You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai kadar


glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan
protein yang disebabkan kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut. Tipe
diabetes, yaitu diabetes tipe 1 (tergantung insulin), dan diabetes tipe 2 (tidak tergantung
insulin), ada pula diabetes dalam kehamilan, dan diabetes akibat malnutrisi. Diabetes tipe
1 biasanya dimulai pada usia anak-anak sedangkan diabetes tipe 2 dimulai pada usia
dewasa pertengahan (40-50 tahun). Kasus diabetes dilaporkan mengalami peningkatan di
berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.
Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan global yang insidensinya semakin
meningkat. Dalam suatu analisis yang dilakukan olah Badan Kesehatan Dunia (WHO)
pada tahun 2003 menyebutkan bahwa penderita Diabetes Mellitus yang berjumlah 194
juta jiwa atau 5 ,1% dari 3,8 miliar penduduk dunia yang berusia 20 hingga 79 tahun
menderita DM dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 333 juta jiwa.
Menurut estimasi data WHO maupun IDF (International Diabetes Federation),
memaparkan data angka kasus diabetes di Indonesia berdasarkan hasil survey tahun 2008
menempati urutan ke empat tertinggi di dunia setelah Cina, India dan Amerika, yaitu 8,4
juta jiwa dan diperkirakan jumlahnya melebihi 21 juta jiwa pada tahun 2025 mendatang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2003 prevalensi diabetes
pada penduduk di atas 20 tahun sebanyak 13,7 juta (PERKENI, 2011).
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus adalah
neuropaty. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah meninggi secara terus- menerus
berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks
dari gula didalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal.
Akibat penebalan ini, maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke
kulit dan saraf (Badawi, 2009

1
Komplikasi menahun DM di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit
jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%
(Waspadji, 2006). Penderita DM berisiko 29 kali terjadi komplikasi ulkus diabetika.
Ulkus diabetika mudah berkembang menjadi infeksi karena masuknya kuman atau
bakteri dan adanya gula darah yang tinggi menjadi tempat yang strategis untuk
pertumbuhan kuman (Waspadji, 2006).
Ulkus diabetika tanpa diberikan pengobatan dan perawatan, akan mudah
terkena infeksi yang meluas. keadaan lebih lanjut memerlukan tindakan amputasi.
Ulkus diabetika merupakan komplikasi kronik yang ditakuti bagi penderita DM, baik
ditinjau dari lamanya perawatan, disertai biaya perawatan yang mahal (Waspadji,
2006).
Melihat kondisi tersebut, penanganan diabetes melitus perlu segera diatasi
setelah dideteksi secara dini. Untuk mengurangi komplikasi pada diabetes melitus olah
raga senam kaki bisa dilakukan terutama yang mengalami komplikasi neuropaty
diabetik. Olah raga Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh
pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan
peredaran darah bagian kaki (Sumosardjuno,1986).
Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi
ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta
mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita diabetes
melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes
sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono,2009).
Berdasarkan data diatas, karena komplikasi yang banyak pada pasien DM salah
satunya adalah kaki diabetikum, maka peneliti tertarik untuk melakukan mini project
tentang melakukan pelatihan kader untuk mengajarkan senam kaki diabetikum kepada
penderita diabetes mellitus di setiap posbindu.

2
1.2 Rumusan Masalah

o Diabetes mellitus merupakan penyakit tertinggi kedua di Muntok.


o Sebagian besar masyarakat Muntok belum mengetahui bahaya komplikasi penyakit
diabetes mellitus.
o Sebagian besar penderita diabetes mellitus di Muntok mengalami komplikasi
neuropati seperti ulkus diabetikum.
o Tidak ada media maupun perencanaan promosi penyakit diabetes mellitus

1.3 Tujuan

Tujuan umum

Untuk mengajarkan senam kaki diabetikum kepada kader dan penderita DM,
serta pengaruh latihan senam kaki terhadap peningkatan fungsi sensori di daerah
telapak kaki pada penderita diabetes mellitus.

Tujuan Khusus

o Mengidentifikasi sejauh mana kader sudah mengajarkan senam kaki


diabetikum kepada penderita DM.
o Para kader untuk mengadakan kegiatan senam kaki diabetikum kepada
penderita DM secara rutin.
1.4 Manfaat

o Bagi Pelaksana
Meningkatkan keterampilan dan mengaplikasikan ilmu mengenai penyakit Diabetes
Mellitus dan melakukan penerapan klinis senam kaki diabetic sebagai pencegahan
komplikasi kaki diabetikum.
o Bagi masyarakat
Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang
penyakit diabetes mellitus, komplikasi, pencegahan komplikasi kaki diabetic dan
latihan yang efektif bagi penderita diabetes mellitus.
o Bagi Instansi
Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi kegiatan rutin yang bermanfaat dan dapat
mengurangi jumlah penderita diabetes maupun penderita kaki diabetik di wilayahnya

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

DM adalah sindrom yang ditandai dengan adanya hiperglikemia kronik seperti


yang dapat dilihat pada tabel 1 dan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan
protein yang disebabkan oleh defisiensi insulin atau resistensi jaringan terhadap insulin.
Gejala klinis DM antara lain rasa haus yang berlebihan (polidipsi), poliuria, pruritus, dan
penurunan berat badan.3, 6 Keempat gejala ini sering ditemukan pada penderita DM di
samping gejala-gejala khusus lainnya.

Tabel 2. 1. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan Diagnosis DM

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 3

2.2 Klasifikasi Diabetes Melitus

Secara garis besar, DM dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:


1. Diabetes melitus tipe 1 (DMT1)
Diabetes melitus tipe 1 merupakan jenis diabetes yang bergantung pada insulin,
sehingga dikenal juga dengan istilah insulin-dependent diabetes melitus (IDDM).
Penyebab DMT1 adalah terjadinya kerusakan sel-sel beta di dalam kelenjar pankreas
yang bertugas menghasilkan hormon insulin. Kerusakan tersebut menyebabkan
terjadinya penurunan sekresi hormon insulin (defisiensi insulin).

4
2. Diabetes melitus tipe 2 (DMT2)
Diabetes melitus tipe 2 merupakan gangguan metabolisme glukosa yang dapat
disebabkan oleh dua faktor, yaitu tidak adekuatnya sekresi insulin secara kuantitatif
(defisiensi insulin) dan kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (resistensi
insulin). Berdasarkan beberapa studi epidemiologi, DMT2 merupakan tipe diabetes
yang paling sering dijumpai yaitu sekitar 90% sampai 95% dari seluruh kasus DM.
Berbeda dengan DMT1, DMT2 merupakan jenis diabetes yang tidak bergantung pada
insulin, sehingga dikenal juga dengan istilah non-insulin-dependent diabetes melitus
(NIDDM).

3. Diabetes melitus tipe lain


Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya DM tipe lain, seperti
kelainan pada fungsi sel beta dan kerja insulin akibat gangguan genetik, penyakit pada
kelenjar eksokrin pankreas, obat atau zat kimia, infeksi, kelainan imunologi (jarang),
dan sindrom genetik lain yang berhubungan dengan DM.

4. Diabetes melitus gestasional


Diabetes mellitus kehamilan atau sering disebut dengan istilah Diabetes Mellitus
Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau
diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang berlangsung. Faktor risiko diabetes
tipe ini antara lain obesitas, adanya riwayat DMG, gukosuria, adanya riwayat keluarga
dengan diabetes, abortus berulang, adanya riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4
kg, dan adanya riwayat preeklamsia. Penilaian adanya risiko diabetes melitus
gestasional perlu dilakukan sejak kunjungan pertama untuk pemeriksaan
kehamilannya.

5
2.3 Etiologi Diabetes Melitus

Diabetes adalah suatu penyakit yang disebabkan karena peningkatan kadar gula
dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan hormon insulin absolut ataupun relatif.
1. Diabetes melitus tipe 1
Pada diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.
Penderita tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk
kerusakan autoimum sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas
limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri
(Misnadiarly,2006).
2. Diabetes melitus tipe 2
Pada diabetes melitus tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor insulin
yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke
dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat. (Misnadiarly,2006).
3. Diabetes mellitus Tipe Spesifik Lain
Etiologi bagi diabetes tipe ini merupakan defek spesifik pada sekresi atau fungsi
insulin, kelainan metabolik yang menyebabkan gangguan sekresi insulin, kelainan
mitokondria, dan keadaan-keadaan yang lainnya yang menyebabkan IGT (Powers,
2005).

2.4 Faktor Resiko Diabetes Melitus


Pemeriksaan penyaring atau skrining dilakukan pada kelompok dengan faktor
risiko diabetes mellitus seperti usia 45 tahun, obesitas (Indeks Massa Tubuh > 23
kg/m), riwayat keluarga diabetes mellitus, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan >
4000 gram (4kg), atauriwayat diabetes gestasional, hipertensi ( 140/90 mmHg),
kolesterol (HDL 35 mg/dL dan atau trigliserida 250 mg/dL), riwayat penyakit
jantung, orang sebelumnya dinyatakan sebagai TDT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau
GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu).

2.5 Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus


Kriteria diagnosis menurut American Diabetes Association (2008) :

6
1. Kadar glukosa darah puasa 126 mg/dL (7,0 mmol/L).Puasa diartikan pasien tidak
mendapatkan asupan kalori tambahan sedikitnya 8 jam.

2. Tampak gejala klasik diabetes melitus dan kadar glukosa darah sewaktu 200mg/dL
(11,1 mmol/L). Gejala klasik diabetes mellitus termasuk poliuria, polidipsia dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Glukosa sewaktu merupakan hasil
pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
3. Kadar glukosa darah 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral 200
mg/dL(11,1mmol/L).Tes Toleransi Glukosa Oral dilakukan dengan standar World
Health Organization, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gramglukosa
anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau diabetesmelitus, maka
dapat digolongkan ke dalam kelompok Toleransi GlukosaTerganggu (TGT) atau Glukosa
Darah Puasa Terganggu (GDPT) tergantungdari hasil yang diperoleh:
o TGT: glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dL (7,8-11,0
mmol/L).
o GDPT: glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dL (5,6-6,9 mmol/L).

2.6 Komplikasi Diabetes Melitus


Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan
yang terkontrol. Tanpa didukung oleh pengelolaan yang tepat, diabetes dapat
menyebabkan beberapa komplikasi (IDF, 2007). Komplikasi yang disebabkandapat
berupa:
1. Komplikasi Akut
a) Hipoglikemi
Hipoglikemi ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah hingga mencapai
<60 mg/dL. Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar, banyak
keringat, gemetar, rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah,
kesadaran menurun sampai koma) (PERKENI, 2006).

7
b) Ketoasidosis diabetik
Keadaan ini berhubungan dengan defisiensi insulin, jumlah insulin yangterbatas
dalam tubuh menyebabkan glukosa tidak dapat digunakan sebagai sumber energi,
sehingga tubuh melakukan penyeimbangan dengan;. memetabolisme lemak. Hasil
dari metabolisme ini adalah asam lemak bebas dan senyawa keton. Akumulasi
keton dalam tubuh inilah yang menyebabkanterjadinya asidosis atau ketoasidosis
(Gale, 2004).Gejala klinisnya dapat berupa kesadaran menurun, nafas cepat dan
dalam(kussmaul) serta tanda-tanda dehidrasi. Selain itu, sesorang
dikatakanmengalami ketoasidosis diabetik jika hasil pemeriksaan laboratoriumnya:
o Hiperglikemia (glukosa darah >250 mg/dL)
o Na serum <140 meq/L
o Asidosis metabolik (pH <7,3; bikarbonat <15 meq/L)
o Ketosis (ketonemia dan atau ketonuria

c) Hiperosmolar non ketotik


Riwayat penyakitnya sama dengan ketoasidosis diabetik, biasanya berusia > 40
tahun. Terdapat hiperglikemia disertai osmolaritas darah yang tinggi >320.

2. Komplikasi Kronis (Menahun)


a) Makroangiopati: pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah
otak
b) Mikroangiopati: pembuluh darah kapiler retina mata (retinopati diabetik) dan
Pembuluh darah kapiler ginjal (nefropati diabetik)
c) Neuropatid : suatu kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, di mana serat-serat
saraf menjadi rusak sebagai akibat dari cedera atau penyakit
d) Komplikasi dengan mekanisme gabungan: rentan infeksi, contohnya tuberkolusis
paru, infeksi saluran kemih,infeksi kulit dan infeksi kaki. dan disfungsi ereksi.

8
2.7 Kaki Diabetik
Salah satu komplikasi menahun dari DM adalah kelainan pada kaki yang disebut
sebagai kaki diabetik. Di negara berkembang prevalensi kaki diabetik didapatkan jauh
lebih besar dibandingkan dengan negara maju yaitu 2-4%, prevalensi yang tinggi ini
disebabkan kurang pengetahuan penderita akan penyakitnya.
Pengelolaan kaki diabetes mencakup pengendalian gula darah,
debridemen/membuang jaringan yang rusak, pemberian antibiotik, dan obat-obat
vaskularisasi serta amputasi. Sebagian besar komplikasi kaki diabetik mengakibatkan
amputasi yang dimulai dengan pembentukan ulkus di kulit.
Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan komplikasi
kronik diabetes mellitus. Suatu penyakit pada penderita diabetes bagian kaki, dengan
gejala dan tanda sebagai berikut:
o Sering kesemutan/gringgingan (asmiptomatus).
o Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudilasio intermil).
o Nyeri saat istirahat.
o Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus).
Salah satu komplikasi yang sangat ditakuti penderita diabetes adalah kaki
diabetik. Komplikasi ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat
membedakan suhu panas dan dingin, rasa sakit pun berkurang.

2.8 Faktor Risiko Terjadinya Kaki Diabetik


Ada 3 alasan mengapa orang diabetes lebih tinggi risikonya mengalami masalah
kaki. Pertama, berkurangnya sensasi rasa nyeri setempat (neuropati) membuat pasien
tidak menyadari bahkan sering mengabaikan luka yang terjadi karena tidak dirasakannya.
Luka timbul spontan sering disebabkan karena trauma misalnya kemasukan pasir,
tertusuk duri, lecet akibat pemakaian sepatu/sandal yang sempit dan bahan yang keras.
Mulanya hanya kecil, kemudian meluas dalam waktu yang tidak begitu lama. Luka akan
menjadi borok dan menimbulkan bau yang disebut gas gangren. Jika tidak dilakukan
perawatan akan sampai ke tulang yang mengakibatkan infeksi tulang (osteomylitis).
Upaya yang dilakukan untuk mencegah perluasan infeksi terpaksa harus dilakukan
amputasi (pemotongan tulang).

9
Kedua, sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel
pembuluh darah. Manifestasi angiopati pada pembuluh darah penderita DM antara lain
berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama). Sering
terjadi pada tungkai bawah (terutama kaki). Akibatnya, perfusi jaringan bagian distal dari
tungkai menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi
nekrosi/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan tindakan
amputasi.
Gangguan mikrosirkulasi akan menyebabkan berkurangnya aliran darah dan
hantaran oksigen pada serabut saraf yang kemudian menyebabkan degenarasi dari serabut
saraf. Keadaan ini akan mengakibatkan neuropati. Di samping itu, dari kasus
ulkus/gangren diabetes, kaki DM 50% akan mengalami infeksi akibat munculnya
lingkungan gula darah yang subur untuk berkembanguya bakteri patogen. Karena
kekurangan suplai oksigen, bakteri-bakteri yang akan tumbuh subur terutama bakteri
anaerob. Hal ini karena plasma darah penderita diabetes yang tidak terkontrol baik
mempunyai kekentalan (viskositas) yang tinggi. Sehingga aliran darah menjadi
melambat. Akibatnya, nutrisi dan oksigen jaringan tidak cukup. Ini menyebabkan luka
sukar sembuh dan kuman anaerob berkembang biak.
Ketiga, berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Secara umum penderita
diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini dikarenakan kemampuan sel darah putih
memakan dan membunuh kuman berkurang pada kondisi kadar gula darah (KGD)
diatas 200 mg%. Kemampuan ini pulih kembali bila KGD menjadi normal dan terkontrol
baik. Infeksi ini harus dianggap serius karena penyebaran kuman akan menambah
persoalan baru pada borok. Kuman pada borok akan berkembang cepat ke seluruh tubuh
melalui aliran darah yang bisa berakibat fatal, ini yang disebut sepsis (kondisi gawat
darurat).

2.9 Patofisiologi dan Patogenesis Kaki Diabetik


Diabetes seringkali menyebabkan penyakit vaskular perifer yang menghambat
sirkulasi darah. Dalam kondisi ini, terjadi penyempitan di sekitar arteri yang sering
menyebabkan penurunan sirkulasi yang signifikan di bagian bawah tungkai dan kaki.
Sirkulasi yang buruk ikut berperan terhadap timbulnya kaki diabetik dengan menurunkan

10
jumlah oksigen dan nutrisi yang disuplai ke kulit maupun jaringan lain, sehingga
menyebabkan luka tidak sembuh-sembuh.
Angiopati diabetes disebabkan oleh beberapa faktor yaitu genetik, metabolik dan
faktor risiko yang lain. Kadar glukosa yang tinggi (hiperglikemia) ternyata mempunyai
dampak negatif yang luas bukan hanya terhadap metabolisme karbohidrat, tetapi juga
terhadap metabolisme protein dan lemak yang dapat menimbulkan pengapuran dan
penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), akibatnya terjadi gangguan peredaran
pembuluh darah besar dan kecil, yang mengakibatkan sirkulasi darah yang kurang baik,
pemberian makanan dan oksigenasi kurang dan mudah terjadi penyumbatan aliran darah
terutama derah kaki.
Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan
untuk merasakan nyeri, panas, dan dingin. Diabetes yang menderita neuropati dapat
berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak disadari
akibat adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka akibatnya
dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi.
Yang sangat penting bagi diabetik adalah memberi perhatian penuh untuk
mencegah kedua kaki agar tidak terkena cedera. Karena adanya konsekuensi neuropati,
observasi setiap hari terhadap kaki merupakan masalah kritis. Jika pasien diabetes
melakukan penilaian preventif perawatan kaki, maka akan mengurangi risiko yang serius
bagi kondisi kakinya.
Sirkulasi yang buruk juga dapat menyebabkan pembengkakan dan kekeringan
pada kaki. Pencegahan komplikasi pada kaki adalah lebih kritis pada pasien diabetik
karena sirkulasi yang buruk merusak proses penyembuhan dan dapat menyebabkan ulkus,
infeksi, dan kondisi serius pada kaki.
Manifestasi angiopati pada pembuluh darah penderita DM antara lain berupa
penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama). Sering terjadi pada
tungkai bawah (terutama kaki). Akibatnya, perfusi jaringan bagian distal dari tungkai
menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi
nekrosis/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan/tindakan
amputasi.

11
Tanda-tanda dan gejala-gejala akibat penurunan aliran darah ke tungkai meliputi
klaudikasi, nyeri yang terjadi pada telapak atau kaki depan pada saat istirahat atau di
malam hari, tidak ada denyut popliteal atau denyut tibial superior, kulit menipis atau
berkilat, atrofi jaringan lemak subkutan ,tidak ada rambut pada tungkai dan kaki bawah,
penebalan kuku, kemerahan pada area yang terkena ketika tungkai diam, atau berjuntai,
dan pucat ketika kaki diangkat.
Di samping itu, dari kasus ulkus/gangren diabetes, kaki DM 50% akan mengalami
infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur untuk berkembanguya
bakteri patogen. Karena kekurangan suplai oksigen, bakteri-bakteri yang akan tumbuh
subur terutama bakteri anaerob.
Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan
untuk merasakan nyeri, panas, dan dingin. Diabetes yang menderita neuropati dapat
berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak disadari
akibat adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka akibatnya
dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi.
Secara klinis dijumpai parestesi, hiperestesi, nyeri radikuler, hilangnya reflek
tendon, hilangnya sensibilitas, anhidrosis, pembentukan kalus, ulkus tropik, perubahan
bentuk kaki karena atrofi otot ataupun perubahan tulang dan sendi seperti Bunion,
Hammer Toes (ibujari martil), dan Charcot Foot. Secara radiologis akan nampak adanya
demineralisasi, osteolisis atau sendi Charcot.

Gambar 1. Predileksi paling sering terjadinya ulkus pada kaki diabetik adalah bagian
dorsal ibu jari dan bagian proksimal & dorsal plantar metatarsal.

12
Klasifikasi Kaki Diabetik, menurut Wagner kaki diabetik dibagi menjadi :
1. Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh disertai dengan pembentukan
kalus claw
2. Derajat I : ulkus superfisial terbatas pada kulit
3. Derajat II : ulkus dalam dan menembus tendon dan tulang
4. Derajat III : abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis
5. Derajat IV : gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selullitis
6. Derajat V : gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai bawah

Gambar 2. Kaki Diabetik derajat V.

Berdasarkan pembagian diatas, maka tindakan pengobatan atau pembedahan dapat


ditentukan sebagai berikut :
1. Derajat 0 : perawatan lokal secara khusus tidak ada
2. Derajat I-IV : pengelolaan medik dan tindakan bedah minor
3. Derajat V : tindakan bedah minor, bila gagal dilanjutkandengan tindakan bedah mayor
seperti amputasi diatas lutut atau amputasi bawah lutut
Beberapa tindakan bedah khusus diperlukan dalam pengelolaan kaki diabetik ini,
sesuai indikasi dan derajat lesi yang dijumpai seperti :
1. Insisi : abses atau selullitis yang luas
2. Eksisi : pada kaki diabetik derajat I dan II
3. Debridement/nekrotomi : pada kaki diabetik derajat II, III, IV dan V
4. Mutilasi : pada kaki diabetik derajat IV dan V
5. Amputasi : pada kaki diabetik derajat V

13
Gambar 5. Kaki Diabetik derajat V. 5

Jadi ada 3 alasan mengapa orang diabetes lebih tinggi risikonya mengalami
masalah kaki. Pertama, berkurangnya sensasi rasa nyeri setempat (neuropati) membuat
pasien tidak menyadari bahkan sering mengabaikan luka yang terjadi karena tidak
dirasakannya. Kedua, sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel
pembuluh darah. Ini menyebabkan luka sukar sembuh dan kuman anaerob berkembang
biak. Ketiga, berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Secara umum penderita
diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Kuman pada borok akan berkembang cepat ke
seluruh tubuh melalui aliran darah yang bisa berakibat fatal, ini yang disebut sepsis
(kondisi gawat darurat).
Lepas dari itu semua, tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko terhadap kaki
pengidap diabetes jauh lebih baik ketimbang harus menjalani operasi, apalagi amputasi.
Masih banyak cara mencegah dan merawat kaki diabetes. Di antaranya melakukan senam
kaki, selain senam atau kegiatan olahraga yang harus dilakukan untuk mengontrol gula
darah.
Pencegahan kaki diabetes tidak terlepas dari pengendalian (pengontrolan)
penyakit secara umum mencakup pengendalian kadar gula darah, status gizi, tekanan
darah, kadar kolesterol, pola hidup sehat. Sedang untuk pencegahan dan perawatan lokal
pada kaki sebagai berikut:
1. Diagnosis klinis dan laboratorium yang lebih teliti.

14
2. Pemberian obat-obat yang tepat untuk infeksi (menurut hasil laboratorium lengkap)
dan obat vaskularisasi, obat untuk penurunan gula darah, maupun untuk
menghilangkan keluhan/gejala dan penyulit DM.
3. Pemberian penyuluhan pada penderita dan keluarga tentang (apakah DM,
penatalaksanaan DM secara umum, apakah kaki diabetes, obat-obatan, perencanaan
makan, DM dan kegiatan jasmani senam kaki), dll.
4. Kaki diabetes, materi penyuluhan dan instruksi. Hentikan merokok Periksa kaki dan
celah kaki setiap hari, apakah terdapat kalus (pengerasan), bula (gelembung), luka,
lecet.
5. Bersihkan dan cuci kaki setiap hari, keringkan, terutama di celah jari kaki.
6. Pakailah krim khusus untuk kulit kering, tapi jangan dipakai di celah jari kaki.
7. Hindari penggunaan air panas atau bantal pemanas.
8. Memotong kuku secara hati-hati dan jangan terlalu dalam.
9. Pakailah kaus kaki yang pas bila kaki terasa dingin dan ganti setiap hari.
10. Jangan berjalan tanpa alas kaki.
11. Hindari trauma berulang.
12. Memakai sepatu dari kulit yang sesuai untuk kaki dan nyaman dipakai.
13. Periksa bagian dalam sepatu setiap hari sebelum memakainya, hindari adanya benda
asing.
14. Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal.
15. Menghindari pemakaian obat yang bersifat vasokonstruktor seperti orgat, adrenalin,
ataupun nikotin.
16. Periksakan diri secara rutin ke dokter dan periksakan kaki setiap kali kontrol
walaupun ulkus/gangren telah sembuh.

15
BAB III

METODE
3.1. Persiapan
1. Surat Permohonan
Surat permohonan dilakukannya presentasi kelas hipertensi kepada kader dan pasien
hipertensi lansia oleh Puskesmas Muntok, Bangka Barat.
2. Alat dan Bahan
a. Layar
b. Koran dan kursi
c. LCD
d. Komputer (Laptop)
e. video Senam Kaki Diabetikum
3. Tempat
Ruangan Lantai 2 Puskesmas Muntok, Bangka Barat
4. Tenaga
a. Tenaga pelatih/narasumber
b. Tenaga administrasi
c. Tenaga penyedia alat

3.2 Rencana Penyelesaian Masalah


3.2.1 Sosialisasi kelas hipertensi pada kader dan pasien di Puskesmas Muntok
What Sosialisasi mengenai penyakit hipertensi pada kader dan pasien hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Muntok
Why Belum mengetahui tentang penyakit hipertensi, gejala, penatalaksanaan,
komplikasi serta pencegahannya.
When Mei 2015
Who Kader dan pasien hipertensi di Puskesmas Muntok
Where Puskesmas Muntok lantai 2
How Dokter internship meminta tolong pemegang program PTM untuk mengurus
ijin mengadakan acara penyuluhan tentang penyakit hipertensi serta
mengumpulkan peserta dari program senam pagi lansia. Dokter internship
melakukan penyuluhan tentang penyakit hipertensi.

3.2.2 Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala


What Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala
Why Kepala program PTM mempunyai peran penting dalam menilai keberhasilan
kelas hipertensi yang diadakan. Kepala program PTM yang turun langsung ke

16
lapangan sehingga dapat mengetahui lebih pasti apakah ada pengaruh antara
kelas hipertensi yang diadakan dengan menurunnya angka hipertensi pada
lansia di tempat yang telah diadakan penyuluhan.
When Mei 2015
Who Kepala program PTM
Where Puskesmas Muntok
How Dokter internship menjelaskan masalah yang ada di lapangan mengenai
banyaknya pasien hipertensi. Supervisi diharapkan dapat dilakukan setiap
adanya kunjungan Posbindu maka para kader dan masyarakat akan merasa
lebih diperhatikan dan lebih bersemangat dalam menjalankan apa yang telah
diajarkan dalam kelas hipertensi.

3.2.3 Supervisi pada Posbindu PTM untuk melakukan kelas hipertensi


What Supervisi langsung pada Posbindu dalam melaksanakan kelas hipertensi
Why Dengan melakukan supervisi langsung, maka dapat melihat pemahaman kader
dan penerapannya secara langsung dalam melakukan kelas hipertensi
When Mei 2015
Who Kader posbindu dan masyarakat
Where Seluruh posbindu yang ada diwilayah kerja Puskesmas Muntok
How Dokter internship bersama kepala program PTM langsung turun ke lapangan
pada saat dilakukan program pengobatan PTM dan untuk melihat penerapan
kader menyampaikan dan mengajarkan tentang hipertensi. Setelah dilakukan
kelas hipertensi dilakukan pengobatan dan pengecekan tekanan darah, lipid
darah serta glukosa darah.

3.3 Rencana Evaluasi

Perencanaan dimulai dari bulan Februari 2015, dan periode pelaksanaan dimulai
dari bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Juni 2015. Evaluasi tidak perlu
menggunakan analisis statistik sebab perencanaan melakukan penyuluhan mengenai
hipertensi dan penyelesaian masalahnya berupa pelaksanaan kelas hipertensi secara
berkesinambungan.

17
BAB IV
PELAKSANAAN

Berdasarkan perencanaan yang sudah dibuat pada bulan Februari 2015, maka
penyuluhan mengenai penyakit hipertensi dan pelaksanaan kelas hipertensi di Puskesmas
Muntok dilakukan pada bulan Februari 2015-Juni 2015. Ada 3 hal yang akan dilaksanakan dalam
mini project ini, yang terdiri dari:
1. Sosialisasi kelas hipertensi pada pasien dengan tekanan darah tinggi yang sudah dihubungi
dan bersedia hadir di Puskesmas Muntok.
2. Sosialisasi kelas hipertensi kepada para kader, agar bisa diteruskan kepada pasien di masing-
masing posbindu.

18
3. Sosialisasi kepala program PTM (Penyakit Tidak Menular) agar melakukan supervisi
berkala tiap Posbindu PTM agar kelas hipertensi dapat terus berlangsung.
4. Dokter internsip beserta kepala program PTM melakukan supervisi pada tiap posbindu PTM
dalam melakukan kelas hipertensi.
Dalam pelaksanaannya, didapatkan hasil dan kendala yang akan dibahas dalam setiap
poin berikut ini:
4.1 Sosialisasi kelas hipertensi pada kader dan pasien di Puskesmas Muntok
4.1.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana dengan pemegang program PTM merencanakan dan mengurus ijin untuk
mengadakan penyuluhan tentang penyakit hipertensi berupa kelas hipertensi kepada
kader dan pasien-pasien dengan tekanan darah tinggi di Puskesmas Muntok, agar para
pasien dapat mengetahui lebih dalam tentang penyakit yang dideritanya, dapat rutin
kontrol dan berobat dan melakukan pencegahan terhadap hipertensi di rumah masing-
masing sehingga dapat mencegah komplikasi. Dibantu oleh petugas PTM dalam
mengumpulkan peserta kelas hipertensi yang dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2015 jam
08.00 WIB. Setelahnya dilakukan konsultasi beruapa tanya jawab dan pengobatan.
Waktu pelaksanaan : 22 Mei 2015
Pelaksana kelas hipertensi: dr. Cendri, dr. Eka, dr. Dodo, dr. Jessica dan dr. Aldi
Hambatan : beberapa peserta yang hadir datang terlambat dari waktu yang ditentukan,
sehingga acara mundur dari yang direncanakan, dan ada beberapa peserta yang tidak
mengikuti acara dari awal
peserta yang datang kebanyakan lansia yang sama sekali masih awam tentang
penyakit hipertensi sehingga apa yang disampaikan oleh pelaksana hanya sedikit
yang bisa ditangkap dan dalam pelaksanaan lebih lama karena harus melakukan
pengulangan agar peserta dapat mengingat.
Banyak kader-kader yang datang terlambat dari jadwal yang sudah ditetapkan, karena
tempat beberapa kader jaraknya cukup jauh untuk sampai ke Puskesmas Muntok.
Kurangnya antusias serta minat dari beberapa kader dalam mengikuti kelas hipertensi
ini.

4.2 Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala


4.2.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana sudah meminta kepala program PTM untuk memantau dan melakukan
supervisi secara berkala tentang kelas hipertensi di masing-masing posbindu wilayah

19
kerja Puskesmas Muntok. Pelaksana juga sudah memberi tahu apa kepentingannya,
dan apa manfaatnya jika pelaksanaan kelas hipertensi dilakukan secara teratur.
Hambatan: -

4.3 Melakukan Supervisi langsung ke tiap posbindu


4.3.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana tidak hanya meminta kepala program PTM mengenai kelas hipertensi ,
tetapi juga ikut mengawasi dan turun ke lapangan untuk melihat penerapan kelas
hipertensi.
Waktu pelaksanaan : Setiap kali jadwal posbindu dilakukan, mulai dari Februari
2015 sampai Juni 2015, pelaksana ikut serta dalam setiap kali kegiatan posbindu
dilakukan, melihat dan menilai kader untuk mengajar dalam kelas hipertensi
sekaligus melakukan pengecekan tekanan darah dan pengobatan.

Pelaksana, bersama dengan tim lapangan dan kepala program PTM Puskesmas
Muntok melakukan beberapa kali supervisi kegiatan kelas hipertensi sekaligus
melakukan pengecekan tekanan darah dan pengobatan.

Tanggal Tempat Pelaksana Supervisi

5/1/2015 Posbindu Tanjung Ular dr. Zaris, dr. Yeria,

6/1/2015 Posbindu Terabik dr. Danny, dr. Zaris,


dr. Putri Fiskha

7/1/2015 Posbindu Air Belo dr. Danny, dr. Putu


Yoana

8/1/2015 Posbindu Air Putih dr. Yeria, dr. Putri


Fiskha

9/1/2015 Posbindu Sinar Senja dr.Danny,dr.Putu


Yoana,dr.Putri Fiskha

10/1/2015 Posbindu Senang Hati dr.Zaris,dr.Putri


Fiskha

20
Hambatan :
Tidak adanya komputer di setiap posbindu, hanya ada beberapa posbindu yang
memiliki komputer yang dapat digunakan untuk memberikan penyuluhan tentang
hipertensi.

21
LAMPIRAN

FOTO-FOTO KEGIATAN LAMPIRAN

22