You are on page 1of 13

KEBUDAYAAN

MINAHASA &
MALUKU (AMBON)
BUDAYA NUSANTARA
DENY ARIEF PRASETYO
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
KEBUDAYAAN MINAHASA............................................................................. 1
A. Letak Geografis...................................................................................... 1
B. Sistem Budaya........................................................................................ 1
C. Sistem Sosial.......................................................................................... 2
D. Unsur Kebudayaan yang Universal...............................................................2
KEBUDAYAAN MALUKU (AMBON).................................................................8
A. Letak Geografis...................................................................................... 8
B. Sistem budaya........................................................................................ 8
C. Sistem sosial.......................................................................................... 9
D. Unsur kebudayaan................................................................................... 9

2
KEBUDAYAAN MINAHASA

A. Letak Geografis
Minahasa berada di Propinsi Sulawesi Utara terletak di jazirah utara Pulau
Sulawesi dengan luas 6.000 km2. Dilihat dari letak geografis Sulawesi Utara
terletak pada 0.300-4.300 Lintang Utara (LU) dan 1210-1270 Bujur Timur (BT).
Sebagian wilayahnya adalah daerah pegunungan sampai berbukit dan sebagian
daratan dan pantai. Wilayah Propinsi Sulawesi Utara mempunyai batas-batas:
Utara : Laut Sulawesi, Samudra Pasifik dan Republik Filipina; Timur : Laut
Maluku; Selatan : Teluk Tomini; Barat : Propinsi Gorontalo.
Orang Minahasa berkulit merah jambu campuran kuning dari orang Mongol
dan kemerah-merahan dari orang Eropa terutama Spanyol, Portugis, dan Belanda.
Subetnik penduduk Minahasa yaitu Tounsea, Toumbulu, Tountembuan, Toulour,
Tounsawang, Pasan Ratahan, Ponosukan Belang, dan Bantik.
Minahasa berasal dari Minaesa yang berarti persatuan. Kompeni VOC
melakukan pendekatan dengan masyarakat Minahasa melalui pakta keamanan
bersama antara Dewan Wali Pakasaan dengan Belanda yang ditandatangani pada
10 Januari 1679. Sehingga tanah Minahasa dijuluki De Twallfde Provintie van
Nederland.

B. Sistem Budaya
1. Lambang Budaya
Berupa perisai bergambar burung hantu. Burung hantu atau burung manguni
menjadi simbol kebijaksanaan atau kearifan. Bulu sayap sebanyak 17 helai
melambangkan tanggal kemerdekaan RI, bulu ekor berjumlah 5 helai
melambangkan Pancasila, di dada Burung Manguni terdapat gambar pohon
kelapa yang merupakan komoditi utama Minahasa. Motto/slogan Minahasa
yaitu I Yayat Uu Santi (siap dan bertekad bekerja keras demi pembangunan),
yang dijawab Uhuyy!!.
2. Falsafah Hidup
a. Si tou timou tumou tou : manusia hidup untuk menhidupkan manusia.
b. Si tou timou toua : pemimpin harus dapat menerapkan pola kepemimpinan
yang menyayangi, baik hati, daling mengingat sesama manusia.
3. Penggunaan bahasa Melayu Manado membentuk identitas etnik.

1
C. Sistem Sosial
Mapulus adalah bentuk kerjasama yang tumbuh dalam masyarakat Minahasa
untuk saling membantu dan tolong menolong dalam menhadapi hidup baik
perseorangan maupun kelompok, dipimpin oleh tua im palus. Dikenal dalam
beberapa aspek kegiatan masyarakat.
1. Kegiatan sosial
a. Mendu imperoongan : kerja bakti kampung atau lingkungan.
b. Berantang : membantu keluarga yang berduka.
c. Sumakey : kegiatan bersama dalam acara syukuran.
2. Kegiatan ekonomi dan keuangan
a. Maendo : usaha bersama menggarap ebun dan perbaikan rumah.
b. Paando : arisan.
Kerukunan yang mencakup wilayah kecamatan atau distrik disebut pakasaan
atau waluk.

D. Unsur Kebudayaan yang Universal


1. Bahasa : Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, Bahasa Melayu Manado.
2. Sistem organisasi daerah
a. Sistem pemerintahan
a) Walian : pemimpin agama serta dukun.
b) Tonaas : orang keras, ahli di bidang pertanian, kewanuaan, mereka
yang dipilih menjadi kepala walak.
c) Teterusan : panglima perang
d) Potuasan : penasehat
e) Paedon Patian atau Hukum Tua : gelar kepala eluarga yang menjadi
kepala pemerintahan.
b. Sistem kemasyarakatan
a) Awu atau taranak : keluarga batih (rumah tangga).
b) Bangsal : dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang melimputi
beberapa bangsal.
c) Taranak, Roong/Wanua, Walak : kompleks bangsa dalam satu
kesatuan. Pemimpinnya disebut Ukung, yang memiliki pembantu
(Meweteng), dengan tugas membantu Ukung mengatur pembagian
kerja dan pembagian hasil sesuai kesepakatan. Roong/Wanua dibagi
dalam beberapa bagian yang disebut Lukar.
d) Walak dan Pakasaan : serombongan penduduk secabang keturunan
dan wilayah yang didiami rombongan penduduk secabang keturunan.
Penggabungan beberapa Walak yang memiliki ikatan keluarga dan
dialek bahasa membentuk suatu pakasaan.

2
e) Paesa in Deken : tempat mempersatukan pendapat. Pemimpin baru
dipilih berdasarkan tiga kriteria, yaitu nagasan (mempunyai otak),
niatean (mempunyai hati), dan mawai (mempunyai kekuatan dan
dapat diandalkan).
f) Kawanua : penduduk negeri atau wanua yang bersatu atau Mina-
Esa (orang Minahasa).
c. Organisasi sosial
Sistem kependudukannya pemukiman dan pedesaan. Pola perkampungan
di Minahasa bercirikan:
a) Wanua, sebutan bagi desa anak, desa, maupun kelompok desa.
b) Bersifat menetap
c) Kelompok rumah berbentuk memanjang mengikuti jalan
d) Bentuk rumah menunjukan status seseorang dalam masyarakat
e) Jalan raya merupakan urat nadi desa.
d. Sistem kekerabatan
a) Orang Minahasa bebas menentukan jodohnya sendiri, dengan
perkawinan eksogami. Setelah menikah mereka tinggal menurut
aturan neolokal (tumampas), namun tidak diharuskan. Rumah tangga
baru dapat tinggal di kerabat pihak suami maupun istri sampai
mempunyai rumah sendiri.
b) Anak tiri dan anak angkat karena adopsi dianggap anggota kerabat
penuh dalam keluarga batih maupun kelompok kekerabatan yang lebih
luas.
c) Hubungan kekerabatan ditentukan oleh prinsip keturunan bilateral.
d) Harta suami istri dari warisan orang tua dan harta yang diperoleh
bersama selama menikah. Benda warisan yang belum dapat atau tidak
dapat dibagi penggunaannya secara bergiliran diatur saudara laki-laki
tertua.
3. Sistem ekonomi
Berupa perkebunan kelapa, cengkeh, kopi, pala, coklat, panili, jahe putih, dan
jambu mete. Terdapat perikanan laut yang berpusat di Aertembaga
(penangkapan dan pengolahan cengkalang), serta perikanan darat. Binatang
yang dimakan yaitu babi hutan, tikus hutan (ekor putih), kalong. Binatang
khasnya berupa Tangkasi, Burung Maleo, Burung Taong, anoa, babi rusa, ikan
purba raja laut, (Coelucant). Hasil tambangnya berupa tembaha, emas, perak,
nikel, titanium, mangan, pasir besi, kaolin. Janis kayu yang berharga yaitu
eboni, kayu besi, kayu linggua, cempaka, rotan, dan damar.

3
4. Sistem teknologi
Berupa alat-alat produksi, alat-alat transportasi, senjata (santi), baju perang
dari kulit sapi atau anoa (wateng), topi dengan hiasan bulu dan parung butung
enggang, perisai kayu (kalung), wadah peti kayu, alat menyalakan api, Cidako
(teknologi pembuatan pakaian) dengan motif hias kain tenun yaitu motif tolai
(ekor ikan), dan perumahan berupa rumah panjang yang disebut Wale
Wangko.
5. Sistem religi
a. Dahulu mengenal banyak dewa (empung/opo). Dewa tertinggi = Opo
Wailan, pencipta seluruh alam dan isinya. Dewa sesudah dewa tertinggi =
Karema.
b. Roh leluhur dianggap suka menolong cucu atau kerabat mereka.
c. Agama resmi : kristen, islam, protestan.
d. Batu-batu Megalit yang ditemukan di Minahasa : waruga, menhir,
lumpang batu, batu bergores, altar batu, batu dakon, arca batu atau arca
menhir.
e. Waruga adalah kubur batu berbentuk kubus untuk bagian badannya, hanya
sedikit yang berbentuk segi delapan atau bulat. Saat dikubur, barang
kesayangan meraka ikut dikubur sebagai bekal kubur. Saat ini waruga
menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara.
f. Watu Tumotoa atau menhir adalah batu tegak berbentuk tugu untuk
menandai pembangunan sebuah desa.
g. Lesung batu : ditemukan bagian Selatan berupa batu tunggal dengan
bermacam-macam bentuk seperti wadah untuk menanak nasi, tifa, bola.
Jumlahnya ada 32 buah.
h. Watu Pinawetengan : tempat permohonan orang, seperti kesembuhan dari
penyakit dan perlingungan dari bahaya.
i. Altar batu : untuk melakukan peribadatan oleh masyarakat yang memiliki
kepercayaan pada roh-roh leluhur, ada sembilan buah.
j. Batu dakon : alat upacara untuk memohon pertolongan kepada roh nenek
moyang agar memperoleh hasil panen yang baik dan mengharapkan
kesuburan tanah, hanya ada 6 bauh.
k. Arca menhir: sebagai penggambaran leluhur yang dikultuskan, sarana
untuk memuja roh nenek moyang, hanya ada 2 buah batu yang ditemukan.
6. Kesenian
a. Rumah adat

4
Rumah panggung dengan dua tangga di depan rumah. Lantai rumah
berada di atas tiang setinggi dua setengah meter, berjumalh 16 atau 18.
Susunan rumah terdiri dari emperan (setup), ruang tamu (leloangan),
ruang tengah (pores), dan kamar-kamar. Di bagian belakang terdapat
balai-balai untuk menyimpan alat dalur, alat makan, dan untuk mencuci.
Bagian atas rumah (loteng, soldor) untuk menyimpan hasil panen. Bagian
bawah (kolong) untuk gudang penyimpanan papan, balok, kayu, alat
pertanian, gerobak, dan rumah hewan.
b. Pakaian adat
a) Jaman dahulu
Wanita Minahasa mengenakan baju wuyung (sejenis kebaya, pakaian
kulit kayu), gaun yang disebut pasalongan rinegaten yang bahannya
terbuat dari tenunan bentenan. Kaum pria mengenakan baju karai,
baju baniang, dan celana pendek atau panjang.
b) Setelah terpengaruh Eropa dan Cina
Busana wanita dipengaruhi Spanyol berupa kebaya lengan panjang
dengan rok yang bervariasi, dan dipengaruhi Cina berupa kebaya putih
dari kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Busana
pria dipengaruhi Spanyol berupa baju lengan panjang (baniang) yang
modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang.
c. Upacara perkawinan
a) Upacara perkawinan
Posanan (pingitan) : dilakukan sehari sebelum Malam Gagaren atau
malam muda-mudi. Mandi adat di pancuran tidak dilakukan lagi,
diganti dengan Lumelea (menginjak batu) dan Bacoho karena
dilakukan di kamar mandi di rumah calon pengantin.
b) Tempat
Dapat dilakukan di rumah pengantin pria (di Langowan-Toutemboan)
atau rumah pengantin wanita (Tomohon-Tombulu). Saat ini seluruh
acara dipadatkan menjadi satu hari. Pagi hari: memandikan pengantin,
merias wajah, memakai busana, mahkota, topi pengantin untuk
upacara maso minta (toki pintu). Siang hari : pergi ke catatan sipil atau
Departemen Agama dan mengesahkan pernikahan (di gereja bagi yang
Kristen), dilanjutkan resepsi.
c) Pakaian

5
Pengantin wanita mengenakan baju kebaya warna putih, kain sarong
bersulam warna putih dengan sulaman sisik ikan, sanggul, mahkota
(kronci), kalung leher (kelana), kalung mutiara (simban), anting dan
gelang. Konde dengan sembilan bunga mandur putih disebut Konde
Lumalundung, konde yang memakai lima tangkai kembang goyang
disebut Konde Pinkan.
Pengantin pria mengenakan busana jas tertutup dan terbuka, celana
panjang, selendang pinggang dan topi (parong).
d. Alat musik : kolintang, musik bambu (musik bambu melulu, musik bambu
klarinet, musik bambu seng, musik bia).
e. Tarian adat : Tari Maengket, Tari Tumentenden, Tari Kabasaran (Tari
Cakalele), Tari Lens, Tari Katrili.
f. Lagu daerah : O Ina Ni Keke, Oh Minahasa.
g. Wisata kuliner: Bubur Manado, Ayam rica-rica, baklobi, saguer, cap tikus.
h. Tenun ikat untuk upacara-upacara adat dan cinderamata.
i. Bordir berupa krawungan pada kebaya, taplak meja, dll.
j. Upacara adat
a) Monondeaga : upacara datangnya haid pertama, dengan melubangi
daun telinga dan dipasangi anting, gigi diratakan sebagai pelengkap
kecantikan.
b) Mupuk Im Bete : upacara syukur dengan membawa hasil ladang untuk
didoakan
k. Pariwisata : Makam Kyai Modjo, Makam Tuanku Imam Bonjol,
Monumen Dr. Sam Ratulangi, wisata laut Bunaken.

6
KEBUDAYAAN MALUKU (AMBON)

A. Letak Geografis
Maluku dengan Ambon sebagai ibukotanya terlatak di antara 3 0 LU 8,30 LS
dan 1250 BT 1350 BT. Batas utara : Lautan Pasifik; timur : Provinsi Papua;
Selatan : Timor Leste dan Australia; barat : Provinsi Sulawesi Tenggara dan
Sulawesi Tengah.

B. Sistem budaya
1. Pela
Pela adalah suatu ikatan persaudaraan atau kekeluargaan dua desa atau lebih
dengan tujuan saling membantu atau menolong, saling merasakan senasib
sepenanggungan. Terjadi karena adanya peristiwa yang melibatkan kedua
kepala kampung atau desa untuk saling membantu. Ikatan pela memiliki nilai
dan aturan yang mengikat masing-masing pribadi yang tergabung dalam
perikatan persaudaraan atau kekeluargaan,
Jenis-jenis pela
a. Pela keras (pela minum darah, pela tuni, atau pela batukarang).
Ditetapkan melalui sumpah para leluhur kedua belah pihak dengan
meminum darah dari jari-jari mereka yang dicampur minuman keras dari
salah satu gelas. Pela ini umumnya hasil dari keadaan perang, dan
mematerikan sumpah persaudaraan untuk selama-lamanya. Anggota pela
dituntut untuk tidak saling menikah dan saling membantu atau memikul
beban.
b. Pela lunak (pela tempat sirih). Diikat dengan makan sirih pinang bersama,
terjadi karena pertemuan dalam situasi untuk saling membantu, kegiatan
masohi atau bantuan tenaga dari desa satu ke desa lainnya. Anggota pela
tidak dilarang untuk menikah sesama anggota pela.
c. Pela ade kaka (pela gandong). Merupakan hasil pertemuan kembali adik-
kakak yang berpencar dan membentuk kampung sendiri. Umumya
berlangsung antara kampung yang beragama Islam dan kampung yang
beragama Kristen.
d. Panas pela adalah kegiatan yang dilakukan setiap tahun antara desa yang
sama-sama telah mengangkat sumpah dalam ikatan pela untuk mengenang
kembali peristiwa angkat pela yang terjadi pada awalnya. Inti kegiatan
untuk menguatkan, mengkukuhkan hubungan persaudaraan dan
kekeluargaan.
2. Patasiwa atau Patalima
Patasiwa berarti sembilan bagian, dan patalima berarti lima bagian.
Patasiwa dan patalima terjadi keperluan militer dan politis dari Ternate dan
Tidore sebagai pusat kekuasaan saat itu. Di Ambon dan Seram tiap-tiap desa
termasuk salah satu dari kedua organisasi tersebut.

7
Patasiwa atau Patalima berasal dari Seram Barat. Patasiwa adalah
kelompok orang-orang Alifuru, bertempat tinggal di sebelah barat Sungai
Mala sampai Teluk Upa Putih di sebelah selatan. Patalima adalah orang-orang
yang tinggal di sebelah timur batas-batas tadi. Patasiwa dibagi menjadi
Patasiwa Hitam (Patasiwa Mete) dan Patasiwa Putih. Warga patasiwa hitam
memiliki kulit yang dirajah.
Sebelum ada pembagian patasiwa dan patalima, telah ada sistem
pembagian penduduk Pulau Seram yaitu Patu Alume (Halune) dan Pata
Weimale (Memale).
Oragnisasi rahasia yang berhubungan erat dengan Patasiwa Hitam dan
Patasiwa Putih adalah Kakehan. Dahulu mereka melakukan serangan-
serangan pemenggalan kepala dan berbagai upacara yang berhubungan dengan
itu.

C. Sistem sosial
1. Organisasi dalam masyarakat
a. Jojaro : terdiri dari pemuda-pemudi dewasa yang belum kawin. Bila
seorang pemudi kawin dengan pemuda dari desa lain, jojoro dapat
menghalangi jalan keluar mereka dari desa dan menuntut pengantin laki-
laki membayar dengan sehelai kain putih. Bila belum dibayar maka
pengantin wanita tidak diijinkan meninggalkan desa.
b. Ngurare : organisasi pemuda-pemudi yang belum kawin, membantu jojaro
dan mengawasi pembayaran tagihan mereka.
c. Muhabet : beranggotakan keraban dan warga satu desa, mengurusi
kegiatan yang berhubungan dengan kematian.
2. Gotong royong
Kegiatan dalam bentuk kerjasama antara penduduk suku asal dengan para
pendatang.

D. Unsur kebudayaan
1. Bahasa
Bahasa umum yang digunakan di Maluku adalah Bahasa Melauyu. Bahasa
Melayu dibagi menjadi Bahasa Melayu Ambon dan Bahasa Melayu Ternate.
Bahasa Melayu Ambon dipengaruhi bahasa Melayu Makassar, Portugis,
Belanda, serta Bahasa Indonesia baku.
2. Sistem organisasi sosial
a. Sistem kekerabatan
a) Sistem kekerabatan orang Maluku berdasarkan hubungan patrilineal,
yang diiringi dengan pola menetap.
b) Matarumah adalah kesatuan laki-laki dan wanita yang belum kawin
dan para istri dari laki-laki yang telah kawin. Digunakan untuk
mengatur perkawinan warganya secara exogami (kawin dengan orang
diluar klennya) dan mengatur penggunaan tanah-tanah dati.

8
c) Famili adalah kesatuan kekerabatan di sekeliling individu, terdiri dari
warga yang masih hidup dari matarumah asli.
d) Dalam sistem adat masyarakat Ambon dikenal tiga jenis tipe
kepemilikan tanah yaitu:
Tanah Negeri, dimiliki oleh negeri
Tanah Dati, dimiliki oleh klen dan sub-klen atau matarumah
Tanah Pusaka, dimiliki secara individu oleh pewaris dalam
keluarga.
e) Hongi adalah armada perang rakyat Maluku jaman dahulu, berupa
kora-kora untuk melawan musuh. Pada masa VOC, Belanda
menggunakan pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan.
b. Perkawinan
Mereka mengenal tiga macam cara perkawinan yaitu :
a) Kawin Minta, seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang
akan dijadikan istrinya, maka ia akan memberitahukan hal itu pada
orangtuanya.
b) Kawin Lari atau Lari Bini, sistem perkawinan paling lazim, keluarga
pemuda membawa keluar si gadis dan dibawa ke rumah keluarga
pemuda.
c) Kawin Masuk atau Kawin Manua, pengantin laki-laki tinggal di rumah
keluarga wanita.
c. Desa
a) Bentuk Desa; Desa-desa di Pulau Ambon biasanya merupakan
sekelompok rumah yang didirikan sepanjang suatu jalan utama.
b) Baileu atau balai adat digunakan untuk tempat musyawarah dan
pertemuan rakyat dengan dewan rakyat (saniri negeri), sebagai tempat
pameran dan peragaan berbagai kebudayaan Maluku. Dimuka pintunya
terdapat batu besar tempat meletakkan sesaji yang disebut batu pamili.
c) Raja memperoleh jabatannya melalui pemilhan, keturunan, atau karena
kewargaannya dengan klen yang secara adat berhak memegang
pimpinan.
d) Pemerintahan desa dilakukan oleh kepala-kepala soa secara bergiliran
selama 2-6 bulan. Kedua kepala soa yang sedang bertugas disebut soa
jagabulan atau bapak jou.
e) Tiga macam Saniri yaitu :
Saniri rajaputih : pelaksana adminsitrasi desa dan instruksi-
instruksi dari pemerintahan pusat, terdiri dari raja kepala-kepala
soa.
Saniri negeri lengkap : dewan pembuat aturan-aturan adat atau
dwan legislatif, terdiri dari raja, kepala-kepala soa, dan pejabat-
pejabat adat lainnya.
Saniri negeri besar : dewan perwakilan rakyat kecil, jarang
sekali berkumpul kecuali pada pemilihan raca, upacara

9
pengesahan jabatan raja baru. Terdiri dari semua jabatan
pemerintahan desa dan semua warga laki-laki yang telah
dewasa.
d. Sistem ekonomi
Mata Pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan dan petani lahan
kering. Di samping berladang, masyarakat juga berburu rusa, babi hutan
dan burung kasuari. Sagu adalah makanan pokok masyarakat maluku, di
mana pohonnya tumbuh sangat banyak, oleh karenanya tak perlu ditana
e. Sistem pengetahuan
Kondisi geografis kepulauan, harus menguasai sistem pelayaran dan
pembacaan arah melalui gugus bintang, menguasai astronomi.
f. Sistem teknologi
Masyarakat maluku pada umumnya menguasai pertukangan terutama
untuk perkapalan.
g. Sistem religi
Mayoritas penduduk Maluku memeluk agama yaitu Kristen Protestan,
Islam, Katholik, dll. Orang Ambon umumnya mengenal upacara Cuci
Negeri yang dapat disamakan dengan Upacara bersih desa di Jawa.
h. Kesenian
a) Rumah adat
Rumah adat tradisional disebut baileo, berarti balai. Bangunan tersebut
biasanya sekaligus merupakan marka utama (landmark) kampung atau
desa.
b) Makanan
Makanan adat berupa Jaha atau Pali-pali, dada (kukusan). Makanan
khas berupa sagu, papeda, colo-colo.
c) Seni suara
Hampir di setiap desa terdapat grup paduan suara. Musik-musik
Maluku memliki ciri khas terdapat penggunaan alat musik Hawaiian,
baik pada lagu pop maupun untuk mengiringi tarian tradisional seperti
Katreji. Musik lainnya adalah Sawat, perpaduan kebudayaan Maluku
dan Timur Tengah. Lagu daerah Maluku antara lain Ayo Mama, Si
Patokaan, Rasa Sayange.
d) Pantun dan cerita rakyat
Banyak pantun yang dihafal dan digunakan saat badendang atau
anakona, yaitu bernyanyi sambil berpantun. Di masyarakat
berkembang cerita rakyat yang dituturkan turun temurun.
e) Seni tari
Maluku memiliki beraneka ragam tari-tarian tradisional seperti Tarian
Saureka-reka, Tari Cakalele Bulu Ayam, Tari Tifa, Bulu bambu gila,
Lolaya, Tebe-tebe, Sajojo, Poco-poco, debus.
f) Alat musik
Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis Gendang) dan
Totobuang.

10
g) Seni pahat dan ukir
Berupa patung-patung pemujaan, pembuatan tempat air minum, tempat
bunga.
h) Kerajinan
Tenun tangan dari Maluku Tenggara, anyam-anyaman dari Maluku
Utara, kerajinan dari cengkeh, mutiara, batu karang, dan lokan.
i) Senjata
Salawaku panjangnya 90-100 cm, perisainya dihiasi motif-motif yang
melambangkan keberanian.
j) Busana tradisional
Kaum wanita biasa menggunakan baju cele yakni sejenis kebaya
berlengan pendek. Sementara itu para pria Ambon mengenakan
busana yang terdiri atas baju kurung lengan pendek dan tidak
berkancing, dilengkapi dengan celana kartou.
k) Wisata
Taman Nasional Manusela, Lembah Pilianan, Pantai Ora.
l) Upacara adat
Antar Sotong Para nelayan berkumpul menggunakan perahu
dan lentera untuk mengundang cumi-cumi.
Pukul Manyapu Acara tahunan di desa Mamalamorela. Asal
mula berawal dari perang Kapahaha.
Lari Obor Pattimura Prosesi adat dan kebangsaan dalam
memperingati hari Pattimura.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Vitamin Akuntansi 2014. 2016. Vitamin Siap Ujian. Bintaro : Lexie.

Kelompok 2 Budnus 6F. 2017. Makalah Budaya Nusantara :Minahasa dan Ambon.

11