You are on page 1of 31

LI 1 Memahami dan menjelaskan status gizi anak dan ibu hamil

Status gizi adalah tingkat kesehatan seseorang yang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi dinilai
dengan ukuran atau parameter gizi (Soehardjo, 1990).
Status Gizi Anak Sekolah
Masa anak sekolah dasar adalah masa anak berumur 6 12 tahun. Anak anak yang berumur 6 12 tahun
sedang masa puncak perkembangan. Saat umur inilah pertumbuhan ini agak lambat tapi perkembangan
berangsur angsur menjadi mengetahui banyak tentang diri dan dunianya.

Status Gizi Anak adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-
zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri (
Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan
BB/TB
Indikasi pengukuran dari variabel ini ditentukan oleh :
1. Penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi Badan (TB) Dilakukan oleh petugas klinik gizi
sesuai dengan syarat-syarat penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan yang baik dan benar
penggunaan timbangan berat badan dan meteran tinggi badan (mikrotoise)
2. Penentuan umur anak ditentukan sesuai tanggal penimbangan BB dan Pengukuran TB, kemudian
dikurangi dengan tanggal kelahiran yang diambil dari data identitas anak pada sekolah masing-masing,
dengan ketentuan 1 bulan adalah 30 hari dan 1 tahun adalah 12 bulan.
a. Kriteria objektifnya dinyatakan dalam rata-rata dan jumlah Z score simpang baku (SSB) induvidu
dan kelompok sebagai presen terhadap median baku rujukan (Waterlow.et al, dalam, Djuamadias,
Abunain, 1990) Untuk menghitung SSB dapat dipakai rumus :
NIS NMBR
Skor Baku Rujukan
NSBR

Dimana : NIS : Nilai Induvidual Subjek


NMBR : Nilai Median Baku Rujukan
NSBR : Nilai Simpang Baku Rujukan
Hasil pengukuran dikategorikan sbb
1. Untuk BB/U
a. Gizi Kurang Bila SSB < - 2 SD
b. Gizi Baik Bila SSB -2 s/d +2 SD
c. Gizi Lebih Bila SSB > +2 SD
2. TB/U
a. Pendek Bila SSB < -2 SD
b. Normal Bila SSB -2 s/d +2 SD
c. Tinggi Bila SBB > +2 SD
3. BB/TB
a. Kurus Bila SSB < -2 SD
b. Normal Bila SSB -2 s/d +2 SD
c. Gemuk Bila SSB > +2 SD
Dan juga status gizi diinterpretasikan berdasarkan tiga indeks antropomteri, (Depkes, 2004). Dan
dikategorikan seperti yang ditunjuukan pada tabel 3
Tabel 3 Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku
Antropometeri WHO-NCHS)

Interpretasi Indeks yang digunakan


BB/U TB/U BB/TB

Normal, dulu kurang gizi Rendah Rendah Normal


Sekarang kurang ++ Rendah Tinggi Rendah
Sekarang kurang + Rendah Normal Rendah

Normal Normal Normal Normal


Sekarang kurang Normal Tinggi Rendah
Sekarang lebih, dulu kurang Normal Rendah Tinggi

Tinggi, normal Tinggi Tinggi Normal


Obese Tinggi Rendah Tinggi
Sekarang lebih, belum obese Tinggi Normal Tinggi

Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :


Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber: Depkes RI, 2004


Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan
pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi,
antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan
interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat,
menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul
adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh
sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12
bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam
hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).
b. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan
tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun
konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan
menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran
dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak
digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi
kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias
Abunain, 1990).

c. Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan
kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan
dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan
dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut
Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya
dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan
yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan
manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB
merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh
(M.Khumaidi, 1994).
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan
gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar
WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai
masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan.
Jadi untuk indeks BB/U adalah
= Z Score = ( 60 kg 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD
= status gizi baik
Untuk IndeksTB/U adalah
= Z Score = ( 145 kg 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD
= status gizi pendek
Untuk Indeks BB/TB adalah
= Z Score = ( 60 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD
= status gizi gemuk

Status Gizi Ibu Hamil


Menurut UU Republik Indonesia No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan BAB V Upaya Kesehatan Pasal 20
ayat 2 menyebutkan Status gizi ialah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis kelamin
dan umur.
Menurut Huliana (2001), makanan yang dikonsumsi ibu hamil dipergunakan untuk pertumbuhan dan
perkembanganjanin sebesar 40 persen sedangkan 60 persen untuk memenuhi kebutuhan ibu. Apabila masukan
gizi pada ibu hamil tidak sesuai kebutuhan maka kemungkinan dapat terjadi gangguan dalam kehamilan, baik
terhadap ibu maupun janin yang dikandungnya.
Kecukupan gizi selama hamil dapat dipantau melalui parameter keadaan kesehatan ibu dan berat lahir janin.
Meskipun baku penilaian status gizi wanita yang tidak hamil tidak dapat diaplikasikan pada wanita hamil,
perubahan fisiologi selama hamil dapat digunakan sebagai petunjuk. Berat badan rendah sebelum konsepsi
serta pertambahan berat yang tidak adekuat merupakan penilaian langsung yang dapat digunakan untuk
memperkirakan laju pertumbuhan janin. Kecukupan gizi selama kehamilan digunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janinnya maupun aktivitas ibu. (Arisman, 2009)

Cara Pengukuran Status Gizi


Peningkatan berat badan yang adekuat akan memperkecil terjadinya resiko terjadinya persalinan small
gestational age (SGA) atau preterm. Kebutuhan peningkatan berat badan untuk setiap wanita berbeda-beda.
Faktor yang mempengaruhi besarnya kebutuhan berat badan ditentukan oleh tinggi badan dan berat badan,
apakah wanita tersebut memiliki berat badan normal, kurang atau lebih sebelum kehamilan. Metode yang
biasa digunakan dalam menentukan kondisi berat badan dan tinggi badan adalah body mass index (BMI).
Formula ini digunakan untuk menghitung BMI adalah
BMI = Berat/Tinggi2

BMI dapat diintepretasikan dalam kategori sebagai berikut :


a. Kurang dari 19,8 adalah berat kurang atau rendah
b. 19,8 sampai dengan 26,0 normal
c. 26,0 sampai dengan 29 adalah berat lebih atau tinggi
d. Lebih dari 29 obesitas

Penambahan Berat Badan Status Gizi Ibu Sebelum Hamil


Kategori Berat (BMI) Penambahan BB
Total Kenaikan BB TM I (Kg) TM II
(Kg) (Kg)
Normal ( BMI 19,8-26) 12,5 13 2,3 0,49
Kurus ( BMI < 19,8 ) 11,5 16 1,6 0,44
Lebih 7 11, 6 0,9 0,3
Obesitas ( BMI > 29 ) 6

Distribusi penambahan berat badan ibu hamil


Trimester Distribusi
I Terutama pertambahan pada jaringan ibu dan cadangan
lemak, berat janin pada 10 minggu 5 gram
II Pertambahan yang pesat pada cadangan lemak ibu dan
jaringan, berat janin pada minggu 20 350 gram.
III Pertambahan terutama pada janin dan bertambahnya cairan,
berat janin pada 32 minggu 2 kg.

Pola Pertambahan Berat Badan


Berat badan lebih ataupun kurang dari berat badan rata-rata untuk umur tertentu, merupakan faktor
menentukan jumlah zat makanan yang harus dicukupi selama hamil. Di negara maju pertambahan berat badan
selama hamil sekitar 12-14 kg. Kalau ibu kekurangan gizi, pertambahannya hanya sekitar 7-8 kg dengan akibat
melahirkan bayi BBLR. ( Paath,dkk., 2005 )
National Academy of Scienses ( 1970 ) menganjurkan pertambahan berat badan sekitar 9-11,3 kg. Pada tahun
1983 usulan ini diubah menjadi 10-12,2 kg, dan diperbaiki menjadi 11,3-15,9 kg ( bagi wanita yang normal
berat badan dan tinggi badannya ). (Arisman, 2009 ).

Manfaat Nutrisi
a. Nutrisi untuk pertumbuhan
Dengan makanan bergizi, tubuh manusia tumbuh dan dipelihara. Semua organ tubuh dapat berfungsi
dengan baik. Bagian tubuh yang rusak diganti. Kulit dan rambut terus berganti, sel sel tubuh terus
bertumbuh. Sel-sel tubuh memasak dan mengolah zat makanan yang masak agar zat makanan dapat dipakai
untuk pekerjaan tubuh.
b. Makanan sebagai suku cadang
Dengan makanan bergizi, tubuh manusia tumbuh dan dipelihara. Semua organ tubuh dapat berfungsi
dengan baik. Bagian tubuh yang rusak diganti. Kulit dan rambut terus berganti, sel sel tubuh terus
bertumbuh. Sel-sel tubuh memasak dan mengolah zat makanan yang masak agar zat makanan dapat dipakai
untuk pekerjaan tubuh.Untuk itu, setelah sakit kita perlu banyak makan makanan bergizi. Begitu juga untuk
yang menjalani operasi atau yang baru melahirkan.
c. Makanan sebagai bensin tubuh
Makanan juga dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, menyapu, juga berkebun.
Dalam keadaan tidurpun tubuh tetap membutuhkan tenaga untuk bernafas, degup jantung, serta tenaga
memasak zat makanan dan memakainya. Namun, makanan perlu diatur agar sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Jumlahnya harus memadai, dan mutunya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Ibu Hamil


a. Suhu Lingkungan
Pada dasarnya suhu tubuh dipertahankan pada suhu 36,5-37 derajat Celsius untuk mempertahankan
metabolisme yang optimum. Adanya perbedaan suhu antara tubuh dengan lingkungan, maka mau tidak
mau tubuh harus menyesuaikan diri demi kelangsungan hidupnya yaitu tubuh harus melepaskan sebagian
panasnya diganti dengan hasil metabolisme tubuh, makin besar perbedaan antara tubuh dengan lingkungan
maka akan semakin besar pula panas yang akan dilepaskan. Dengan adanya perbedaan suhu antara tubuh
dan lingkungannya, maka tubuh melepaskan sebagian panasnya yang harus diganti dengan hasil
metabolisme tubuh. Maka lebih besar perbedaan suhu berarti lebih besar masukan energi yang diperlukan.
b. Status Ekonomi dan Sosial
Baik status ekonomi maupun sosial sangat mempengaruhi seorang wanita dalam memilih makanannya.
Status ekonomi, terlebih jika yang bersangkutan hidup dibawah garis kemiskinan (keluarga prasejahtera),
berguna untuk pemastian ibu mampu membeli dan memilih bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.
c. Kebiasaan dan Pandangan Wanita terhadap Makanan
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan. Wanita yang sedang hamil
dan telah berkeluarga biasanya lebih memperhatikan akan gizi dari anggota keluarga yang lain. Padahal
sebenarnya dirinyalah yang memerlukan perhatian yang serius mengenai penambahan gizi. Ibu harus
teratur dalam mengkonsumsi makanan yang bergizi demi pertumbuhan dan perkembangan.
d. Usia
Usia diperlukan untuk menentukan besaran kalori serta zat gizi yang akan diberikan. Usia akan
mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita.
Semakin muda dan semakin tua umur seorang ibu hamil, akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang
banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri juga harus berbagi
dengan janin yang sedang dikandungnya. Sedangkan untuk umur yang tua perlu energi yang besar juga
karena fungsi organ yang makin melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal maka memerlukan
tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang berlangsung. Lebih muda umur
seorang wanita hamil, lebih banyak energi yang di butuhkan. Angka kematian maternal yang berusia 10-
14 tahun 5 kali lebih besar dari mereka yang berusia 20-24 tahun. Remaja yang berumur 15-19 tahun
menunjukkan angka kematian 2 kali lebi besar. Ini berhubungan dengan status gizi remaja yang
perkembangan fisik dan mentalnya masih membutuhkan energi lebih banyak. Masalah yang mempengaruhi
reproduksi yang mencakup gizi untuk menjamin pertumbuhan sempurna salah satunya ialah umur saat
hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun) atau umur terlalu tua (diatas 35 tahun)
e. Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses
pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang dari
individu, kelompok atau masyarakat. Bagi masyarakat yang berpendidikan tinggi dan cukup tentang nilai
gizi lebih banyak menggunakan pertimbangan rasional dan pengetahuan tentang nilai gizi makanan atau
pertimbangan fisiologik lebih menonjol dibandingkan dengan kebutuhan psikis.
Menurut Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 Pasal I ayat 11 menyebutkan sebagai berikut :
11
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
f. Status Kesehatan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Status ialah keadaan kedudukan seseorang. Status kesehatan
seseorang kemungkinan sangat berpengaruh terhadap nafsu makannya. Seorang ibu dalam keadaan sakit
otomatis akan memiliki nafsu makan yang berbeda dengan ibu yang dalam keadaan sehat. Namun ibu harus
ingat, bahwa gizi yang dapat ia dapat akan dipakai untuk dua kehidupan yaitu bayi dan untuk dirinya.
Pada kondisi sakit asupan energi tidak boleh dilupakan. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi tablet yang
mengandung zat besi atau makanan yang nebgandung zat besi seperti bayan, hati dan sebagainya. Menurut
Reverlly, Sakit adalah tidak adanya keselarasan antara lingkungan dengan individu. Menurut white
tahun 1977, sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan
ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit atau kelainan. Sedangkan menurut UU RI No. 23 tahun
1992 Tentang Kesehatan BAB I Pasal I menyebutkan, kesehatan ialah keadaan sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Status Gizi Bagi Ibu Hamil Menurut WHO, dampak kekurangan gizi pada ibu hamil, kekurangan gizi pada
ibu hamil, akibat kurang gizi pada ibu hamil, dampak kurang gizi pada ibu hamil, kebutuhan gizi seimbang
dan pengaruh status gizi terhadap sistem reproduksi, kebutuhan energi ibu hamil menurut who, pengaruh
status gizi terhadap sistem reproduksi akan dijelaskan dalam artikel kesehatan kali ini: Status gizi ibu hamil
pada waktu pertumbuhan dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Berat
badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai umur kehamilan. Hal ini dikarenakan berat badan yang
bertambah normal akan menghasilkan bayi yang normal juga. Di negara maju, rata-rata kenaikan berat badan
selama hamil sekitar 12-14 kilogram. Tetapi berdasarkan perkembangan terkini, disampaikan bahwa
penambahan berat badan ibu selama hamil tidak terlalu mempengaruhi berat badan bayi.
Kekurangan asupan gizi pada trimester I dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum, kelahiran prematur,
kematian janin, keguguran dan kelainan pada sistem saraf pusat. Sedangkan pada trimester II dan III dapat
mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu, berat bayi lahir rendah. Selain itu, juga akan
berakibat terjadi gangguan kekuatan rahim saat persalinan, dan perdarahan post partum.

Penambahan Berat Badan Status Gizi Ibu Sebelum Hamil


Kategori Berat (BMI) Total Kenaikan BB (Kg) Penambahan BB
TM I (Kg) TM II (Kg)
Normal ( BMI 19,8-26) 12,5 13 2,3 0,49
Kurus ( BMI < 19,8 ) 11,5 16 1,6 0,44
Lebih 7 11, 6 0,9 0,3
Obesitas ( BMI > 29 ) 6

Tanda Kecukupan Gizi pada Wanita Dewasa dan Ibu Hamil


Zat Gizi Satuan Wanita Dewasa Ibu Hamil
Energi Kal 2200 2485
Protein gr 48 60
Vitamin A RE 500 700
Vitamin D ug 5 15
Vitamin E mg 8 18
Vitamin K mg 65 130
Thiamin mg 1,0 1,2
Niacin mg 9 9,1
Vitamin B12 mg 1,0 1,3
Asam folat ug 150 300
Piridoksin mg 1,6 3,8
Vitamin C mg 60 70
Kalsium mg 500 900
Fosfor mg 450 650
Zat besi mg 26 46
Seng mg 15 20
Yodium ug 150 175
Selenium ug 55 70

Tanda Kecukupan Gizi pada Ibu Hamil Menurut Nadesul (2004)


Status Tanda
Keadaan umum Responsive, gesit
Berat badan Normal sesuai tinggi dan bentuk tubuh
Postur Tegak, tungkai dan lengan lurus
Otot Kuat, kenyal sedikit lemak di bawah kulit
Saraf Perhatian baik, tidak mudah tersinggung,
refleks normal, mental stabil
Pencernaan Nafsu makan baik
Jantung Detak dan irama normal, tekanan darah normal
sesuai usia
Vitalitas umum Ketahanan baik, energik, cukup tidur, penuh
semangat
Rambut Mengkilat, keras tak mudah rontok, kulit kepala
normal
Kulit Licin, cukup lembab, warna segar
Muka dan leher Warna sama, licin, tampak sehat, segar
Bibir Licin, warna tidak pucat, lembab, tidak bengkak
Mulut Tidak ada luka dan selaput merah
Gusi Merah normal, tidak ada perdarahan
Lidah Merah normal, licin, tidak ada luka
Gigi geligi Tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat, lurus dagu
normal, bersih dan tidak ada perdarahan
Mata Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak ada
perdarahan
Kelenjar Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak ada
perdarahan
Kuku Keras dan kemerahan
Tungkai Kaki tidak bengkak, normal

a. Faktor Predisposisi
1. Faktor Langsung

Konsumsi Makanan
Keadaan keseimbangan gizi tergantung dari ringakat konsumsi kualitas hidangan yang menunjukan
quantum suatu zat gizi terhadap kebutuhan hidup. Bila susunan hidangan kebutuhan tubuh baik dari
sudut kuantitas, maka tubuh akan mendapatkan kesehatan gizi sebaik baiknya. Sebaliknya konsumsi
yang kurang baik dalam kuaiitas maupun kuantitas akan memberi dampak kesehatan pangan dan gizi
yang baik ditentukan oleh terciptanya keseimbangan antara banyaknya jenis zat gizi yang dikonsumsi
dengan banyaknya zat yang dibutuhkan tubuh.
Infeksi
Infeksi biasa berhubungan deangan gangguan gizi. Infeksi sendiri mengakibatkan si penderita
kehilangan bahan makanan melalui muntah-muntah dan diare. Selain itu juga penghancuran jaringan
tubuh akan mengikat karena dipakai untuk pembentukan protein atau enzim-enzim yang diperlukan
dalam usaha pertahanan tubuh. Gangguan gizi dan infeksi sering bekerja secara sinergis, infeksi akan
memperburuk kemampuan seseorang untuk mengatasi penyakit infeksi.
Zat gizi dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh kembang guna meneapai hasil yang optimal sesuai
dengan kebutuhan. Apabila zat gizi ini kurang, maka akan dapat mengakibatkan infeksi dan rawat gizi
pada remaja. Pada remaja yang kekurangan energi protein akan menghambat pertumbuhan fisik dan
kecerdasan.

2. Faktor tidak langsung

Pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoieh dari pengalaman yang berasal dari berhagai macam
sumber, misalnya media massa, elektronik, buku petunjuk, penyuluhan, dan kerabat dekat. (Yuwono,
1999). Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan gizi merupakan pemahaman masyarakat tentang
pemilihan bahan makanan sehat serta fungsinya bagi tubuh yang dinilai berdasarkan jawaban
responden terhadap pertanyaan yang diajukan sesuai dengan kuesioner. (Suwondo, 1975).
Pengetahuan gizi meliputi pengetahuan tentang pemilihan dan konsumsi sehari hari dengan baik dan
memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Pemilihan dan konsumsi
bahan makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal
terjadi apabila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Status gizi kurang terjadi
apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi essential.
Sedangkan status gizi lebih terjadi apabila tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang berlebihan,
sehingga menimbulkan efek yang membahayakan. Semakin tinggi gizi seseorang akan semakin
memperhitungkan jenis dan makanan yang dipilih untuk dikonsumsi. Orang yang pengetahuan gizinya
rendah akan berperilaku memilih makanan yang menarik panca indra dan tidak mengadakan pemilihan
berdasarkan nilai gizi makanan. Sebaliknya mereka yang semakin tinggi pengetahuannya, lebih
banyak mempergunakan mempertimbangkan rasional dan pengetahuan tentang nilai gizi makanan
tersebut, sehingga seorang ibu dapat menyusun dan mengolah makanan yang bergizi bagi keluarga.
(Sediaoetama, ] 989)
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha yang dilakaukan secara sadar, sengaja, sistematis, dan terencana oleh orang
dewasa kepada an ak yang belum dewasa yang merupakan bimbingan, pertolongan, dan
kepemimpinan dengan tujuan agar anak dapat mencapai tingkat kedewasaan jasmani dan rohani
(Astuti, 2000). Menurut tingkat atau jenjang pendidikan terdiri dari :
Pendapatan
Pendapatan rumah tangga adalah sejumlah penghasilan dan penerimaan berupa uang atau barang dari
semua anggota keluarga, maupun penerimaan transfer.
Tingkat pendapatan juga menentukan pola makanan apa yang dibeli dengan uang tambahan tersebut
(Berg, 1986). Rendahnya pendapatan merupakan tantangan lain yang menyebabkan orang orang tak
mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan (Sajogyo, 1983). Pada pendapatan terendah,
maka hampir semua pendapatan akan dikeluarkan untuk makan (Handayatu, 1994). Orang miskin
biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatan tambahan itu untuk makan. Sedangkan yang
kaya tentu akan lebih berkurang dari jumlah itu. Bagian untuk makanan padi padian akan menurun
dan untuk makanan yang dibuat dari susu akan bertambah jika keluarga keluarga beranjak ke
pendapatan tingkat menengah. Semakin tinggi pendapatan, semakm bertambah besar pula persentase
pertambahan pembelanjaannya. Dengan demikian, pendapatan merupakan faktor yang paling
menentukan kualitas dan kuantitas (Berg, 1986).
Pendidikan Orang Tua
Latar belakang pendidikan orang tua, baik kepala keluarga istri merupakan salah satu unsur yang
berperan penting dalam menentukan keadaan gizi anak. Hubungan positif antara tingkat pendidikan
orang tua dengan keadaaan gizi anak telah banyak diungkapkan oleh para ahH. Pada masyarakat yang
rata rata tingkat pendidikannya rendah, prevalensi gizi kurang yang tinggi dan sebaliknya pada
masyarakat yang tingkat penididikan cukup tinggi prevalensi gizi kurang lebih rendah.
Besar Keluarga
Survey pangan di India memperlihatkan bahwa tersedianya protein bagi setiap anak dalam keluarga
dengan salah satu atau dua anak, mendapat 22% lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang
mempunyai anak empat atau lima anak. Kasus gizi buruk yang paling berat sering menimpa anak-anak
dari keluarga besar. (Soekirman, 1999)

IBU HAMIL
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya
meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh
ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak
sempurna.

Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun yang seringkali menjadi
kekurangan adalah energi protein dan beberapa mineral seperti Zat Besi dan Kalsium.
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III
kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester II diperlukan
untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus, dan payudara, serta
penumpukan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.

b. Indikator Status Gizi


Penilaian status gizi secara langsung.
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: antropometri, klinis,
biokimia, dan biofisik.
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka
antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode
ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat
gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (superficial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut
dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini
dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau
lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan
melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
3. Blokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah,
urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu
peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi, Banyak gejala
klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk
menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan
fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan
dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes), Cara yang
digunakan adalah tes adaptasi gelap.

Penilaian status gizi secara tidak langsung.


1. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat
jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini
dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberpa statistik
kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab
tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai
bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
3. Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi
dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar
untuk melakukan program intervensi gizi (Schrimshaw, 1964).
Menurut Djoko Pekik Irianto (2006: 59) dari ketujuh carapengukuran status gizi tersebut pengukuran
antropometri merupakan carayang pailng sering digunakan karena memiliki kelebihan yaitu :
a. Alat mudah diperoleh.
b. Pengukuran mudah dilakukan.
c. Biaya murah.
d. Hasil pengukuran mudah disimpulkan.
e. Dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
f. Dapat mendeteksi riwayat gizi masa lalu.

Pengkuran antropometri juga memiliki kelemahan yaitu :


a. Kurang sensitive
b. Faktor luar (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi tidak dapat dikendalikan)
c. c. Kesalahan pengukuran akan mempengaruhi akurasi kesimpulan.
d. Kesalahan-kesalahan antara lain pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi
jaringan, analisis dan asumsi salah.

LI.2. Memahami dan menjelaskan PHBS

LO.2.1 Definisi PHBS

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri
di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
Menurut Lawrence Green (1980), dalam Notoatmodjo (2007), dalam Jariston (2009), ada tiga faktor
penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat yaitu:
1. Faktor Pemudah (Predisposing factors)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap anak-anak terhadap perilaku hidup bersih dan sehat. Dimana
faktor ini menjadi pemicu atau antesenden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi
tindakannya akibat tradisi, kebiasaan, kepercayaan, tingkat pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi.
2. Faktor pemungkin (enambling factors)
Faktor pemicu teradap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau tindakan terlaksana. Faktor ini
mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi anak-anak, misalnya air bersih,
tempat pembuangan sampah, jamban, ketersediaan makanan bergizi, dan sebagainya. Fasilitas ini pada
hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat.
3. Faktor penguat (reinforcing factors)
Faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor ini terwujud
dalam bentuk sikap dan perilaku pengasuh anak-anak atau orangtua yang merupakan tokoh yang dipercaya
atau dipanuti anak-anak. Contoh pengasuh anak-anak memberikan keteladanan dengan melakukan cuci tangan
sebelum makan atau selalu minum air yang sudah dimasak. Maka hal ini akan menjadi penguat untuk perilaku
hidup bersih dan sehat bagi anak-anak

LO.2.2 Tujuan PHBS

1. Tujuan Umum
Meningkatnya rumah tangga sehat di desa kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
2. Tujuan Khusus
- Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga untuk melaksanakan
PHBS.
- Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat.

Manfaat PHBS:

1. Manfaat PHBS bagi rumah tangga:


a. Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit.
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
c. Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah
tangga maka biaya yang dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti
biaya pendidikan, pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga.
2. Manfaat PHBS bagi masyarakat:
a. Masyarakat mampu mengupa yakan lingkungan yang sehat.
b. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan.
c. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
d. Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti
3. posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan bersalin (tabulin), arisan jamban, kelompok
4. pemakai air, ambulans desa dan lain-lain.

LO.2.3 Manfaat PHBS

Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat bagi rumah tangga:

1. Setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit


2. Anak tumbuh sehat dan cerdas
3. Prokduktifitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah
tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesekahatan dapat diahlikan untuk biaya investasi
seperti biya pendidikan, Pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan
keluarga

Manfaat Perilaku Hidup dan Sehat bagi masyarakat:


1. Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
2. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
3. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
4. Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu,
jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan bersalin (tabulin), arisan jamban, kelompok pemakai air, ambulans
desa dll.
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berdasarkan keputusan menteri kesehatan RI No.
1193/MENKES/SK/X/2004 adalah salah satu kebijakan nasional yaitu promosi kesehatan untuk mendukung
pencapaian visi Indonesia sehat 2010.

LO.2.4 Jenis PHBS

PHBS RUMAH TANGGA

Sasaran PHBS di Rumah Tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu:

1. Pasangan Usia Subur


2. Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
3. Anak dan Remaja
4. Usia Lanjut
1. Pengasuh Anak
Pembinaan PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mewujudkan Rumah Tangga Sehat. Rumah Tangga Sehat
adalah rumah tangga yang memenuhi 7 indikator PHBS dan 3 indikator Gaya Hidup Sehat sebagai berikut:

1. Persalinanditolong oleh tenaga kesehatan


Adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan tenaga para medis lainnya).
Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih, dan steril sehingga
mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.

2. Memberi ASI ekslusif


Adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lain.
ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan
bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI pertama berupa cairan bening berwarna
kekuningan (colostrums), sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit.

3. Menimbang balita setiap bulan


Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan. Penimbangan bayi
dan balita dilakukan mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di posyandu. Dengan demikian dapat diketahui
apakah balita tumbuh sehat atau tidak dan mengetahui kelengkapan imunisasi serta bayi yang dicurigai
menderita gizi buruk.

4. Menggunakan air bersih


Air adalah kebutuhan dasar yang diperlukan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur,
membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur dan sebagainya agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar
dari sakit. Rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih adalah rumah tangga yang sehari-harinya
memakai air minum yang meliputi air dalam kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, serta mata air
terlindung yang berjarak minimal 10 meter dari tempat penampungan kotor air limbah.

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun


Manfaat mencuci tangan dengan sabun adalah membunuh kuman penyakit yang ada di tangan, mencegah
penularan penyakit diare, kolera, disentri, tifus, cacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernafasan Akut, flu
burung atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) serta tangan mejadi bersih dan bebas dari kuman.

6. Menggunakan jamban sehat


Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat
jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan
unit pembuangan kotoran dan air untuk membersihkannya. Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang
sulit air, sedangkan jamban leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah padat penduduk.

7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu


Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak
terdapat jentik nyamuk. Pemeriksaan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan
nyamuk (tempat-tempat penampungan air) yang ada dalam rumah seperti bak mandi atau WC, vas bunga,
tatakan kulkas dan lain-lain. Hal yang dilakukan agar rumah bebas jentik adalah melakukan 3 M plus
(menguras, menutup, mengubur plus menghindari gigitan nyamuk).

8. Makan buah dan sayur setiap hari


Makan sayur dan buah sangat penting karena sayur dan buah mengandung vitamin dan mineral yang mengatur
pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta mengandung serat yang tinggi. Konsumsi sayur dan buah yang
tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. Merebus
dengan air akan melarutkan beberapa vitamin dan mineral dalam sayur dan buah tersebut. Pemanasan tinggi
akan menguraikan beberapa vitamin seperti vitamin C.

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari


Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang
sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat
dan bugar sepanjang hari. Aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain kegiatan sehari-hari yaitu berjalan
kaki, berkebun, mencuci pakaian,mencuci mobil dan turun tangga. Selain itu kegiatan olahraga seperti push
up, lari ringan, bermain bola, berenang, senam, fitness, dapat juga dilakukan sebagai aktifitas fisik.

10. Tidak merokok di dalam rumah


Tidak merokok adalah penduduk 10 tahun keatas yang tidak merokok selama 1 bulan terakhir. Perokok terdiri
atas perokok aktif dan perokok pasif. Bahaya perokok aktif dan perokok pasif adalah dapat menyebabkan
kerontokan rambut, gangguan pada mata seperti katarak, kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan
perokok, menyebabkan penyakit paru-paru kronis, merusak gigi, sakit jantung, stroke, kanker kulit,
kemandulan, impotensi, kanker rahim dan keguguran.

Menurut Dinas Keshatan Republik Indonesia tahun 2007 klasifikasi tersebut sebagai berikut :

1. Klasifikasi I (warna merah) : jika melakukan 1 sampai dengan 3 dari 10 indikator PHBS dalam tatanan
rumah tangga.
2. Klasifikasi II (warna kuning) : jika melakukan 4 sampai dengan 5 dari 10 indikator PHBS dalam
tatanan rumah tangga.
3. Klasifikasi III (warna hijau) : jika melakukan 6 sampai dengan 7 dari 10 indikator PHBS dalam tatanan
rumah tangga.
4. Klasifikasi IV (warna biru) : klasisifikasi III + ikut dana sehat

Klasifikasi penilaian PHBS menurut Dinas Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008 mengalami perubahan,
dimana jika salah satu indikator PHBS tidak terpenuhi, maka tatanan tersebut dinyatakan tidak menjalankan
PHBS.

PHBS SEKOLAH
Penerapan PHBS di sekolah merupakan kebutuhan mutlak seiring munculnya berbagai penyakit yang sering
menyerang anak usia sekolah (6 10 tahun), yang ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. PHBS di
sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu
mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.
Penerapan PHBS ini dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah.

Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan di institusi
pendidikan. Indikator institusi pendidikan adalah Sekolah Dasar negeri maupun swasta (SD/MI). Sasaran
PHBS tatanan institusi pendidikan adalah sekolah dan siswa dengan indikator :

A. Tersedia jamban yang bersih dan sesuai dengan jumlah siswa


B. Tersedia air bersih atau air keran yang mengalir di setiap kelas
C. Tidak ada sampah yang berserakan dan lingkungan sekolah yang bersih dan serasi
D. Ketersediaan UKS yang berfungsi dengan baik
E. Siswa menjadi anggota dana sehat (JPKM)
F. Siswa pada umumnya (60 %) kukunya pendek dan bersih
G. Siswa tidak merokok
H. Siswa ada yang menjadi dokter kecil atau promosi kesehatan sekolah (minimal 10 orang)
Syarat-syarat sekolah ber-PHBS yaitu :

- Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun.


- Jajan di kantin sekolah yang sehat.
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah.
- Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan.
- Tidak merokok di sekolah.
- Memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin.
- Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah.

PHBS TEMPAT UMUM


Tempat-tempat umum merupakan sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta, atau perorangan
yang digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti sarana pariwisata, transportasi umum, sarana ibadah,
sarana olahraga, sarana perdagangan, dsb. PHBS di tempat-tempat umum adalah upaya untuk memberdayakan
masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan
PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat-tempat umum yang ber-PHBS. Melalui penerapan
PHBS di tempat umum ini, diharapkan masyarakat yang berada di tempat-tempat umum akan terjaga
kesehatannya dan tidak tertular atau menularkan penyakit.

Syarat tempat umum yang ber-PHBS yaitu :

- Menggunakan air bersih.


- Menggunakan jamban.
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Tidak merokok.
- Tidak meludah sembarangan.
- Memberantas jentik nyamuk.
- Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih.
- Menutup makanan dan minuman.

PHBS TEMPAT KERJA


PHBS di tempat kerja merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu
mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat
kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan
produktif. Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat
dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah, dan sehat.

Syarat tempat umum yang sehat yaitu :

- Mengkonsumsi makanan bergizi.


- Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
- Tidak merokok di tempat kerja.
- Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.
- Menggunakan air bersih.
- Memberantas jentik di tempat kerja.
- Menggunakan jamban.
- Membuang sampah pada tempatnya.

PHBS INSTITUSI KESEHATAN


Institusi kesehatan adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta atau perorangan yang
digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik
swasta. PHBS di institusi kesehatan merupakan upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung,
dan petugas agar tahu, mampu, dan mampu mempraktikkan hidup perilaku hidup bersih dan sehat serta
berperan aktif dalam mewujudkan intitusi kesehatan ber-PHBS. PHBS di Institusi Kesehatan sangat
diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit, infeksi nosokomial dan mewujudkan
Institusi Kesehatan yang sehat.

Syarat institusi sehat yaitu :

- Menggunakan air bersih.


- Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun.
- Menggunakan jamban.
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Tidak merokok di Institusi Kesehatan.
- Tidak meludah sembarangan.
- Memberantas jentik nyamuk

LO.2.5 Strategi PHBS

Strategi adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS. Kebijakan Nasional
Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu:
1. Gerakan Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti
perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi
tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu
melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran
sudah pindah dari mau ke mampu melaksanakan boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal
ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang sering kali dipraktikkan adalah
dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau
pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau dihimpun
dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini
pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak
pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya.
2. Bina Suasana (Social Support)
Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat
untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu
apabila lingkungan sosial dimanapun ia berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi
panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau
mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat khususnya
dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat
tiga pendekatan dalam Bina Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan pendekatan
masyarakat umum.
3. Pendekatan Pimpinan (Advocacy)
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan
dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat formal
yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga
dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan yang lain yang
umumnya dapat berperan sebagai penentu kebijakan (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai
penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui
advokasi jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung
tahapan-tahapan yaitu: a) mengetahui atau menyadari adanya masalah, b) tertarik untuk ikut mengatasi
masalah, c) peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan
masalah, d) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah,
dan e) memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
LI.3 Memahami dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan gizi pada anak dan ibu hamil

a. Definisi
Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan disebut gizi.
Batasan klasik mengatakan bahwa ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak ditelan
sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta diekskresikan sebagai sisa (Achmad Djaeni,1987).
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk
fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan
zat-zat gizi esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didatangkan dari makanan. Bila
dikelompokkan, ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh.
Akibat Gizi Kurang pada Proses Tubuh:
Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh bergantung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi
secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan gangguan pada proses-proses
sebagai berikut :
1. Pertumbuhan
Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein sebagai zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi
lembek dan rambut mudah rontok. Kekurangan karbohidrat dan zat lemak juga dapat menyebabkan tubuh
menjadi lesu, kurang bergairah untuk melakukan berbagai kegiatan dan kondisi tubuh yang demikian
tentunya akan banyak menimbulkan kerugian.
2. Produksi Tenaga
Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seorang kekurangan tenaga untuk bergerak,
bekerja, dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas merasa lemah, dan produktivitas kerja menurun.
3. Pertahan Tubuh
Daya tahan terhadap tekanan atau stres menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang
mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat membawa kematian.
4. Struktur dan Fungsi Otak
Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental, dengan demikian
kemampuan berpikir. Otak mencapai benuk maksmal pada usia dua tahun. Kekurangan gizi dapat
berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen.
5. Perilaku
Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gzi menunjukkan perilaku tidak tenang. Mereka
mudah tersinggung, cengang, dan apatis

Kekurangan gizi pada anak


Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan
terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan nutrisi/gizi disebut gizi
lebih (overnutrition) dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition).
Penyakit ini terjadi akibat kekurangan energy dan protein atau karena ketidakseimbangan antara
konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi. Biasanya terjadi pada anak balita.

Penyakit ini dibagi dalam tingkat yakni :


1. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai antara 84-95% dari berat badan menurut standar
Harvard
2. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60% dari berat badan menurut standar
Harvard
3. KKP berat ( gizi buruk) kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan menurut standar
Harvard
Beberapa ahli hanya membedakan 2 macam KKP yakni KKP ringan atau gizi kurang dan KKP berat
(gizi buruk) atau yang lebih sering disebut marasmus.
1. Tanda-tanda gizi buruk pada kwashiorkor:
Edema seluruh tubuh (terutama pada punggung kaki)
Wajah bulat dan sembab.
Cengeng dan/rewel/apatis.
Perut buncit.
Rambut kusam dan mudah di cabut.
Bercak kulit yang luas dan kehitaman/bintik kemerahan.

2. Tanda-tanda gizi buruk pada marasmus:


Tampak sangat kurus.
Wajah seperti orang tua.
Cengeng/rewel/apatis.
Iga gambang, perut cekung.
Otot pantat mengendor.
Pengeriputanotot lengan dan tungkai.

Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda tanda klinis : oedema atau honger oedema,
oedema biasanya tampak pada daerah kaki.

b. Klasifikasi
1. Malnutrisi jenis bahan yang kurang
Kelompok KEP yaitu kurang energi protein. Ada 3 jenis: kwasiorkor, marasmik, dan marasmik
kwashiorkor
2. Kelompok kekurangan vitamin/mineral
a. Anemi kekurangan zat besi
b. Defisiensi vitamin A
c. Penyakit gondok endemic
d. Penyakit defisiensi lainnya seperti beri-beri, pellagra, scurvy, rickets
3. Menurut derajat tingkatan keadaan gizi
a. Gizi lebih
b. Gizi baik
c. Gizi kurang
d. Gizi buruk
4. Menurut sebab terjadinya malnutrisi
a. Primary malnutrition
Terjadi karena makanan yg dimakan (intake) tidak cukup / berlebihan
b. Secondary malnutrition
Terjadi meskipun makanan yg dimakan sudah cukup untuk kebutuhannya karena sebab lain, misal
karena kebutuhan meningkat, gangguan absorbsi

1. Kurang Energi Protein (KEP)/Protein Energi Malnutrition (PEM)/Protein Calori Malnutrition


(PCM)
o Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
o Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
o Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal
malnutrition)
o Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
o Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas
Salah satu gejala dari penderita KKP ialah hepatomegali yaitu pembesaran hati yang terlihat oleh ibu-ibu
sebgai pembuncitan perut. Ada berbagai variasi bentuk KKP yaitu penyakit kwashiorkor, marasmus, dan
marasmikwashiorkor. Kwashiorkor adalah penyakit KKP dengan kekurangan protein sebagai penyakti
dominan. Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi energi yan ekstrem. Marasmikwashiorkor
merupakan kombinasi defisiensi kalori dan protein pada berbagai variasi. Penyebab langsung dari KKP adalah
konsumsi kurang dan sebab tak langsungnya adalah hambatan absorbsi dan hambatan utilisasi zat-zat gizi
karena berbagai hal, misalnya karena penyakit. Penyakti infeksi dan infestasi cacing dapat memberikan
hambatan absorpsi dan hambatan utilisai zat gizi yang menjadi dasar timbulnya penyakit KKP.
Penyebab
. Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah
. Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan
. Pengetahuan yang kurang tentang gizi
. Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
. Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus
. Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai
kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
. Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi
Gejala klinis KEP ringan
. Pertumbuhan mengurang atau berhenti
. BB berkurang, terhenti bahkan turun
. Ukuran lingkar lengan menurun
. Maturasi tulang terlambat
. Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun
. Tebal lipat kulit normal atau menurun
. Aktivitas dan perhatian kurang
. Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan
Pembagian
. Marasmus
. Kwashiorkor
. Marasmus-kwashiorkor

2. Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai
sehingga anak menjadi kurus dan emosional. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan
ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi yang sering diare.
Penyebab
c. Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
d. Kebiasaan makanan yang tidak layak
e. Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan
Tanda dan gejala
a. Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
b. Mata besar dan dalam, sinar mata sayu
c. Mental cengeng
d. Feces lunak atau diare
e. Rambut hitam, tidak mudah dicabut
f. Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
g. Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur, baggy paint
h. Torax atau sela iga cekung
i. Atrofi otot, tulang terlihat jelas (muscle wasting)
j. Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya
k. Frekuensi nafas berkurang
l. Kadar Hb berkurang
m. Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin
3. Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3
tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.
Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat
perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
Penyebab
. Kekurangan protein dalam makanan
. Gangguan penyerapan protein
. Kehilangan protein secara tidak normal
. Infeksi kronis
. Perdarahan hebat
Tanda dan gejala
1. Wajah seperti bulan moon face
2. Pertumbuhan terganggu
3. Sinar mata sayu
4. Lemas-lethargi
5. Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
6. Rambut merah, jarang, mudah dicabut
7. Jaringan lemak masih ada
8. Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
9. Iga normal-tertutup oedema
10. Atrofi otot
11. Anoreksia
12. Diare
13. Pembesaran hati (perlemakan hepar)
14. Anemia
15. Sering terjadi acites
16. Oedema (edema kedua tungkai, pitting edema)

4. Kwashiorkor-marasmik memperlihatkangejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor


Penatalaksanaan
Secara umum
1. Ruangan cukup hangat dan bersih
2. Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
3. Pencegahan infeksi nosokomial
4. Penimbangan BB tiap hari
Secara khusus
Resusitasi dan terapi komplikasi
Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A
Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat
Dietetik
Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral
Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-
sedikit tapi sering)
Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat)
Persiapan pulang
Gejala klinik tidak ada
Nafsu makan baik
Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat
Komplikasi
Infeksi saluran pencernaan
Defisiensi vitamin
Depresi mental

5. Penyakit Defisiensi Vitamin A


Gejala-gejala defisiensi vitamin ini yang menumbulkan kekhawatiran para ahli kesehatan dn gizi
adalah berhubungan dengan kondisi mata, sedangkan gejala-gejala yang menyerang sistem tubuh lainnya tidak
memberikan gambaran yang menggugah kekhawatiran lainnya.
Gambaran defisiensi vitamin A yang menyangkut kondisi mata, disebut Xerophtalmia. Ternyata banyak kasus
Xerophthalamia yang berakibat gangguan penglihatan yang permanen bahkan sampai menjadi buta, terutama
pada kelompok umur dewasa muda. Defisiensi vitamin A primer disebabkan kekurangn konsumsi vitamin
tersebut, sedangkan defisiensi sekunder karena absorbsi dan utilitasnya terhambat.Konsumsi vitamin A kurang
adalah karena kebiasaan makan yang salah, tidak suka sayur dan buah, atau karena daya beli rendah, tidak
sanggup membeli bahan makanan hewani maupun nabati yang akaya akan vitamin A dan karoten tersebut.
DEFISIENSI VITAMIN A
Prevalensi tertinggi terjadi pada balita
Penyebab
Intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah
Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan
kadar vitamin A yang rendah pada ASI
MP-ASI yang kurang mencukupi kebutuhan vitamin A
Gangguan absorbsi vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll)
Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid
Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik)
Sifat
Mudah teroksidasi
Mudah rusak oleh sinar ultraviolet
Larut dalam lemak
Tanda dan gejala
Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea
Kadar vitamin A dalam plasma <20ug/dl
Tanda hipervitaminosis
Akut
Mual, muntah
Fontanela meningkat
Kronis
Anoreksia
Kurus
Cengeng
Pembengkakan tulang
Upaya pemerintah
Penyuluhan agar meningkatkan konsumsi vitamin A dan pro vitamin A
Fortifikasi (susu, MSG, tepung terigu, mie instan)
Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan
agustus), ibu nifas (200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)
Kejadian tertentu, ditemukan buta senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari
berikutnya (200.000 IU) dan 4 minggu berikutnya (200.000 IU)
Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan
100.000 IU, usia < 6 bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia demikian pula
pada 1-4 minggu kemudian dosis yang diberikan juga sesuai usia
Pasien campak, balita (200.000 IU), bayi (100.000 IU)
Catatan
Vitamin A merupakan nutrient esensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika
asupannya berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air
Gangguan asupan vitamin A bisa menyebabkan morbili, diare yang bisa berujung pada morbiditas dan
mortalitas, dan pneumonia

6. Penyakit Defisiensi Yodium


Salah satu manifestasi gambaran penyakit kekurangan zat gizi yodium yang meninjol ialah
pembesaran kelenjar gondok yang disebut penyakit gondok oleh awam atau nama ilmiahnya struma simplex.
Karena terdapat endemik di wilyah-wilayah tertentu yang kekurangan yodium, disebut juga endemic goitre.
Defisiensi yodium memberikan juga berbagai gambaran klinik lainnya yang disagak ada hubungan dengan
kondisi kekurangan zat gizi yodium itu, sehingga disebut Iodine Deficiency Diseases (IDD). Ada 4 jenis IDD
yaitu gondok endemic, hambatan pertumbuhan fisik dan mental yang diebut cretinism, hambatan neuromotor,
dan kondisi tuli disertai bisu.
GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)
Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara
terus menerus dalam waktu yang lama.
Merupakna masalah dunia
Terjadi pada kawasan pegunungan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium
Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan
menyebabkan pembesaran kelenjar gondok
Dampak
Pembesaran kelenjar gondok
Hipotiroid
Kretinisme
Kegagalan reproduksi
Kematian
Defisiensi pada janin
Dampak dari kekurangan yodium pada ibu
Meningkatkan insiden lahir mati, aborsi, cacat lahir
Terjadi kretinisme endemis
Jenis syaraf (kemunduran mental, bisu-tuli, diplegia spatik)
Miksedema (memperlihatkan gejala hipotiroid dan dwarfisme)
Defisiensi pada BBL
Penting untuk perkembangan otak yang normal
Terjadi penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang
dilahirkan dari wanita yang mengalami defisiensi yodium
Defisiensi pada anak
Puncak kejadian pada masa remaja
Prevalensi wanita lebih tinggi dari laki-laki
Terjadi gangguan kinerja belajar dan nilai kecerdasan
Klasifikasi tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)
Tingkat 0 : tidak ada pembesaran kelenjar
Tingkat IA : kelenjar gondok membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi,
pembesaran tidak terlihat pada posisi tengadah maksimal
Tingkat IB : hanya terlihat pada posisi tengadah maksimal
Tingkat II : terlihat pada posisi kepala normal dan dapat dilihat dari jarak 5 meter
Tingkat III : terlihat nyata dari jarak jauh
Sasaran
Ibu hamil
WUS
Dosis dan kelompok sasaran pemberian kapsul yodium
Bayi < 1tahun : 100 mg
Balita 1-5 tahun : 200 mg
Wanita 6-35 tahun : 400 mg
Ibu hamil (bumil) : 200 mg
Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
Pria 6-20 tahun : 400 mg
GAKY tidak berhubungan dengan tingkat sosek melainkan dengan geografis
Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium
Fetus : abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi
mental, mata juling), cacat bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor
Neonatus : gangguan psikomotor, hipotiroid neonatal, gondok neonatus
Anak dan remaja : gondok, hipotiroid juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan
perkembangan
Dewasa : gondok, hipotiroid, gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium
Sumber makanan beryodium yaitu makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food. Sedangkan
penghambat penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung, buncis, makanan
yang panas, pedas dan rempah-rempah.
Pencegahan/penanggulangan
Fortifikasi : garam
Suplementasi : tablet, injeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium

7. Anemia Defisiensi Zat Besi


Pengaruh defisiensi Fe, terutama melalui kondisi gangguan fungsi hemoglobin. Merupakan alat
transportasi O2 yang diperlukan pada banyak reaksi metabolik tubuh. Pada anak sekolah telah ditunjukkan
adanya korelasi erat antara kadar hemoglobin dan kesanggupan anak untuk belajar. Dikatakan bahwa pada
kondisi anemia, daya konsentrasi dalam belajar menurun.
Defisiensi Fe dapat didiagnosisi berdasarkan data klinik dan data laboratorik yang ditunjang oleh data
konsumsi pangan. Gambaran klinik memperlihatkan kondisi anemia. Muka penderita terlihat pucat, juga
selaput lendir kelopk mata, bibir, dan kuku. Penderita terlihat dan merasa bandannya lemah, kurang bergairah,
dan cpeat merasa lelah, serta sering menunjukkan sesak napas. Data laboratorik memperlihatkan kadar
hemoglobin menurun di bawah 11%, bahkan pada yang berat penurunan hemoglobin ini dapat mencapai
tingkat di bawah 10% atau lebih rendah lagi, sampai di bawah 4%. Data konsumsi mungkin memperlihatkan
hidangan yang kurang mengandung daging atau bahan makanan hewani lain, dan juga kurang sayur serta daun
yang berwarna hijau.
ANEMIA
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan
untuk pematangan eritrosit.
Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat
defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya
defisiensi tersebut.
Macam-macam anemia

Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin
Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisa
diakibatkan defisiensi vitamin B12
Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik

ANEMIA DEFISIENSI BESI


Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi
Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab
terjadinya disfungsi otak permanen
Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya
kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku.
Ciri
Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi
Kadar Hb meningkat 29% setiap 3 minggu
Tanda dan gejala
Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra)
Lemah
Lesu
Hb rendah
Sering berdebar
Papil lidah atrofi
Takikardi
Sakit kepala
Jantung membesar
Dampak
Produktivitas rendah
SDM untuk generasi berikutnya rendah
Penyebab
Sebab langsung
Kurang asupan makanan yang mengandung zat besi
Mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi
Infeksi penyakit
Sebab tidak langsung
Distribusi makanan yang tidak merata ke seluruh daerah
Sebab mendasar
Pendidikan wanita rendah
Ekonomi rendah
Lokasi ggeografis (daerah endemis malaria)
Kelompok sasaran prioritas
Ibu hamil dan menyusui
Balita
Anak usia sekolah
Tenaga kerja wanita
Wanita usia subur
Penanganan
Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun
menyusui
Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin
kepada balita
Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah
serta pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja
wanita
Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)

Program pemerintah penanggulangan KEP


Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama
Ibu hamil
Bayi
Balita
Anak-anak sekolah dasar
Keterpaduan kegiatan
Penyuluhan gizi
Peningkatan pendapatan
Peningkatan pelayanan kesehatan
Keluarga berencana
Peningkatan peran serta masyarakat
Kegiatan
Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu
Penanganan secara khusus KEP berat
Rujukan pelayanan gizi di posyandu
Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi
ASI eksklusif

Kelebihan Gizi pada anak


Konsumsi terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energy. Kelebihan energi
dalam tubuh ini disimpan dalam bentuk lemak. Seseorang dikatakan menderita obesitas bila berat badannya
pada laki laki melebihi 15% dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya. Pada
orang orang yang obesitas, organ organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat. Oleh sebab itu, pada
umumnya lebih cepat gerah,capai dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja.
Akibat dari penyakit obesitas ini adalah penderita cenderung menderita penyakit kardiovaskuler,
hipertensi,dan diabetes mellitus. Obesitas adalah keadaan penimbunan jaringan lemak tubuh yang berlebihan.
Obesitas terjadi bila asupan energi melebihi pengeluarannya. Ketidakseimbangan ini terjadi karena jumlah
makanan yang dimakan berlebihan dibandingkan energi yang dikeluarkan untuk aktivitas anak sehari-hari.
Secara ilmiah didefinisikan sebagai indeks massa tubuh terletak di atas persentil 95 kurva BMI CDC 2000.
Bila masih di atas persentil 85 maka perlu dikatakan memiliki risiko obestitas.
OBESITAS
adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak
secara berlebihan diseluruh tubuh.
Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang
diperlukan untuk fungsi tubuh
Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik
dengan obesitas

BB >>> tidak selalu obesitas


Penyebab
Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
Aktifitas fisik yang rendah
Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
Laju pertumbuhan yang sangat cepat
Genetik atau faktor keturunan
Gangguan hormon
Gejala
Terlihat sangat gemuk
Lebih tinggi dari anak normal seumur
Dagu ganda
Buah dada seolah-olah berkembang
Perut menggantung
Penis terlihat kecil
Terdapat 2 golongan obesitas
Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat
Resiko/dampak obesitas
Gangguan respon imunitas seluler
Penurunan aktivitas bakterisida
Kadar besi dan seng rendah
Penatalaksanaan
Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang,
adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik
yang intensif menjadi pilihan utama
Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh
mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap
mengandung zat gizi esensial.
Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah
perilaku makan
Mengatasi gangguan psikologis
Meningkatkan aktivitas fisik
Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)

Tanda dan Gejala


Obesitas pada anak ditandai dengan beberapa ciri sebagai berikut:
1. pertumbuhan atau pertambahan berat badan di atas rata-rata
2. mulai tampak gemuk sejak usia dini
3. asupan makan berlebih
4. ada riwayat keturunan obesitas
5. tidurnya mengorok
6. aktivitas sehari-hari hanya ringan-ringan saja/ sedentary life
7. muka tembem, dagu rangkap, leher pendek
8. terdapat bagian tubuh yang berlipat-lipat
9. perut buncit
10. pada anak lelaki penis tenggelam (tertutup lipatan tubuh), nak laki-laki sering merasa malu karena
payudara seolah olah tumbuh,menggantung dan sering disertai strie
11. Anak lebih cepat mencapai pubertas. Kematangan sexsual lebih cepat, pertumbuhan payudara,
menarke, pertumbuhan rambut kelamin dan ketiak juga lebih cepat

Yang akan Dilakukan Dokter di RS


1. Dokter akan memeriksa tanda dan gejala obesitas pada anak Anda dan akan melakukan beberapa
pemeriksaan sebagai berikut:
- pengukuran BB dan TB untuk mendapatkan nilai BMI (Body Mass Index)
- membandingkan perubahan berat badan dengan tinggi badan
- memeriksa daerah tubuh yang berlipat-lipat karena timbunan lemak
- tekanan darah
- memeriksa daerah tubuh seperti rambut, tanda-tanda sekunder kelamin, perkembangan seksual, perut,
jari dan kaki, serta daerah penis.
Dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium yang tujuannya untuk mengetahui penyebab
obesitas. Tidak semua harus dilakukan, harus sesuai dengan indikasi:
1. darah perifer lengkap
2. tes toleransi glukosa
3. fungsi tiroid
4. profil lipid
5. sekresi dan fungsi growth hormon
6. kalsium, fosfat, dan kadar hormon paratiroid
7. fungsi hati: SGOT dan SGPT
8. foto orofaring
9. USG hati
10. MRI untuk cek hipotalamus dan hipofisis
11. Sleep studies untuk mendeteksi sleep apneu

Komplikasi
Berbagai keadaan yang erat hubungannya dengan obesitas, baik yang terjadi pada masa bayi maupun masa
dewasa antara lain:

1. Terhadap kesehatan : Obesitas ringan sampai sedang, morbiditasnya kecil pada masa anak-anak. Tetapi
bila obesitas masih terjadi setelah dewasa, maka morbiditas atau mortalitasnya akan menigkat. Terdapat
korelasi positif antara tingkat obesitas dengan berbagai penyakit infeksi, kecuali TBC. Morbiditas dan
mortalitas yang tinggi tersebut, dikaitan dengan menurunya respon immunologic sel T dan aktfitas sel
Polimorfonuklear.

2. Saluran pernafasan : Pada bayi, obesitas merupakan resiko terjadinya infeksi saluran pernafasan bagian
bawah, karena terbatasnya kapasitas paru-paru. Adanya hipertropi tonsil dan adenoid akan mengakibatkan
obstruksi saluran nafas bagian atas, sehingga mengakibatkan anuksia dan saturasi oksigen rendah, yang
disebut sindrom Chubby Puffer. Obstruksi kronis saluran pernafasan dengan hipertropi tonsil dan adenoid,
dapat mengakibatkan gangguan tidur, gejala-gejala jantung dan kadar oksigen dalam darang yang abnormal.
Keluhan lainnya adalah nafas yang pendek.

3. Kulit sering lecet karena gesekan. Anak merasa gerah atau panas sering di sertai miliaria, maupun jamur
pada lipatan-lipatan kulit.

4. Ortopedi : Anak obesitas pergerakannya lambat. Sering terdapat kelainan ortopedi seperti Legg-perthee
disease, genu valgum, slipped femoral capital epiphyses, tibia vara dll.
5. Efek psiokologis : Kurangnya percaya diri. Anak pada masa remaja yang obesitas biasanya pasif dan
depresi. Karena sering tidak di libatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh teman sebayanya. Juga sulit
mendapatkan pacar, karena merasa potongan tubuhnya jelek, tidak modis, merasa rendah diri sehinga
mengisolasikan diri pergaulan dengan teman temannya. Gangguan kejiwaan ini juga dapat sebagai penyebab
terjadinya obesitas, yaitu dengan melampiasakan setres yang dialaminya ke makanan.

6. Bila obesitas pada anak terus berlanjut sampai masa dewasa dapat mengakibatkan:
- Hipertensi pada masa odelesensi.
- Hyperlipidemia, aterosklerosis, penyakit jantung coroner, hipertensi maligna pada dewasa.
- Diabetes
- Sindrom pickwickian merupakan komplikasi yang berat dari obesitas dewasa, yaitu gangguan pada
jantung dan pernafasan, hipoventilasi. Dengan manifestasi polisitemia, pipoksemia, sianosis, pembesaran
jantung, gagal jantung, tongesif, dan somnolen. Kita harus berhati-hati pada pemberian oksigen konsentrasi
tinggi pada anak ini. Usaha pengurusan badan sangat penting bila terjadi komplikasi ini.
- Maturitas sexsual lebih awal, mensturasi sering tidak teratur

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan obesitas pada anak berbeda dengan pengobatan obesitas dewasa, karena
tujuannya hanya menghambat laju kenaikan berat badan yang pesat tersebut dan tidak boleh diet
terlalu ketat. Sehingga pengaturan dietnya harus dipertimbangkan bahwa anak masih dalam masa
pertumbuhan sesuai tinggat pertumbuhan pada usia anak tersebut. Disamping itu pengobatan obesitas pada
anak sering gagal, kecuali mendapat dukungan dari seluruh keluarga. Olahraga atau aktifitas tubuh yang
teratur sangat penting dalam upaya penata laksanaan obesitas pada anak ini.

Pada prinsipnya pengobatan anak dengan obesitas adalah sebagai berikut:


1. Memperbaiki factor penyebab, misalnya kesalahan cara pengasuhan maupun factor kejiwaan.
2. Motivasi penderita obesitas dewasa tentang perlunya penggusauran badan. Sedangkan orang tua bayi atau
anak yang obesitas harus dimotivasi tentang pentingnya memperlambat kenaikan berat badan bayi atau
anaknya.

3. Pemberian diet rendah kalori seimbang untuk menghambat kenaikan berat badan kemudian membimbing
pengaturan makanan yang sesuai untuk mempertahankan gizi yang ideal sesuai dengan pertumbuhan anak.
Ditambahkan pula vitamin dan mineral.

4. Mengajukan penderita untuk olahraga yang teratur atau anak bermain secara aktif, sehingga banyak
energy yang banyak digunakan.

Baik terapi diet maupun pisiko terapi harus diberikan pada seluruh keluarga. Sehingga seluruh
keluarga seolah-olah turut serta dalam usaha pencapaian berat badan tersebut.

Cara pengaturan dietnya adalah sebagai berikut:

1. Pada bayi yang mengalami obesitas, tujuan terapi bukan untuk menurunkan berat badannya seperti pada
obesitas dewasa, teteapi memperlambat kecepatan kenaikan berat badannya. Bayi diberikan diet sesuai degan
kebutuhan normal untuk pertumbuhan, yaitu 110 kkal/kg. BB/hari untuk bayi kurang dari 6 bulan dengan 90
kkal/kg. BB/hari untuk bayi lebih dari 6 bulan. Susu botol jumlahnya harus dikurangi dengan cara diselingi
dengan air tawar, disamping itu tidak dianjurkan memberi susu yang diencerkan, susu rendah atau tanpa
lemak. Disamping itu kita anjurkan pada ibunya agar anak tidak digendong saja, tetapi dibiarkan melakukan
aktifitas.

2. Pada anak prasekolah yang menglami obesitas, kenaikan berat badannya harus diperlambat, dengan
memberikan diet seimbang 60 kkal/kg. BB/hari. Atau bisa juga dari makan keluarga dengan porsi kecil dan
menghindari makanan yang mengandung kalori tinggi. Selain itu kita harus mendorong anak untuk melakukan
aktifitas fisik dan mencegah menonton TV berlebihan.
3. Pada anak usia sekolah (prapubertas) yang obesitas, kita berusaha mempertahankan berat badan anak
dan menaikan tinggi badannya. Diet diberikan 1200 kkal/hari atau sekitar 60 kkal/kg. BB/hari. Mendorong
anak melakukan aktifitas fisik secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok. Tidak boleh menonton TV
terlalu lama, lebih lebih jika disertai makan makanan yang bekalori tinggi. Mengorganisir kelompok olah
raga atau rekreasi, agar anak lebih aktif.

4. Pada obesitas dewasa, kita harus menurunkan berat badannya untuk mencapai berat badan yang
diharapkan sesuai dengan tinggi badannya. Diet di berikan sekitar 850 kkal/hari, ataupun ingin menurunkan
berat badan 500 kkal/hari. Selain itu anak harus didorong untuk melakukan aktifitas baik sendiri maupun
secara berkelompok. Mendorong anak agar mau melakukan interaksi dengan teman temannya.

Prognosis
Prognosis obesitas tergantung pada penyebab dan ada tidak adanya komplikasi. Obesitas yang
berlanjut sampai dewasa, morbiditas dan mortalitasnya tinggi.

Pencegahan
Mencegah obesitas lebih baik daripada mengobati jika sudah terjadi obesitas yang penting adalah
mengubah pandangan masyarakat agar mereka tidak menganggap bahwa sehat itu identing dengan gemuk.
Pencegahan harus sedini mungkin yang dimulai sejak dari bayi, yaitu dengan memberikan ASI. Bayi
yang minum ASI mempunyai mekanisme tersendiri dalam mengontrol berat badan bayi. Komposisi ASI pada
saat baru mulai disusui (Foremilk) lemaknya sedikit, sedangkan pada akhir menyusui (hint milk) kadar
lemaknya lebih tinggi, sehingga menimbulkan rasa nek pada bayi, akibatnya bayi akan menghentikan
menyusu. Pemberian ASI ekskulif empat (4) bulan, kemudian, makanan tambahan diberikan mulai umur
empat (4) bulan, dan pemberian ASI dianjuran sampai umur 2 tahun. Tidak memberikan minuman atau
makanan setiap anak menangis, kecuali kalau kita yakin bahwa anak tersebut memang lapar. KMS (Kartu
Menuju Sehat) perlu untuk memnatau pertumuhan anak, sehingga kita mengetahui penyimpangan arah dari
grafik berat badan anak. Anak sedini mungkin dikenalkan aktifitas fisik, baik melalui bermain maupun
olahraga. Menonton TV hanya sebagai selingan saja.

Strategi Pencegahan Dan Penanggulangan Gizi Buruk

Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dan keluarga
dalam memantau, mengenali dan menanggulangi secara dini gangguan pertumbuhan pada balita
utamanya baduta.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM puskesmas beserta jaringannya dalam tatalaksana
gizi buruk dan masalah gizi lain, manajemen laktasi dan konseling gizi.
Menanggulangi secara langsung masalah gizi yang terjadi pada kelompok rawan termasuk keadaan
darurat melalui suplementasi zat gizi mikro, MP-ASI, makanan tambahan dan diet khusus.
Mewujudkan keluarga sadar gizi melalui advokasi, sosialisasi dan KIE gizi seimbang.
Mengoptimalkan surveilans berbasis masyarakat melalui SKDN, Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian
Luar Biasa (SKD-KLB) Gizi Buruk, dan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG), untuk
meningkatkan manajemen program perbaikan gizi.
Mengembangkan model intervensi gizi tepat guna yang evidence based.
Menggalang kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan masyarakat beserta swasta/dunia usaha
dalam memobilisasi sumberdaya untuk penyediaan pangan di tingkat rumah tangga, peningkatan daya
beli keluarga, dan perbaikan pola asuhan gizi keluarga.

LI.4. Memahami dan menjelaskan gaya hidup tidak sehat pada anak

1. Diet tidak seimbang.Sejak kecil, anak-anak harus terbiasa mengenal makanan sehat. Seperti
membawa makanan ringan buatan rumah sebagai bekal sekolah atau menyantap potongan buah dan
sayur sebagai camilan. Kenalkan mereka pada makanan bernutrisi yang rendah lemak dan gula.
2. Aktivitas fisik yang kurang. Ajak mereka melakukan kegiatan fisik seperti olahraga ringan. Kegiatan
itu tak hanya membebaskan mereka dari segudang penyakit namun juga mengajarkan anak-anak untuk
memiliki pandangan positif.
3. Tidak ada batasan waktu dalam menonton TV. Batasi waktu mereka menonton TV. Saat menonton
TV, mereka jadi enggan bergerak. Hal itu berujung pada risiko penyakit kardiovaskular dan
kegemukan. Aturan itu pun sebaiknya berlaku pada jam-jam mereka bermain video game atau
mengoperasikan komputer.
4. Tidak menggosok gigi. Ajarkan mereka menggosok gigi sebanyak dua kali sehari. Beri mereka
pengetahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi.
5. Tidak mencuci tangan. Anak-anak harus mencuci tangan sebelum dan sesudah menyantap apapun.
Mereka juga harus membersihkan tangan setelah batuk, flu, atau menyentuh barang-barang kotor.
6. Konsumsi air yang kurang. Saat anak berusia enam bulan, dokter menyarankan orangtua
mengenalkan air putih pada mereka. Kebiasaan minum air putih akan mengeluarkan racun dari dalam
tubuh.(Magforwoman)
7. Menghabiskan makanan hingga piring bersihPada umumnya, anak-anak yang sehat akan makan
ketika mereka merasa lapar dan berhenti sebelum kekenyangan. Namun banyak orang tua yang secara
tidak sadar mengacaukan hal ini dengan mengajarkan anak untuk menghabiskan makanan sampai
piring bersih. Hal ini akan membuat anak bisa makan hingga terlalu kenyang. Sebaiknya sediakan
porsi makan yang sesuai untuk anak, tidak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak.
8. Tingginya konsumsi gula. Sudah merupakan hal yang biasa untuk kebanyakan orang tua membujuk
anak-anak mereka agar mau memakan buah-buahan atau sayur-sayuran dengan sogokan atau hadiah
diberikan makanan penutup yang manis seperti permen, cokelat es krim dan lain sebagainya. Hal ini
tentu saja tidak baik karena secara tidak langsung Anda mengajarkan anak berpikir bahwa makanan
manis adalah makanan paling enak daripada makanan utama. Akibatnya, anak akan terbiasa
mengonsumsi makanan penutup yang manis setelah mereka makan makanan seimbang yang sehat.
9. Ngemil terlalu banyak. Memberikan cemilan terlalu banyak kepada anak akan membuat anak
kenyang dengan makanan yang tidak mengandung nutrisi untuk tubuh mereka, sehingga mereka akan
menolak untuk makan makanan yang sehat. Selain itu, kebiasaan mengemil pada anak juga tentu saja
akan memicu obesitas.
10. Konsumsi kalori berlebih dari minuman. Minuman seperti soda, jus kalengan dan smoothies yang
mudah ditemukan di mana-mana mengandung kalori yang tinggi serta tidak memberikan vitamin atau
nutrisi apapun untuk tubuh. Oleh karena itu biasakan memberi Anak anda air putih, susu atau jus yang
dibuat sendiri di rumah.
11. Terlalu lama di depan layar kaca. Tidak membatasi waktu anak di depan layar kaca juga dapat
berdampak kepada berat badan mereka. Jangan izinkan anak seharian berada di depan layar kaca
seperti menonton televisi, bermain video games atau komputer. Hindari menggunakan televisi atau
media lainnya untuk menjadi pusat perhatian anak Anda saat waktu makan dan bercengkrama dengan
Anda.
12. Tak mengacuhkan waktu tidur. Kekurangan waktu tidur dapat menyebabkan keinginan untuk
mengemil dan makan lebih banyak dari biasanya karena mereka membutuhkan asupan ekstra energi
untuk tidak tertidur. Oleh karena itu atur jam tidur anak Anda 8-9 jam setiap hari. (eh)
13. Suka ngemil sembari menonton televisi
14. Malas olahraga
15. Malas minum air putih
16. Suka makanan yang diproses
17. Sering stress dan perilaku suka makan
18. Tidak melakukan 3J : Jenis makanan yang beraneka, Jam makan yang teratur, dan Jumlah makanan
secukupnya
19. Tidak menghindari 3G : Gula, Garam, Goreng-gorengan
20. Tidak minum air putih yang cukup (minimal 2 liter per hari)
21. Mengkonsumsi makanan kaleng
22. Tidak menyikat gigi setelah makan

LI.5. Memahami dan menjelaskan PHBS dan pemberdayaan masyarakat dari pandangan Islam

Al-quran banyak ayat yang menganjurkan unntuk bersuci. Alalh berfirman :



Dan pakaianmu bersikanlah (QS.Al Muddatsir ayat: 4)


Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan orang orang yang mermbersikan diri. (
QS. Al baqarah:222 ).
Ada dua makna dalam mengarti suci, yaitu suci dari hadats dan suci dari najis. Hadats dan najis
merupakan sesuatu yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti shalat. Hadats
berbeda dengan najis karena hadats berarti keadaan dan bukan suatu benda atau zat tertentu, sedangkan najis
berarti benda atau zat tertentu dan bukan suatu keadaan.
Memberdayakan masyarakat dalam bidang kesehatan adalah hal yang benar, maka dalam islam pun
diajarkan.

Dalam Islam, kesehatan termasuk hal utama. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa banyak
ayat Al-Quran dan hadist yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satu contohnya adalah wahyu kedua
yang dibawakan Jibril, yaitu Ayat 1-5 Surat Al Mudatstsir. Wahyu tersebut belum mengenai shalat, puasa
dan zakat, tetapi perintah untuk berdakwah dan mengenai kesucian (kebersihan) dan menjauhi kekotoran.

Pada ayat di atas tampak bahwa kebersihan menjadi pangkal kesehatan. Ilmu kesehatan modern tetap
berpendirian bahwa kebersihan merupakan pangkal kesehatan. Tidaklah heran kalau kebersihan umumnya
merupakan salah satu kewajiban yang selalu diperintahkan Nabi Muhammad SAW kepada para pengikutnya
dan dijadikan sendi dasar dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara dalam hadits lebih banyak lagi dijumpai peraturan-peraturan kesehatan. Salah satu sabda
Nabi SAW yang terkenal adalah Annadha fatu minal iiman yang berarti bahwa Kebersihan itu adalah
sebagian dari pada iman. Hadist lain menyatkana bahwa orang mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah
daripada orang mukmin yang lemah. Ajaran kesehatan Nabi SAW yang lain adalah khitan sangat sesuai
dengan kebersihan dan kesehatan. Mengurus mayat menurut hukum Islam juga sesuai dengan kebersihan.
Juga tentang pemberantasan penyakit menular telah diatur lengkap dalam hadist.

Urgensi Kebersihan dan Kesehatan


Islam tidak membiarkan manusia di alam ini terbelenggu dalam persoalan yang tidak dapat
dipecahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini,
sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik. (QS. Ali Imran: 179)
Salah satu tujuan dari ajaran Islam ialah menghilangkan kemadharatan/bahaya (dafu al-dharar) yang
menimpa manusia baik bahaya yang mengancam fisik maupun psikis. Tujuannya adalah agar manusia dapat
menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT. -menyembah dan mengabdi kepada-Nya- di muka bumi
ini dengan baik. Jika kondisi fisik atau psikis seseorang tidak sehat tentu ia tidak akan dapat menunaikan tugas
tersebut dengan baik. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah kesehatan dan menganjurkan agar
manusia menjaga kesehatan.
Di samping itu, untuk mencapai tubuh yang sehat, dalam pandangan Islam tidak cukup hanya
mengandalkan faktor internal tubuh manusia saja, tetapi juga faktor lingkungan. Sebaik apapun makanan yang
dikonsumsi manusia, jika lingkungannya tidak sehat atau tidak bersih, maka ancaman penyakit masih tetap
besar. Karena penyakit bisa datang melalui makanan yang dikonsumsi dan bisa juga melalui udara dan hewan
yang kotor. Maka dari itu, Islam juga sangat menekankan kebersihan.

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah


beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Q.S Al-
Baqarah : 16)

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (Q.S Abasa : 24)