You are on page 1of 7

JAKARTA, KOMPAS.

com
-- Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dari level 1-9 menjadi acuan untuk
pembangunan sumber daya manusia dan tenaga kerja Indonesia. Pengakuan kualifikasi tidak
hanya mengacu pada pendidikan formal, tetapi juga pelatihan yang didapat di luar pendidikan
formal, pembelajaran mandiri, dan pengalaman kerja.
KKNI yang secara resmi dimiliki Indonesia sejak tahun lalu lewat Peraturan Pemerintah Nomor
8 Tahun 2012 tentang KKNI saat ini mulai gencar disosialisasikan, termasuk kepada kalangan
perguruan tinggi. Implementasi KKNI ditargetkan tahun 2016, yakni penyetaraan antara
kualifikasi lulusan dengan kualifikasi KKNI, pengalaman pembelajaran lampau (PPL),
pendidikan multi entry dan multi exit, dan pendidikan sistem terbuka.
"KKNI ini untuk memfasilitasi belajar sepanjang hayat dan penyetaraan. KKNI ini akan menjadi
rujukan dalam kurikulum dan penjaminan mutu pendidikan. Untuk itu, capaian belajar lulusan
atau learning outcomes dari proses pendidikan harus mengacu pada KKNI," kata Direktur
Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Illa Saillah, Selasa (2/4/2013) di Jakarta.
KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,
menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta
pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur
pekerjaan di berbagai sektor. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia
terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia.
Setiap jenjang kualifikasi pada KKNI memiliki kesetaraan dengan capaian pembelajaran yang
dihasilkan melalui pendidikan, pelatihan kerja atau pengalaman kerja. Jenjang 1-3
dikelompokkan dalam jabatan operator, jenjang 4-6 dalam jabatan teknisi atau analis, serta
jenjang 7-9 jabatan ahli.
Lulusan pendidikan dasar setara dengan jenjang 1; lulusan pendidikan menengah paling rendah
setara dengan jenjang 2; Diploma 1 paling rendah setara dengan jenjang 3; lulusan Diploma 4
atau Sarjana Terapan dan Sarjana paling rendah setara dengan jenjang 6; dan seterusnya hingga
jenjang 9 doktor dan doktor terapan.
Menurut Illa, KKNI yang disusun oleh Kementerian Tenga Kerja Transmigrasi dan
Kemendikbud ini, menjadi acauan untuk sumber daya manusia Indonesia dan asing yang bekerja
di Indonesia. "Selama ini, kita di luar negeri selalu ditanya kerangka kualifikasi nasional. Jadi,
KKNI adalah jati diri bangsa sebagai penilaian kesetaraan da pengakuan kualifikasi, baik untuk
SDM Indonesia maupun asing," kata Illa.
Dengan adanya KKNI, pengakuan kualifikasi tidak mengacu pada pendidikan semata, tetapi juga
pelatihan dan pengalaman kerja. Nantinya diperlukan adanya sertifikasi kompetensi.
Menurut Illa, di jenjang pendidikan tinggi saat ini masih perlu penyesuaian dengan KKNI.
"Untuk guru misalnya, akan berada di level 7, yakni S1 dan pendidikan profesi guru. Guru
dituntut untuk bisa melakukan riset, seperti penelitian tindakan kelas sesuai dengan krieteria di
level 7," jelas Illa.
Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi, Nizam mengatakan, pencapaian level pada KKNI bisa
melalui berbagai jalur. KKNI ini merupakan perpaduan antara pendidikan formal,
profesionalisme, pengalaman kerja, dan karir.
Penulis : Ester Lince Napitupulu
Editor : Nasru Alam Aziz

Integrasi Sistem Pendidikan dan Sertifikasi Berbasis KKNI

KABAR 15 JUN 2015

image: http://ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2015/06/Senin-15-Juni-2015-Integrasi-Sistem-
Pendidikan-dan-Sertifikasi-Berbasis-KKNI.jpg
Pada Senin 15 Juni 2015 Kementerian Keuangan bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi
Profesi (LSP) Teknisi Akuntansi dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mengadakan
Seminar Nasional Integrasi Sistem Pendidikan dan Sertifikasi berbasis KKNI Sebagai Strategi
Pemenangan di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN di Aula Mezzanine Gedung Juanda
Kementerian Keuangan. Salah satu keynote speech pada acara tersebut adalah Menristekdikti,
dengan tema Arah Strategi Sistem Pendidikan Nasional Dalam Rangka Menghasilkan SDM
yang Kompeten.

Sistem pendidikan nasional merupakan keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait
secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sesuai UUD 1945 untuk
menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa, maka dalam memajukan
pengetahuan dan teknologi kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa
untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Menristekdikti M. Nasir mengatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin
pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan, mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan sehingga
perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 menuntut kesiapan semua elemen termasuk institusi
pendidikan di semua tingkat. Kita harus mempersiapkan diri dengan meningkatkan mutu
pendidikan, reset, dan inovasi sehingga mampu meningkatkan daya saing bangsa. Salah satu
strateginya adalah melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI dapat
menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dengan bidang
pelatihan kerja dan pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja
sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.

Menristekdikti juga menghimbau agar perguruan tinggi senantiasa melakukan pengembangan


dan mengimplementasikan secara progresif Sistem Penjaminan Mutu Internal, meningkatkan
kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan, meningkatkan kualitas
kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, memberikan penjaminan pengakuan kompetensi kerja
lulusan melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan organisasi profesi, lembaga pelatihan,
atau lembaga sertifikasi profesi independen yang telah terakreditasi. (flh/humasristek

Read more at http://ristekdikti.go.id/open-124/#eDUvRYXpKxgQd1lX.99

Dengan KKNI, Tenaga Terampil Dapat Disetarakan dengan Sarjana 04 April 2014 Back
Jakarta, Kemdikbud --- Pemerintah siap menerapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
(KKNI) pada tahun 2015. KKNI merupakan penjenjangan kualifikasi, dan kompetensi tenaga
kerja yang menyandingkan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan serta pengalaman kerja.
Melalui skema ini, seseorang yang memiliki keterampilan dengan tingkat tertentu dapat
disetarakan dengan sarjana (S1), bahkan doktor (S3).
KKNI terdiri dari sembilan jenjang kualifikasi, dimulai dari jenjang 1 sebagai jenjang terendah
sampai dengan 9 sebagai jenjang tertinggi. Seorang pekerja dengan jabatan operator yang telah
berpengalaman dan mengikuti sejumlah pelatihan kerja dapat disetarakan hingga diploma 1.
Sedangkan teknisi atau analis yang memiliki jenjang 6 dapat disetarakan dengan sarjana (S1),
dan seorang ahli dengan jenjang 9 dapat disetarakan dengan seorang doktor (S3).
KKNI disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan atau pelatihan yang diperoleh melalui
pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja, ujar Dirjen Pendidikan Anak
Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi, di Jakarta,
(2/4/2014). Ia menjelaskan, kualifikasi yang terdiri dari 9 jenjang merupakan tingkat capaian
pembelajaran yang disepakati secara nasional.
Sampai saat ini, jelas Lydia, ada 69 jenis keterampilan atau pendidikan yang diselenggarakan
oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Dari 69 jenis keterampilan itu, tercatat ada 28 jenis
pendidikan yang memiliki Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) berbasis KKNI.
Dalam rangka memberikan kesempatan bagi peserta kursus dan masyarakat memperoleh
sertifikat kompetensi telah terbentuk 30 Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), 865 Tempat Uji
Kompetensi (TUK), 1.000 penguji yang menyelenggarakan uji kompetensi. Acuan dalam
penyelenggaraan uji kompetensi yaitu SKL dan KBK yang telah dikembangkan oleh Direktorat
Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen PAUDNI Kemdikbud. (Desliana Maulipaksi)

Hasil RNPK 2014: Rekomendasi Komisi V tentang Pengembangan Pendidikan Tinggi 07 Maret
2014 Back
Jakarta, Kemdikbud --- Rembuk nasional bidang pendidikan tinggi menghasilkan lima sub
topik pembahasan. Hasil tersebut dibacakan pada penutupan rembuk nasional pendidikan dan
kebudayaan (RNPK) 2014 di Jakarta, Jumat (7/03/2014) oleh Rektor Institut Pertanian Bogor
(IPB), Herry Suhardiyanto.

Komisi V yang menaungi pendidikan tinggi dalam RNPK kali ini menempatkan evaluasi RBI
dan penguatan tata kelola menjadi sub topik pertama. Untuk sub topik ke dua, dipilih tema
penjaminan mutu dan perubahan kurikulum. "Sub topik ke tiga, adalah evaluasi pengelolaan
penelitian," kata Herry di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh,
Wakil Mendikbud bidang Pendidikan, Wakil Mendikbud bidang Kebudayaan, dan peserta RNPK
2014, Jumat (7/03/2014), di Jakarta.

Untuk sub topik ke empat, Komisi V memilih tema evaluasi akademi komunitas dan
pengumuman perguruan tinggi tanpa masalah. Sedangkan sub topik terakhir adalah dukungan
Dikti dan LPTK dalam implementasi Kurikulum 2013. Herry mengatakan, setiap sub topik yang
ditetapkan tersebut memiliki isu strategis dan rencana aksi masing- masing.

Evaluasi RBI dan penguatan tata kelola memiliki isu strategis untuk penyesuaian struktur data
dalam pangkalan data perguruan tinggi (PDPT) dan sistem informasi peningkatan kinerja dosen.
Selain itu, isu organisasi dan tata kelola perguruan tinggi serta program studi di luar domisili dan
pembelajaran jarak jauh tanpa izin juga menjadi isu strategis dalam sub topik RBI dan penguatan
tata kelola.
"Isu strategis lainnya adah BOPTN, Pendirian PTN baru, RBI dan tunjangan kinerja, serta biaya
penyelenggaraan pendidikan tinggi pada PTN," kata Herry memaparkan.

Untuk penjaminan mutu dan perubahan kurikulum, komisi V mengangkat isu pengembangan
kurikulum yang sesuai dengan KKNI dan peningkatan kualitas perguruan tinggi. Isu lain, yaitu
kecepatan dan akurasi data program studi.

Untuk sub topik evaluasi pengelolaan penelitian, ada lima isu strategis yang diangkat. Mulai dari
roadmap penelitian, alokasi pendanaan, kerja sama penelitian, publikasi jurnal ilmiah pada jurnal
nasional maupun internasional, dan pertanggungjawaban keuangan.

Untuk sub topik evaluasi Akademi Komunitas dan pengumuman perguruan tinggi tanpa masalah,
ada lima isu strategis yang dihasilkan. Yaitu peran perguruan tinggi pembina dalam
pengembangan AK, peran industri swasta dan pemerintah dalam pendirian AK, evaluasi AK
yang sudah ada, perluasan akses informasi oleh masyarakat umum tentang profil dan kinerja
PTN dan PTS, dan dasar hukum peraturan operasional.

Sedangkan untuk sub topik ke lima, yaitu tentang dukungan Dikti dan LPTK dalam
implementasi kurikulum 2013, ada empat isu strategis, yaitu persiapan buku,
pelaksanaa pelatihan, pendampingan pembelajaran, dan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan. (Aline Rogeleonick)

Sistem KKNI Perbolehkan Budayawan dan Seniman Jadi Guru Kesenian di Sekolah 10 Maret
2014 Back
Jakarta, Kemdikbud --- Salah satu rekomendasi dari hasil Rembuk Nasional Pendidikan dan
Kebudayaan (RNPK) 2014 adalah pemanfaatan seniman/budayawan atau alumni perguruan
tinggi seni sebagai pengajar seni budaya sebagai solusi atas kurangnya guru kesenian di sekolah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan hal tersebut
diperbolehkan oleh sistem Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dengan KKNI,
katanya, guru kesenian tidak harus memiliki latar belakang pendidikan S1 atau D4.
Seringkali kita dibenturkan bahwa menjadi guru itu syaratnya harus S1 atau D4. Sedangkan
seniman itu tidak serta merta harus S1 atau D4. Tapi kalau dia memiliki kemampuan yang sangat
bagus, kenapa tidak? Kita kan sudah memiliki KKNI, ujar Mendikbud saat penutupan RNPK
2014 di Jakarta, (7/3/2014). Karena itu Mendikbud mengimbau semua pihak untuk memperkuat
sistem KKNI.
Ia mengatakan, sistem KKNI merupakan sistem yang dirancang untuk membangun jembatan
antara realitas yang ada di lapangan, terutama bagi mereka yang memiliki kompetensi dengan
kemampuan belajar secara mandiri, dengan aturan formal yang ada. Seseorang yang sudah
memiliki kompetensi di lapangan meskipun pendidikan formalnya belum S1, D4, dan seterusnya,
dimungkinkan atau diperbolehkan untuk menjadi guru ataupun dosen, tegas Mendikbud.
Ia menambahkan, hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang bekerja di perusahaan-
perusahaan dan memiliki technical skill yang memadai dan terbukti kompetensinya. Meskipun
latar belakang pendidikan mereka belum S2, tetap bisa menjadi dosen di perguruan tinggi setelah
melalui proses atau penyetaraan melalui sistem KKNI.
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi dan
kompetensi tenaga kerja Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan
sektor pendidikann dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan
kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan. KKNI
merupakan perwujudan mutu dan jati diri bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan
nasional, sistem pelatihan kerja nasional serta sistem penilaian kesetaraan capaian pembelajaran
(learning outcomes) nasional. (Desliana Maulipaksi)

KKNI Salah Satu Cara Penuhi Kebutuhan Guru Produktif 11 Maret 2014 Back
Kabupaten Sarolangun, Kemdikbud --- Kebutuhan guru produktif di Kabupaten Sarolangun
meningkat dengan didirikannya beberapa SMK di daerah tersebut. Guna mengatasi kebutuhan
tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyiapkan beberapa cara
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Achmad Jazzidie, mengaku kekurangan guru produktif
memang sedang terjadi saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan Kemdikbud, kata dia, adalah
dengan memanfaatkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Memang diakui, saat
ini kita kekurangan guru produktif. Untuk itu, kita berusaha memenuhi itu dengan berbagai
cara, kata Jazzidie, usai melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sarolangun, Jambi, Senin
(10/3/2014).
Jazzidie menjelaskan, KKNI memungkinkan seseorang yang memiliki kompetensi bidang
tertentu untuk mengajar. Ada pengakuan bagi orang tersebut walaupun sebelumnya dia tidak
menempuh pendidikan formal. Kalau di KKNI dia di level 6, maka dia selevel dengan S1,
terangnya.
Demikian pula dengan orang yang sudah berpengalaman dalam bidang industri, dengan KKNI
mereka juga eligible untuk mengajar, dan bisa diminta untuk jadi guru produktif. Selain dengan
KKNI, Kemdikbud juga mengupayakan pengadaan guru-guru produktif dengan bekerja sama
dengan direktorat pendidik dan tenaga kependidikan untuk menyekolahkan para guru. (Aline
Rogeleonick)