Вы находитесь на странице: 1из 31

Bearing atau Bantalan

BAB I
BEARING ATAU BANTALAN

1.1. Pengertian Bearing


Bearing atau bantalan adalah elemen mesin yang berfungsi untuk menumpu
poros, supaya putaran atau gerakan poros dapat berlangsung dengan baik dan aman, juga
untuk memperkecil kerugian daya akibat gesekan. Bearing harus kuat dan kokoh untuk
menahan gaya yang terjadi pada poros. Jika bearing tidak berfungsi dengan baik maka
kerja seluruh sistem akan menurun atau mesintidak dapat bekerja sebagaimana
semestinya. Konstruksi antara poros dengan bearing dapat dilihat pada Gambar 1.1
sedangkan kedudukan bearing dalam sebuah mesin dapat dilihat pada Gambar1.2

Gambar 1.1 Konstruksi poros dengan bearing

Gambar 1.2 Bearing sebagai penyangga poros pada sebuah reducer

Teknik Mesin 1
Bearing atau Bantalan

1.2. Klasifikasi Bearing


Bearing secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Journal
Bearing dan Rolling Bearing.

1. Journal Bearing (Bantalan Luncur)


Pada bearing ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bearing, karena permukaan
poros yang berputar bersentuan langsung dengan bearing yang diam. Lapisan minyak
pelumas sangat diperlukan untuk memperkecil gaya gesek dan temperatur yang
timbul akibat gesekan tersebut.

Gambar 1.3 Small bearing : a. dry sliding, b. Sintered bearing

Gambar 1.4 Journal Bearing dan ketebalan minyak pelumasnya

Teknik Mesin 2
Bearing atau Bantalan

2. Rolling Bearing (Bantalan Gelinding)


Pada bearing ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan bagian
yang diam pada bearing, bagian yang berputar tersebut adalah : bola, silinder dan
jarum, antara poros dan bearing tidak terjadi gesekan.

Gambar 1.5. Rolling bearing (ball bearing dan roller bearing)

Gambar 1.5. Rolling bearing (needle)

Gambar 1.6. Bearing terpasang pada mesin sepeda motor

Teknik Mesin 3
Bearing atau Bantalan

1.2.1. Macam-macam Journal Bearing


Journal Bearing dapat diklasifikasikan menurut bentuk dan letak bagian poros
yang ditumpu.
1. Bearing Radial, bentuk bearingnya : silinder, belahan silinder dan elips, dapat dilihat
pada Gambar 1.5a, 1.5b, 1.5 e dan 1.5f
2. Bearing Aksial , bentuk bearingnya : engsel dan kerah, dapat dilihat pada Gambar 1.5c
dan 1.5d
3. Bearing Khusus, bearing yang dipergunakan untuk keperluan khusus, seperti pada
poros turbin air, sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.6

Gambar 1.7. Macam-macam Journal bearing


a. Bearing Radial polos d. Bearing aksial
b. Bearing Radial Brkerah e. Bearing Radial ujung
c. Bearing Aksial berkerah f. Bearing Radial tengah

Gambar 1.8. Thrust bearing pada turbin air

Teknik Mesin 4
Bearing atau Bantalan

1.2.2. Macam-macam Rolling Bearing


1.2.2.1. Ball Bearing (bantalan gelinding bola)
1. Radial Ball Bearing (bantalan gelinding bola radial)
- Deep Groove Ball Bearing
Semula bearing ini dimaksudkan untuk menahan beban radial, tetapi dengan
adanya alur yang dalam, sehingga penempatan bolanya dapat lebih dalam, maka
ternyata sanggup juga menerima beban aksial (thrust). Kemampuan menerima
beban aksial dapat mencapai 70 % dari beban radialnya.

Gambar 1.9. Tipe-tipe Radial Ball Bearing dan beberapa karakteristik yang penting

Teknik Mesin 5
Bearing atau Bantalan

- Self Aligning Internal dan Self Aligning External Ball Bearing.


Bearing ini mempunyai kemampuan menyesuaikan diri bila terjadi
ketidaksesuaian atau ketidaksenteran antara sumbu poros dengan sumbu bearing
akibat adanya defleksi poros atau perubahan pondasi.
- Double Raw Ball Bearing
Bearing ini mempunyai bola dua deret, yang bertujuan menaikkan kemampuan
untuk mendukung beban radial maupun aksial.
2. Angullar Contact Ball Bearing (bantalan gelinding bola radial kontak menyudut)
Bearing ini secara umum mempunyai dua kategori yaitu dengan kemampuan
menerima beban aksial satu arah saja, dan kemampuan menerima beban aksial
dua arah. ( One directional and two directional angular contact ball bearing)

Gambar 110. Tipe-tipe Angular Contac Ball Bearing dan beberapa karakteristik yang
penting

Teknik Mesin 6
Bearing atau Bantalan

3. Thrust Ball Bearing (bantalan gelinding bola aksial).


- One directional flat race
- One directional grooved race

1.2.2.2. Roller Bearing (bantalan gelinding dengan rol)


Bearing dengan rol ini, mempunyai kegunaan yang sama seperti bearing dengan
bola, tetapi bearing ini dapat menerima beban radial yang lebih besar (dalam ukuran
yang sama). Hal ini dimungkinkan karena kontak antara rol dengan ring lebih besar
yaitu berupa garis, tidak berupa titik seperti pada ball bearing.
Sebagian besar dari jenis ini, tidak dapat menerima beban aksial, kecuali bearing
dengan rol bola (spherical) dan rol turus (taper). Tipe bearing ini dibagi dalam 4
jenis, yaitu :
1. Cylindrical Roller Bearing (bearing gelinding rol silinder)
2. Needle Roller Bearing (bearing gelinding rol jarum)
3. Tapered Roller Bearing (bearing gelinding rol tirus)
4. Spherical Roller Bearing (bearing gelinding rol lengkung)

Cylindrical Roller Bearing masih dibagi lagi menjadi beberapa tipe seperti
terlihat pada Gambar 1.9. Bearing ini tersedia di pasar secara luas dengan berbagai
macam diameter lubang, dan mempunyai perbandingan panjang dan diameter
silindernya 1:1 sampai dengan 3:1 Bagian luar dari silinder (permukaan) sering kali
dilapisi, untuk menambah kemampuan menerima beban.
Needle Roller Bearing hampir sama seperti Cylindrical Roller Bearing , dan
juga dapat menerima beban radial yang cukup besar, bedanya adalah perbandingan
panjang dan diameter rolnya sangat besar, serta ukuran rol-nya kecil. Bearing ini
dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok :
- Bearing dengan rol-nya berada dalam sangkar (cage), dapat beroperasi dengan
baik pada putaran tinggi
- Bearing dengan rol-nya tidak berada dalam sangkar.
Dapat memuat rol yang lebih banyak, sehingga mampu menerima beban yang
lebih besar.

Teknik Mesin 7
Bearing atau Bantalan

Sistem pelumasan bearing ini biasanya dengan fet / gemuk (grease), tetapi
untuk beban yang besar dan putran tinggi sebaiknya dipakai sistem pelumasan oli
untuk menghindari kerusakan lebih awal.

Gambar 1.11. Tipe-tipe Cylindrical Roller Bearing dan beberapa karakteristik yang
penting

Teknik Mesin 8
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.12. Tipe-tipe Tapered Roller Bearing dan beberapa karakteristik yang
penting

Bearing jenis ini direncanakan untuk dapat menerima beban radial yang besar,
atau beban aksial yang besa, atau kombinasi beban radial dan beban aksial yang
besar, dalam putar menengah sampai putaran yang tinggi. Bearing ini mempunyai
satu deret rol tirus yang dipaki untuk menerima beban aksial dalam satu arah, dengan
demikian bila beban aksial dua arah, maka harus ditambah satu bearing tirus lagi
dengan pemasangan berlawanan arah. Atau dapat pula langsung digunakan bearing
tirus dengan dua deret rol atau empat deret rol.

Teknik Mesin 9
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.13. Tipe-tipe Needle Roller Bearing dan beberapa karakteristik penting

Gambar 1.14. Tipe-tipe Spherical Roller Bearing dan beberapa karakteristik penting

Teknik Mesin 10
Bearing atau Bantalan

Spherical Roller Bearing ada yang mempunyai satu deret rol, dua deret rol,
mampu menerima beban aksial yang cukup besar. Karakter yang penting dari tipe
bearing ini adalah terutama dapat mengadakan penyesuaian sendiri ketidak senteran
atau defleksi dari sumbu porosnya (self aligning). Bearing jenis single row thrusi
terutama digunakan pada kondisi dimana beban aksialnya lebih dominan.

Teknik Mesin 11
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.15. Macam-macam Rolling Bearing


1.2.3 Perbandingan Journal Bearing dan Rolling Bearing
1. Journal Bearing
Pada bearing ini terjadi gesekan luncur antara poros dan permukaan bearing
bagian dalam. Karena gesekannya yang besar terutama pada saat mulai jalan, maka
bearing luncur memerlukan momen awal yang besar. Untuk memperkecil gesekan, panas

Teknik Mesin 12
Bearing atau Bantalan

yang timbul dan kerugian daya yang terjadi maka diperlukan pelumasan. Pelumasan juga
berfungsi sebagai peredam tumbukan dan getaran. Pelumasan pada bearing ini lebih
komplek dari pada pelumasan pada bearing gelinding. Bila panas yang timbul masih
terlalu tinggi maka diperlukan pendinginan khusus.
Bearing ini sangat cocok dipakai untuk beban besar, putaran rendah. Bearing ini
sederhana konstruksinya dan dapat dibuat serta dipasang dengan mudah. Tingkat
ketelitian yang diperlukan tidak setinggi Rolling Bearing sehingga harganya dapat lebih
murah.
2. Rolling Bearing
Pada bearing ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan
yang diam melalui elemen gelinding yang berbentuk bola atau peluru, rol atau rol jarum
dan rol bulat. Rolling Bearing pada umumnya lebih cocok untuk beban kecil putaran
tinggi, tergantung pada bentuk elemen gelindingnya. Putaran pada bantalan ini dibatasi
oleh gaya sentrifugal yang timbul pada elemen gelinding tersebut. Karena konstruksinya
yang kompleks dan ketelitiannya yang tinggi, maka Rolling Bearing hanya dapat dibuat
oleh pabrik-pabrik tertentu saja. Harganya pada umumnya lebih mahal daripada Journal
Bearing. Untuk menekan biaya pembuatan serta memudahkan pemakaian, Rolling
Bearing diproduksi menurut standar tertentu dengan berbagai ukuran dan bentuk.
Keunggulan bearing ini adalah gesekannya yang sangat rendah dan
pelumasannya sangat sederhana, cukup dengan gemuk, bahkan pada bearing tertentu
yang memakai seal sendiri tak perlu pelumasan lagi. Meskipun ketelitiannya sangat
tinggi, namun karena adanya gerakan elemen gelinding dan sangkar, maka pada putaran
tinggi bearing ini agak gaduh dibandingkan dengan Journal Bearing.

1.3. Tata Nama (Nomencelature) dan Komponen-komponen Bearing


Berikut ini akan ditunjukkan tatanama dan komponen-komponen bearing. Pada
Jounal bearing, dikenal : radius of journal (rj), radius of bearing (rb), radial clearance (c)
dan bearing lenght (L)

Teknik Mesin 13
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.16. Tata nama Journal Bearing

Teknik Mesin 14
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.17. Tata nama Ball Bearing

Gambar 1.18 : Tata nama Ball Bearing dan gambar sketnya

Teknik Mesin 15
Bearing atau Bantalan

Pada rolling bearing, komponen rolling ( ball atau roller) dipasang diantara cincin
luar dan cincin dalam. Dengan memutar salah satu cincin tersebut, ball atau roller akan
membuat gerakan gelinding (rolling) sehingga gesekan diantaranya akan jauh lebih kecil,
pembuatannya butuh ketelitian tinggi.

Gambar 1.19 : Tata nama Tapered Roller Bearing

Teknik Mesin 16
Bearing atau Bantalan

1.4. Gesekan dan Prediksi Umur Rolling Bearing


1.4.1. Gesekan pada Rolling Bearing
Walaupun Rolling Bearing disebut bearing anti gesekan (anti friction bearing),
tetapi karena adanya beban dan putaran, akan timbul gesekan diantara komponen bearing,
yaitu : ring luar, bola atau rol, dan ring dalamnya. Koefisien gesek (f) dapat dilihat pada
Tabel 1.1 yang didasarkan atas tipe bearingnya, serta kondisinya, dan koefisien gesek ini
dihasilkan dari penelitin yang bertahun-tahun.

Tabel 1.1. Harga rata-rata koefisien gesek pada bearing


Start Selama Berputar
No Tipe Bearing
Radial Aksial Radial Aksial
1 Ball Bearing 0,0025 0,0060 0,0015 0,0040
2 Spherical Roller Bearing 0,0030 0,1200 0,0018 0,0080
3 Cylindrical Roller Bearing 0,0020 --- 0,0011 ---
(Sumber : Deutschman, 1975 : 482)

Akibat adanya gesekan ini, akan menyebabkan kehilangan daya, secara pendekatan
kehilangan daya tersebut dapat dihitung dengan rumus : (Deutschman, 1975 : 482)
T f .n f .Fr .d .n
f HP (1-1)
63.025 126.050
dimana : fHP = Daya yang hilang karena gesekan, HP
Tf = Torsi akibat gesekan, lbf.in
Fr = Gaya radial pada bearing, lbf
f = Koefisien gesek ( Tabel 1.1)

1.4.2. Prediksi Umur Bearing


Dengan asumsi putaran konstan, maka prediksi umur bearing (dinyatakan dalam
jam) dapat ditulis dengan persamaan :
b
C 106
L10 h x (1-2)
P 60.n

dimana :
L10h = Umur bearing, jam-kerja
C = Beban dinamis ( dapat dilihat dari table) ,lbf

Teknik Mesin 17
Bearing atau Bantalan

n = putaran poros, rpm


P = Beban Ekivalen (eqivalent load)

Sesuai dengan definisi dari AFBMA (Anti Friction Bearing Manufacturers


Association) yang dimaksud dengan beban eqivalen adalah beban radial yang konstan
yang bekerja pada bearing dengan ring dalam yang berputar / ring dalam yang berputar,
yang akan memberikan umur yang sama, seperti bila bearing bekerja dengan kondisi
nyata untuk beban dan putaran yang sama.
Dalam kenyataannya bearing biasanya menerima beban kombinasi antara beban
radial dan beban aksial, serta pada suatu kondisi ring dalam yang tetap sedangkan ring
luarnya yang berputar. Sehingga persamaan beban eqivalen (P) setelah adanya koreksi
tersebut, menjadi :

P = V.X.Fr + Y.Fa (1-3)


Dimana :
P = beban ekivalen, lbf
Fr = beban radial, lbf
Fa = beban aksial, lbf
V = faktor putaran (konstan) bernilai :
= 1,0 untuk ring dalam berputar
= 1,2 untuk ring luar yang berputar
X = konstanta radial (dari tabel, dapat dilihat pada lampiran)
Y = konstanta aksial (dari tabel, dapat dilihat pada lampiran)

Cara memilih harga X dan Y dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Cari terlebih dahulu harga : i.Fa/Co
i = jumlah deret bearing

2. Kemudian dari harga ini, ditarik garis ke kanan sampai pada kolom e , sehingga
didapat harga e.

Teknik Mesin 18
Bearing atau Bantalan

3. Cari harga : Fa/(V.Fr) , dan bandingkan dengan harga e , akan diperoleh


kemungkinan : Fa/(V.Fr) < e atau Fa/(V.Fr) = e atau Fa/(V.Fr) > e.
4. Dari perbandingan harga tersebut, maka akan didapatkan harga X dan Y dari
kolom : Fa/(V.Fr) e atau Fa/(V.Fr) > e. Khusus untuk deret satu (single row
bearing) , bila harga Fa/(V.Fr) e , maka X = 1 dan Y = 0.
5. Dapat dibantu dengan Interpolasi atau Extrapolasi.

Bila faktor beban kejut dimasukkan maka persamaan 11-3 akan menjadi :
P = Fs (V.X.Fr + Y.Fa) (1-4)
Dimana : Fs = konstanta kondisi beban, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.2. Ball bearing service factors, Fs


Multiply calculated load by following
No Type of service factors
Ball Bearing Roller Bearing
1 Uniform and steady load 1,0 1,0
2 Light shock load 1,5 1,0
3 Moderate shock load 2,0 1,3
4 Heavy shock load 2,5 1,7
5 Extreme and indefinite shock load 3,0 2,0

Contoh :
Suatu bantalan tipe : Single row deep groove ball bearing dengan seri dimensi 03
AFBMA. Diameter dalam ( bore ) 45 mm. Menerima beban aksial 1250 lbf dan beban
radial 1890 lbf. Kondisi pembebanan rata ( steady ) dengan ring dalam berputar. Bila
putaran poros, n = 1600 rpm, maka hitunglah / rencanakan :
a. Beban Ekivalen, P dan Umur bantalan.
b. Bila dirubah kondisinya menjadi : beban kejut ringan dan ring luar yang berputar
maka hitunglah umur bantalan
1.5. Pemasangan dan Pelepasan Bearing (Mounting and Dismounting)

Ketrampilan dan kebersihan ketika pemasangan bearing, adalah syarat awal untuk
menjamin bearing tidak rusak lebih awal. Pemasangan seharusnya pada kondisi bebas

Teknik Mesin 19
Bearing atau Bantalan

debu, pada ruangan yang kering dan bebas dari sisa-sisa logam bekas proses produksi.
Juga penting bahwa bearing yang akan dipasang pada kondisi masih dalam kemasan,
belum terbuka, untuk menjaga agar bearing tidak kotor.

1.5.1. Pemasangan / Mounting


Sangat penting untuk diketahui bahwa cincin bearing jangan sampai menerima
beban yang berat secara langsung ketika pemasangan, hal ini akan menyebabkan
kerusakan. Sebelum pemasangan sebaiknya diberi pelumas oil atau grease pada
permukaan bearing atu poros.

1.5.1.1. Bearing with Cylindrical Bore


Bearing dipasang terlebih dahulu pada poros secara hati-hati dan dengan
permukaan yang rata dan tegak lurus dengan subu poros. Kemudian cincin pelepas
dipasang pada bearing. Untuk bearing-bearing yang kecil pemasangannya dapat
dilakukan dengan palu kecil untuk memasukkan bearing. Yang perlu diperhatikan adalah
memberi penekanan secara merata pada permukaan bearing untuk menghindari
kemiringan pemasangan. Untuk pemasangan dengan jumlah yang besar sebaiknya
menggunakan alat Bantu mekanik atau dengan mesin tekan hidrolis.

Gambar 1.20. Pemasangan bearing-kecil

Teknik Mesin 20
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.21 Pemasangan bearing dengan alat bantu mekanik dan hidrolis

Pada bearing yang besar, dengan suaian paksa, maka akan diperlukan gaya yang
sangat besar untuk memasang bearing pada porosnya. Oleh karena itu biasanya dilakukan
dengan pemanasan pada cincin-bearing atau komponan yang lain sebelum dipasang,
temperatur pemanasan sebaikknya tidak melebihi 120 oC.

1.5.1.2. Bearing With Taper Bore


Bearing ini mempunyai diameter bore yang mengecel atau ada pengecilan
diameter-dalam (reduction), disamping itu dalam pemasangannya juga ada toleransinya.
Toleransi dan pengecilan diameter lubang dalat dilihat pada table di bawah ini.

Teknik Mesin 21
Bearing atau Bantalan

Tabel 1.3. Pengecilan diameter-dalam dan clearance pada spherical roller bearing (mm)

Tabel 1.4. Pengecilan diameter-dalam dan clearance pada spherical roller bearing (in)

Teknik Mesin 22
Bearing atau Bantalan

1.5.2. Pelepasan (Dismounting)


Jika bearing akan dipakai lagi setelah dilepaskan, maka pelepasannya harus lebih
berhati-hati, gaya pelepasan harus diberikan pada bagian bearing yang berputar (rolling
elements). Sebaiknya peralatan yang digunakan harus sesuai seperti : traker / bearing
puller (tie rods, adjustable arms), hidrolis , dan dengan alat pemanas.

Gambar 1.22. Traker dan alat pemanas pelepas bearing

Teknik Mesin 23
Bearing atau Bantalan

1.6. Sebab-sebab Kerusakan Bearing

Seperti telah dijelaskan di depan bahwa Rolling Bearing berputar bersama poros
sambil menahan beban / gaya. Bearing akan berakhir setelah mencapai batas putaran
tertentu, dengan lelahnya material. Namun bisa juga akan berakhir lebih cepat, bila
pelumasannya tidak baik, pemasangan dan pemakaian yang tidak tepat.
Kerusakan Rolling Bearing biasanya akan terdeteksi lewat : getaran, suara,
temperatur dan sebagainya. Bila muncul suara yang tidak semestinya, suhu naik dan
getaran juga tidak semestinga, sebaiknya dilakukan pengecekan untuk mencari
penyebabnya. Ini pekerjaan yang tidak mudah, selain membutuhkan peralatan yang baik
juga memerlukan keahlian yang memadai. Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk
mencegah agar tidak terjadi kerusakan yang lebih besar. Sebab-sebab kerusakan bearing
dapat diuraikan secara singkat seperti di bawah ini :

1.6.1. Kelelahan / Fatique


Setiap Rolling Bearing akan berputar sambil sambil menahan beban sampai
jumlah putaran tertentu atau sampai dengan jam kerja tertentu. Bila sampai melewati
batas tertentu tersebut, maka material / komponen bearing akan mengalami kelelahan
atau fatique. Kelelahan ini biasanya terjadi pada : inner ring, outer ring, ball / roller dan
cage). Kerusakan akibat kelelahan dapat dikelompokkan menjadi :
a. Clasical Fatique
b. Fatique yang disebabkan oleh adanya partikel yang ikut berputar
c. Fatique karena pemakaian
d. Fatique karena kurang pelumasan.

Gambar 1.23. Retak pada inner-ring karena fatique (deep-groove ball bearing)

Teknik Mesin 24
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.24. Pitting pada inner-ring karena fatique (deep-groove ball bearing)

Gambar 1.25. Advanced flaking pada inner-ring karena fatique (cylindrical roller
bearing)

Gambar 1.26. Kerusakan fatique karena penekanan partikel dari luar

Teknik Mesin 25
Bearing atau Bantalan

1.6.2. Kerusakan karena Korosi


Korosi pada bearing dapat disebabkan karena adanya : air (kondensasi) , atau
lingkungan yang lembab atau lingkungan yang terlalu asam atau mungkin minyak
pelumas yang keasamannya sudah tinggi. Kerusakan karena korosi bisa terjadi sejak
bearing sebelum dipasang, hal ini bisa terjadi karena penyimpanan yang kurang baik. Bila
bearing disimpan pada suhu 18 20 oC , maka kelembabannya jangan melebihi 55 %.

(a) (b)

Gambar 1.27. Kerusakan karena Korosi


(a) Outer ring bearing, (b) Cone pada tapered roller bearing

1.6.3. Kerusakan karena Kesalahan Pemasangan


Pemasangan yang kurang baik akan mengakibatkan ketidaksenteran antara
bearing dengan poros, atau kerusakan karena adanya gaya lokal pada saat pemasangan.
Kerusakan yang bisa terjadi antara lain adalah : kerusakan pada lintasan bola, kerusakan
over heating pada inner ring, tergerusnya pada permukaan tertentu, dan lain-lain.

Gambar 1.28. Pemasangan yang kurang baik, bisa menyebabkan retak.


Teknik Mesin 26
Bearing atau Bantalan

1.6.4. Kerusakan karena Kurang pelumasan


Lebih dari 50 % kerusakan pada bearing disebabkan karena pelumasan yang
kurang baik, dan akan menyebabkan umur bearing menjadi lebih pendek, karena terjadi
kelelahan yang lebih awal.

Gambar 1.29. Kurang pelumasan dapat menyebabkan rusak lebih awal

1.7. Pemilihan dan Penggunaan Rolling Bearing


Rolling Bearing atau Bantalan Gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan
gelinding yang sangat kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. Elemen gelinding
seperti bola atau rol, dipasang diantara cincin luar dan cincin dalam. Dengan memutar
salah satu cincin tersebut, bola atau rol akan membuat gerakan gelinding sehingga
gesekan diantaranya akan jauh lebih kecil.
Bantalan gelinding dapat diklasifikasikan atas bantalan radial dan bantalan aksial.
Menuru bentuk elemen gelindingnya dapat pula dibagi atas bantalan bola dan bantalan
rol. Demikian pula dapat dibedakan menurut banyaknya baris dan kontruksi dalamnya.
Bantalan yang cincin dalam dan cincin luarnya dapat saling dipisahkan disebut macam
pisah.
Menurut pemakaiannya dapat digolongkan bantalan otomobil, bantalan mesin dan
bantalan instrumen. Bantalan gelinding biasanya dalam ukuran metris (mm) dan ukuran
British (inch). Pemilihan atau penggunaan bantalan gelinding dapat diuraikan sebagai
berikut :

Teknik Mesin 27
Bearing atau Bantalan

1.7.1. Pemilihan Bearing / Bantaran

1. Ball Bearing / Bantalan bola


Bantalan bola mampu menerima beban radial (tegak lurus sumbu poros), tetapi
kurang mampu menerima tekanan axial (sejajar sumbu poros).

2. Bantalan bola radial alur dalam baris tunggal


Dirancang untuk menumpu gaya radial dan dapat menumpu gaya aksial kecil saja,
alur dapat di perdalam untuk memperbesar kemampuan menumpu gaya aksial, tetapi
biasanya mengurangi kemampuan menumpu gaya radial.

3. Bantalan bola mapan sendiri baris ganda


Bantalan ini dirancang seperti halnya bantalan bola alur tunggal tetapi dapat
menumpu gaya radial yang lebih besar. Alur dibuat pada ring dudukan yang dapat
menumpu beban aksial. Bantalan bola umumnya digunakan pada beban-beban radial
yang besar seperti pada alternator, transmisi, kemudi, poros roda belakang, hub roda
depan dan sebagainya.

4. Bantalan rol jarum


Bantalan ini memungkinkan untuk menumpu gaya radial yang lebih besar
dibandingkan bantalan bola. Rol-rol dapat berbentuk lurus atau terbentuk seperti silinder,
atau jarum.

5. Bantalan Rol Tirus


Bantalan ini umum digunakan karena dapat menumpu gaya radial dan aksial yang
besar. Rol dan alurnya juga berbentuk tirus, sebagaimana ditunjukan oleh gambar di
bawah ini.

Teknik Mesin 28
Bearing atau Bantalan

Gambar 1.30. Bantalan Rol Tirus

7. Bantalan Bola Tirus dan Lengkung


Pada bantalan ini kedua ringnya berbeda bentuk. Satunya lengkung dan lainnya
tirus. Ketika bantalan dirangkai, bagian permukaan tirus berlawanan dengan permukaan
yang lengkung. Bantalan ini harus digunakan berpasangan, dan mereka akan menerima
beban-beban radial dan aksial.

1.7.2. Sifat Bantalan Gelinding.

1. Sifat membawa beban aksial

Bantalan radial mempunyai sudut kontak yang besar antara elemen gelinding dan
cincinnya, dapat menerima sedikit beban aksial. Bantalan bola macam alur dalam,
bantalan bola kontak sudut dan bantalan kerucut merupakan macam bantalan yang akan
dibebani dengan gaya aksial kecil.

2. Sifat terhadap putaran.


Bantalan bola alur dalam dan bantalan bola sudut serta bantalan rol silinder pada
umumnya dipakai untuk putaran tinggi. Bantalan rol dipakai untuk putaran sedang, dan
bantalan aksial untuk putaran rendah.

3. Sifat gesekan
Bantalan bola mempunyai gesekan yang relatif kecil diabndingkan dengan
bantalan macam lain. Untuk alat-alat ukur, gesekan bantalan merupakan hal yang
menentukan ketelitian.

Teknik Mesin 29
Bearing atau Bantalan

4. Sifat dalam bunyi dan getaran.


Bunyi dan getaran dipengaruhi oleh kebulatan bola dan rol, kebulatan cincin,
kekasaran elemen, keadaan sangkaranya dan kelas mutunya. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah ketelitian pemasangan, kontruksi mesin dan kelonggaran
bantalannya.

1.7.3. Bahan Bantalan Gelinding.


Cincin dan elemen gelinding pada umunya terbuat dari baja bantalan khrom
karbon tinggi. Baja bantalan dapat memberikan efek stabil pada perlakuan panas. Baja ini
dapat memberikan umur panjang dengan keausan yang kecil.
Untuk bantalan yang memerlukan ketahanan khusus terhadap kejutan, dipakai
baja paduan karbon rendah yang kemudian diberi perlakuan panas tertentu.

1.7.4. Nomor atau Lambang Pada Bantalan Gelinding.


Dalam praktek, bantalan gelinding standar dipilih dari katalog bantalan. Ukuran
utama bantalan gelinding adalah diameter lubang, diameter luar, lebar dan lengkungan
sudut. Pada umumnya, diameter lubang diambil sebagai patokan utama.
Nomor bantalan gelinding terdiri atas : nomor dasar dan pelengkap. Nomor dasar
menunjukkan lambang ukuran : lebar, diameter luar, diameter lubang dan sudut kontak,
penulisannya bervariasi tergantung produsen bearing, sedangkan nomor pelengkap
mencakup lambang sangkar, lambang sekat (sil) bentuk cincin, pemasangan, kelonggaran
dan kelas. Jika hal-hal tersebut tidak diperinci maka lambang-lambag di atas tidak
dituliskan.

Contoh, tertera nomor A B C D

A : menyatakan jenis dari bantalan yang ada.


Jika A berharga :
0 : maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row.
1 : maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing.
2 : maka menunjukkan jenis spherical roller and spherical roller thrust bearings.

Teknik Mesin 30
Bearing atau Bantalan

3 : maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings.


4 : maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row.
5 : maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings.
6 : maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row.
7 : maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row.
8 : maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings.

B : menyatakan lambang diameter luar.


Jika B berharga :
0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan.
2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan.
3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang.
4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat.

C D menyatakan lambang diameter dalam


Untuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut
untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya
bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

Teknik Mesin 31