ramuan herbal

d. Indikasi
Menurunkan berat badan
Kontraindikasi
Glaukoma, riwayat agitasi, wanita hamil dan menyusui.
e. Efek samping
Gangguan tidur, tremor, palpitasi, mual, muntah.
Interaksi obat
Antidiabetes (insulin) harus diganti dengan yang lain bila diberikan
bersamaan. Anastetik umum menyebabkan aritmia bila diberikan
bersamaan. Meningkatkan efek antihistamin, guanetidin, alfa metil
dopa. Fenotiazin mengantagonis dietilpropion.
Dosis
75 mg per hari
2. Dietikum
Obat dietikum merupakan obat yang termasuk penggolongan suplemen makanan
yang memiliki fungsi untuk memperbaiki status gizi, suplemen makanan dietikum
sering digunakan untuk menambah berat baan ataupun untuk meningkatkan nafsu
makan

3. Elektrolit/Diuretik
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin
melalui kerja langsung terhadap ginjal. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian,
pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang
kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air. Proses deuresis
dimulai dengan mengalirnya darah ke glomeruli (gumpalan kapiler) yang terletak
di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai
saringan halus yang secara pasif dapat di lintasi air, garam, dan glukosa. Fungsi
utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali
menjadi normal.
Jenis obat diuretic:
a. Diuretik osmotic
Diuretik osmotik mengacu pada zat non elektrolit yang mudah dan
cepat diekskresi oleh ginjal serta menarik air. Ada empat syarat suatu zat
dikatakan diuretik osmotik, yaitu:
Difiltrasi secara bebas oleh glomerulus
Tidak/sedikit direabsorpsi oleh tubulus
Bersifat inert (sukar bereaksi)
Tidak dimetabolisme
Contohnya: mannitol (paling umum), urea, gliserin, dan isosorbid.
Manitol paling sering digunakan diantara obat ini, karena manitol tidak
mengalami metabolisme dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorpsi
tubuli bahkan praktis dianggap tidak direabsorpsi. Pada penderita payah
jantung pemberian manitol berbahaya, kerana volume darah yang beredar
meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah gagal.
Manitol digunakan misalnya untuk:
Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat
operasi jantung, luka traumatik berat, atau tindakan operatif dengan
penderita yang juga menderita ikterus berat.
Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler atau cairan
serebrospinal.
Indikasi Diuretik Osmotik
Glaukoma dan edema otak (sering dipakai)
Sindroma disekuilibrium (waktu dialisiskan bisa terjadi penarikan air yang
berlebihan sehingga timbul hipovolemia, orangnya jadi hipotensi, sakit
kepala, kejang dan depresi)
Profilaksis pada penyakit nekrosis tubular akut (ATN) akibat bedah,
trauma atau pemberian media kontras pada pemeriksaan radiologi ginjal.
Efek Samping Diuretik Osmotik
Resiko pada penyakit gagal jantung dan edema paru karena peningkatan
volume plasma pada awal pemberian
Hiponatremia dan hipovolemia
Reaksi hipersensitivitas
Trombosis vena, hiperglikemia dan glikosuria (pemberian gliserin)
Kontra Indikasi Diuretik Osmotik
Gagal ginjal dengan anuria
Edema paru dan dehidrasi
Perdarahan intrakranial karena obat ini menarik air dari cairan otak.
Cara Penggunaan: berupa tablet, infus, injeksi
Dosis Diuretik Osmotik
Manitol. Untuk suntikan intravena digunakan larutan 5-25% dengan
volume antara 50-1000ml. Dosis untuk menimbulkan diuresis adalah
50-200g yang diberikan dalam cairan infus selama 24 jam dengan
kecepatan infus sedemikian, sehingga diperoleh diuresis sebanyak 30-
50ml per jam. Untuk penderita dengan oliguria hebat diberikan dosis
percobaan yaitu 200mg/kgBB yang diberikan melalui infus selama 3-5
menit. Bila dengan 1-2 kali dosis percobaan diuresis masih kurang dari
30ml per jam dalam 2-3 jam, maka status pasien harus di evaluasi
kembali sebelum pengobatan dilanjutkan.
Urea. Suatu kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalan
air. Sediaan intravena mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose
5% (iso-osmotik) sebab larutan urea murni dapat menimbulkan
hemolisis. Pada tindakan bedah saraf, urea diberikan intravena dengan
dosis 1-1,5g/kgBB. Sebagai diuretik, urea potensinya lebih lemah
dibandingkan dengan manitol, karena hampir 50% senyawa urea ini
akan direabsorbsi oleh tubuli ginjal.
Gliserin. Diberkan per oral sebelum suatu tindakan optalmologi
dengan tujuan menurunkan tekanan intraokuler. Efek maksimal terlihat
1 jam sesudah pemberian obat dan menghilang sesudah 5 jam.
Isosorbid. Diberikan secara oral untuk indikasi yang sama dengan
gliserin. Efeknya juga sama, hanya isosorbid menimbulkan diuresis
yang lebih besar daripada gliserin, tanpa menimbulkan hiperglikemia.
Dosis berkisar antara 1-3g/kgBB, dan dapat diberikan 2-4 kali sehari.
Cara Kerja Obat Diuretik Osmotik
Adalah dengan meningkatkan tekanan osmotik dalam lumen tubular
(makanya namanya diuretik osmotik). Hal ini menyebabkan ekskresi air
dan elektrolit meningkat. Elektrolit tersebut yaitu Na, K, Ca, Mg, HCO 3
dan fosfat.
b. Diuretik Golongan Penghambat Enzim Karbonik Anhidrase
Contohnya: asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
Indikasi
Pasien glaukoma, epilepsi
Paralisis periodik familial
Alkalosis metabolik (inget aja kerja IKA adalah mengurangi reabsorpsi
HCO3 sehingga kadar HCO3 dalam darah akan menurun)
Acute mountain sickness (gejala mual, muntah, pusing, dan insomnia
yang biasanya dialami para pendaki gunung saat berada di ketinggian
lebih dari 3000 m)
Alkalinisasi urin (dengan banyaknya HCO3 di urin, maka
pembentukan batu sistin dan urat dapat dicegah. Batu ini terbentuk
pada suasana asam)
Efek samping
Asidosis metabolik akibat peningkatan ekskresi HCO3-
Batu ginjal (batu fosfat dan kalsium)
Peningkatan sekresi NaHCO3 meningkatkan eksresi K
Parestesia, disorientasi
Kontra Indikasi
Sirosis hati karena dapat menghambat konversi NH3 menjadi NH4+,
akibatnya NH3 menumpuk di darah (hiperammominemia). Inilah yang
menyebabkan disorientasi karena amonia merupakan toksik pada CNS.
lkalinisasi urin (dengan banyaknya HCO3 di urin, maka pembentukan
batu sistin dan urat dapat dicegah. Batu ini terbentuk pada suasana
asam).
Cara Penggunaan: berupa tablet (oral)
Dosis
Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet 125 mg dan 250 mg untuk
pemberian oral. Dosis antara 250-500 mg per kali, dosis untuk chronic
simple glaucoma yaitu 250-1000 mg per hari. Natrium asetazolamid untuk
pemberian parenteral hendaknya diberikan satu kali sehari, kecuali bila
dimaksudkan untuk menimbulkan asidosis metabolik maka obat ini
diberikan setiap 8 jam.
Dosis dewasa untuk acute mountain sicknessyaitu 2 kali sehari 250
mg, dimulai 3-4 hari sebelum mencapai ketinggian 3000 m atau lebih, dan
dilanjutkan untuk beberapa waktu sesudah dicapai ketinggian tersebut.
Dosis untuk paralisis periodik yang bersifat familier (familial periodic
paralysis) yaitu 250-750 mg sehari dibagi dalam 2 atau 3 dosis, sedangkan
untuk anak-anak 2 atau 3 kali sehari 125 mg.
Diklorofenamid dalam tablet 50 mg, efek optimal dapat dicapai dengan
dosis awal 200 mg sehari, serta metazolamid dalam tablet 25 mg dan 50
mg dan dosis 100-300 mg sehari, tidak terdapat dipasaran.

Cara Kerja:
Adalah enzim yang bekerja pada reaksi CO2 + H2O menjadi H2CO3 dan
sebaliknya. Inhibitor karbonik anhidrase (untuk selanjutnya disingkat IKA)
bekerja pada beberapa tempat. Di ginjal, IKA menghambat reabsorpsi
bikarbonat (HCO3-) dan mengurangi pertukaran Na-H sehingga NaHCO 3
dieksresi bersama air. Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan
cara menghambat reabsorpsi bikarbonat.
c. Diuretik Golongan Tiazid
Merupakan obat pertama dalam terapi antihipertensi pada penderita
dengan fungsi ginjal yang normal. Diuretik golongan tiazid ini bekerja
pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium
klorida.
Contohnya: klorotiazid, hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, politiazid,
bendroflumetiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon,
kuinetazon, dan indapamid.
Indikasi
Tiazid merupakan diuretik terpilih untuk pengobatan udem akibat
payah jantung ringan sampai sedang. Ada baiknya bila dikombinasikan
dengan diuretik hemat kalium pada penderita yang juga mendapat
pengobatan digitalis untuk mencegah timbulnya hipokalemia yang
memudahkan terjadinya intoksikasi digitalis. Hasil yang baik juga didapat
pada pengobatan tiazid untuk udem akibat penyakit hati dan ginjal kronis.
Tiazid merupakan salah satu obat penting pada pengobatan hipertensi,
baik sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi dengan obat hipertensi
lain.
Pemberian tiazid pada penderita gagal jantung atau hipertensi yang
disertai gangguan fungsi ginjal harus dilakukan dengan hati-hati sekali,
karena obat ini dapat memperhebat gangguan tersebut akibat penurunan
kecepatan filtrasi glomerulus dan hilangnya natrium, klorida dan kalium
yang terlalu banyak. Pengobatan lama udem kronik dengan obat ini,
hendaknya diberikan dalam dosis yang cukup untuk mempertahankan
berat badan tanpa udem. Penderita jangan terlalu dibatasi makan garam.
Penderita yang tidak responsif terhadap suatu jenis tiazid, kadang-
kadang dapat diobati dengan jenis tiazid lain. Hal ini umumnya disebabkan
karena potensi antar jenis tiazid bereda-beda. Ada baiknya sesekali
pengobatan diselingi dengan diutetik lain, misalnya diuretik antagonis
aldosteron. Golongan tiazid juga digunakan untuk pengobatan diabetes
insipidus terutama yang bersifat nefrogen dan hiperkalsiuria pada
penderita dengan batu kalsium pada saluran kemih.
Efek samping
Pada penggunaan lama dapat timbul hiperglikemia, terutama pada
penderita diabetes yang laten.
Tiazid dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserid
plasma dengan mekanisme yang tidak diketahui, tetapi tidak jelas apakah
ini meninggikan resiko terjadinya aterosklerosis.
Kadar natrium, kalium, klorida dan bikarbonat plasma sebaiknya
diperiksa secara berkala pada penggunaan tiazid jangka lama walaupun
perubahannya tidak menonjol. Kombinasi tetap tiazid dengan HCl tidak
digunakan lagi karena menimbulkan iritasi lokal di usus halus. Suplemen
KCl sebagai sediaan terpisah atau penberian tiazid bersama diuretik hemat
kalium dapat mencegah hipokalemia.
Gejala insufisiensi ginjal dapat diperberat oleh tiazid, mungkin karena
tiazid langsung mengurangi aliran darah ginjal.
Kontra Indikasi
Hipokalemia yang refraktur, hiponatremia, hiperkalsemia, gangguan ginjal
dan hati yang berat, hiperurikemia yang simptomatik, penyakit adison.
Cara Penggunaan: Berupa tablet (oral)
Dosis: Edema dosis awal 5-10 mg sehari atau berselang sehari pada pagi
hari; dosis pemeliharaan 5-10 mg 1-3 kali seminggu. Hipertensi, 2,5 mg
pada pagi hari.
Cara Kerja Obat Diuretik Tiazid:
Adalah bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama adalah
meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis
dan kloruresis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi
elektrolit pada hulu tubuli distal (early distal tubule).
Zat yang aktif sebagai penghambat karbonik anhidrase, dalam dosis
yang mencukupi, memperlihatkan efek sama seperti asetazolamid dalam
ekskresi bikarbonat. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase di luar
ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.
Pada penderita hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja
efek diuretiknya, tetapi juga karena efek langsung terhadap arteriol
sehingga terjadi vasodilatasi. Pada penderita diabetes insipidus, tazid justru
mengurangi diuresis. Mekanisme antidiuretiknya belum diketahui dengan
jelas dan efek ini kita jumpai baik pada diabetes insipidus nefrogen,
maupun yang disebabkan oleh kerusakan hipofisis posterior.
Kehamilan dan Laktasi
Thiazida dapat mengakibatkan gangguan elektrolit pada janin, juga
dilaporkan kelainan darah pada neopati. Wanita hamil hanya dapat
menggunakan diuretika pada fase terakhir kehamilannya atas indikasi ketat
dan dengan dosis yang serendah-rendahnya. Penggunaan spironolakton
dan amilorida oleh wanita hamil dianggap aman di beberapa negara, antara
lain Swedia. Furosemida, HCT, dan spironolakton mencapai susu ibu dan
menghambat laktasi
d. Diuretik Hemat Kalium
Obat diuretik hemat kalium (DHK) memblok reseptor aldosteron
sehingga mengurangi reabsorpsi Na dan K pada hilir tubuli distal dan
duktus koligentes. Dengan demikian, ekskresi K juga berkurang karena
efeknya yang relatif lemah, DHK biasanya dikombinasikan dengan
diuretik lain. Yang tergolong dalam kelompok ini adalah antagonis
aldosteron, triamteren dan amilorid. Efek diuretiknya tidak sekuat
golongan diuretik kuat.
Antagonis aldosteron adalah mineralokortikoid endogen yang paling
kuat. Peranan utama aldosteron adalah memperbesar reabsorpsi natrium
dan klorida di tubuli serta memperbesar ekskresi kalium. Jadi pada
hiperaldosteronisme, akan terjadi penurunan kadar kalium dan alkalosis
metabolik karena reabsorpsi HCO3- dan sekresi H+ yang bertambah.
Triameteren dan amilorid. Kedua obat ini terutama memperbesar
ekskresi natrium dan klorida, sedangkan ekskresi kalium berkurang dan
ekskresi bikarbonat tidak mengalami perubahan. Efek penghambatan
reabsorpsi natrium dan klorida oleh triameteren agaknya suatu efek
langsung, tidak melalui penghambatan aldosteron, karena obat ini
memperlihatkan efek yang sama baik pada keadaan normal, maupun
setelah adrenalektomi. Triameren menurunkan ekskresi K+ dengan
menghambat sekresi kalium di sel tubuli distal. Berkurangnya
reaabsorpsi natrium di tempat tersebut mengakibatkan turunnya perbedaan
potensial listrik transtubular, sedangkan adanya perbedaan potensial listrik
transtubular ini diperlukan untuk berlangsungnya proses sekresi K+ oleh
sel tubuli distat. Secara eksperimental, obat ini efektif dalam keadaan
asidosis maupun alkalosis.
Beberapa pengalaman klinik menunjukkan bhwa kedua obat ini
terutama bermanfaat bila diberikan bersama diuretic lain, misalnya
hidroklorotiazid. Dengan kombinasi ini efek natriuresisnya lebih besar dan
ekskresi kalium oleh tiazid dikurangi.
Dibandingkan oleh trimteren, amilorid jauh lebih mudah larut dalam
air sehingga lebih banyak diteliti. Pengalaman klinik dengan triamteren
pun masih sangat kurang sehingga msih banyak hal-hal yang belum
diketahui mengenai obat ini.
Absorpsi triameteren melalui saluran cerna baik sekali, obat ini hanya
diberikan oral. Efek diuresisnya biasanya mulai tampak setelah 1 jam.
Amilorid dan triametern per oral diserap kira-kira 50% dan efek
diuresisnya terlihat dalam 6 jam dan berakhir sesudah 24 jam.
Indikasi
Antagonis aldosteron digunakan secara luas untuk pengobatan
hipertensi dan udem yang refraktor. Biasanya obat ini dipakai bersama
diuretic lain dengan maksud mengurangi efek kalium, disamping
memperbesar dieresis. Hasilnya pada pengobatan payah jantung, sirosis
hepatis dan sindrom nefrotik sukar diperkirakan karena interaksi yang
terlalu kompleks dari penyakit primernya, hiperaldosteronisme sekunder
dan efek deuretik lain yang diberikan bersamaan.
Diuretic hemat kalium ternyata bermanfaat untuk pengobatan beberapa
pasien dengan udem. Tetapi obat golongan ini akan lebih bermanfaat bila
diberikan bersama dengan diuretic golongan lain. Misalnya dari golongan
tiazid. Mengingat kemungkinan dapat terjadi efek samping hiperkalemia
yang membahayakan,, maka pasien-pasien yang sedang mendpatkan
pengobatan dengan diuretic hemat K+ sekali-kali jangan diberikan
suplemen K+. juga harus waspada bila memberikan diretik ini bersama
dengan obat penghambat ACE, karena obat ini mengurangi sekresi
aldosteron, sehingga bahaya terjadinya hipovolemi dan
hiperkalemiamenjadi besar. Selain itu perlu diingat pula bahwatriameteren
atau amilorid sekali-kali jangan diberikan bersama spironolaktn mengingat
bahaya terjadinya hiperkalemia.
Efek samping:
Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti ruam
kulit, bingung, hiponatremia.
Kontra Indikasi
Pada kondisi hiperkalemia atau kondisi yang rentan untuk terjadinya
hiperkalemia (seperti gagal ginjal atau sedang dalam pengobatan dengan
ACE inhibitor, ARB, NSAID dan suplemen kalium. ACE inhibitor dan
ARB akan menurunkan sekresi aldosteron sehingga bahaya hiperkalemia
semakin besar).
Cara Penggunaan: Berupa tablet (oral)
Dosis
Spironolakton terdapat dalam bentuk tablet 25,50 dan 100 mg. dosis
dewasa berkisar antara 25-200 mg, tetapi dosis efektif sehari-hari rata-rata
100 mg dalam dosis tunggal atau terbagi.terdapat pula sediaan kombinasi
tetap antara sprironolakton 25 mg dan hidroklorotiazid 25 mg dan, serta
antara spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2,5 mg.
Triameteren tersedia sebagai kapsul dari 100 mg. dosisnya 100-300 mg
sehari. Untuk tiap penderita harus ditetapkan dosis penunjang tersendiri.
Amilorid dalam bentuk tablet 5 mg. dosis sehari sebesar 5-10 mg.
Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5 mg dan hidroklorotiazid 50 mg
dan hidroklorotiazid 50 mg terdapat dalam bentuk tablet dengan dosis
sehari antara 1-2 tablet.
Cara Kerja:
Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus
koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan
sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau
secara langsung (triamteren dan amilorida).

e. Diuretik Kuat
Memiliki efek diuretik kuat. Merupakan obat lini pertama pada gagal
jantung dan efektif untuk hipertensi dengan gagal ginjal (berlawanan
dengan tiazid).
Contohnya: asam etakrinat, furosemid dan bumetamid.
Indikasi
Edema pada jantung, hipertensi
Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi
seperti ruam kulit kurang lebih sama dengan thiazide, namun dapat
menyebabkan hipokalsemia; hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan
dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus;
perbesaran prostat; porfiria.
Kontra Indikasi
Gangguan ginjal dan hati yang berat.
Cara Penggunaan: Berupa tablet, injeksi dan infuse
Dosis
Asam etakrinat. Tablet 25 dan 50 mg digunakan dengan dosis 50-200
mg per hari. Sediaan IV berupa Na-etakrinal, dolsisnya 50mg atau 0,5-
1 mg/kgBB
Furosemid. Obat ini tersedia dalam bentuk tabletb20, 40, 80 mg dan
preparat suntikan. Umumnya pasien membutuhkan kurang dari 600
mgg/hari. Dosis anak 2 mg/kgBB, bila perlu dapat ditingkatkan
menjadi 6 mg/kgBB.
Bumetanid. Tablet 0,5 dan 1 mg digunakan dengan dosis dewasa 0,5-2
mg sehari. Dosis maksimal perhari 10mg. obat ini tersedia juga dalam
bentuk bubuk injeksi dengan dosis IV atau IM dosis awal atara 0,5-1
mg: dosis diulang 2-3 jam maksimum 10 mg/hari
Cara Kerja Obat Diuretik Kuat:
Secara umum dapat dikatakan bahwa diuretic kuat mempunyai mula
kerja dan lama kerja yang lebih pendek dari tiazid. Hal ini sebagian besar
ditentukan oleh faktor farmokokinetik dan adanya mekanisme kompensasi.
Diuretic kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi
elektrolit di ansa henle asenden bagian epitel tebal: tempat kerjnya
dipermukaan sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumel tubuli).
Pada pemberian secara IV obat ini cederung meningkatkan aliran darah
ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan
hemodiamik ginjal ini mengakibatkan menurunya reabsorpsi cairan dan
elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek awal dieresis.
Peningkatan aliran darah ginjal ini relative hanya berlangsung sebentar.
Dengan berkurangnya cairan ekstrases akibat dieresis, maka aliran darah
ginjal menurun dan hal ini akan mengakibatkan peningkatan reabsorpsi
cairan dan elektrolit di tubuli poksimal. Hal yang terakhir ini agaknya
merupakan suatu mekanisme konpensasi yang membatasi jumlah zat
terlarut yang mencapai bagian epitel tebal henle asenden, dengan demikian
akan mengurangi dieresis.
Obat ini juga menyebabkan meningkatnya ekskresi K+ dan kadar asam
urat plasma, mekanismenya kemungkinan besar sama dengan tiazid.
Ekskresi Ca++ dan Mg++ juga ditingkatkan sebanding dengan peninggian
ekskresi Na+. berbed dengan tiazid, golongan ini tidak meningkatkan re-
absorpsi Ca++ di tubuli distal. Berdasarkan atas efek kalsinuria ini,
golongan deuretik kuat digunakan untuk pengobatan simptomatik
hiperkalsemi.
Deuretik kuat meningkatkan ekskresi asam yang dapat dititrasi
(titratable acid) dan ammonia. Fenomena yang diduga terjadi karna
eeknya di nefron distal ini merupakan saah satu faktor penyebab terjadinya
alkalosis metabolic.
Bila mobilisasi cairan udem terlalu cepat, alkalosis metabolic oleh
deuretik kuat ini terutama terjadi akibat penyusutan volume cairan
ekstrasel.sebaliknya pada penggunaan yang kronik, faktor utama penyebab
alkalosis ialah besarnya asupan garam dan ekskresi H+ dan K+. alkalosis ini
sering sekali disertai dengan hiponatremia, tetapi masing-masing
disebabkan oleh mekanisme yang berbeda.

1. PENGGUNAAN KLINIK DIURETIK

1. Hipertensi
Diuretik golongan Tiazid, merupakan pilihan utama step 1, pada
sebagian besar penderita.
Diuretik kuat (biasanya furosemid), digunakan bila terdapat
gangguan fungsi ginjal atau bila diperlukan efek diuretik yang
segera.
Diuretik hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau diuretik
kuat, bila ada bahaya hipokalemia.

2. Payah jantung kronik kongestif


Diuretik golongan tiazid, digunakann bila fungsi ginjal normal.
Diuretik kuat biasanya furosemid, terutama bermanfaat pada
penderita dengan gangguan fungsi ginja.
Diuretik hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau diuretik
kuat bila ada bahaya hipokalemia.

3. Udem paru akut


Biasanya menggunakan diuretik kuat (furosemid)
4. Sindrom nefrotik
Biasanya digunakan tiazid atau diuretik kuat bersama dengan
spironolakton.

5. Payah ginjal akut


Manitol dan/atau furosemid, bila diuresis berhasil, volume cairan
tubuh yang hilang harus diganti dengan hati-hati.

6. Penyakit hati kronik


spironolakton (sendiri atau bersama tiazid atau diuretik kuat).

7. Udem otak
Diuretik osmotik

8. Hiperklasemia
Diuretik furosemid, diberikan bersama infus NaCl hipertonis.

9. Batu ginjal
Diuretik tiazid

10. Diabetes insipidus


Diuretik golongan tiazid disertai dengan diet rendah garam

11. Open angle glaucoma


Diuretik asetazolamid digunakan untuk jangka panjang.

12. Acute angle closure glaucoma


Diuretik osmotik atau asetazolamid digunakan prabedah. Untuk
pemilihan obat Diuretik yang tepat ada baiknya anda harus
periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
D.