You are on page 1of 10

Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan

Low Back Pain

ARTIKEL PENELITIAN
ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR ERGONOMIS DAN
FAKTOR LAIN DI LINGKUNGAN KERJA DENGAN LOW

Angga Prasetya
Sub-departemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin

Abstrak
Latar belakang : Nyeri punggung bawah atau low back pain adalah perasaan nyeri di daerah
lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai
sampai kaki. Keluhan low back pain ini ternyata menempati urutan kedua tersering setelah
nyeri kepala. Di Amerika Serikat lebih dari 80% penduduk pernah mengeluh low back pain
dan di negara kita sendiri diperkirakan jumlahnya lebih banyak lagi. Mengingat bahwa low
back pain ini sebenarnya hanyalah suatu simptom atau gejala, maka yang terpenting adalah
mencari faktor penyebabnya agar dapat diberikan pengobatan yang tepat. Sistem
muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap
pergerakan individu dalam melakukan aktivitas sehari hari, jika sistem muskuloskeletal
terganggu maka dapat menimbulkan nyeri/sakit pada sistem muskuloskeletal. Sistem ini
terdiri dari tulang, sendi, otot, tendon, ligamen dan Jaringan jaringan khusus yang
menghubungkan struktur struktur ini. Menurut data BLS (Bureau of Labour Statistics)
Amerika melaporkan jumlah penyakit akibat kerja berupa MSDs selama tahun 2007 sebesar
29% dibandingkan penyakit akibat kerja lainnya dan data EODS (Eurostat figures on
recognised occupational diseases) tentang penyakit akibat kerja di Eropa pada tahun 2005,
MSDs menempati urutan pertama sebesar 38,1 %. Selain itu, sebuah survei yang juga
dilakukan pada pekerja di Eropa menyebutkan bahwa 24,7% pekerja mengeluh sakit
punggung, 22,8% nyeri otot, dan 45,5% dilaporkan bekerja pada keadaan nyeri dan lelah
dimana 35% diantaranya bekerja dengan beban berat. Di Indonesia, gangguan otot rangka
pada pekerja merupakan 60% dari penyakit akibat kerja yang dilaporkan. Kepustakaan
melaporkan pada tahun 2005 persentase pekerja di Indonesia dengan keluhan kesehatan yang
berhubungan dengan pekerjaan sebesar 40,5% dan keluhan otot rangka sebesar 16%. Kegiatan
di pabrik pembuatan kecap PT. Adinata Gowa terbagi ke dalam 8 bagian, yaitu Penyimpanan
[Type text] Page 1
Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

bahan bahan baku pembuatan kecap, pemasakan, sterilisasi botol, percetakan label,
pengisian, pengepakan, distribusi, dan administrasi yang semuanya memerlukan perubahan
posisi secara terus menerus, seperti duduk, berdiri, dan mengangkat bahan-bahan atau hasil
produksi. Dari hasil pengamatan langsung bahwa sikap ataupun postur pada saat bekerja yang
menjauhi posisi alamiah seperti saat pekerja mengangkat bahan bahan baku produksi ke
dalam gudang atau hasil produksi ke atas truk untuk di distribusikan, posisi pekerja saat itu
megambil barang dari bawah dengan hanya setengah duduk kemudian mengangkat barang
atau mengangkatnya dengan satu bahu saja berulang ulang dalam waktu yang relatif lama,
berdiri dalam waktu yang lama saat mencampurkan bahan di barengi dengan membungkuk
untuk menimba bahan yang ada di bawah secara terus menerus. Sikap kerja tidak alamiah ini
pada umumnya karena karakteristik tuntutan tugas, alat kerja, dan stasiun kerja tidak sesuai
dengan kemampuan dan keterbatasan.

Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross
sectional melalui proses Walk through survey. Data yang digunakan berupa kebiasaan
responden, dan data faktor-faktor pencetus Low back pain, seperti faktor fisik, duduk yang
lama, mengangkat barang berat. Data pengukuran adanya kecenderungan nyeri pinggang
dengan menggunakan check list. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis
Low back pain yang masih berlansung saat melakukan pekerjaan. Distribusi sampel penelitian
berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan.

Hasil : Didapatkan hasil 3 pekerja dari 12 pekerja yang bekerja di bagian gudang dan
distribusi, mengeluh nyeri pada daerah pinggang. Faktor yang dominan berpengaruh dalam
low back pain berupa faktor ergonomis yaitu yaitu postur saat bekerja dengan posisi berdiri,
duduk, serta mengangkat beban berat dengan postur setengah duduk dengan waktu yang
cukup lama dan berulang.

Kesimpulan : Faktor ergonomis di lingkungan kerja, yaitu saat bekerja dengan postur
berdiri, duduk, setengah duduk dan mengangkat beban yang cukup berat. mempunyai
hubungan yang signifikan dengan terjadinya keluhan nyeri punggung bagian bawah.

Kata Kunci : Faktor ergonomis, Low Back Pain, nyeri punggung, postur saat bekerja.

[Type text] Page 2


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

Latar Belakang : beban kerja dan lingkungan kerja dapat


Kesehatan kerja merupakan salah berinteraksi secara baik dan serasi 2 .
satu bidang kesehatan masyarakat Tenaga kerja merupakan faktor
memfokuskan perhatian pada masyarakat strategis dalam mendukung melesatnya
pekerja baik yang ada di sektor formal perkembangan industri dan usaha serta
maupun yang berada pada sektor informal1 pembangunan secara menyeluruh. Interaksi
Nyeri bekerja sebagai alarm tubuh, antara tenaga kerja dengan tugas
sinyal untuk berhenti melakukan sesusatu pekerjaannya dan peralatan produksi yang
yang menyakitkan, sehingga melindungi semakin canggih, Meningkatkan
tubuh dari keadaan berbahaya. Nyeri dapat pemaparan terhadap resiko kecelakaan dan
1,3
dibedakan menduduki menurut tingkat penyakit akibat kerja . Setiap pekerjaan
keluhan yang dirasakan mulai derajat merupakan beban bagi pelakunya. Beban
ringan sampai berat. Penderita nyeri ringan dimaksud mungkin fisik, mental atau
biasanya dapat menyesuaikan, sedangkan sosial. Seorang pekerja, seperti pekerja-
nyeri berat dapat mengganggu cara hidup pekerja bongkar muat barang pelabuhan,
yang normal. Salah satu nyeri sering terjadi memikul lebih banyak beban fisik daripada
pada sebagian manusia adalah nyeri beban mental atau sosial 2.
punggung. Sebagian besar nyeri punggung Beban fisik ditemukan pada saat
bersifat sederhana, yaitu berkaitan dengan melakukan pekerjaan yang menggunakan
kerja tulang, ligamen, dan otot punggung fisik sebagai alat utama seperti pekerjaan
(Bull E, 2007). memindahkan beban. Berat beban yang
.
Kesehatan kerja bertujuan agar diangkat serta frekuensi mengangkat yang
pekerja memperoleh derajat kesehatan sering dapat mempengaruhi kesehatan
setinggi-tingginya baik fisik, mental pekerja berupa kecelakaan kerja /
maupun sosial. Tujuan tersebut dicapai timbulnya penyakit akibat kerja3. Salah
dengan usaha-usaha preventif, kuratif dan satu penyakit yang timbul dari proses kerja
rehabilitatif terhadap penyakit atau mengangkat adalah timbulnya rasa nyeri
gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pada bagian pinggang akibat penekanan
faktor pekerjaan, lingkungan kerja serta beban pada tubuh terutama tubuh bagian
penyakit umum. Kesehatan kerja dapat belakang. Hasil sebuah penelitian di
dicapai secara optimal jika tiga komponen Swedia menyatakan bahwa 4,5 juta orang
kesehatan berupa kapasitas dari pekerja, pekerja kehilangan hari kerja sebesar 10
hari per tahun karena sakit, 60% dari sakit

[Type text] Page 3


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

yang di derita adalah karena nyeri prevalensi pada kelompok usia 25-60 (Ai
pinggang (low back pain) dan 75% dari Cahyati, 2012). Prevalensi pertahunannya
penderita nyeri pinggang tersebut antara bervariasi dari 15 - 45%, dengan point
30-59 tahun yang merupakan usia prevalence rata-rata 30%. Sebuah studi
produktif. cross sectional di Denmark dilakukan
Nyeri pinggang menyerang dengan subjek berusia 12 - 41 tahun
penduduk dunia. Gangguan ini sangat didapatkan bahwa angka kejadian nyeri
mempengaruhi produktifitas penderita. punggung bawah meningkat tajam pada
World Health Organization (WHO) usia remaja (lebih awal terjadi pada anak
mengatakan bahwa 2%- 5% dari karyawan perempuan dari pada anak laki-laki).
di Negara insdustri tiap tahun mengalami Sedangkan di Australia angka kejadian
Nyeri Punggung Bawah (NPB), dan 15% nyeri punggung bawah lebih sering terjadi
dari absenteisme di industri baja serta pada usia dewasa. Dimana 20,7% dari
industri perdagangan disebabkan karena populasi perempuan dan 21% dari populasi
NPB. Data statistik Amerika Serikat di Australia mengalami nyeri punggung
memperlihatkan angka kejadian sebesar bawah. Salah satu masalah nyeri punggung
15% - 20% per tahun. Sebanyak 90% yang sering terjadi adalah kambuhnya
kasus nyeri punggung bukan disebabkan serangan rasa nyeri akut yang dapat
oleh kelainan organik, melainkan oleh menjalar pada bokong atau pada salah satu
kesalahan posisi tubuh dalam bekerja. paha. Saat serangan, punggung dapat juga
Nyeri pinggang menyebabkan lebih terasa kaku dan sakit. Bila gejala-gejalanya
banyak waktu hilang dari pada pemogokan hebat keadaan tersebut disebut nyeri
kerja sebanyak 20 juta hari kerja karenanya punggung bawah. Rasa sakitnya bisa
(Muheri,2010). Diperkirakan setidaknya mereda dalam satu atau dua hari atau
70% manusia menderita sakit punggung, mungkin dalam beberapa minggu setiap
baik kronis maupun sporadis. Di Negara kali terjadi. Kadang-kadang hilang total
Inggris dan melaporkan 17,3 juta orang atau menetap atau kambuh lagi. Hasil
tersebut 1,1 juta mengalami kelumpuhan penelitian secara nasional yang dilakukan
akibat nyeri punggung. di Indonesia di 14 kota di Indonesia oleh kelompok
diperkirakan angka prevalensi 7,6% studi nyeri PERDOSI (Persatuan Dokter
sampai 37%. Masalah nyeri punggung Saraf Seluruh Indonesia) tahun 2002
pada pekerja pada umumnya dimulai pada ditemukan 18,13% penderita nyeri
usia dewasa muda dengan puncak punggung bawah (Meilala, L 2002).

[Type text] Page 4


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

National Savety Council juga melaporkan di Indonesia berkisar antara 3-17% (Sadeli
bahwa sakit akibat kerja yang frekuensi & Tjahjono, 2001). Sedangkan penelitian
kejadiannya paling tinggi adalah sakit atau Copcord-Indonesia (Community Oriented
nyeri pada punggung yaitu 22% dari Program for Controle of Rheumatic
1.700.000 kasus.5 Disease) menunjukkan prevalensi nyeri
Menurut Mc. Kenzie dan Kirwan punggung bawah mencapai 18,2% pada
serangan nyeri pinggang dimulai pada usia lakilaki dan 13,6% pada wanita terjadi di
25 tahun dan paling banyak dijumpai pada negara kita (Wirawan,2004).
usia 40- 45 tahun. Nyeri pinggang
merupakan penyebab tersering diantara METODE
semua kelainan kronis dan menduduki Penelitian ini menggunakan metode
peringkat ketiga setelah penyakit jantung penelitian deskriptif dengan pendekatan
dan arthritis.4 cross sectional melalui proses Walk
Hasil studi Departemen Kesehatan tentang through survey. Data yang digunakan
profil masalah kesehatan di Indonesia berupa kebiasaan responden, dan data
tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar faktor-faktor pencetus low back pain,
40,5 % penyakit yang diderita pekerja seperti faktor ergonomis dan faktor
berhubungan dengan pekerjaannya, lainnya. Data pengukuran adanya
gangguan kesehatan yang dialami pekerja, kecenderungan nyeri pada punggung
menurut studi yang dilakukan tehadap bagian bawah dengan menggunakan check
9.482 pekerja di 12 kabupaten/kota di list. Sampel dalam penelitian ini adalah
Indonesia, umumnya berupa penyakit pasien dengan diagnosis low back pain
musculoskeletal (16%), kardiovaskuler (8 yang mengeluhkan adanya nyeri punggung
%), gangguan syaraf (6 %), gangguan bagian bawah yang masih berlangsung saat
pernapasan (3 %), dan gangguan THT (1,5 melakukan pekerjaan. Distribusi sampel
%). Data epidemiologi mengenai nyeri penelitian berdasarkan jenis pekerjaan
punggung bawah di Indonesia belum ada, yang dilakukan, didapatkan hasil 3 pekerja
namun diperkirakan 40% penduduk pulau dari 12 pekerja yang bekerja di bagian
Jawa Tengah berusia diatas 65 tahun gudang dan distribusi, mengeluh nyeri
pernah menderita nyeri punggung, punggung bagian bawah. Akan tetapi
prevalensi pada laki-laki 18,2% dan pada penelitian pada studi cross sectional
wanita 13,6%. Insiden berdasarkan terdapat beberapa kelemahan yaitu
kunjungan pasien ke beberapa rumah sakit kurangnya jumlah kasus yang didapatkan,

[Type text] Page 5


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

berat- ringannya kasus yang sulit Cara survei yang dilakukan adalah
ditentukan karena keterbatasan sarana dengan menggunakan Walk through
pemeriksaan, dan kurangnya waktu yang survey. Teknik Walk through survey juga
didapatkan untuk melanjutkan survei. dikenali sebagai Occupational Health
Selain itu, penelitian dengan studi ini tidak Hazards. Untuk melakukan survei ini,
menggambarkan perjalanan penyakit, dapat dimulai dengan mengetahui tentang
insiden, maupun prognosis penyakit. manejemen perencanaan yang benar,
Bahan yang digunakan pada survei berdiskusi tentang tujuan melakukan
ini adalah check list yang di buat. Check survei, dan menerima keluhan-keluhan
list ini dibuat berdasarkan informasi yang baru yang releven.
diperlukan daripada tujuan survei ini Bahaya apa dan dalam situasi yang
dilakukan. Pada survei ini, informasi yang bagaimana bahaya dapat timbul,
diperlukan adalah ada tidaknya faktor merupakan sebagai hasil dari
hazard, alat kerja apa yang digunakan, alat penyelenggaraan kegiatan Walk through
pelindung diri yang digunakan, survey. Mengenal bahaya, sumber bahaya
ketersediaan obat p3k di tempat kerja, dan lamanya paparan bahaya terhadap
keluhan atau penyakit yang dialami pekerja pekerja.
dan upaya pengetahuan mengenai K3 Pihak okupasi kesehatan dapat
kepada pekerja PT Adinata Gowa. kemudian merekomendasikan monitoring
Peralatan yang diperlukan untuk survei untuk memperoleh kadar kuantitas
melakukan Walk through survey antara eksposur atau kesehatan okupasi mengenai
lain: risk assessment.
Alat tulis menulis: Berfungsi Walk through survey ini adalah
sebagai media untuk pencatatan bertujuan untuk memahami proses
selama survei jalan sepintas. produksi, denah tempat kerja dan
Kamera digital: Berfungsi sebagai lingkungannya secara umum. Selain itu,
alat untuk memotret kegiatan dan mendengarkan pandangan pekerja dan
lingkungan pekerja Pembuatan pengawas tentang K3, memahami
kecap PT. Adinata Gowa pekerjaan dan tugas-tugas pekerja,
Check List: Berfungsi sebagai alat mengantisipasi dan mengenal potensi
untuk mendapatkan data primer bahaya yang ada dan mungkin akan timbul
mengenai survei jalan sepintas di tempat kerja atau pada petugas dan
yang dilakukan. menginventarisir upaya-upaya K3 yang

[Type text] Page 6


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

telah dilakukan mencakup kebijakan K3, (total jumlah pekerja yang bekerja di
upaya pengendalian, pemenuhan peraturan bagian gudang dan distribusi).
perundangan dan sebagainya. Dari rencana waktu yang telah
Survei dilakukan di PT. Adinata, ditetapkan, terkumpul data yang
Gowa, Sulawesi Selatan dengan jadwal didapatkan dari check list yang dibuat. Dari
survei selama 2 hari ( 12 Juni 2017 13 hasil check list diperoleh 3 dari 12 pekerja
Juni 2017 ), yaitu : mengeluh mendapatkan keluhan nyeri
No punggung bagian bawah saat bekerja di
Tanggal
. Kegiatan tempat pengisian bahan baku di gudang
- Melapor ke dan pendistribusian dalam jangka waktu 1
bagian K3 RS bulan.
12 Juni
1. Ibnu Sina
2017 Faktor yang dominan berpengaruh
- Pengarahan
dalam Low Back Pain berupa faktor
kegiatan
- Pembuatan ergonomis yaitu kebiasaan responden, dan
12 Juni
2. proposal Walk data faktor-faktor pencetus Low Back Pain,
2017
through survey seperti faktor ergonomis berupa postur saat
13 Juni - Walk through bekerja dengan posisi berdiri, duduk, serta
3.
2017 survey mengangkat beban berat dengan postur
- Walk through
setengah duduk dengan waktu yang cukup
survey
13 Juni lama dan berulang. Didukung dari
4. - Pembuatan
2017 penelitian lain yang di lakukan menyatakan
laporan Walk
through survey bahwa terdapat beberapa faktor yang
- Presentasi berhubungan dengan kejadian Low Back
16 Juni
5. laporan Walk Pain, baik ditinjau dari umur, jenis
2017
through survey kelamin, indeks massa tubuh, riwayat
trauma, masa dan lama kerja, beban kerja
HASIL
dan posisi/ sikap tubuh saat bekerja.6
Pada penelitian ini diambil sampel
Berdasarkan data yang telah
dalam salah satu bagian pekerjaan di
didapatkan, ditemukan berbagai faktor
tempat pembuatan kecap PT. Adinata
yang mempengaruhi terjadinya keluhan,
Gowa dan dari perhitungan sampel
dan faktor ergonomis menjadi lebih
didapatkan sampel sebanyak 12 pekerja
dominan. Seperti yang dijelaskan pada
bagian pendahuluan, bahwa faktor

[Type text] Page 7


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

ergonomis erat kaitannya dengan masih terjadi di berbagai perusahaan yang


munculnya keluhan nyeri punggung bagian secara administratif telah lulus (comply)
bawah. audit sistem manajemen Keselamatan dan
Didukung dari penelitian lain yang Kesehatan Kerja. Ada ungkapan bahwa
di lakukan menyatakan bahwa terdapat without ergonomics, safety management
beberapa faktor risiko terjadinya nyeri is not enough. Keluhan yang berhubungan
punggung bagian bawah atau low back dengan penurunan kemampuan kerja (work
pain pada pekerja gudang dan distribusi capability) berupa kelainan pada sistem
PT. Adinata Gowa diantaranya adalah otot-rangka (musculoskeletal disorders)
perubahan posisi dan pengangkatan misalnya, seolah-olah luput dari
barang-barang yang berat. mekanisme dan sistem audit keselamatan
Dengan memahami pentingnya dan kesehatan kerja yang ada pada
aspek ergonomi ini, setiap perusahaan umumnya. Padahal data menunjukkan
sudah seharusnya melakukan evaluasi kompensasi biaya langsung akibat kelainan
secara integratif untuk menilai sejauh mana ini (overexertion) menempati rangking
kecocokan rancangan sistem kerja yang pertama (sekitar 30%) dibandingkan
ada (termasuk pekerjaan itu sendiri) dengan bentuk kecelakaan-kecelakaan
dengan para pekerjanya. Unsur-unsur kerja yang lain1,2
sistem kerja yang dinilai meliputi mesin Tingginya angka kejadian nyeri
dan alat, material, metode kerja, punggung bagian bawah atau low back
lingkungan fisik (pencahayaan, termal, pain pada pekerja yang aktifitasnya tidak
kebisingan, dll), tata letak komponen dan lepas dari pekerjaan itu sendiri serta dapat
ruang kerja (workplace and workspace). dijadikan evaluasi untuk memperbaiki
Evaluasi ergonomi ini penting terlepas dari kondisi atau lingkungan kerja yang terkait.
apa pun bentuk perusahaan tersebut, mulai Di mulai dari edukasi dari pihak yg terkait
dari industri manufaktur, industri jasa, mengenai kesadaran tentang keselamatan
ataupun industri proses. kerja.
Pengalaman empiris menunjukkan
bahwa pencapaian kinerja manajemen KETERBATASAN PENELITIAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat Penelitian ini tentunya tidak
tergantung kepada sejauh mana faktor terlepas dari keterbatasan, adapun
ergonomi telah terperhatikan di perusahaan keterbatasan dari penelitian ini adalah
tersebut. Kenyataannya, kecelakaan kerja checklist yang dibuat hanya menentukan

[Type text] Page 8


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

hubungan penyakit akibat kerja, tapi tidak yang dirasakan pasien juga karena
dapat menentukan insidens, berat kontribusi dari faktor individu dan faktor
ringannya penyakit, dan prognosis lingkungan lain, selain lingkungan tempat
penyakit. Demikian pula untuk survei kerja.
menilai faktor psikososial akibat kerja, Penelitian ini juga tidak
diagnosisnya hanya bersifat subjektif, tidak mengklasifikan berat ringannya penyakit,
dapat diketahui kapan stressor muncul. berdasarkan keluhan dari pekerja, juga
Keterbatasan lainnya adalah tidak tidak dapat menentukan penatalaksanaan
dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh yang tepat untuk mencegah atau
terhadap seluruh responden, karena mengurangi keluhan yang dirasakan atau
keterbatasan sarana pemeriksaan, dan akan dirasakan nanti di masa yang akan
keterbatasaan waktu penelitian, karena datang.
untuk menganalisa faktor terjadinya kasus
penyakit dengan keluhan nyeri punggung Daftar Pustaka :
bagian bawah perlu diketahui riwayat 1. Depkes RI, Pedoman Teknis
penyakit terdahulu dan riwayat pekerjaan Upaya Kesehatan Kerja Bagi
di tempat lain yang mungkin berhubungan Petani dan Nelayan, Jakarta.
dengan keluhan yang dirasakan sekarang. 2004
Selain itu checklist yang hanya 2. Sumamur,P. K, Ergonomi
terfokus pada faktor penyebab penyakit untuk Produktifitas Kerja,
akibat kerja, tidak memenuhi semua poin- Jakarta: CV Haji, Masagung,
poin yang diperlukan untuk mendiagnosis 2000
penyakit dari keluhan yang dirasakan. 3. Sri Mardiman. 3 Sindroma
Perlu penelitian yang lebih mendalam dan Nyeri Pinggang, Kumpulan
pemeriksaan yang lebih lengkap untuk Makalah Pelatihan, Jakarta:
dapat menilai secara keseluruhan penyebab Fisioterapi, Sasana Husada
dari keluhan yang dirasakan oleh pekerja. ProFisio, 2001
Akhirnya kami berasumsi bahwa 4. Tarwaka (2004). Ergonomi
bila terdapat gejala keluhan nyeri untuk Keselamatan dan
punggung bagian bawah pada responden Produktivitas. Surakarta, Uniba.
dengan hasil survei dan penyakit akibat 5. Sri, K. (2007). Association
kerja tidak menunjukkan nilai yang berarti, Between Calcium Intake,
maka tidak menutup kemungkinan keluhan Physical Activity, Parity, Body

[Type text] Page 9


Hubungan Faktor Ergonomis dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja Dengan
Low Back Pain

Mass Index And Bone Density


On Postmenopausa Women.
Gizi Masyarakat, Universitas
Dipenogoro.
6. Stanley Jovito Alphaputra
Wenur, Paul A. T Kawatu
Hubungan antara aktivitas fisik
dengankeluhan muskuloskeletal
pada pekerja bengkel Di cv.
Kombos kota manado tahun
2013, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sam
Ratulangi

[Type text] Page 10