You are on page 1of 10

Sabtu, 24 Juli 2010

Kemiskinan di Tanah Terberkati

Selama dua minggu ini saya melintasi daratan Timor. Pikiran dan gagasan yang
tumbuh setiap kali saya melihat potensi yang ada membuat saya gemas pada cerita
kemiskinan di daratan Timor ini. Gemas karena ingat tulisan F. Rahardi di Flores
Pos. Dia mengatakan, Nusa Tenggara Timur adalah tanah yang diberkati Tuhan.
Mau tahu alasannya? Di tanah NTT, ada tiga jenis tanaman palma terbaik yang
menjadi komoditas perdagangan penting di dunia. Yakni, kelapa, lontar, dan aren
(enau).

Dalam tulisannya itu, Rahardi mengungkapkan bagaimana produk-produk turunan


dari tiga jenis tanaman itu menjadi incaran negara-negara di Eropa dan Amerika.
Misalnya produk berbahan batang, daun, nira, serat, serabut, buah, hingga akar.
Produk berbahan batang jelas sangat dibutuhkan untuk bahan bangunan dan
furniture (pernahkah kita tahu bahwa batang lontar sangat kuat, keras dan tahan
terhadap pelbagai cuaca?), daun mengasilkan produk untuk bahan bangunan (atap),
kebutuhan rumah tangga (lidi, wadah), kerajinan dan kesenian. Sedangkan nira
tidak cuma bisa diolah untuk menjadi minuman (tuak, arak, sopi, moke) tapi juga
gula merah dan gula semut (negara di Eropa seperti Belanda dan Spanyol sangat
membutuhkannya). Serat dan serabut tanaman palma sangat baik untuk bahan
industri fiber, furniture dan otomotif (pernah tahu jok kursi mobil Ferari
menggunakan serat dan serabut kelapa?). Sedangkan buah, banyak sekali
kegunaannya, dari santan, virgin coconut oil, kolang kaling, kerajinan (tempurung)
bahkan formalin alami untuk pengawetan daging dan ikan. Dalam sebuah penelitian
terbaru, disebutkan ada lebih dari 127 produk yang bisa dihasilkan dari ketiga jenis
tanaman palma ini. Semua produk itu merupakan komoditas penting perdagangan
dunia. Malaysia sekarang yang paling agresif merebut pangsa pasar dengan
melakukan berbagai komodifikasi produk berbahan baku tiga jenis tanaman palma
itu.

Pernyataan bahwa NTT adalah tanah terberkati membuat mata saya aktif mencari
potensi sumberdaya alam yang ada di sepanjang perjalanan Kota Kupang hingga
Atambua, juga di setiap tempat yang saya singgahi kemudian. Dan memang, bukan
hanya tiga jenis tanaman palma itu saja yang yang saya temukan tumbuh di mana-
mana (tahukah Anda, tanaman lontar di NTT tidak pernah ditanam secara khusus,
melainkan tumbuh begitu saja?). Saya melihat banyak semak indigo tumbuh di
sepanjang jalan dan tanah kosong. Daun dari semak ini adalah bahan baku warna
biru alami. Jika Anda pernah liat warna biru pada kain tenun ikat NTT atau warna
biru pada keramik China, nah bahan bakunya berasal dari tanaman ini.

Di dunia, warna alami berbasis tanaman indigo sangatlah istimewa dan sangat
dibutuhkan untuk industri tekstil. Di Jepang bahkan setiap tahunnya
diselenggarakan Festival Indigo Internasional. Selain indigo, saya juga melihat
banyak tanaman mengkudu (akarnya bahan baku warna merah) atau delima (kulit
buah untuk warna kuning). Dibandingkan tanaman yang tumbuh di Pulau Jawa,
kualitas warna yang dihasilkan dari tanah Timor dan NTT lainnya jauh lebih baik.
Ini terutama kandungan air yang rendah akibat tanah kapur-karang dan musim
kemarau yang panjang. Sayangnya, tanaman-tanaman ini tidak lagi terlalu
diperhatikan.Padahal kebutuhan dunia atas bahan pewarna organik sekarang ini
sangat tinggi sekali dan pasokan yang ada tidak memadai (sekarang dikuasi China
dan India). Di NTT sendiri, para pengrajin tenun dan tekstil sekarang ini lebih
menengok pewarnaan sintetik yang merusak kesehatan dan lingkungan itu.

Itu baru tanaman pewarna. Sepanjang perjalanan mata saya juga melihat mete,
mangga, kemiri, berbagai aneka jenis bambu, jagung, sorgum (tahukah Anda,
kandungan bio-fuel pada batang sorgum bisa sampai 40%?), kapok randu, waru (di
Bali ada desa di Kabupaten Klungkung yang khusus menanam pohon waru untuk
kebutuhan perkakas perahu mereka karena kelenturan serat yang dimilikinya),
jarak, jati, dan masih seabrek tanaman lainnya yang seperti berlarian dan menari
menawarkan diri untuk menjawab persoalan kemiskinan di tanah purba itu. Seperti
juga tanaman pewarna, mereka memiliki kualitas tinggi justru karena rendahnya
kandungan air yang mereka miliki akibat tanah kering NTT. Sampai di sini, saya
kerap bertanya pada diri sendiri, Siapa bilang kering itu miskin?

Sayang memang, saya tidak mendengar dan melihat pemanfaatan optimal dari
tanaman-tanaman ini. Mangga yang berbuah melimpah pada musimnya sering tak
terjual karena sistem distribusi yang buruk sehingga lebih banyak dijadikan
makanan babi (saya jadi ingat perjalanan ke Lombok dan Malang, dimana buah
diolah menjadi dodol, jeli, atau keripik dan menjadi komoditas oleh-oleh yang sangat
menguntungkan). Kapas randu terbuang percuma begitu saja karena hanya sedikit
yang mau menenun sekarang ini. Begitu pula bambu kering dan mati di rumpunnya,
sorgum hanya dimanfaatkan bijinya (itu pun hanya untuk acara-acara tertentu saja,
jagung dijual buah mentahan tanpa pernah mengolah produk-produk turunannya,
baik biji maupun batangnya yang kaya minyak itu), begitu pula waru, kemiri dan
alpukat dibiarkan berserakan dan busuk di tanah, atau dijual dengan harga murah
saking berlimpahnya (tahukah Anda minyak kemiri dan minyak alpukat adalah
bahan baku terpenting industri spa?). Semua terbuang percuma dan hanya menjadi
bahan pemerkaya unsur hara tanah.

Saya sontak gembira saat mendengar ada komunitas di Soe dan pinggiran Kupang
yang memanfaatkan hasil tanaman buah yang berlimpah untuk diolah menjadi
minuman sari buah beralkohol ringan. Kami menyebutnya wine buah. Dengan
menggunakan teknologi fermentasi sederhana, buah belimbing, pepaya, ginseng, dan
pisang diubah menjadi minuman yang menyegarkan. Harganya Rp20.000 satu botol
limun. Padahal, yang saya tahu, produk sejenis ini dijual di Bali dengan harga
Rp200.000 per botol ukuran lebih besar sedikit. Sayangnya, mencari minuman ini
bukan perkara gampang. Para produsen dan penjualnya tidak berani menjual
terang-terangan karena sering disantroni dan ditangkap polisi karena dianggap
menjual barang terlarang. Pemerintah daerah pun tidak melindungi dan meliriknya
menjadi produk unggulan daerah. Ini sungguh mengenaskan. Bukannya mendorong
agar produk-produk ini berkembang dan memiliki pasar yang luas (misalnya,
membangun sistem produksi dan distribusi yang berstandar internasional),
penguasa malah membrangusnya dan menganggapnya sebagai barang haram.

**

Sebagai pelancong, tentu saja saya mencintai kuliner lokal. Itu yang pertama saya
cari setiap kali saya bertandang ke tanah NTT. Tapi, ini bukan perkara gampang. Di
restoran-restoran yang saya singgahi sepanjang jalan, tak banyak makanan lokal
yang dijual. Paling-paling, ikan bakar (dengan bumbu khas), sei (daging asap),
jagung titi (keripik jagung), dendeng manis, sambal leo, dan cah daun pepaya. Saya
juga tidak berhasil menemukan warung-warung atau tempat makan yang khusus
menjual makanan lokal. Kalah dengan warung makanan Padang yang menguasai
hampir di semua kota dan titik-titik persinggahan strategis. Kalau mau makan
seperti itu harus tunggu kalau ada upacara adat Pak. Kalau hari biasa, susah
memang,ujar Bapak Tius, pengemudi yang mengantarkan kami berkeliling di
Kefamenanu. Sayang sekali. Padahal, lidah saya tak sabar merasakan sayur santan
daun dadap muda, nasi bambu, perkedel ikan, jagung bose, lawar ikan, nasi jagung,
lavan (daging bakar dicelup darah mentah), laku tobe (tumpeng ubi kayu dicampur
parutan kelapa, dan gula merah), puta laka (sagu dicampur kacang hijau), mae tobe
(tumpeng ubi hutan), laku pini (seperti gaplek dimakan dengan cara dicelupkan ke
gula aer/aren), pen pasu (jagung kering dimasak campur kacang dan sayuran) dan
lainnya.

Usaha saya untuk mendapatkannya di wilayah pedesaan pun tidak mendapatkan


hasil. Padahal, saya pikir, di desa mestinya makanan-makanan khas akan lebih
mudah didapatkan. Di beberapa rumah yang menyuguhkan makanan, bukannya
mendapatkan makanan lokal, saya malah mendapatkan mie instan rebus. Malu
kami pak kalau menyuguhkan makanan kampung. Jadi, kami sediakan saja
makanan kota ini. Alamak, justru makanan kampung itu yang saya cari.

Kawan seperjalanan saya, dr. Teda Littik, menceritakan bahwa sesungguhnya orang-
orang Timor sangat gemar dan ahli dalam mengolah makanan. Kalau ada pesta-
pesta di Kupang, dia kerap mendapati berbagai makanan olahan yang bervariasi
dengan rasa yang enak sekali. Sayangnya memang, kewirausahaan bukanlah
kebiasaan masyarakat Timor. Berbeda dengan suku Minang atau Bugis yang sudah
terlatih sejak kecil untuk berdagang,ujar dokter yang saat ini bekerja sebagai
konsultan di sebuah organisasi internasional ini.

Akan tetapi, tidak lantas masyarakat Timor melupakan potensi sumberdaya alam
yang mereka miliki. Walaupun, sayangnya, bersifat ekstraktif. Lihat saja kegairahan
yang muncul dimana-mana, dari Belu hingga Kupang, sekarang ini. Banyak anggota
masyarakat yang menggali dan menambang mangan untuk dijual ke pedagang-
pedagang dari luar Timor, baik dari Jawa maupun dari luar negeri seperti negeri
China, dengan harga jual Rp1.000 hingga Rp1.300 per kg-nya. Lumayan juga
hasilnya, sehari bisa dapat satu kuintal, berarti Rp100.000,- sampai
Rp130.000,kata seorang penggali dengan bangganya.

Saya hanya tersenyum kecil menanggapi kegairahannya. Di kepala saya terpikir,


berapa lama keuntungan itu bakal didapatkan, karena toh model usaha ekstraktif
seperti ini tidak akan bersifat panjang. Karena begitu kandungan mangan di tanah
habis, maka purna juga keuntungan yang didapatkan. Belum lagi potensi konflik
yang mencuat, ditambah kehancuran lingkungan yang masif. Peraturan pemerintah
pun bisa menjadi penghambat kelangsungan usaha. Seperti di Kabupaten Kupang
misalnya, Bupati telah membuat larangan penambangan dan penjualan mangan
karena akan membuat pabrik pengolahan agar keuntungan yang didapatkan bisa
lebih berganda. Cerita-cerita pedih juga mengiringi kegairahan itu. Misalnya saja,
beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu yang sedang hamil meninggal dunia
karena tertimpa runtuhan tanah galian ketika ia sedang menambang di lubang.
Pendeknya, menyarikan banyak pendapat, pertambangan dan usaha penggalian
mangan tidak menjawab persoalan kemiskinan yang menghimpit tanah Timor dan
NTT. Lantas apa jawabannya?

Saya teringat apa yang dikatakan ir. Ciputra beberapa waktu yang lalu. Katanya,
Syarat sebuah negara untuk keluar dari kemiskinan dan meraih kesejahteraan
adalah apabila 2% dari jumlah penduduknya adalah wirausahawan. Saya mencoba
berhitung. Jumlah penduduk di tanah Timor (di Kabupaten Belu, Timor Tengah
Utara, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang) adalah
1.749.364 orang (BPS 2009). Maka, wirausahawan yang dibutuhkan di Tanah Timor
agar keluar dari himpitan kemiskinan adalah 34.987 orang. Saat ini ada berapa
wirausahawan di seluruh kawasan Timor? Tidak ada data yang pasti. Yang pasti,
jauh lebih kecil dari prasyarat tersebut.

Pikiran saya berkelana sampai ke Bangladesh. Saya teringat pada usaha yang
dilakukan oleh penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus.
Untuk mengentaskan kemiskinan di negara tersebut, Yunus membangun program
mikro-kredit dan bisnis sosial untuk para penduduk miskin. Hasilnya luar biasa.
Dalam waktu 30 tahun, Yunus dan Bank Grameen berhasil menyalurkan kredit
untuk 6,6 juta wirausahawan, yang terutama adalah kaum wanita dan orang miskin.
Kenapa Yunus berkonsentrasi kepada orang miskin?

Tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang yang berada. Semua
manusia diciptakan beserta potensi yang tak terbatas. Tak terkecuali orang miskin.
Tetapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah memberikan kesempatan bagi
mereka untuk mengetahui bahwa setiap orang dari mereka membawa bakat yang
menakjubkan. Bakat tersebut masih tidak diketahui dan terbungkus. Tantangan kita
adalah untuk menolong orang-orang miskin mengeluarkan bakatnya. Begitu yang
dikatakan Muhammad Yunus dalam Pidatonya saat menerima Hadiah Nobel
Perdamaian.

Gagasan dan pikiran yang berkecamuk di kepala saya sering melahirkan mimpi di
malam hari. Mimpi tentang anak-anak muda, kaum ibu dan lelaki yang menjadi para
wirausahawan-wirausahawan tangguh di tanah Timor. Jumlahnya puluhan ribu
dengan memproduksi berbagai produk (barang dan jasa) berbasis potensi lokal yang
ada dan menjawab persoalan kemiskinan di tanah ini. Para pelaku ini kemudian juga
melahirkan lembaga keuangan yang kuat dan menyokong pendanaan dan
pengembangan usaha mereka, serta membangun berbagai pasar komoditi di mana-
mana. Dalam mimpi saya melihat, orang-orang berdatangan. Dari Timor Leste,
Papua, Maluku, Lombok, Bali, Surabaya, Jakarta hingga Makassar untuk belajar
mengatasi kemiskinan dan berdagang. tanah Timor. Tanah Timor yang sekarang
terpecah-pecah oleh kepentingan adminstratif dan politik, menjadi sebuah kawasan
yang maju dan berkilau di bawah satu nama Timor Raya. Sehat, makmur dan
sejahtera. Gambarannya sederhana sekali, saya tak menemukan lagi anak-anak
kurus tak berbaju bermain di pinggir jalan. Juga, tak saya dengar lagi kasus
kematian ibu, bayi dan anak yang mengenaskan.

Sialnya, itu semua cuma impian saya. Setiap kali mendusin dari tidur, saya pasti
selalu menarik kembali selimut rapat-rapat dan berusaha melanjutkan mimpi tadi.
Tapi, sayang sekali, biasanya gagal dan saya kembali terhempas dalam kenyataan
kemiskinan di tanah terberkati ini. Entah kapan saya tak perlu bermimpi untuk
mendapati kenyataan baru di tanah ini.*
Diposkan oleh Dicky Lopulalan di 17:26 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: entrepreneur, indigo, makanan lokal, NTT, palm, wine
Reaksi:

Selasa, 20 Juli 2010


Kematian Sunyi di Batas Negeri

Angin dingin bertiup kencang saat saya sampai di Atambua, ibukota Kabupaten Belu
yang terletak di perbatasan Republik Indonesia dan Timor Leste ini. Berbeda dengan
saat kunjungan saya pada bulan Februari lalu, sengatan matahari dan panas cuaca
tidak terasakan. Terasa nyaman, mestinya.

Sayang, ada yang mengganggu pikiran saya saat bertemu dengan seorang kawan
yang beraktivitas di program-program kesehatan ibu dan anak. Bagaimana tidak,
setelah saling bertukar kabar, kawan saya menceritakan jumlah kematian ibu sampai
pertengahan tahun ini. Sampai bulan Juni ini sudah ada 14 ibu yang meninggal
dunia saat persalinan,ceritanya dengan suara sedih.

Saya terperanjat. Angka ini sungguh mengagetkan di tengah upaya untuk menekan
angka kematian ibu. Bagaimana tidak, kalau merujuk pada jumlah di tahun-tahun
sebelumnya: pada 2008 ada 10 kasus kematian ibu, 2009 naik menjadi 19 kasus, dan
sekarang, baru sampai pertengahan tahun sudah 14 ibu yang meninggal dunia.
Lantas, bagaimana di akhir tahun nanti? Bisa dipastikan akan terjadi peningkatan.
Bagaimana mungkin di tengah jargon Revolusi KIA (Kesehatan Ibu Anak) yang
sedang dipromosikan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terjadi
kenaikan kasus kematian di Kabupaten Belu?

Kawan tadi terus bercerita. Menurutnya, semua kasus kematian di tahun 2010 ini
terjadi akibat persalinan di rumah dan ditolong oleh dukun beranak. Semuanya
karena kasus perdarahan. Keluarga terlambat mengambil keputusan, terlambat
merujuk ke rumah sakit dan terlambat mendapatkan pertolongan bidan,ujarnya.

Terlambat mengambil keputusan, karena ibu yang akan melakukan persalinan tidak
punya hak untuk mengambil keputusan sendiri. Saat komplikasi terjadi, pihak
keluarga tidak langsung membawa ibu hamil ke bidan, puskesmas atau rumah sakit
terdekat. Mereka harus menunggu orang yang dituakan, biasanya mertua lelaki,
untuk memutuskan kemana sang ibu akan dibawa. Dan, sialnya, sang mertua
memutuskan untuk dibawa ke dukun. Alasannya sangat sederhana, Dari dulu
urusan beranak memang diurus dukun. Kau pun (pada sang ibu hamil dan
suaminya) lahir dengan bantuan dukun.

Saya terdiam mendengar cerita itu. Apalagi setelah mendengar lanjutannya,


keputusan itu berakibat fatal. Dukun tidak mampu mengatasi komplikasi
perdarahan yang terjadi, hanya sibuk berteriak-teriak menyuruh sang ibu mengejan
untuk mendorong bayi keluar. Dan, itu berlangsung selama tiga hari, sampai sang
ibu kehabisan tenaga dan darah. Tak kuat lagi, dan meregang nyawa di bawah
tatapan mata dukun yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bayi yang dikandung
juga tidak tertolong, pergi bersama sang bunda. Keluarga dan mertua kemudian
hanya menyatakan, bahwa ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya geram mendengarnya. Pertama, bagaimana mungkin di jaman yang serba maju
seperti ini masyarakat kita masih menyerahkan urusan persalinan pada dukun?
Seperti bangsa primitif saja! Yang kedua, bagaimana mungkin urusan kematian
akibat pengambilan keputusan yang keliru kemudian diserahkan menjadi tanggung
jawab Tuhan? Saya yakin, Tuhan pun akan geram mendengar kehidupan yang
dianugrahkan-Nya disia-siakan begitu saja dan kemudian Ia dianggap bertanggung
jawab.

Terlambat merujuk ke rumah sakit juga penyebab kematian lainnya. Menurut


seorang kawan lain, yang berprofesi sebagai dokter, jika perdarahan terjadi, maka
waktu ibu untuk bertahan hanyalah dua jam saja. Lewat dari itu, bisa dipastikan
sang ibu akan meninggal dunia. Keterlambatan pada kasus kematian ibu yang ada
terjadi karena sang ibu dan keluarganya tak punya uang untuk biaya transportasi.
Sialnya, tak ada seorang pun yang memberi bantuan. Padahal, di desa dimana ibu itu
meninggal, ada banyak orang yang memiliki mobil yang bisa dipinjamkan untuk
mengantar sang ibu. Pada bayi lebih singkat lagi. Jika seorang bayi lahir dan tidak
menangis dalam waktu 8 menit, maka bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong
lagi,ujar kawan saya yang dokter itu.

Saya semakin geram ketika mendengar kasus kematian lainnya. Seorang ibu, dari
pemeriksaan sebelumnya sudah ketahuan memiliki risiko tinggi dan bakal
mengalami komplikasi saat bersalin. Tapi, ketika waktunya hampir tiba, bidan di
desa justru meninggalkan tempat kerja karena harus menghadiri pesta di kampung
keluarganya yang jauh dari tempatnya bertugas. Selama lima hari dia mengurus
pesta, dan ketika kembali sang ibu (bersama bayinya) telah meninggal dunia karena
saat mengalami masalah saat persalinan tidak ada yang bisa memberikan
pertolongan karena bidan tidak di tempat. Wah, ini benar-benar tidak bisa ditolerir.
Kematian terjadi karena tenaga penolong sedang mengurus pesta? Oh, my god!

Kawan saya rupanya tidak juga berhenti mengumbar horor. Dia menceritakan hal
lainnya. Menurutnya, ada kematian lain namun ditutup-tutupi oleh keluarga dan
pihak-pihak berwenang. Yakni, kasus kematian seorang gadis muda di rumah tengah
kebun. Gadis itu hamil di luar nikah. Keluarganya malu, lantas ia diasingkan di
pondok yang berada di tengah kebun, jauh dari kampung keluarganya. Saat tiba
waktu persalinan, tidak ada seorang pun di dekatnya. Gadis itu ditemukan beberapa
hari kemudian dalam keadan tidak bernyawa dalam genangan darah. Aduh, saya tak
habis pikir. Beginikah masyarakatku, karena urusan malu lantas bertindak seperti
binatang? Saya memejamkan mata dan merasakan nyeri yang teramat sangat di hati
saya.

Lantas, dimana negara dan aparatnya yang harusnya diberi wewenang untuk
menjaga kesehatan dan keselamatan warganya? Bagaimana mungkin masyarakat
menghadapi kematian seolah-olah sendirian tanpa ada aparat yang membantu
mereka, sehingga jumlah kasus kematian terus naik dari tahun ke tahun?

Saya tak hendak berhenti bertanya. Jawaban yang saya temukan kemudian adalah
jawaban klasik. Pemerintah ada dan sudah mencoba mengatasi persoalan yang ada,
tapi anggaran yang tersedia tidak memadai sehingga upaya yang mereka lakukan
tidak maksimal. Benarkah ketiadaan dana sebagai persoalan utamanya? Saya tidak
mau menyerah dan mencoba mencari informasi dari beberapa orang dalam
pemerintahan. Hasil yang saya dapatkan sungguh mengagetkan. Bukan dana tidak
ada, tapi alokasi anggarannyalah yang bermasalah.

Berdasarkan data-data anggaran tahun 2009 (tentu saja saya dapatkan dengan cara
tidak resmi), tersedia anggaran 130,9 milyar rupiah. Jumlah anggaran tersebut
berasal dari pemerintah (Rp72,5 milyar) dan non-pemerintah (Rp58,4 milyar). Dari
jumlah dana sebesar itu, hanya Rp20,9 milyar yang dialokasikan untuk program
kesehatan masyarakat. Lainnya untuk anggaran investasi seperti bangunan dan alat
sebesar Rp18,4 milyar, operasional (gaji, obat, non-medik, perjalanan dinas,
akomodasi, telepon, listrik, air, dan biaya operasional lain) sebesar Rp110,1 milyar,
lainnya untuk pemeliharaan sebesar Rp2,4 milyar.

Dari dana Program Kesehatan Masyarakat yang sebesar Rp20,9 milyar tadi, yang
dialokasikan untuk Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) hanya sebesar Rp96 juta
setahun! Berarti 8 juta setiap bulannya. Mana cukup?

Wah, saya langsung tidak bisa menerima pernyataan bahwa tidak ada anggaran
untuk program kesehatan. Bayangkan, anggaran Rp130,9 milyar harusnya cukup
memadai untuk mengatasi persoalan kesehatan di satu kabupaten dengan jumlah
penduduk 384.182 orang. Dana ada, tapi nyatanya tidak berpihak pada kaum ibu,
bayi dan anak balita. Padahal, biaya persalinan satu orang ibu rata-rata hanyalah
Rp500.000. Untuk menyelamatkan 14 orang ibu yang meninggal sampai bulan Juni,
berarti hanya dibutuhkan biaya tujuh juta rupiah saja! Tapi, pilihan itu tidak diambil
oleh para pemegang kekuasaan. Mereka lebih mementingkan urusan gaji,
manajerial, operasional, bangunan, dan lainnya yang tidak bisa menyelamatkan
kematian ibu.

Pantas, kematian sunyi para ibu dan bayi terus terjadi.

Pantas, kasus kematian terus saja meningkat setiap tahunnya.

Pantas saja, angin dingin Belu di bulan Juli ini tak mampu membuat nyaman hati
saya!
Diposkan oleh Dicky Lopulalan di 17:21 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: anggaran, dukun beranak, kematian ibu, KIA, NTT, perdarahan
Reaksi:

Senin, 19 Juli 2010


Muhammad Yunus: Bankir Kaum Perempuan dan Orang Miskin
Each one of you is capable of changing the world
Komite Nobel membuat kejutan pada saat mengumumkan Muhammad Yunus dan Grameen
Bank Bangladesh sebagai peraih Nobel Perdamaian 2006. "Ini penghargaan bagi kaum
miskin!" seru Muhammad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini memiliki 2.226
cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan
kepada 6,6 juta warga miskin saat mendengar pengumuman Komite Nobel itu. Dan, sejak
menerima hadiah itu namanya semakin hari semakin tenar membuncah dan sistem
perbankannya kemudian diterapkan di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat yang
terbilang sebagai negara maju itu.
Bagaimana lelaki kelahiran Chittagong, Bangladesh, 28 Juni 1940 ini membuat semua aturan
dan prosedur yang sekarang dikenal sebagai sistem Grameen yang membuatnya menerima
hadiah Nobel?
Jawabannya adalah: Itu sangat mudah dan sederhana. Saat saya membutuhkan sebuah aturan
atau prosedur dalam pekerjaan kami, saya hanya melihat pada bank konvensional dan melihat
apa yang mereka lakukan pada situasi yang sama. Saya pelajari apa yang mereka lakukan dan
saya lakukan kebalikannya. Itulah cara kami membuat aturan kami. Bank konvensional
mendatangi orang kaya, kami mendatangi orang miskin; aturan mereka adalah semakin
banyak yang anda miliki, semakin banyak yang anda dapatkan. Maka aturan kami adalah
makin sedikit yang anda miliki, makin besar perhatian yang anda dapatkan. Jika anda tidak
memiliki apa-apa, anda mendapatkan prioritas tertinggi. Mereka meminta jaminan, kami
membebaskannya, seperti kami tidak pernah mendengar apa-apa tentang itu. Mereka
membutuhkan pengacara dalam menjalankan bisnis mereka, kami tidak. Tidak ada pengacara
yang terlibat dalam setiap transaksi pinjaman kami. Mereka dimiliki oleh yang kaya, kami
dimiliki oleh yang termiskin, the poorest women to boot. Saya dapat terus menambahkan ke
dalam daftar ini untuk menunjukkan bagaimana Grameen melakukan berbagai hal dengan
cara yang sebaliknya, kata suami Afrozi (menikah April 1980) dan ayah dari dua anak
perempuan, Deena dan Monica.
Bukan cuma mikrokredit untuk kaum perempuan yang dikembangkan Muhammad Yunus.
Dia juga mengembangkan kredit untuk para pengemis dan gelandangan di Bangladesh. Suatu
hal yang paling ditekankan, pinjaman itu tidak dibayar dari uang hasil mengemis. Artinya,
dengan cara seperti itu, mereka memang harus berusaha lepas dari pekerjaan mengemis.
Kalau begitu, pengemis berkurang? Benar sekali!
"Tujuan program ini bukan hanya memberdayakan secara ekonomi, tetapi juga mengangkat
moral dan harga diri para pengemis itu," ujar Yunus. Berkat program yang dinamai The
Struggling Members Program ini, sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh telah
terbantu.
Keberhasilan Muhammad Yunus mengundang banyak korporat untuk ikut terlibat. Bersama
Group Danone, Framen membuat perusahaan yogurt yang mengandung nutrisi mikro untuk
mengurangi kekurangan gizi anak-anak di Bangladesh. Dia juga bekerja sama dengan
perusahaan air minum dunia Velio water untuk sistem air bersih dan aman untuk penduduk
desa termiskin di Bangladesh, kemudian membangun perusahaan penghasil nyamuk anti
malaria dengan perusahaan BASF untuk mengatasi kematian akibat penyakit malaria. Itu
belum cukup. Sekarang ini, dia juga membangun rumah sakit mata spesialis katarak bekerja
sama Green Children Foundation dan perusahaan teknologi informasi bekerja sama dengan
Intel. Produk yang dihasilkan adalah telepon seluler murah yang ditujukan untuk para
wirausaha wanita yang tinggal di desa-desa untuk membantu mereka memasarkan barang dan
jasa yang dihasilkan. Kami juga menandatangani kesepakatan join ventura bisnis sosial
dengan Saudi German Hospital Group untuk membangun beberapa rumah sakit di
Bangladesh,ujarnya di situs resmi The Yunus Center (www.muhammadyunus.org).
Lebih banyak lagi perusahaan dari seluruh dunia menunjukkan ketertarikannya dalam join
venture bisnis sosial seperti ini. Perusahaan sepatu terkemuka ingin menciptakan bisnis sosial
untuk memastikan tidak ada orang yang bepergian tanpa sepatu. Sebuah perusahaan farmasi
terkemuka berkeinginan membentuk perusahaan join venture bisnis sosial untuk
memproduksi suplemen gizi yang cocok bagi ibu hamil dan wanita muda Bangladesh, dengan
harga termurah yang mungkin. Dia juga sedang dalam diskusi untuk meluncurkan perusahaan
bisnis sosial untuk memproduksi anti nyamuk kimia untuk melindungi masyarakat
Bangladesh dan Afrika dari malaria dan nyamuk penular penyakit lainnya.
Lantas, apa alasan dasar Muhammad Yunus untuk membangun bisnis sosial yang
mengutamakan orang-orang miskin?
Saya dapat mengatakan dengan sangat empatik kepada Anda bahwa dalam konteks
kapasitas manusia, tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang yang berada.
Semua manusia diciptakan beserta potensi yang tak terbatas. Tak terkecuali orang miskin.
Tetapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah memberikan kesempatan bagi mereka untuk
mengetahui bahwa setiap orang dari mereka membawa bakat yang menakjubkan. Bakat
tersebut masih tidak diketahui dan terbungkus. Tantangan kita adalah untuk menolong orang-
orang miskin mengeluarkan bakatnya, ujar penerima pelbagai penghargaan internasional ini.
Bagi Muhammad Yunus, menyelesaikan masalah besar tidak harus selalu melalui tindakan
besar, atau inisiatif global atau bisnis besar. Itu dapat dimulai dengan tindakan yang kecil.
Jika kita melakukannya segera, itu dapat berkembang menjadi tindakan global dalam waktu
singkat.
Anda lahir di zaman ide-ide. Ide adalah sesuatu yang seorang lulusan MIT tidak akan
kehabisan. Pertanyaan yang ingin kuutarakan sekarang apa manfaat yang ingin Anda buat
dari mereka (ide-ide itu)? Menghasilkan uang dengan menjual atau menggunakan ide-ide
Anda? Atau mengubah dunia dengan ide-ide Anda? Atau keduanya? Terserah Anda untuk
memutuskan.
Dan, menurut Muhammad Yunus dalam pidato resmi saat menerima hadiah Nobel sebesar
1,36 juta dollar AS (sekitar Rp 12,5 miliar):
Setiap orang dari kalian memiliki kemampuan untuk mengubah dunia!