You are on page 1of 5

BAB 1

MUQODIMAH

bilamana mereka masih hidup, tentu mereka akan ingat :


geletar pukulan palu diatas meja pada pukul 12 malam yang seakan akan memakukan lukisan
jiwa segenap pelajar Islam yang ingin berpadu dalam semboyan kita berpadu sejak sekarang
juga. Saat itulah Pelajar Islam Indonesia berdiri sebagai organisasi untuk mengatur
perjuangan ummat pada masa yang akan datang , dengan perpaduan kedalam sebagai saran
pertama-tama (Amin Sjahri, dalam Majalah Tunas PII tahun 1949).

Mereka adalah pahlawan yang penuh jasa, kegelisahan telah mereka tumpahkan dalam buah
prestasi untuk ummat Islam. Lebih dari 60 tahun yang lalu mereka telah berjuang dan
memutuskan sebuah azzam yang sangat kuat. Sebuah azzam yang kini sudah tertunai untuk
ummat ini. Dan kini, saatnya kita menunaikan azzam kita.

Pelajar Islam Indonesia mempunyai tugas yang mulia untuk melanjutkan kehidupan ummat
Islam di Indonesia dalam sepanjang masa. Untuk tetap menjaga agar ilmu tetap hidup dalam
masyarakat. Kepemimpinan tetap lahir dan berkembang hingga mencapai cita-cita yang
dikehendaki dalam Islam.

Perjuangan itu tentu membutuhkan keseriusan dan upaya yang sungguh-sungguh. Keseriusan
dan kesungguhan itu akan terlihat dari sebuah gerakan yang visioner dan terencana. Sebuah
gerakan yang kokoh sebagaimana sebuah bangunan yang tidak rubuh ditelan usia. Seperti sebuah
pohon yang menjulang yang tak runtuh disapu badai. Seperti sebuah karang yang tak terusik
dilanda gelombang. Namun juga seperti rumput yang lemah lembut, ketika angin ribut menyapu,
ia tetap hidup membuat alam tetap menghijau dalam pandangan mata.

Tentu, kita berharap organisasi Pelajar Islam Indonesia tetap mampu memberikan darma
baktinya kepada ummat Islam seperti yang sudah ada selama 60 tahun lebih ini. Dan tentu, kita
berharap ada peningkatan dalam bangunan dakwah pendidikan dan kebudayaan yang selama ini
kita lakukan. Tentu, kita tetap semangat, berusaha untuk adil-jujur-bijaksana dalam langkah
usaha kita.

Tujuan kita yang sejak dari semula tetap sama, yakni kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan
yang sesuai Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan ummat manusia adalah suatu cita-cita
sekaligus semangat yang membuat kita untuk tetap terus belajar, berlatih, berorganisasi dan
bergerak. Tujuan itu bukan sebuah mimpi-mimpi kosong yang tiada berguna. Tujuan itu
sesungguhnya adalah sebuah harga yang tiada terkira yang menjadi nilai dan makna bagi
pergerakan kita. Itu adalah sesuatu yang membuat kita tahu, bahwa kita ada untuk sebuah
kebaikan dan kemanfaatan terbaik bagi ummat manusia.

Cita-cita dan harapan serta semangat itu harus menjadi sesuatu yang nyata. Untuk itu perlu
sebuah tindakan terencana yang terukur dan terstruktur. Untuk semua itulah, Gerakan Masjid
sebagai sebuah manajemen yang bersifat teknis-taktis dalam sebuah perencanaan strategis yang
lebih besar (yaitu Menej Indonesia) disusun. Buku ini adalah sebuah penjelasan yang ditujukan
untuk seluruh PW PII di Indonesia. Semoga Allah Taala meridoi langkah usaha kita.

UNTUK TETAP BER - PII?


Bangsa yang menang adalah bangsa yang mau berletih payah dalam mengisi kehidupannya,
itulah salah satu kesimpulan yang diutarakan seorang cendekiawan Islam termashur Ibnu
Kholdun. Sebuah bangsa itu tidak akan pernah hidup kecuali para pelajarnya berlatih dan belajar
untuk berletih payah juga. Para pelajar lah pemuda yang akan memimpin bangsanya.

Mengapa rumusan manajemen Gerakan Masjid (GM) ini perlu disusun dan disosialisasikan
kepada seluruh PW di Indonesia? Apakah rumusan gerakan ini tidak membuat kreatifas kader
menjadi hilang? Apakah ini adalah sebuah penyeragaman yang dapat merusak kekuatan PII?

Tiga pertanyaan di atas dan mungkin masih banyak pertanyaan yang menyusul di belakangnya
yang hadir untuk rumusan GM ini. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu harus dijawab sejak awal
agar persoalannya menjadi jernih dan agar bisa dipahami cara pandang yang dipilih oleh
rumusan GM ini. Tiga pertanyaan yang telah disebutkan di atas adalah beberapa pertanyaan yang
harus dijawab untuk menjernihkan pandangan kita tentang GM.

Rumusan GM ini perlu disusun dan disosialisasikan kepada seluruh PW PII di Indonesia dalam
rangka meningkatkan peran PII secara merata di seluruh Indonesia. GM akan memberikan
panduan yang sifatnya teknis-taktis tentang langkah gerakan PII. GM membuat gerakan PII lebih
sistematis karena memberikan suatu panduan normatif yang akan mengkerangkai inovasi-inovasi
pergerakan selanjutnya.

Karena itulah, rumusan GM ini tidak akan menghilangkan kreatifitas kader-kader PII. Karena
sesungguhnya kreatifitas itu tidak berarti kebebasan yang tanpa panduan dan tujuan yang jelas.
Justru kreatifitas itu akan lahir ketika sesuatu telah jelas dasar dan tujuannya. Kreatifitas yang
tanpa arah sesungguhnya bisa menjadi sebuah bencana besar. Apalagi dalam sebuah gerakan
yang menghendaki adanya suatu koordinasi dan perencanaan yang integral, suatu langkah kreatif
yang tidak didasari sebuah pengetahuan tentang dasar dan tujuan pergerakan hanya akan
membuat arah dan energi pergerakan menjadi berantakan.

Oleh karena itu, suatu penyeragaman sesungguhnya bukan suatu masalah selama penyeragaman
itu berada dalam batas-batasnya. Bagaimanapun, sesuatu yang seragam itu harus ada. Tanpa ada
suatu yang seragam, sulit kita membayangkan bagaimana sebuah identitas, persatuan, dan
solidaritas sosial dibangun dalam sebuah kekuataan atau pergerakan. Karena itulah, doktrin yang
mengatakan bahwa keseragaman itu akan merusak kekuatan itu tertolak ketika kita
menempatkan keseragaman itu pada tempatnya. GM berusaha menempatkan keseragaman itu
pada tempatnya yang tepat.

Yakni berusaha untuk menetapkan suatu manajemen dasar bagi sebuah pergerakan. Di mana
dengan hal itu, maka setiap kekuatan dalam gerakan tersebut bisa saling berkomunikasi,
memotivasi, dan mengukur diri dalam memenuhi pencapaian yang harus diraih. GM disusun,
justru untuk tetap membuat kita tetap ber PII. Agar tujuan yang selama ini dipegang bisa
diturunkan dan dicapai secara bertahap satu langkah ke langkah yang lainnya. Oleh karena itu,
hendaklah dipahami, GM ini adalah suatu bagian yang sebuah perencanaan strategis yang
bernama Menej Indonesia.

Singkatnya, GM berusaha agar tetap menempatkan PII sesuai dengan catur bakti. Lalu konsisten
dengan hal itu dan secara gradual dan progresif membuat pelaksanaan catur bakti itu sebagai
langkah nyata untuk meraih tujuan PII. Dengan GM ini, maka kader dan umumnya pelajar Islam
Indonesia akan mendapatkan orientasi dan visi dalam kegiatan belajar dan dalam menata
kehidupan masa sekarang dan masa depan mereka.

APA DAN MENGAPA MASJID & PELAJAR


Mengapa manajemen gerakan ini harus memakai kata masjid. Apakah tidak ada kata lain yang
lebih tepat atau bahkan yang lebih populis/akrab di telinga.

Yoesdi Ghozali mencetuskan PII berdasarkan hasil pemikiran mendalam dan diskusi dengan
banyak ulama pewaris nabi dan diteguhkan oleh renungan Itikaf di Masjid Kauman Yogyakarta.
Kisah itu sangat terkenal di kalangan kader PII, bahkan hampir seluruh kader PII mengetahuinya.

Yoedi Ghozali sadar sepenuhnya, bahwa masjid itu adalah tempat turunnya hidayah Alloh SWT.
Bahkan dari masjid itulah peradaban dan karya karya besar terwujud. Tak terkecuali, tonggak
kebangkitan PII pun berawal dari masjid.
Sejak Zaman Rasulullah Shalallah alahi wassalam masjid telah berfungsi sebagai sentral dari
kehidupan ummat Islam. Di masjid lah ummat dididik dan dibina ilmu serta keikhlasannya. Di
masjid lah ummat merumuskan dan mencari solusi setiap permasalah yang terjadi. Bahkan di
masjid lah para sahabat terbiasa bergulat melatih diri mereka agar selalu siaga.

Masjid berperan sangat besar terhadap kemajuan dan kemenangan Islam. Tanpa masjid, rasanya
mustahil Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Namun masjid yang tidak memiliki ruh
dan hidayah akan terasa sunyi dan hampa. Masjid akan menjadi berarti kalau dipenuhi hidayah,
dan siapakah yang akan mewujudkannya?

Masjid sesungguhnya bukan hanya sekedar satu tampilan fisik semata. Karena seperti yang
disebut dalam sebuah hadits, terdapat pula masjid yang tidak ada hidayah di dalamnya. Oleh
karena itu, masjid itu adalah sebuat tempat yang sekaligus menunjukan suatu tatanan yang
dikehendakai oleh Islam.

Gerakan ini memakai nama Masjid, utamanya adalah untuk memberikan satu penegasan
terhadap ruh atau esensi gerakan ini sendiri. Jika GM ini dijalankan, tentu gerakan ini akan
menghidupkan kembali masjid sebagai pusat bagi kehidupan ummat Islam. Selain karena
memakai langkah-langkah manajerial yang diambil dari aktifitas masjid, GM ini pada akhirnya
akan membuat masjid berperan sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam. Itu bisa terjadi,
karena ada sumber daya insan yang membuat masjid itu berperan.

TENTANG BUKU INI


Buku yang kini berada di hadapan kita ini disusun sebagai pedoman sebuah aktifitas atau
program tertentu. Buku ini disusun untuk memahami dan mensukseskan Gerakan Masjid Pelajar
Islam Indonesia. Membaca buku ini adalah langkah awal bagi kader kader PII dalam
mensukseskan Manejemen GM.

ISI BUKU
Buku ini disusun dalam 5 bab, dimulai dari Muqodimah hingga Khotimah. Bab I Muqodimah
berisi tentang beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum mempergunakan buku ini.
Bab ini menjelaskan pula tentang susunan dan isi buku secara keselurahan.

Bab 2 berjudul Mengenal Manejemen GM berisi penjelasan tentang Manejemen GM. Apa itu
Manejemen GM, mengapa harus Manejemen GM dan siapa yang akan menjalankannya. Bab ini
sangat penting untuk dibaca sebagai dasar pemahaman terhadap Manejemen GM yang akan
memberikan orientasi dan sudut pandang dalam memahaminya.

Dalam bab 3, buku ini menjelaskan seluk beluk pelaksanaan Manejemen GM mulai dari awal
dilaunching hingga berjalan secara ideal. Bagaimana menghadapi dan merancang sebuah
kegiatan yang berada dalam koridor GM adalah inti dari bab 3. Dijelaskan tentang 3 kata kunci
yang menjadi pokok Manejemen GM, yakni Ranting, Bear dan sel.
Sedangkan di dalam bab 4 akan diperkenalkan Tim Sukses Manejemen GM. Yakni tim yang
bertanggungjawab dan bertugas mengawal Manejemen GM hingga berjalan sesuai rencana.
Diharapkan dengan mengenal Tim Sukses Manejemen GM pola komunikasi dan gerakan akan
berjalan dengan manajemen yang tertib dan rapi. Tim ini akan berada di tingkat daerah, wilayah,
atau zona wilayah yang disusun sesuai keadaan dan kebutuhan di lapangan.

Bab terakhir, ada beberapa catatan di dalam Khotimah yang hendaknya diperhatikan sebelum
Manejemen GM dijalankan oleh kader kader PII. Khotimah memuat pula satu contoh GM Plan
(rencana yang dibuat daerah atau komisariat untuk melaksanakan GM). Contoh GM Plan itu
dibuat sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi kader kader di Daerah atau Komisariat
hingga diharapkan akan memberikan kemudahan dan kematangan dalam penyusunannya (GM
Plan).