Вы находитесь на странице: 1из 13

Mata Kuliah

Mikrobiologi (BI447)

BAB III
METABOLISME MIKROORGANISME

TPU: Mahasiswa dapat memahami proses metabolisme pada


mikroorgaanisme

TPK:
Melalui kegiatan diskusi mahasiswa dapat menjelaskan pengertian
metabolisme
Melalui kegiatan diskusi mahasiswa dapat menjelaskan konversi energi
dan materi
Melalui kegiatan diskusi mahasiswa dapat menjelaskan diversitas
metabolisme pada mikroorganisme
Melalui kegiatan praktikum mahasiswa dapat mengidentifikasi aktifitas
biokimia pada mikroorganisme
Melalui kegiatan diskusi mahasiswa dapat membedakan fotosintesis
oksigenik dan anoksigenik
Melalui penugasan mahasiswa dapat menjelaskan macam-macam
pengendalian metabolisme pada mikroorganisme

Setelah perkuliahan tentang pokok bahasan ini selesai, mahasiswa dapat :


1. menjelaskan pengertian metabolisme
2. menjelaskan konversi energi dan materi
3. menjelaskan diversitas metabolisme pada mikroorganisme
4. melakukan identifikasi bakteri berdasarkan aktifitas biokimianya
5. membedakan fotosintesis oksigenik dan anoksigenik
6. menjelaskan macam-macam pengendalian metabolisme pada
mikroorganisme.

METABOLISME MIKROBA

A. SUMBER ENERGI DAN KARBON


Sel-sel bakteri, seperti sel-sel semua organisme hidup, melakukan
kerja. Untuk kelangsungan hidupnya, mereka membutuhkan suatu sumber
energi. Walaupun aneka ragam substansi-substansi yang berperan sebagai
sebuah energi bagi mikroorganisme-mikroorganisme hampir tidak terbatas,
1
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

terdapat kesederhanaan yang luar biasa pada pola metabolisme dasar dimana
energi tersebut diubah menjadi bentuk energi yang berguna. Banyak dari
sistem-sistem ini yang secara mendasar mirip dengan yang dapat ditemukan
pada sel-sel mamalia dan tumbuhan, akan tetapi pengutamaan pada
mekanisme-mekanisme dasar merupakan contoh-contoh dari diferensiasi
yang unik pada dunia bakteri.
Bakteri dapat dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan
kebutuhan karbon mereka, yaitu bakteri autotropik (lithotropic) dan
organisme heterotropik (organotropic) . Bakteri autotropik dapat
memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber tunggal karbon dan darinya
mensintesa kerangka-kerangka karbon dari seluruh metabolis-metabolis
organik mereka. Mereka hanya membutuhkan air, garam-garam inorganik,
dan karbondioksida untuk pertumbuhan. Energi mereka berasal baik dari
cahaya maupun oksidasi dari satu atau lebih substansi-substansi inorganik.
Bakteri heterotropik tidak dapat menggunakan karbondioksida
sebagai satu-satunya sumber karbon, tetapi membutuhkannya dalam bentuk
organik, seperti glukosa. Bagi organisme heterotropik, sejumlah dari unsur
organik yang berperan sebagai sumber energi, juga dapat untuk sintesa unsur
organik yang dibutuhkan oleh organisme itu sendiri. Semua bakteri yang
menyebabkan penyakit pada manusia dapat ditemukan dalam kelompok ini.

B. METABOLISME PENGHASIL ENERGI


Sistem pada bakteri yang mengubah zat kimia dan energi radiasi
kebentuk yang berguna secara biologis, mencakup respirasi, fermentasi, dan
fotosintesis. Dalam respirasi, oksigen molekuler adalah penerima elektron
utama, sementara dalam fermentasi, molekul bahan makanan biasanya pecah
menjadi dua bagian, dimana yang satu kemudian dioksidasi oleh yang
lainnya. Dalam fotosintesis, energi cahaya diubah menjadi energi kimia.
Bagaimanapun, dalam seluruh jenis sel, dan tanpa menghiraukan mekanisme
yang digunakan untuk mengekstrak energi berguna, reaksi tersebut diiringi
oleh pembentukan Adenosine Triphosphate (ATP). ATP adalah perantara
yang umum dari baik pergerakan energi maupun reaksi-reaksi yang
membutuhkan energi, dan pembentukannya menyediakan mekanisme dimana
oleh energi yang tersedia dapat disalurkan kedalam reaksi-reaksi biosintesis
dari sel yang memerlukan energi.

2
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

C. METABOLISME HETEROTROPIK PENGHASIL ENERGI


Fermentasi dan Respirasi
Walaupun seluruh mikroorganisme heterotropik secara pasti
mendapatkan energi mereka dari reaksi-reaksi reduksi-oksidasi, jumlah
energi yang didapat dan mekanisme bagaimana mereka melakukan ekstraksi
bervariasi. Dua mekanisme dapat diterapkan yaitu fermentasi dan respirasi.
Dalam fermentasi, elektron-elektron dialirkan dari penyumbang
elektron, sementara suatu perantara terbentuk dalam pemecahan molekul
substrat, kepada penerima elektron, yang merupakan perantara beberapa
organik lainnya dalam proses fermentasi. Fermentasi menghasilkan
akumulasi campuran produk-produk akhir, beberapa lebih teroksidasi, dan
beberapa lebih tereduksi dari substratnya. Tingkat oksidasi rata-rata dari
produk-produk akhir dalam fermentasi, bagaimanapun selalu identik dengan
substrat semulanya. Fermentasi terlaksana oleh baik obligate maupun
fakultatif anaerobik.
Respirasi adalah sebuah proses dimana oksigen molekuler biasanya
berperan sebagai penerima elektron utama. Jika oksigen adalah penerima
utama, prosesnya disebut respirasi aerobik untuk membedakannya dari
respirasi anaerobik, dimana sebuah unsur inorganik, seperti nitrat, sulfat, atau
karbonat, digunakan.
Fermentasi adalah mekanisme yang lebih tidak efisien daripada
respirasi untuk mengekstrasi energi dari molekul substrat. Saat organisme
menfermentasi glukosa, hanya sejumlah kecil energi secara potensial tersedia
pada molekul glukosa yang dilepaskan. Kebanyakan energi itu masih
terkunci pada produk reaksi, misalnya laktat. Saat organisme mengoksidasi
glukosa secara sempurna menjadi CO2 dan H2O, semua energi yang tersedia
dari molekul glukosa dilepaskan :
Glukosa 2 laktat G0 = -47,0 kkal/mol

Glukosa + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O G0 = -686,0 kkal/mol


Diantara mikroorganisme-mikroorganisme yang melakukan respirasi
aerobik terdapat aerob obligat dan anaerob fakultatif. Sebagai tambahan,
beberapa dari anaerob fakultatif dapat juga mempergunakan nitrat sebagai
terminal penerima elektron mereka. Bagaimanapun organisme yang
3
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

menggunakan sulfat atau karbonat sebagai penerima-penerima elektron pada


respirasi anaerob adalah anaerob obligat.
Disimilasi Glukosa
Glukosa menempati posisi penting pada metabolisme kebanyakan
bentuk biologis, dan disimilasinya menyediakan jalur metabolik yang umum
bagi kebanyakan bentuk kehidupan. Kemampuam untuk memanfaatkan gula
atau unsur yang berhubungan dengan konfigurasi yang berbeda dari glukosa
adalah hasil dari kemampuan organisme untuk mengubah substrat menjadi
perantara-perantara sebagai jalur untuk fermentasi glukosa.
Jalan masuk ke dalam sel
Pemanfaatan monosakarida tertentu oleh suatu organisme juga
bergantung pada keberadaan sistem pembawa tertentu untuk transpor gula
melewati membran sel. Terjadilah pembedaan sisyem-sistem dari jenis ini.
Beberapa diantaranya memanfaatkan ATP yang dibentuk oleh transpor
elektron. Pada E. Coli, sistem phosphotransferase cenderung menurunkan
energinya secara langsung dari phosphoenolpyruvate (PEP) daripada dari
ATP, dan fosforilasigula terjadi selama transpor.
Jalur Glycolytic
Tiga rute pusat dari metabolisme karbohidrat terdapat pada bakteri
glycolisis, dari jalur pentose fosfat, dan jalur Entner Doudoroff. Untuk
kebanyakan sel-sel, bagaimanapun rute terbesar untuk katabolisme glukosa
adalah glycolisis. Pada jalur ini molekul glukosa dibagi menjadi dua molekul
asam lactic tanpa intervensi oksigen molekular. Konsep dasar dari glycolisis
tersusun dalam 11 reaksi enzimatik oleh skema Embden-Meyerhof-Parnas
(EMP), ditunjukkan oleh gambar Walaupun jalur dasarnya sama untuk tiap
semua jenis sel, perlengkapan enzim-enzim tertentu pada jalur tersebut tidak
seragam bagi berbagai jenis sel segala spesies. Variasi seperti itu telah sering
diperkenalkan untuk keperluan pembedaan seluler dan pengendalian langkah-
langkah tertentu pada jalur tersebut.
Glycolisis mencakup secara mendasar dua tahap utama. Pada tahap
pertama, glukosa difosforilasi baik oleh ATP maupun PEP, tergantung pada
organismenya, dan dibelah untuk membentuk glyceraldehyde 3-PO4. Pada
tahap kedua, perantara tiga karbon ini diubah menjadi asam lactic dalam
serangkaian reaksi oxidoreduction yang disalurkan kefosforilasi ADP.

4
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

Sebuah mekanisme kemudian tersedia untuk konservasi energi yang


sesungguhnya terdapat dalam molekul glukosa.
Jalur Pentose Phosphate (Phosphoglucatone)
Sementara skema EMP adalah jalur utama pada kebanyakan
mikroorganisme, seperti juga pada jaringan tumbuhan dan hewan, ia
bukanlah satu-satunya jalur yang tersedia untuk metabolisme karbohidrat.
Jalur pentose fosfat, juga dikenal sebagai jalur phosphatglucatone, adalah
suatu jalur multifungsi yang dapat digunakan pada fermentasi hexose,
pentose, dan karbohidrat lainnya Untuk beberapa organisme, seperti
fermentor heterolactic, ini adalah jalur penghasil energi utama mereka.
Bagaimanapun untuk kebanyakan organisme merupakan suatu penggunaan
utamanya untuk membangun NADPH, yang menghasilkan pengurangan
tenaga yang dibutuhkan untuk reaksi biosintesis. Itu juga menyediakan
pentose dan sintesis nukleoid dan suatu mekanisme untuk oksidasi pentose
oleh rangkaian glycolitic. Karena penggunaan multifungsinya sebagai
perbandingan dengan glycolysis, ia tidak dapat dinyatakan sebagai satu set
konsekutif dari reaksi-reaksi yang secara langsung mengarah dari glukosa
dan selalu berakhir pada oksidasi sempurnanya ke enem molekul CO2.
Titik tolak rute ini dari sistem EMP adalah oksidasi glukosa 6-fosfat
ke 6-phosphoglucatone, dimana kemudian terkaboksilasi dan lebih jauh
teroksidasi menjadi D-ribulose 5-Fosfat. Pendehidrogenasi mengkatalisasi
reaksi-reaksi ini, glukosa 6-fosfat dehidrogenasi dan 6-phosphoglucatone
dehidrogenasi, membutuhkan NADP+ sebagai sebuah penerima elektron.
Persamaan keseluruhan untuk jalur ini pada tingkat ini adalah :
Glukosa 6-PO4 +2 NADP+ + H2O D-ribose 5-PO4 + CO2 + 2 NADPH + 2 H+
D-ribose 5-fosfat yang dihasilkan dari isomeri dapat balik dari D-
ribulose 5-fosfat. Pada beberapa organismeatau lingkungan metabolis, jalur
phosphoglucatone tidak berlangsung lebih jauh. Pada beberapa yang lain,
tampungan ribose dan ribulose 5-fosfat diubah menjadi xylulose 5-fosfat,
yang merupakan titik mulai dari serangkaian reaksi-reaksi transketolase dan
transaldolase, mengarah secara pasti pada unsur awal dari jalur tersebut,
glukosa 6-fosfat. Melalui rangkaian kompleks dari reaksi-reaksi dimana 6
molekul dari glukosa 6-fosfat teroksidasi menjadi 6 molekul masing-masing
ribulose 5-fosfat dan CO2, jalur pentose fosfat dapat juga membawa suatu
oksidasi sempurna dari glukosa 6-fosfat ke CO2:
5
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

Glukosa 6-PO4 + 12 NADP+ + 7 H2O 6 CO2 + 12 NADPH + 12 H+ + Pi


Jalur oksidasi lengkap operatif hanya jika kebutuhan NADPH tinggi,
seperti terjadi pada organisme yang secara aktif melaksanakan biosintesis
lipid. Mikroorganisme-mikroorganisme heterolactic fermenting
memanfaatkan jalur ini, ketimbang glycolysis untuk fermentasi glukosa dan
pentose. Organisme-organisme kekurangan enzim glycolytic, fosfofruk-
tokinase, aldolase, dan isomer triose fosfat, namun memiliki enzim kunci,
fosfoketolase, yang membelah xylulose 5-fosfat menjadi fosfat asetil, dan
glyceraldehyde 3-fosfat. Penggunaan jalur ini memberikan suatu penjelasan
untuk sumber ethanol bagi organisme-organisme ini )gambar 4-6). Sebagai
tambahan pada fermenter heterolactic, organisme lainnya juga menggunakan
jalur ini termasuk Brucella abortus dan spesies Acetobacter.
Saat glukosa difermentasi melalui jalur pentose fosfat, hasil bersih
dari ATP adalah setenganh dari karakteristik dari jalur EMP. Hasil energi
rendah ini adalah karakteristik dari suatu jalur dehidrogenasi sebelum
pembelahan.
Jalur Entner- Doudoroff
Ini adalah jalur disimilasi utama bagi glukosa oleh aerobe obligat
yang kekurangan enzim fosfofruktokinase sehingga tidak dapat mensintesis
fruktosa 1,6-biophosphate. Diantara organisme-organisme dimana ia
berfungsi adalah spesies Neisseria, Pseudomonas, dan Azotobacter. Jalur ini
berpencar pada 6-phosphoglucatone dari jalur fosfat pentose. Pada urutan ini,
6-phosphoglucatone terdehidrasi dan kemudian dibelah untuk menghasilkan
satu molekul glyceraldehyde 3-PO4 dan satu molekul pyruvate, dimana
ethanol dan CO2 terbentuk melalui rangkaian reaksi yang sama seperti pada
fermentasi alkoholik oleh ragi (gambar 4-6). Seperti pada jalur fosfat pentose,
hanya satu molekul ATP dihasilkan per molekul glukosa yang terfermentasi.
Keadaan Pyruvate Di Bawah Kondisi Anaerobic
Fermentasi glukosa terjadi dalam sel cytosol setelah fosforilasinya
pada glukosa 6-PO4. Asam pyruvic yang mana glukosa 6-PO4 diubah adalah
suatu perantara kunci dalam metabolisme fermentatif dari semua karbohidrat.
Dalam pembentukannya, Nad direduksi dan harus dioksidasi kembali untuk
mendapat keseimbangan reduksi-oksidasi akhir. Oksidasi kembali ini secara
karakteristik terjadi dalam reaksi-reaksi langkah terminal dan diiringi oleh
reduksi dari hasil yang berasal dari asam pyruvic.
6
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

Bakteri dibedakan secara jelas dari jaringan hewan dalam perilaku


dimana mereka membuang asam pyruvic. Pada fisiologis mamalia, arah
utama dari respirasi dimana substrat-substrat teroksidasi menjadi CO2 dan
H2o, oksigen menjadi penerima hidrogen utama. Di antara bakteri,
bagaimanapun oksidasi tak lengkap adalah suatu peraturan ketimbang
perkecualian, dan hasil dari fermentasi tersebut dapat berkumpul hingga
derajat yang luar biasa. Hasil akhir pada organisme tertentu adalah baik asam
lactic maupun alkohol. Pada yang lainnya, asam pyruvic termetabilisasi lebih
jauh menjadi suatu produk seperti asam butyric, butil alkohol, aseton, dan
asam propionic. Fermentasi bakteri secara praktis penting karena mereka
memiliki hasil dengan nilai industri dan berguna di laboratorium dalam
identifikasi spesies bakteri .
Fermentasi alkohol
Jenis fermentasi tertua yang dikenal adalah produksi ethanol dari
glukosa. Pada ragi yang melakukan fermentasi alkoholik hampir
sempurna/murni, alkohol muncul dari dekarboksilasi asam pyruvic oleh
pyruvate dekarboksilat, enzim kunci dari fermentasi alkohol. Acetaldehyde
bebas yang terbentuk kemudian direduksi menjadi ethanol oleh dehidrogenasi
alkohol, dan NADH-nya teroksidasi kembali. Walaupun sejumlah bakteri
menghasilkan alkohol, ia dihasilkan melalui jalur-jalur lainnya.
Fermentasi homolactic
Seluruh anggota dari genera Streptococcus dan Pediococcus serta
banyak spesies dari Lactobacillus memfermentasikan glukosa secara pre-
dominan ke asam lactic tanpa lebih dari sekedar akumulasi jejak hasil
lainnya. Pada disimilasi glukosa oleh homofermenter, pyruvate direduksi
menjadi asam lactic oleh dehidrogenasi enzim lactic, dengan NADH yang
berperan sebagai penyumbang hidrogen. Mekanisme homofermentatif
memiliki karakteristik penghasilan asam lactic yang tinggi karena peranan
aldolase yang membelah hexose diphosphate menjadi dua bagian yang
sebanding, masing-masing membentuk pyruvate dan kemudian lactate.
Fermentasi yang sama terjadi pada otot hewan
Fermentasi heterolactic
Sebagai tambahan pada produksi asam lactic, beberapa bakteri asam
lactic (Leuconostoc dan spesies Lactobacillus tertentu) menghasilkan
fermentasi campuran di mana hanya sekitar setengah dari glukosanya diubah
7
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

menjadi asam lactic, sisanya adalah CO2, alkohol, asam formic, atau asam
acetic. Fermentasi heterolactic dibedakan secara mendasar dengan jenis
homolactic di mana jalur pentose fosfat cenderung lebih digunakan daripada
skema EMP. Pelepasan karbon 1 dari glukosa sebagai CO2 adalah
karakteristik dari fermentasi glukosa oleh seluruh organisme heterolactic.
Yang juga penting adalah penemuan bahwa penghasilan energi seperti
terukur dengan
pertumbuhannya adalah sepertiga lebih rendah per/mol glukosa terfermentasi
daripada pengamatan pada organisme homolactic.
Fotosintesis
Fotosintesis mengandung suatu urut-urutan reduksi-oksidasi dimana
karbondioksida tereduksi ketingkat karbohidrat dengan menggunakan sejenis
donor hidrogen yang teraktivasi oleh reaksi-reaksi cahaya.
2 H2A + CO2 (CH2O) + H2O + 2A
Sifat alam dari unsur H2A bervariasi dengan organisme-organisme,
dan perlengkapan inilah yang membedakan fotosintesis bakterial dari yang
terjadi pada tumbuhan hijau. Pada tumbuahn yang dapat tumbuh secara
aerobik dalam cahaya, H2A dapat menjadi air, dan oksigen dilepaskan dalam
reaksi tersebut. Pada bakteri, bagaimanapun, fotosintesis terjadi hanya di
bawah kondisi anaerobik, tidak ada oksigen yang diubah, dan H2A harus
disediakan sebagai sulfur tereduksi, hidrogen molekuler, atau unsur-unsur
organik. Bakteri fotosintetik biasanya spesies air dan mencakup bakteri sulfur
ungu dan hijau serta bakteri non-sulfur ungu. Cyanobacteria, hingga
belakangan ini diklasifikasikan sebagai alga hijau-biru, merupakan
prokaryotes biasa namun juga aerobik dan melakukan fotosintesis oksigenik
seperti tumbuhan hijau.
Alat Fotosintesis
Fotosintesis terjadi di dalam sistem membran terspesialisasi, baik
dalam membran thylakoid atau dalam gelembung tertutup. Di dalam struktur-
struktur ini terdapat komponen-komponen alat-alat fotosintesis-
bakterioklorofil, caretenoid, pembawa-pembawa elektron, dan protein. Ini
terorientasi pada sistem membran sedemikian rupa sehingga cahaya dapat
diserap oleh pigmen-pigmen caretenoid dan bakteriofil, dan energinya

8
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

digunakan untuk membentuk tenaga proton motif melewati membran


tersebut.
Transpor Elektron Fotosintesis
Tumbuhan memiliki dua pusat reaksi fotokimia yang terpisah,
sementara bakteri hanya memiliki satu. Kejadian fotokimia primer terinisiasi
saat sebuah molekul klorofil menyerap satu kuantum cahaya dan
memindahkannya ke pusat reaksi yang tertanam di dalam membrannya.
Klorofil berperan sedemikian rupa untuk mempengaruhi pemisahan
fotokimia kekuatan reduksi dan oksidasi, menghasilkan suatu aliran
sepanjang dua sistem transpor. Salah satu sistem ini Menerima elektron yang
diantarkan pada penerima, dan yang lainnya menempatkannya kembali..
Pada bakteri fotosintesis, seperti Rhodospirillum rubrum, sebuah
nonheme-iron terkompleksi pusat dengan quinone berperan sebagai perantara
penerima elektron dan sebuah protein cytochrome jenis c sebagai
penyumbang elektron pada klorofil yang telah teraktifisasi. Aliran elektron-
elektron tersebut diiringi dengan pembentukan ATP. Mekanisme
berpasangan ini pada prinsipnya mirip dengan mekanisme berpasangan yang
diterapkan pada fosforilasi rantai respiratori. Perubahan CO2 menjadi
karbohidrat membutuhkan pasokan baik NADPH maupun ATP. Hubungan
ini dapat dirangkum pada pernyataan umum berikut :
H2A + NAD(P)+ + yADP + yPi A + NAD(P)H + H+ + yATP
Untuk bakteri fotosintetik, H2A nya bisa jadi suatu substansi
inorganik, seperti H2S, atau unsur oragnik, seperti succinate. Energi dari
photon-photon yang diserap mengendalikan reaksi ini. Pada kejadian ini
aliran elektronnya terbuka atau nonsiklik. Dengan ketidakberadaan substran
yang dapat dioksidasi, bagaimanapun, aliran elektron penghasil cahaya
terjadi sepanjang jalur sirkuler. Elektron-elktron yang berasal dari molekul
klorofil yang dibangkitkan dapat dengan mudah kembali lagi setelah
melakukan perjalanan sepanjang rangkai tertutup dari pembawa elektron.
Aliran elektron-elektron ini adalah suatu perangkat untuk menyimpan
sebagian energi dari elektron-elektron berenergi tinggi yang meninggalkan
klorofil yang terbangkitkan. Fotofosforilasi siklik dapat mewakili bentuk
paling primitif dan fotosintesisi yang berguna bagi organisme-organisme
dalam suatu lingkungan yang jaya akan unsur-unsur organik dan
membutuhkan banyak ATP.
9
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

Fase Fotosintesis Gelap


Pembentukan glukosa dalam fotosintesis adalah proses gelap yang
berawal dengan tereduksinya NADP dan ATP yang dibentuk oleh cahaya.
Mekanisme dimana pembentukan CO2 terjadi dalam semua organisme
berfotosintesis adalah siklik dalam alam dan terjadi pada baik organisme
procaryotic maupun eucaryotic. Rangkaian reaksi yang komplek ini dikenal
sebagai siklus Calvin, reaksi semula yang merupakan sintesis ribulose 1,5-
diphosphate dari ribulose 5-phosphate.
Ribulose 5-PO4 + ATP Ribulose 1,5-PO4 + ADP
Ribulose 1,5-PO4 + CO2 23-Phosphoglyceric acid
Dua reaksi ini spesifik untuk organisme-organisme yang
menggunakan CO2 sebagai sumber karbon tunggal dan tidak ditemukan pada
organisme-organisme yang memiliki metabolisme heterotrophic. Reduksi
dari dua molekul 3-phosphoglycerate terjadi pada penggunaan NADPH dan
ATP yang terbentuk pada reaksi cahaya. Dua molekul 3-
phosphoglyceraldehyde yang kemudian terbentuk lalu diubah menjadi
glukosa terutama oleh pembalikan reaksi-reaksi glycolysis.

D. PENGENDALIAN METABOLISME ENERGI


Agar sebuah mikroorganisme dapat berfungsi secara efisien, tingkat
metabolisme sepanjang berbagai percabangan dan jalur metabolik harus
diregulasi sedemikian rupa sehingga penggunaan secara optimal terlaksana
dari substrat-substrat yang tersedia.
1. Regulasi Genetik
Pada habitat alaminya, sel dihadapkan dengan berbagai macam
potensi sumber-sumber energi. Kemampuan bertahan hidup dari spesies
tertentu dalam lingkungannya yang berkompetensi tinggi dihailkan dari
kemampuan spesies tersebut untuk beradaptasi pada pengalaman-pengalaman
baru di lingkungannya. Dalam pada itu, permesinan enzimatik untuk
degradasi dari aneka ragam unsur-unsur organik terproduksi. Walaupun
potensi untuk disimilasi substrat-substrat yang berbeda sangatlah besar,
enzim untuk aktivitas seperti itu dihasilkan hanya bila diperlukan.
Pengendalain dari jenis ini, induksi dan represi, sangatlah umum dalam
mikroorganisme dan merupakan contoh dari mekanisme regulasi genetik.
10
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

Pada umumnya, induksi mempergunakan kendali efektif dari urut-urutan


katabolik yang menyangkut karbon dan sumber-sumber energi, dimana
sintesis enzim yang mengkatalisasi urut-urutan tertentu dinyalakan atau
dimatikan, bergantung pada kebutuhan akan urutan spesifik tersebut. Contoh
klasik dari regulasi genetik adalah pemanfaatan disaccharide lactose oleh
E.coli.
2. Represi Katabolit
Jenis pengendalian ini seringkali diamati saat organisme tumbuh pada
glukosa atau sumber energi lainnya yang dapat dimetabolisasi dengan cepat.
Sering disebut sebagai efek glukosa, represi katabolit menghasilkan represi
sintesis enzim yang akan melakukan metabolisme substrat tambahan secara
lambat daripada glukosa. Ketika sistem lac diinduksi. Tingkat sintesis Beta-
galactosidase cukup banyak tereduksi dalam pemeliharaan atas glukosa,
dibandingkan dengan sel-sel dimana metabolit lainnya disediakan sebagai
sumber karbon. Glukosa membuang represi katabolit dengan menekan
tingkat 3-5-cyclic AMP (cAMP) dalam sel. Tambahan cAMP pada
pemeliharaan melampaui represi glukosa dengan menstimulasi transkripsi
dari enzim yang dapat diinduksi, Beta-galactosidase. Tingkat cAMP dalam
sel bervariasi dengan kondisi pertumbuhan dan reflek kebutuhan energetik
sel tersebut. Tingkatnya rendah jika energi yang tersedia melebihi keperluan
biosintetik untuk energi, dan tingkat cAMP meningkat jika pasokan karbon
organisme tersebut habis.

PERTANYAAN
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan metabolisme, katabolisme dan
anabolisme!
2. Jelaskan perbedaan respirasi dan fermentasi yang dilakukan oleh bakteri
aerob maupun bakteri anaerob!
3. Jelaskan proses fotosintesis lengkap dengan urutan-urutan reaksinya!
4. Jelaskan proses respirasi dengan tahapan urutan reaksinya!

11
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

DAFTAR PUSTAKA

Black, Jacquelyn G. 2002. Microbiology. John Wiley & Sons, Inc.

Brock,TD. & Madigan,MT.,1991. Biology of Microorganisms. Sixth ed.


Prentice-Hall International,Inc

Cappuccino,JG.& Sherman,N. 1987. Microbiology: A Laboratory Manual.


The
Benjamin/Cummings Publishing Company,Inc. Clifornia.

Case, C.L. & Johnson, T.R. 1984. Laboratory Experiments in Microbiology.


Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California.

Fardiaz, S. 1987. Fisiologi Fermentasi, PAU IPB.

Gupte,Satish, 1990. Mikrobiologi Dasar. Terjemahan E.Suryawidjaja : The


Short Textbook of Medical Microbiology. Bina rupa Aksara. Jakrata

Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi (Common Teksbook). Biologi FPMIPA


UPI, IMSTEP

Moat, A.G. & Foster, J.W. 1979. Microbial Physiology. John Wiley & Sons

Nicklin. J.K. Graeme-Cook. T. Paget & R. Killington. 1999. Instans Notes in


Microbiology. Springer Verlag. Singapore Pte, Ltd.

Pelczar, M.J. & E.C.S. Chan, 1986, Penterjemah , Ratna Siri Hadioetomo
dkk. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1, Universitas Indonesia Press.
Jakarta.

Schlegel Hans G,. 1994. Mikrobiologi Umum. Penterjemah Tedjo Baskoro.


Edisi keenam. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Tortora Gerard J.,et al.1992. Microbiology an Introduction. Fouth edition.


The Benjamin/Cummings Publishing Company,Inc.

12
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Mata Kuliah
Mikrobiologi (BI447)

13
Kusnadi et al. (2014). Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia