You are on page 1of 4

A.

Pengertian Jadal
Jadal atau Jidal dalam bahasa Arab dapat dipahami sebagai perbantahan
dalam suatu permusuhan yang sengit dan berusaha memenangkannya. Pengertian
ini berasal dari kata-kata yaitu aku kokohkan jalinan tali itu
. Jadal adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing
berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau
pendapatnya dalam suatu perdebatan yang sengit. Jadal al-Qur`n adalah
pembuktian-pembuktian serta pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di
dalamnya, untuk dihadapkan pada orang-orang kafir dan mematahkan
argumentasi para penentang dengan seluruh tujuan dan maksud mereka, sehingga
kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia.

Jadal adalah ilmu atau alat yang digunakan untuk membungkam


argumentasi lawan dengan meng-gunakan dalil dan argumen tertentu. jadal al-Our
'an adalah ilmu yang mengkaji cara (metode) al-Quran beradu argumentasi
dengan para penentangnya. Kajian terhadapnya adalah kajian atas metode-metode
tersebut, yaitu dengan membaca ulang ayat-ayatnya.

Secara khusus, metode Jadal Al-Quran antara lain: Membungkam lawan


bicara dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan
diterima akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari. Seperti penggunaan
dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya Khliq; Mengambil dalil
dengan mabda (asal mula kejadian) untuk menetapkan mad (hari kebangkitan);
Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan kebenaran kebalikannya,
seperti bantahan terhadap pendirian orang Yahudi; Menghimpun dan memerinci
yakni menghimpun beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut
bukanlah illah (alasan hukum); Membungkam lawan dan mematahkan hujjah-nya
dengan menjelaskan bahwa pendapat yang mereka kemukakan adalah tidak masuk
akal dan tidak dapat diakui.

B. Metode Jadal
Metode-metode al quran dalam berdebat adalah:
(1) Al Tarifat.
Bahwa Allah SWT secara langsung memperkenalkan diri-Nya dan
ciptaan-Nya sebagai pembuktian akan wujud dan ke Maha Kuasaan-Nya. Karena
Allah tidak terjangkau oleh indera manusia, maka dengan mengungkapkan hal-hal
yang bisa ditangkap indera manusia, manusia akan mampu memahami akan
wujud dan kekuasaan Sang Maha Kuasa. Hal inilah yang antara lain dapat
dipahami dari firman Allah seperti tertera pada Q.,s. al Anam/6: 95-100, tentunya
banyak contoh yang lainnya tentang hal ini.
(2) Al Istifham al-Taqriri
Dalam bentuk ini Allah mengajukan pertanyaan langsung dengan
penetapan jawaban atasnya. Pertanyaan tentang hal yang memang sudah nyata,
diangkat lagi lalu disertai dengan jawaban yang merupakan penetapan atas
kebenaran yang sudah pasti. Prosedur ini dipandang oleh para ahli Ulum al-
Qur`n sebagai yang ampuh sekali sebab dapat langsung membatalkan jidal atau
argumen para pembantah. Sebagai contohnya dapat disebut antara lain firman-
Nya dalam Q.,S. Yaasiin/ 36 : 81-82.
(3) Al Tajziat
Dengan prosedur ini Allah mengungkapkan bagian-bagian dari suatu
totalitas, secara khirarchis atau kronologis, yang sekaligus menjadi sebagai
argumentasi dialektis untuk melemahkan lawan dan menetapkan suatu kebenaran.
Masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai bukti/untuk membuktikan kebenaran
yang dimaksudkan. Prosedur jadal seperti ini nampak antara lain dalam Q.,S. Al
Naml/27 : 54-64.
(4) Qiyas al Khalf
Dalam bahasa Indonesia disebut analogi berbalik. Dengan prosedur ini,
kebenaran ditetapkan dengan membatalkan pendapat lawan yang berbalikan/
berlawanan. Sebab dalam realitas kehidupan tidak dapat berkumpul dua hal yang
berlawanan. Tentang metode Jadal seperti ini dapat disebut firman Allah dalam
Q.,s. al Anbiya/21 : 21-22.
(5) Al Tamtsil
Allah mengungkapkan perumpamaan bagi suatu hal. Dengan
perumpamaan dimaksudkan agar suatu kebenaran dapat dipahami secara lebih
cepat dan lebih mudah, lalu lebih melekat di sanubari lawan. Untuk ini antara
lain dapat disebut sebagai contoh adalah firman-Nya pada Q.,s. al Baqarah/2 :
259.
(6) Al Muqabalat
Al Muqabalat adalah mempertentangkan dua hal yang salah satunya
memiliki efek yang jauh lebih besar dibanding dengan yang lainnya. Seperti
halnya mempertentangkan antara Allah SWT dengan berhala yang disembah
orang-orang musyrik. Contoh Jadal al-Qur`n dalam prosedur seperti ini dapat
dilihat antara lain pada Q.s. al Waqiah/56: 57-59. Demikian itulah antara lain
prosedur dan metode yang ditempuh al-Qur`n dalam Jadal atau Metode Jadal al-
Qur`n.

C. Tujuan Jadal
Tujuan dari Jadal al-Qur`an antara lain untuk menetapkan aqidah tentang
wujud dan wahdaniyah Allah serta petunjuk dan syariah bagi yang
membutuhkan. Menjelaskan permasalahan secara argumantatif bagi kalangan
yang memang sungguh-sungguh ingin mendapat kejelasan. Serta untuk
mematahkan pembangkangan para penentang dengan pembuktian yang lebih kuat
dan akurat. Jadal al-Qur`an, dengan memahaminya dapat membantu menghampiri
kebenaran kandungan, khususnya ayat-ayat yang bermuatan Jadal, yang pernah
terjadi di antara berbagai kalangan yang terekam di dalam al-Qur`an. Dengan
memahami Jadal al-Qur`an, akan lebih memudahkan dalam menafsirkan ayat-ayat
al-Qur`an. Bagi pendidikan, jelas Jadal memiliki pengaruh kuat.

D. Hikmah Jadal

Di antara hikmahnya adalah:

Ketinggian bahasa Al-Quran membuat mereka tidak mampu


menandinginya.
Bahasa Al Quran sangat halus dalam mendebat.
Betapapun orang arab sangat mahir dalam bahasa, mereka tidak
mampu menjawab Al Quran.
Menunjukkan bahwa manusia itu sangat terbatas pengetahuannya yang
tidak patut untuk menyombongkan dirinya.
Al-Quran menerangkan bahwa dalam menyampaikan ajaran atau
mengajak kepada kebaikan diharuskan dengan cara yang sopan santun
sehingga orang menjadi tertarik untuk mengikutinya.
Apabila orang yang diajak kebaikan malah menentang dan mengajak
berdebat, maka debatlah dengan yang lebih baik. Dan sampaikan dalil
yang bisa diterima olehnya.