You are on page 1of 40

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat
penyelenggaraan-Nya, makalah tentang Proses Asuhan Keperawatan Pada Artritis
Rematoid ini bisa diselesaikan. Asuhan keperawat ini ditulis dengan tujuan
sebagai tugas mata kuliah sistem muskuloskeletal. Tujuan yang lebih khusus dari
penulisan ini ialah untuk memberi pelatihan bagaimana cara membuat ASKEP
serta menambah pengetahuan tentang penyakit Artritis Reumatoid (Asam Urat).

Akhirnya, harapan tim penulis semoga makalah Asuhan Keperawatan


Artritis Reumatoid ini bermanfaat bagi pembaca. Tim Penulis telah berusaha
sebisa mungkin untuk menyelesaikan askep ini, namun tim penulis menyadari
askep ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, tim penulis mengharapakan kritik
dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.

Palangka, 8 juni

Tim Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. LATAR BELAKANG........................................................................................1

B. TUJUAN PENELITIAN....................................................................................1

BAB I LAPORAN PENDAHULUAN...................................................................4

1.1. DEFINISI.........................................................................................................4

1.2. ETIOLOGI.......................................................................................................5

1.3. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL..........................6

1.4 PATOFISIOLOGI...........................................................................................13

1.5 PATOFLOW...................................................................................................15

1.6 MANIFESTASI KLINIK...............................................................................17

1.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK..................................................................18

1.8 PENATALAKSANAAN MEDIK DAN TERAPI.......................................19

1.9 KOMPLIKASI...............................................................................................19

1.10 PROGNOSIS..................................................................................................20

1.11 PENCEGAHAN.............................................................................................20

BAB II ASKEP TEORI..........................................................................................22

2.1 DATA DASAR PENGKAJIAN......................................................................22

2.2 DIAGNOSA DAN PERENCANAAN...........................................................24

BAB III PENUTUP...............................................................................................34

A. KESIMPULAN..............................................................................................69

B. SARAN...........................................................................................................69

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................71

ii
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengetahuan tentang asuhan keperawatan muskuloskeletal makin


dibutuhkan mahasiswa ataupun perawat selaku pemberi pelayan kesehatan.
Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan.
Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah
ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden
pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan
penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki.
Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ).
Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang
tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga
terdapat predisposisi terhadap penyakit.
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka penulis (mahasiswa)
mencoba untuk mengangkat kasus pada pasien Tn. JW dengan Gangguan
Sistem Muskuloskeletal: Artritis Reumatoid (Asam Urat).

B. TUJUAN PENELITIAN
a. Tujuan Umum
Penulis dapat melakukan tindakan keperawatan terhadap pasien
dengan gangguan sistem muskuloskeletal: artritis reumatoid secara
langsung dan cepat.
b. Tujuan Khusus
Penulis mampu :
i. Mengkaji klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal: artritis
reumatoid.
ii. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem muskuloskeletal: artritis reumatoid.

40
iii. Menentukan tujuan dan rencana tindakan keperawatan pada klien
dengan gangguan sistem muskuloskeletal: artritis reumatoid.
iv. Mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk
pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem muskuloskeletal: artritis reumatoid.
v. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal: artritis
reumatoid.
vi. Menyusun laporan hasil pengamatan dan Asuhan Keperawatan
kasus dalam bentuk Asuhan Keperawatan dengan pedoman yang
telah ditetapkan.

40
BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1. DEFINISI
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik
dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ
tubuh (Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : hal 536).
Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang
menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang
bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta
jaringan ikat sendi secara simetris. (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu
Bedah Orthopedi, hal.165)
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang
tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi
dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan
deformitas lebih lanjut.(Susan Martin Tucker.1998).
Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama
mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan
nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan ( Diane C.
Baughman. 2000 ).
Artritis Reumatoid adalah suatu penyakit peradangan kronik yang
menyebabkan degenerasi jaringan ikat, peradangan (inflamasi) terjadi secara
terus-menerus terutama pada organ sinovium dan menyebar ke struktur
sendi di sekitarnya seperti tulang rawan, kapsul fibrosa sendi, legamen dan
tendon. Inflamasi ditandai dengan penimbunan sel darah putih, pengaktifan
komplemen, fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan granular.
Inflamasi kronik menyebabkan hipertropi dan penebalan membran pada
sinovium, terjadi hambatan aliran darah dan nekrosis sel dan inflamasi
berlanjut. Pembentukan panus terjadi oleh penebalan sinovium yang dilapisi

40
jaringan granular. Penyebaran panus ke sinovium menyebabkan peradangan
dan pembentukan jaringan parut memacu kerusakan sendi dan deformitas.
Biasanya jaringan ikat yang pertama kali mengalami kerusakan adalah
jaringan ikat yang membentuk lapisan sendi, yaitu membrane sinovium

1.2. ETIOLOGI
Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara
pasti. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan,
hormonal dan faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar
adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone &
Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis
reumatoid, yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor
autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor
infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma
atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang
rawan sendi penderita. Faktor pencetus mungkin adalah suatu bakteri,
mikoplasma, virus yang menginfeksi sendi atau mirip dengan sendi secara
antigenis. Biasanya respon antibodi awal terhadap mikro-organisme
diperatarai oleh IgG. Walaupun respon ini berhasil mengancurkan mikro-
organisme, namun individu yang mengidap AR mulai membentuk antibodi
lain biasanya IgM atau IgG, terhadap antibodi IgG semula. Antibodi ynng
ditujukan ke komponen tubuh sendiri ini disebut faktor rematoid ( FR ). FR
menetap di kapsul sendi, dan menimbulkan peradangan kronik dan destruksi
jaringan AR diperkirakan terjadi karena predisposisi genetik terhadap
penyakit autoimun.

40
1.3. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. Anatomi Fisiologi Rangka
Muskuloskeletal berasal dari kata muscle (otot) dan skeletal
(tulang). Rangka (skeletal) merupakan bagian tubuh yang terdiri dari
tulang, sendi dan tulang rawan (kartilago), sebagai tempat menempelnya
otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang tulang (sekitar 206
tulang ) yang membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun
rangka terutama tersusun dari tulang, rangka di sebagian tempat
dilengkapi dengan kartilago. Rangka digolongkan menjadi rangka aksial,
rangka apendikular, dan persendian.
a. Rangka aksial, melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan
torso.
1. Kolumna vertebra
2. Tengkorak
Tulang cranial : menutupi dan melindungi otak dan organ-
organ panca indera.
Tulang wajah : memberikan bentuk pada muka dan berisi
gigi.
Tulang auditori : terlihat dalam transmisi suara.
Tulang hyoid : yang menjaga lidah dan laring.
b. Rangka apendikular, tulang yang membentuk lengan tungkai dan
tulang pectoral serta tonjolan pelvis yang menjadi tempat
melekatnya lengan dan tungkai pada rangkai aksial.
c. Persendian, adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih.
Fungsi Sistem Rangka :
1. Tulang sebagai penyangga (penopang); berdirinya tubuh,
tempat melekatnya ligamen-ligamen, otot, jaringan lunak dan
organ, juga memberi bentuk pada tubuh.

40
2. Pergerakan ; dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka
saat bergerak, adanya persendian.
3. Melindungi organ-organ halus dan lunak yang ada dalam
tubuh.
4. Pembentukan sel darah (hematopoesis / red marrow).
5. Tempat penyimpanan mineral (kalium dan fosfat) dan lipid
(yellow marrow).
Menurut bentuknya tulang dibagi menjadi 4, yaitu :
1. Tulang panjang, terdapat dalam tulang paha, tulang lengan
atas.
2. Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak tetap dan didalamnya
terdiri dari tulang karang, bagian luas terdiri dari tulang padat.
3. Tulang ceper yang terdapat pada tulang tengkorak yang terdiri
dari 2 tulang karang di sebelah dalam dan tulang padat
disebelah luar.
4. Bentuk yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang
pendek.

40
Gambar : tulang pada tubuh manusia
(http://kerzt.files.wordpress.com/2009/02/normal.gif)
Struktur Tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi tulang
pendek, panjang, tulang berbentuk rata (flat) dan tulang dengan bentuk
tidak beraturan. Terdapat juga tulang yang berkembang didalam tendon
misalnya tulang patella (tulang sessamoid). Semua tulang memiliki
sponge tetapi akan bervariasi dari kuantitasnya.Bagian tulang tumbuh
secara longitudinal, bagian tengah disebut epiphyse yang berbatasan
dengan metaphysic yang berbentuk silinder.
Vaskularisasi. Tulang merupakan bagian yang kaya akan vaskuler
dengan total aliran sekitar 200-400 cc/menit.Setiap tulang memiliki
arteri menyuplai darah yang membawa nutrient masuk di dekat
pertengahan tulang kemudian bercabang ke atas dan ke bawah menjadi
pembuluh darah mikroskopis, pembuluh ini menyuplai korteks, morrow,
dan sistem harvest.
Persarafan. Serabut syaraf simpatik dan afferent (sensorik)
mempersarafi tulang dilatasi kapiler dan di control oleh saraf simpatis
sementara serabut syaraf efferent menstramisikan rangsangan nyeri.

Pertumbuhan dan Metabolisme Tulang


Setelah pubertas tulang mencapai kematangan dan pertumbuhan
maksimal. Tulang merupakan jaringan yang dinamis walaupun demikian
pertumbuhan yang seimbang pembentukan dan penghancuran hanya
berlangsung hanya sampai usia 35 tahun. Tahun tahun berikutnya
rebsorbsi tulang mengalami percepatan sehigga tulang mengalami
penurunan massanya dan menjadi rentan terhadap injury.Pertumbuhan
dan metabolisme tulang di pengaruhi oleh mineral dan hormone sebagai
berikut :
Kalsium dan Fosfor. Tulang mengandung 99% kalsium dan 90%
fosfor. Konsentrasi ini selalu di pelihara dalam hubungan terbalik.
Apabila kadar kalsium meningkat maka kadar fosfor akan

40
berkurang, ketika kadar kalsium dan kadar fosfor berubah,
calsitonin dan PTH bekerja untuk memelihara keseimbangan.
Calsitonin di produksi oleh kelenjar tiroid memiliki aksi dalam
menurunkan kadar kalsium jika sekresi meningkat di atas normal.
Menghambat reabsorbsi tulang dan meningkatkan sekresi fosfor
oleh ginjal bila di perlukan.
Vit. D. diproduksi oleh tubuh dan di trasportasikan ke dalam darah
untuk meningkatkan reabsorbsi kalsium dan fosfor dari usus halus,
juga memberi kesempatan untuk aktifasi PHT dalam melepas
kalsium dari tulang.
Proses Pembentukan Tulang
Pada bentuk alamiahnya, vitamin D di proleh dari radiasi sinar
ultraviolet matahari dan beberapa jenis makanan. Dalam kombinasi
denagan kalsium dan fosfor, vitamin ini penting untuk pembentukan
tulang.
Vitamin D sebenarnya merupakan kumpulan vitamin-vitamin,
termasuk vitamin D2 dan D3. Substansi yang terjadi secara alamiah ialah
D3 (kolekalsiferol), yang dihasilkan olehakifitas foto kimia pada kulit
ketika dikenai sinar ultraviolet matahari. D3 pada kulit atau makanan
diwa ke (liver bound) untuk sebuah alfa globulin sebagai
transcalsiferin,sebagaian substansi diubah menjadi 25 dihidroksi
kolekalsiferon atau kalsitriol. Calcidiol kemudian dialirkan ke ginjal
untuk transformasi ke dalam metabolisme vitamin D aktif mayor, 1,25
dihydroxycho lekalciferol atau calcitriol. Banyaknya kalsitriol yang di
produksi diatur oleh hormone parathyroid (PTH) dan kadar fosfat di
dalam darah, bentuk inorganic dari fosfor penambahan produksi
kalsitriol terjadi bila kalsitriol meningkat dalam PTH atau pengurangan
kadar fosfat dalam cairan darah.
Kalsitriol dibutuhkan untuk penyerapan kalsium oleh usus secara
optimal dan bekerja dalam kombinasi dengan PTH untuk membantu
pengaturan kalsium darah. Akibatnya, kalsitriol atau pengurangan
vitamin D dihasilkan karena pengurangan penyerapan kalsium dari usus,

40
dimana pada gilirannya mengakibatka stimulasi PHT dan pengurangan,
baik itu kadar fosfat maupun kalsium dalam darah.
Hormon parathyroid. Saat kadar kalsium dalam serum menurun
sekresi hormone parathyroid akan meningkat aktifasi osteoclct dalam
menyalurkan kalsium ke dalam darah lebih lanjutnya hormone ini
menurunkan hasil ekskresi kalsium melalui ginjal dan memfasilitasi
absorbsi kalsium dari usus kecil dan sebaliknya.
Growth hormone bertanggung jawab dalam peningkatan panjang
tulang dan penentuan matriks tulang yang dibentuk pada masa
sebelum pubertas.
Glukokortikoid mengatur metabolism protein. Ketika diperlukan
hormone ini dapat meningkat atau menurunkan katabolisme untuk
mengurangi atau meningkatkan matriks organic. Tulang ini juga
membantu dalam regulasi absorbsi kalsium dan fosfor dari usus
kecil.
Seks hormone estrogen menstimulasi aktifitas osteobalstik dan
menghambat hormone paratiroid. Ketika kadar estrogen menurun
seperti pada masa menopause, wanita sangat rentan terjadinya massa
tulang (osteoporosis).
Persendian
Persendian dapat diklasifikasikan menurut struktur (berdasarkan
ada tidaknya rongga persendian diantara tulang-tulang yang beratikulasi
dan jenis jaringan ikat yang berhubungan dengan paersendian tersebut)
dan menurut fungsi persendian (berdasarkan jumlah gerakan yang
mungkin dilakukan pada persendian).

40
Gambar. Sendi
(http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_376/images/hal14a.jpg)

Klasifikasi struktural persendian :


Persendian fibrosa
Persendian kartilago
Persendian sinovial.
Klasifikasi fungsional persendian :
Sendi Sinartrosis atau Sendi Mati
Secara struktural, persendian di dibungkus dengan jaringan
ikat fibrosa atau kartilago.
Amfiartrosis
Sendi dengan pergerakan terbatas yang memungkinkan
terjadinya sedikit gerakan sebagai respon terhadap torsi dan
kompresi .
Diartrosis
Sendi ini dapat bergerak bebas,disebut juga sendi
sinovial.Sendi ini memiliki rongga sendi yang berisi cairan
sinovial,suatu kapsul sendi yang menyambung kedua tulang,
dan ujung tilang pada sendi sinovial dilapisi kartilago
artikular.
Klasifikasi persendian sinovial :
Sendi fenoidal : memungkinkan rentang gerak yang lebih
besar,menuju ke tiga arah. Contoh : sendi panggul dan sendi
bahu.
Sendi engsel : memungkinkan gerakan ke satu arah saja.
Contoh : persendian pada lutut dan siku.
Sendi kisar : memungkinkan terjadinya rotasi di sekitar aksis
sentral.Contoh : persendian antara bagian kepala proximal
tulang radius dan ulna.

40
Persendian kondiloid : memungkinkan gerakan ke dua arah
di sudut kanan setiap tulang. Contoh : sendi antara tulang
radius dan tulang karpal.
Sendi pelana : Contoh : ibu jari.
Sendi peluru : memungkinkan gerakan meluncur antara satu
tulang dengan tulang lainnya. Contoh : persendian
intervertebra.

2. Anatomi Fisiologi Otot.


Otot (muscle) adalah jaringan tubuh yang berfungsi mengubah
energi kimia menjadi kerja mekanik sebagai respon tubuh terhadap
perubahan lingkungannya. Jaringan otot, yang mencapai 40% -50%
berat tubuh,pada umumnya tersusun dari sel-sel kontraktil yang serabut
otot. Melalui kontraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan
melakukan pekerjaan.

Gambar. Otot pada tubuh manusia

Fungsi sistem Muskular

40
Pergerakan
Penopang tubuh dan mempertahankan postur
Produksi panas.
Ciri-ciri otot
Kontraktilitas
Eksitabilitas
Ekstensibilitas
Elastisitas
Klasifikasi Jaringan Otot
Otot diklasifikasikan secara structural berdasarkan ada tidaknya
striasi silang (lurik), dan secara fungsional berdasarkan kendali
konstruksinya, volunteer (sadar) atau involunter (tidak sadar), dan
juga berdasarkan lokasi,seperti otot jantung, yang hanya ditemukan
di jantung.
Jenis-jenis Otot
Otot rangka adalah otot lurik,volunter, dan melekat pada rangka.
Otot polos adalah otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot
ini dapat ditemukan pada dinding organ berongga seperti
kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti pada
sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius, dan
sistem sirkulasi darah.
Otot jantung adalah otot lurik, involunter, dan hanya ditemukan
pada jantung.

1.4 PATOFISIOLOGI
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk panus, atau
penutup yang menutupi kartilago. Panus masuk ke tulang sub chondria.

40
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan
sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara
permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).
Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi
lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.
Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya artritis reumatoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan
masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang
yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.
Yang lain. terutama yang mempunyai faktor reumatoid (seropositif
gangguan reumatoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
Pada Artritis reumatoid, reaksi autoimun terutama terjadi pada jaringan
sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi.
Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema,
proliferasi membran sinovial, dan akhirnya membentuk panus. Panus akan
meghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang, akibatnya
menghilangkan permukaan sendi yang akan mengalami perubahan
generative dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi
otot.

40
1.5 PATOFLOW Faktor Pencetus: Bakteri,
mikroplasma, atau virus

Penyakit autoimun Menginfeksi sendi secara antigenik

Individu yang mengidap AR membentuk antibodi IgM


Predisposisi Genetik
Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial (antibodi IgG)

Pelepasan Faktor Reumatoid (FR)

Respon IgG awal menghancurkan mikroorganisme

FR menempati dikapsula sendi

Inflamasi Kronis Pada Tendon, Ligamen juga terjadi deruksi jaringan

Akumulasi Sel Darah Putih Fagositosis ektensif Pembentukan Jaringan Parut

Pemecahan Kolagen
Terbentuk nodul- nodul rematoid ekstrasinovium Kekakuan sendi

Edema, poliferasi membrane sinovial Rentang Gerak Berkurang


Kerusakan sendi Progresif

Membrane sinovium menebal & hipertropi Atrofi Otot


Deformitas Sendi

Ndx: Gangguan Citra Tubuh


Ndx: Kerusakan Mobilitas Fisik
Panus

40
Kartilago dirusak Hambatan Aliran Darah

Nekrosis Sel

Erosi Sendi dan Tulang Nyeri

Menghilangnya permukaan sendi Ndx: Nyeri Kronis

Penurunan elastisitas dan kontraksi otot

Ndx: Kurang Perawatan


Ndx:
diriKurang Pengetahuan Mengenai penyakit

40
1.6 MANIFESTASI KLINIK
1. Tanda dan gejala setempat
Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning
stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih
dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari.
Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya
tidak berlangsung lama.
Lambat laun membengkak, panas merah, lemah.
Poli artritis simetris sendi perifer Semua sendi bisa terserang,
panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling
sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan,
meskipun sendi yang lebih besar seringkali terkena juga.
Artritis erosif sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi
yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat
dilihat pada penyinaran sinar X.
Deformitas pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi
metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi
yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan
kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami
ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total.
Rematoid nodul merupakan massa subkutan yang terjadi pada
1/3 pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa
olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah,
bentuknya oval atau bulat dan padat.
Kronik Ciri khas rematoid artritis.
2. Tanda dan gejala sistemik
Lemah, demam, takhikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia.
Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:
a. Stadium sinovitis

40
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat
istirahat maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.
b. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial
terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya
kontraksi tendon. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula
perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck.
c. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang
kali, deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan
pada sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan
pannus, ankilosis fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang.

1.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Faktor rematoid: positif pada 80%-95% kasus.


Fiksasi lateks: positif pada 75% dari kasus-kasus khas.
Reaksi-reaksi aglutinasi: Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
LED: Umumnya meningkat pesat (80-100mm/h). Mungkin kembali normal
sewaktu gejala-gejala meningkat.
Protein C-reaktif: Positif selama masa eksaserbasi.
SDP: Meningkat pada waktu timbul proses inflamasi.
JDL: Umumnya menunjukkan anemia sedang.
Ig (IgM dan IgG): Peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
sebagai penyebab AR.
Sinar x dari sendi yang sakit: Menunjukkan pembengkakkan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan (perubahan
awal) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi
dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
Scan radionuklida: Identifikasi peradangan sinovium.

40
Artroskopi langsung: Visualisasi dari area yang menunjukkan
iregularitas/degenerasi tulang pada sendi.
Aspirasi cairan sinovial: Mungkin menunjukkan volume yang lebih besar
dari normal; buram, berkabut, munculnya warna kuning (respon inflamasi,
perdarahan, produk-produk pembuangan degeneratif); elevasi SDP dan
leukosit, penurunan viskositas dan komplemen (C3 dan C4).
Biopsi membran sinovial: Menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.

1.8 PENATALAKSANAAN MEDIK DAN TERAPI


Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya :
a) Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan
prognosis penyakit ini.
b) Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c) Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang,
ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien
d) Termoterapi
e) Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
f) Pemberian Obat-obatan :
Anti Inflamasi non steroid (NSAID) contoh:aspirin yang diberikan
pada dosis yang telah ditentukan.
Obat-obat untuk Reumatoid Artitis :
Acetyl salicylic acid, Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik,
Anty Inflamatory)
Indomethacin/Indocin(Analgetik, Anti Inflamatori)
Ibufropen/motrin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Tolmetin sodium/Tolectin(Analgetik Anti Inflamatori)
Naproxsen/naprosin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Sulindac/Clinoril (Analgetik, Anti Inflamatori)
Piroxicam/Feldene (Analgetik, Anti Inflamatori)

40
1.9 KOMPLIKASI
a) Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya
proses granulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
b) Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
c) Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
d) Terjadi splenomegali

1.10 PROGNOSIS
Perjalanan penyakit artritis reumatoid sangat bervariasi, bergantung
pada ketaatan pasien untuk berobat dalam jangka waktu lama. Sekitar 50
70% pasien artritis reumatoid akan mengalami prognosis yang lebih buruk.
Golongan ini umumya meninggi 10 15 tahun lebih cepat dari pada orang
tanpa artritis reumatoid. Penyebab kematiannya adalah infeksi, penyakit
jantung, gagal pernapasan, gagal ginjal, dan penyakit saluran cerna.
Umumnya mereka memiliki keadaan umum yang buruk, lebih dari 30 buah
sendi yang mengalami peradangan, dengan manifestasi ekstraartikuler, dan
tingkat pendidikan yang rendah. Golongan ini memerlukan terapi secara
agresif dan dini karena kerusakan tulang yang luas dapat terjadi dalam 2
tahun pertama.

1.11 PENCEGAHAN
Selain dengan menggunakan obat-obatan, untuk mengurangi nyeri
juga bisa dilakukan tanpa obat , misalnya dengan menggunakan kompres es.
Kompres es bias menurunkan ambang nyeri dan menggurangi fungsi enzim.
Kemudian banyak jenis sayuran yang dapat di konsumsi oleh penderita
rematik, misalnya jus seledri, kubis dan wortel yang dapat mengurangi
gejala rematik. Beberapa jenis herbal juga dapat melawan nyeri rematik,
misalnya jahe, kunyit, biji seledri, daun lidah buaya atau minyak juniper
yang bisa menghilangkan bengkak pada sendi.
Menjaga berat badan ideal juga perlu. Kelebihan berat badan dapat
membebani sendi di bagian ekstermitas bawah. Selain itu bobot tubuh
berlebih dapat memperbesar resiko terkena penyakit rematik. Olahraga
ringan seperti jalan kaki bermanfaat bagi penderita rematik. Ini karena Jalan

40
kaki dapat membakar kalori, memperkuat otot, dan membangun tulang
yang kuat tanpa menggangu persendian yang sakit.
Selama periode bebas gejala, ini pedoman diet dapat membantu
melindungi terhadap serangan penyakit rematik masa depan:
a. Jaga asupan cairan tubuh anda tinggi. Sekitar 8 sampai 16 gelas
(sekitar 2 sampai 4 liter) air setiap hari.

b. Batasi atau menghindari alkohol.

c. Makan diet seimbang. Makanan sehari-hari Anda harus menekankan


buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan bebas atau rendah lemak susu
produk-lemak.

d. Dapatkan protein dari lemak susu produk-rendah.

e. Batasi konsumsi daging, ikan dan unggas.

f. Menjaga berat badan yang diinginkan.

40
BAB II

ASKEP TEORI

2.1 DATA DASAR PENGKAJIAN

Data tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya,


(mis., mata, jantung, paru-paru, ginjal), tahapan (mis., eksaserbasi akut atau
remisi) dan keberadaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
2.1.1 Aktivitas/Istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress
pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara
bilateral dan simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh terhadap gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan.
Keletihan.
Tanda : Malaise.
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit; kontraktur/kelainan
pada sendi dan otot.
2.1.2 Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/kaki (mis., pucat intermiten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali
normal).
2.1.3 Integritas Ego
Gejala : Faktor-faktor stress akut/kronis; mis., finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi, (mis.,
ketergantungan pada diri orang lain).
2.1.4 Makanan/Cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat; mual.

40
Anoreksia.
Kesulitan untuk mengunyah (keterlibatan TMJ).
Tanda : Penurunan berat badan.
Kekeringan pada membran mukosa.
2.1.5 Higiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan
pribadi. Ketergantungan pada diri orang lain.
2.1.6 Neurosensori
Gejala : Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki., hilangnya sensasi pada
jaringan.
Pembengkakan sendi simetris.
2.1.7 Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri mungkin/mungkin tidak disertai oleh
pembengkakan jaringan lunak pada sendi.
Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pada pagi hari).
2.1.8 Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang; nodul subkutaneus.
Lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga.
Demam ringan menetap.
Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
2.1.9 Interaksi Sosial
Gejala : Kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain; perubahan peran;
isolasi.
2.1.10 Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat AR pada keluarga (pada awitan remaja).
Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan arthritis
tanpa pengujian.
Riwayat perikarditis, lesi katup; fibrosis pulmonal, pleuritis.
DRG menunjukan rata-rata lama dirawat: 4,8 hari.
Pertimbangan Rencana Pemulangan:

40
Mungkin membutuhkan pada transportasi, aktivitas perawatan diri dan
tugas/pemeliharaan rumah tangga.

40
.2 DIAGNOSA DAN PERENCANAAN

.2.1 Diagnosa keperawatan : Nyeri [Akut]/Kronis


Dapat dihubungkan dengan : Agen pencedera: Distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi, dekstruksi sendi.
Dapat dibuktikan oleh : Keluhan nyeri/ ketidaknyamanan, kelelahan.
Berfokus pada diri sendiri/penyempitan fokus.
Perilaku distraksi/respon autonomik.
Perilaku yang bersifat berhati-hati/melindungi.
Kriteria evaluasi : Menujukkan nyeri hilang/terkontrol.
Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan kedalam program kontrol nyeri.

Intervensi Rasional

Mandiri:
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). - Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan
Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa keefektifan program.
sakit nonverbal.
2. Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen - Matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan
tempat tidur sesuai kebutuhan. mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat,
menempatkan stres pada sendi yang sakit. Peninggian linen
tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu - Pada penyakit berat/eksaserbasi, tirah baring mungkin
tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur diperlukan (sampai perbaikan objeltif dan subjektif didapat)
sesuai indikasi. untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.
4. Tempatkan/pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan - Mengistirahakan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan
trokhanter, bebat, brace. posisi netral. Catatan: Penggunaan brace dapat menurunkan
nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada sendi.
Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan
hilangnya mobilitas/ fungsi sendi.
5. Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk - Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi.
bergerak ditempat tidur, sokong sendi yang sakit diatas dan Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada
dibawah, hindari gerakan yang menyentak. sendi.
6. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran - Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan
pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas
waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat
beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan disembuhkan.
sebagainya.
7. Berikan masase yang lembut. - Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan otot
8. Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya - Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin
relaksasi progresif, sentuhan terapeutik, biofeedback, meningkatkan kemampuan koping.
visualisasi, pedoman imajinasi, hipnosis diri, dan
pengendalian napas.
9. Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi - Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan
individu meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
10. Beri obat sebelum aktivitas/latihan yang direncanakan sesuai - Meningkatkan relaksasi, mengurangi tegangan otot/spasme,
petunjuk. memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
Kolaborasi :
11. Berikan obat-obatan sesuai petunjuk: - ASA bekerja sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan
Asetilsalisilat (aspirin); dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas. ASA
harus dipakai secara reguler untuk mendukung kadar dalam
darah terapeutik. Riset mengindikasikan bahwa ASA memiliki
indeks toksisitas yang paling rendah dari NSAID lain yang
diresepkan.
NSAID lainnya, mis., ibuprofen (Motrin); naproksen - Dapat digunakan bila pasien tidak memberikan respon pada
(Naprosyn); sulindak (Clinorol); piroksikam (Feldene); aspirin atau untuk meningkatkan efek dari aspirin. Catatan:
fenoprofen (Nalfon); Obat-obtan ini harus diberikan dengan urutan yang meningkat
menurut keparahan relatif dari efek-efek samping (indeks
toksisitas).
D-penisilamin (Cuprimine); - Dapat mengontrol efek-efek sistemik dari AR jika terapi
lainnya tidak berhasil. Tingkat yang tinggi dari efek-efek
samping (mis., trombositopenia, leukopenia, anemia aplastik)
membutuhkan pemantauan ketat. Catatan: Obat-obtan harus
diberikan diantara waktu makan karena absorbsi obat-obatan
menjadi tidak seimbang karena makanan dan juga produk
Antasida; antasida dan besi.
- Diberikan dengan agen NSAID untuk meminimalkan
Produk Kodein; iritasi/ketidaknyamanan lambung.
- Meskipun narkotik umumnya adalah kontraindikasi karena sifat
kronis dari kondisi, penggunaan jangka pendek mungkin
diperlukan selama periode eksaserbasi akut untuk mengontrol
12. Bantu dengan terapi fisik, mis., sarung tangan parafin, bak nyeri parah.
mandi dengan kolam bergelombang. - Memberikan dukungan panas untuk sendi yang sakit. Catatan:
Panas merupakan kontraindikasi pada adanya sendi-sendi yang
13. Berikan es atau kompres dingin jika dibutuhkan. panas dan bengkak.
- Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama
14. Pertahankan unit TENS jika digunakan. periode akut.
- Rangsang elektrik tingkat rendah yang konstan dapat
15. Siapkan intervensi operasi, misalnya sinovektomi menghambat transmisi sensasi nyeri.
- Pengangkatan sinovium yang meradang dapat mengurangi
nyeri dan membatasi progresi dari perubahan degeneratif.
.2.2 Diagnosa keperawatan : Mobilitas Fisik, Kerusakan
Dapat dihubungan dengan : Deformitas skeletal.
Nyeri, ketidaknyamanan.
Intoleransi terhadap aktivitas, penurunan terhadap aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Dapat dibuktikan oleh : Keengganan untuk mencoba bergerak/ketidakmampuan bergerak dalam lingkungan fisik.
Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot/kontrol dan
massa [tahap lanjut].
Hasil evaluasi : Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan kontraktur.
Mempertahankan atau pun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/atau kompensasi
bagian tubuh.
Mendemostrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.
Intervensi Rasional

Mandiri:
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/rasa sakit - Tingkat aktivitas/latihan tergantung dari perkembangan/resolusi
pada sendi. dari proses inflamasi.
2. Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan. - Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan
Jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan,
terus-menerus dan tidur malam hari yang tidak terganggu. mempertahankan kekuatan.
3. Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikian juga latihan - Mempertahankan atau meningkatkan fungsi sendi, kekuatan
resistif dan isometrik jika memungkinkan. otot dan stamina umum. Catatan: latihan tidak adekuat
menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas berlebihan
dapat merusak sendi.
4. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. - Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan
Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian
penggunaan bantuan mobilitas mis., trapeze. pasien. Teknik oemindahan yang tepat dapat mencegah robekan
abrasi kulit.
5. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokhanter, - Meningkatkan stabilitas jaringan (mengurangi resiko cedera)
bebat, brace. dan mempertahankan posisi sendi yang diperlukan dan
kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktur.
6. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher. - Mencegah fleksi leher.
7. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk - Memaksimalkan fungsi sendi, mempertahankan mobilitas.
tinggi, berdiri, berjalan.
8. Berikan lingkungan yang aman, mis menaikkan kursi atau - Menghindari cedera akibat kecelakaan/jatuh.
kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak/pancuran dan
toilet, penggunaan alat bantu mobilitas/kursi roda penyelamat.
Kolaborasi :
9. Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan spesialis - Berguna dalam memformulasikan program latihan/aktivitas
vokasional. yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam
mengidentifikasikan alat/bantuan mobilitas.
10. Berikan matras busa/pengubah tekanan. - Menurunkan takanan pada jaringan yang mudah pecah untuk
11. Berikan obat-obatan sesuai indikasi. mengurangi resiko imobilitas/terjadi dekubitus.
Agen antireumatik, mis., emas, natrium tiumaleat - Krisoterapi (garam emas) dapat menghasilkan remisi
(Myochrysin) atau auranofin (Ridaura); dramatis/terus- menerus tetapi dapat mengakibatkan inflamasi
rebound bila terjadi penghentian atau efek samping serius, mis.,
krisis nitrotoid dengan pusing, penglihatan kabur, kemerahan
tubuh, perkembangan syok anafilaktik.
Steroid. - Mungkin dibutuhkan untuk menekan inflamasi sistemik akut.
12. Siapkan untuk intervensi bedah, mis.,
Artroplasti; - Perbaikan pada kelemahan periartikuler dan subluksasi dapat
meningkatkan stabilitas sendi.
Prosedur pelepasan tunnel, perbaikan tendon, ganglionektomi; - Perbaikan berkenaan dengan defek jaringan penyambung;
meningkatkan fungsi dan mobilitas.
Implan sendi. - Penggantian mungkin diperlukan untuk memperbaiki fungsi
optimal dan mobilitas.
.2.3 Diagnosa Keperawatan : Gangguan Citra Tubuh/ Perubahan Penampilan Peran.
Dapat dihubungan dengan : Perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Dapat dibuktikan oleh : Perubahan struktur atau fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan/fungsi masa lalu, dan penampilan.
Perubahan pada gaya hidup/ kemampuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan,
ketergantungan pada orang terdekat.
Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi. Perasaan tidak berdaya, putus asa.
Kriteria evaluasi : Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit,
perubahan pada gaya hidup dan kemungkinan keterbatasan.
Menyusun tujuan/rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi Rasional

Mandiri:
1. Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses - Berikan kempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesalahan
penyakit, harapan masa depan. konsep dan menghadapinya secara langsung.
2. Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang - Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi
terdekat. Memastikan bagaimana pandangan pribadi pasien diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan
dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek- kebutuhan terhadap intervensi/konseling lebih lanjut.
aspek seksual.
3. Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaimana orang - Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat mempunyai
terdekat menerima keterbatasan. pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya
sendiri.
4. Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, - Nyeri konstan akan melelahkan, da perasaan marah dan
ketergantungan. bermusuhan umum terjadi.
5. Perhatikan pengaruh menarik diri, penggunaan menyangkal - Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping
atau terlalu memperhatikan tubuh/perubahan. maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan
psikologis.
6. Susun batasan pada perilaku maladaptif. Bantu pasien untuk - Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang
mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu dapat meningkatkan perasaan harga diri.
koping.
7. Ikut-sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan - Meningkatkan perasaan kompetensi/ harga diri, mendorong
membuat jadwal aktivitas. kemandirian, dan mendorong partisipasi dalam terapi.
8. Bantu dengan kebutuhan perawatan yang diperlukan. - Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra
diri.
9. Berikan bantuan positif bila perlu. - Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya
sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa
Kolaborasi: percaya diri.
10. Rujuk pada konseling psikiatri, mis., perawat spesialis - Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan
psikiatri perawat klinis, psikiatri/psikolog, pekerja sosial. selama berhadapan dengan proses jangka
panjang/ketidakmampuan.
11. Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis., antiansietas dan - Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat
obat-obatan peningkat alam perasaan. sampai pasien mengembangkan kemampuan koping yang lebih
efektif.

.2.4 Diagnosa keperawatan : Kurang Perawatan Diri


Dapat dihubungan dengan : Kerusakan muskuloskeletal; penurunanan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak.
Depresi.
Dapat dibuktikan oleh : Ketidakmampuan mengatur AKS (makan, mandi, berpakaian dan eliminasi).
Kriteria Evaluasi : Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan
individual. Mendemonstrasikan perubahan teknik/gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri. Mengidentifikasi
sumber-sumber pribadi/komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi Rasional

Mandiri:
1. Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul - Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan
awitan/eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini.
sekarang diantisipasi.
2. Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program - Mendukung kemandirian fisik/ emosional.
latihan.
3. Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. - Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan
Identifikasi/rencana untuk modifikasi lingkungan. meningkatkan harga diri.
Kolaborasi:
4. Konsul dengan ahli terapi okupasi. - Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi
kebutuhan individual mis., memasang kancing, menggunakan
alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk
mandi pancuran.
5. Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan - Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi
dengan evaluasi setelahnya. karena tingkat kemampuan aktual. Memberikan lebih banyak
keberhasilan usaha tim dengan orang lain yang ikut serta dalam
perawatan, mis., tim terapi okupasi.
6. Atur konsul dengan lembaga lainnya, mis., pelayanan - Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk
perawatan rumah, ahli nutrisi. persiapan situasi di rumah.

2.2.5 Diagnosa keperawatan : kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
Dapat dihubungkan oleh : Kurangnya pemajanan/mengingat dan Kesalahan interpretasi informasi.
Dapat dibuktikan dengan : Pertanyaan/permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep.
Tidak tepat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Kriteria evaluasi : Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang
konsisten dengan mobilitas dan/atau pembatasan aktivitas.
Intervensi Rasional

Mandiri:
1. Tinjau proses penyakit, prognosis dan harapan masa depan. - Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi.
2. Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses - Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi
sakit melalui diet, obat-obatan, dan program diet seimbang, sendi/jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan
latihan dan istirahat. mencegah deformitas.
3. Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang - Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu
realistis, istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, menangani proses penyakit kronis kompleks.
terapi fisik dan manajeman stres.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen - Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan
farmakoterapetik. dosis; mis., aspirin harus diberikan secara reguler untuk
mendukung kadar terapeutik darah 18-25 mg.
5. Rekomendasikan penggunaan aspirin bersalut/dibufer enterik - Preparat bersalut/dibufer dicerna dengan makanan,
atau salisilat nonasetil, mis., kolin salisilat (Arthropan) atau meminimalkan iritasi gaster, mengurangi resiko perdarahan.
kolin magnesium trisalisilat (Trilisate). Catatan: Produk nonasetil sedikit dibutuhkan untuk mengurangi
iritasi lambung.
6. Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau - Membatasi iritasi gaster. Pengurangan nyeri pada HS akan
antasida dan pada waktu tidur. meningkatkan tidur dan meningkatkan kadar darah, mengurangi
kekakuan di pagi hari.
7. Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis., - Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat
tinitus, lambung tidak toleran, perdarahan gastro intestinal, mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan
dan ruam purpurik. kadar terapeutik darah yang tinggi. Jika terjadi tinitus, dosis
umumnya diturunkan menjadi 1 tablet setiap 2 atau 3 hari
sampai berhenti.
8. Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi - Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi mis., obat
penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan pilek, antidiare) yang dapat meningkatkan resiko takar lajak
dokter. obat/efek samping yang berbahaya.
9. Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang - Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan/regenerasi
banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi. jaringan.
10. Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan - Penurunan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi,
berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan. terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki.
11. Berikan informasi mengenai alat bantu mis., mainan - Mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya
beroda/wagon untuk barang-barang bergerak, tongkat untuk hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri.
mengambil, piring-piring ringan, tempat duduk toilet yang
dapat dinaikkan, palang keamanan.
12. Diskusikan teknik menghemat energi, mis., duduk daripada - Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri
berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi. dan kemandirian.
13. Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada - Mekanika tubuh yang baik haru menjadi bagian dari gaya hidup
saat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas. pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri.
14. Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan - Mengurangi resiko iritasi/kerusakan kulit.
kulit lainnya di bawah bebat, gips, alat penyokong.
Tunjukkan pemberian bantal yang tepat.
15. Diskusikan pentingnya obat-obatan lanjutan/pemeriksaan - Terapi obat-obatan membutuhkan pengkajian/perbaikan yang
laboratorium, mis., LED, kadar salisilat, PT. terus-menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah
takar lajak, efek samping yang berbahaya, mis., aspirin
memperpanjang PT, peningkatan resiko perdarahan. Krisoterapi
akan menekan trombosit, potensial resiko untuk
trombositopenia.
16. Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan. - Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan teknik
dan/atau pilihan ain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat
meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga
diri/percaya diri.
17. Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis., yayasan arthritis - Bantuan/dukungan dari orang lain untuk
(bila ada). meningkatkanpemuihan maksimal.
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asuhan Keperawatan mengambarkan dan mencerminkan
individualisasi perawatan yang perawat berikan. Proses-proses
keperawatan yang dilakukan menunjukan pentingnya peranan perawat
dalam proses pengobatan dan penyembuhan pasien. Intervensi yang
diberikan haruslah sesuai dengan masalah pasien dan diagnosa
keperawatan yang ada. Akhirnya, dengan penyusunan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Artritis Reumatoid yang telah dibuat
menunjukan dan menjelaskan cara pembuatan asuhan keperawatan yang
benar dalam bentuk teori dan penangganan langsung kepada pasien.
Penanganan langung dan kerjasama yang baik dengan keluarga pasien dan
pasien itu sendiri dapat mempermudah intervensi yang akan dilakukan.
Pemahaman yang benar tentang penyakit ini dapat mempermudah dalam
pembuatan Askep. Dengan mengetahui cara yang benar dalam pembuatan
Askep dapat meningkat keterampilan dan kualitas dari perawat itu sendiri.
Askep yang akurat juga dapat membantu dalam memenuhi syarat
akreditasi asuhan keperawatan.

B. SARAN.
Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai proses
keperawatan/asuhan keperawatan khusunya tentang asuhan keperawatan
pada pasien bronkitis, dapat menunjang kita dalam proses pembelajaran
pada mata kuliah PKKDM II serta menjadi pedoman dan bahan
pembelajaran dalam melaksanakan profesi kita sebagai perawat nantinya.
Oleh karena itu dengan adanya bahan materi ini diharapakan kita sebagai
mahasiswa mampu mengetahui definisi penyakit artritis reumatoid,
etiologinya, anatomi dan fisiologi, patofisiologi dan patoflow artritis
reumatoid, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnosis, terapi penyakit,
komplikasi dari penyakit artritis reumatoid, prognosis dan pencegahan
yang dapat dilakukan dalam proses keperawatan, dapat mengidentifikasi
tujuan dalam proses keperawatan, serta dapat mengetahui contoh bentuk
asuhan keperawatan sebelum kita turun ke lapangan/masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam. 2001. Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep & Praktik.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II. Jakarta : EGC.
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan, Edisi 17. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.
Ian. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Atritis Reumatoid.
http://ianpakpahanaskep.blogspot.com/2010/10/asuhan-keperawatan-pada-
klien-dengan_17.html. Diakses pada tanggal 02 Maret 2011 pukul 15:00
WITA.
Anonim. 2009. Asuhan Keperawatan Reumatoid Artritis.
http://nurse87.wordpress.com/2009/12/12/asuhan-keperawatan-rheumatoid-
artritis/. Diakses pada tanggal 02 Maret 2011 pukul 16:15 WITA.
Anonim. 2010. Reumatoid Artritis.
http://www.tfarison.co.cc/2010/10/reumatoid-artritis.html. Diakses pada
tanggal 14 MAret 2011 pukul 13:30 WIT