You are on page 1of 12

Cara mengenal karakter siswa, guru hendaknya di bekali dengan berbagai keterampilan

ilmu pengetahuan agar bisa mengayomi muridnya dengan baik sehingga dapat mencetak
generasi-generasi penerus bangsa yang mandiri dan bisa diharapkan memajukan bangsa
selain pengetahuan dan pengetahuan tentang mta pelajaran yang diampunya guru juga
seharusnya dan bahkan wajib membekali dirinya dengan ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu
Psikologi Anak dan Ilmu Psikologi Perkembangan. Dalam ke-3 Ilmu tersebut terdapat
konsep-konsep dasar yang berkaitan dengan perkembangan kejiwaan siswa yang sangat
menopang guru dalam mendampingi mereka. Patuh Aturan ilmu ini telah sejak mulai
dilupakan atau kurang diperhatikan guru maka kesusahan demi kesusahan dialami guru
waktu berhadapan dgn peserta didik. Tidak Sedikit masalah yg dihadapai peserta didik yg tak
terlampaui berat tapi dikarenakan kurang tepatnya pendekatan & terapi yg diperlukan guru
dalam menyelesaikan masalah itu. Perihal ini tak membuahkan penyelesaian dengan cara
tuntas & masalah itu terus menyelimuti peserta didik yang memberatkan langkahnya dalam
menggapai harapan.

Sebab itulah guru pun mesti berperan juga sebagai Psikolog, yang pasti membina seta
membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi juga memberikan sugesti yang
sesuai dan tepat, juga memberikan solusi yang tuntas dalam menyelesaikan masalah anak
didik bersama memperhatikan karakter dan kejiwaan siswanya. Guru pun hendaknya
sanggup berperan yang merupakan satu orang dokter yg memberikan terapi & obat terhadap
pasiennya serasi dgn diagnosanya. Salah diagnosa sehingga salah pun terapi & obat yg
diberikan maka penyakitnya bukannya sembuh namun sebaliknya makin parah.

Begitu serta guru dalam menyelesaikan masalah anak, mesti mengetahui akar masalah maka
sanggup tentukan terapi & solusi yg cocok dalam menyelesaikan masalah tersebut. Di
Samping itu guru dapat juga berperan juga sebagai satu orang ulama yg bakal membimbing
& menuntun batin atau kejiwaan siswa, memberikan pencerahan yg menyejukkan &
menyelesaikan masalahnya dgn pendekatan agama yg akhirnya bakal lebih baik.

Mengenal dan mememahami peserta didik akan dilakukan bersama kiat memperhatikan dan
menganalisa ucap kata (trick berbicara ), sikap dan prilaku atau aksi anak didik, lantaran dari
tiga apek diatas tiap-tiap orang (anak didik ) mengekspresikan apa yg ada dalam
beliau(karakter atau jiwa ). Utk itu seseorang guru mesti dengan cara seksama dalam
berkomunikasi dan berinteraksi bersama peserta didik dalam tiap-tiap kegiatan pendidikan.

Manfaat mengenal karakter siswa


Mengenal dan mendalami karakter siswa, memberikan manfaat yg tidak sedikit baik bagi
siswa sendiri ataupun bagi guru yg berperan mendampingi mereka. Bagi peserta didik,
mereka bakal mendapat layanan prima, perlakuan yg adil, tak ada diskriminasi, merasakan
bimbingan yg maksimal & menyelesaikan masalah anak didik bersama memperhatikan
karakternya.

Bagi guru, manfaat mengenal serta mendalami karakter siswa yakni guru dapat sanggup
memetakan keadaan siswa pas bersama karakternya masing-masing.Guru akan memberikan
layanan prima & berikan pekerjaan pas bersama kepentingan & kesanggupan peserta
didiknya. Bersama begitu guru akan mengembangkan potensi yg dipunyai mereka berupa
kesukaan, bakat & kegemarannya & mengusahakan menekan potensi negatif yg bisa saja
muncul dari karakter anak didik yg tak baik yg dimilikinya.

Demikian pentingnya mengenal & mendalami karakter siswa sehingga seseorang guru mesti
meluangkan waktunya dengan peserta didik & memberikan perhatian yg maksimal terhadap
peserta didik dalam membimbing mereka kepada tercapainya maksud
pendidikan.Sesungguhnya keberadaan & kesunguhan guru dalam melakukan pekerjaan bakal
memberikan energi positif bagi peserta didiknya dalam wujudkan angan-angan indah
mendapatkan angan-angan yg luar biasa. Mudah-mudahan.

Cara mengenal karakter siswa ini bisa diterapkan dalam mengenal karakter anak usia SD,
SMP, atau SMA. Dengan melakukan pengenalan terhadap karakter siswa diharapkan guru
dapat membuat cara yang jitu dalam mengajar dan menyampaikan materi kepada siswa
dengan mudah diterima dan diserap oleh muridnya.

Masing-masing peserta didik atau siswa sebagai individu dan subjek belajar memiliki
karakteristik atau ciri-ciri sendiri. Kondisi atau keadaan yang terdapat pada masing-masing
siswa dapat mempengaruhi bagaimana proses belajar siswa tersebut. Dengan kondisi peserta
yang mendukung maka pembelajaran tentu dapat dilakukan dengan lebih baik, sebaliknya
pula dengan karakteristik yang lemah maka dapat menjadi hambatan dalam proses belajar
mengajar.

Lebih lanjut lagi bahwa keadaan peserta didik bukan hanya berpengaruh pada bagaimana
belajar masing-masing peserta didik, namun dari proses belajar masing-masing siswa dapat
mempengaruhi pembelajaran secara keseluruhan serta juga mempengaruhi bagaimana proses
belajar peserta didik lainnya. Jika pengaruh positif maka akan memberikan efek yang baik
bagi proses pembelajaran, namun tentu saja juga terdapat karakteristik atau keadaan dari
siswa yang buruk dan memberikan pengaruh negatif bagi pembelajaran.
Oleh karena itu, guru yang memiliki peran sentral dalam pembelajaran secara langsung
sangat diharuskan untuk mengetahui karakteristik atau keadaan yang sebenarnya terjadi pada
siswa. Dengan demikian, guru dapat mengantisipasi juga mengatasi adanya pengaruh buruk
yang mungkin muncul dan berakibat negatif bagi pembelajaran. Identifikasi terhadap keadaan
dan kondisi siswa baik untuk masing-masing individu maupun keseluruhan mutlak
diperlukan yang digunakan untuk pengambilan langkah dan perlakuan terutama pemilihan
strategi, model, media, dan komponen penyusun pembelajaran lainnya.

Dalam bukunya, Sardiman (2011: 120) menyebutkan bahwa terdapat 3 macam hal
karakteristik atau keadaan yang ada pada siswa yang perlu diperhatikan guru yaitu:

1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal siswa. Misalnya
adalah kemampuan intelektual, kemampuan berpikir, dan lain-lain.
2. Karakteristik atau keadaan siswa yang berkenaan dengan latar belakang dan status
sosial.
3. Karakteristik atau keadaan siswa yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan
kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dan lain-lain.

Dari macam-macam jenis dan sumber karakteristik atau keadaan yang ada pada siswa ini
guru dapat menentukan data-data apa saja yang perlu diketahui informasinya dan digali dari
peserta didik. Kondisi pada peserta didik juga senantiasa dapat mengalami perubahan, guru
hendaknya juga harus memantau segala perubahan keadaan yang ada pada siswa baik
sebelum pembelajaran dimulai, saat pembelajaran, hingga paska pembelajaran dan evaluasi.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik,
untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini
disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.
Pengaruh peranan pendidik sangat besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih
dewasa, lebih pengalaman, lebih menguasai banyak nilai-nilai, pengetahuan, dan
keterampilan. Peranan peserta didik lebih banyak sebagai penerima pengaruh, sebagai
pengikut, oleh itu disebutnya sebagai peserta didik, atau terdidik. Seorang guru sebagai
pendidik yaitu mendidik peserta didik, baik yang berkenaan segi intelektual, sosial, maupun
fisik motorik. Perbuatan guru memahami karakteristik peserta didik yaitu di arahkan pada
karakter peserta didik pada pencapaian tujuan sekarang dan yang akan datang.
Seorang guru harus menguasai karakteristik peserta didik karena guru merupakan contoh
teladan kepada anak-anak dan remaja. Guru merupakan pendidik formal, karena latar
belakang pendidikan, kepercayaan masyarakat kepadanya serta pengangkatannya sebagai
pendidik. Sedangkan pendidik lainnya disebut pendidik informal. Guru harus menguasai
karakteristik setiap individu peserta didik supaya dapat memahami keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latar belakang dan interaksi dengan lingkungannya. Adapun
yang disebut komponen asfek fisik atau jasmaniah dan psikis atau batiniah.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan perumusan masalah yang di
identifikasikan masalah-masalah tersebut, diantaranya
1. Apa yang akan terjadi apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik ?
2. Mengapa karakteristik peserta didik dikatakan karakteristik perubahan hasil belajar ?
3. Bagaimana upaya meningkatkan penguasaan guru terhadap karakteristik peserta didik ?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan makalah ini, diantaranya:
1. Untuk mengetahui hal-hal apa saja apabila guru tidak memahami karakteristik peserta
didik.
2. Untuk mengetahui karakteristik peserta didik sebagai perubahan hasil
bPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik,
untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini
disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.
Pengaruh peranan pendidik sangat besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih
dewasa, lebih pengalaman, lebih menguasai banyak nilai-nilai, pengetahuan, dan
keterampilan. Peranan peserta didik lebih banyak sebagai penerima pengaruh, sebagai
pengikut, oleh itu disebutnya sebagai peserta didik, atau terdidik. Seorang guru sebagai
pendidik yaitu mendidik peserta didik, baik yang berkenaan segi intelektual, sosial, maupun
fisik motorik. Perbuatan guru memahami karakteristik peserta didik yaitu di arahkan pada
karakter peserta didik pada pencapaian tujuan sekarang dan yang akan datang.
Seorang guru harus menguasai karakteristik peserta didik karena guru merupakan contoh
teladan kepada anak-anak dan remaja. Guru merupakan pendidik formal, karena latar
belakang pendidikan, kepercayaan masyarakat kepadanya serta pengangkatannya sebagai
pendidik. Sedangkan pendidik lainnya disebut pendidik informal. Guru harus menguasai
karakteristik setiap individu peserta didik supaya dapat memahami keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latar belakang dan interaksi dengan lingkungannya. Adapun
yang disebut komponen asfek fisik atau jasmaniah dan psikis atau batiniah.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan perumusan masalah yang di
identifikasikan masalah-masalah tersebut, diantaranya
1. Apa yang akan terjadi apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik ?
2. Mengapa karakteristik peserta didik dikatakan karakteristik perubahan hasil belajar ?
3. Bagaimana upaya meningkatkan penguasaan guru terhadap karakteristik peserta didik ?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan makalah ini, diantaranya:
1. Untuk mengetahui hal-hal apa saja apabila guru tidak memahami karakteristik peserta
didik.
2. Untuk mengetahui karakteristik peserta didik sebagai perubahan hasil belajar.
3. Untuk memberikan gambaran tentang upaya meningkatkan penguasaan guru terhadap
karakteristik peserta didik.

BAB II
ISI
2.1. Definisi Istilah Karakteristik
Karakteristik awal katanya berasal dari kata karakter yaitu sifat-sifat kejiwaan, ahlak
atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak, berubah
menjadi karakteristik. Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia bahwa karakteristik
adalah mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu.
Dalam situasi pendidikian atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik
dengan guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya
merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa
dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan sedang mencari bentuk
kedewasaan.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing tidak bisa dilepaskan dari guru sebagai
pribadi. Kepribadian guru sangat berpengaruh peranannya sebagai pendidik dan pembimbing.
Guru mendidik dan membimbing peserta didik tidak hanya dengan bahan yang disampaikan,
tetapi harus bisa menguasai karakteristik individu peserta didik. Sedangkan anak adalah
manusia yang baru tumbuh dan berkembang yang memerlukan kasih sayang, baik di sekolah,
rumah, maupun dimana saja.

2.2. Teori Menurut Para Ahli/Pakar

1. Surya, (1982 )

Setiap belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik, karena karakteristik
perilaku belajar sebagai prinsip-prinsip belajar.

2. Reber, (1988 )

Kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapih secara
mulus dan sesuai keadaan untuk mencapai hasil tertentu.

3. Bruno, ( 1987 )

Kecenderungan yangyang relatif untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang
tertentu.

4. Carl R. Rogers

Memberikan rumusan yang lebih ekplisif tentang penguasan guru terhadap karakteristik
peserta didik.

2.3. Uraian atau Penjelasan


2.3.1. Guru
Guru mempunyai peranan ganda sebagai pengajar dan pendidik. Kedua peran tersebut
bisa dilihat perbedaannya, tetapi tidak bisa dipisahkan. Tugas utama sebagai pendidik adalah
membantu mendewasakan anak. Dewasa secara psikologis, sosial, dan moral. Dewasa secara
psikologis berarti individu telah berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lainjuga telah
mampu bertanggung jawab atas perbuatannya, mampu bersifat objektif. Dewasa secara sosial
berarti telah mampu menjalin sosial dan bekerja sama dengan orang dewasa lainnya. Dewasa
secara moral yaitu telah memiliki yang ia akui sebenarnya, ia berperilaku dengan nilai-nilai
yang menjadi pegangannya.
2.3.2. Anak/ Peserta Didik
Anak adalah manusia yang baru tumbuh dan berkembang yang memerlukan kasih
sayang, baik di sekolah, rumah, maupun dimana saja. Seorang anak atau peserta didik
memiliki potensi yang ada pada diri anak tidak bisa di abaikan. Potensi itu harus
dikembangkan, mengembangkan potensi anak berarti menciptakan tanggung jawab yang
mulia kepada orang tua, namun demikian, orang tua tidak bisa sendiri perlu bekerja sama
dengan lembaga formal, yaitu sekolah. Begitu Juga dengan masyarak tempat tinggal.

2.3.3. Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik


Ada beberapa contoh karakteristik peserta didik diantaranya:

1. Senang bermain
2. Selalu ingin tahu
3. Selalu ingin mencoba
4. Ingin diperhatikan
5. Punya sipat polos
6. Suka menentang
7. Egois
8. Senang dipuji
9. Ingin bebas
10. Suka Mengganggu
11. Mendambakan kasih sayang dan rasa aman
12. Mudah Terpengaruh
13. Suka Meniru
14. Manja
15. Berani
16. Kreatif
17. Keras Kepala
18. Suka berkhayal
19. Emosi

Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik yaitu memerlukan


pemahaman tentang dirinya sendiri (Self Understanding), dan juga pemahaman tentang orang
lain (Under Standing the Other). Tanpa pemahaman yang meluas dan mendalam tentang diri
sendiri dan orang lain maka guru tidak akan memahami karakteristik peserta didik, jadi harus
dilakukannya penguasaan secara menyeluruh.
Pemahaman saja sesungguhnya belum cukup, sebab belum membuat apa-apa. Nilai hidup
seseorang di ukur oleh apa yang dia dapat berikan kepada orang lain, apa yang diberikan oleh
pendidik kepada muridnya, Dalam hubungan antar individu diberikan dalam bentuk
perlakuan, tindakan-tindakan yang bijaksana, yang tepat sesuai dengan kondisi dan situasi.
Guru menyiapkan dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas latihan dan sebagainya.
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang. Tidak jarang kita temukan orang-orang yang
memiliki gambaran diri yang kurang bahkan tidak tepat, lebih tinggi atau lebih rendah.
Individu mempunyai perasaan diri lebih superior akan memandang orang lain rendah, dan
orang rendah akan memandang orang superior tinggi tingkatannya.
Apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik maka peserta didik tidak akan
mengalami perkembangan, potensi belajarnya melemah, dan mobilitas perkembangan anak
monoton atau tidak bervariasi. Akhirnya karena potensi peserta didik merupakan dasar dalam
menentukan masa depan maka harus diperhatikan, karena menurut sebuah penelitian
mutakhir menunjukan bahwa otak manusia terdiri atas bermilyar-milyar sel aktif.

2.3.4. Tekhnik Penguasaan Peserta Didik

1. Tekhnik tes
2. Tekhnik Non tes
3. Observasi
4. Wawancara
5. Angket
6. Studi Dokumenter
7. Sosiometri
8. Otobiografi
9. Studi Kasus
10. Konferensi Ksus

2.3.5. Karakteristik Perubahan Hasil Belajar


Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh perubahan yang spesifik. Karakteristik
perilaku belajar disebut prinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri perubahan yang khas,
terdapat karakteristik perilaku belajar yang terpenting yaitu:

1. Perubahan itu intensional, perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat
pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari atau dengan
kata lain bukan kebetulan.
2. Perubahan itu positif dan aktif, perubahan yang terjadi karena proses bersifat positif
dan aktif.
3. Perubahan itu efektif dan fungsional, perubahan yang timbul karena proses belajar
bersifat efektif, yakni berhasil guna.

2.4. Pendapat Pendamping dan Penulis


Apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik maka peserta didik tidak
akan mengalami perkembangan, potensi belajarnya melemah, dan mobilitas perkembangan
anak monoton atau tidak bervariasi. Pemahaman individu pada dasarnya merupakan
pemahaman terhadap keseluruhan kepribadiannya dengan segala latarbelakang.
Pendapat kami bahwa cara yang epektif tentang penguasaan guru terhadap peserta
didik yaitu guru harus profesional dan guru harus bisa memahami setiap individu, dan bisa
memahami diri sendiri dan orang lain. Dalam hubungannya antara pendidik dengan peserta
didik dengan cara perlakuan atau tidak boleh adanya tali pemisah atau tidak boleh renggang
saupaya terjalin hubungan interaksi yang baik dan penguasaannya berjalan sesuai dengan
rencana yang di inginkan.
Memang susah apabila di sesuaikan dengan zaman,yang ada di lapangan dengan teori,
karena berbeda. Banyak guru yang tidak memanfaatkan hasil kuliah pendidikannya tentang
profesi kependidikan sehingga pendidikan penguasaan guru tidak stabil dan dalam posisi
yang tidak baik, dan tidak terarah sesuai dengan rencana.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam situasi pendidikian atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik
dengan guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya
merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa
dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan sedang mencari bentuk
kedewasaan.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing tidak bisa dilepaskan dari guru sebagai
pribadi. Kepribadian guru sangat berpengaruh peranannya sebagai pendidik dan pembimbing.
Guru mendidik dan membimbing peserta didik tidak hanya dengan bahan yang disampaikan,
tetapi harus bisa menguasai karakteristik individu peserta didik.
Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik yaitu memerlukan pemahaman
tentang dirinya sendiri (Self Understanding), dan juga pemahaman tentang orang lain (Under
Standing the Other). Tanpa pemahaman yang meluas dan mendalam tentang diri sendiri dan
orang lain maka guru tidak akan memahami karakteristik peserta didik, jadi harus
dilakukannya penguasaan secara menyeluruh. Apabila guru tidak memahami karakteristik
peserta didik maka peserta didik tidak akan mengalami perkembangan, potensi belajarnya
melemah, dan mobilitas perkembangan anak monoton atau tidak bervariasi. Pemahaman
individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan kepribadiannya dengan
segala latarbelakang.

3.2.Saran
Guru harus menjadi guru profesional dan harus bisa memahami karakteristik peserta didik
supaya peserta didik mengalami perkembangan, potensi belajarnyamelesat atau normal, dan
mobilitas perkembangan anak bervariasi.
8
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang.
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang. Tidak jarang kita temukan orang-orang yang
memiliki gambaran diri yang kurang bahkan tidak tepat, lebih tinggi atau lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Depdikbud.
Syah, Muhibbin. (2009). Psikologi Belajar. Jakarta: Depdikbud.
Aqib, Zainal. (2008).Sekolah Ramah Anak, Mencegah Kekerasan dalam Sekolah. Bandung.
Yamin, Martinis. (2010). Kiat Penguasaan Siswa. Bandung.
elajar.
3. Untuk memberikan gambaran tentang upaya meningkatkan penguasaan guru terhadap
karakteristik peserta didik.

BAB II
ISI
2.1. Definisi Istilah Karakteristik
Karakteristik awal katanya berasal dari kata karakter yaitu sifat-sifat kejiwaan, ahlak
atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak, berubah
menjadi karakteristik. Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia bahwa karakteristik
adalah mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu.
Dalam situasi pendidikian atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik
dengan guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya
merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa
dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan sedang mencari bentuk
kedewasaan.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing tidak bisa dilepaskan dari guru sebagai
pribadi. Kepribadian guru sangat berpengaruh peranannya sebagai pendidik dan pembimbing.
Guru mendidik dan membimbing peserta didik tidak hanya dengan bahan yang disampaikan,
tetapi harus bisa menguasai karakteristik individu peserta didik. Sedangkan anak adalah
manusia yang baru tumbuh dan berkembang yang memerlukan kasih sayang, baik di sekolah,
rumah, maupun dimana saja.

2.2. Teori Menurut Para Ahli/Pakar

1. Surya, (1982 )

Setiap belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik, karena karakteristik
perilaku belajar sebagai prinsip-prinsip belajar.

2. Reber, (1988 )

Kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapih secara
mulus dan sesuai keadaan untuk mencapai hasil tertentu.

3. Bruno, ( 1987 )

Kecenderungan yangyang relatif untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang
tertentu.

4. Carl R. Rogers

Memberikan rumusan yang lebih ekplisif tentang penguasan guru terhadap karakteristik
peserta didik.

2.3. Uraian atau Penjelasan


2.3.1. Guru
Guru mempunyai peranan ganda sebagai pengajar dan pendidik. Kedua peran tersebut
bisa dilihat perbedaannya, tetapi tidak bisa dipisahkan. Tugas utama sebagai pendidik adalah
membantu mendewasakan anak. Dewasa secara psikologis, sosial, dan moral. Dewasa secara
psikologis berarti individu telah berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lainjuga telah
mampu bertanggung jawab atas perbuatannya, mampu bersifat objektif. Dewasa secara sosial
berarti telah mampu menjalin sosial dan bekerja sama dengan orang dewasa lainnya. Dewasa
secara moral yaitu telah memiliki yang ia akui sebenarnya, ia berperilaku dengan nilai-nilai
yang menjadi pegangannya.
2.3.2. Anak/ Peserta Didik
Anak adalah manusia yang baru tumbuh dan berkembang yang memerlukan kasih
sayang, baik di sekolah, rumah, maupun dimana saja. Seorang anak atau peserta didik
memiliki potensi yang ada pada diri anak tidak bisa di abaikan. Potensi itu harus
dikembangkan, mengembangkan potensi anak berarti menciptakan tanggung jawab yang
mulia kepada orang tua, namun demikian, orang tua tidak bisa sendiri perlu bekerja sama
dengan lembaga formal, yaitu sekolah. Begitu Juga dengan masyarak tempat tinggal.

2.3.3. Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik


Ada beberapa contoh karakteristik peserta didik diantaranya:

1. Senang bermain
2. Selalu ingin tahu
3. Selalu ingin mencoba
4. Ingin diperhatikan
5. Punya sipat polos
6. Suka menentang
7. Egois
8. Senang dipuji
9. Ingin bebas
10. Suka Mengganggu
11. Mendambakan kasih sayang dan rasa aman
12. Mudah Terpengaruh
13. Suka Meniru
14. Manja
15. Berani
16. Kreatif
17. Keras Kepala
18. Suka berkhayal
19. Emosi

Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik yaitu memerlukan


pemahaman tentang dirinya sendiri (Self Understanding), dan juga pemahaman tentang orang
lain (Under Standing the Other). Tanpa pemahaman yang meluas dan mendalam tentang diri
sendiri dan orang lain maka guru tidak akan memahami karakteristik peserta didik, jadi harus
dilakukannya penguasaan secara menyeluruh.
Pemahaman saja sesungguhnya belum cukup, sebab belum membuat apa-apa. Nilai hidup
seseorang di ukur oleh apa yang dia dapat berikan kepada orang lain, apa yang diberikan oleh
pendidik kepada muridnya, Dalam hubungan antar individu diberikan dalam bentuk
perlakuan, tindakan-tindakan yang bijaksana, yang tepat sesuai dengan kondisi dan situasi.
Guru menyiapkan dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas latihan dan sebagainya.
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang. Tidak jarang kita temukan orang-orang yang
memiliki gambaran diri yang kurang bahkan tidak tepat, lebih tinggi atau lebih rendah.
Individu mempunyai perasaan diri lebih superior akan memandang orang lain rendah, dan
orang rendah akan memandang orang superior tinggi tingkatannya.
Apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik maka peserta didik tidak akan
mengalami perkembangan, potensi belajarnya melemah, dan mobilitas perkembangan anak
monoton atau tidak bervariasi. Akhirnya karena potensi peserta didik merupakan dasar dalam
menentukan masa depan maka harus diperhatikan, karena menurut sebuah penelitian
mutakhir menunjukan bahwa otak manusia terdiri atas bermilyar-milyar sel aktif.

2.3.4. Tekhnik Penguasaan Peserta Didik

1. Tekhnik tes
2. Tekhnik Non tes
3. Observasi
4. Wawancara
5. Angket
6. Studi Dokumenter
7. Sosiometri
8. Otobiografi
9. Studi Kasus
10. Konferensi Ksus

2.3.5. Karakteristik Perubahan Hasil Belajar


Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh perubahan yang spesifik. Karakteristik
perilaku belajar disebut prinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri perubahan yang khas,
terdapat karakteristik perilaku belajar yang terpenting yaitu:

1. Perubahan itu intensional, perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat
pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari atau dengan
kata lain bukan kebetulan.
2. Perubahan itu positif dan aktif, perubahan yang terjadi karena proses bersifat positif
dan aktif.
3. Perubahan itu efektif dan fungsional, perubahan yang timbul karena proses belajar
bersifat efektif, yakni berhasil guna.

2.4. Pendapat Pendamping dan Penulis


Apabila guru tidak memahami karakteristik peserta didik maka peserta didik tidak
akan mengalami perkembangan, potensi belajarnya melemah, dan mobilitas perkembangan
anak monoton atau tidak bervariasi. Pemahaman individu pada dasarnya merupakan
pemahaman terhadap keseluruhan kepribadiannya dengan segala latarbelakang.
Pendapat kami bahwa cara yang epektif tentang penguasaan guru terhadap peserta
didik yaitu guru harus profesional dan guru harus bisa memahami setiap individu, dan bisa
memahami diri sendiri dan orang lain. Dalam hubungannya antara pendidik dengan peserta
didik dengan cara perlakuan atau tidak boleh adanya tali pemisah atau tidak boleh renggang
saupaya terjalin hubungan interaksi yang baik dan penguasaannya berjalan sesuai dengan
rencana yang di inginkan.
Memang susah apabila di sesuaikan dengan zaman,yang ada di lapangan dengan teori,
karena berbeda. Banyak guru yang tidak memanfaatkan hasil kuliah pendidikannya tentang
profesi kependidikan sehingga pendidikan penguasaan guru tidak stabil dan dalam posisi
yang tidak baik, dan tidak terarah sesuai dengan rencana.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam situasi pendidikian atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik
dengan guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya
merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa
dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan sedang mencari bentuk
kedewasaan.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing tidak bisa dilepaskan dari guru sebagai
pribadi. Kepribadian guru sangat berpengaruh peranannya sebagai pendidik dan pembimbing.
Guru mendidik dan membimbing peserta didik tidak hanya dengan bahan yang disampaikan,
tetapi harus bisa menguasai karakteristik individu peserta didik.
Cara penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik yaitu memerlukan pemahaman
tentang dirinya sendiri (Self Understanding), dan juga pemahaman tentang orang lain (Under
Standing the Other). Tanpa pemahaman yang meluas dan mendalam tentang diri sendiri dan
orang lain maka guru tidak akan memahami karakteristik peserta didik, jadi harus
dilakukannya penguasaan secara menyeluruh. Apabila guru tidak memahami karakteristik
peserta didik maka peserta didik tidak akan mengalami perkembangan, potensi belajarnya
melemah, dan mobilitas perkembangan anak monoton atau tidak bervariasi. Pemahaman
individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan kepribadiannya dengan
segala latarbelakang.

3.2.Saran
Guru harus menjadi guru profesional dan harus bisa memahami karakteristik peserta didik
supaya peserta didik mengalami perkembangan, potensi belajarnyamelesat atau normal, dan
mobilitas perkembangan anak bervariasi.
8
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang.
Pemahaman individu pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap keseluruhan
kepribadiannya dengan segala latarbelakang. Tidak jarang kita temukan orang-orang yang
memiliki gambaran diri yang kurang bahkan tidak tepat, lebih tinggi atau lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Depdikbud.
Syah, Muhibbin. (2009). Psikologi Belajar. Jakarta: Depdikbud.
Aqib, Zainal. (2008).Sekolah Ramah Anak, Mencegah Kekerasan dalam Sekolah. Bandung.
Yamin, Martinis. (2010). Kiat Penguasaan Siswa. Bandung.