You are on page 1of 12

PERCOBAAN VII

TOKSISITAS

I. TUJUAN
1. TOKSISITAS AMFETAMIN
Mengetahui dan memahami mekanisme kerja yang mendasari
manifestasi efek dan toksisitas amfetamin
Melihat pengaruh lingkungan terhadap toksisitas dan amfetamin
Memahami bahaya penggunaan amfetamin dan obat sejenis

2. TOKSISITAS SIANIDA
Mengetahui dan memahami mekanisme terjadinya manifestasi
keracunan sianida dan gejala-gejala keracunan sianida
Mengerti mekanisme kerja antidotum untuk sianida
Agar mahasiswa terampil menangani kasus CN dengan memilihkan
antidot yang tepat

II. TEORI DASAR


Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis,yaitu sebagai obat
yang bersifat simpatomimetik,amfetamin ini memiliki sifat stimulant Sistem Saraf
Pusat (SSP). Amfetamin merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara sintetis
dan kini terkenal di wilayah Asia Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih,
kuning, maupun coklat, atau bubuk putih kristal kecil.

Senyawa ini memiliki nama kimia methylphenethylamine merupakan


suatu senyawa yang telah digunakan secara terapetik untuk mengatasi
obesitas, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi.
Amfetamin meningkatkan pelepasan katekolamin yang mengakibatkan jumlah
neurotransmiter golongan monoamine (dopamin, norepinefrin, dan serotonin) dari
saraf pra-sinapsis meningkat. Amfetamin memiliki banyak efek stimulan
diantaranya meningkatkan aktivitas dan gairah hidup, menurunkan rasa lelah,
meningkatkan mood, meningkatkan konsentrasi, menekan nafsu makan, dan
menurunkan keinginan untuk tidur. Akan tetapi, dalam keadaan overdosis, efek-
efek tersebut menjadi berlebihan.

Secara klinis, efek amfetamin sangat mirip dengan kokain, tetapi


amfetamin memiliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan dengan kokain
(waktu paruh amfetamin 10 15 jam) dan durasi yang memberikan efek
euforianya 4 8 kali lebih lama dibandingkan kokain. Hal ini disebabkan oleh
stimulator-stimulator tersebut mengaktivasi reserve powers yang ada di dalam
tubuh manusia dan ketika efek yang ditimbulkan oleh amfetamin melemah, tubuh
memberikan signal bahwa tubuh membutuhkan senyawa-senyawa itu lagi.
Berdasarkan ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases and
Related Health Problems), kelainan mental dan tingkah laku yang disebabkan
oleh amfetamin diklasifikasikan ke dalam golongan F15 (Amfetamin yang
menyebabkan ketergantungan psikologis).

Cara yang paling umum dalam menggunakan amfetamin adalah dihirup


melalui tabung.Zat tersebut mempunyai mempunyai beberapa nama lain: ATS, SS,
ubas, ice, Shabu, Speed, Glass, Quartz, Hirropon dan lain sebagainya. Amfetamin
terdiri dari dua senyawa yang berbeda: dextroamphetamine murni and pure
levoamphetamine.dan levoamphetamine murni.Since dextroamphetamine is more
potent than levoamphetamine, pure Karena dextroamphetamine lebih kuat
daripada levoamphetamine, dextroamphetamine juga lebih kuat daripada
campuran amfetamin.

Amfetamin dapat membuat seseorang merasa energik. Efek amfetamin


termasuk rasa kesejahteraan, dan membuat seseorang merasa lebih percaya
diri. Perasaan ini bisa bertahan sampai 12 jam, dan beberapa orang terus
menggunakan untuk menghindari turun dari obat

Namun, aktivitas amfetamin di seluruh otak tampaknya lebih spesifik;


reseptor tertentu yang merespon amfetamin di tetapi beberapa daerah otak
cenderung tidak melakukannya di wilayah lain. Sebagai contoh,
dopamin D2 reseptor di hippocampus , suatu daerah otak yang terkait dengan
membentuk ingatan baru, tampaknya tidak terpengaruh oleh kehadiran amfetamin.

Sistem saraf utama yang dipengaruhi oleh amfetamin sebagian besar


terlibat dalam sirkuit otak. Selain itu, neurotransmiter yang terlibat dalam jalur
berbagai hal penting di otak tampaknya menjadi target utama dari amfetamin.
Salah satu neurotransmiter tersebut adalah dopamin , sebuah pembawa pesan
kimia sangat aktif dalam mesolimbic dan mesocortical jalur imbalan. Tidak
mengherankan, anatomi komponen jalur tersebut-termasuk striatum , yangnucleus
accumbens , dan ventral striatum -telah ditemukan untuk menjadi situs utama dari
tindakan amfetamin. Fakta bahwa amfetamin mempengaruhi aktivitas
neurotransmitter khusus di daerah terlibat dalam memberikan wawasan tentang
konsekuensi perilaku obat, seperti timbulnya stereotip euforia .

Amphetamine telah ditemukan memiliki beberapa analog endogen, yaitu


molekul struktur serupa yang ditemukan secara alami di otak. l- Fenilalanin dan
- phenethylamine adalah dua contoh, yang terbentuk dalam sistem saraf perifer
serta dalam otak itu sendiri. Molekul-molekul ini berpikir untuk memodulasi
tingkat kegembiraan dan kewaspadaan.
Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa
berpikir lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan
bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul
akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan
sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi
untuk naik secara signifikan. Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa
percaya diri yang berlebih dan merasa lebih happy. Pengguna akan lebih talkative,
banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena
seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh
juga meningkat.

Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Efek dari


sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka
waktu beberapa menit. Hidrogensianida disebut juga formonitrile,
sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam
hidrosianik. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan
peledak. Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering
digunakan. Bentuk lain ialah sodiumsianida dan potassium sianida yang berbentuk
serbuk dan berwarna putih.Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam
dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida
dapat diproduksi oleh bakteri, jamur danganggan.Sianida juga
ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan makanan, s e l a i n
itu juga dapat ditemukan beberapa produk sintetik.sianida
b a n y a k d i g u n a k a n p a d a i n d u s t r i terutama dalam pembuatan garam
seperti natrium, kalium atau kalsium sianida.

Gejala yang ditimbulkan oleh zat kimia sianida ini bermacam-macam;


mulai dari rasa nyeri padakepala, mual muntah, sesak nafas, dada
berdebar kencang, selalu berkeringat sampai korba n tidak sadar
dan apabila tidak segera ditangani dengan baik akan mengakibatkan
kematian. Penatalaksaan dari korban keracunan ini harus cepat,
karena prognosis dariterapi yang diberikan juga sangat tergantung
dari lamanya kontak dengan zat toksik tersebut.Sianida dapat
menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk pada tekanan darah,
penglihatan, paru, saraf pusat, jantung, sistem endokrin, sistem otonom dan sistem
metabolisme. Biasanya penderita akan mengeluh timbul rasa pedih dimata karena
iritasidan kesulitan bernafas karena mengiritasi mukosa saluran pernafasan. Gas
sianida sangat berbahaya apabila terpapar dalam konsentrasi tinggi. Hanya dalam
jangka waktu 15 detik tubuh akan merespon dengan hiperpnea, 15 detik
setelah itu sesorang akan kehilangan kesadarannya. 3 menit kemudian
akan mengalami apnea yang dalam jangka waktu 5-8 menit akan
mengakibatkan aktifitas otot jantung terhambat karena hipoksia dan
berakhir dengan kematian. Dalam konsentrasi rendah, efek dari sianida baru
muncul sekitar 15 -30 m e n i t k e m u d i a n , s e h i n g g a m a s i h b i s a d i
selamatkan dengan pemberian antidotum.

Tanda awal dari keracunan sianida adalah hiperpnea sementara,


nyeri kepala, dispnea,kecemasan, perubahan perilaku seperti agitasi
dan gelisah, berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah
dan vertigo juga dapat muncul. Ta n d a akhir sebagai cirri adanya
p e n e k a n a n t e r h a d a p C N S a d a l a h k o m a d a n dilatasi pupil, tremor,
aritmia, kejang-kejang, koma penekanan pada pusat pernafasan,
gagal nafas sampai henti jantung, tetapi gejala ini tidak
s p e s i f i k . b a g i m e r e k a y a n g keracunan sianida sehingga menyulitkan
penyelidikan apabila penderita tidak mempunya iriwayat terpapar sianida.
Karena efek racun dari sianida adalah memblok pengambilandan
penggunaan dari oksigen, maka akan didapatkan rendahnya kadar
oksigen dalam jaringan.

III. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat yang digunakan : alat suntik,alat oral dan stopwatch
B. BAHAN
Bahan yang digunakan : Amfetamin 10 dan 20 mg/kgbb secara ip,NaCl
fisiologis,NaNO2 0,2% 20mg/kgbb,NaCN 0,2% 20mg/kgbb dan Na2S2O3
0,2%mg/kgbb
C. .Hewan yang digunakan : Mencit

IV. PROSEDUR KERJA

A.TOKSISITAS AMFETAMIN

1. Timbang hewan dan tandai untuk tiap kelompok


2. Hitung dosis untuk masing-masing hewan tiap kelompok
3. Suntikkan Amfetamin 20mg/kgBB secara ip pada mencit
4. Untuk kelompok 1 tempatkan pada kandang tersendiri sedangkan untuk
mencit kelompok lainnya tempatkan dalam satu kandang
5. Amati dan ctata waktu terjadinnya manifestasi efek amfetamin pada
percobaan
6. Bahas dan tarik kesimpulan pada percobaan ini

B.TOKSISITAS SIANIDA

1. Timbang hewan dan tandai


2. Selanjutnya lakukan hal seperti tercantum pada table.
3. Untuk obat sianida kelompok 1 mencit 1 berikan obat NaNO 2 20mg/kgBB
secara subkutan dan NaCN 20mg/kgBB secara oral, untuk mencit 2 NaCl
Fisiologis 20mg/kgBB secara subkutan dan NaCN 20mg/kgBB secara
oral.

4. Amati gejala yang timbul,catat waktu timbulnya gejala tersebut


VI. PEMBAHASAN

Amfetamin bekerja dengan cara seperti adrenalin, yaitu sebuah hormon


yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Zat ini di kalangan pengguna
napza dikenal sebagai upper yang mana dapat menurunkan nafsu makan dan
akan menyebabkan pengguna tidak mempunyai rasa lelah. Mengkonsumsi satu
paket amfetamin akan memberikan efek langsung yang bekerja dalam waktu 15
sampai 30 menit. Apabila dihisap (snort) maka akan menimbulkan yang lebih
cepat (5 hingga 10 menit). Apabila disuntikkan akan memberikan efek yang
seketika dan langsung.

Ketika seseorang menggunakan upper, zat tersebut akan merangsang


sistem saraf pusat penggunanya. Zat bekerja pada sistem neurotransmiter
norepinefrin dan dopamin otak. Menggunakan amfetamin dapat menyebabkan
otak untuk menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Jumlah dopamin
yang berlebih di dalam otak akan menghasilkan perasaan euforia dan kesenangan
yang biasa dikenal sebagai high.

Seiring berjalannya waktu, orang yang menggunakan shabu akan


mengembangkan toleransi terhadap zat amfetamin yang terkandung di dalam
Shabu. Toleransi artinya seseorang akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi
untuk mendapatkan efek yang sama. Jika sejumlah dosis yang dibutuhkan tidak
terpenuhi maka pengguna zat amfetamin akan muncul perasaan
craving/withdrawal atau dikenal dengan perasaan sakaw.

Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa
berpikir lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan
bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul
akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan
sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi
untuk naik secara signifikan. Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa
percaya diri yang berlebih dan merasa lebih happy. Pengguna akan lebih talkative,
banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena
seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh
juga meningkat. Pengguna seringkali berbicara terus dengan cepat dan terus
menerus. Amfetamin dosis rendah akan habis durasinya di dalam tubuh kita antara
3 sampai 8 jam, Setelah itu pengguna akan merasa kelelahan. Kondisi ini akan
membuat dorongan untuk kembali speed-up dan kembali mengkonsumsi satu
dosis kecil lagi, begitu seterusnya. Penggunaan bagi social user dimana biasanya
hanya menggunakan amfetamin pada akhir minggu biasanya menjadi tidak bisa
mengontrol penggunaannya dan banyak yang berakhir dengan penggunaan
sepanjang minggu penuh, mulai dari Sabtu ke Jumat, begitu seterusnya.

Karena efeknya yang menimbulkan kecanduan dengan adanya toleransi


dari zat yang dikonsumsi, maka zat ini juga akan menimbulkan efek secara fisik.
Begitu seseorang telah kecanduan amfetamin, maka orang tersebut harus kembali
menggunakan amfetamin untuk mencegah sakaw (withdrawal). Karena efek yang
ditimbulkan amfetamin bisa boosting energi pada penggunanya, maka efek
withdrawal yang paling sering muncul adalah kelelahan. Pengguna zat ini
kemungkinan juga akan membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dan sangat
sensitif/mudah marah pada saat dibangunkan. Begitu efek obatnya hilang,
pengguna yang tadinya tidak merasa lapar kemudian menjadi sangat lapar.

Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Efek dari


sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka
waktu beberapa menit. Tanda awal dari keracunan sianida adalah
hiperpnea sementara, nyeri kepala, dispnea,kecemasan, perubahan
perilaku seperti agitasi dan gelisah, berkeringat banyak, warna kulit
kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat
muncul.Ta n d a a k h i r s e b a g a i c i r i a d a n y a p e n e k a n a n t e r h a d a p C N
S a d a l a h k o m a d a n dilatasi pupil, tremor, aritmia, kejang-kejang,
koma penekanan pada pusat pernafasan,

gagal nafas sampai henti jantung, tetapi gejala ini tidak

s p e s i f i k b a g i m e r e k a y a n g keracunan sianida sehingga menyulitkan


penyelidikan apabila penderita tidak mempunya iriwayat terpapar sianida.
Karena efek racun dari sianida adalah memblok pengambilandan
penggunaan dari oksigen, maka akan didapatkan rendahnya kadar
oksigen dalam jaringan.
Pada percobaan ini mencit yang disuntikkan amfetamin aktivitas motorik
nya meningkat dan laju pernafasannya meningkat,sedangkan mencit yang
diberikan Sianida mengalami gejala-gejala keracunan seperti nafas sesak,diam
ditempat,tremor ,kejang dan ahirnya mati dalam waktu yang sangat singkat.

VII. KESIMPULAN

1. Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis yang disebut sistem


saraf pusat (SSP) stimulants.
2. Amfetamin memiliki banyak efek stimulan diantaranya meningkatkan
aktivitas dan gairah hidup, menurunkan rasa lelah, meningkatkan mood,
meningkatkan konsentrasi, menekan nafsu makan, dan menurunkan
keinginan untuk tidur
3. Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Efek dari
sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam
jangka waktu beberapa menit.
4. Sianida dapat menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk
pada tekanan darah, penglihatan, paru, saraf pusat, jantung, sistem
endokrin, sistem otonom dan sistem metabolisme. Biasanya penderita akan
mengeluh timbul rasa pedih dimata karena iritasi dan kesulitan bernafas
karena mengiritasi mukosa saluran pernafasan.
5. Penatalaksaan dari korban keracunan ini harus cepat, karena
prognosis dari terapi yang diberikan juga sangat tergantung dari
lamanya kontak dengan zat toksik tersebut
6. Keracunan sianida dapat diamati dengan adanya gangguan
sistem pernapasan,seperti sesak nafas. Keracunan ini dapat
diatasi dengan pemberian antidotum yang tepat karna
keterlambatan pemberian antidotum dapat menyebabkan
kematian.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen kesehatan Indonesia,Farmakope Indonesia edisi IV.Jakarta

Departemen kesehatan Indonesia,Farmakope Indonesia edisi III.Jakarta


Ernst Mutschler. 1986. Dinamika Obat, Farmakologi dan Toksikologi
(terjemahan), ITB : Bandung
Gunawan s, dkk. (2007). Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Gaya Gon