You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan Sistim Kesehatan Nasional tahun 2005 Visi pembangunan Kesehatan


adalah Menyehatkan Masyarakat Indonesia .

Penurunan angka kematian ibu bersalin dan bayi sangat lambat, karena penanganan
kehamilan ibu dan kelahiran bayi yang kurang memadai, khususnya di daerah
pedesaan. Angka kematian ibu mencerminkan resiko ibu selama kehamilan dan
melahirkan. Keterlambatan merujuk, ketersediaan transportasi dan biaya dpat
menjadi kendala dalam upaya menyelamatkan ibu bersalin. Faktor kematian dapat
dipengaruhi oleh faktor kesehatan maupun di luar kesehatan. Telah terjadi
peningkatan jumlah kematian ibu bersalin di Kabupaten Semarang pada tahun 2000
dibandingkan dibandingkan tahun 1998 dan tahun 1999. Pengambilan keputusan oleh
keluarga dan penolong persalinan dalam merujuk ibi bersalin ke rumah sakit,
merupakan salah satu keputusan awal yang dapat mempengaruhi kematian ibu
bersalin.

Penelitian ini dilakukan secara diskriptif, dengan menggunakan rancangan kuantitatif


dan kualitatif. Hasil penelitian disajikan tanpa menganalisis dengan uji statistik,
sehingga tidak perlu adanya hipotesis. Kejadian kematian ibu bersalin ditelusuri ke
belakang (retrospektif) terutama untuk melihat mengenai pola pengambilan
keputusan keluarga dan penolong persalinan dalam merujuk ibu bersalin ke rumah
sakit. Jumlah kasus kematian ibu bersalin di Kabupaten Semarang pada tahun 2000
yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang sebanyak 18 kasus.

Sebagian besar ibu hamil berumur antara 20-35 tahun (81,25 %). Tingkat pendidikan
43,75 % lulusan Sekolah Dasar, 50 % berstatus sebagai ibu rumah tangga dan dalam
mengambil keputusan sehari-hari suami dominan. Namun dalam mengambil
keputusan merujuk ibu bersalin 56,25 % dipengaruhi keluarga. Suami, keluarga dan
penolong persalinan dalam menghadapi masalah medis persalinan sebanyak 37,5 %
langsung merujuk ibu ke rumah sakit, 43,75 % masih berusaha mencari penolong
lain. Terdapat 12,5 % jarak tempat tinggal ibu bersalin ke rumah sakit lebih dari 20
km, 18,75 % kesulitan mendapatkan alat transpotasi.

Pola pengambilan keputusan rumah tangga sehari-hari suami dominan, tetapi dalam
penentuan persalinan dan tempat bersalin ada yang turut campur, dari pihak keluarga
yaitu orang tua dan mertua, dari penolong persalinan yaitu bidan. Pada saat
menghadapi masalah medis persalinan masih diperlukan musyawarah keluarga untuk
merujuk ibu bersalin ke rumah sakit.

Perlu adanya peningkatan ketrampilan bidan dalam penanganan kegawatan obstetri


neonatal. Petugas penyuluhan ditingkat Puskesmas agar lebih aktif mengadakan
penyuluhan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan
kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KPKIA) perlu diaktifkan kembali.

Salah satu penyebab kematian ibu karena kehamilan dan persalinan sangat erat
kaitannya dengan penolong persalinan. Pada tahun 2000, rata-rata cakupan
persalinan oleh tenaga kesehatan di Jawa Tengah adalah 70,65 %, sedangkan yang
terendah adalah di Kabupaten Blora yaitu 47,44 %. Dari 26 Puskesmas di Kabupaten
Blora, cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan yang terendah adalah di
Puskesmas Banjarejo Kecamatan Banjarejo yaitu 26 %.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan
Praktik ibu hamil dalam pelayanan antenatal (ANC) dengan pengambilan keputusan
memilih penolong persalinan di Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora tahun 2002.
Responden diambil sebanyak 100 orang sebagai sampel penelitian dengan
menggunakan Proportional Startified Random Sampling dari 20 desa. Penelitian
dilaksanakan dari mulai bulan Februari 2002 sampai bulan Maret 2002.
Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan
tertutup, adapun data kualitatif dengan Focus Group Discussion (FGD).

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara
Pengetahuan, Sikap dan Praktik ibu hamil dalam pelayanan ANC dengan
pengambilan keputusan memilih penolong persalinan. Berdasarkan deskriptif
statistik, 65 % penentu keputusan adalah keluarga. Dari 100 orang responden, yang
bersalin ke Dukun 57 %. Berdasarkan analisis isi FGD diperoleh informasi bahwa
yang dominan menentukan keputusan penolong persalinan adalah keluarga, sedang
ibu yang akan melahirkan kurang berdaya, dan yang menjadi pilihan pertama untuk
penolong persalinan adalah Dukun. Hal ini salah satunya disebabkan karena merasa
tidak biasa dengan Bidan.

B. Tujuan