You are on page 1of 4

KEWAJIBAN MENYIMPAN RAHASIA (DALAM KAITANNYA DENGAN REKAM MEDIS.

Bahwa rekam medis wajib dijaga kerahasiannya, dapat kita jumpai dalarn beberapa peraturan, yaitu :
1. Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan yang berbunyi tenaga kesehatan
wajib menjaga kerahasiaan kesehatan penerima pelayanan kesehatan
2. Undang- Undang No 44 tahun2009 tentang Rumah Sakit yang berbunyi Pasien berhak
mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya;
3. UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 48 ayat 1 menyatakan setiap dokter
atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran
4. Permenkes No 269/Menkes/per/III/2008 Tentang Rekam Medis/ Medical Records, Yang
berbunyi :
Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat
pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan
tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
5. Bab IV butir 2 Keputusan DIR-JEN Pelayanan Medik Nomor :78/Yan.Med./RS.UM.DIK/YMU/I/
91 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Rekam Medik / Medical Record di Rumah
Sakit, yang berbunyi :
Isi rekam medis adalah milik pasien yang wajib dijaga kerahasiannya.
Untuk melindungi kerahasiaan tersebut, maka dibuat ketentuan sebagai berikut :
a. Hanya petugas rekam medis yang diijinkan masuk ruang penyimpanan berkas rekam medis.
b. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi rekam medis untuk badan-badan atau
perorangan, kecuali yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Selama penderita dirawat, rekam medis menjadi tanggung jawab perawat ruangan dan
menjaga kerahasiannya.
6. Pasal 5 Kode Etik profesi Rekam medis, yang berbunyi :
Setiap pelaksana rekam medis dan informasi kesehatan selalu menjunjung tinggi doktrin
kerahasiaan dan haklkerahasiaan perorangan pasien dalam memberikan informasi yang terkait
dengan identitas individu dan social.
Kewajiban untuk menyimpan rahasia ini juga tercantum dalam pasal 7 KODE ETIK PROFESI
REKAM MEDIS AMERIKA SERIKAT, yang berbunyi :
Jangan membuka rahasia tentang tindakanlkejadian yang tercantum dalam laporan medis dan
atau yang diketahuinya secara langsung yang dapat membahayakan aturan yang telah ditetapkan
oleh pimpinan atau aturan tindakan profesi kecuali kepada pejabat yang berwenang.
SIAPA YANG BERHAK MEMBUAT REKAM MEDIS ?
Dalam BAB III butir 2 JUKLAK PENYELENGGARAAN REKAM MEDIS disebutkan:
Tenaga yang berhak membuat Rekam Medis adalah :
a. Dokter Umum, Dokter Spesialis, Dokter Gigi dan Dokter Gigi Spesialis yang bekerja di Rumah Sakit
tersebut.
b. Dokter tamu yang di rumah sakit tersebut.
c. Residens yang sedang melaksanakan kepaniteraan medik.
d. Tenaga paramedis perawatan dan paramedis non perawatan yang langsung teriibat di dalam
pelayanan pelayanan kepada pasien di rumah sakit meliputi antara lain : perawat, perawat gigi, bidan,
tenaga laboratorium klinik, gizi, anestesia, penata rontgent, rehabilitasi medik dan lain sebagainya.
e. Dalam hal dokter luar negeri melakukan alih teknologi kedokteran yang berupa tindakan /konsultasi
kepada pasien, yang membuat rekam medis adalah dokter yang ditunjuk oleh Direktur Rumah Sakit.
REKAM MEDIS MIL1K SIAPA ?
Pasal 12 PERMENKES TENTANG REKAM MEDIS menyebutkan :
(1) Berkas rekam medis milik sarana kesehatan.
(2) Isi rekam ntedis milik pasien. _
Pasal 14 PENYELENGGARAAN REKAM MEDIS disebutkan bahwa .
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan dan/atau
penggunaan oleh orang atau badan yang tidak berhak terhadap rekam medis.
CATATAN:
Oleh karena berkas rekam medis adalah milik rumah sakit, maka :
a. Rekam medis tidak boleh keluar dari sarana kesehatan.
b. Dengan demikian, maka pasien tidak boleh membawa pulang rekam medis.
c. Apabila pasien membutuhkan isi rekam medis untuk mendapatkan second opinion, maka yang
boleh dibawa oleh pasien adalah copy rekam medis.
d. Karena rekam medis dapat dijadikan alat bukti di pengadilan, maka penyidik hanya boleh
membawa copy rekam medis.
e. Tenaga kesehatan yang dipanggil sebagai saksi ahli atau saksi di pengadilan untuk memberikan
keterangan tentang pasien, hanya boleh membawa copy rekam medis.
RAHASIA PEKERJAAN DAN RAHASIA JABATAN.
lstilah yang terkenal di kalangan para tenaga kesehatan dan mahasiswa adalah rahasia jabatan .
Padahat di dalam perundang undangan di bedakan antara rahasia pekerjaan dan rahasia jabatan.

1. RAHASIA PEKERJAAN.
Rahasia pekerjaan adalah segala sesuatu yang diketahui dan harus di rahasiakan berhubung
dengan pekerjaan atau keahliannya. Kewajiban untuk menyimpan rahasia pekerjaan ini berlaku
sejak yang bersangkutan mengucapkan sumpah atau atau pada akhir pendidikannya.
Dengan mengucapkan sumpah atau janji, maka seorang dokter atau seorang perawat diwajibkan
untuk menyimpan rahasia sehubungan dengan pekerjaannya. Kewajiban ini disebut sebagai
kewajiban menyimpan rahasia pekerjaan. Maksud daripada ketentuan ini adalah keharusan bagi
yang bersangkutan untuk tetap memegang teguh kewajiban itu, walaupun ia tidak menjadi /
berstatus pegawai negeri atau anggota ABRI.

2. RAHASIA JABATAN.
Rahasia jabatan ialah segala sesuatu yang diketahui dan harus dirahasiakan sehubungan dengan
jabatannya. Kewajiban menyimpan rahasia pasien harus tetap dipegang, meskipun pasien
tersebut telah meninggal dunia.

SANKSI HUKUM.
Setiap tenaga kesehatan yang mempunyai kewajiban untuk menyimpan rahasia tentang penyakit pasien
beserta data data medisnya dapat dijatuhi sanksi pidana, sanksi perdata maupun sanksi administratif,
apabila dengan sengaja membocorkan rahasia tersebut tanpa alasan yang sah, sehingga pasien
menderita kerugian akibat tindakan tersebut.
Akibat yang mungkin timbul karena pembocoran rahasia ini, misalnya :
1. SANKSI PIDANA.
Pasal 322 Kitab Undang undang Hukum Pidana ( KUHP ) menyebutkan bahwa :
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang menurut jabatan atau
pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, ia di wajibkan untuk menyimpannya,
dihukum dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan
ribu rupiah.
( 2 ) Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seseorang tertentu, nraka perbuatan itu hanya dapat
dituntut atas pengaduan orang itu.
2. SANKSI PERDATA.
Apabila pembocoran rahasia tentang penyakit pasien termasuk data data medisnya,
mengakibatkan kerugian terhadap pasien, keluarganya inaupun orang lain yang berkaitan
dengan hal tersebut, maka orang yang membocorkan rahasia itu dapat digugat secara perdata
untuk mengganti kerugian.
Hal ini diatur dalam Undang Undang Tentang Kesehatan maupun dalam Kitab Undang
Undang Hukum Sipil atau Perdata ( KUHS ).

3. SANKSI PIDANA UNTUK PEMBOCORAN RAHASIA REKAM MEDIS BERDASARKAN PERATURAN


PEMERINTAH TENTANG TENAGA KESEHATAN.
Pasal 35 huruf d. Tentang Ketentuan Pidana yang diatur dalam PP Nomor 32 tahun 1966 Tentang
Tenaga Kesehatan menyebutkan :
Tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimak.sud dalam pasal 22 ayat ( 1 ) dipidana
denda paling banvak Rp. 10.000.000.00,- ( sepuluh juta rupiah ).
Sedangkan bunyi pasal 22 ayat ( 1 ) yang dimaksud adalah :
Bagi setiap tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban
untuk :
Menghormati hak pasien ;
Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien ;
Memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan ;
Meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan ;
Membuat dan memelihara rekam medis.
4. SANKSI ADMINISTRATIF.
Sanksi administratif untuk tenaga kesehatan sehubungan dengan peraturan tentang rekam
medis diatur dalam pasal 20 PERMENKES Tentang Rekam Medis yang berbunyi :
Pelanggaran terhadap ketentuan ketentuan dalam peraturan ini dapat dikenakan sanksi
administratif mulai dari teguran sampai pencabutan ijin