You are on page 1of 15

GAMBARAN TINDAKAN KEPERAWATAN DALAM PEMENUHAN ACTIVITY

DAILY LIVING PASIEN FRAKTUR


DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING

NASKAH PUBLIKASI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh
Derajat Sarjana Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh
BANU EMAN SUSETYA
20120320122

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
LEMBAR PENGESAHAN

NASKAH PUBLIKASI

GAMBARAN TINDAKAN KEPERAWATAN DALAM PEMENUHAN ACTIVITY

DAILY LIVING PASIEN FRAKTUR

DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING

Telah disetujui pada 2 Agustus 2016

Oleh:

BANU EMAN SUSETYA

20120320122

Pembimbing

Novita Kurnia Sari, S.Kep., Ns., M.Kep (...............................)

Penguji

Yanuar Primanda, S.Kep., Ns., MNS., HNC (...............................)

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sri Sumaryani, S.Kep., Ns., M. Kep., Sp. Mat., HNC


1

Representation of Nursing Care in Activity Daily Living Fulfillment on Patient with


Fracture in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital

Gambaran Tindakan Keperawatan dalam Pemenuhan Activity Daily Living Pasien


Fraktur di Rs PKU Muhammadiyah Gamping

Banu Eman Susetya1, Novita Kurnia Sari2


1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY, 2Dosen Program Studi
Ilmu Keperawatan FKIK UMY

ABSTRACT

Background: One of the nursing diagnosis in patients fracture is impaired mobility physically
or physical limitations on the movement of the body independently that causes patients can not
meet their needs independently, so the nurses have a responsibility to help fulfillment the of the
patients needs including the needs of Daily Living Activity. The aimed of the study is to knew
the overview of nursing intervention in fulfillment of Daily Living Activity in fracture patients
at PKU Muhammadiyah Hospital of Gamping.
Methods: This study is a descriptive study with cross sectional study design. Samples in this
study as much as 55 patients with extremity fractures were hospitalized at PKU
Muhammadiyah Hospitalof Gamping, and using accidental sampling technique. Instruments
in this study using questionnaires "Questionnaire Sheet Measures in Fulfillment ADL Nursing
Patient Fracture" made by researcher and has been tested for validity and reliability. Analysis
of the data in this study using descriptive analysis to knowing the distribution, frequency and
percentage of variable.
Results: The results showed 14 respondents (25.5%) stated that the nursing interventions in
fulfillment of Daily Living Activity is less, 37 respondents (67.3%) stated quite nursing
interventions and 4 respondents (7.3%) stated that nursing interventions is good.
Conclusion: The overview of nursing interventions in fulfillment of Daily Living Activity
fracture patients at PKU Muhammadiyah Hospital of Gamping in the enough category. Nurses
are expected to provide more nursing interventions to meet the needs of daily living activity
fracture patients and next researchers could do similar research with patient respondents who
had other nursing diagnosis.

Keywords: Nursing Measures, Activity Daily Living, Fracture.


2

INTISARI

Latar Belakang: Salah satu masalah keperawatan pasien fraktur adalah keterbatasan pada
pergerakan fisik tubuh secara mandiri yang menyebabkan pasien tidak dapat memenuhi
kebutuhannya secara mandiri, sehingga perawat memiliki tugas untuk membantu pemenuhan
kebutuhan pasien termasuk kebutuhan activity daily living. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mendapatkan gambaran tindakan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan activity
daily living pada pasien fraktur di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross
sectional study. Sampel pada penelitian ini adalah 55 pasien fraktur ekstremitas yang di rawat
inap di RS PKU Muhammadiyah Gamping yang diambil menggunakan teknik accidental
sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Lembar Kuisioner
Tindakan Keperawatan dalam Pemenuhan ADL Pasien Fraktur yang dibuat sendiri oleh
peneliti dan telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan
analisis deskriptif untuk mengetahui distribusi, frekuensi dan persentase dari variable.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan 14 responden (25,5%) menyatakan
tindakan keperawatan dalam pemenuhan activity daily living adalah kurang, 37 responden
(67,3%) menyatakan tindakan keperawatannya cukup dan 4 responden (7,3%) menyatakan
tindakan keperawatannya baik.
Kesimpulan: Gambaran tindakan keperawatan dalam pemenuhan activity daily living pasien
fraktur di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada kategori cukup. Perawat
diharapkan untuk lebih memberikan tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan activity
daily living pasien fraktur dan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian sejenis dengan
responden pasien yang memiliki gangguan kesehatan lainnya.

Kata Kunci: Tindakan Keperawatan, Activity Daily Living, Fraktur.


3

PENDAHULUAN mempengaruhi kemampuan seseorang


Perawat adalah tenaga kerja yang untuk memenuhi kebutuhan ADL adalah
memiliki kemampuan dan kewenangan kondisi fisik, misalnya fraktur (Askarudin,
melakukan tindakan keperawatan 2006). Fraktur adalah patah tulang atau
berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
diperoleh melalui pendidikan ditentukan sesuai jenis dan luasnya2. Salah
keperawatan1. Perawat sebagai tenaga satu fungsi dari tulang sendiri adalah
kesehatan yang selalu kontak dengan memberikan pergerakan (otot yang
pasien dan memiliki tugas melakukan berhubungan dengan kontraksi dan
pelayanan keperawatan diharapkan dapat pergerakan) sehingga pada pasien fraktur
membantu memenuhi kebutuhan self care membutuhkan intervensi keperawatan
pasien. immobilisasi4. Immobilisasi atau hambatan
Salah satu kebutuhan pasien adalah mobilitas fisik adalah keterbatasan pada
pemenuhan ADL, yaitu aktivitas perawatan pergerakan fisik tubuh atau satu lebih
diri yang harus pasien lakukan setiap hari ekstremitas secara mandiri dan terarah.
untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan Keadaan imobilisasi ini menyebabkan
hidup sehari-hari2. Istilah ADL mencakup pasien tidak dapat memenuhi kebutuhannya
perawatan diri (berpakaian, makan dan secara mandiri, sehingga memerlukan
minum, toileting, mandi, berhias, bantuan perawat dalam pemenuhan
menyiapkan makanan, memakai telfon, kebutuhannya termasuk dalam pemenuhan
menulis, mengelola uang, dan sebagainya) kebutuhan ADL. Pernyataan tersebut sesuai
dan mobilitas (seperti berguling di tempat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
tidur, bangun dan duduk, transfer/bergeser Haryanti di RSO Prof. Dr. Soeharso
dari tempat tidur ke kursi atau dari satu Surakarta diperoleh data ketergantungan
tempat ke tempat lain)3. ADL pada pasien fraktur femur sebagai
Kemampuan setiap orang dalam berikut. Pada hari kedua, pasien dengan
pemenuhan ADL dipengaruhi beberapa tingkat ketergantungan tinggi sebanyak 17
faktor. Salah satu faktor yang orang (56,7 %), pasien dengan tingkat

1
Republik Indonesia. (1992). Undang-Undang Lansia di Panti Werdha Pelkris Elim Semarang
Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 Tentang dengan Menggunakan Berg Balance Scale Dan
Tenaga Kesehatan. Indeks Barthel. Tesis, Universitas Diponegoro,
Semarang.
2
Smeltzer, & C, Suzanne. (2001). Keperawatan 4
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Buku Ajar
Medical Bedah Brunner & Suddarth (8th ed., Vol. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan
1). Alih bahasa oleh Y. Asih. Jakarta: EGC. Praktik (4 ed., Vol. 1). Alih bahasa oleh Y. Asih, M.
3
Sugiarto, A.S. (2005). Penilaian Keseimbangan Sumarwati, D. Evriyani, L. Mahmudah, E.
dengan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari pada Panggabean, Kusrini, E. Novieastari. Jakarta: EGC.
4

ketergantungan sedang sebanyak 13 orang pemenuhan kebutuhan activity daily living


(43,3 %), dan tidak terdapat pasien dengan pasien fraktur di RS PKU Muhammadiyah
tingkat ketegantungan rendah. Pada hari 2 Yogyakarta. Populasi pada penelitian
kelima diperoleh data tingkat menggunakan populasi terjangkau yaitu
ketergantungan tinggi sebanyak 6 orang (20 pasien rawat inap post operasi fraktur di RS
%), tingkat ketergantungan sedang PKU Muahammadiyah Gamping pada
sebanyak 17 orang (56,7 %), dan pasien bulan Oktober 2015 sampai bulan Januari
dengan tingkat ketergantungan rendah 2016 yang berjumlah 126 pasien.
sebanyak 7 orang (23,31), oleh karena itu Penentuan jumlah sampel pada penelitian
tugas seorang perawat dalam hal ini adalah ini menggunakan rumus Slovin dengan
membantu pasien tersebut dalam teknik accidental sampling
memenuhi ADL sebagai penunjang Variabel dalam penelitian ini adalah
pemenuhan kebutuhannya5. variabel tunggal yaitu gambaran tindakan
Melihat fenomena pemenuhan ADL keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan
pasien dan betapa pentingnya peran activity daily living pasien fraktur.
perawat dalam memenuhi kebutuhan ADL Instrumen dalam penelitian ini adalah
pasien fraktur di rumah sakit serta tingginya kuesioner dan dibuat sendiri oleh peneliti
angka pasien yang dirawat di rumah sakit yang terdiri dari keusioner data demografi
PKU Muhammadiyah Gamping, maka dan kuesioner tindakan keperawatan dalam
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pemenuhan ADL pasien fraktur yang berisi
dengan judul Gambaran Tindakan 23 pertanyaan dengan bentuk pertanyaan
Keperawatan dalam Pemenuhan ADL tertutup. Pengambilan data penelitian
Pasien Fraktur di Rumah Sakit PKU dilakukan dengan cara meminta responden
Muhammadiyah Gamping. mengisi kuesioner yang telah dipersiapkan.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan desain penelitian cross
sectional study untuk mengetahui
gambaran tidakan perawat dalam
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5
Haryanti, E., T. (2002). Tingkat Ketergantungan DR. Soeharso Surakarta. Karya Tulis Ilmiah strata
Aktivitas Dasar Sehari-hari (ADS) pada Pasien satu, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Fraktur Femur di Bangsal Rawat Inap RSO. PROF.
5

Tabel 1. Distribusi frekuensi data demografi responden pasien fraktur


Data Karakteristik Frekuensi Persentase
Usia
18-40 Tahun 35 63,6
40-60 Tahun 17 30,9
>60 Tahun 3 5,5
Jenis Kelamin
Laki-laki 29 52,7
Perempuan 26 47,3
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan rendah 43 78,2
Tingkat pendidikan tinggi 12 21,8
Lama dirawat
2 hari 35 63,6
3 hari 20 36,4
Tulang yang patah
Ekstremitas atas 27 49,1
Ekstremitas bawah 28 50,9
Sumber: 2016
Berdasarkan tabel 1. dari penelitian yang rasional ini memungkinkan mereka untuk
dilakukan dari bulan Oktober 2015 sampai mampu menginterpretasikan stimulus yang
bulan Januari 2016, diperoleh 55 diterima sehingga bisa memberikan
responden. Berdasarkan tabel 1, bahwa persepsi yang positif terhadap tindakan
karakteristik pasien fraktur di Rumah Sakit keperawatan yang diterimanya6.
PKU Muhammadiyah Gamping tahun 2016 Berdasarkan tabel 1. jenis kelamin
berdasarkan usia terbanyak adalah terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki
responden usia dewasa awal (18-40 tahun) yaitu 29 responden (52,7%), dimana
yaitu 35 responden (63,6%), dimana dari persepsi pasien dengan jenis kelamin laki-
sudut pandang psikologi perkembangan laki cenderung lebih cepat memberikan
manusia, masuk kedalam kategori masa persepsi positif dibanding perempuan.
dewasa awal dan kebiasaan berfikir Berdasarkan tabel 1. karakteristik
rasional meningkat secara tetap pada masa berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak
dewasa awal dan tengah, cara berfikir yang adalah responden dengan kategori tingkat

6
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu
Pendekatan Sepanjang Ruang Kehidupan. Edisi 5. Jakarta:
Erlangga.
6

pendidikan rendah yaitu 43 responden tulang ekstremitas bawah yaitu 28


(78,2%), dimana tingkat pendidikan responden (50,9%), dimana persepsi pasien
seseorang akan berpengaruh dalam dengan fraktur ekstremitas bawah
mempersepsikan sesuatu, semakin tinggi cenderung positif, hal ini sesuai dengan
pendidikan seseorang maka kesempatan dia pernyataan Leafit individu cenderung
untuk memperoleh informasi dan melihat kepada hal-hal yang mereka
pengetahuan akan semakin lebar, sehinga anggap akan memuaskan kebutuhan-
seseorang dengan pendidikan yang tinggi kebutuhan mereka dan mengabaikan hal-
dapat memberikan respon yang lebih hal yang dianggap
rasional terhadap informasi yang datang7. merugikan/mengganggu.
Sehingga pasien dengan tingkat pendidikan Tabel 2. Distribusi Tindakan
rendah beresiko memberikan persepsi Keperawatan dalam Pemenuhan ADL
negative terhadap tindakan keperawatan Pasien Fraktur PKU Muhammadiyah
ayng di terimanya. Gamping Bulan April-Mei 2016 (n=55)
Berdasarkan tabel 1. karakteristik Data Frekuens Persentas
berdasarkan lama dirawat terbanyak adalah Karakteristik i e
responden yang sudah dirawat selama 2 Kurang 14 25,5
hari yaitu 35 responden (63,6%), dimana Cukup 37 67,3
persepsi pasien yang sudah di rawat selama Baik 4 7,3
2 hari cenderung positif karena pasien Sumber: 2016
sudah mendapatkan pengalaman dirawat Berdasarkan tabel 2 diketahui hasil data
pada hari sebelumnya hal ini sesuai dengan penelitian tindakan keperawatan dalam
pernyataan Robbins yaitu salah satu pemenuhan ADL pasien fraktur pada 55
penyebab munculnya persepsi positif pasien menggambarkan sebagian besar
seseorang karena adanya pengetahuan serta responden mendapatkan tindakan
pengalaman individu terhadap objek yang keperawatan dalam pemenuhan activity
dipersepsikan8. daily living atau aktivitas kehidupan sehari-
Berdasarkan tabel 1. karakteristik hari dalam kategori cukup. (67,3%) artinya
berdasarkan tulang yang patah terbanyak perawat di rumah sakit PKU
adalah responden dengan jenis fraktur Muhammadiyah Gamping berperan cukup

7 8
Anjaryani, Diah. (2009). Kepuasan pasien rawat Robbins, S.P. (2002). Prinsip-Prinsip Perilaku
inap Terhadap pelayanan perawat di rsud tugurejo Organisasi. Edisi Kelima (Terjemahan). Jakarta:
semarang. Tesis. Universitas Diponegoro, Penerbit Erlangga.
Semarang.
7

dalam membantu memenuhi kebutuhan mengembangkan diri, hal tersebut juga


ADL pasien fraktur. Hasil ini sesuai dengan berhubungan dengan pernyataan Tanjary
hasil penelitian yang dilakukan oleh Erlin yang menyebutkan bahwa pendidikan
& Joeharno yang menunjukkan bahwa perawat juga berpengaruh terhadap kinerja
sebagian besar responden telah memiliki karena semakin tinggi pendidikan yang
kinerja pada kategori cukup (64,8%) yang ditempuh semakin banyak ilmu
memberikan gambaran tentang pengetahuan serta keterampilan yang
kemampuan tenaga perawat dalam dimiliki sehingga akan dapat membantu
memberikan pelayanan kesehatan secara dalam meningkatkan atau mengembangkan
maksimal kepada pasien dan keluarganya9. kinerjanya9. Rumah sakit PKU
Walaupun hasil penelitian ini sudah Muhammadiyah Gamping memiliki 168
sesuai dengan konsep yang dikemukakan perawat dengan tingkat pendidikan perawat
oleh Orem tentang perawat harus berperan D3 sebanyak 122 perawat, sarjana
dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri sebanyak 45 perawat dan perawat spesialis
pasien untuk menerapkan kemandirian dan sebanyak 1 perawat, tingkat pendidikan
kesehatan yang optimal, namun hasil perawat sarjana dan spesialis yang masih
penelitian ini masih menunjukkan peranan jauh lebih sedikit dibanding perawat vokasi
perawat dalam dalam kategori cukup yang inilah yang menyebabkan peranan perawat
diharapkan peranan perawat dalam dalam memenuhi kebutuhan pasien belum
pemenuhan kebutuhan ADL pasien dalam bisa maksimal. Hal ini didukung dengan
kategori tertinggi yaitu baik. hasil penelitian Kumajas dkk hasil
Adapun beberapa faktor yang penelitian menggunakan uji chi-square
menghambat dalam memberikan tindakan diperoleh nilai p=0,000<0,05, yang
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan menunjukan adanya hubungan yang
pasien menurut Erlin dalam Amirullah alah bermakna antara tingkat pendidikan dengan
tingkat pendidikan dan lama kerja10. kinerja perawat dalam memberikan
Tingkat pendidikan. Pendidikan tindakan keperawatan dan terdapat 14
merupakan salah satu kebutuhan dasar (73,7%) perawat dengan tingkat pendidikan
manusia yang diperlukan untuk rendah memiliki kinerja yang kurang dan

9 10
Erlin, N., & Joeharno. (2014). Kineja Perawat Amirullah. 2013. Metodelogi Penelitian
dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan di Manajemen : Disertai Contoh Judul Penelitian dan
Rumah sakit dan Faktor yang Mempengaruhinya. Proposal, Malang: Bayumedia Publising Anggota
Diakses 2 Agustus 2016 dari IKAPI.
https://www.scribd.com/doc/41024969/kinerja-
perawat.
8

16 perawat (100%) dengan tingkat psikis seseorang, dimana dengan


pendidikan tinggi memiliki kinerja yang bertambahnya usia seorang perawat
baik11. cenderung mengalami perubahan potensi
Faktor yang mempengaruhi perawat kerja. Perawat yang lebih senior cenderung
dalam memberikan tindakan keperawatan lebih baik prestasinya karena mereka lebih
lainnya adalah lama kerja perawat, semakin mampu menyesuaikan diri dengan
lama seseorang bekerja semakin tinggi pula lingkungannya dan mereka cenderung lebih
produktivitas yang diharapakan darinya stabil emosinya sehingga dapat bekerja
karena semakin berpengalaman dan lebih lancar, teratur dan mantap. Hasil ini
mempunyai keterampilan yang baik dalam didukung oleh penelitian yang dilakukan
menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh Gibson dalam Nugroho yang
kepadanya.9 Jumlah perawat di rumah sakit menyatakan ada hubungan umur dengan
PKU Muhammadiyah Gamping dengan kinerja perawat yang positif. 13 dari jumlah
lama bekerja kurang dari 5 tahun kerja seluruh perawat di rumah sakit PKU
sebanyak 111 perawat sedangkan perawat Muhammadiyah Gamping perawat dengan
yang sudah berkerja lebih dari 5 tahun usia dibawah 30 tahun berjumlah 116
berjumlah 56 perawat. Hal ini yang menjadi perawat, sedangkan perawat yang berusia
salah satu faktor yang menyebabkan kinerja diatas 30 tahun berjumlah 52 perawat.
perawat belum bisa maksimal, hal ini Perawat yang berusia diatas 30 tahun
didukung oleh penelitian yang dlakukan jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding
oleh Dewi dengan hasil masa sebagian perawat yang berusia dibawah 30 tahun,
besar responden perawat yang memiliki hasil didukung oleh penelitian yang
masa kerja lebih dari 5 tahun (57,5%) dilakukan oleh Dewi.11 dengan hasil
diketahui memiliki kinerja yang tinggi12. responden perawat yang berusia >30 tahun
Faktor yang mempengaruhi perawat (55,9%) diketahui memiliki kinerja yang
dalam memberikan tindakan keperawatan tinggi. hal ini akan berpengaruh pada
lainnya adalah usia, menurut Nugroho yang kinerja perawat dalam memberikan asuhan
menyatakan umur mempengaruhi fisik dan keperawatan seperti yang dinyatakan oleh

11
Kumajas., Fisella., Wilfin. (2014). Hubungan stroke di rsud dr. Moewardi Surakarta. Jurnal
Karakteristik Dengan Kinerja Perawat Di Ruang GASTER Vol. XIV No. 1. Sekolah Tinggi Ilmu
Rawat Inap Penyakit Dalam Rsud Datoe Kesehatan Aisyiyah Surakarta, Surakarta.
13
Binangkang Kabupaten Bolaang Mongondow. Nugroho, M.K. 2004. Analisis Faktor-Faktor
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Yang Berhubungan Dengan Kinerja
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Perawat Pegawai Daerah Di Puskesmas Kabupaten
12
Dewi, M., & Mulyaningsing. (2016). Peran Kudus (Tesis).
perawat dalam pemenuhan kebutuhan dasar Semarang : Universitas Diponegoro
Mempengaruhi tingkat kepuasan keluarga Pasien
9

Erickson dan Grove penelitiannya pemberian paket kebutuhan individu untuk


menemukan bahwa perawat yang berusia di mandi seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi
atas 30 tahun memiliki kemampuan untuk dan shampo, peneliti menemukan pada
manajemen untuk yang lebih baik beberapa pasien kelas rawat inap 3 hingga
dibandingkan perawat yang berusia kurang hari ke 2 perawatan tidak mendapatkan
dari atau sama dengan 30 tahun. Demikian kebutuhan mandi individu, hal ini menjadi
sehingga hasil persentase perawat berusia salah satu alasan kurangnya pemenuhan
lebih dari 30 tahun yang mencapai 55,7% kebersihan diri & mandi pada pasien oleh
dalam penelitian ini kemungkinan berperan perawat. Hal ini sesuai dengan hasil
dalam menyumbangkan tingginya penelitian yang dilakukan oleh Mathius dkk
persentase perawat dengan kinerja yang (2014) yang menyatakan hasil penelitian
tinggi pada penelitian ini. menunjukkan bahwa responden yang
Hasil observasi peneliti selama merasa fasilitas kerja di Rumah Sakit cukup
melakukan penelitian adalah fasilitas, ada sebanyak 81 orang (86,2%) dengan nilai
beberapa fasilitas yang menurut peneliti = 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa ada
belum terpenuhi secara maksimal untuk hubungan yang signifikan antara fasilitas
menunjang pemenuhan kebutuhan ADL kerja dengan kinerja perawat di RS.
seluruh pasien, salah satunya adalah Bhayangkara Makassar.
Tabel 3 Distribusi Tindakan Keperawatan dalam Pemenuhan ADL Pasien Fraktur PKU
Muhammadiyah Gamping Tiap Kategori Bulan April-Mei 2016 (n=55)

Kategori ADL Jumlah Nilai Presentas Kategori


Tindaka Maksim e pemenuha
n al Terpenuh n
Tindaka i (%)
n
Makan 145 330 43,9 Cukup
Mandi & Kebersihan 107 330 32 Kurang
Diri
Berpakaian 90 165 54,5 Cukup
Berpindah 132 220 60 Cukup
Penggunaan Toilet 77 220 35 Cukup
Sumber: 2016 Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui
bahwa pemenuhan kategori ADL dari
10

presentasi terendah terpenuhinya adalah sarana yang digunakan dalam pelayanan


kategori mandi dan kebersihan diri kesehatan untuk membantu kelancaran
(32,4%), penggunaan toilet (35%), kegiatan pelayanan. Jika dalam
berpakaian (54,5%), makan (43,9%) dan melaksananakan perawatan dengan
berpindah (60%). keterbatasan sarana dan peralatan maka
Hasil penelitian menunjukkan sangat mempengaruhi keberhasilan
pemenuhan ADL paling sedikit dipenuhi tindakan tersebut. Pernyataan ini didukung
oleh perawat adalah kategori mandi, selain oleh hasil penelitian Aridah yang
itu kategori ini adalah satu-satunya kategori menyatakan yaitu ada hubungan yang
yang dipenuhi oleh perawat dalam kategori bermakna antara fasilitas penunjang dengan
kurang. Hasil ini tidak sesuai dengan hasil pelaksanaan proses keperawatan di Ruang
penelitian yang dilakukan oleh Rosanna meranti, kenanga, dan Cempaka BPRS
(2013) dengan hasil bahwa seluruh Dadi Makassar dan diperkuat oleh hasil
reponden perawat 100% (20 orang) penelitian yang dilakukan oleh
berperan baik dalam kebersihan diri Lumembang yang menyatakan dari 10
pasien.14 Kurangnya peran perawat dalam responden perawat dengan ketersediaan
pemenuhan ADL kategori mandi & fasilitas yang cukup terdapat 6 responden
kebersihan diri menurut peneliti disebabkan yang perannya terlaksana, hal ini
oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan menggambarkan bahwa dengan fasilitas
fasilitas. Fasilitas penunjang yang yang cukup tersedia dapat digunakan oleh
diberikan oleh rumah sakit PKU responden dalam melakukan tindakan-
Muhammadiyah Gamping dalam tindakan keperawatan salah satunya
pemenuhan kebutuhan ADL mandi pasien tindakan pemenuhan kebutuhan personal
seperti kamar mandi di setiap kamar, air hygiene klien.
hangat dan dingin menggunakan shower Kategori ADL selanjutnya adalah
atau baskom, serta waslap secara kategori toileting, kategori ini adalah
keseluruhan sudah terpenuhi hanya saja kategori presentase terendah terpenuhi
peneliti menemukan beberapa pasien tidak urutan kedua, walaupun sudah masuk
mendapatkan paket mandi individu seperti dalam kategori cukup, diharapkan para
sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, perawat dapat memenuhi kebutuhan ADL
shampoo dan handuk. Fasilitas adalah toileting. Menurut peneliti hal ini terjadi

14
Rossana., & Anita. (2013). Gambaran Peran Diri di RSJ Pemprovsu Medan. Skripsi strata satu,
Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Universitas Sumatera Utara, Sumatera
Pasien Gangguan Jiwa dengan Defisit Perawatan
11

bukan karena dari faktor perawat tetapi dari Kategori ADL selanjutnya adalah kategori
faktor pasien, pasien lebih nyaman dibantu berpakaian, dari hasil penelitian yang dapat
oleh keluarga yang menunggu dalam dilihat pada lampiran 6, diketahui tindakan
pemenuhan eliminasi, sehingga dalam dengan jumlah terendah dilakukan oleh
pemenuhan kebutuhan toileting Rumah perawat pada ADL berpakaian adalah
Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pemberian informasi tentang pakaian yang
hanya sebatas penyiapan alat-alatnya dianjurkan untuk dipakai pasien.
seperti pispot dan menawarkan Kategori ADL selanjutnya adalah kategori
pemasangan kateter. berpindah, kategori ini adalah kategori
Kategori ADL selanjutnya adalah ADL paling tinggi tingkat pemenuhannya
kategori makan dari hasil penelitian yang oleh perawat pada penelitian ini, namun
dapat dilihat pada lampiran 6, diketahui walaupun menjadi kategori tertinggi,
tindakan dengan jumlah terendah dilakukan pemenuhan ADL berpindah masih dalam
oleh perawat pada ADL makan adalah kategori cukup, yang diharapkan
perawat belum memberikan informasi pemenuhan seluruh ADL dalam kategori
tentang posisi yang benar untuk makan di baik, terlebih pemenuhan ADL berpindah
tempat tidur. Menurut peneliti hal ini tidak hanya untuk mencukupi pemenuhan
disebabkan karena pengalaman kerja kebutuhan dasarnya saja, tetapi juga
perawat yang masih kurang. Mayoritas sebagai pemenuhan kebutuhan rehabilitasi
perawat di rumah sakit PKU pasien fraktur, seperti pendapat Lestari
Muhammadiyah Gamping memiliki masa dalam penelitiannya yang menyatakan
bekerja selama 1-5 tahun. Pengalaman pasien masih mempunyai kekhawatiran
kerja adalah waktu yang digunakan oleh kalau tubuh digerakkan pada posisi tertentu
seseorang untuk memperoleh pengetahuan, pasca operasi akan mempengaruhi luka
keterampilan, dan sikap sesuai dengan operasi yang masih belum sembuh yang
tugas yang dibebankan kepadanya. baru saja selesai dikerjakan. Padahal tidak
Pendapat lain menyatakan bahwa sepenuhnya masalah ini perlu
pengalaman kerja adalah lamanya dikhawatirkan, bahkan justru hamper
seseorang melaksanakan frekuensi dan semua jenis operasi membutuhkan
jenis tugas sesuai dengan kemampuannya . mobilisasi atau pergerakan badan sedini
Kurangnya pengalaman kerja perawat mungkin. Disamping itu dengan adanya
inilah yang menjadi faktor perawat belum intervensi langsung yang dilakukan
maksimal dalam memenuhi kebutuhan perawat dalam memberikan perhatian pada
ADL pasien kategori makan. mobilisasi dini menyebabkan
12

pasien/responden mernjadi lebih berani dan perawat dalam dalam pemenuhan ADL
tidak merasa khawatir akan terjadi hal-hal pasien seperti melengkapi fasilitas
yang tidak diinginkan. Mereka menjadi untuk menunjang perawat dalam
lebih semangat melakukan latihan aktivitas pemenuhan kebutuhan ADL pasien.
dan kondisi tersebut dapat meningkatkan 2. Bagi Praktek Keperawatan
motivasi dan kemandirian pasien, dengan Diharapkan perawat memiliki
demikian pasien dapat cepat dipulangkan, keterampilan untuk lebih
lama hari rawat pasien post operasi fraktur memperhatikan dan memenuhi
ekstremitas bawah dapat dipersingkat, kebutuhan Activity Daily Living pasien
sehingga biaya perawatan dan pengobatan fraktur.
dapat pula diminimalkan. 3. Bagi Pendidikan Keperawatan
Bagi pendidikan agar lebih
meningkatkan mutu pembelajaran dan
KESIMPULAN DAN SARAN
pelatihan untuk keterampilan dalam
Berdasarkan hasil penelitian di RS PKU memenuhi kebutuhan Activity Daily
Muhammadiyah Gamping, diketahui Living pada pasien fraktur.
mayoritas sebanyak 37 pasien (63,7%) 4. Bagi Peneliti Selanjutnya
mengatakan pemenuhan Activity Daily Untuk peneliti selanjutnya,
Living oleh perawat pada kategori cukup, diharapkan penelitian ini dapat menjadi
sehingga dapat disimpulkan bahwa refrensi data mengenai peran perawat
gambaran tindakan keperawatan dalam dalam memenuhi kebutuhan Activity
pemenuhan ADL pasien fraktur di Rumah Daily Living dan sebaiknya waktu
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta penelitian diperpanjang serta jumlah
adalah cukup. responden ditambah, agar hasilnya
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan lebih baik lagi dan diharapkan dapat
oleh peneliti, ada beberapa saran yang ingin meneliti tindakan keperawatan dalam
disampaikan oleh peneliti, yaitu : pemenuhan kebutuhan ADL pada
1. Bagi Rumah Sakit pasien yang memiliki gangguan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat kesehatan lainnya.
memberikan masukan bagi rumah sakit
terkait untuk meningkatkan pelayanan
13