You are on page 1of 3

Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut asam asetat ke dalam dua pelarut

yang tidak saling bercampur yaitu air dan kloroform, dimana menurut hukum distribusi Nerst,
jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat
larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Perbandingan
konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan suatu ketetapan pada suhu
tetap. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (K D) dan diperoleh
dengan rumus

Pada percobaan mengenai Hukum Pembagian yang dilakukan pada Hari Senin, tanggal 3
April 2017, dapat dijelaskan bahwa distribusi zat terlarut terjadi antara dua pelarut yang tidak
saling campur, dimana dalam percobaan ini, zat terlarut adalah asam asetat dan dua jenis pelarut
yaitu air dan kloroform (CHCl3). Dalam standarisasi NaOH, yang sebagai standarisasi primer
yaitu asam asetat dan sebagai standarisasi sekunder ialah larutan NaOH. Konsentrasi larutan
NaOH yang digunakan yaitu 0,2 N. Pada percobaan ini, digunakan larutan baku asam asetat,
alasannya ialah karena asam asetat merupakan asam lemah biasanya cenderung bersifat semi
polar, maka dari itu tidak menggunakan asam yang lain, apalagi mengunakan asam kuat.

Senyawa-senyawa organik, misalnya dalam percobaan asam asetat, umumnya relatif


lebih suka larut ke dalam pelarut-pelarut organik daripada ke dalam air, sehingga senyawa-
senyawa organik mudah dipisahkan dari campurannya yang mengandung air atau larutannya.
Metode penentuan koefisien distribusi asam asetat dilakukan dengan penentuan konsentrasi asam
asetat baik yang ada dalam fasa air maupun fasa organik. Pelarut organik yang digunakan dalam
percobaan ini adalah kloroform.

Menurut hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan
solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut
tersebut umumnya pelarut organik dan air. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut
tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien
distribusi yang dinyatakan sebagai perbandingan antara fasa organik dan fasa air. Prinsip pada praktikum kali
ini yaitu berdasarkan pada distribusi Nernst, yaitu zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut
yang tidak saling melarut atau bercampur. Prinsip pada titrasi netralisasi yaitu titrasi asam basa yang
melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan,
kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya, dimana kadar larutan basa
dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam. Dalam percobaan ini digunakan 3 jenis komposisi yang
berbeda dari asam asetat, air serta kloroform. Nantinya setelah proses pengocokan, sebanyak 10 mL fasa air
diambil lalu dititrasi dengan NaOH sehingga nantinya diketahui konsentrasi asam asetat disetiap macam
percobaan.
Pelarut nonpolar yang digunakan dalam hal ini kloroform, sering menghasilkan gas dimana gas yang
terbentuk itu berasal dari larutan dietil eter yang bersifat mudah menguap. Oleh sebab itu ketika pengocokan
dilakukan, sesekali gas harus dikeluarkan melalui kran. Pengeluaran gas dilakukan saat gas memberikan
tekanan yang kuat pada tutup corong pemisah. Setelah semua dicampur sesuai komposisi yang telah
ditentukan, selanjutnya dilakukan pengocokan kea rah dalam praktikan secara serempak pada ketiga corong
pemisah. Fungsi pengocokan disini untuk membesar luas permukaan untuk membantu proses distribusi asam
asetat pada kedua fasa dan agar zat terdistribusi sempurrna. Setelah tercapai kesetimbangan pada corong pisah,
campuran kemudian didiamkan dan terbentuk dua lapisan, lapisan atas dan lapisan bawah. Fungsi larutan
didiamkan yaitu agar lapisan berpisah secara sempurna Dari kedua lapisan tersebut yang diambil adalah
lapisan atas karena pada lapisan tersebut adalah pelarut air. Hal ini terjadi karena perbedaan berat jenis pelarut
organik dengan berat jenis air (massa jenis kloroform lebih besar di banding masa jenis air dimana massa jenis
kloroform sebesar 1,49 g/cc sedangkan massa jenis air sebesar 1 g/cc).

Lapisan air bersifat polar dan kloroform bersifat non polar, maka terjadi dua lapisan karena polar akan
larut dengan polar, non polar akan larut dengan non polar (like disolve like). Setelah proses pemisahan lapisan
larutan berjalan dengan sempurna, maka lapisan air yang mengandung asam asetat dikeluarkan dan
selanjutnya sebanyak 10 ml,10 ml dan 5 ml larutan tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 0,2 N sesuai
dengan komposisi 1,2 dan 3 pada tabel. Titrasi yang dilakukan merupakan jenis titrasi asam basa dimana
asamnya yaitu asam asetat (CH3COOH) bertindak sebagai titrat sedangkan basa yaitu NaOH bertindak
sebagai titran. Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator fenolftalein. Indikator ini merupakan
asam diprotik dan tidak berwarna. Saat direaksikan, fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk
tidak berwarnanya dan kemudian, dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini menjadi ion
terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda, pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna
dari bening menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Dari proses titrasi diperoleh volume asam asetat yang terkandung dalam fase air. Berdasarkan hasil
perhitungan, didapatkan hasil volume aasam asetat pada kondisi 1, 2 dan 3 ialah sebagai berikut :
(TABEL), 1 : ml; 2 : ml ; 3 : ml

Dari tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa volume asam asetat hasil titrasi