You are on page 1of 6

ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER

Definisi

Merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian,
perilaku yang impulsif, dan aktivitas berlebihan yang tidak sesuai dengan umurnya.

Epidemiologi

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV menyebutkan prevalensi


kejadian ADHD pada anak usia sekolah sekitar 3%-5%. Di Indonesia prevalensi anak ADHD
sekitar 5%. Anak laki-laki memiliki insidensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak
perempuan, dengan rasio 3:1 sampai 5:1.

Etiologi

Faktor genetik

75% dari variasi gejala ADHD di dalam populasi adalah karena faktor genetik. 1/3 dari orang tua
yg mengalami ADHD, maka anaknya berisiko ADHD sebesar 60 %. Pada anak kembar, jika
salah satu mengalami ADHD, maka saudaranya 70-80 % berisiko mengalami ADHD.

Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4). Pada sistem
gen lain diduga adanya penyimpangan katekolamin serta metabolisme serotonin

Faktor neurobiologi

Penurunan kemampuan pada anak ADHD pada tes neuropsikologis dihubungkan dengan
kerusakan fungsi lobus prefrontal. hal ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif,
penundaan respons, dan organisasi respons

Faktor lingkungan / psikososial

Konflik keluarga

Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai

Orang tua dengan gangguan jiwa

Anak yang diasuh di penitipan anak

Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir
dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok dan alkohol saat hamil.
Klasifikasi

Menurut American Psychiatric Association, sesuai dengan DSM-IV, ADHD dibedakan menjadi
3 subtipe, yaitu:

ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah inatentif (tipe predominan inatentif)

ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah impulsif dan hiperaktif (tipe predominan
hiperaktif-impulsif)

ADHD dengan ketiga ciri-ciri, yaitu inatentif, impulsive dan hiperaktif (tipe kombinasi)

Kriteria DSM-IV untuk Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

A. Salah satu (1) atau (2)

Enam (atau lebih) gejala telah menetap selama sekurang-kurangnya 6 bulan bahkan sampai
tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.
1. Gangguan pemusatan perhatian (inatensi) 2. Hiperaktivitas impulsivitas

a. Sering gagal dalam memberikan perhatian a. Sering gelisah dengan tangan dan kaki atau
pada hal yang detail dan tidak teliti dalam sering menggeliat-geliat di tempat duduk
mengerjakan tugas sekolah, pekerjaan atau b. Sering meninggalkan tempat duduk dikelas
aktivitas lainnya atau di dalam situasi yang diharapkan anak
b. Sering mengalami kesulitan dalam tetap duduk
mempertahankan perhatian terhadap tugas c. Sering berlari-lari atau memanjat secara
atau aktivitas bermain berlebihan dalam situasi yang tidak tepat
c. Sering tidak tampak mendengarkan apabila (pada remaja mungkin terbatas pada
berbicara langsung perasaan subyektif kegelisahan)
d. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal d. Sering mengalami kesulitan bermain atau
menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara
kewajiban di tempat kerja (bukan karena tenang
perilaku menentang atau tidak dapat e. Sering siap-siap pergi atau seakan-akan
mengikuti instruksi) didorong oleh sebuah gerakan
e. Sering mengalami kesulitan dalam f. Sering berbicara berlebihan Impusivitas
menyusun tugas dan aktivitas g. Sering menjawab pertanyaan tanpa berfikir
f. Sering menghindari, membenci atau enggan lebih dahulu sebelum pertanyaan selesai
untuk terlibat dalam tugas yang memiliki h. Sering sulit menunggu gilirannya
usaha mental yang lama ( seperti tugas
Sering menyela atau mengganggu orang lain
disekolah dan pekerjaan rumah)
(misalnya memotong masuk ke percakapan
g. Sering menghilangkan atau ketinggalan hal- atau permainan)
hal yang perlu untuk tugas atau aktivitas
(misalnya tugas sekolah, pensil, buku ataupun
peralatan)
h. Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh
stimulan dari luar
i. Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari

B. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan telah ada
sebelum usia 7 tahun

C. Beberapa gangguan akibat gejala terdapat dalam 2 (dua) atau lebih situasi (misalnya disekolah
atau pekerjaan di rumah)

D. Harus terdapat bukti yang jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi
sosial, akademik dan fungsi pekerjaan

E. Gejala tidak semata-mata selama gangguan perkembangan pervasif, skizofrenia atau


gangguan psikotik lain dan bukan merupakan gangguan mantal lain (gangguan mood, gangguan
kecemasan, gangguan disosiatif atau gangguan kepribadian)
1. Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, tipe kombinasi

: jika memenuhi baik kriteria A1 dan A2 selama 6 bulan terakhir.

2. Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe inatentif

: jika memenuhi kriteria A1 tetapi tidak memenuhi kriteria A2 selama 6 bulan


terakhir.

3. Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe hiperaktif-impulsif

: jika memenuhi kriteria A2 tetapi tidak memenuhi kriteria A1 selama 6 bulan


terakhir.

Prinsip diagnosis

Anamnesis

Informasi terperinci mengenai tingkah laku anak di tingkah laku anak di sekolah dan di
rumah

frekuensi, beratnya dan konteks masalah dengan perhatian, impulsivitas, dan


hiperaktivitas

Labilitas emosional dan keterampilan organisasi yang buruk serta pencapaian akademik

Riwayat perinatal sebaiknya diulas untuk melihat adanya masalah yang berkaitan dengan
defisit perhatian, misalanya konsumsi alkohol atau obat-obatan maternal selama
kehamilan

Riwayat keluarga dan riwayat sosial dapat mengidentifikasi faktor genetik atau
lingkungan yang memberikan kontribusi

Pemeriksaan Fisik

Observasi umum dapat menunjukkan adanya gangguan mood, kesedihan atau ansietas

Pemeriksaan fisik harus meliputi penglihatan dan skrining pendengaran, karena defisit
sensoris dapat mengakibatkan kurangnya perhatian dan hiperaktivitas

Pemeriksaan Penunjang

MRI

Untuk mengetahui ukuran tiap lobus secara spesifik padan adhd lebih kecil
PET (positron emission tomography)

Didapatkan penurunan aliran darah dan metabolisme di bebrapa bagian otak termasuk lobus
prefrontal dan ganglia basal

CPT (continous performance test)

Untuk memeriksa atensi dan kewaspadaan

Tatalaksana

NON FARMAKOLOGIS

Terapi Psikososial

CBT (cognitive behavioral treatment)

Pelatihan mengontrol diri, mengontrol emosi, dan penguatan diri.

Pelatihan orang tua, konsultasi, dan guru

Dengan program contingecy management meng- gunakan pendekatan penghargaan dan


hukuman pada anak

Remedial edukasi

Interaksi perindividu dengan seorang terapis khusus dalam sebuah kelas

FARMAKOLOGIS

Psikostimulan

terapi lini pertama untuk mengatasi gejala inti ADHD/gangguan hiperkinetik

methylphenidate hydrochloride (MPH) usia 6 th/lebih.

dexamfetamine sulphate (DEX) usia 3 th/lebih.

Efek samping : nyeri kepala, nyeri lambung, mual, insomnia, nafsu makan berkurang

Anti depressan

Kelompok obat ini lebih berpengaruh pada gejala behavioralnya daripada terhadap gejala
kognitifnya.
Obatnya: Imipramine, desipramine, amitriptyline, Nortriptyline, clomipramine

Pemantauan efek obat perlu dilakukan pada penggunaan antidepressan terutama golongan
trisiklik

Agonis alpha-2 adrenergik

Kloninin, Obat ini dapat mengurangi gejala ADHD dan terdapat penurunan yang besar
saat dikombinasikan dengan methylphenidate

Prognosis

Gejala yang ada pada 50% kasus dapat bertahan sampai dewasa, sedangkan 50% kasus lainnya
menunjukan perbaikan gejala pada masa pubertas.

Prognosis lebih baik bila didapatkan:

fungsi intelektual yang tinggi,

dukungan yang kuat dari keluarga, temen-teman yang baik,

diterima di kelompoknya dan diasuh oleh gurunya serta tidak mempunyai satu atau lebih
komorbid gangguan psikiatri.