You are on page 1of 7

2.

3 Kewenangan Bidan

Kewenangan bidan diatur dalam Kepmenkes No.


900/Menkes/SK/VII/2002 Tentang Registrasi Dan Praktik Bidan, disini bidan
berwenang untuk melakukan atau memutuskan sesuatu hal yang berhubungan
dengan pekerjaannya. Jadi merupakan dasar yang digunakan oleh bidan dalam
melakukan tugasnya secara otonomi dan mandiri. Dalam menjalankan
kewenangan yang diberikan, bidan harus :

1. Melaksanakan tugas kewenangan sesuai standar profesi


2. Memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukan
3. Mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku diwilayahnya

Bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara


optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu atau janin. Menurut pasal 1
ayat 3 undang undang No.23/1992 Tentang Kesehatan, tenaga kesehatan yaitu
setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.

Pelayanan adalah kewenangan dari tenaga kesehatan untuk


melaksanakan pekerjaan, yang dikenal dengan kewenangan profesional. Di
Indonesia yang berhak memberi kewenangan seorang tenaga kesehatan bekerja
sesuai profesinya adalah Departemen Kesehatan dalam bentuk Surat Ijin
Praktek.

Kewenangan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain yang


disahkan oleh yang berhak mengesahkan. Kewengangan seorang tenaga
kesehatan adalah kewenangan hukum yang dipunyai oleh seorang tenaga
kesehatan untuk melaksanakan pekerjaannya. Bilamana seorang tenaga
kesehatan melaksanakan pekerjaan tanpa kewenangan maka tenaga kesehatan
tersebut melanggar salah satu standar profesi tenaga kesehatan.
Pemberian kewenangan oleh yang berhak mensahkan yaitu departemen
kesehatan, menyebabkan seorang profesional mempunyai apa yang dikenal
sebagai kewenangan profesional dalam melakukan pekerjaannya. Kewenangan
profesional ini sangat diperlukan, sebab pekerjaan bidan adalah pekerjaan yang
selalu berhubungan dengan tubuh klien, melakukan tindakan medik tanpa
kewenangan profesional adalah perbuatan yang melanggar hukum.

Tanpa kewenangan profesional maka tenaga kesehatan tidak dapat


melakukan pekerjaan sebagai tenaga kesehatan seperti yang dimaksud oleh
UU No.23/1992 Tentang Kesehatan. Sesuai Kepmenkes No.900/2002
disebutkan bahwa bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang
diatur dalam Kepmenkes ini dapat dikenakan sangsi berupa teguran lisan,
teguran tertulis sampai pencabutan ijin praktik.

Sedangkan kewenangan bidan menurut IBI:

A. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan dimaksudkan untuk


mendekatkan pelayanan kegawatan obstetric dan neonatal kepada setiap ibu
hamil / bersalin, nifas dan bayi baru lahir ( 0 28 hari ) agar penanganan
atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat dan
tepat waktu
B. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan bidan harus :
1. Melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi

a) Memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang


dilakukannya
b) Mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku di
wilayahnya
c) Bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan
berupaya secara optimal dengan mengutamakan
keselamatan yang diberikan ibu dan bayi atau janin
C. Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada
masa pranikah termasuk remaja puteri, pra hamil, kehamilan, persalinan,
nifas, menyusui dan masa antara kehamilan ( periode interval )
D. Pelayanan kepada wanita dalam masa pra nikah meliputi konseling untuk
remaja puteri, konseling persiapan pra nikah dan pemeriksaaan fisik yang
dilakukan menjelang pernikahan. Tujuan dari pemberian pelayanan ini
untuk memepersiapakan wanita usia subur dan pasangannya yang akan
menikah agar mengetahui kesehatan reproduksi sehingga dapat berperilaku
reprodukasi sehat secara mandiri dalam kehidupan rumah tangganya kelak.
E. Pelayanan kebidanan dalam masa kehamilan, masa persalinan dan masa
nifas meliputi pelayanan yang berkaitan dengan kewenangan yang
diberikan. Perhatian khusus diberikan kepada masa sekitar persalinan
karena kebanyakan kematian ibu dan bayi terjadi pada masa tersebut.
F. Pelayanan kesehatan pada anak diberikan pada masa bayi ( khususnya bayi
baru lahir) balita dan anak pra sekolah.
G. Dalam melaksanakan pertolongan persalinan bidan dapat memberikan
uterotonika.
H. Pelayanan dan pengobatan kelainan ginekologik yang dapat dilakukan oleh
bidan adalah kelainan ginekologik ringan seperti keputihan dan penundaan
haid. Pengobatan ginekologik yang diberikan tersebut pada dasarnya
bersifat pertolongan sementara sebelum dirujuk ke dokter atau tindak lanjut
pengobatan sesuai advis dokter.
I. Pelayanan kesehatan pada anak meliputi :

A. Pelayanan neonatal essential dan tata laksana neonatal sakit di luar


rumah sakit meliputi :

1) Pertolongan persalinan yang atraumatik, bersih dan aman

2) Menjaga tubuh bayi agar tetap hangat dengan kontak dini


3) Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi bernafas
spontan

4) Pemberian ASI dini 30 menit setelah persalinan

5) Mencegah infeksi pada bayi baru lahir antara lain melalui


perawatan tali pusat secara higienis, pemberian imunisasi dan ASI
ekslusif

1. Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dilaksanakan 0-28 hari


2. Penyuluhan pada ibu tentang pemberian ASI ekslusif untuk bayi dibawah 6
bulan dan makanan pendamping untuk bayi di atas 6 bulan
3. Pemantauan tumbuh kembang balita untuk meningkatkan kualitas tumbuh
kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang balita
4. Pemberian obat yang bersifat sementara pada penyakit ringan sepanjang
sesuai dengan obat-obatan yang sudah ditetapkan dan segera merujuk pada
dokter.
5. Beberapa tindakan yang termasuk wewenang bidan antara lain :
1. Memberikan imunisasi pada wanita usia subur termasuk remaja
puteri, calon pengantin, ibu dan bayi
2. Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan meliputi pemberian
secara parental antibiotika pada infeksi / sepsis, oksitosin pada kala
III dan kala IV untuk pencegahan/penanganan perdarahan post
partum karena hipotonia uteri, sedativa pada pre eklamsi/eklamsi
sebagai pertolongan pertama sebelum di rujuk
3. Melakukan tindakan amniotomi pada pembukaan servik lebih dari 4
cm pada letak belakang kepala pada distosia karena inertia uteri dan
di yakini bahwa bayi dapat lahir pervaginam
4. Kompresi bimanual internal/eksternal dapat dilakukan untuk
menyelamatkan jiwa ibu pada perdarahan post partum untuk
mennghentikan perdarahan. Diperlukan keterampilan bidan dan
pelaksanaan tindakan sesuai dengan protap yang berlaku.
5. Versi luar pada gemelli pada kelahiran bayi kedua. Kehamilan ganda
seharusnya dari semula direncanakan pertolongan persalinannya
dirumah sakit oleh dokter. Bila hal tersebut tidak diketahui, bidan
yang menolong persalinan terlebih dahulu dapat melakukan ekstrasi
vacum atau cunam bila janin dalam posisi belakang kepala dan
kepala janin telah berada di dasar panggul
6. Ekstrasi vacum pada bayi dengan kepala di dasar panggul, demi
penyelamatan ibu dan bayi, bidan telah mempunyai kompetensi
dapat melakukan ekstrasi vacum atau cunam bila janin dalam posisi
belakang kepala dan berada di dasar panggul
7. Resusitasi pada bayi baru lahir engan asfiksia. Bidan diberikan
wewenang melakukan resusitasi pada bayi baru lahir yang
mengalami asfiksia yang sering terjadi pada partus lama, KPD,
persalinan dengan tindakan pada bayi dengan BBLR, utamanya
prematur. Selanjutnya bayi tersebut dirawat di fasilitas kesehatan
khususnya yang mempunyai berat lahir kuranng dari 1750 gr
8. Hipotermi pada BBL. Bidan diberi wewenang untuk melaksanakan
penanganan hipotermi pada BBL dengan mengeringkan,
menghangatkan, kontak dini dan metode kanguru.
6. Bidan dalam memberikan pelayanan keluarga berencana harus
memperhatikan kompetensi dan protap yang berlaku di wilayahnya meliputi
:
1. Memberikan pelayanan KB yakni pemasangan IUD, AKBK,
pemberian suntikan, tablet, kondom, diafragma, jelly dan
melaksanakan konseling
2. Memberikan pelayanan efek samping pengunaan kontrasepsi.
Pertolongan yang diberikan oleh bidan bersifat pertolongan pertama
yang perlu mendapatkan pengobatan oleh dokter bila gangguan
berlanjut
3. Melakukan pencabutan AKBK tanpa penyulit. Tindakan ini
dilakukan atas dasar kompetensi dan pelaksanaannya berdasarkan
protap. Pencabutan AKBK tidak di anjurkan untuk dilaksanakannya
melalui pelayanan KB keliling
4. Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan jiwa bidan berwenang
melakukan pelayanan kebidanan selain kewenangan yang diberikan
bila tidak mungkin memperoleh pertolongan dari tenaga ahli. Dalam
memberikan pertolongan bidan harus mengikuti protap yang
berlaku.
7. Bidan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat mengacu
pada pedoman yang telah ditetapkan
8. Beberapa kewajiban bidan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan
kewenangan :
1. Meminta persetujuan yang akan dilakukan. Pasien berhak untuk
mengetahui dan mendapat penjelasan mengenai semua tindakan
yang dilakukan kepadanya. Persetujuan dari pasien dan orang
terdekat dalam keluarga perlu di mintakan sebelum tindakan
dilakukan.
2. Memberikan informasi. Informasi mengenai pelayanan/tindakan
bidan yang diberikan dan efek samping yang ditimbulkan perlu
diberikan secara jelas sehingga memberikan kesempatan kepada
pasien untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya
3. Melakukan rekam medik dengan baik. Setiap pelayanan yang
diberikan oleh bidan perlu di dokumentasikan / di catat seperti hasil
pemeriksaan dan tindakan yangn diberikan dengan menggunakan
format yang berlaku.
9. Penyediaan dan penyerahan obat-obatan
1. Bidan harus menyediakan obat-obatan maupun obat suntik sesuai
dengan ketentuan yang sudah ditetapkan
2. Bidan diperkenakan menyerahkan obat kepada pasien sepanjang
untuk keperluan darurat dan sesuai dengan protap
10. Pemberian surat keterangnan kelahiran dan kematian dilaksanakan dengan
ketentuan sebagai berikut :
1. Untuk surat keterangnan kelahiran hanya dapat dibuat oleh bidan
yang memberikan pertolongan persalinan dengan menyebutkan :

1) Identitas bidan penolong persalinan

2) Identitas suami dan ibu yang melahirkan

3) Jenis kelamin, BB dan PB anak yang dilahirkan

4) Waktu kelahiran ( tempat, tanggal dan jam )

1. Untuk surat keterangan kematian hanya dapat diberikan kepada ibu dan bayi
yang meninggal pada waktu pertolongan persalinan dilakukan dengan
menyebutkan :

1) Identitas bidan

2) Identitas ibu / bayi yang meninggal

3) Identitas suami dari ibu yang meninggal

4) Identitas ayah dan ibu dari bayi yang meninggal

5) Jenis kelamin

6) Waktu kematian ( tempat, tanggal dan jam )

7) Umur

8) Dugaan penyebab kematian

1. Setiap pemberian surat keterangan kelahiran atau kematian harus dilakukan


pencatatan http://acityawara.com/Detail-24-wewenang-bidan.html