You are on page 1of 4

NAMA : LISDA DWIWAHYUNI

STAMBUK : B1C1 12 085

ARTIKEL KEBIJAKAN FISKAL


Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter satu sama lain saling berpengaruh
dalam kegiatan perekonomian. Masing masing variabel kebijakan tersebut,
kebijakan fiskal dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu pajak (tax) dan
pengeluaran pemerintah (goverment expenditure). Sedangkan variabel utama
dalam kebijakan moneter, yaitu GDP, inflasi, kurs, dan suku bunga. Berbicara
tentang kebijakan fiskal dan kebijakan moneter berkaitan erat dengan kegiatan
perekonomian empat sektor, dimana sektor sektor tersebut diantaranya sektor
rumah tangga, sektor perusahaan, sektor pemerintah dan sektor dunia
internasional/luar negeri. Ke-empat sektor ini memiliki hubungan interaksi masing
masing dalam menciptakan pendapatan dan pengeluaran.
Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk
mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa
pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang
bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan
jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran
dan pajak.
Kebijakan fiskal yang sering juga disebut politik fiskal atau fiscal policy,
biasa diartikan sebagai tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam bidang
anggaran belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian. Oleh karena anggaran belanja negara terdiri dari penerimaan
berupa hasil pungutan pajak dan pengeluaran yang dapat berupa government
expenditure dan government transfer, maka sering pula dikatakan bahwa
kebijakan fiskal meliputi semua tindakan pemerintah yang berupa tindakan
pemperbesar atau memperkecil jumlah pungutan pajak. memperbesar atau
memperkecil government expenditure dan atau memperbesar atau memperkecil
goverment transfer yang bertujuan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian.

Contoh Artikel Mengenai Kebijakan Fiskal di Indonesia


Kasus Pajak di Indonesia
Dari sekian kasus yang membelit negeri ini, Kasus Pajak di Indonesia menduduki
peringkat kedua setelah kasus korupsi yang sedang mewabah di semua kalangan
saat ini. Dari sejak dahulu, Departemen yang satu ini memang terkenal sarat
dengan permainan antara para pegawai yang terkait dengan para wajib pajak
sehingga menyebabkan berkurangnya rasa percaya masyarakat terhadap
departemen ini atau bahkan sudah menjalar ke rasa tidak percaya kepada
pemerintah. Hal ini membuat masyarakat enggan untuk taat membayar pajak
walaupun itu merupakan kewajiban sebagai warga negara yang baik.
Berikut ini adalah contoh beberapa kasus pajak yang sering terjadi di sekitar kita:
# Kasus 1
Harus diakui bahwa banyak orang asing yang mempunyai properti di Bali. Baik itu
berupa hotel, home stay, villa, dll. Untuk menghindari besarnya pajak yang harus
mereka bayar, tidak sedikit para pemilik yang warga negara asing tersebut
melakukan transaksi di luar negeri untuk para tamu yang akan menginap. Jadi
setelah terjadi kesepakatan rates kamar, para calon tamu akan melakukan
pembayaran berupa transfer ke rekening bank di luar negeri milik owner dari
tempat mereka akan menginap, Jadi pada saat mereka sampai di Bali tidak terjadi
lagi transaksi pembayaran sehingga para pemilik tidak mempunyai bukti transaksi
untuk diperlihatkan kepada petugas pajak. Hal ini bisa mengurangi jumlah pajak
pendapatan yang harus mereka bayar kepada pemerintah.
# Kasus 2
Bagi para pengusaha eksport barang berbahan dasar kayu, pemerintah Indonesia
telah mewajibkan untuk memiliki sertifikat BRIK dan ETPIK yang dikeluarkan oleh
Departemen Kehutanan. Selain digunakan untuk memvalidasi jumlah kayu yang
digunakan juga digunakan sebagai salah satu syarat dokumen eksport sehingga
pemerintah bisa memantau berapa jumlah eksport yang dilakukan untuk
mengetahui besarnya pajak yang harus dibayar para pengusaha. Namun, tidak
sedikit pengusaha yang menyewa kedua dokumen tersebut (bahkan dokumen
eksport yang lain) untuk menghindari membayar pajak kepada pemerintah. Dengan
menyewa dokumen dari perusahaan lain (bahkan disinyalir ada perusahaan yang
khusus menyewakan dokumen-dokumen eksport), semua transaksi eksport tidak
bisa dipantau oleh pemerintah sehingga para pengusaha bisa terlepas dari
kewajiban membayar pajak.
# Kasus 3
Pada tahun 2008 yang lalu pemerintah mempunyai program sunset policy bagi para
wajib pajak.Sunset Policy bisa dibilang sebagai pengampunan dari pemerintah
terhadap para wajib pajak yang dianggap kurang taat. Pengampunan itu bisa
berupa penghapusan sanksi administrasi yang berupa bunga dan sanksi
administrasi atas pajak yang kurang atau tidak dibayar. Tidak sedikit pengusaha
yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan pengampunan dari
pemerintah. Seperti kasus Gayus, wajib pajak bekerjasama dengan pegawai pajak
untuk membuat laporan fiktif atas besarnya pajak yang belum dibayar. Bagi
perusahaan besar dengan asset yang besar pula tentu mempunyai kewajiban
membayar pajak yang tidak bisa dibilang sedikit. Sehingga besarnya
"pengampunan" yang mereka terima dari pemerintah juga jumlahnya besar. Hal ini
tidak bisa dibenarkan karena telah menyalahi fungsi dari sunset policy itu sendiri

# Kasus 4
Bila kita pernah bekerja di perusahaan perseorangan yang dikelola dengan
manajemen yang kurang baik, pembuatan laporan keuangan ganda sudah
merupakan hal yang biasa terutama pada perusahaan dagang. Jadi, pegawai bagian
accounting / keuangan dituntut untuk membuat laporan keuangan ganda yang
bertujuan untuk menghindari atau memperkecil besarnya nilai pajak yang harus
dibayar. Laporan keuangan yang sesungguhnya disimpan oleh pemilik untuk
kepentingan pribadi dan laporan keuangan yang fiktif disiapkan sedemikian rupa
untuk laporan pajak. Hal ini berlaku juga untuk semua data penjualan yang berada
di komputer kantor. Biasanya para pemilik akan kelabakan bila petugas pajak
melakukan verifikasi / pengecekan di lapangan. Hal seperti ini sangatlah tidak
terpuji mengingat slogan pemerintah "orang bijak taat pajak"
Tugas

SEMINAR PERPAJAKAN
ARTIKEL TENTANG KEBIJAKAN FISKAL

OLEH:

NAMA : LISDA DWIWAHYUNI


STAMBUK : B1C1 12 085

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
2015