You are on page 1of 9

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN KOMUNIKASI


MATEMATIS PADA SISWA SMA DI KABUPATEN PIDIE

Muzakkir, Bansu Irianto Ansari


Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur
jakir6882@gmail.com
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur
bansu_ansari@yahoo.co.id

Abstract.
The main purposes of this study are to asses the effectiveness of using Think-talk-write (TTW)
strategy to develop students understanding and mathematics communication skill. This research is
an experimental study using a post test only control group design. The samples of this study is 184
students, they are from 3 deferen senior higt school in Pidie distric whit differet level and location.
Each school has two classes one as an experiment group and another one as a control group.
Eksperiment group where teaching by using think-talk-write strategy otherwise control group using
a convensional strategi. The study show there is a significant defference about student
understanding in eksperiment group and student in control group (sig = 0.024). TTW strategi also
give an effect for student mathematics communication skill (sig = 0.019). Second variabel
constribuet to students understanding and mathematics comucionat skill is a school location (sig
0.008), where the student from school that located in citi have beter perpomance in mathematic
understenting and mathematic comucation skill. This study also look at another two variabels
trhere are gender and family economic background but both of them are not show a significant
differences because base on anova tes significant show above 0.05.

Key world: Think-talk-write, cooperative learning, individual learning .

1. PENDAHULUAN guru kita juga memeperoleh peringkat yang


Isu sentral pendidikan yang masih aktual sama seperti siswa SMA. Ini berarti ada
dibicarakan dewasa ini adalah rendahnya korelasi antara kemampuan guru dengan
peringkat Human Development Index (HDI) kemampuan siswa.
Indonesia di antara 173 negara, bahkan semakin Berdasarkan kenyataan di atas, tampaknya
menurun dari tahun 1996 peringkat 102, permasalahan dunia pendidikan masih berkisar
menjadi peringkat 109 pada tahun 2000. Selain pada kompetensi guru dan political will dari
itu skor Matematika, Sains serta Membaca guru bersangkutan untuk melaksanakan
siswa Indonesia di kancah dunia juga belum komitmennya selaku guru secara konsisten,
menampakkan tanda-tanda membaik yaitu sinergis, dan berkelanjutan. Komitmen guru
peringkat 57 dari 65 negara peserta (PISA, yang dimaksud antara lain adalah tidak
2009). Rata-rata skor tes membaca siswa kita membuat siswa bosan dalam belajar karena
402 dibandingkan dengan Singapura dan aktivitasnya hanya mendengar dan melihat
Thailand masing-masing 526 dan 421 (Nilai atraksi guru. Untuk mengatasinya paradigma
ideal 493). Rata-rata skor tes matematika siswa pembelajaran mesti diubah dari transfer of
kita 371 dibandingkan dengan Singapura dan knowledge atau teacher centered menjadi
Thailand masing-masing 562 dan 419 (Nilai Student Centered Learning (SCL). Jadi guru
ideal 496). Kekecewaan tersebut menjadi perlu membuat komitmen bahwa tugas guru
lengkap setelah pada Ujian Nasional 2013 lalu dalam kelas bukan lagi sebagai pemberi
siswa SMA di Provinsi Aceh memperoleh informasi (transfer of knowledge), tetapi
peringkat terbawah dari 33 propinsi dan lebih sebagai pendorong siswa belajar (stimulation of
parah lagi pada Uji Kompetensi Guru (UKG), learning) agar dapat mengkonstruksi sendiri
pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti menumbuhkembangkan kemampuan
pemecahan masalah, penalaran, dan Salah satu Pemahaman dan Momunikasi Matematis siswa
cara untuk mengungkapkan kemampuan SMA. (2) Menelaah kemampuan pemahaman
komunikasi matematik siswa pada semua dan komunikasi matematis siswa SMA menurut
tingkat sekolah adalah dengan representasi yang strategi pembelajaran, gender awal, dan level
relevan (NCTM, 1989; Cai, Lane & Jacabcsin, sekolah serta interaksi di antara ketiga variabel
1996; Kramarski, 2000). Suatu aktivitas yang bebas tersebut.
diharapkan dapat dilakukan untuk 3. KAJIAN LITERATUR DAN
menumbuhkembangkan kemampuan PENGEMBANGAN HIPOTESIS
komunikasi matematik antara lain dengan Dalam Ilmu Komunikasi dikenal tiga
menerapkan strategi pembelajaran think-talk- bentuk komunikasi yaitu komunikasi linier
write (Huinker & Laughlin, 1996). yang sering disebut juga dengan komunikasi
Strategi pembelajaran Think-Talk-Write satu arah (one-way communication),
(TTW) yang merupakan teknik pembelajaran komunikasi relational dan interaktif yang
yang bernuansa SCL adalah strategi yang disebut dengan Model Cybernetics, dan
memberi kesempatan kepada siswa dalam aspek komunikasi konvergen yang bercirikan multi
thinking (berpikir), talking (diskusi) and writing arah.Terdapat perbedaan konsep antara ketiga
(konstruksi) dalam pembelajaran. Huinker & bentuk komunikasi tersebut.
Laughlin (1996) mengemukakan bahwa peran Komunikasi linier mengandung arti bahwa
talking dalam pembelajaran matematika adalah hubungan yang terjadi hanya satu arah, karena
membantu kelancaran kerjasama antar siswa penerima pesan hanya mendengar pesan dari
dan membantu membangun masyarakat belajar pemberi pesan.Sementara itu pada komunikasi
dalam kelas. Ketika siswa diberikan relasional terjadi interaksi antara pemberi dan
kesempatan untuk diskusi dalam matematik penerima pesan, namun sangat bergantung pada
secara luas, mereka dapat menilai pengalaman. Pengalaman akan menentukan,
pemikirannya. Aktivitas bersama patner ini apakah pesan yang dikirimkan diterima oleh
cukup menyenangkan dan siswa dapat menguji penerima sesuai dengan apa yang dimaksud
idenya, mengembangkan kosa-kata, bertukar oleh pemberi pesan. Apabila
pengalaman dengan cara yang berbeda dan pengalaman/pemahaman penerima pesan tidak
dapat menghimpun berbagai ide lainnya. mampu menjangkau isi pesan, maka akan
mempengaruhi hasil pesan yang diinginkan.
2. MASALAH DAN TUJUAN Komunikasi konvergen adalah komunikasi
PENELITIAN yang berlangsung secara multi arah di antara
Penelitian ini memfokuskan pada ujicoba penerima pesan menuju suatu fokus atau minat
lapangan, dengan focus menjawab terhadap yang dipahami bersama yang berlangsung
empat pertanyaan pokok yaitu (1) Apakah ada secara dinamis dan berkembang kearah
perbedaan kemampuan pemahaman matematik pemahaman kolektif dan berkesinambungan
yang signifikan antara siswa yang belajar (Abdulhak, 2001).
dengan strategi TTW dengan siswa yang belajar Konsep komunikasi seperti yang diuraikan
dengan cara konvensional? (2) Apakah ada di atas, merupakan prinsip pertama dalam
perbedaan kemampuan komunikasi matematik pengajaran dan pembelajaran (Cole & Chan,
yang signifikan antara siswa yang belajar 1994). Artinya salah satu keberhasilan program
dengan TTW dan siswa yang belajar secara belajar-mengajar di antaranya adalah
konvensional? (3) Apakah terdapat perbedaan bergantung pada bentuk komunikasi yang
kemampuan komunikasi matematik siswa digunakan oleh guru, pada saat ia berinteraksi
menurut interaksi antara: a) Variasi gender dengan siswa. Komunikasi linier misalnya,
siswa?; b) Variasi level sekolah?; sangat berpengaruh pada konsep mengajar
Adapun Tujuan penelitian adalah (1), matematika.Peristiwa ini berlangsung antara
Menelaah efektivitas pembelajaran matematika pengajar dan peserta belajar secara satu arah
dengan strategi TTW dalam upaya (transfer of knowledge). Guru dipandang
sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai beberapa model konkret, dan representasi suatu
penerima aksi. Selain itu Model Cybernetics diagram ke dalam bentuk simbol atau kata-kata.
juga mempengaruhi konsep interaksi Representasi dapat membantu anak
pembelajaran matematika.Dalam konteks menjelaskan konsep atau ide, dan memudahkan
pendidikan, komunikasi relasional ini sudah anak mendapatkan strategi pemecahan. Selain
melibatkan peran aktif antara guru dan siswa, itu, penggunaan representasi dapat
walaupun peran guru tetap dominan, selain meningkatkan fleksibilitas dalam menjawab
sebagai sumber utama juga berperan sebagai soal-soal matematik.
fasilitator yang dilakukan secara klasikal. Contoh: Alia mempunyai empat macam
Komunikasi konvergen dalam pembelajaran skor ujian dalam pelajaran IPA (skala 0-20).
matematika ditujukan untuk meningkatkan Skor dari tiga macam nilai ujian, serta rata-rata
kualitas dan efektivitas pembelajaran. dari keempat nilai tersebut diperlihatkan dalam
Perbedaannya dengan bentuk komunikasi Diagram 1. Berapakah skor Alia yang ke-4,
sebelumnya adalah pada komunikasi relasional, sehingga rata-ratanya menjadi 17?
apabila siswa mendapat kesulitan belajar, maka Ada beebrapa bentuk representasi
itu dikembalikan kepada guru. Tetapi pada matematik yang dapat digunakan siswa untuk
pembelajaran yang memanfaatkan komunikasi menjawab soal tersebut di atas antara lain:
konvergen seperti dalam studi ini, jika ada Dengan persamaan aljabar (math. expression):
kesulitan atau masalah, maka permasalahan 15 + 18 + 16 + X = 17 x 4
dipecahkan secara bersama-sama di lingkungan 49 + X = 17 x 4
peserta belajar, sehingga melahirkan saling X = 17 x 4 - 49
pengertian di antara mereka dan permasalahan X = 19
diharapkan dapat terselesaikan.
Merujuk pada uraian tersebut di atas, 1) Dengan kata-kata (written texts): Pada
NCTM (1989) menyebutkan communication nilai yang ke-2 ia mendapat 1 angka lebih
in mathematics means that one is able to use its tinggi dari 17, sedangkan dalam nilai ke-3
vocabulary, notation, and structure to express ia memperoleh 1 angka lebih rendah dari
and understand ideas and relationships. In this 17 sehingga rata-rata dari kedua nilai itu
sense, communicating mathematics is integral 17. Pada nilai ke-1 ia memperoleh 2 angka
to knowing and doing mathematics. Dengan lebih rendah dari 17, sehingga untuk
demikian, komunikasi matematik dapat terjadi mengisi itu ia harus mendapatkan 2 angka
ketika siswa belajar dalam kelompok, ketika lebih tinggi dari 17. Jadi rata-ratanya 17 +
siswa menjelaskan suatu algoritma untuk 2 = 19 (Cai, et al. 1996).
memecahkan suatu persamaan, ketika siswa
menyajikan cara unik untuk memecahkan Strategi Think-Talk-Write (TTW)
masalah, ketika siswa mengkonstruk dan Strategi yang diperkenalkan oleh huinker &
menjelaskan suatu representasi grafik terhadap Laughlin (1996 : 82) ini pada dasarnya
fenomena dunia nyata, atau ketika siswa dibangun melalui berpikir, berbicara, dan
menberikan suatu konjektur tentang gambar- menulis. Aktivitas pertama adalah Think
gambar geometri (NCTM, 1991:96). (berpikir), aktivitas ini dapat dilihat dari proses
Baroody (1993) menyebutkan bahwa ada membaca suatu masalah matematika dan
lima aspek komunikasi yaitu representasi kemudian diterjemahkan kedalam bahasa
(representing), mendengar (listening), matematik atau bahasa sehari hari. Setelah
membaca (reading), diskusi (discussing) dan tahap think selesai dilanjutkan dengan tahap
menulis (writing). Menurut NCTM (1989), berikutnya talk yaitu berkomunikasi dengan
Representasi adalah: (1) bentuk baru sebagai menggunakan kata kata dan bahasa yang
hasil translasi dari suatu masalah, atau ide, (2) mereka pahami. Pada fase ini siswa akan saling
translasi suatu diagram atau model fisik ke bertukar pikiran dengan sesama siswa, sehingga
dalam simbol atau kata-kata Misalnya, pada fase ini siswa yang kurang mampu akan
representasi bentuk perkalian ke dalam memahami masalah matematik dengan bahasa
yang telah diterjemahkan oleh kawannya yang pada paragraf di atas, maka disusunlah
lain. Selanjutnya adalah fase Write yaitu hipotesis penelitian sebagai berikut:
menuliskan hasil diskusi/dialog pada lembaran 1. Ada perbedaan kemampuan Pemahaman
kerja yang disediakan. Aktivitas menulis berarti Matematis antara siswa yang belajar
mengkonstruksi ide, karena setelah berdiskusi matematika dengan TTW dengan siswa
atau berdialog antara teman dan kemudian yang belajar secara konvensional
mengungkapkannya melalui tulisan. Aktivitas 2. Ada perbedaan kemampuan Komunikasi
ini akan membantu siswa dalam membuat Matematis antara siswa yang belajar
hubungan dan juga memungkinkan guru matematika dengan TTW dengan yang
melihat pengembangan konsep siswa. belajar secara konvensional
Teori belajar yang sesuai dengan TTW 3. Ada perbedaan yang signifikan kemampuan
adalah konstruktivisme dari Piaget, dengan ide komunikasi matematik menurut interaksi
utamanya sebagai berikut, 1) pengetahuan tidak antara gender dengan level.
diberikan dalam bentuk jadi, 2) agar agar 4. Semakin tinggi pengetahuan awal (prior
pengetahuan diperoleh, siswa harus beradaptasi knowledge) dan Pemahaman Matematis
dengan lingkungannya, 3) pertumbuhan siswa, semakin tingi pula efeknya terhadap
intelektual merupakan proses terus menerus kemampuan Komunikasi Matematis siswa,
tetang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
setimbang
Vygotsky dengan teori konstruktivisme 4. METODE PENELITIAN
berpendapat bahwa, perkembangan intelektual Desain Penelitian
anak dipengaruhi oleh faktor sosial. Studi ini bersifat eksperimen menggunakan
Lingkungan sosial dan pembelajaran secara desain post test only control group design.
natural mempengaruhi perkembangan anak Adapun alasan menggunakan desain
dalam meningkatkan kekomplekan dan eksperimen ini adalah pengaruh perlakuan yang
kesistematikan kognitif (Ginsburg at al. 1998). diberikan terhadap variabel bebas akan dilihat
Berkaitan dengan anak dan lingkungan hasilnya pada variabel terikat. Dalam studi ini
belajarnya menurut pandangan konstruktivisme tidak menggunakan pretes, hal ini dilakukan
menurut Santrock (2004) mengajukan ciriciri mengingat kemampuan siswa mengenai
pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut: komunikasi matematik masih minim. Namun
(1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang demikian dalam setiap tahap perlakuannya,
pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar dilakukan evaluasi untuk melihat pertumbuhan
mempertimbangkan seoptimal mungkin proses dan perkembangan kemampuan siswa. Dalam
keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan penelitian ini, perlakuan diberikan terhadap tiga
sesuatu yang datang dari luar melainkan sekolah pada level yang berbeda, ketiga sekolah
dikonnstruksi secara personal, (4) pembelajaran didibagikan dalam dua kelompok yaitu
bukanlah transmisi pegetahuan, melainkan pembelajaran dengan TTW sebagai kelas
melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) eksperimen dan pembelajaran dengan
kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, konvensional sebagai kelas kontrol.
melainkan seperangkat pembelajaran, materi Desain eksperimen yang digunakan adalah
dan sumber. Teori Vygotsky ini sesuai dengan tiga jalur 3 x 3 x 2 model faktorial tetap,
strategi TTW yang memberi penekanan pada masing-masing adalah 3 level sekolah, 3 taraf
interaksi terus menerus antara siswa dengan ekonomi keluarga dan 2 komponen gender.
siswa dan siswa dengan guru, dimana guru Desain eksperimen ini berbentuk:
dimanfaatkan sebagai fasilitator dalam proses S1 A X O B - O
pengajaran. S2 A X O B - O
S3 A X O B - O
Berdasarkan latar belakang masalah dan Pada desain ini, sampel kelas atau kelompok
kerangka teoritis seperti yang telah dibahas diambil secara acak dan setelah diberi
perlakuan diukur dengan postes (O). Variabel
mediator/kontrolnya adalah pengetahuan awal Keumala yaitu kelas X MIA1 sebagai kelas
siswa dan kualitas/level sekolah. Secara eksperimen dan X MIA2 sebagai kelas kontrol.
skematik desain eksperimen dalam penelitian
ini disajikan menurut model desain tiga faktor Perlakuan
(Arikunto, 1989:504). Penelitian ini berlangsung selama 5 minggu
dengan pokok bahasan dimensi tiga. Jumlah
Partisipan siswa pada sekolah level baik/tinggi dan level
Partisipan sebagai subjek sampel dalam sedang yang mengikuti tes akhir masing-masing
penelitian ini adalah 184 siswa, dimana 53 sebanyak 62 siswa, terdiri dari 32 siswa
diantaranya adalah laki-laki dan 131 adalah kelompok eksperimen dan 30 siswa dari
perempuan. Mereka duduk di kelas 1 (X) yang kelompok kontrol. Sementara itu, pada sekolah
dipilih secara random terhadap tiga (3) sekolah level kurang yang mengikuti tes akhir secara
yang ada di Kabupaten Pidie berdasarkan level lengkap sebanyak 60 siswa, terdiri dari 30
sekolah baik, sedang dan rendah. Pada sekolah siswa masing-masing kelompok penelitian.
tergolong baik terpilih SMANN 1 Mutiara Selanjutnya untuk mengetahui sejauh mana
dengan dua kelas yaitu kelas X MIA2 sebagai efektivitas penggunaan model pembelajaran
kelas eksperimen dan X MIA1 sebagai kelas dengan strategi think-talk-write dalam rangka
kontrol. Sementara itu, pada sekolah tergolong menumbuhkembangkan kemampuan
sedang terpilih SMAN 1 Kembang Tanjong Pemahaman dan Komunikasi matematis, yaitu
yaitu kelas X MIA1 sebagai kelas eskperimen menggunakan uji statistik anova. Yang
dan X MIA4 sebagai kelas kontrol. Sedangkan kemudian akan di olah dengan SPSS.
pada sekolah tergolong rendah terpilih SMAN

5. TEMUAN DAN PEMBAHASAN


Hasil Temuan penelitian
Berikut ini ditunjukkan hasil penelitian tentang pemahaman matematika siswa
Tabel 1: Skor Pemahaman Matematis (Skala: 0 4)
Kelompok Penelitian
Level Latar Belakang
Jenis Kelamin Eksperimen Kontrol
Sekolah Ekonomi Keluarga
Mean SD Mean SD
Laki - laki 2.70 (0.25) 2.35 (0.30)
Atas
Perempuan 2.68 (0.63) 2.33 (0.32)
Laki - laki 3.01 (0.54) 2.40 (0.70)
Menengah
Tinggi Perempuan 3.12 (0.65) 2.36 (0.45)
Laki - laki 2.20 (0.53) 2.04 (0.54)
Bawah
Perempuan 2.03 (0.49) 1.99 (0.39)
Laki - laki 1.88 (0.59) 1.80 (0.13)
Atas
Sedang Perempuan 2.02 (0.65) 2.00 (0.89)
Laki - laki 2.18 (0.89) 2.35 (0.56)
Menengah
Perempuan 2.80 (0.42) 1.40 (0.13)
Laki - laki 1.65 (0.40) 1.80 (0.90)
Bawah
Perempuan 1.79 (0.22) 1.86 (0.22)
Laki - laki 1.70 (0.38) 1.91 (0.17)
Atas
Perempuan 1.98 (0.56) 1.80 (0.60)
Laki - laki 1.87 (0.29) 1.51 (0.15)
Menengah
Kurang Perempuan 2.35 (0.80) 1.80 (0.20)
Laki - laki 2.27 (0.34) 1.18 (0.29)
Bawah
Perempuan 1.89 (0.50) 1.50 (0.80)
Tabel 2: Skor Komunikasi Matematis (Skala: 0-4)

Kelompok Penelitian
Level Latar Belakang
Jenis Kelamin Eksperimen Kontrol
Sekolah Ekonomi Keluarga
Mean SD Mean SD
Laki - laki 1.97 (0.44) 1.88 (0.44)
Atas
Perempuan 1.98 (0.53) 1.68 (0.38)
Laki - laki 1.76 (0.17) 1.85 (0.52)
Menengah
Tinggi Perempuan 1.97 (0.32) 1.58 (0.42)
Laki - laki 1.63 (0.25) 1.21 (0.28)
Bawah
Perempuan 1.71 (0.33) 1.23 (0.30)
Laki - laki 2.63 (0.58) 1.47 (0.34)
Atas
Sedang Perempuan 1.59 (0.39) 1.09 (0.32)
Laki - laki 1.09 (0.27) 1.23 (0.37)
Menengah
Perempuan 1.62 (0.49) 1.52 (0.46)
Laki - laki 1.50 (0.39) 1.52 (0.80)
Bawah
Perempuan 1.65 (0.30) 1.30 (0.53)
Laki - laki 1.68 (0.21) 1.50 (0.34)
Atas
Perempuan 1.34 (0.23) 1.10 (0.50)
Laki - laki 1.62 (0.50) 1.42 (0.40)
Menengah
Kurang Perempuan 1.55 (0.70) 1.52 (0.75)
Laki - laki 0.91 (0.20) 1.15 (0.62)
Bawah
Perempuan 1.11 (0.24) 0.98 (0.32)

Analisis Efek Perlakuan kelamin laki laki dengan siswa perempuan


Efek perlakuan pembelajaran dengan (sig = 0.07). Uji berikutnya dilakukan terhadap
strategi think-talk-write untuk kelompok variable level sekolah, dimana hasil uji
eksperimen dan strategi konvensional untuk Astatistik menunjukkan bahwa terdapat
kelompok kontrol terhadap kemampuan perbedaan kemampuan pemahaman siswa
Pemahaman dan Komunikasi matematis mengikut level sekolahnya (sig =0.01). Uji
dianalisis dengan membandingkan rata-rata terakhir dilakukan terhadap latar belakang
skor perolehan dari kedua kelompok tersebut ekonomi orang tua, hasil uji anova
pada masing masing level sekolah. Uji menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan
hipotesis perbandingan skor hasil tes akhir ini pemahaman siswa mengikut latar belakang
menggunakan Anova. Hasil pengujian hipotesis ekonomi keluarga (sig = 0.10).
nol dengan Anova menunjukkan terdapat Analisis terhadap kemampuan komunikasi
perbedaan perolehan skor Pemahaman matematis siswa juga menunjukkan bahwa
Matematis siswa kelas eksperimen dan kelas terdapat perbedaan kemampuan komunikasi
kontrol dengan nilai signifikansi = 0.02. matematis siswa yang diajarkan dengan model
Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap TTW dengan siswa yang diajarkan dengan
beberapa sub variable yang menunjukkan model konvensional, nilai signifikansi
perbedaan rata rata pemahaman matematika menunjukkan 0.02. Sub varibael berikutnya
siswa. Hasil Uji Anova juga menunjukkan yang menunjukkan perbedaan kemampuan
bahwa tidak terdapat perbedaan rata rata nilai komunikasi matematissiswa adalah antara siswa
pemahaman matematika siswa yang berjenis laki laki dan perempuan, nilai signifikansi
sama dengan 0.04. berbeda halnya untuk sub matematika siswa. dari hasil tes akhir siswa
varibael level sekolah nilai signifikasni dapatdisimpulkan ada tiga bentuk/aspek
menunjukkan 0.008, artinya tidak terdapat representasi yang dapatdiungkapkan dari
perbedaan kemampuan komunikasi matematika jawaban siswa, yaitu ; mengkonstruk model
mengikut level sekolah. Hal sang sama juga konseptual, membuat model matematika, dan
ditunjukkan dari hasil analisis sub variable latar argumentasi verbal. Dari hasil analisis diudapi
belakang ekonomi keluarga, nilai signifikansi bahwa kemampuan representasi siswa masih
0.06. sangat lemah berkisar diantara30 % samapai
Berkenaan dengan Think-Talk-Write dan dengan 45%.
representasi matematika siswa
Kemampuan representatif matematika 6. KESIMPULAN
siswa setelah penerapan stategi think-talk-write 1. Penerapan model pembelajaran dengan
sangat dipengaruhi oleh penerapana beberapa startegi think-talk-write, mampu
langkah yaitu : meningkatkan pemahaman matematika dan
1. Guru memulai pembelajaran dengan kemampuan komunikasi matemtaika siswa.
membagikan soal soal yang berbentuk Namun demikian, pembelajaran dengan
open ended, yang dimuat dalam Lembaran stategi TTW baik dalam kelompok kecil
Aktifitas Siswa (LAS) yang dilengkapi maupun kelompok besar belum terpenuhi
dengan prosedur penyelesaiannya. secara optimal, hal ini diakibatkan oleh
2. Siswa mencoba membuat catatan-catatan lemahnya kemampuan pemahaman dan
kecil dari hasil bacaanya yang kemudian komunikasi matematika siswa
akan didikusikan dalam kelompok 2. Perbedaan kemampuan pemahaman dan
3. Siswa berdiskusi dengan teman dalam komunikasi matematika siswa juga
kelompok untuk saling berinteraksi dan ditunjukkan oleh sub variabel lokasi
menukar informasi yang dimilikinya sekolah, dimana kemampuan pemahaman
4. Siswa membuat kesimpulan dari hasil dan komunikasi matematika siswa
diskusi dalam kelompoknya sebagai inti yangberasal daro sekolah diperkotaan lebih
pembelajaran. baik jika dbandingkan dengan siswa dari
pertengahandan pedalaman, ini bisa dilihat
Selama pelaksanaan penelitian yang dari analisi anova yang dijalankan kemudia
dilakukan oleh guru mitra,ke empat tahapan nilai rata-rata masing masing kelompok.
diatas kurang terlaksana dengan baik, dari hasil 3. Hasil berikautnya yang ditunjukkan oleh
observasi ada sejumlah faktor yang data hasil penelitian adalah variabel latar
mempengaruhinya, dianatarnya (1). Guru belum belakang ekonomi keluarga dan gender
mampu memposisikan diri sebagai fasilitator, tidak member efek yang berarti terhadap
sehingga susah untuk guru memberikan ruang pengembangan kemampuan komunikasi
berfikir yang banyak bagi siswa, guru masih dan pemahaman matematika siswa
terbawa dengan gaya pengajaran yang biasa. 4. Siswa masih belum terbiasa dengan
Hal ini mengakibatkan kurang aktifnya siswa- penggunaan strategi TTW sehingga
siswa lemah, sehingga banyak siswa yang kebanyakan siswa masih menunggu
hanya mementingkan hasil dan bantuan dari guru. Referensi siswa sangat
mengabaikanproses. (2) penyebab kedua terbatas sehingga menyulitkan siswa dalam
munculnya dari siswa, dimana kebanyakan berdiskusi. Dua faktor ini mengakibatkan
siswa sangat sedikit refererensi yang mereka tidak berjalannya strategi TTW dengan
baca, siswa hanya menunggu informasi yang maksimal.
diberikan guru, hal ini berimbas kepada
lemahnya diskusi (talk) selama prose Beberapa rekomendasi berdasarkan hasil
pembelajaran berlangsung. temuan dan kesimpulan dari penelitian ini,
Represtasi matematika adalah satu ditujuakan kepada guru matematika sebagai
komponen penting dalam proses pengembangan pengajar di sekolah dan rekomendasi untuk
kemampuan komunikasi dan pemahaman penelitianlebih lanjut.
1. Kepada guru Ansari, B.I. 2002. Strategi Kognitif Siswa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dalam Pemecahan Masalah Tiga Dimensi.
kemampuan siswa dalam memahami soal soal Jurnal Mimbar Pendidikan. 11 (4), 18-26.
matematika masuk dalam kategori menengah Baroody, A.J. 1993. Problem Solving,
sedangkan kemampuan komunikasi masih Reasoning, and Communicating, K-8. Helping
sangat lemah. Siswa masih terkendala dengan children think mathematically. Merril, an
pengetahuan prasyarat yang harus dikuasinya, inprint of Macmillan Publishing, Company.
dari permasalahan ini maka disarankan kepada New York
guru untuk dapat menjadikan strategi TTW Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1999. The Case
sebagai salah satu strategi dalam melakukan for Constructivist Classrooms. Association for
pembelajaran di sekolah. Dengan penggunaan Supervision and Curriculum Development.
strategi ini diharapkan siswa mampu Virginia-USA
menigkatkan kemampuan memperbanyak Cai, J., Lane, S. & Jakabcsin, M.S. 1996. The
refernsi dengan meningkatkan budaya literasi Role of Open-Ended Task and Holistic Scoring
dikalangan sekolah. Pengguaan strategi ini juga Rubrics: Assessing Students Mathematical
bisa mnegasah cara berkomunkasi siswa Reasoning and Communication. In P.C. Elliott
sehingga dapat meningkatkan komunikasi and M.J. Kenney (Eds.). 1996 Yearbook.
matemtik yang masih sangat lemah. Communication in Mathematics, K-12 and
Berdasarkan litetarur yang telah Beyond. NCTM- USA
dikemukan sebelumnya, merubah suatu Corwin, B.R. 2002. Supporting Mathematical
kebiasaan sangatlah susah, namun demikian ada Talk in Classrooms. [Online]. Tersedia:
beberapa strategi ang bisa dilakukan untuk http://ra.terc.edu/publications/Terc-pubs/tech-
mencoba menerapkan strategi TTW dalam infusion/prof-dev/prof-dev-conclution.html [11
kelas. Pertama, siswa dalam suatu kelas yang Pebruari 2002].
sangat homogeny dapat di kelompokkan ke Dahar, R.W. (1989). Teori-teori Belajar.
dalam beberapa kelompok kecil yang mash Erlangga. Jakarta
heterogen. Kedua, guru membiaskan siswa Esty, W.W. & Teppo, A.R. 1996. Algebraic
untuk membaca terlebih dahulu sebelum Thinking, Language, and Word Problem. In
memulai pembelajaran. Ketiga, guru harus P.C Elliott, and M.J. Kenney (Eds.). 1996
memberikan kepercayaan penuh bagi siswa Yearbook. Communication in Mathematics, K-
untuk mengebangkan sendiri kemampuan yang 12 and Beyond. NCTM-USA.
dimilikinya, sehingga tugas guru hanya Greenes, C. & Schulman, L. 1996.
memfasilitasi siswa yang kurang mampu. Communication Processes in Mathematical
2. Penelitian lebih lanjut Explorations and Investigations. In P. C.
Untuk penelitian lebih lanjut dalam Elliott and M. J. Kenney (Eds.). 1996
rangka generalisasi yang lebih luas dan lengkap Yearbook. Communication in Mathematics, K-
disrankan subjek penelitian dari daerah daerah 12 and Beyond. NCTM-USA
lain dan dapat menambah beberapa variabel Huinker, D. & Laughlin, C. 1996. Talk Your
pendukung lainnya, sehingga hasil yang Way into Writing. In P. C. Elliott, and M. J.
didapatkan lebih beragam dan maksimal. Kenney (Eds.). 1996 Yearbook. Communication
in Mathematics, K-12 and Beyond. NCTM-
REFERENSI USA
Kramarski, B. 2000. The effects of different
instructional methods on the ability to
communicate mathematical reasoning.
Proceedings of the 24th conference of the
international group for the psychology of
mathematics education, Japan.
Manzo, A. 2002. Higher-order Thinking Mathematics. In P.C. Clarkson. (Ed.).
Strategies for the Classroom. [Online]. Eighteenth Annual Converence of the
Tersedia: Mathematics Education Research Group of
http://members.aol.com/MattT10574/HigherOr Australasia. Mathematics Education Research
derLiteracy.html [8 Oktober 2002]. Group of Australasia.
Masingila, J.O. & Wisniowska, E.P. 1996.
Developing and Assessing Mathematical Sumarmo, U. 1987. Kemampuan Pemahaman
Understanding in Calculus Through Writing. dan Penalaran matematika Siswa SMA
In P. C. Elliott, and M. J. Kenney (Eds.). 1996 Dikaitkan dengan Kemampuan Penalaran Logik
Yearbook. Communication in Mathematics, K- Siswa dan Bebebrapa Unsur Proses Belajar
12 and Beyond. NCTM-USA Mengajar. Disertasi Doktor pada FPS IKIP
Minium, E. W., King, B. M dan Bear, G. 1993. Bandung.
Statistical Reasoning In Psychology And
Education. John Wiley & Sons, Inc. Canada Sutiarso, S. 2000. Problem Posing: Strategi
Mullis, I.V.S. et al. 2000. TIMSS 1999: Efektif Meningkatkan Aktivitas Siswa dalam
International mathematics report. Finding from Pembelajaran Matematika. Journal of
IEAs repeat of the third international Indonesian Mathematical Society (MIHMI).
mathematics and science study at the eight 8(3), 299-307.
grade. The International Study Center Boston Szetela, W. 1993. Facilitating Communication
College Lynch School of Education. Boston for Asessing Critikal Thinking in Problem
National Council of Teachers of Mathematics. Solving. In Webb, N. L. and Coxford, A. F.
1991. Professional Standards for Teaching (Eds.). Yearbook 1993. Assessment in the
Mathematics. Reston, VA: NCTM Mathematics classroom. Reston, VA: NCTM.
Ruseffendi, E.T. dan Sanusi, A. 2001. Dasar-
Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-
Eksakta Lainnya. IKIP Semarang Press,
Semarang
Sherin, G. M. & Izsak, A. 2003. Exploring the
use of new representations as a resource for
teacher learning. Official Journal of the school
science and mathematics Association. 103, 18-
27.
Shield, M. 1996. Evaluating Student
Expository Writing in Mathematics. In P.C.
Clarkson. (Ed.). Technology in Mathematics
Education. Merga. Melbourne.
Silver, E.A. & Smith, M.S. 1996. Building
Discourse Communities in Mathematics
Classrooms: A Worthwhile but Challenging
Journey. In P.C. Elliott, dan M.J. Kenney.
(Eds.). 1996 Yearbook. Communication in
Mathematics, K-12 and Beyond. Reston, VA:
NCTM
Slettenhaar, H.K. 2000. Adapting Realistic
Mathematics In The Indonesian Context.
Journal of Indonesian mathematical Society
(MIHMI). 8(3), 599-603).

Sullivan, P., Bourke, D., & Scott, A. 1995.


Open-Ended Tasks as Stimuli for Learning