You are on page 1of 20

Selasa, 02 Juli 2013

Bahasa Indonesia yang terkontaminasi budaya asing

KONTAMINASI BUDAYA ASING


Karya Tulis Ilmiah

Di ajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah


BAHASA INDONESIA

Dosen Pebimbing
Siti Rumilah, M. Pd

Penyusun
Noermalia Andriani
C32212088

Jurusan Muamalah
Fakultas Syariah
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
2013

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat serta hidayah
kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang
berjudul Kontaminasi Budaya Asing ini dengan baik dan tepat waktu.
Karya tulis ilmiah ini, membahas tentang kesalahan-kesalahan pada gaya bicara seseorang yang
telah terkontamiinasi budaya asing. Adanya kesalahan-kesalahan pada gaya bicara ini, karena orang
tersebut tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka cenderung menggunakan
bahasa asing yang bercampur dengan bahasa Indonesia. Kenyataan ini, dianggap lazim karena mengingat
seringkali muncul dalam bahasa lisan yang kemudian terbawa dalam pemberitaan surat kabar. Keadaan ini
dapat meruntuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Saya berharap karya tulis ilmiah ini, dapat menumbuhkan rasa bangga pada masyarakat Indonesia
untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan secara bersamaan kita ikut melestarikan
bahasa Indonesia.
Saya tidak lupa berterimakasih atas semua pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis
ilmiah ini, sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Dan tidak lupa kepada dosen
pebimbing yang telah membimbing saya dan teman-teman yang telah memberikan dukungannya dalam
proses penyelesaian makalah ini.
Akhirnya, saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi semua yang
membaca makalah ini umumnya. Amin.

Surabaya 03 Januari 2013

Penyusun

ABSTRAK

Karya ilmiah yang berjudul Kontaminasi Budaya Asing ini membahas keseluruhan
tentang penggunaan bahasa Indonesia yang kurang tepat, yang tidak disadari oleh masyarakat
Indonesia sendiri. Bagaimana perkembangannya bahasa Indonesia di era globalisasi yang
kebanyakan telah terkontaminasi budaya asing.
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memberitahukan kepada orang
banyak tentang bahasa Indonesia yang tidak lagi menjadi citra diri seseorang sebagai bahasa
pergaulan. Saya ingin karya tulis ini menyadarkan masyarakat Indonesia tentang pentingnya
menjaga kelestarian bahasa Indonesia, dan menumbuhkan rasa bangga menggunakan bahasa
Indonesia sebagai citra diri sebagai bahasa pergaulan.
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah dengan melakukan
Studi Pustaka. Saya mencari bahan-bahan tentang penggunaan bahasa yang sudah
terkontaminasi budaya asing lewat Internet, juga melalui buku-buku yang berkaitan dengan
masalah itu. Tidak hanya itu, untuk memperkuat penelitian ini, kami juga melakukan
pengamatan secara langsung pada bahasa Koran yang ada di Surabaya. Saya banyak
mendengar kata-kata yang tidak sepantasnya dipakai oleh bangsa Indonesia karena bahasa
yang digunakan bukanlah bahasa mereka tetapi bahasa yang mereka contoh dari bangsa luar
melalui media massa seperti televisi, majalah, internet dan lain-lain .
Berdasarkan hasil penelitian, saya mengetahui betapa kurang percaya diri masyarakat
Indonesia memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan, yang terkadang tidak sesuai
norma-norma yang ada di Indonesia. Namun seiring dengan menurunnya penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar pada masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia sudah banyak di
menjadi bahasa yang diajarkan dan diperkenalkan di beberapa negara di dunia.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Budaya asing saat ini banyak sekali memepengaruhi berbagai aspek yang ada di
Indonesia, seperti pakaian, makanan, ilmu pengetahuan, pola hidup bahkan bahasa. Dampak
yang dibawanya pun ada yang positif ada yang negatif.
Di era globalisasi ini yang ditandai dengan arus komunikasi yang begitu dahsyat
mennutut pengambil kebijakan di bidang bahasa untuk bekerja lebih keras menyempurnakan
dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa.
Penggunaan bahasa Indonesia saat ini telah terkontaminasi oleh budaya asing.
Gejala kontaminasi banyak sekali kita jumpai dalam berbagai media, seperti dalam
koran, majalah dan media lainya. Susunan itu tampak seperti susunan yang betul, tetapi bila
diteliti secara lebih seksama, akan ternyata bahwa bentukan atau susunan itu salah. Seperti,
bentuk kata mengesampingkan dengan menyampingkan karena terjadi kekacauan maka
terbentuklah mengenyampingkan. Peristiwa semacam mi sering terjadi, walaupun memang
tidak mengganggu makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang
diperlukan dalam konteks tersebut.
Walaupun perkembangan bahasa indonesia yang semaikin pesat di satu sisi, di lain sisi
peluang dan tantangan terhadap bahasa indonesia semakin besar pula. Arus globalisasi saat
ini telah menimbulkan pengubah sosial yang sewaktu-waktu datang dan terjelma dalam
perilaku sosial.
1.3. Identifikasi Masalah
Memerhatikan yang terjadi di masyarakat seiring berkembangnya bahasa maka, saya
menarik beberapa masalah dengan berdasar kepada :
A. Kurangnya minat masyarakat Indonesia untuk melestarikan dan menggunakan bahasa
Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang baik dan benar.
B. Belum adanya kebanggaan memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menunjukkan
citra diri seseorang dalam pergaulan, mereka masih bangga menggunakan bahasa asing
sebagai citra diri seseorang dalam pergaulan
C. Pengunaan bahasa pada gaya bicara masyarakat Indonesia saat ini yang terkontaminasi oleh
budaya asing.
1.3. Pembatasan Masalah
Karena cangkupan kontaminasi budaya asing meliputi segala hal aspek kehidupan yang
ada di Indonesia, maka saya membatasi penelitian hanya pada bahasa Indonesia yang
terkontaminasi budaya asing yang mengancam hilangnya bahasa nasional bahasa Indonesia
itu sendiri.
1.4. Perumusan Masalah
Atas dasar Latar Belakang dan Pembatasan Masalah, maka dapat di ditarik
permasalahan : Penggunaan Bahasa Yang Telah Bercampur Dengan Budaya Asing
1.5 Kegunaan Penelitian
Mengetahui seberapa parah penggunaan bahasa yang telah bercampur dengan budaya
asing yang secara sadar atau tidak sadar kita pakai sebagai penjelas pikiran kita.
1.6 Tujuan Penulisan
Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengajak kembali masyarakat Indonesia
menggunakan dan melestarikan bahasa Indonesia agar menjadi bahasa yang kuat dan dapat
menjadi bahasa dunia.

BAB II
METODE PENELITIAN

3.3.Penelitian Pustaka
Dalam rangka melakukan penelitian pustaka ini yang diangkat dari beberapa buku
yang membahas tentang hampir hilangnya bahasa Indonesia akibat budaya asing yang
semakin gencar meruntuhkan bahasa Indonesia. Bagaimana beberapa penulis buku tersebut
menanggapi masalah itu dan menumbuhkan citra bahasa Indonesia itu kembali.

3.4.Penelitian Lapangan
3.2.2 Tinjauan pada media massa
Melakukan penelitian pada penggunaan bahasa pada media massa. Apakah
terjadi percampuran bahasa Indonesia dan bahasa asing. Media massa mempunyai pengaruh
negatif dan positif tergantung orang yang mengolah pesan. Terkadang ucapan dan perbuatan
yang dilihat dan dicerna orang di media massa di tiru dalam kekseharian mereka. Jadi, jangan
sampai pengolah media massa menyajikan berita atau pesan moral yang tidak patut untuk
dilihat ataupun dicerna oleh masyarakat.

BAB III
PEMBAHASAN
4.8 Pengertian Bahasa
Bahasa diperlukan manusia untuk berkomunikasi antar sesama manusia yang lain.
Bahasa sebagai kesatuan tanda bunyi yang berlaku dalam kelompok manusia tertentu
menjadi menyatukan sejumlah golongan manusia tertentu menjadi kesatuan bahasa (bahasa
ciri bangsa). Bahasa bukan kemampuan berbicara saja, melainkan juga cara bagaimana
menggunakan bahasa. Kemampuan berfikir seseorang sangat di pengaruhi oleh kemampuan
bahasanya.
Kemampuan berfikir seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya berbahasa.
Semakin tinggi kemampuannya menggunakan bahasa, semakin tinggi pula kemampuannya
menggunakan pikiran. (Tadjuddin, 2004 : 3)
Bahasa indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan oleh masyarakat
Indonesia untuk berkomunikasi. Bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa persatuan di
Indonesia sejak diikrarkannya sumpah pemuda oleh pemuda-pemudi bangsa Indonesia pada
tanggal 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia menjadi bahasa penghubung dari banyaknya
bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Indonesia erat kaitannya dengan kebudayaan sehingga,
Bahasa Indonesia dapat menjadi alat penampung kebudayaan baru nasional yang segi-seginya
menyangkut ilmu dan teknologi serta kebudayaan internasional.
Prof. Dr. Yus Rusyana mengatakan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar
Tetap FPBS IKIP Bandung pada tanggal 18 Oktober 1990, bahwa bahasa menunjukkan
bangsa. Penggunaan bahasa dengan cerdas menunjukkan bahwa bangsa yang
menggunakannya adalah bangsa yang cerdas. (Hardjapamekas, 2001 : 28)
Jadi, jika ingin dikatakan sebagai bangsa Indonesia yang cerdas maka kita sebagai
masyarakat Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tapi
pada kenyataannya, saat ini penggunaan bahasa yang baik dan benar telah bercampur dengan
budaya asing yang mempunyai pengaruh besar terhadap gaya bahasa di Indonesia saat ini.
Jika bicara tentang kebudayaan, maka bahasa dapat menjadi permasalahannya.
Makagiansar (1990) menekankan perlunya kesadaran tentang identitas budaya, bahkan Salim
(1990) menyatakan upaya mempertahankan identitas merupakan prioritas yang harus
diperjuangkan mati-matian dengan cirri utama keseimbangan antara aspek material dan
spiritual.
4.9 Pengertian Kontaminasi
Kontaminasi memiliki makna pengotoran; pencemaran karena kemasukan unsur luar. Makna lain
kontaminasi adalah penggabungan beberapa bentuk baik kata, frasa, dan sebagainya yang menimbulkan
bentuk baru yang tidak lazim (KBBI Pusat Bahasa, 2008:728). Kontaminasi ialah suatu gejala bahasa yang
dalam bahasa Indonesia diistalahkan dengan kerancuan atau kekacauan. Yang dirancukan ialah susunan,
perserangkaian, dan penggabungan.
Misalnya, munculnya kata bentukan menyuci yang berasal dari kata dasar cuci dengan mendapat
prefiks men-. Seharusnya kata bentukan yang benar adalah mencuci karena dalam tata bahasa Indonesia
nassal jika melekat pada kata yang berfonem awal /c/ maka nassal menjadi /n/ sedangkan fonem /c/ tidak
luluh (Alwi, 2000). Namun, karena tercemar (terkontaminasi) bahasa Jawa jadilah menyuci. Dalam tata
bahasa Jawa, fonem /c/ luluh ketika dilekati prefiks nassal.

4.10 Sejarah Singkat Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia yang di
deklarasikan pada saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Diketahui, bahasa Melayu
merupakan sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam
bukunya "Sedjarah Bahasa Indonesia", mengutarakan bahasa Melayu memiliki kekuatan
untuk merangkul kepentingan bersama untuk dipakai di seluruh Nusantara.
Menurut Alisjahbana, persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh
para pelaut pengembara dan saudagar yang merantau ke mana-mana. "Bahasa itu adalah
bahasa perhubungan yang telah berabad-abad tumbuh di kalangan penduduk Asia Selatan,"
tulisnya. Faktor lainnya, bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari.
Pada era pemeritahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa
resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal. Hingga timbul persaingan antara
bahasa Melayu dan bahasa Belanda yang semakin ketat. Gubernur Jenderal Roshussen
mengusulkan bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat
(SR).
Meski demikian, ada pihak-pihak yang gigih menolak bahasa Melayu di Indonesia. Van
der Chijs, seorang berkebangsaan Belanda, menyarankan supaya sekolah memfasilitasi ajaran
bahasa Belanda. JH Abendanon yang saat itu Direktur Departemen Pengajaran, berhasil
memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah
pendidikan guru pada 1900.
Akhirnya persaingan bahasa ini nampak dimenangkan oleh bahasa Melayu.
Bagaimanapun, bahasa Belanda ternyata hanya dapat dikuasai oleh segelintir orang saja.
Kemudian di Kongres Pemuda I tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk
dikembangakan sebagai bahasa dan sastra Indonesia.
Pada Kongres Pemuda II 1928, diikrarkan bahasa persatuan Indonesia dalam Sumpah
Pemuda. James Sneddon, penulis "The Indonesia Language: Its History and Role in Modern
Society" terbitan UNSW Press, Australia, mencatat pula kalau butir-butir Sumpah Pemuda
tersebut merupakan bahasa Melayu Tinggi. Sneddon menganalisis dari penggunakan kata
'kami', 'putera', 'puteri', serta prefiks atau awalan men-.
20 Oktober 1942, didirikan Komisi Bahasa Indonesia yang bertugas menyusun tata
bahasa normatif, menentukan kata-kata umum dan istilah modern. Pada 1966, selepas
perpindahan kekuasaan ke tangan pemerintah Orde Baru, terbentuk Lembaga Bahasa dan
Budaya di bawah naungan Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Bahasa Nasional pada 1969, dan
sekarang berkembang dengan nama yang dikenal, Pusat Bahasa. Tanggung jawab kerja Pusat
Bahasa, antara lain : meningkatkan mutu bahasa, sarana, serta kepedulian masyarakat
terhadap bahasa.

4.11 Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia


Secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu,
sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa Negara, dan bahasa resmi. Dalam
perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia mendudukkan diri sebagai bahasa budaya
dan bahasa ilmu, walaupun dalam praktiknya dapat muncul satu atau dua fungsi saja.
Saat ini, kedudukan bahasa Indonesia ada dua, yaitu sebagai bahasa nasional dan
bahasa negara. Seperti yang di jelaskan tentang perbadaan bahasa nasional dan
bahasa negara pada gambar dibawah ini :
Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta
pada tanggal 25-28 Februari 1975 yang menengaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional yang berfungsi sebagai : (1) lambang kebanggan nasional, (2) lambang
identitas nasional, (3) alat pemersatu masyarakat yang berbeda beda latar belakang sosial
budaya dan bahasanya, dan alat perhunbungan antarbudaya antardaerah
Bahasa sebagai bahasa nasional telah tercantum dalam teks Sumpah Pemuda, yang
mengatakan bahwa berbahasa satu bahasa Indonesia.
Dan dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang
diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 yang menengaskan kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang berfungsi sebagai : (1) bahasa resmi
kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di lembaga lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi
di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi
modern.
Hal ini tercantum dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 tentang bahasa negara adalah
bahasa indoneia.

4.12 Bahasa Indonesia di era globalisasi


Bahasa, sebagai bagian dari kebudayaan dapat menunjukkan tinggi rendanya
kebudayaan bangsa. Bahasa akan menggambarkan sudah sampai seberapa jauh kemajuan
yang telah dicapai suatu bangsa. Ikrar Soempah Pemoeda inilah yang menjadi dasar yang
kokoh bagi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Bahkan pada
perjalanan selanjutnya, bahasa Indonesia tidak lagi sebagai bahasa persatuan, tetapi juga
berkembang sebagai bahasa negara, bahasa resmi, bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi.
Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat
mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Salah satu
hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati
diri bahasa. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah
bahasa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia (Muslich, 2010:43).
Kini yang mewabah di Indonesia adalah lebih mengutamakannya pembelajaran
bahasa asing daripada bahasa indonesia. Mereka menganggap remeh pembelajaran bahasa
indonesia karena menurut mereka bahasa Indonesia cukup bahasa sehari-hari yang mereka
ucapkan. Namun, Pemakaian bahasa Indonesia dalam ucapan mereka sehari-hari telah banyak
keluar dari kaidah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa lain seperti Inggris atau
bahasa lain bagi sebagian orang berguna untuk menunjukkan citra dirinya dalam pergaulan.
Dapat dibayangkan jika 10 tahun lagi banyak orang tidak mengetahui bahasa Indonesia
dengan baik dan benar.
Selain itu miskinnya persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah. Bahkan, Negara kita
dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya pandaan istilah yang terdapat dalam banyak
disiplin ilmu. Menurut Moeliono (1991 : 15) prasangka itu bertumpu pada pendirian apa yang
tidak dikenal atau diketahui, tidak ada dalam Bahasa Indonesia.

4.12.1 Jati Diri Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi


Dalam era globalisasi, jati diri bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan
oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa
arus oleh penagruh budaya asing yang jelas-jelas tidak sesuai dan bahkan, tidak cocok dengan
bahasa dan budaya bangsa Indonesia.
Hal ini tidak berlebihan karena tujuan utama pembinaan bahasa Indonesia ialah
menumbuhkan dan membina sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Untuk menyatakan
sikap positif ini dapat dilakukan dengan :
(1) Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia. Ini terungkap jika bangsa Indonesia
lebih suka memakai bahasa Indonesia daripada bahasa asing dan bersedia menjaga agar
pengaruh asing tidak terlalu berlebihan.
(2) Sikap kebanggaan berbahasa Indonesia. Ini terungkap melalui kesadaran
bahwa bahasa Indonesia pun mampu mengungkapkan konsep yang rumit secara cermat dan
dapat mengungkapkan isi hati yang sehalus-halusnya.
Disamping itu, disiplin berbahasa Indonesia juga menunjukkkan rasa cinta kepada
bahasa, tanah air dan Negara kesatuan. Sebaliknya apabila yang muncul adalah sikap yang
negatif, maka akan berdampak pada pemakaian bahasa indonesianyang kurang terbina
dengan baik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia asal orang mengerti. Muncullah
pemakaian bahasa Indonesia sejenis bahasa prokem, bahasa plesetan, dan bahasa jenis
lainyang tidak mendukung perkembangan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

4.12.2 Sikap Pemakai Bahasa Indonesia yang Negatif


Fenomena negatif yang masih terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia
antara lain:
a. Banyak orang Indonesia memperlihatkan dengan bangga kemahirannya menggunakan
bahasa Inggris, walaupun mereka tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
b. Banyak orang Indonesia merasa malu apabila tidak menguasai bahasa asing (Inggris) tetapi
tidak pernah merasa malu dan kurang apabila tidak menguasai bahasa Indonesia.
c. Banyak orang Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau
mempelajarinya karena dirinya telah menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
d. Banyak orang Indonesia merasa dirinya lebih pandai daripada yang lain karena telah
menguasai bahasa asing (Inggris) dengan fasih, walaupun penguasaan bahasa Indonesianya
kurang sempurna.
Kenyataan- kenyataan tersebut merupakan sikap pemakai bahasa Indonesia yang
negatif dan tidak baik. Hal ini berdampak negatif pula perkembangan bahasa Indonesia.
Sebagian pemakai bahasa Indonesia menjadi pesimis, menganggap rendah, dan tidak percaya.
Akibat lanjut yang timbul dari kenyataan-kenyataan tersebut antara lain:
a. Banyak orang Indonesia lebih suka menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-
ungkapan asing, padahal semua itu sudah ada pandaannya dalam bahasa Indonesia. Bahkan,
sudah umum dipakai dalam bahasa Indonesia.
Contoh : page (halaman), background (latar belakang), reality (kenyataan),
airport (bandara).
b. Banyak orang Indonesia menghargai bahasa asing secara berlebihan sehingga ditemukan kata
dan istilah asing. Hal ini terjadi karena salah pengertian dalam menerapkan kata-kata asing
tersebut.
c. Banyak orang Indonesia belajar dan menguasai bahasa asingdengan baik tetapi menguasai
bahasa Indonesia apa adanya. Banyak yang punya kamus asing tapi tidak ada satupun kamus
bahasa Indonesia. Akibatnya, kalau mereka kesulitan menjelaskan atau menerapkan kata-kata
yang sesuai dalam bahasa Indonesia.
Kenyataan dan akibat tersebut kalau tidak diperbaiki akan berakibat perkembangan
bahasa Indonesia. Anggapan bahwa bahasa Indonesia yang dipenuhi oleh kata, istilah, dan
ungkapan asing merupakan bahasa Indonesia yang dipenuhi kata, istilah dan ungkapan asing
merupakan bahasa Indonesia yang canggih adalah anggapan yang keliru.

4.12.3 Tantangan Bahasa Indonesia


Menurut pendapat Halim (lihat Kompas, 8 Maret 1995, halaman 16) setelah 67
tahun BI dikukuhkan sebagai bahasa persatuan situasi kebahasaan ditandai oleh dua
tantangan. Tantangan pertama, perkembangan BI yang dinamis, tetapi tidak menimbulkan
pertentangan di antara masyarakat. Pada saat yang bersamaan bangsa Indonesia sudah
mencapai kedewasaan berbahasa. Sekarang tumbuh kesadaran emosional bahwa perilaku
berbahasa tidak terkait dengan masalah nasionalisme. Buktinya, banyak orang yang lebih
suka memakai Bahasa Asing.
Tantangan kedua, yakni persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah yang
menimbulkan prasangka yang tetap diidap ilmuan kita yang mengatakan bahwa Bahasa
Indonesia miskin, bahkan kita dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya pandaan
istilah yang terdapat dalam banyak disiplin ilmu.
Tantangan yang datang dari pemilik dan penutur Bahasa Indonesia sebenarnya
bersumber dari sikap, kesadaran berbahasa yang kemudian tercermin dalam perilaku
berbahasa (Fishman, 1975: 24-28)

4.12.4 Perencanaan Bahasa sebagai Upaya Penanggulangan Tantangan


Berbicara mengenai perencanaan bahasa, Moeliono (1985:5-11) melihat
pembahasannyadari tiga hal, yakni
(3) perencanaan fungsional
(4) Perencanaan sebagai proses
(5) Penamaan yang bervariasi
Perencanaan dilihat dari segi proses meliputi tiga kegiatan, yaitu (1) Perencanaan,
(2) Pelaksanaan, (3) Penilaian (lihat cf. Robin dalam Fasold, 1984:254).
Beberapa perencanaan yang dilakukan (Muclish, 2010:21-25)
4.12.4.1 Peranan Media Massa Ditingkatkan
Dalam kaitan ini, kesadaran dan tanggung jawab para wartawan terhadap Bahasa
Indonesia dan berbahasa Indonesia harus ditingkatkan. Sehingga dakwaan Anwar (1991:9)
yang mengatakan, Sebenarnya wartawan tampil sebagai perusak bahasa dapat dihindari.

4.12.4.2 Pengajaran Kebangsaan Dipertimbangkan Diberikan


Memperhatikan kejadian akhir-akhir ini, yakni timbulnya premanisme, kenakalan
remaja, dan penyalahgunaan rekayasa tumbuhan tertentu memperlihatkan adanya krisis jati
diri yang berpangkal dari pandangan bahwa manusia sebagai subtansi dan sebagai makhluk
yang beridentitas lalu dikaitkan dengan pengembangan Bahasa indonesia sebagai upaya
mempertahankan identitas bangsa, maka pengajaran kebangsaan sebaiknya dipertimbangkan
untuk dalam lembaga pendidikan kita.

4.12.4.3 KTSP Bahasa Indonesia


Berdasarkan kurikulum 2008, rumusan-rumusan operasionalisasi pembelajaran
Bahasa Indonesia yang terdapat di dalam KTSP, guru mengalami kesulitan untuk
melaksankannya.

4.12.4.4 Mutu Guru Bahasa Indonesia


Dari kenyataan yang ada akhir-akhir ini guru bahasa Indonesia lebih banyak
mengajarkan teori daripada praktik kebahasaan.

4.12.4.5 Penyuluhan Bahasa Indonesia


Menurut Meoliono (2001:5) penyuluhan bahasa di satu pihak dapat dianggap usaha
pelengkap penyebaran hasil kodifikasi lewat bentuk tulisan atau lisan, di lain pihak
peyuluhan bahasa juga berwujud lewat penerangan tentang soal yang belum atau tidak akan
dimuat dalam kodifikasi.

4.12.4.6 Pelibatan Organisasi Kepemudaan


Kadang-kadang kita melupakan potensi daya serap dan kritikan pemuda kita.
Generasi pemudalah yang paling berkepentingan dengan berbagai kegiatan pembangunan. Itu
sebabnya sangat kuat alasannya untuk melibatkan organisasi pemuda dalam upaya pembinaan
dan pengembangan bahasa Indonesia.

4.12.4.7 Kepedulian Para Petinggi


Gerakan bulan bahasa yang semakin sering adakan. Dan memakai bahasa indonesia
dengan benar jika berbicara kepada para pejabat tinggi lainnya. Maka pembinaan dan
pelestarian bahasa indonesia akan dapat kita saksikan.
4.13 Peristilahan dalam bahasa Indonesia
Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu
makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.(Panitia
Pengembangan Bahasa Indonesia Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1975:9).
Dalam bidang peristilahan, Bahasa Indonesia masih banyak menunjukkan kelemahan,
lebih-lebih lagi kalau dibandingkan dengan bahasa-bahasa mapan di negara-negara yang telah
maju. Jika di telusuri lebih jauh, kelemahan peristilahan dalam Bahasa Indonesia pada
dasarnya terletak pada (1) Terbatasnya jumlah dan jenis istilah, baik istilah umum maupun
istilah khusus, (2) lemahnya daya wadah dan daya ungkap istilah itu, (3) belum mantapnya
pembakuan, (4) belum memasyarakatnya secara luas istilah-istilah yang telah dibakukan, dan
(5) beranekaragamannya sikap serta tindak pemakai Bahasa Indonesia terhadap peristilahan
dalam Basaha Indonesia.
Banyak faktor yang menyebabkan atau melatarbelakanginya. Pertama, kenyataan
bahwa Bahasa Indonesia bagi kebanyakan orang indonesia bukanlah bahasa pertama atau
bahasa ibu, melainkan bahasa kedua, dalam arti, bahasa yang baru dipelajari. Dan konsep-
konsep tata nilai yang sudah diwarnai oleh bahasa pertama/bahasa ibu dalam banyak hal tidak
begitu mudah diungkapkan dengan istilah-istilah dalam Bahasa Indonesia.
Faktor kedua, relatif masih muda usia, dan sedang mengalami kepesatan dalam
pertumbuhan dan perkembangannya menuju ke kondisi bahasa yang matang dan modern.
Sebagai bahas yang sedang tumbuh dan berkembang, perubahan-perubahan serta
penambahan-penambahan hampir terus-menerus berlangsung, lebih-lebih lagi di bidang
peristilahannya.
Faktor ketiga, kenyataan bahwa ragam Bahasa Indonesia ilmu teknologi belum
menanpilkan secara tegas. Dari ketiga faktor diatas di atas dan faktor-faktor relevan lainnya
yang tidak disebutkan di atas, belum dilakukan satu faktor inti, yaitu pembinaan dan
pengembangan ragam Bahasa Indonesia keilmuan yang masih dalam tahap perintisan. Wajar
kalau hasil-hasil yang dicapainya banyak kelemahan dan kekurangannya.

4.14 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar


Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa
harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun
harus sesuai.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat
keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan
keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi,
dan jurnal ilmiah.
3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada
transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh
orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat
akrab dan intim.
Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk
bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang
baku:acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan
bukanduit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia
adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku
yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang
bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan
/atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa
Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan
pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud
aslinya
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Dari penelitian yang dilakukan kesalahan dalam gaya bicara masyarakat Indonesia
masih terkontaminasi oleh budaya asing yang sering kali muncul di berbagai media massa
seperti, televise, internet, Koran, majalah dan lainnya.
Namun kesalahan istilah tersebut sudah menjadi terdengar lazim dipergunakan
mengingat seringkali muncul dalam bahasa lisan yang kemudian terbawa dalam pemberitaan
surat kabar. Jadi bisa disimpulkan bahwa media massa juga membawa perubahan sosial
terhadap gaya bicara bagi pembacanya. Sehingga Amran mengatakan bahwa wartawan
adalah perusak. Itu karna wartawan yang menyebarluaskan berita tentang gaya bicara atau
kebudayaan asing diperkenalkan olehnya. Di bawah ini beberapa kesalahan penulisan dalam
Koran:

Penggunaan Istilah Asing Tanpa memperhatikan Kaidah Penggunaan


Untuk menarik investor, Kata Hidayat, Indonesia sangat membutuhkan dukungan
energy dan listrik. Jangan sampai bayar pet, yang merintangi industry, katanya. (sumber
: Republika, 15 Maret 2010)
Istilah bayar pet sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Jawa yang digunakan untuk
menggambarkan kondisi redup atau kondisi menyala dan matinya cahaya (lampu) yang saling
bergantian terjadi secara frekuentif.

Stadion Liberty adalah tempat yang sulit dikunjungi. Tapi kami datang ke sana
dengan mindset kuat. Kami harus datang ke pertandingan ini.......
(Sumber : Surya, 25 November 2012 )
Istilah mindset sudah kelewat lazim pada gaya bicara karena terbawa pada
pemberitaan. Padahal, dalam bahasa indonesia ada pandaannya yaitu pola pikir, pikiran atau
perasaan.
Tidak ada politik transaksional, tak ada deal-deal apapun, apalagi terkait mundurnya
Sri Mulyani (Menteri Keuangan), katanya.
(sumber : Kompas, 11 Mei 2010).
Istilah deal-deal sendiri merupakan parody (plesetan), yang menunjuk kepada arti
kesepakatan-kesepakatan

Kita disini sebagai penyelenggara mampu meng organize setiap even rave
party sehingga crowd nya dapat dirasakan oleh setiap customer yang datang di tempat kami. HM, Event
Organizer (Sumber : Republika, 15 Maret 2010)
Banyak sekali kesalahan yang terjadi karena kebiasaan pengucapan kata-kata yang
tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dikarenakan bahasa lisan yang terbawa
dalam pemberitaan media. Tapi, kata-kata diatas malah penyulitkan pembaca untuk
memahami bahasa tersebut.
Seharusnya meng-organize diganti dengan menangani, even rave party diganti
dengansambutan hangat disetiap acara, dan crowd diganti dengan ramai.

Yang paling menyolok adalah dari Wushu.


(Sumber : Radar Jember, 1 Juli 2010)
Termasuk dalam Kontaminasi bentukan kata. Menyolok merupakan bentukan dari afiks meN- dan
/colok/. Fonem /s/ luluh ketika mendapat awalan nassal sedangkan /c/ tidak sehingga yang benar adalah
mencolok. Kemungkinan penulis kolom ini tidak tahu bahwa fonem /c/ tidak luluh atau bahkan tidak tahu
bahwa menyolok berasal dari kata colok bukan solok sehingga terjadi kerancuan antara melesapkan fonem
awalnya menjadi /-ny/ atau mempertahankan fonem awal dan nassal berubah menjadi /-n-/.

justru malah menjadi beban dan cibiran publik.


(Sumber : Radar Jember, 2 Juli 2010)
Termasuk jenis Pleonasme ditandai adanya dua kata yang searti dalam sebuah kalimat, yaitu justru
dan malah. Akan lebih baik jika digunakan salah satu saja menjadi
justru menjadi beban dan cibiran publik atau malah menjadi beban dan cibiran publik.

. mereka minta agar Djalal-Kusen tidak menjadi bupatinya tim sukses saja (Sumber : Radar Jember,
13 Juli 2010)
-nya sebagai kata ganti milik orang ketiga tidak tepat digunakan pada susunan bupatinya tim
sukses. Hal ini merupakan pengaruh dari bahasa Jawa bupatine tim sukses, bukune aku, dalam tata bahasa
Jawa kata ganti milik /e/ yang disertai yang digantikan adalah benar. Tapi tidak begitu dengan bahasa
Indonesia. Seharunya -nya dibuang menjadi:
meminta Djalal-Kusen tidak menjadi bupati tim sukses saja
Betapa tidak, dengan kunjungan tersebut akan menambah semangat dan kepercayaan diri lebih
besar dalam menghadapi MWBC 2010 (Sumber : Radar Jember, 26 Juli 2010)
Kontaminasi di atas terbentuk ketika penulis akan menulisakan kalimat tersebut terlintas dalam
ingatannya dua pengertian atau dua bentukan yang sejajar yang muncul sekaligus sehingga sebagian
diambil dari bentukan pertama dan sebagian lain dari bentukan yang kedua.
Bentukan pertama yang mungkin muncul dalam pikiran penulis adalah:
Dengan dikunjungi (bupati) semangat dan kepercayaan diri menjadi lebih besar dalam menghadapi MWBC
2010
Bentukan kedua adalah:
Kunjungan tersebut akan menambah semangat dan kepercayaan diri dalam menghadapi MWBC 2010
Seharusnya dipilih salah satu saja dari kedua bentukan kalimat tersebut agar kalimat mudah dipahami
oleh pembaca.

Kesalahan Penggunaan Diksi


Pengganyangan korupsi (Sumber : Republika, 15 Maret 2010).
Kata pengganyangan terkesan kurang etis, meskipun kata ganyang masuk dalam kosa
kata Bahasa Indonesia baku, namun lebih berasosiasi pada hal yang sifatnya kasar atau tidak
sopan. Seharusnya lebih baik ditulis dengan kata pemberantasan.

Gondol Emas 3 Kg dari Depan Mapolsek (Sumber : Surya, 30 Desember 2012)


Kata Gondol berasal dari bahasa jawa yang berarti mencuri atau bias di tulis dengan kata curi.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Bahasa diperlukan manusia untuk berkomunikasi antar sesama manusia yang lain.
Bahasa sebagai kesatuan tanda bunyi yang berlaku dalam kelompok manusia tertentu
menjadi menyatukan sejumlah golongan manusia tertentu menjadi kesatuan bahasa (bahasa
ciri bangsa).
Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat
mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Salah satu
hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati
diri bahasa. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah
bahasa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia (Muslich, 2010:43).
Penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa lain seperti Inggris atau
bahasa lain bagi sebagian orang berguna untuk menunjukkan citra dirinya dalam pergaulan.
Dapat dibayangkan jika 10 tahun lagi banyak orang tidak mengetahui bahasa Indonesia
dengan baik dan benar.
Gejala kontaminasi memang tidak banyak dalam mengubah makna informasi yang ingin disampaikan
oleh penulis. Karena kesalahan yang tidak fatal terhadap makna inilah maka permasalahan ini tidak banyak
mendapat perbaikan.
Koran sebagai elemen yang ikut mempertahankan eksistensi bahasa selayaknya selalu berusaha
menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Selain koran juga merupakan objek pengukuran atau tolok
ukur tentang penggunaan bahasa. Koran juga merupakan media yang dibaca oleh banyak orang. Pada
kenyataanya, koran sebesar Radar Jember, koran terbesar se-Tapal Kuda (eks-karesidenan Besuki) masih
terdapat bahasa-bahasa yang kurang tepat apalagi koran lain yang asal-asalan.
Selain itu miskinnya persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah. Bahkan, Negara kita
dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya pandaan istilah yang terdapat dalam banyak
disiplin ilmu. Menurut Moeliono (1991 : 15) prasangka itu bertumpu pada pendirian apa yang
tidak dikenal atau diketahui, tidak ada dalam Bahasa Indonesia.

5.2 Saran
Sebagai bangsa Indonesia kita seharusnya bangga menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa keseharian atau bahasa pergaulan. Karena bahasa Indonesia adalah buktu
nyata perjuangan para pemuda untuk membuat suatu bahasa yang dapat menyatukan pikiran
atau komunikasi meskipun berbeda-beda daerah, suku, dan bahasa yang digunakan tapi itu
semua disatukan dengan resminya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa
Negara.
Sebagai warga negara Indonesia yang baik, sepantasnyalah bahasa Indonesia itu dicintai
dan dijaga. Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan dengan baik karena bahasa
Indonesia itu karena merupakan salah satu identitas atau jati diri bangsa Indonesia. Janganlah
menganggap remeh dan bersikap negatif serta berusaha agar selalu cermat dan teratur
mengunakan bahasa Indonesia.
Tak ada Negara yang bisa melakukan seperti yang Negara kita lakukan. Sumpah Pemuda
hanya ada di Indonesia, tidak ada di Negara lain karena akan menuai konflik yang besar.
Kepandaian berbahasa kita akan membuktikan bahwa bahasa kita cerdas. Aspirasi dan
pendapat rakyat pun dapat tersampaikan dengan mudah karena penggunaan bahasa yang bisa
dipahami oleh orang banyak. Jangan bangga menggunakan bahasa asing karena itu bukanlah
bahasa kita. Bahasa kita adalah bahasa Indonesia, maka berbanggalah memakai bahasa
Indonesia dengan baik dan benar dan memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang
lemah lembut, yang memiliki sopan santun dalam bahasanya

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J.S. 1992. Cakrawala Bahasa Indonesia II. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Fasold, Ralp. 1984. The Socialinguistic of Society . Oxford : Basil Blackwell
Fishman, Joshua A. ed. 1972. Socialinguistics . Paris : Rowbury House Publ.
Hardjapamekas, R.S. 2001. Bunga Rampai Kebahasaan. Bandung : Mandar Maju
Makagiansar. 1990. Dimensi Dan Tantangan Pendidikan Dalam Era Globalisasi Dalam Mimbar
Pendidikan. Bandung : University Press IKIP Bandungnton
Moeliono, Anton. 1976. Ciri-ciri Bahasa Indonesia yang Baku Dalam Amran Halim, ed. Politik
Bahasa Nasoional II, Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Moeliono. Anton. 1991. .Aspek Pembakuan dalam Perencanaan Bahasa. Makalah Munas V dan
Semloknas I HPBI . Padang : Panitia Penyelenggara
Muclish, Masnur. 2010. Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi Kedudukan, Fungsi, Pembinaan
dan Pengembangan. Jakarta : Bumi Aksara.
Panitia Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1975. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan. Jakarta : Pusat Pengembangan Bahasa.
Panitia Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1975. Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pateda, Mnsoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Ende : Nusa Indah
Pateda, Mansoer. 1991. Pengaruh Arus Globalisasi terhadap Pembinaan Bahasa Indonesia.
Makalah Munas V dan Semloknas I HPBI Padang : Panitia Penyelenggara.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tanpa Tahun. Hasil Perumusan Seminar Politik
Bahasa Nasional Jakarta , 25-28 Februari 1975.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1972. Pedoman Pembentukan Istilah. Jakarta : Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1975. Seminar Politik Bahasa Nasional . Jakarta :
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Salim, Emil. 1990. Pembekalan Kemampuan Intelektual untuk Menjinakkan Gelombang
Globalisasi Dalam Mimbar Pendidikan. Bandung : University Press IKIP Bandung
Sudaryanto. 1990. Meguak Hakiki Bahasa. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.
Tadjuddin, Mohammad. 2004. Batas Bahasaku, Batas Duniaku. Bandung : PT. Alumi
Widodo, Wahyu. 1994. Mitos Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Widodo, Wahyu. 2001. Otonomi Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Widodo, Wahyu. 2003. Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Widodo, Wahyu. 2006. Berani Menulis Artikel. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Wojowasito, S. 1977. Pengajaran Bahasa Kedua (Bahasa Asing, bukan Bahasa Ibu). Bandung :
Shinta Dharma
Zainuddin. 1985. Pengetahuan Kebahasaan. Surabaya : Usaha Nasional
http://oase.kompas.com/read/2009/06/12/23524123/bahasa.indonesia.jadi.bahasa.kedua.di.ho.chi.m
inh.city
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
http://www.asal-usul.com/2010/06/10-bahasa-paling-banyak-digunakan-dunia.html
http://nasional.kompas.com/read/2010/07/26/15575681/

http://aistin.blogspot.com/2011/08/bahasa-indonesia-sebagai-pembentuk.html

Diposkan oleh Nurmalia Andriani di 22.40


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Karya tulis ilmiah bahasa indonesia
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

kontaminasi budaya asing

Feedjit
Entri Populer
Letter of Credits (Pengertian, Tujuan, Pihak dalam Letter of Credits, Kelebihan dan

Pengajuan Hak Asuh Anak di Pengadilan Agama


Anda Pengunjung ke-
545944
GALERY

Mengenai Saya

Lihat profil lengkapku


Lencana Facebook
Nurmalia Andriani

Buat Lencana Anda


Ada kesalahan di dalam gadget ini

Translate ibokz - Exp


Pilih Bahasa
Template PT Keren Sekali. Gambar template oleh tjasam. Diberdayakan oleh Blogger.