You are on page 1of 2

Wanita bermata bulat itu masih saja memandangi sebuah kalender yang berada diatas meja samping

tempat tidurnya. Fokus matanya tertuju pada sebuah tanggal yang dilingkarinya sendiri dengan sepidol
berwarna hitam, baginya menandai sebuah tanggal adalah suatu ritual yang dilakukan untuk
menghargai setiap kenangan yang tenggelam, juga segala harap yang tertanam didalamnya.

Setelah lelah memandangi kalender wanita bermata bulat melempar pandangan pada jam weker yang
juga berada diatas meja itu, jarumnya tidak berdetak, menjadikan dia kini tidak tahu waktu, yang wanita
bermata bulat tahu hanyalah bahwa dia sudah terbangun sejak lama, atau bahkan sama sekali tidak
benar-benar tidur semalaman, hanya berbaring dan memejamkan mata, namun pikirannya sibuk
berputar-putar menerobos ruang dan waktu. Wanita bermata bulat benci waktu, terdengar konyol,
memang. Tapi wanita itu begitu benci terbawa oleh arus waktu yang tak mampu dilawan. Seperti saat
ini, sejak kapan jam wekerku itu mati? Sejak kapan buku-buku nofel koleksinya bertebaran dilantai
kamar? Sejak kapan dia mengalami insominia yang ssangat menyiksa? Mengapa dia tidak
menyadarinya? Waktu berjalan terlalu cepat untuk dikejar.

Masih berbaring diatas kasur, wanita bermata bulat menatap jendela, tirainya terbuka, lagi-lagi ia lupa
menutup tirai. Langit masih gelap, diluar sedang hujan, cukup deras. Wanita bermata bulat menggeliat,
memutarkan badan hingga berbaring membelakangi jendela, tak sengaja pandangannya tertuju pada
sebuah bingkai yang tergantung tepat ditengah-tengaah sudut dinding, potret yang sangat ia kenali,
masih lekat di dalam ingatannya. Ukir mawar yang saling bertautan, dan dinginnya batang besi yang
menusuk jauh ke dalam tulang punggung saat duduk di sana, di kursi besi yang ada di sisi tanah
lapang taman kota. Lalu seolah lupa hari yang telah beranjak tua, kita mempertukarkan cerita. O
tidak, tepatnya aku yang menjadi pendengar dan kau yang bercerita. Kau seolah tak pernah
kehabisan cerita. Banyak sekali hal yang kau kisahkan sembari menunggui senja di bangku besi itu.
Dan yang paling kerap kudengar adalah tentang bunga kemuning yang kau tanam di pot kecil di
teras rumahmu. Tentang warnanya, tentang aromanya, dan tentang gelisahmu terhadap kumbang
yang sayapnya membuat banyak kembang berjatuhan. Aku tersenyum seperti halnya yang kau
lakukan di tiap jeda cerita. Tapi, aku tak tersenyum untuk ceritamu. Tidak, kau salah atas satu hal
itu. Maaf, karena aku tersenyum untuk binar yang terbit dari matamu tiap kau usai bercerita. Karena
binar nyala itulah aku bersedia untuk menunggui akhir ceritamu, di tiap senja di bangku besi di tepi
tanah lapang taman kota.

Hujan semakin menderas , bagi wanita bermata bulat hujan adalah pemantik untuk kembali pada masa
lalu. Ibarat pematik api, saat memantiknya maka menyalalah si api, menyembur dengan rasa panas yang
mampu menyesakan dada atau bahkan membakar diam-diam, wanita bermata butal mencoba mencari
nafas, tapi tidak tahu dimana, dadanya sesak, kenangan-kenangan dari masalalunya tergambar jelas
dikepala, seperti layar televisi yang menampakan sebuah reka adegan lambat, wanita bermata bulat
tahu, kenangan memang selalu punya caranya untuk kembali, datang tiba-tiba. terlebih jika benda-
benda masa lalu dengan mudah masih dapat terlihat mata.

Aku kembali menggeliat, menghadap kejendela lagi. Lagi-lagi ia meandangi hujan yang masih turun dari
balik jendela, meski tidak sederas tadi. Sebenarnya aku ingin beranjak kedapur, menyeduh secangkir
teh melati dengan setengah sendok gula, lalu duduk diteras sambil memandangi bunga-bunga petunia
yang memenuhi pekarangan teras. Tapi niat itu segera segera kuurungkan, teringat kemarin sore saat
tak sengaja melintasi pekarangan, aku mendapati bunga-bunga itu telah layu, bahkan aku tidak pernah
tahu kapan tepatnya bunga-bunga itu mulai layu. Sekali lagi aku dikalah kan oleh waktu.

setelah selesai menyemai bibit-bibit bunga petunia baru yang ia beli di toko bunga pagi tadi, nisa duduk
bersedekap dalam cardigan berbahan rajutan hangat dikursi beranda yang menghadap langsung ke
pekarangan rumah, tangannya memegang sebuah cangkir the hangat, didalam cairan coklat bening itu ia
seolah melihat wajah ayah, kerutan yang mengelilingi kedua matanya, bintik hitam, dan kehangatan
menghangatkan.

Aroma melati the begitu menyengat, membawanya hanut dalam setiap ritual senja yang kerap ia
lakukan bersama ayah. Duduk berdua diberanda rumah sambil menikmati hangatnya the melati dan
indahnya bunga petunia yang menari-nari tertiup angin. Berdiskusi tentang apapun.

Langkahku terhenti di satu sisi dinding. Permukaan datar itu berisi gambar-gambar aku dan dia,
penuh dengan senyum, bahkan tak sedikit yang berisi pose tolol kami berdua. Masing-masing
gambar menunjukkan perubahan wajahku dari masa ke masa. Saat aku masih balita, saat aku
menjadi anak-anak, remaja, hingga yang terakhir memampang wajahku tiga tahun yang lalu. Tentu
saja dalam tiga tahun banyak yang telah berubah dari penampilanku, tapi foto itu paling mendekati
gambaran sosok aku yang sekarang. Otomatis, segala perkataan yang pernah ia ujar kepadaku
sepanjang masa itu kembali terngiang di kepalaku.

Sembari menikmati teh setengah hangatnya, nisa tersenyum mengingat masa lalu. Ritual yang senja
yang kerap ia lakukan dengan laki-laki yang paling dicintainya. Menikmati