You are on page 1of 6

Artikel

PERLUNYA GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN


DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN DAERAH
Oleh: Mardiya

Secara umum, penduduk yang diterjemahkan sebagai kumpulan manusia yang


menempati wilayah geografi dan ruang tertentu memiliki tiga matra pokok, yaitu aspek
kuantitas, kualitas serta mobilitas penduduk. Disamping ketiga matra ini, ada aspek pendukung
lainnya yaitu masalah administrasi kependudukan yang berkenaan dengan ketiga matra
tersebut. Di banyak daerah, bahkan di level nasional, ke empat aspek kependudukan ini masih
menghadapi kendala dan tantangan yang cukup berat.
Sementara itu, telah dipahami bersama bahwa kedudukan penduduk dalam
pembangunan sangatlah penting. Karena selain sebagai pelaku pembangunan, penduduk juga
sebagai sasaran dari hasil pembangunan itu sendiri. Sebagai pelaku pembangunan, penduduk
mestinya dalam kondisi ideal baik kuantitas maupun kualitasnya. Sedangkan sebagai sasaran
pembangunan, penduduk akan diarahkan pada kondisi terkendali dalam aspek kuantitas dan
meningkat dalam aspek kualitas maupun kesejahteraannya. Kuantitas penduduk sendiri
menyangkut jumlah, struktur dan persebarannya, sementara kualitas penduduk berkaitan
dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya.
Pembangunan di suatu wilayah akan berhasil apabila penduduk sebagai modal dasar
pembangunan kondisinya kondusif, tidak hanya sisi jumlahnya yang mencukupi, struktur dan
persebarannya yang menguntungkan, tetapi kualitasnya pun harus memadai. Jumlah penduduk
yang besar namun kualitasnya rendah tidak akan dapat memberi dukungan positif pada
pembangunan, yang terjadi justru akan menjadi beban pembangunan. Bahkan, bukan tidak
mungkin hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai akan sirna begitu saja apabila jumlah
penduduk yang besar dan tidak berkualitas ini tingkat pertumbuhan juga tinggi. Oleh karena
itu, akan sangat ideal untuk mendukung pembangunan apabila jumlah penduduk yang ada
sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungannya, laju pertumbuhannya terkendali yang
diikuti dengan tingginya kualitas sumber daya manusia.
Berbagai bukti empiris menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah sebagian besar
ditentukan oleh kualitas penduduknya, bukan oleh melimpahnya sumber daya alam. Negara-
negara maju di Benua Asia, Eropa dan Amerika saat ini pada umumnya tidak memiliki sumber
daya alam yang memadai namun memiliki sumber daya manusia yang tangguh. Sebaliknya
banyak negara berkembang termasuk Indonesa, meskipun memiliki sumber daya alam yang
melimpah dan sumber daya manusia yang besar dari sisi jumlah tetapi karena kualitasnya
belum memadai, tetap saja tertinggal dari negara-negara yang sudah maju seperti Jerman,
Perancis, Inggris, Swiss, Jepang, Korea, Singapura atau Amerika Serikat.
Guna mengatasi masalah kependudukan di Indonesia yang demikian kompleks, serta
sebagai tindaklanjut dari keberadaan Undang-Undang No 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pemerintah baik di level Pusat
maupun Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) perlu menyusun Grand Design Pembangunan
Kependudukan yang dapat memberikan arah kebijakan bagi perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan di bidang kependudukan. Grand Design Pembangunan Kependudukan yang
selanjutnya disingkat dengan GDPK ini terdiri dari 5 aspek pembangunan kependudukan, yaitu:
(1) Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk, (2) Grand Design Peningkatan Kualitas
Penduduk, (3) Grand Design Pengarahan Mobilitas Penduduk, (4) Grand Design Pembangunan
Keluarga, (5) Grand Design Pengembangan Data Base Kependudukan.
Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk diarahkan untuk mengelola
pertumbuhan penduduk melalui pengendalian kelahiran dengan cara mengoptimalkan akses
dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB). Pengendalian
kelahiran sendiri dilakukan melalui upaya pengaturan usia ideal perkawinan, usia ideal
melahirkan, jarak ideal melahirkan serta jumlah ideal anak yang dilahirkan. Indikator
kependudukan yang digunakan untuk mengukur sasaran yang hendak dicapai dalam
pengendalian kuantitas penduduk mencakup: (1) Jumlah Penduduk, (2) Laju Pertumbuhan
Penduduk, (3) Total Fertility Rate atau TFR, (4) Net Reproduction Rate atau NRR, dan (5) Crude
Birth Rate atau CBR.
Sementara Grand Design Peningkatan Kualitas Penduduk diarahkan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia melalui upaya peningkatan akses pelayanan kesehatan secara
umum dan pendidikan serta kesempatan kerja/berusaha. Dalam rangka peningkatan kualitas
penduduk, dari sisi pelayanan kesehatan perlu diupayakan meningkatkan derajat kesehatan
untuk menurunkan angka kematian terutama ibu dan anak serta meningkatkan usia harapan
hidup. Sementara dari sisi pendidikan, perlu diupayakan peningkatan kompetensi dan daya
kompetisi penduduk melalui pendidikan formal, non formal dan informal tanpa
mengesampingkan masalah kesetaraan gender. Sedangkan dari sisi kesempatan kerja/berusaha
perlu diupayakan penyediaan lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang layak atau
kemudahan berwirausaha dengan berbagai fasilitasi yang memberi peluang keluarga untuk
meningkatkan penghasilannya sehingga terbebas dari belenggu kemiskinan dan kesenjangan
ekonomi antara si kaya dan si miskin dapat dikurangi. Indikator yang digunakan untuk
mengukur sasaran yang ingin dicapai mencakup: (1) Crude Death Rate atau CDR, (2) Infant
Mortality Rate atau IMR, (3) Maternal Mortality Rate atau MMR, (4) Angka Harapan Hidup, (5)
Indek Pembangunan Manusia, (6) Angka Melek Huruf, (7) Rata-rata Lama Sekolah, (8) Angka
Partisipasi Sekolah, (9) Penduduk di bawah Garis Kemiskinan, (10) Rasio Ketergantungan.
Sedangkan Grand Design Pembangunan Keluarga diarahkan untuk meningkatkan
ketahanan dan pemberdayaan keluarga dalam rangka pelaksanaan 8 fungsi keluarga sesuai PP
No 87 Tahun 2014 serta memperkuat pengasuhan dan penumbuhkembangan anak,
peningkatan pendapatan keluarga miskin serta peningkatan kualitas lingkungan keluarga.
Pembangunan keluarga sendiri dilakukan untuk mencapai kondisi keluarga yang harmonis,
sejahtera dan damai yang siap menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat.
Ketahanan keluarga diharapkan dapat menjadi sandaran kelangsungan berkehidupan yang
aman, damai dan sejahtera. Dalam pembangunan keluarga, setidaknya mencakup upaya
mewujudkan keluarga yang bertaqwa kepada Tuan yang Maha Esa, membangun iklim
berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah, membangun keluarga berketahanan, sehat,
maju, mandiri dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender, membangun keluarga
yang berwawasan nasional yang berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan negara serta
membangun keluarga yang mampu merencanakan sumber daya keluarga. Indikator yang
digunakan untuk mengukur sasaran yang ingin dicapai mencakup : (1) Rasio keluarga yang
memiliki perencanaan berkeluarga, (2) Rasio keluarga yang mempunyai perencanaan investasi
anak, dan (3) Rasio keluarga yang mempunyai perencanaan keuangan.
Selanjutnya, Grand Design Pengarahan Mobilitas Penduduk diarahkan untuk mengatur
persebaran dan mobilitas penduduk secara lebih seimbang sesuai dengan daya dukung alam
dan daya tampung lingkungan. Hal ini merujuk pada UU No 52 Tahun 2009 pasal 33 ayat 1 yang
menyatakan bahwa Pemerintah menetapkan kebijakan pengarahan mobilitas penduduk dan/atau
penyebaran penduduk untuk mencapai persebaran penduduk yang optimal, didasarkan pada
keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.
Mobilitas penduduk ini meliputi mobilitas internal dan internasional. Pengarahan mobilitas penduduk
internal mencakup: pengarahan mobilitas penduduk yang bersifat nonpermanen, penataan
persebaran penduduk melalui kerjasama antar daerah, pengarahan mobilitas penduduk melalui
pengembangan daerah penyangga dalam rangka pemerataan pembangunan, dan pengarahan
mobilitas penduduk dari perdesaan ke perkotaan (urbanisasi). Indikator yang digunakan untuk
mengukur sasaran yang ingin dicapai mencakup: (1) Pembangunan Kawasan Perdesaan sebagai
Pusat Agrobisnis, (2) Kerjasama antar daerah dalam mengatur migrasi, (3) Penyusunan Sistem
Informasi Penduduk Luar Provinsi, (4) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan, (5) Fasilitasi mobilitas penduduk melalui program transmigrasi,
(6) Pengembangan migrasi internasional.
Akhirnya Grand Design Pembangunan Data Base Kependudukan diarahkan untuk
mengembangkan data kependudukan yang akurat dan dapat dipercaya, yang terintegrasi dalam
suatu sistem informasi serta dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan. Informasi
ini diharapkan mudah diakses oleh para pemangku kepentingan, serta menjadi bagian dari
Decision Support System (DSS). Kondisi ini perlu didukung dengan penguatan kapasitas sumber
daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi, infrastruktur yang memadai serta sistem
kelembagaan yang kuat. Terbangunnya data base kependudukan yang akurat akan memberikan
banyak sekali keuntungan pada berbagai sektor pembangunan dan pelayanan publik, termasuk
untuk kepentingan pemilu dan pilkada. Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran yang
ingin dicapai mencakup : (1) Tersedianya data administrasi kependudukan yang berbasis SIAK,
(2) Periode pelayanan prima administrasi kependudukan, (3) Periode Integrasi antar pemangku
kepentingan untuk mewujudkan system informasi kependudukan terpadu, (4) Periode
peningkatan pendayagunaan data dan informasi kependudukan sebagai DSS.
Menyusun Grand Design Pembangunan Kependudukan tidaklah semudah membalikkan
telapak tangan. Ada banyak langkah yang perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan grand
design ini, mulai dari membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Penyusunan Grand Design
Pembangunan Kependudukan (terdiri dari 5 Pokja yang melibatkan sektor terkait) dan
menguatkan keberadaannya dengan Surat Keputusan Kepala Daerah (Gubernur,
Bupati/Walikota) agar memperoleh dukungan yang kuat atau komitmen politis yang tinggi dari
Pemda, mengadakan pertemuan koordinasi intern dan rapat-rapat untuk menyusun draf awal
grand design, menyelenggarakan workshop guna menyempurnakan draf, koordinasi ekstern
untuk memperoleh masukan dari sektor terkait, seminar eksekutif yang melibatkan pimpinan
daerah untuk memperoleh masukan dan legal aspek hingga kegiatan sosialisasi Grand Design
Pembangunan Kependudukan kepada para pengelola program kependudukan, jajaran legislatif,
eksekutif dan yudikatif dan ke berbagai media massa baik media cetak (surat kabar, majalah,
bulletin ilmiah) maupun media elektronik (TV, Radio, Video dan sebagainya). Bentuk-bentuk
sosialisasi ini bisa berupa talkshow, orientasi, lokakarya dan lain-lain.
Sebelum penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan, ada langkah awal
yang harus dilakukan oleh SKPD terkait yakni menyusun parameter dasar kependudukan.
Parameter dasar kependudukan ini merupakan kumpulan data, bilangan, non bilangan yang
merujuk pada ukuran dari suatu populasi dalam komposisi yang minimal, namun dinilai
representatif menggambarkan karakteristik kependudukan suatu wilayah. Parameter dasar
kependudukan ini setidaknya mencakup 8 parameter, mulai dari parameter umum (jumlah
penduduk, laju pertumbuhan penduduk, rasio kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, rasio
ketergantungan, rasio anak wanita, rata-rata usia kawin pertama, Indeks Pembangunan Manusia
dan Indeks Pembangunan Gender), parameter fertilitas, parameter mortalitas, parameter
migrasi, parameter kesehatan, parameter pendidikan, parameter ekonomi hingga parameter
tahapan keluarga sejahtera. Dengan parameter dasar kependudukan ini, melalui analisa
spectrum akan bisa kita lihat trend data parameter kependudukan, sehingga kita dapat
memprediksi tantangan-tantangan kependudukan yang akan kita hadapi di tahun-tahun
mendatang dan melakukan upaya preventif maupun penanggulangan dampak kependudukan.
Lebih dari itu, parameter dasar kependudukan dapat digunakan sebagai indikator Grand Design
Pembangunan Kependudukan, indikator tercapainya demographic deviden dan upaya
pencapaian window of opportunity.
Meskipun bukan pekerjaan mudah, penyusunan Grand Design Pembangunan
Kependudukan untuk 20 tahun ke depan perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah, agar
pembangunan kependudukan memiliki arah yang jelas, ada Peta Kerja (Roadmap) 5 tahunan
yang dapat dijadikan target kerja atau hasil-hasil yang ingin dicapai, yang kemudian dapat
ditentukan Rencana Aksi Daerah (RAD) setiap tahunnya agar hasil yang diharapkan di masa-
masa mendatang dapat diwujudkan.

Drs. Mardiya
Ka Bidang Pengendalian Penduduk pada
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana Kabupaten Kulon
Progo.