Вы находитесь на странице: 1из 8

---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol.

2(3) September 2015

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUARGA MELAKUKAN


PEMASUNGAN PADA ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA

Aditya rohmadoni1, Mundzakir2


Program Studi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan1,2
Universitas Muhammadiyah Surabaya
Email: mundakirzhafran@gmail.com

ABSTRACT
Deprivation in Indonesia is still utilized by families as a tool to deal with clients with
mental disorders in the houses. Based on the WHO, 41 million people in Indonesia are
experiencing a mental disorder. This is due to the deprivation of such families to
prevent violence from the clients actions whereof dangerous for themselves or others.
The aim of this research is to determine the factors that influence the families deprived
their family members with mental disorders at Menur Mental Hospital Surabaya. This
research used a cross-sectional analytic study design with the design of a retrospective
approach. The population in this research is the families doing deprivation at Menur
Mental Hospital in Surabaya. The sampling technique used is simple purposive
sampling. 10 families who were became respondents in this research. The dependent
variable of this research is the deprivation, while the independent variable is a
recurrence, the knowledge and the family economy. The data in this research obtained
through questionnaires and observations, then analyzed using multiple linear
regression that Ho is rejected and H1 is accepted by the significant value of recurrence
p = 0.023, p = 0.022 knowledge, and economic p = 0.033. The result of this research is
showed that out of 10 respondents deprived the family by reasons of families
ignorance, patients relapse, and families economics. Of the three factors, the
knowledge factor affects the deprivation events undertaken by the family due to lack
understanding of how to deal with patients with mental disorders. The relapse factors
were affecting the incidence of recurrence deprivation performed by family; family
deprivation done to avoid patients with mental disorders at the time they are run amuck.
The economic factors were affecting the deprivation events performed by the family; the
family's economic barrier to help cure patients in treatment induces the families do
deprivation to the patients.
The results of this research are the relapse of the patients, families knowledge and
economy have great influence on the deprivation carried by the families with mental
disorders at Menur Mental Hospital Surabaya.
Keywords: Family, deprivation, the knowledge and economy

Pendahuluan klien gangguan jiwa berat yang kerap


Beberapa daerah di Indonesia, dilakukan penduduk yang berdomisili di
pasung masih digunakan sebagai alat pedesaan dan pedalaman terus berupaya
untuk menangani klien gangguan jiwa dilakukan antara lain dengan member-
di rumah. Saat ini, masih banyak klien dayakan petugas kesehatan di tengah-
gangguan jiwa yang didiskriminasikan tengah masyarakat. Indonesia, kata
haknya baik oleh keluarga maupun pasung mengacu kepada pengekangan
masyarakat sekitar melalui pemasungan. fisik atau pengurungan terhadap pelaku
Sosialisasi kepada masyarakat terkait kejahatan, orang-orang dengan gang-
dengan larangan "tradisi" memasung guan jiwa yang melakukan tindak

17
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

kekerasan yang dianggap berbahaya kekerasan, isolasi sosial). Selain itu


(Broch, 2001, dalam Minas & Diatri, terdapat faktor kemiskinan dan rendah-
2008). Pemasungan penderita gangguan nya pendidikan keluarga merupakan
jiwa adalah tindakan masyarakat salah satu penyebab pasien gangguan
terhadap penderita gangguan jiwa jiwa berat hidup terpasung. Ketidak-
(biasanya yang berat) dengan cara tahuan pihak keluarga, rasa malu pihak
dikurung, dirantai kakinya dimasukan keluarga, penyakit yang tidak kunjung
kedalam balok kayu dan lain-lain sembuh, tidak adanya biaya pengobatan,
sehingga kebebasannya menjadi hilang. dan tindakan keluaga untuk mengaman-
Pasung merupakan salah satu perlakuan kan lingkungan merupakan penyebab
yang merampas kebebasan dan keluarga melakukan pemasungan. Salah
kesempatan mereka untuk mendapat satu kendala ekonomi kelurga
perawatan yang memadai dan sekaligus berpengaruh pada biaya berobat yang
juga mengabaikan martabat mereka harus di-tanggung pasien tidak hanya
sebagai manusia. meliputi biaya yang langsung berkaitan
Berdasarkan data yang di dengan pelayanan medik seperti harga
peroleh WHO (World Health obat, jasa konsultasi tetapi juga biaya
Organisation) bahwa 41 juta penduduk spesifik lainnya seperti biaya tran-
Indonesia mengalami gangguan jiwa. sportasi ke rumah sakit dan biaya
Diantaranya penyalahgunaan obat akomodasi lainnya (Djatmiko, 2007).
(44,0%), keterbe-lakangan mental Penyakit penyerta yang muncul akibat
(34,9%), disfungsi mental (16,2%) dan pemasungan umumnya terkait keber-
disintegrasi mental (5,8%). The sihan. Hampir seluruh aktivitas orang
Indonesian Psychiatric Epidemiologic yang dipasung, termasuk buang air, di
Network menyatakan bahwa di 11 kota tempat yang sama. Pola makan pun
di Indonesia ditemu-kan 18,5% dari umumnya tidak sehat sehingga mengu-
penduduk dewasa menderita gangguan rangi daya tahan tubuh, selain itu ada
jiwa (The Indone-sian Psychiatric sedikit luka memar pada bagian kaki.
Epidemiologic Network dalam
VideBeck, 2008). Data di Dinas METODE
Kesehatan Jawa timur pada tahun 2008 Desain penelitian merupakan hasil akhir
menyatakan jumlah skizofrenia di Jawa dari suatu tahap keputusan yang dibuat
Timur mencapai 2% dari populasi. Data oleh peneliti berhubungan dengan
dari Dinas Kesehatan Provinsi Jatim bagaimana suatu penelitian bisa
menyebutkan, di Jatim saat ini terdapat diterapkan (Nursalam, 2008). Dari
sekitar 28.000-an dengan gangguan jiwa tujuan diatas peneliti menggunakan
berat. Dari jumlah tersebut, 471 orang desain penelitian analitik cross
dipasung keluarga. Berdasarkan data sectional dengan rancangan pendekatan
yang di peroleh peneliti jumlah pasien retro-spektif yaitu adalah ketika
pasung yang memeriksakan di poli jiwa penelitian melihat kebelakang artinya
Menur Surabaya sekitar 10 orang. pengum-pulan mulai dari efek atau
Faktor keluarga melakukan akibat yang terjadi, kemudian dari efek
pemasungan diantaranya untuk Mence- tersebut ditelusuri kebelakang tentang
gah klien melakukan tindak kekerasan penyebab dan variablevariabel yang
yang dianggap membahayakan terhadap mempe-ngaruhi akibat tersebut (Murti,
dirinya atau orang lain.Selain itu upaya 2003). Teknik pengambilan sampel dari
untuk Mencegah klien agar tidak penelitian ini adalah purposive
kambuh (meninggalkan rumah, Perilaku sampling yaitu cara pengambilan

18
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

sampel untuk tujuan tertentu (Hidayat, Tabel 4 Distribusi responden


2010). berdasarkan ekonomi keluarga dengan
Peneliti menggunakan lembar kuesioner gangguan jiwa
dalam mengumpulkan data serta No. Ekonomi f %
formulir Informed Consent. Kuesioner
yang diberikan berisi daftar pertanyaan 1. Tinggi 0 0
yang mengacu pada konsep dan teori 2. Sedang 3 30
sesuai dengan uraian pada tinjauan 3. Rendah 7 70
pustaka. Kuesioner disusun secara Jumlah 10 100
terstruktur sehingga responden dapat
memberikan jawaban sesuai petunjuk PEMBAHASAN
yang ada. Sedangkan formulir Informed Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan
Consent diberikan untuk meminta bahwa keluarga melaku-kan
persetujuan kesediaannya untuk pemasungan sebanyak 10 responden
menjadi responden dalam mengisi (100%). Sering sebanyak 3 orang
kuesioner. (30%), Kadang 3 orang (30%), Jarang
sebanyak 4 orang (40%). Pemasungan
HASIL klien gangguan jiwa adalah tindakan
Tabel 1 Distribusi responden masya-rakat terhadap klien gangguan
berdasarkan keluarga melakukan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara
pemasungan di kurung, dirantai, kakinya di
masukkan ke dalam balok kayu dan
No. Pemasungan f % lain-lainn sehingga kebebasannya
1. Sering 3 30 menjadi hilang. Ketidaktahuan pihak
2. Kadang 3 30 keluarga rasa malu keluarga, penyakit
3. Jarang 4 40 yang tidak kunjung sembuh, tidak
Jumlah 10 100 adanya biaya pengobatan, dan tindakan
keluarga untuk menga-mankan
Tabel 2 Distribusi responden lingkungan merupakan penye-bab
berdasarkan kekambuhan pada anggota keluarga melakukan pemasungan.
keluarga dengan gangguan jiwa Pasung merupakan suatu tindakan
No. Kekambuhan F % memasang sebuah balok kayu pada
tangan/ kaki seseorang, diikat ataupun
1. Sering kambuh 8 80 di hutan. Tindakan tersebut
2. Kambuh 2 20 mengakibatkan orang yang terpasung
3. Tidak kambuh 0 0 tidak dapat mengge-rakkan anggota
Jumlah 10 100 badannya dengan bebas sehingga terjadi
atrofi. Tindakan ini sering dilakukan
Tabel 3 Distribusi responden pada seseorang dengan gangguan jiwa
berdasarkan Pengetahuan keluarga bila orang tersebut dianggap berbahaya
dengan gangguan jiwa bagi lingkungannya atau dirinya sendiri
No. Pengetahuan f % (Maramis, 2006).
1. Baik 2 20 Dari hasil penelitian dan teori
2. Cukup 5 50 maka dapat kami asumsikan bahwa ada
3. Kurang 3 30 berbagai alasan yang dikemukakan oleh
para ahli untuk menjawab mengapa
Jumlah 10 100
keluarga melakukan pemasungan.
Setiap keluarga melakukan pemasungan

19
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

pada pasien dengan alasan karena Rata-rata keluarga faktor yang mempe-
Ketidaktahuan pihak keluarga, rasa ngaruhi terjadinya kejadian pemasu-
malu pihak keluarga, penyakit pasien ngan.
dengan gangguan jiwa yang tidak Berdasarkan tabel 3 diatas
kunjung sembuh, tidak adanya biaya menunjukkan bahwa Pengetahuan
pengobatan, sehingga keluarga keluarga d tentang gangguan jiwa
melakukan tindakan pemasungan untuk dengan baik yaitu sebanyak 2 responden
mengamankan pasien agar tidak terjadi (20%) cukup sebanyak 5 responden
tindakan kekerasan. Berdasarkan tabel 2 (50%) dan kurang sebanyak 3
diatas menunjukkan bahwa sebagian responden (30%). Pengetahuan
besar keluarga melakukan pemasungan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi
karena pasien sering kambuh sebanyak setelah orang melakukan penginderaan
8 responden (80%), kambuh sebanyak 2 terhadap suatu objek tertentu.
responden (20%). Kambuh merupakan Penginderaan terjadi melalui panca
keadaan klien dimana muncul gejala indera manusia, yaitu indera
yang sama seperti sebelumnya dan penglihatan, pendengaran, penciuman,
mengakibatkan klien harus dirawat rasa dan raba. Sebagian besar
kembali (Andri, 2008). Periode pengetahuan manusia diperoleh mata
kekambuhan adalah lamanya waktu dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
tertentu atau masa dimana klien muncul merupakan domain yang sangat penting
lagi gejala yang sama seperti dalam membentuk tindakan seseorang
sebelumnya dan mengakibatkan klien Overt Behavior (Noto-atmodjo, 2007).
harus dirawat kembali. Kekambuhan Namun faktor pengeta-huan atau
gangguan jiwa psikotik adalah kognitif dapat dipengaruhi
munculnya kembali gejala-gejala kecenderungan seseorang untuk
pisikotik yang nyata. Angka kekam- memilih untuk melakukan atau tidak
buhan secara positif hubungan dengan melakukan suatu perilaku. Niat ini
beberapa kali masuk Rumah Sakit, ditentukan oleh sejauh mana individu
lamanya dan perjalanan penyakit. memiliki sikap positif pada perilaku
Penderita-penderita yang kambuh tertentu dan sejauh mana bila dia
biasanya sebelum keluar dari RS memilih untuk melakukan perilaku itu
mempunyai karakteristik hiperaktif, dia mendapat dukungan dari orang-
tidak mau minum obat dan memiliki orang lain yang berpengaruh dalam
sedikit keterampilan sosial, (Porkony kehidupannya. Seseorang yang
dkk, dalam Akbar, 2008). Dari hasil mempunyai niat berperilaku tinggi,
penelitian dan teori maka dapat kami maka seseorang yang bersangkutan
asumsikan bahwa ada berbagai alasan akan melakukan perilaku tersebut.
yang dikemukakan oleh para ahli untuk Namun jika seseorang yang
menjawab mengapa keluarga bersangkutan memiliki niat yang
melakukan pemasungan. Setiap rendah, maka perilaku tersebut tidak
keluarga melakukan pemasungan pada akan dilakukan atau terwujud.Menurut
pasien dengan gangguan jiwa rata-rata hasil penelitian dan teori maka dapat di
karena langsung melakukan asumsikan bahwa pengetahuan sangat
pemasungan kepada pasien dengan erat kaitannya dengan pendidikan
gangguan jiwa.Sehingga faktor dimana diharapkan seseorang dengan
kekambuhan menjadi tidur, marah- pendidikan tinggi, maka orang tersebut
marah, menarik diri, kekambuhan dari akan semakin luas pula pengetahuannya
pasien (pasien sulit berbicara sendiri). terutama pada penanganan gangguan

20
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

Tabel 5. Pengaruh Faktor Kekambuhan Terhadap Kejadian Pemasungan


Faktor Pemasungan Total %
Jarang % Kadang % Sering %
Ekonomi
Rendah 2 20.0 2 20.0 3 30.0 7 70.0
Sedang 2 20.0 1 10.0 0 0 3 30.0
Jumlah ( ) 4 40.0 3 30.0 3 30.0 10 100.0
Hasil Uji Regresi Linier Berganda = 0,033
Pengetahuan
Tahu 1 10.0 1 10.0 1 10.0 3 30.0
Tahu 1 10.0 2 10.0 2 20.0 5 50.0
Sebagian
Sangat Tahu 2 20.0 0 0 0 0 2 20.0
Jumlah ( ) 4 40.0 3 30.0 3 30.0 10 100.0
Hasil Uji Regresi Linier Berganda = 0,022
Kekambuhan
Kadang 1 10.0 1 10.0 0 0.0 2 20.0
Selalu 3 30.0 2 20.0 3 30.0 8 80.0
Jumlah ( ) 4 40.0 3 30.0 3 30.0 10 100.0
Hasil Uji Regresi Linier Berganda = 0,023

jiwa, sebaliknya jika pendidikan rendah pengetahuan, keterampilan, penguasaan


ada kaitannya dengan pengetahuan teknologi, kemampuan ekonomi dan
tentang cara menangi pasien gangguan lain sebagainya. Faktor eksternal dapat
jiwa, sehingga keluarga tidak tahu berupa struktur sosial ekonomi, fasilitas
bagaimana cara menangani keluarga pendidikan, produksi dan konsumsi,
dengan gangguan jiwa. Sehingga faktor transportasi dan komunikasi yang dapat
pengetahuan keluarga mempengaruhi menjadi pendukung bagi upaya
faktor yang signifikan terjadinya memenuhi kebutuhan kesejahteraan
kejadian pemasungan yang dilakukan keluarganya. kemiskinan dapat
oleh keluarga dengan pasien gangguan didefinisikan sebagai suatu standart
jiwa. tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya
Berdasarkan tabel 4 diatas menun- suatu tingkat kekurangan materi pada
jukkan bahwa responden terbanyak sejumlah atau golongan orang di
mempunyai Ekonomi rendah sebanyak bandingkan dengan standar kehidupan
7 responden (70%). dan Ekonomi yang rendah ini secara langsung tampak
sedang sebanyak 3 responden (30%). pengaruhnya terhadap tingkat
Menurut suparlan (2005). Tingkat kesehatan, kehidupan moral, dan rasa
kesejahteraan suatu masyarakat dapat harga diri dari mereka yang tergolong
dipengaruhi oleh berbagai faktor baik sebagai orang miskin.
yang ada di dalam maupun yang datang Menurut Miles dan Irvings
dari luar lingkungan keluarga yang (2000) ada empat indikator untuk
bersangkutan. Faktor internal yang merumuskan ekonomi keluarga
menentukan tingkat kesejahteraan suatu sejahtera yaitu : rasa aman atau security,
keluarga antara lain adalah kondisi kesejahteraan atau welfare, kebebasan
kesehatan, tingkat pendidikan ilmu atau Freedom, dan jati diri atau

21
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

indentitas. Indikator ekonomi dapat sehingga faktor ekonomi mempengaruhi


diamati dari berbagai aspek yaitu faktor yang signifikan terjadinya
kesehatan dan gizi, pendidikan, kejadian pemasungan.
perumahan dan lingkungan, sosial Hasil analisa statistic dengan uji
budaya dan ekonomi. Kesejahteraan Regresi Linier Berganda menunjukkan
sebenarnya tidak dapat hanya diukur bahwa Ho ditolak dan Hl diterima yang
dengan melihat satu variabel/dimensi artinya ada pengaruh kekambuhan
karena bersifat multidimensional. pasien dengan pemasungan yang
Indikator hanya memilki suatu dilakukan oleh keluarga dengan
kondisi/variabel tertentu. Untuk gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa
mengatasi masalah tersebut, dalam Menur Surabaya ( = 0,023< = 0,05).
mengukur suatu kondisi yang bersifat (Porkony dkk, dalam Akbar,
multi diminsional bisa digunakan indeks 2008) berpendapat Periode kekambuhan
atau indikator komposit dari beberapa adalah lamanya waktu tertentu atau
indikator yang ada. masa dimana klien muncul lagi gejala
Faktor ekonomi dapat yang sama seperti sebelumnya dan
mempenga-ruhi kecenderungan mengakibatkan klien harus dirawat
seseorang untuk memilih untuk kembali. Kekambuhan gangguan jiwa
melakukan atau tidak melakukan suatu psikotik adalah munculnya kembali
perilaku. keluarga yang mempunyai gejala-gejala pisikotik yang nyata.
ekonomi tinggi, maka keluarga yang Angka kekambuhan secara positif
bersangkutan akan memenuhi hubungan dengan beberapa kali masuk
kebutuhan anggota keluarganya. Namun Rumah Sakit (RS), lamanya dan
jika tingkat hidup yang rendah, tingkat perjalanan penyakit. Penderita-penderita
kekurangan materi pada keluarga atau yang kambuh biasanya sebelum keluar
golongan orang di bandingkan dengan dari RS mempunyai karakteristik
standar kehidupan yang rendah ini hiperaktif, tidak mau minum obat dan
secara langsung tampak pengaruhnya memiliki sedikit keterampilan sosial,
terhadap tingkat kesehatan, kehidupan Teori maka dapat kami
moral, dan rasa harga diri dari mereka asumsikan bahwa ada berbagai alasan
yang tergolong sebagai orang miskin yang dikemukakan oleh para ahli untuk
yang bersangkutan tidak mampu menjawab mengapa keluarga
memenuhi kebutuhan anggota melakukan pemasungan. Setiap
keluarganya. Menurut hasil penelitian keluarga melakukan pemasungan pada
dan teori maka dapat kami asumsikan pasien dengan gangguan jiwa rata-rata
bahwa ekonomi sangat erat kaitannya karena kekambuhan dari pasien (pasien
dengan tingkat kesehatan dimana sulit tidur, marah-marah, menarik diri,
diharapkan keluarga dapat terpenuhi berbicara sendiri).
semua kebutuhan rasa aman, Hasil analisa statistic dengan uji
kesejahteraan, kebebasan, dan jati diri. Regresi Linier Berganda menunjukkan
Keluarga yang ekonomi rendah tingkat bahwa Ho ditolak dan Hl diterima yang
kesehatan rendah pula. Mayoritas artinya ada pengaruh kekambuhan
responden (keluarga) di rumah sakit pasien dengan pemasungan yang
jiwa menur surabaya rendah, banyak dilakukan oleh keluarga dengan
asuransi kesehatan dan asuransi gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa
kesehatan warga miskin,tetapi keluarga Menur Surabaya ( = 0,023< = 0,05).
kurang memaksimalkan untuk Rata-rata keluarga langsung melakukan
menggunakan asuransi tersebut. pemasungan kepada pasien dengan

22
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

gangguan jiwa. Sehingga faktor Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya ( =


kekambuhan menjadi faktor yang 0,033 < = 0,05). Menurut Miles dan
mempengaruhi terjadinya kejadian Irvings (2000) ada empat indikator
pemasungan. untuk merumuskan ekonomi keluarga
Hasil analisa statistik dengan uji sejahtera yaitu : rasa aman atau security,
Regresi Linier Berganda menunjukkan kesejahteraan atau welfare, kebebasan
bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang atau Freedom, dan jati diri atau
artinya ada pengaruh pengetahuan indentitas. Indikator ekonomi dapat
keluarga dengan pemasungan yang diamati dari berbagai aspek yaitu
dilakukan oleh keluarga dengan kesehatan dan gizi, pendidikan,
gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa perumahan dan lingkungan, sosial
Menur Surabaya ( = 0,022 < = 0,05). budaya dan ekonomi. Kesejahteraan
Pengetahuan merupakan hasil sebenarnya tidak dapat hanya diukur
dari tahu dan ini terjadi setelah orang dengan melihat satu variabel/dimensi
melakukan penginderaan terhadap suatu karena bersifat multidimensional. Teori
objek tertentu. Penginderaan terjadi maka dapat kami asumsikan bahwa
melalui panca indera manusia, yaitu ekonomi sangat erat kaitannya dengan
indera penglihatan, pendengaran, tingkat kesehatan dimana diharapkan
penciuman, rasa dan raba. Sebagian keluarga dapat terpenuhi semua
besar pengetahuan manusia diperoleh kebutuhan rasa aman, kesejahteraan,
mata dan telinga. Pengetahuan atau kebebasan, dan jati diri. Namun perlu
kognitif merupakan domain yang sangat ditekankan bahwa keluarga yang
penting dalam membentuk tindakan ekonomi rendah tidak berarti tingkat
seseorang Overt Behavior (Notoat- kesehatan rendah pula. Mayoritas
modjo, 2007). Teori maka dapat di responden (keluarga) di rumah sakit
asumsikan bahwa pengetahuan sangat jiwa menur surabaya rendah, banyak
erat kaitannya dengan pendidikan asuransi kesehatan dan asuransi
dimana diharapkan seseorang dengan kesehatan warga miskin.
pendidi-kan tinggi, maka orang tersebut Hasil analisa statistik dengan uji
akan semakin luas pula Regresi Linier Berganda menunjukkan
pengetahuannya. Namun perlu bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang
ditekankan bahwa seorang yang artinya ada pengaruh ekonomi keluarga
berpendidikan rendah tidak berarti dengan pemasungan yang dilakukan
mutlak berpengetahuan rendah pula. oleh keluarga dengan gangguan jiwa di
Hasil analisa statistik dengan uji Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya ( =
Regresi Linier Berganda menunjukkan 0,033 < = 0,05).
bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang
artinya ada pengaruh pengetahuan KESIMPULAN
keluarga dengan pemasungan yang Faktor kekambuhan mempunyai
dilakukan oleh keluarga dengan pengaruh yang signifikan terhadap
gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa kejadian Pemasungan Pada Anggota
Menur Surabaya ( = 0,022 < = 0,05). Keluarga Dengan Gangguan Jiwa Di
Hasil analisa statistik dengan uji Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.
Regresi Linier Berganda menunjukkan Faktor Pengetahuan berpengaruh
bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang terhadap kejadian Pemasungan Pada
artinya ada pengaruh ekonomi keluarga Anggota Keluarga Dengan Gangguan
dengan pemasungan yang dilakukan Jiwa Di Rumah Sakit Jiwa Menur
oleh keluarga dengan gangguan jiwa di Surabaya. Faktor Ekonomi berpengaruh

23
---------------------------------------------------------------------------------THE SUN Vol. 2(3) September 2015

terhadap kejadian Pemasungan Pada Viedebeck. Sheila L, (2008). Buku ajar


Anggota Keluarga Dengan Gangguan keperawatan jiwa. Jakarta: EGC
Jiwa Di Rumah Sakit Jiwa Menur
Surabaya. Bagi Pasien dan Keluarga
Untuk mencegah terjadinya
pemasungan kembali pada orang lain,
pasien dan keluarga setelah adanya
penelitian ini. Dan keluarga mengerti
apa yang harus dilakukan terhadap
pasien dengan gangguan jiwa.

Daftar Pustaka
Andri, 2008, Kongres Nasional
Skizofrenia V Closing The
Treathment Gap for
Schizophrenia.
Djatmiko, Y. H. 2005. Perilaku
organisasi. Bandung: Alfabeta
Hidayat, A.A.A, 2007. Metode
Penelitian Keperawatan dan
Teknik Analisa Data, Salemba
Medika : Jakarta.
Hidayat, A.A.A 2010, Metode
Penelitian Kesehatan Paradigma
Kuantitatif, Salemba Medika,
Jakarta
Maramis. W. F. 2006. Catatan Ilmu
Kedokteran Jiwa. EGC : Jakarta
Minas, H., & Diantri, H. 2008. Pasung,
Physical restraint &
confirehement of the mentally ill
in the community.
Murti, B. 2003. Prinsip & metode riset
epidemiologi. Edisi kedua, Jilid
pertama, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Notoatmodjo, S. 2007. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Rineka
Cipta: Jakarta
Nursalam dan Siti Pariani, 2003. Riset
Keperawatan Ilmiah, Salemba
Medika : Jakarta.
Nursalam, 2008. Konsep dan Pererapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan, Edisi 2, Salemba
Medika : Jakarta
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efectif.
Yogyakarta: Hikayat

24