You are on page 1of 11

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG WUCHERERIA BANCROFTI

Wuchereria bancrofti atau biasa juga disebut cacing filaria adalah kelas
dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum
Nemathelmintes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut
filaria. Sehingga menyebabkan penyakit kaki gajah (filariasis) yang terlihat kaki
penderita menjadi bengkak. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau dikenal juga
dengan elephantiasis adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh
oleh infeksi cacing filaria, yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesis
nyamuk. Penyakit filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu
penyakit yang dulunya ada kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali.
Penderita filariasis khas ditemukan ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis
dan tropis seperti di Indonesia dan penyakit filariasis tersebar hampir diseluruh
Propinsi di Indonesia dan penyakit filariasis pertama kali ditemukan pada tahun
1887, tetapi setelah itu penyakit filariasis tidak muncul dan sekarang kembali
muncul.

Wuchereria bancrofti terdapat secara terbatas pada beberapa daerah di


Indonesia, seperti Sumatera sampai Irian Jaya. Wuchereria bancrofti yang terdapat
di kota (tipe urban) hanya terdapat disekitar Jakarta dan Semarang, vektornya
biasanya dari jenis Culex quinquefasciatus, Sedangkan yang terdapat di daerah
perdesaan ( tipe rural) biasanya ditularkan oleh nyamuk dari jenis Anopheles sp.
dan Aedes sp. Mikrofilarianya bersifat periodik nokturna. Penyakit yang
disebabkan oleh Wuchereria bancrofti adalah wukereriasis/filariasis bancrofti.
Sampai saat ini jumlah kasus penyakit filariasis semakin banyak melanda
Indonesia dengan tingkat endemis yang tinggi.

Selain itu, kasus filariasis menyebabkan kerugian ekonomi yang utama


bagi penderita dan keluarganya. Kerugian yang disebabkan filariasis baik dalam
keadaan akut maupun kronis antara lain adalah hilangnya jam kerja penderita
yang berakibat pada penurunan pendapatan keluarga maupun kecacatan yang akan
membebani keluarga yang bersangkutan maupun masyarakat sekitarnya. Oleh
karena itu kasus filariasis ini banyak melanda negara Indonesia dan menyebabkan
berbagai kerugian bagi penderita dan keluarga, maka perlu dilakukan pendalaman
lebih lanjut mengenai penyakit filariasis ini, termasuk dalam siklus hidup, gejala
klinik, diagnosa dan epidemiologi dari filariasis tersebut.

1
B. MORFOLOGI

Cacing dewasa berbentuk halus seperti benang dan berwarna putih susu,
mempunyai kutikula halus, dan ditemukan dalam kelenjar dan saluran limfe.
Cacing jantan panjangnya kira-kira 40 mm dan diameternya 0,1mm. Cacing
betina panjangnya 80-100mm dan diameternya 0,24-0,30mm. Guna melanjutkan
siklus hidupnya, cacing dewasa betina menghasilkan mikrofilaria bersarung.
Panjang mikrofilarianya berkisar dari 244 sampai 296 m serta aktif bergerak
dalam darah dan limfe. Mikrofilarianya bersarung dan inti badannya tidak sampai
ujung ekor. Pulasan seperti Giemsa, Wright, atau hemaktosilin Delafield telah
digunakan untuk membantu membedakan gambaran morfologi dalam menentukan
spesies mikrofilaria. Mikrofilaria yang dipulas panjangnya 245-300 m dengan
lebar 7- 8 m, ruang pada kepala (cephalic space) yaitu panjang = lebar, memiliki
inti yang teratur, lekukan badan halus dengan sarung berwarna pucat. Pada
banyak daerah di Indonesia, mikrofilaria Wuchereria bancrofti termasuk dalam
tipe periodik nokturna. Konsentrasi tertinggi mikrofilaria dalam peredaran darah
yaitu pada malam hari umumnya diantara jam 10 malam sampai jam 2-4 pagi.

2
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak

jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak.

Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi

anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria

beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di

bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut

dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk,

kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk.

Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini,

demikian seterusnya.

C. SIKLUS HIDUP

3
Selama makan darah, nyamuk yang terinfeksi memperkenalkan-tahap

ketiga larva filaria ke kulit tuan rumah manusia, di mana mereka menembus ke

luka gigitan. Mereka berkembang pada orang dewasa yang umumnya berada di

limfatik. Seekor nyamuk mikrofilaria ingests selama makan darah. Setelah

konsumsi, mikrofilaria yang kehilangan selubung mereka dan beberapa dari

mereka bekerja dengan cara mereka melalui dinding dan jantung bagian

proventrikulus dari nyamuk midgut dan mencapai otot-otot dada. Ada mikrofilaria

yang berkembang menjadi tahap pertama larva dan selanjutnya ke tahap ketiga

larva infektif. Tahap ketiga larva infektif bermigrasi melalui hemocoel untuk

nyamuk yang prosbocis dan dapat menginfeksi manusia lain ketika nyamuk

mengambil makan darah.

Hospes pelantara dari filaria, yaitu nyamuk mendapatkan infeksi dengan


menelan mikrofilaria dalam darah yang diisapnya. Mula-mula parasit ini
memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I (L1) dalam
waktu 3 hari. Dalam waktu kurang lebih seminggu larva ini bertukar kulit tumbuh
menjadi lebih gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II (L2). Pada hari ke
10-14 selanjutnya larva ini bertukar kulit sekali lagi tumbuh makin panjang dan
lebih kurus, disebut larva stadium III (L3) yang merupakan bentuk infektif dan
dapat dijumpai di dalam selubung probosis nyamuk. Larva bermigrasi ke labela
nyamuk dan masuk ke dalam kulit hospes definitive melalui luka tusukan ketika
sedang mengisap darah.

Dalam tubuh hospes definitive (manusia), larva L3 menembus lapisan


dermis menuju saluran limfe dan berkembang menjadi larva L4 dalam waktu 9-
14 hari setelah infeksi. Larva L4 kemudian berkembang menjadi cacing dewasa di
dalam kelenjar limfe dan melakukan kopulasi . Mikrofilaria akan dilepaskan oleh
cacing betina yang gravid dan dapat dideteksi di sirkulasi perifer dalam 8 sampai
12 bulan setelah infeksi. Dari saluran limfe, mikrofilaria memasuki sistem vena
lalu ke kapiler paru dan akhirnya memasuki sistem sirkulasi perifer.

4
D. PATOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

a. Patologi

Perubahan patologi pada penyakit filariasis terjadi akibat kerusakan pada


sistem limfatikyang disebabkan oleh cacing dewasa dan bukan disebabakan oleh
microfilia. Mikrofilaria biasanya tidak menimbulkan kelainan, namun dalam
keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Filariasis yang disebabkan
oleh cacing dewasa dapat berupa limfadenitis dan limfangitis retrograd pada
stadium akut, hidrokel, kilurian, dan Limfedema (elephantiasis) yang mengenai
seluruh kaki atau lengan, skrotum, vagina dan payudara pada stadium kronis. Hal
ini terjadi melalui 3 tahap diantaranya: Tahap tanpa gejala, Tahap Inflamasi
(akut), Tahap Obstruksi (kronis).
b. Patofisiologi

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut


digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III
(L3). Nyamuk tersebut mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah
penderita atau binatang reservoar yang mengandung mikrofilaria. Siklus
penularan filariasis ini melalui dua tahap yaitu mosquito satges atau tahap

5
perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) dan human stages atau tahap
perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).

Mikrofilaria melepaskan selubung, menembus perut tengah nyamuk, dan

bermigrasi ke otot dada.

Nyamuk menghisap darah (mikrofilaria masuk).

Nyamuk menghisap darah manusia (Larva L3 masuk kedalam kulit)

Berkembangbiak dalam sistem limfe.

Hasil perkembangbiakan :mikrofilaria berselubung yang berpindah ke

limfe dan pembuluh darah.

Berpindah tempat menuju kepala dan probisis nyamuk.

E. DIAGNOSA

Dignosa penyakit Filariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti


adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar


getah bening.
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe.
3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik.
4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada
anggota tubuh
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi
pada kulit.

F.EPIDEMIOLOGI

Wuchereria bancrofti tersebar di daerah yang beriklim tropis, umumnya


daerah dataran rendah, terutama pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-
rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti tersebar di Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya. Wuchereria

6
bancrofti dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu tipe pedesaan (tipe rural) dan tipe
perkotaan (tipe urban) berdasarkan vektor yang menularkan. Wuchereria
bancrofti tipe pedesaan ditularkan terutama oleh nyamuk Anopheles dan Aedes ,
sedangkan tipe perkotaan ditularkan terutama oleh nyamuk Culex
quinquefasciatus. Dapat dikatakan bahwa filariasis melibatkan banyak faktor yang
sangat kompleks yaitu cacing filaria Wuchereria bancrofti sebagai agen penyakit,
manusia sebagai hospes definitif dan nyamuk dewasa sebagai vektor serta faktor
lingkungan fisik, biologik, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.

Sebagian besar yang terjangkit filariasis ialah remaja dan dewasa . Hal ini
disebabkan karena kebiasaan dan aktivitas keseharian mereka yang cenderung
mendukung terkena filariasis, yaitu aktifitas pada malam hari dengan berbagai
kegiatan tanpa memakai alat pelindung diri dari gigitan nyamuk sebagai vektor
filariasis. Perlindungan diri dapat dilakukan dengan menggunakan jaket, celana
panjang, obat nyamuk atau alat proteksi lainnya. Baru-baru ini, diperkirakan
bahwa ada 120 juta kasus di seluruh dunia filariasis limfatik. W. bancrofti
America.) bancrofti mempengaruhi sebagian besar daerah di sabuk khatulistiwa
yang luas (Afrika, Delta Nil, Turki, India, Hindia Timur, Asia Tenggara, Filipina,
Kelautan Kepulauan, Australia, dan bagian dari Amerika Selatan.). Wichereria.
bancrofti memiliki preferensi untuk darah manusia dan tampak bahwa manusia
adalah satu-satunya hewan yang terinfeksi dengan W. bancrofti Tidak ada host
reservoir.

G. PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN

a. Pengobatan

Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis
dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat
membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang.
Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif
murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6
mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam,
menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah.

7
Obat lain yang dapat dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah

antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas

terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria.

Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif

berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan

antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu

dapat juga dilakukan pembedahan.

b. Pencegahan

kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk,

menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk,

menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit.

tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk,

dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala

pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua

cara diatas,

pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk

itu sendiri dengan cara 3M. Penggunaan kelambu pada saat tidur, dengan

tujuan untuk proteksi diri dari risiko tertular filariasis.

Melakukan tindakan pemutusan rantai penularan kegiatan insektisida dan

larvasida.

Dilakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan tujuan agar

pengetahuan masyarakat tentang filariasis meningkat sehingga masyarakat

mau perpartisipasi dalam kegiatan pengobatan masal.

8
H. ASUHAN KEPERAWATAN

Preventif (Pencegahan)

Pencegahan penyakit Filariasis yang paling efektif adalah dengan

memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3 M dan gunakan alat

pelindung diri, misalnya: menggunakan kelambu, jaket, celana panjang,

dan obat nyamuk serta menutup ventilasi rumah.

Promotif (Promosi)

Bagi penderita kaki gajah (Filariasis) diharapkan kesadarannya untuk

memeriksakan kedokter tentang penyakitnya agar dengan cepat

mendapatkan penanganan, serta pemberian obat-obatan sesegera mungkin

sehingga tidak menyebarkan penularan pada masyarakat lainnya. Sebab,

pada dasarnya penyakit filariasis adalah penyakit yang mengenai kelenjar

dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit golongan nematoda yaitu

Wuchereria bancrofti, dimana penularannya melalui gigitan nyamuk Culex

quiquefasciatus, Anopheles dan Aedes.

Kuratif (Pengobatan)

Bagi penderita penyakit filariasis dapat diberikan obat DEK (Diethyl

Carbamazine Citrate) dimana obat ini dapat membunuh mirofilia dan

cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Pemberian obat secara

oral diberikan sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi

puncak dalam darah dalam 3 jam, dan di ekskresi melalui air kemih.

9
KESIMPULAN:

Wuchereria bancrofti atau biasa juga disebut cacing filaria adalah kelas

dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum

Nemathelmintes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut

filaria. Sehingga menyebabkan penyakit kaki gajah (filariasis) yang terlihat kaki

penderita menjadi bengkak. Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan

oleh cacing filaria yang ditularkan oleh beebagai jenis nyamuk. Filariasis adalah

penyakit yang mengenai kelenjar dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit

golongan nematoda yaitu Wuchereria bancrofti. Penularan penyakit ini dapat

terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles, Aedes dan Culex quinquefasciatus.

Perubahan patologi pada penyakit filariasis terjadi akibat kerusakan pada sistem

limfatikyang disebabkan oleh cacing dewasa dan bukan disebabakan oleh

microfilia. Wuchereria bancrofti tersebar di daerah yang beriklim tropis,

umumnya daerah dataran rendah, terutama pedesaan, pantai, pedalaman,

persawahan, rawa-rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti tersebar di

Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya.

Pengobatan penderita penyakit filariasis dengan memberikan obat DEK (diethyl

carbamazinine citrate) dimana obat ini dapat membunuh mikrofilia dan cacing

dewasa pada pengobatan jangka panjang, pencegahannya dengan memberantas

nyamuk itu sendiri dengan 3 M.

10
DARTAR PUSTAKA

1. http://www.juraganmedis.com/filariasis-penyakit-kaki gajah.html

2. King CL, Freedman DP (2000). Raja CL, Freedman DP (2000).

"Filariasis". "Filariasis". In GT Strickland. Hunter's tropical medicine and

emerging infectious diseases (8th ed.). Dalam Strickland GT.'s Tropis

Hunter. Obat dan penyakit menular yang muncul 8 (ed.) Philadelphia: EB

Saunders. Philadelphia: Saunders EB.. hal 740-53

3. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11DiagnosisdanPengobatanFilariasis

.pdf/11_DiagnosisdanPengobatanFilariasis.pdf

4. Departemen Kesehatan RI. 1988. Petunjuk Pelaksanaan Pemberantasan

Penyakit Kaki Gajah di Puskesmas.

5. Soejoto dkk, 1989. Penuntun Praktikum Parasitologi Medik, Departemen

Kesehatan Republik Indonesia: Surabaya

6. Lynne S. Garcia dkk. 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran, EGC:

Jakarta

11