You are on page 1of 6

Borang Portofolio Kasus Anak

Topik : Kejang Demam Sederhana


Tanggal (kasus) : 28 Mei 2016 Presenter : dr. Fanny Isyana Fardhani
Tanggal Presentasi : Pendamping : Dr. Veimina Surya
Dr. Sri
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Tangerang Selatan
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Seorang anak laki laki usia 4 tahun datang dengan demam didahului kejang
Tujuan : Penegakan diagnosis dan pengobatan awal sesuai etologi serta mencegah
komplikasi
Bahan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Bahasan :
Cara Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail Pos
Membahas :
Data Pasien : Nama : An. R, , 4 tahun No. Registrasi : 109856
Nama Klinik : RSUD Tangerang Selatan Telp : Terdaftar sejak :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Pasien dibawa ke RSU Tangerang Selatan dengan keluhan
kejang didahului demam dialami sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit, kejang
diperhatikan pada seluruh tubuh tampak kaku kelonjotan. Frekuensi kejang satu kali dan
durasi kurang dari 5 menit. Demam dialami sejak 2 hari sebelum masuk UGD naik turun dan
berespon dengan penurun panas. Menggigil (-) batuk (-) sesak (-) Mual (+) muntah (-) BAB
dan BAK kesan cukup
2. Riwayat Pengobatan : Riwayat pengobatan sebelumnya hanya parasetamol syrup 3x1 sendok
teh
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit: Status gizi baik
Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-), riwayat trauma kepala
(-)
3. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien,
4. Riwayat Pekerjaan :
5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal dalam lingkungan yang sehat dengan
sanitasi baik
6. Lain-lain : -
Daftar Pustaka :
1. Mansjoer, A., dkk. Kejang Demam. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga. Jilid 2.
Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000 : 434-437
2. ocw.usu.ac.id/course/...brain.../bms166_slide_kejang_demam.pdf
3. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/kejang_pada_anak.pdf

Hasil Pembelajaran :
1. Menegakkan diagnosis kejang demam

2. Melakukan tatalaksana awal

3. Manajemen tatalaksana lanjutan

RANGKUMAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjective

Pasien dibawa ke RSU Tangerang Selatan dengan keluhan kejang didahului demam dialami
sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit, kejang diperhatikan pada seluruh tubuh tampak kaku
kelonjotan. Frekuensi kejang satu kali dan durasi kurang dari 5 menit. Demam dialami sejak 2
hari sebelum masuk UGD naik turun dan berespon dengan penurun panas. Menggigil (-) batuk
(-) sesak (-) Mual (+) muntah (-) BAB dan BAK kesan cukup

2. Objective
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, N = 125 kali/menit, P = 32 kali/menit, S = 38.8 C.
Kepala : bibir sianosis (-), tanda-tanda trauma (-)
Leher : Nyeri tekan (-), Massa tumor (-), kaku kuduk (-) tanda brudzinski (-) Faring
tampak hiperemis
Dada : dalam batas normal
Jantung : Dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal

Genital : tidak ada kelainan


3. Assessment
Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat.
Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami sekali kejang selama
hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis. Keadaan tersebut
merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit
memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau
cenderung menjadi status epileptikus.Tatalaksana kejang seringkali tidak dilakukan secara baik.
Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat menyebabkan kejang
tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi
kejang adalah memastikan apakah gejala saat ini kejang atau bu kan. Selanjutnya melakukan
identifikasi kemungkinan penyebabnya.

Kejang Demam

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
lebih dari 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut Consensus Statement
on Febrile Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya
terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pemah terbukii
adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi
berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi,
yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.

Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti meningitis,
ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan
kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem susunan saraf pusat. Dahulu
Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana (simple
febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever).
Defmisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif epidemiologi membuktikan bahwa risiko
berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang
diperkirakan.

Akhir-akhir ini, kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam
sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam kompleks, yang
berlangsung lebih dari 15 menit, fokal, atau multipel (lebih dari 1 kali kejang dalam 24 jam). Di
sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau
kejang tanpa demam dalam keluarga.

Epidemiologi.

Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa
Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks.
Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan). Kejang demam
sedikit lebih sering pada laki-laki.

Faktor Risiko

Faktor risiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem
pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang
demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira
9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih, Risiko rekurensi meningkat dengan usia dini,
cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang,
riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.

Etiologi

Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran pemapasan
atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu
timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan
kejang.

Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik
bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai
kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya
sentakan atau kekakuan fokal. Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang
dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit,
anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis
sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang
unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang
berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,


terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala
meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6
bulan, dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Elektroensefalografi (EEG)
ternyata kurang mempunyai nilai prognostik. EEG abnormal tidak dapat digunakan untuk
menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian hari. Saat ini
pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana. Pemeriksaan
laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.

Diagnosis Banding

Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis atau
ensefalitis. Pungsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber infeksi
seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah mendapatkan antibiotika
maka perlu pertimbangan pungsi lumbal.

Penatalaksanaan

Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu: (1) pengobatan fase akut; (2) mencari dan mengobati
penyebab; dan (3) pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.

1. Pengobatan fase akut. Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien
dimiringkah untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar
oksigenisasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu,
pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin
dan pemberian antipiretik.

Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan intravena atau
intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit
dengan dosis maksimal 20 mg. Bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan
penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam
intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit, gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB < 10
kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian.
Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena
perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit. Setelah pemberian fenitoin, hams dilakukan pembilasan
dengan NaCl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena. Bila kejang
berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang
berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan-1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara
intramuskular. Empat jam kemudian berikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama
dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk bari-hari berikutnya dengan dosis
4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara
suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200 mg/hari.
Efek sampingnya adalah hipotensi, penurunan kesadaran, dan depresi pernapasan. Bila kejang
berhenti dengan fenitoin, lanjutkan fenitoin dengan dosis 4-8 mg/kgBB/ hari, 12-24 jam setelah
dosis awal.

2. Mencari dan mengobati penyebab. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk


menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.
Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang
dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang demam
berlangsung lama.

3. Pengobatan profilaksis. Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam
dan (2) profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan setiap hari.

Untuk profilaksis intermiten diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula diberikan secara intrarektal tiap 8
jam sebanyak 5 mg (BB < 10 kg) dan 10 mg (BB > 10 kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih
dari 38,5C. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk, dan hipotonia. Profilaksis terus-
menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan
kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Profilaksis terus-
menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5 mg/ kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang
dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan
profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan
bertahap selama 1-2 bulan.

Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2)
yaitu:

1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau perkembangan
(misalnya serebral palsi atau mikrosefal).

2. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis sementara
atau menetap.

3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.

4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang
multipel dalam satu epidose demam.

Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang, maka
berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rektal
tiap 8 jam di samping antipiretik.

Prognosis

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%, umumnya terjadi pada 6 bulan
pertama. Risiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

4. Plan
Diagnosis : Kemungkinan keluhan pada pasien akibat mengalami Kejang demam Sederhana
dengan sumber infeksi ekstrakranial berasal dari faring. Upaya diagnosis sudah
optimal.
Pengobatan :
Oksigen 1 lpm via nasal kanul
IVFD D5% 16 tpm
Injeksi diazepam 3,9 mg per IV bolus pelan bila kejang
Parasetamol drips 13 cc / 8 jam intra vena
Cefotaxime 650 mg/12 jam/IV
Kompres NaCl 0,9%

Pendidikan :
- Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya kejang dan bagaimana cara
memberikan obat antipiretik sederhana karena kejang ini didahului oleh demam serta
mencegah infeksi yang mungkin memicu terjadinya kejang

Konsultasi : -

Kegiatan Periode Hasil yang diharapkan


Kontrol post opname Tiga hari setelah pulang dari rumah - Kejang tidak muncul lagi
sakit, dan jika diperlukan kunjungan dan orang tua memahami
lagi tiga hari berikutnya penangan awal bila anaknya
menderita demam