You are on page 1of 16

KEGAWATDARURATAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KASUS ARDS

DISUSUN OLEH :

Kelompok 1

Afif Dwi Pasana


Ayu Dwi Putri
Fatimah Hafliah

Tingkat : III. C

Dosen Pembimbing : Rumentalia, S. Kep, M. Kes

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN
2013/2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sindrom Gawat Nafas Dewasa atau ARDS juga dikenal dengan edema
paru non kardiogenik adalah sindrom klinis yang di tandai dengan penurunan
progesif kandungan oksigen arteri yang terjadi setelah enyakit atau
cedera serius (Brunner& Suddart hal : 615). Menurut TJ. Pettty 1967
Adult respiratory distress sindrom adalah istilah yang diterapkan untuk
sindrom gagal nafas , hioksemia akut tanpa hiperkapnea Sedangkan menurut
(Doenges 1999) sindrom distress pernafasan dewasa adalah kondisi disfungsi
parenkim paru yang dikarakteristikan oleh kejadian antesenden mayor,
ekslusi kardiogenik menyebabkan edema paru , adanya takipnea , hipoksia,
dan infiltrate pucat pada foto dada. ARDS terjadi sebagai akibat cedera atau
trauma pada membran alveolar kapiler yang mengakibatkan kebocoran cairan
kedalam ruang interstisiel alveolar dan perubahan dalam jaring- jaring kapiler
, terdapat ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi yang jelas akibat akibat
kerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstansif darah dalam paru- paru.

ARDS menyebabkan penurunan dalam pembentuka surfaktan , yang


mengarah pada kolaps alveolar . Komplians paru menjadi sangat menurun
atau paru- paru menjadi kaku akibatnya adalah penuruna karakteristik dalam
kapasitas residual fungsional, hipoksia berat dan hipokapnia. ARDS biasanya
terjadi pada individu yang sudah pernah mengalami trauma fisik, meskipun
dapat juga terjadi pada individu yang terlihat sangat sehat segera sebelum
awitan ,misalnya awitan mendadak seperti infeksi akut.

Biasanya terdapat periode laten sekitar 18- 24 jam dari waktu cedera paru
sampai berkembang menjadi gejala .durasi sindrom dapat dapat beragam dari
beberapa hari sampai beberapa minggu pasien yang tampak akan pulih dari
ARDS data secara mendadak relaps kedalam penyakitpulmonary akut akibat
serangan sekunder seperti pneumotorak atau infeksi berat. (Yasmin, Asih. Hal
: 125). Sebenarnya sistim vaskuler paru sanggup menampung penambahan
volume darah sampai 3 kali normalnya ,namun pada tekanan tertentu , catran
bocor keluar masuk ke jaringan interstisieldan terjadi edema paru.

( Jan Tambayog 2000 , hal 109).

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, kami mengambil rumusan masalah :

1. Apa pengertian ARDS ?

2. Apa penyebab dan bagaimana proses penyakitnya ?

3. Apa komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh ARDS ?

4. Bagaimana proses keperawatan pasien ARDS

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan kami membuat makalah ini adalah :

1. Memahami pengertian, penyebab, proses penyakit, dan keterkaitannya

dengan keperawatan Respirasi III.

2. Dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan ARDS

dengan baik dan benar.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari makalah yang kami susun adalah :

1. Dapat memberikan ilmu pengetahuan kepada kami dan mahasiswa lain

dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien.

2. Memotifasi untuk terus mengembangkan kreatifitas yang dimiliki dalam


bidang kesehatan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Teori ARDS

1. Anatomi Fisiologi Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Fungsi utama pernapasan adalah untuk memperoleh O2 agar


dapatdigunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan
oleh sel. Selain itu, sistem pernapasan melakukan fungsi non respirasi yaitu
memelihara keseimbangan air dan panas tubuh, keseimbangan asam dan
basa, meningkatkan aliran balik napas, mempertahankan tubuh dari invasi
bahan asing, ekspresi emosi (tertawa, menangis, mengeluh).

Fisiologi pernapasan mencakup 3 proses utama yaitu:

1. Ventilasi
Pergerakan udara antara alveoli dan atmosfer. Proses ventilasi meliputi
pergerakan diafragma, perubahan tekanana transpulmonar, kompliens
paru, dan tahanan jalan napas. Pada saat inspirasi, udara dari atmosfer
masuk ke rongga thorax sehingga membuat rongga thorax/dada
mengembang. Selama inspirasi, tekanan intra-alveolus lebih kecil
daripada tekanan atmosfer. Dan pada saat ekspirasi udara keluar dari
rongga thorax sehingga mengakibatkan rongga thorax
turun/menguncup. Selama ekspirasi, tekanan intra-alveolus lebih besar
daripada tekanan atmosfer. Sedangkan selama siklus pernapasan,
tekanan intrapleura lebih rendah dari tekanan intra-alveolus atau
negatif.

2. Difusi

Pergerakan CO2 dan O2 antara alveoli dan kapiler.

3. Transportasi

- Pergerakan O2 dari alveoli ke sel-sel

- Pergerakan CO2 dari sel-sel ke alveoli

Sistem pernapasan mencakup saluran pernapasan yang berjalan ke


paru. Saluran pernapasan berawal dari :

1. saluran hidung (nasal)

2. tenggorokan(faring)

3. laring trakea

4. bronkus bronkiolus

5. alveolus.

Alveolus adalah kantung udara berdinding tipis, dapat


mengembang, berbentuk seperti anggur yang terdapat di ujung
percabangan saluran pernapasan. Dinding alveolus terdiri dari satu
lapisan sel alveolus tipe 1 yang gepeng dan sel alveolus tipe 2. Sel
alveolus tipe 2 mengeluarkan surfaktan paru, suatu kompleks
fosfolipoprotein yang mempermudah pengembangan ekspansi paru.
Di dalam lumen kantung udara juga terdapat makrofag alveolus untuk
pertahanan tubuh.

Dinding alveolus terdapatpori-pori Kohn ukuran kecil yang


memungkinkan aliran udara antara alveolus-alveolus yang berdekatan,
suatu proses yang dikenal sebagai ventilasi kolateral. Terdapat
kantung pleura yang memisahkan paru dari dinding dada. Permukaan
pleura ini mengeluarkan cairan intrapleura encer, yang membasahi
permukaan pleura sewaktu kedua permukaan saling bergeser satu
sama lain saat gerakan bernapas. Sehingga jika terjadi peradangan
pada kantung pleura (pleuritis) maka akan menimbulkan rasa nyeri
dan auskultasi napas friction rub. Faktor-faktor yang mempengaruhi
respirasi adalah sistem saraf pusat, spinal cord, sistem kardiovaskuler
dan darah, thorax dan pleura, system neuromuscular, dan jalan napas
bagian atas.

2. Definisi
ARDS ( adult respiratory distress syndrom) syndrom gawat nafas
akud dewasa adalah bentuk kasus gagal nafas yang di tandai dengan
hipoksemia dan infiltrat yang menyebar kedua belah paru.
Menurut Susan Martin T, 1997
Gagal nafas akut /ARDS merupakan ketidakmampuan sistem
pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2),
eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkan
oleh masalah ventilasi difusi atau perfusi.
Menurut Brunner & Sudarth, 2001
Gagal nafas akut/ARDS terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap
karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju
komsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel
tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50
mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih
besar dari 45 mmHg (hiperkapnia).
ARDS ( adult respiratory distress syndrom) syndrom gawat nafas
akud dewasa adalah bentuk kasus gagal nafas yang di tandai dengan
hipoksemia dan infiltrat yang menyebar kedua belah paru.

3. Etiologi
ARDS terjadi apabila paru terjadi cedera secara langsung maupun
tidak langsung oleh berbagai proses misalnya.
Secara langsung :
- Aspirasi cairan lambung
- Inhalasi asap yang berlebihan
- Cedera dada yang langsung
- Konsentrasi tinggi (Fio2 lebih 50% yang lama lebih dari 48 jam)
- Trauma ( emboli lemak, kontusio paru )

Secara tidak langsung

- Syok hemorajik
- Tranfusi darah yang banyak
4. Patofisologi
Fase 1
Cedera mengurangi aliran darah normal ke dalam paru-paru .
Trombosit mengadakan agresi dan melepaskan histamin (H)
serotonin (S) serta bradikinin (B)
Fase 2
Substansi yang dilepaskan menimbulkan inflamasi dan kerusakan
pada membran kapiler alveoli sehingga terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler kemudian cairan berpidah ke ruang interstisian.
Membran kapiler alveolar dalam keadaan normal tidak mudah di
tembus partikel partikel tetapi dengan adanya cedera maka terjadi
perubahan pada permeabilitas sehingga dapat di lalui cairan, sel
darah merah, sel darah putih dan protein darah.
Fase 3
Permeabilitas kapiler meningkat dan terjadi kebocorn protein serta
cairan sehingga meningkatkan tekanan osmotik dan menimbulkan
edema paru.
Fase 4
Akan terjadi penurunan aliran darah dan cairan dalam alveoli akan
merusak surfaktan dan merusak kemampuan sel untuk
memproduksi lebih banyak surfaktan lagi. Kemudian terjadi kolaps
alveoli yang merusak pertukaran gas
Fase 5
Oksigenasi akan mengalami kerusakan tetapi CO2 mudah
melewati membran alveoli dan di buang keluar melalui ekspirasi.
Kadar O2 dan CO2 darah rendah
Fase 6
Edema paru semakin bertambah parah dan inflamasi
menimbulkan fibrosis. Pertukaran gas mengalami hambatan lebih
lanjut.

5. Manifestasi klinik
Di tandai dengan adanya hipoksemia keregangan paru
yangberkurang secara progresif, adanya dipsnea serta takipnea yang
berat akibat hipoksemia dan bertambahnya kerja pernapasan yang
disebabkan penurunan keregangan paru. Keragangan paru dan toraks
yang normal secara bersamaan adalah sekitar 100 ml/cm H2O pada
ARDS keregangan ini dapat turun hingga 15 -20 ml/cm H2O akibatnya
timbul paru yang sukar berfentilasi.
Penurunan kesadaran mental Takikardi, takipnea, Dispnea dengan
kesulitan bernafas, terdapat retraksi interkosta, Sianosis, Auskultasi
paru : ronkhi basah, krekels, stridor, wheezing dan Auskultasi jantung :
BJ normal tanpa murmur atau gallop.

6. Komplikasi
Infeksi paru dan abdomen merupakan komplikasi yang sering di
jumpai. Adanya edema paru, hipoksia alveoli , penurunan surfaktan
akan menurunkan daya tahan paru terhadap infeksi. Komlikasi yang
sering terjadi adanya penurunan curah jantung, pneumotoraks dan
pnemomedistium. Hasil positif pada pasien yang sembuh dari ARDS
paling mungkin kemampuan tim kesehatan untuk melindungi paru dari
kerusakan lebih lanjut selama periode pemberian dukungan hidup,
pencegahan toksisitas O2 dan perhatian pada penurunan sepsis.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Foto rontgent dada
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Radiogram dada

8. Pengobatan/ Penatalaksanaan Medis


Tergantung klien dan proses penyakitnya :
1. Pemberian inotropik agent (dopamine) fungsinya untuk
meningkatkan curah jantung dan tekanan darah
2. Antibiotik untuk mengatasi infeksi
3. Kortikosteroid mengurangi respon inflamasi dan mempertahankan
stabilitas membran paru

Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki masalah


ancama kehidupan dengan segera, antara lain :
1. Terapi Oksigen
Oksigen adalah obat dengan sifat terapeutik yang penting dan
secara potensial mempunyai efek samping toksik. Pasien tanpa
riwayat penyakit paru-paru tampak toleran dengan oksigen 100%
selama 24 72 jam tanpa abnormalitas fisiologi yang signifikan.
2. Ventilasi Mekanik
Aspek penting perawatan ARDS adalah ventilasi mekanis. Terapi
modalitas ini bertujuan untuk memmberikan dukungan ventilasi
sampai integritas membrane alveolakapiler kembali membaik.
Dua tujuan tambahan adalah :
a. Memelihara ventilasi adekuat dan oksigenisasi selama periode
kritis hipoksemia berat.
b. Mengatasi factor etiologi yang mengawali penyebab distress
pernapasan
3. Positif End Expiratory Breathing (PEEB)
Ventilasi dan oksigen adekuat diberikan melaui volume ventilator
dengan tekanan dan kemmampuan aliran yang tinggi, di mana
PEEB dapat ditambahkan. PEEB di pertahankan dalam alveoli
melalui siklus pernapasan untuk mencegah alveoli kolaps pada
akhir ekspirasi.
4. Memastikan volume cairan yang adekuat
Dukungan nutrisi yang adekuat sangatlah penting dalam
mengobati pasien ARDS, sebab pasien dengan ARDS
membutuhkan 35 sampai 45 kkal/kg sehari untuk memmenuhi
kebutuhan normal.

2.2 Asuhan Keperawatan ARDS

A. Pengkajian

1. Identitas pasien

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Status Perkawinan :

Agama :

Suku :

2.Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta bantuan

pelayanan kesehatan adalah adanya gejala neurologis yaitu :

- Distres pernafasan akut ; takipnea, dispnea , pernafsan


menggunakan otot aksesoris pernafasan dan sianosis sentral.
- Batuk kering dan demam yang terjadi lebih dari beberapa jam
sampai seharian.
3.Riwayat Keluhan Utama

P : Nyeri

Q : Terus menurus

R : seluruh persendian, dada, dan perut

S : 4 (0-5)

T : saat beraktivitas

4.Riwayat kesehatan sekarang

- Kaji apakah kline sebelum masuk rumah sakit memiliki riwayat penyakit

yang sama ketika kline masuk rumah sakit.

- Riwayat kesehatan dahulu

- Kaji apakah kline pernah menderita riwayat penyakit yang sama

Sebelumnya

- Riwayat pemakaian obat-obatan

5. Pengkajian Primer
1. Airway ( Jalan Napas)
- Jalan nafas tidak normal
- Terdenganr adanya bunyi nafas ronci
- Tidak ada jejas badan daerah dada
2. Breathing
- Peningkatan frekuensi nafas
- Nafas dangakal dan cepat
- Kelemahan otot pernafasan
- Kesulitan bernafas (seanosis)
3. Cirkulation
- Penurunan curah jantung : Gelisa, letargi, takikardia
- Sakit kepala
- Pingsan
- Berkeringan banyak
- Pusing
- Mata berkunang-kunang
- Berkeringat banyak
6. Disability
- Dapat terjadi penurunan kesabaran
- Treage (merah)

6. Pengkajian Sekunder

Pengkajian fisik

- B1 (Breath) :
Sesak nafas, nafas cepat dan dangkal, batuk kering, ronkhi basah,
krekelshalus di seluruh bidang paru, stridor, wheezing.
- B2 (Blood) :
Pucat, sianosis (stadium lanjut), tekanan darah bisa normal
ataumeningkat (terjadinya hipoksemia), hipotensi terjadi pada
stadium lanjut(shock), takikardi biasa terjadi, bunyi jantung normal
tanpa murmur ataugallop.
- B3 (Brain) :
kesadaran menurun (seperti bingung dan atau agitasi), tremor.
- B4 (Bowel):
- B5 (Bladder):
- B6 (Bone): kemerahan pada kulit punggung setelah beberapa hari
dirawat.
a. Pengelompokan data
Data Subjejtif
Klien mengeluh mudah lelah
Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas
Klien mengatakan ingin sempbuh dari penyakit
Klien mengatakan takut akan kondisinya
Klien mengatakan nafsu untuk makan kurang
Klien mengatakn kesulitan untuk bernafas
Klien mengatakan merasa sesak
b. Data Objektif
Peningkatan kerja nafas (penggunaan otot pernafasan)
Bunyi nafas mungkin ronci dan suara nafas bronchial
Nafas cepat
Penurunan dan tidak seimbangnya ekspansi darah
Adanya sputum encer, berbusa
Ceanosis
Ketakutan akan kematian
Hipoksemia
Hipotensi pada stadium lanjut
Takikardi
Kulit membran mukosa mungkin pucat atau dingin
Klien nampak gelisah
Kelemahan otot
Mudah lelah saat beraktivitas

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan pertukaran gas b.d membrane kapiler alveoli

2. Ketidakefektifan pola nafas b.d kelemahan otot otot pernafasan

3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d mukus berlebih

C. Rencana Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC


KEPERAWATAN
TGL Nursing outcomes Nursing intervention classification
clasification

1 Diagnosa :

Gangguan pertukaran gas b.d Setelah dilakukan asuhan


membran kapiler alveoli
keperawatan selama
Label : domain 3 Eliminasi
2 x 24 jam
dan pertukaran
- Diharapkan klien
Kelas: 4 fungsi pernafasan dapat merasakan
kenyamanan.
Definisi : kelebihan atau
Dengan kriteria hasil
kekurangan
- Status pernafasan - bantuan ventilasi bantuan
oksigenasi atau :pertukaran ventilasi :meningkatkan pola
gas:pertukaran c02 dan pernafasan spontan yang
eliminasi optimal dalam
o2 di alveoli untuk
karbondioksida di mempertahankan memaksimalkan pertukaran
kondentrasi gas darah o2 dan co2 dalam paru
membran kapiler
alveoli
alveolar
Batasan karakteristik:

Data Subyektif :

Dispnea

Data Obyektif :

sianosis

hipoksia

hipoksemia

2 Diagnosa :

Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan asuhan


berhubungan dengan keperawatan selama
kelemahan otot-otot
pernafasan 2 x 24 jam

- Diharapkan klien - Manajemen jalan nafas:


Label : domain 4 mefasilitasi kepatenan jalan
dapat merasakan
Aktivitas/istrahat kenyamanan. udara
- Pengisapan jalan napas :
Kelas : 4 respons Dengan Kriteria hasil mengeluarkan secret jalan
napas dengan cara
kardiovaskular/pulmonal Status pernafasan :
memasukan kateter pengisap
Definisi : - jalan nafas ke dalam jalan napas oral
trakeobronkial bersih atau trakea pasien
Inspirasi dan/ atau dan terbuka untuk - Bantuan ventilasi:
ekspirasi yang tidak memberi pertukaran gas meningkatkan pola
ventilasi yang adekuat. pernafasan spontal yang
Status respirasi : optimal sehingga
Batasan karakteristik:
memaksimalkan pertukaran
- ventilasi :
Data Subyektif : oksigen dan karbondioksda
pergerakan udara
didalam paru
Dispnea kedalam dan keluar
paru
Data Obyektif :

Takipnea
Penurunan tekanan

inspirasi dan ekspirasi

3 Diagnosa :

Ketidak efektifan bersihan Setelah dilakukan asuhan


jalan nafas berhubungan keperawatan selama
dengan mukus berlebih
2 x 24 jam
Label: domain 11 keamanan/
- Diharapkan klien
perlindungan. dapat merasakan
kenyamanan.
Kelas: 2. Cedera fisik .
Dengan kriteria hasil
cedera atau bahaya pada
- Pengisapan jalan - Manjmen jalan nafas:
tubuh nafas mengeluarkan mefasilitasi kepatenan jalan
Definisi : sekret dari jalan nafas udara
dengan memasukan - Penganturan posisi: posisi
Ketidakmampuan untuk kateter pengisap jalan pasien atau bagian tubuh
membersihkan sekret atau nafas oral dan atau pasien secara sengaja untuk
obstruksi saluran pernafasan trakea . memfasilitasi kesejatraan
guna mempertahankan jalan - Pencegahan aspirasi: fisiologi dan psikologis.
nafas yang bersih tindakan personal - Bantuan ventilasi:
untuk mencegah meningkatkan pola nafas
Batasan karakteristik:
masuknya cairan dan spontan yang optimal, yang
Data Subyektif : partikel padat memaksimalkan pertukaran
kedalam paru oksigen dan carbon dioksigen
Dispnea
Status pernafasan dalam paru
Data Obyektif : ventilasi:
Sputum berlebih - pergerakan udara
masuk dan keluar
paru.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

ARDS merupakan gangguan paru yang progresif dan tiba-tiba ditandai


dengan sesak napas yang berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar
dikedua belah paru. ARDS atau Sindroma Distres Pernafasan Dewasa
(SDPD) adalah kondisi kedaruratan paru yang tiba-tiba dan bentuk kegagalan
nafas berat, biasanya terjadi pada orang yang sebelumnya sehat yang telah
terpajan pada berbagai penyebab pulmonal atau non-pulmonal
(Hudak, 1997).
ADRS merupakan keadaan darurat medis yang dipicu oleh berbagai
proses akut yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan
kerusakan paru," ungkap Aryanto Suwondo, dr. Sp.PD(K), dari subbagian
Pulmonologi Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta..
ARDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya
berupa trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut Hudak & Gallo ( 1997 ), gangguan yang dapat mencetuskan
terjadinya ARDS adalah Sistemik, Pulmonal,Non-Pulmonal

3.2 Saran
Setelah kita membaca, mengetahui, dan memahami apa itu ARDS . kita
tahu bahwa salah satu penyebab penyakit ini adalah disebabkan oleh bakteri.
Apabila kita telah mengetahui mengenai abses otak ini, baik pembaca
maupun penulis sebaiknya dapat menghindari.
DAFTAR PUSTAKA

Krisanty , paula. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : EGD

Prof. Dr. Bakta, Made. I, SpSD (KHOM). 1999. Gawat Darurat di bidang

Penyakit Dalam. Penerbit buku kedokteran. Jakarta : EGC.

Carpenito,Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, Gall0. 1997. Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik .Ed.VI. Vol.I.

Jakarta : EGC.