You are on page 1of 11

LAPORAN EVIDENCED-BASED PRACTICE

PENGARUH KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN


TINGKAT NYERI PADA PENERIMA MANFAAT NY. K
DENGAN GANGGUAN RASA NYAMAN ; NYERI
DI WISMA ARJUNA UNIT PELAYANAN SOSIAL
LANJUT USIA WENING WARDOYO UNGARAN

DISUSUN OLEH :
DONA AGAREVI KHOIRIYAH
SN. 161035

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016/2017
LAPORAN EVIDENCED-BASED PRACTICE
PENGARUH KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN
TINGKAT NYERI PADA PENERIMA MANFAAT NY. K
DENGAN GANGGUAN RASA NYAMAN ; NYERI
DI WISMA ARJUNA UNIT PELAYANAN SOSIAL
LANJUT USIA WENING WARDOYO UNGARAN

Nama : Dona Agarevi Khoiriyah


NIM : SN.161035

1. Latar Belakang
Nyeri adalah sensasi yang rumit, unik, universal dan bersifat individual
(Asmadi 2008). Nyeri adalah suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
eksistensinya diketahui bila seseorang mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan
dan meningkatkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
(Judith M. Wilkinson, 2002). Nyeri adalah pengalaman emosional dan sensori
yang tidak menyenengkan muncul dari kerusakan jaringan (Nanda, 2010).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait
dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan
kondisi terjadinya kerusakan.

Penuaan adalah karakteristik dari proses fisiologis yang dinamis dan


mengalami perbedaan yang irreversible pada fungsi fisiologis lansia (Rastogi
& Meek, 2013). Hal tersebut akan berdampak pada berbagai aspek terutama
dari segi aspek kesehatan. Data epidemiologi mendukung prevalensi
peningkatan nyeri kronik dan kelemahan pada lanjut usia. Lansia sering
memiliki potologis penyakit kronik yang multiple, perubahan fungsi tubuh, dan
kelemahan (Rastogi & Meek, 2013). Salah satu penyakit kronik yang dapat
menimbulkan sensasi nyeri pada lansia adalah OSTEOARTRHRITIS (OA).
(Cooney et al, 2010). Selain itu, lansia sangat rentan mengalami penyakit sendi
degeneratif (Fox et al., 2004).
Terapi modalitas pada nyeri lansia dapat dikategorikan dalam beberapa
bidang. Sebuah pendekatan multidisiplin direkomendasikan untuk menyelidiki
kemungkinan management nyeri yang optimal, antara lain farmakoterapi
(terapi yang paling sering digunakan), dukungan psikologis, rehabilitasi fisik,
dan prosedur intervensi. Terapi farmakologis yang sering digunakan antara lain
NSAID, relaksan otot, opioid, dan terapi adjuvan (Kaye et al, 2010).
Terapi modalitas non farmakologi merupakan komponen multimodal
manajemen yang sangat penting karena membantu dalam mengatasi nyeri yang
lebih baik dengan perbaikan dalam fungsi sehari-hari, di dalamnya termasuk
terapi fisik (Rastogi & Meek, 2013). Terapi latihan fisik tersebut dapat
menurunkan intensitas nyeri sendi pada lansia (Permana, 2011).
Senam Ergonomis merupakan terapi aktivitas fisik (Fahmi, 2010). Senam
ergonomis merupakan senam yang diilhami dari gerakan shalat. Gerakan shalat
dapat dipastikan mengandung fungsi autoregulasi dan adaptasi tubuh manusia
dengan otak sebagai pusat pengendali (Sagiran, 2006). Senam ergonomis
merupakan senam yang dapat langsung membuka, membersihkan, dan
mengaktifkan seluruh sistem-sistem tubuh seperti sistem kardiovaskuler,
kemih, reproduksi (Wratsongko, 2010).
Berdasarkan latar belakang diatas Penulis ingin membuktikan pengaruh
senam ergonomis dalam menurunkan tingkat nyeri sendi pada penderita
Osteoarthritis (OA) penerima manfaat di Unit Pelayanan Lanjut Usia Wening
Wardoyo Ungaran. Sehingga hasil penerapan jurnal ini dapat dijadikan
pertimbangan dalam pemberian terapi non farmakologi menurunkan nyeri
sendi.

2. PICO
Hasil pengkajian pada hari senin, 20 maret 2017 Ny.S mengeluh nyeri di
lutut dan jika buat berjalan rasanya sakit dan linu. Ny.S tidak mendapatkan
terapi obat analgetik untuk mengurangi nyerinya. Berdasarkan pengkajian
tersebut, intervensi yang dapat dilakukan pada Penerima manfaat Ny.S yaitu
dengan memberikan terapi senam ergonomis. Senam bermanfaat menghindari
penumpukan lemak ditubuh (Sustrani dkk,2014),senam ergonomis juga
memaksimalkan suplay oksigen ke otak, membuka sistem kecerdasan, sistem
kerinngat, sistem pemanas tubuh, sistem pembakaran (asam urat. gula darah,
asam laktat, kolestrol, dll).senam ergonomis terdiri dari gerakan yang
menyerupai gerakan sholat, sehingga lansia mudah mengaplikasikan gerakan
senam ini di dalam kehiupan sehari-hari (Sagira, 2012).

3. Tinjauan Kasus
Ny. S (83 tahun) sudah tinggal di Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Wening Wardoyo Ungaran kurang lebih 1 tahun. Ny. S mengatakan nyeri di
kaki terutama di lutut nyeri yang dirasakan seperti ditusuk tusuk nyeri hilang
timbul dan jika buat berjalan nyeri bertambah, skala nyeri yang dirasakan 3 .
Pada hari Senin, 20 maret 2017 Ny. S dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital:
tekanan darah 140/100 mmHg, Suhu 36,50 C, Nadi 80x/menit, RR 22x/menit.

4. Dasar Pembanding
Senam ergonomis digunakan untuk mengurangi nyeri berdasarkan pada
jurnal penelitian yang di susun oleh Raahmawati (2014) yang berjudul
Pengaruh Terapi Aktivitas Senam Ergonomis Terhadap Penurunan Skala
Nyeri Sendi Pada Lanjut Usia Dengan Degeneratif Sendi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada terapi aktivitas
senam ergonomis terhadap penurunan skala nyeri sendi pada lansia dengan
degeneratif sendi.. penelitian yang dilakukan oleh Pranyana (2015) yang
berjudul Pengaruh Senam Ergonomik Terhadap Keluhan Nyeri Dan
Peningkatan Rentang Gerak Pada Lansia Yang Mengalami Nnyeri Reumatik Di
Panti Wreda Dharma Bhakti Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
senam ergonomis berpengaruh dalam penuruan tingkat nyeri pada lansia yang
mengalami rematik di panti wreda Dharma Bhakti Surakarta.

5. Implementasi
Awali setiap gerakan senam dengan menarik napas, gunakan teknik napas
dada, yaitu saat menarik napas perut dikecilkan dan dada dibusungkan. Tujuan
gerakan ini ialah agar rongga dada dapat berkembang optimal dan paru-paru
dapat lebih banyak menghimpun udara. Melakukan senam ergonomik secara
rutin, minimal selama dua minggu, akan melatih tubuh untuk melakukan
gerakan fisik. Berikut ini penjelasan mengenai teknik senam ergonomic adalah:

a. Teknik ke satu

Berdiri tegak dengan dua lengan diputar ke belakang semaksimal


mungkin kemudian rasakan keluar dan masuknya udara dengan rileks.
Saat dua lengan di atas kepala, jari kaki jinjit.

b. Teknik ke dua

Dari posisi berdiri tegak dengan menarik napas dalam secara rileks, tahan
napas sambil membungkukkan badan ke depan (napas dada)
semampunya. Tangan berpegangan pada pergelangan kaki sampai
punggung terasa tertarik/teregang. Wajah menengadah sampai terasa
tegang/panas. Saat melepaskan napas, lakukan hal itu dengan rileks dan
perlahan.

c. Teknik ke tiga

Menarik napas dalam (napas dada) lalu tahan sambil membungkukkan


badan ke depan dan dua tangan bertumpu pada paha. Wajah menengadah
sampai terasa tegang/panas. Saat membungkuk, pantat jangan sampai
menungging.

d. Teknik ke empat

Posisi Duduk Perkasa dengan dua tangan menggenggam pergelangan


kaki, menarik napas dalam (napas dada), badan membungkuk ke depan
sampai punggung terasa tertarik/teregang, wajah menengadah sampai
terasa tegang/panas. Saat membungkuk, pantat jangan sampai
menungging. Saat melepaskan napas, lakukan hal itu secara rileks dan
perlahan.

e. Teknik ke lima
Posisi kaki duduk pembakaran dilanjutkan berbaring pasrah. Punggung

menyentuh lantai/alas, dua lengan lurus di atas kepala, napas rileks dan

dirasakan (napas dada), perut mengecil. Apabila tidak mampu menekuk

kaki, maka kaki bisa diposisikan pada keadaan lurus.

f. Teknik ke enam

Gerakan putaran energi inti diawali dengan duduk simpuh dengan

punggung kaki sebagai alas. Dua lengan lurus ke depan, lalu pergelangan

tangan diputar mulai dari depan dada sampai atas kepala, wajah

menengadah melihat putaran tangan, kemudian putar pergelangan tangan

ke arah luar sebanyak 60 putaran. Saat putaran berakhir, menghirup napas

dan ditahan. Dua lengan digerakan ke belakang melewati dua pinggang

hingga dua lengan lurus dengan telapak tangan menghadap ke atas. Badan

membungkuk ke depan, kemudian wajah ditengadahkan sampai terasa

darah (gerakan energi) berjalan dari punggung ke wajah (wajah tampak

kemerahan). Jika sudah maksimal, maka napas dihembuskan perlahan

(rileks) tidak menghentak.

6. Hasil
Hasil Implementasi pengaruh terapi rebusan daun sirsak terhadap
penurunan nyeri pada Ny. S dengan gout arthritis di panti Aisyah
Hari/ Tanggal/ Jam Nyeri sebelum Nyeri sesudah

Senin 20 Maret 2017 3 3


10.30 WIB
Selasa , 21 juni 2017 3 3
11.00 WIB
Rabu , 22 juni 2017 3 2
13.00 WIB

Berdasarkan hasil observasi diatas didapatkan bahwa terapi senam


ergonomis mampu menurunkan skala nyeri yang dirasakan Ny. S.

7. Diskusi
Osteoarthritis merupakan kerusakan kartilago sendi, yang diikuti
peningkatan produksi jaringan pada batas sendi. Hal ini menyebabkan
pembesaran sendi, terutama pada lutut dan jari tangan (Dewi, 2014).
Osteoarthritis adalah penyakit rematik yang paling banyak dikeluhkan terutama
pada orangtua. Penyakit ini disebabkan kerusakan jaringan tulang sendi yang
paling umum terjadi pada usia diatas 65 tahun. Sendi yang sering terkena
adalah sendi-sendi besar seperti sendi lutut ataupun pinggang (Suranto, 2007).
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun
beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoarthritis menurut (Idrus,
2009). antara lain adalah :
a. Kekurangan nutrisi
Nutrisi yang dapat menyebabkan terjadinya osteoathritis, yaitu kekurangan
kalsium, vitamin D, mineral, protein, glukosamin dan air.
b. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah
yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang
pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun. Perubahan
fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur dengan
penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk pigmen
yang berwarna kuning.
c. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi, sedangkan laki-laki
lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara
keseluruhan dibawah 45 tahun. frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada
laki-laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak
pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
pathogenesis osteoartritis.
d. Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis misal, pada ibu dari
seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi interfalang distal terdapat
dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anak
perempuannya cenderung mempunyai tiga kali lebih beresiko dari pada ibu
yang mengalami osteoarthritis. Heberden node merupakan salah satu bentuk
osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya
terkena osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya
yang terkena.
e. Merokok dan terlalu sering minum kopi, karena rokok dan kopi bisa
mengurangi kemampuan tulang menyerap kalsium.
f. Kegemukan (obesitas)
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko
untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan
ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung
beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).
g. Cedera sendi, pekerjaan dan olah raga (trauma)
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang
menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi
tersebut.
h. Kepadatan tulang dan pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi
melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan
yang harus dikandungnya.
i. Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord, infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi
peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran
sinovial dan sel-sel radang.
j. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteoglikan yang
berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligamen, tendo, sinovial, dan kulit. Pada diabetes melitus, glukosa
akan menyebabkan produksi proteoglikan menurun.
k. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat
mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal
monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi
Senam Ergonomis merupakan terapi aktivitas fisik (Fahmi, 2010). Senam
ergonomis merupakan senam yang diilhami dari gerakan shalat. Gerakan shalat
dapat dipastikan mengandung fungsi autoregulasi dan adaptasi tubuh manusia
dengan otak sebagai pusat pengendali (Sagiran, 2006). Senam ergonomis
merupakan senam yang dapat langsung membuka, membersihkan, dan
mengaktifkan seluruh sistem-sistem tubuh seperti sistem kardiovaskuler,
kemih, reproduksi (Wratsongko, 2010).
Senam ergonomis atau aktivitas fisik dapat merangsang meningkatkan
aktivasi dari kimiawi neuromuskular dan muskuler. Rangsangan yang di bawa
oleh sel saraf dan serabut otot menyebabkan keluarnya ion Ca mengikat
molekul dari filamen-filamen kecil memungkinkan terjadinya interaksi aktin
dan miosin dalam sarkomer sehingga mengakibatkan filamen kecil bergeser
maka terjadilah kontraksi dari miofibril dan serabut otot. Mekanisme melalui
muskuler Otot membutuhkan energi saat berkontraksi menyebabkan terjadinya
proses metabolisme oksidatif seluler sehingga terbentuk Adenosin Trifosfat
(ATP) yang digunakan sebagai energi saat otot berkontraksi. Energi yang di
perlukan otot berbeda-beda akan meningkat selama aktivitas fisik. Untuk
menjaga fungsi dan kekuatannya otot harus selalu dilatih. Bila otot beruang-
ulang mencapai tegangan maksimum atau mendekati maksimum dalam waktu
yang lama dan teratur akan menyebabkan irisan melintang otot akan membesar
sehingga dapat meningkatakan massa otot dan kekuatan otot
(Sherwood,2011;Brunner dan Suddarth,2001).
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kekuatan otot pada lansia antara
lain aktivitas fisik, obesitas, dan cedera otot. Aktivitas fisik yang intensif dan
sering dilakukan dapat mempertahankan kekuatan otot pada lansia. Obesitas
pada lansia dapat mempengaruhi mobilitas dan kekuatan otot,obesitas menjadi
faktor predisposisi bagi lansia untuk mengalami ketidak stabilan ligamen
terutama pada daerah punggung bagian bawah dan sendi-sendi lain yang
menahan berat tubuh. Cedera otot dapat menyebabkan imobilisasi sehingga
menyebabkan kehilangan massa dan kekuatan otot (Brunner dan Suddarth,
2001;Stanley dan Beare, 2006).
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Suharjono dkk (2014)
bahwa senam berpengaru terhadap perubahan nyeri yang ditimbulkan oleh
arthritis senam ergonomis dilakukan selama 8x pertemuan dalam 4 minggu.

8. Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Hasil pemberian terapi rebusan daun sirsak terhadap penurunan nyeri
yang dilakukan pada Ny. S selama tiga hari berturut turut didapatkan
hasil yang signifikan. Dari hasil skala nyeri sebelum dan sesudah
dilakukan terapi mengalami penurunun skala nyeri yaitu dari skala nyeri 4
menjadi skala nyeri 1.
Berdasarkan hasil diatas maka dapat disimpulkan mengkonsumsi
rebusan daun sirsak dapat menurunkan skala nyeri padaNy. S dengan gout
arthritis (asam urat) di panti.

b. Saran
Terapi rebusan daun sirsak dapat dijadikan bahan pertimbangan
untuk lansia yang menderita asam urat. Mengingat manfaat rebusan daun
sirsak dapat menurunkan nyeri sendi sekaligus dapat menurunkan kadar
asam urat dalam darah, maka diharapkan penerima manfaat dapat
memanfaatkan rebusan daun sirsak untuk pengobatan alternatif yang
sangat efektif untuk penderita asam urat.

Daftar Pustaka

Anjarwati, Wang. 2010, Tulang dan Tubuh Kita. Getaran Hati : Yogyakarta
Florinda, Yora. Pengaruh pemberian air rebusan daun sirsak terhadap kadar asam
urat darah mencit putih jantan. 2012.

Karundeng F, Mulyadi & Vandri. (2015). Pengaruh Mengkonsumsi Rebusan Daun


Sirsak Terhadap Penurunan Nyeri pada Penderita Gout Arthritis di
Wilayawh Kerja Puskesmas Pineleng. eJournal Keperawatan. Vol 3. No 2

Komang Agus Nopik W. 2013. Pengaruh Pemberian Rebusan Daun SIRSAK


Terhadap Nyeri pada Penderita Gout di Kelurahan Genuk Barat
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. STIKES Ngudi Waluyo

Perry & Potter. 2006. Buku Ajar Fudamental Keperawatan : Konsep, Proses dan
Praktik (Fudamental Of Nursing : Censept Process and Practice) eds. Ester,
Yulianti & Parulian. Vol 2, edk 4, EGC : Jakarta.

Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tentang Penyakit Sendi. Diakses dari
www.litbang.depkes.go.id. Pada tangggal 20 juni 2016

Shabella R. 2001. Terapi Daun Sirsak. Jogolanan Klaten : Galmas Publisher.

Smeltzer & Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah (Alih Bahasa : Agung
Waluyo). Edisi 8. EGC : Jakarta.

Sudoyo, A. W. et al. 2009. Buku Ajar Penyakit Dalam (edisi ke 5). Interna
Publishing : Jakarta

Zahara. 2013. Artritis Gout Metakarpal Dengan Perilaku Makan Tinggi Purin
Diperberat Oleh Aktivitas Mekanik Pada Kepala Keluarga Dengan Posisi
Menggenggam Statis.

Surakarta, 23 Maret 2017


Mengetahui

Fauziah Tri Sahrani