You are on page 1of 5

DASAR DASAR INTERVENSI

RANCANGAN INTERVENSI MENGGUNAKAN RATIONAL EMOTIVE


BEHAVIOR THERAPY

Disusun Oleh:

Nama : Endah Ayu Apriliana


NIM : 15.11.1001.3510.057

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945

FAKULTAS PSIKOLOGI

SAMARINDA

2016
I. STATUS PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
A. IDENTITAS KLIEN
Nama lengkap : D. R. S.
Nama panggilan :D
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal lahir : Balikpapan, 19 Agustus 1991
Usia : 26 tahun
Tinggi/Berat badan : 162cm/54kg
Agama : Islam
Suku bangsa : Banjarmasin
Status dalam keluarga : Anak kandung
Kedudukan dalam keluarga : Anak kedua
Alamat : Samarinda
Pendidikan terakhir : S1
Jenis kasus : Depresi ringan

B. IDENTITAS KELUARGA
1. Orang Tua
Data Ayah Ibu
Nama M. S. S
Usia 54 tahun 53 tahun
Pendidikan terakhir S1 S1
Pekerjaan PNS PNS
Agama Islam Islam
Alamat Samarinda Samarinda

2. Anak Anak dalam Keluarga


No. Nama Umur JK Pendidikan Pekerjaan
1. S. R. R 28 tahun L S1 Karyawan Swasta
2. D. R. S 26 tahun P S1 Karyawan Swasta
3. P. R. C 21 tahun P S1 Belum bekerja
II. PERMASALAHAN

Berdasarkan wawancara yang dilakukan di sebuah apotek swasta yang ada di Samarinda,
didapati bahwa D bermasalah dengan mantan suaminya. Awal tahun 2014, D menjalani
hubungan spesial hingga akhirnya menikah pada bulan Desember 2014 dan dikaruniai anak pada
bulan Oktober 2015. 3 bulan setelahnya, sang suami ijin untuk pulang kampung tanpa
didampingi oleh D. Dari situ, sang suami agak susah untuk dihubungi, maupun melalui
handphone. Setelah sekian lama berlangsung, akhirnya D mengetahui bahwa sang suami sudah
mempunyai istri sebelum pernikahannya di kampung asalnya dengan status menikah. Semenjak
itu, D sering pingsan mendadak ditengah jam kerja. Terkadang ia melamun sehingga
pekerjaannya jadi berantakan. Banyak hal lain yang mengganggu pekerjaannya. Akhirnya setelah
dibawa kedokter, D didiagnosis stres berat. D dirujuk oleh dokter ke psikiater, tetapi D tidak
mau. Semenjak itu keadaan D makin memburuk. Tingkat kewaspadaan dan kecemasannya pun
meningkat, karena ia membayangkan hal yang tidak-tidak, sehingga membuat jantungnya
berdebar dan mengalami gangguan emosi berupa perasaan ingin selalu marah. D beranggapan
semua laki-laki buaya sehingga tidak pantas untuk diperlakukan dengan baik. Hal ini
berpengaruh dengan interaksinya ke lawan jenis, D suka mempermainkan perasaan lawan jenis
walaupun ia tau bahwa pemikiran dan sikapnya tidak baik, namun D menyadari hal itu yang sulit
dikendalikan karena terkadang ia juga butuh hiburan dan dukungan dari lawan jenis.

III. TUJUAN PEMERIKSAAN


1. Menyadarkan dan memperkuat hal-hal pada diri D mana yang baik dan mana yang tidak.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab mengapa D melakukan hal yang tidak baik.
3. Menerapkan intervensi yang tepat untuk D untuk mengatasi permasalahannya dan mampu
move on menjalani hidup dengan ikhlas.

IV. ANALISIS ABC

A B C
Menjalani hubungan spesial D menutup hati dan trauma (+) D merasa tidak mempunyai
selama 4 tahun sudah untuk menjalani hubungan beban dan bahagia
menentukan tanggal untuk spesial kembali (-) tidak mau bergaul/menjauhi
pernikahan, tetapi gagal lawan jenis
menikah
D merasa pernikahannya D sakit hati dan kecewa (+) D merasa bahagia
dicurangi oleh suaminya, karena mempermainkan perasaan (-) tidak memperhatikan
sang suami tidak berkata jujur lawan jenis perasaan lawan jenis
stres Pingsan, sering melamun, emosi (-) pekerjaan terganggu,
amarah meningkat, susah tidur hubungan antar lawan jenis
terganggu

V. KRITERIA DIAGNOSIS

Berdasarkan hasil wawancara dan diperkuat oleh dokter, dapat ditegakkan bahwa D
termasuk kedalam kategori episode depresif ringan. Hal ini ditegakkan berdasarkan pedoman
PPDGJ yaitu:

No. Kriteria diagnosis Perilaku yang muncul


1. Suasana perasaan yang tertekan Emosi amarah yang meningkat
2. Mudah lelah dan menurunnya aktivitas Suka pingsan ditengah jam pekerjaan
3. Konsentrasi dan perhatian berkurang Sering melamun sehingga pekerjaan jadi
berantakan
4. Tidur terganggu Susah tidur dimalam hari
5. Nafsu makan berkurang Jarang makan siang disaat jam kerja

VI. INTERVENSI

Intervensi yang disarankan oleh peneliti adalah Rational-Emotive Behavior Therapy


(REBT). REBT membantu klien mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku
yang irasional. Dalam proses ini, klien diajarkan untuk menerima perasaan, pemikiran, dan
tingkah laku tersebut diciptakan dan diinternalisasi oleh klien sendiri. Dalam proses intervensi
dengan pendekatan REBT, terdapat beberapa tahap yang dilakukan oleh peneliti dan klien.
Beberapa peneliti menyatakan bahwa REBT merupakan terapi yang sangat komprehensif
(Nourmawati, 2014) yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi,
kognisi, dan perilaku termasuk depresi. Dalam jurnal Hasibuan dan Wulandari (2015), REBT
merupakan suatu proses terapeutik yang dapat memperbaiki dan merubah persepsi, pikiran,
keyakinan serta pandangan seseorang yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis
(Ellis, dalam Hasibuan & Wulandari, 2015). Diharapkan dengan REBT, keyakinan, pandangan,
dan pikiran-pikiran aneh dalam diri D dapat diperbaiki dan diganti dengan pemikiran yang lebih
rasional.