Вы находитесь на странице: 1из 39

Daftar Isi

Daftar Isi................................................................................................................... 1

Kata Pengantar........................................................................................................... 2

BAB 1 PENDAHULUAN

Latar Belakang.......................................................................................................... 3

Tujuan........................................................................................................................ 3

Case........................................................................................................................... 3

Learning Progress Report.......................................................................................... 5

BAB 2 PEMBAHASAN

Perdarahan................................................................................................................ 8

Abortus...................................................................................................................... 9

Kehamilan Ektopik.................................................................................................... 14

Mola Hidatidosa........................................................................................................ 19

Plasenta Previa.......................................................................................................... 25

Solusio Plasenta........................................................................................................ 28

Intepretasi................................................................................................................. 35

BAB 3 PENUTUP

Kesimpulan............................................................................................................... 38

REFERENSI........................................................................................................... 39

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 1


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Yang dengan izinnya maka
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini merupakan makalah mengenai komplit yang
didiskusikan sejak tanggal 04 April 2011.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada bapak dr.Eka atas segala pengarahan,
bimbingan, dan kasih sayang yang telah dicurahkan selama proses tutorial. Terima kasih juga
kepada kelompok tutorial C-2 atas kerjasamanya mulai dari proses pembahasan hingga
pembuatan makalah ini.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai laporan dan kesimpulan dari
diskusi yang telah kami lakukan dalam pembahasan kasus ini serta untuk menambah
pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar kami
dapat lebih baik lagi untuk ke depannya.

Terimakasih atas segala perhatiannya dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, 7 April 2011

Penulis

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 2


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah abortus dipakai untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di
luarkandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya
janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 1000 gram dapat hidup terus, maka
abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 1000
gramatau kurang dari 28 minggu. Dapat diadakan perbedaan antara abortus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dan abortus pada kehamilan antara 20 dan 28 minggu; yang terakhir ini
dinamakan pula partus immaturus.

Abortus yang berlangsung tanpa tindakan apa pun disebut abortus spontan. Abortus
buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 28 minggu sebagai akibat sesuatu tindakan.
Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik.

B. Tujuan

Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi serangkaian tugas dari
case "Abortus Inkomplit. Selain itu juga untuk menambah ilmu pengetahuan, dan sebagai
media untuk belajar bagi yang membacanya.

Case
Page 1

Mrs. Chika, 28 years old, G2P1 who is pregnant 10 weels gestation complains of a 2 day
history of vaginal spotting and lower abdominal pain. Mrs. Chika confesses, she smokes 8
cigarettes/day. Theres no trauma history.

Physical examinations :

General conditions : Good, not anemic

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 3


Height : 160 cm, Weight : 55 kg
Vital signs are within normal limit
Heart and lungs are normal
Abdomen : -Normal contour, palpation : slight tenderness on the supra pubic area
-Abdominal mass : not found
-Uterus : not palpable
Inspection : mild vaginal bleeding, Chadwick sign is positive
Speculum examination : fluxus positive from external uterine ostium
Vaginal Toucher :
1. Portio : soft, cervical notion tenderness : not found
2. Uterine ostium : closed
3. Uterus Size : rather enlarged and soft
- Hegar sign positive
- Piskacek sign positive
4. Adnexal area : no mass, no tenderness
5. Douglas pouch : bulging not found, no tenderness

Laboratory examinations :

Hb : 12,1 gr%

Progesterone level : within normal limit

Page 2

Mrs. Chika, G2P1A0 at 18 weeks gestation. She spotting and dull abdominal pain, 6 hours
ago, she stated she had been experiencing lower abdominal pain and vaginal bleeding, when
she was void, there was mass like liver from her vagina. She has no history of trauma. Mrs.
Chika confess that shes still smoking during pregnancy.

Physical examination

Blood pressure : 120/80 mmHg

Heart Rate : 100 bpm

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 4


Heart nad lungs are within normal limit

Obstetric examination reveals :

Fundal height is 3 fingers above symphisis

Speculum examination :

Fluxus negative

Portio : close

Laboratory result :

Hb 10,3 gr%

Page 3

Doctor does vaginal observation

Treatment for mild anemia : Ferrous sulfat for 2 weeks

Learning Progress Report


Terminologi

1. Fluxus :

Problem

1. Apa yang mengakibatkan Mrs. Chika mengalami vaginal spotting pada kehamilan ke
2?
2. Apa yang menyebabkan Mrs. Chika mengalami lower abdomen pain pada kehamilan
ke-2 ?
3. Apa pengaruh rokok pada kehamilan?
4. Mengapa Mrs. Chika merasakan nyeri tekan ringan di abdomen?
5. Apa yang menyebabkan perdarahan ringan pada kehamilan?
6. Apa penyebab keluarnya fluxus dari ostium uteri external?

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 5


7. Mengapa diperiksa nyeri goyang serviks?
8. Apa saja jenis-jenis abortus? Jelaskan perbedaannya?
9. Apa saja gejala kehamilan ektopik? Kenapa dan bagaimana terjadinya?
10. Kenapa Mrs. Chika masih mengalami spotting dan nyeri abdomen tumpul pada
kehamilan 18 minggu?
11. Kenapa ada massa keluar dari vaginanya saat BAK? Bagaimana terjadinya?
12. Massa yang keluar berupa apa?
13. Kenapa tinggi fundusnya masih 3 jari diatas simfisis padahal sudah 18 minggu
kehamilan?
14. Mengapa flusxusnya menjadi negatif?

Hipotesis

1. Abortus
2. Kehamilan Ektopik
3. Kista
4. Mola hidatidosa
5. Anemia

More Info

1. Sudah ada massa yang keluar?


2. Px. Fisik lanjutan?
3. Px. Penunjang?

IDK & LI

1. Perdarahan Kehamilan
a. <20 minggu :
Abortus
KET
Molahidatidosa
b. Antepartum :
Plasenta Previa
Solusio Plasenta
2. Abortus, KET, Molahidatidosa

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 6


a. Definisi
b. Klasifikasi
c. Etiologi
d. Patofisiologi
e. Gejala Klinis
f. Diagnosis
g. Komplikasi & dampak pada kehamilan selanjutnya
h. Penatalaksanaan
3. Plasenta Previa, Solusio Plasenta
~~~~~~~~Idem no.2~~~~~~~~
4. Intepretasi

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 7


BAB 2

Pembahasan

PERDARAHAN

Perdarahan selama kehamilan dapat dianggap sebagai suatu keadaan akut yang dapat
membahayakan ibu dan anak, sampai dapat menimbulkan kematian.

1. PERDARAHAN PADA TRIMESTER I


a.Penyebab :
1) Abortus
2) Mola hidatidosa
3) Kelainan lokal pada vagina/servik : Varises, Perlukaan, Karsinoma, Erosi, Polip
4) Kehamilan ektopik terganggu

2. PERDARAHAN PADA TRIMESTER II


Perdarahan pada trimester II sering dihubungkan dengan adanya komplikasi
lambat dalam kehamilan,seperti:
a. partus prematurus imminen
b. pertumbuhan janin yang terlambat
c. dan solusio plasenta
d. Dapat juga perdarahan disebabkan oleh mola hidatidosa dan inkompetensi servik

3. PERDARAHAN PADA TRIMESTER III (ANTEPARTUM)


Perdarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi pada umur kehamilan yang
lebih tua terutama setelah melewati trimester ke III.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 8


Abortus

Abortus adalah akhir kehamilan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 20 minggu
dengan berat janin kurang dari 500 gr.

Etiologi terjadinya abortus diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Faktor genetik
- Mendelian
- Multifaktor
- Robertsonian
- Resiprokal
2. Kelainan kongenital uterus
- Anomali duktus uteri
- Septum uteri
- Uterus bikornis
- Inkompetensi serviks uterus
- Mioma uteri
- Sindroma Asherman
3. Autoimun
- Aloimun
- Mediasi imunitas humoral
- Mediasi imunitas seluler
4. Defek fase luteal
- Faktor endokrin eksternal
- Antibodi antitiroid hormon
- Sintesis LH tingggi
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan

Abortus diklasifikasikan menjadi 2 :

1. Abortus Spontan
Abortus yang berlangsung tanpa disengaja. Berdasarkan gejala, tanda, dan proses
patologi yang terjadi, abortus spontan diklasifikasikan menjadi 5 :

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 9


a. Abortus Iminens
Gejala dan Tanda :
- Perdarahan pervaginam
- Ostium uteri tertutup
- Hasil konsepsi masih baik dalam kandungan
- Besar uterus sesuai dengan umur kehamilan
- Tes kehamilan urin positif

Diagnosis :

o Pada pemeriksaan spekulum, mulut rahim tertutup


o Uterus kurang dari usia kehamilan

Laboratory tests

1. Complete blood count. Tidak menunjukan kehilangan darah akut

2. Analisis serum beta-HCG level may be positive

Karna saat janin mati beta hCG masih bertahan sampai beberapa minggu

3.USG harusnya dapat mendeteksi gerakan jantung janin saat 7 minggu


kehamilan atau lebih. Jika sampai 9 minggu tidak ada maka dipertimbangkan
untuk kuretase

- Darah keluar dari serviks tanpa cairan amniotik atau jaringan di kanal
endoservikal

- Uterusnya lembek

Komplikasi :

1. Tumor :

- serviks sering berdarahdr jaringan lunak kanal serviks

- homeostatis dapat disesuaikan dengan menggunakan tekanan selama


beberapa menit dengan kain

- atau dengan cautery dengan batang nitrat perak

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 10


- tumor yg tidak biasa, biasanya dievakuasi dengan colposcopy dan biopsy

2. Hamil anggur : pendarahan dini, terlihat seperti anggur keluar dr kavum


uteri, (USG : terlihat badai salju/ sarang lebah)

3. Ektopik :

-pendarahan pd trimester I disertai dengan radang pelvic

- nyeri andomen dan nyeri yang mmenjalar pada pelvis

Penatalaksanaan : bed rest + sedati, tidak boleh melakukan koitus.

b. Abortus Insipiens
Gejala dan Tanda :
- Serviks telah mendatar
- Ostium uteri telah membuka
- Hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran
- Besar uterus sesuai dengan usia kehamilan
- Tes kehamilan urin positif

Komplikasi :

1. Incomplete abortion, saat janin sudah keluar, jaringan mungkin terlihat


divagina / kanal servikalis

2. Iminent abortus, saat mulut rahimtertutup dan tidak bisa masuk jari.

3. Serviks inkompeten, diciri-cirikan dengan dilatasi serviks tanpa nyeri


abdomen

Penatalaksanaan : -evakuasi (kuretase)

-imunoglobulin d (RhoGAM) diberikan pada Rh-, unsensitized pasien untuk


mencegah isoimunisasi (IM)

c. Abortus Kompletus

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 11


Gejala dan Tanda :
- Seluruh hasil konsepsi sudah keluar dari kavum uteri
- Ostium uteri telah menutup
- Uterus sudah mengecil
- Perdarahan sedikit
- Besar uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan

Diagnosa : saat hasil konsepsi keluar secara spontan tanpa dibantu (fetus,
plasenta, membran), perdarahan biasanya pelan- pelan selama 2 jam kemudian
berhenti, mulut rahim tertutup

Penatalaksanaan : diberikan D immunoglobulin (RhoGAM) untuk Rh-jika


masih terdapat pendarahan, dilakukan kuretase karna kemungkinan abortus
incomplete.

d. Abortus Inkompletus
Gejala dan Tanda :
- Sebagian hasil konsepsi sudah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal
- Ostium uteri masih terbuka
- Banyaknya perdarahan tergantung sisa jaringan yang masih tertinggal
- Besar uterus lebih kecil dari usia kehamilan

Laboratory evaluation

1. Complete blood count. Tidak menunjukan kehilangan darah yg akut

2. tipe Rh

3. golongan darah dan cress-matching.

Penatalaksanaan :

- Stabilization. Jika pasien terdapat pendarahan yang berat, setidaknya 2


kaliber besar IV kateter diberikan. Lactate ringers atau garam saline dengan
40 U oksitoksin/ liter, diberikan IV sebanyak 200mL/ jam

- Suction dilatation and curretage

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 12


- Pasien tdk boleh koitus selama menggunakan tampon, kurang lebih 2 minggu.
Diberikan juga ferosulfat dan ibuprofen(analgesik)

- Jika Rh- maka diberikan RhoGAM (IM)

e. Missed Abbortion
Gejala dan Tanda :
- Embrio atau fetus sudah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan
20 minggu
- Seluruh hasil konsepsi masih tertinggal dalam kandungan

Diagnosis : tidak ada peningkatan TFU dan tidak ada DJJ

Penatalaksanaan : di evakuasi dengan kuretase dan jangan lupa jika Rh-


diberi D immunoglobulin (RhoGAM)

2. Abortus Provokatus
Abortus yang terjadi dengan disengaja. Berdasarkan tujuannya, abortus
provokatus dibagi menjadi 2 :
- Abortus medisinalis
Abortus yang dilakukan dengan pertimbangan keselamatan ibu dan janin
- Abortus kriminalis
Abortus yang dilakukan atas keinginan sendiri tanpa dipengaruhi
pertimbangan keselamatan ibu dan janin. Biasanya terjadi pada kehamilan
yang tidak diinginkan.

Komplikasi Abortus

fisik : kematian mendadak karena pendrahan hebat / gagal pembiusan, kematian


lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan, rahim sobek, kerusakan leher rahim,
kanker payudara, kanker ovarium, kanker serviks, kanker hati, kelainan pd plasenta
(plasenta previa), madul, infeksi rongga panggul, infeksi lapisan rahim

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 13


Mental : kehilangan harga diri, berteriak-teriak histeris, mimpi buruk berkali-kali
mengenai bayi, inginbunuh diri, mulai mencoba obat terlarang, tidak bisa menikmati
hubungan seksual.

Kehamilan Ektopik

Definisi

Kehamilan Ektopik adalah implantasi ovum yang telah dibuahi dimana saja selain lokasi
normal dalam uterus. Seharusnya blastokista dapat turun ke uterus dan berimplantasi di
endometrium1.

Pada setiap kehamilan, kemungkinan abnormalitas kehamilan ektopik mencapai 1%. 90%
kasus berimplantasi di tuba falopii, dan yang lainnya di ovarium, rongga abdomen, dan
bagian intrauterin dari tuba falopii2.

Klasifikasi
Berdasarkan hasil akhir kehamilanya, KET dibagi menjadi 2 :

Abortus tuba
terjadi implan di fimbriae dan ampula
perdarahan kecil berulang2 di tempat implantasi pada dinding tuba falopii melepaskan
ovum yang mati
mengalami abortus komplit melalui ostium tuba ke dalam rongga peritornium
mengalami abortus tidak lengkap sehingga konseptus tertutup bekuan darah menonjol
ke arah ostium (bibir servicks)
Ruptur Tuba
implantasi terjadi di ismus
ruptur ampula biasanya terjadi di minggu ke 6 dan 10
terlambat menarche
trofoblast ke dalam sehingga membuat erosi pada dinding serosa tuba sehingga
menyebabkan kebocoran.
- Pola klinis
Sub akut

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 14


amenore
pendarahan mild vaginam
kolaps akut yang menunjukan ruptur tuba tanpa hematokel pada pelvic
Dramatik akut
nyeri abdominal mendadak
syok
- Komplikasi dan dampak pada kehamilan selanjutnya
Abortus
Perdarahan
Kematian ibu
Tergantung lokasi KET nya
Akan mempengaruhi kehamilan berikutnya
Utamakan keselamatan ibu (multi para atau primerprevia)

Etiologi

Penyebab kehamilan ektopik ada yang diketahui dan ada yang tidak, atau belum diketahui.

Faktor Uterus:

1. Tumor rahim yang menekan tuba


2. Uterus hipoplastis

Faktor Tuba:

1. Penyempitan lumen tuba


2. Tuba sempit, panjang dan berlekuk-lekuk
3. Gangguan fungsi rambut getar (silia) tuba
4. Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
5. Endometriosis tuba
6. Striktur tuba
7. Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainnya
8. Perlekatan peritubal dan lekukan tuba
9. Tumor lain menekan tuba
10. Lumen kembar dan sempit

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 15


Faktor ovum:

1. Migrasi eksterna dari ovum


2. Perlekatan membrana granulosa
3. Rapid cell devision
4. Migrasi internal ovum2

Faktor pendukung lainnya:

1. Merokok
2. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
3. Berganti-ganti pasangan
4. Hubungan seks kurang dari 18 tahun
5. Riwayat kehamilan ektopik3

Patofisiologi
Sebagian besar penyakit ini tidak diketahui apa penyebabnya. Pada kondisi normal
implantasi ovum yang dibuahi hanya dapat berlangsung jika zona pelusida sudah menghilang.
Jika terjadi kerusakan tuba akibat infeksi, maka perjalanan ovum yang telah dibuahi akan
terganggu sehingga motilitas tidak baik dan menyebabkan zygot tidak bisa melewati cavum
uteri dan menuju ke uterus (fundus uterina).

Diagnosa

1. Anamnesa :
a. Amenorea
b. Tanda tak pasti kehamilan
c. Jika terjadi KET : vaginal spotting, nyeri hebat disertai muntah pada abdomen,
perdarahan hebat.
2. Px. Fisik :
a. Vital Sign : Menentukan apakah terdapat syok.
b. Nyeri tekan pada abdomen bawah.
c. Px. Genitalia : tanda chadwick positif
Nyeri goyang portio
Cavum douglas menonjol dan nyeri juga terdapat darah

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 16


Rectouterina teraba
3. Px. Lab ; hCG positif, Hb (menentukan anemis tidaknya pasien).
4. USG : uterus membesar, namun pada corpus uterus tidak ditemukan janin.

Diagnosis Banding :

Gejala KET Abortus Kista ovarium Infeksi pelvis


Amenore + + - +
Perdarahan + + >> - Bisa ada
pervaginal
Perdarahan >> - - -
adominal
Massa pelvis Ada, dibawah - Ada Ada, bilateral
Uterus Sedikit Membesar - -
membesar
Nyeri >> - >> +
Anemia + Bisa ada - -
Leukositosis Bisa ada - - Ada
Reaksi + + - -
kehamilan
Shifting + - - -
dullness

Penatalaksanaan

1. Lihat keadaan umum dan tanda vital, apakah ada syok, jika ada periksa airway,
breathing and circulation.2
2. Terapi dan prognosis:
a. Kehamilan tuba:
Penatalaksanaan Bedah.
Salpingostomi. Prosedur ini digunakan untuk mengangkat kehamilan kecil, yang
panjang bilateralnya kurang dari 2 cm. Insisi liniear, sepanjang 10-15 mm atau
kurang, dibuat pada tepi antimesentrik tepat di atas kehamilang ektopik. Prosedur

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 17


ini cepat dan mudah dilakukan dengan laparoskop dan merupakan standar
kehamilan ektopik yang tidak ruptur.
Salpingotomi. Prosedurnya sama dengan salpingostomi, hanya saja insisi ditutup.
Salpingektomi. Pengangkatan tuba dilakukan jika tuba fallopii mengalami
penyakit atau kerusakan yang luas.
Reaksi segmental dan anastomosis dilakukan untuk kehamilan isthmus yang
tidak ruptur.
Penatalaksanaan Medis dengan pemberian Meroreksat. Metotreksat merupakan
suatu obat antineoplastik yang bekerja sebagai antaronis asam folat dan efektif
terhadap trofoblas yang berpoliferasi cepat. Dengan pemberian dosis tunggal 50
mg/m2 IM. Pemberian dosis variabel dengan Metotreksat, 1 mg/kg IM, hari ke-
1,3,5,7, dan plus ditambahkan Leukovorin, 0,1 mg/kg IM, hari ke- 2, 4, 6 ,8.
Terapi lain dengan Aktinomisin selama 5 hari dan suntikan langsung ke masa
ektopik.
b. Kehamilan abdominal
Setelah diagnosa ditegakkan sedini mungkin harus dilakukan laparoptomi. Anak
dikeluarkan dan tali pusat dipotong sependek mungkin, plasenta dibiarkan berada
dalam rongga perut untuk mencegah perdarahan. Biasanya plasenta akan
direabsorbsi dalam waktu beberapa bulan.
c. Kehamilan ovarium
Penatalaksanaan kehamilan ovarium adalah bedah. Perdarahan dini utuk lesi kecil
ditangani dengan kistektomi. Jika lesi besar dilakukan ovariektomi. Laparokskopi
digunakan untuk reseksi atau ablasi laser pada kehamilan ovarium.
d. Kehamilan serviks
Dengan cara histeroktomi. Dan dengan medis, diberikan terapi merotreksat dan
obat-obat lain.
e. Kehamilan lainnya
Rata-rata dilakukan laparoptomi atau litopedion.2

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 18


Mola hidatidosa

Definisi

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri-ciri stroma villus korialis
langka vaskularisasi, dan edematus. (sarwono, ilmu kandungan)

Mola hidatidosa adalah Kehamilan yang berkembang tidak wajar, dimana tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan. (sarwono, ilmu
kebidanan).

Makroskopik : gelembung2 putih, tembus pandang , berisi cairan jernih, ukuran


bervariasi dari beberapa milimeter hingga 1-2 cm.

Gambaran histopatologik : edema stroma vili, tidak ada pembuluh darah pada vili /
degenerasi hidropik dan proliferasi sel2 trofoblas.

Klasifikasi berdasarkan ada tidaknya janin

1) Mola hidatidosa sempurna


Vili korionik berubah menjadi suatu masa vesikel-vesikel jernih. Ukuran vesikel
bervariasi dari yang sulit dilihat sampai yang berdiameter beberapa centimeter dan
sering berkelompok-kelompok menggantung pada tangkai kecil.
Temuan secara histologik :
a. Pembengkakkan stroma villus
b. Tidak adanya pembuluh darah pada villus
c. Proliferasi epitel trofoblas
d. Tidak adanya janin dan amnion
Pada pemeriksaan sitogenetik terhadap kehamilan mola hidatidosa sempurna
menemukan komposisi kromosom yang umumnya adalah 46 XX dengan kromosom
seluruhnya berasal dari ayah. Hal ini disebut sebagai androgenesis. Biasanya ovum
dibuahi oleh sprema haploid yang kemudia memperbanyak kromosomnya sendiri
setelah meiosis, sehingga kromosomnya bersifat homozigot. Kromosom ovum tidak
ada atau tidak aktif. Kadang-kadang kromosom suatu mola sempurna mungkin 46 XY,
yaitu heterozigot karena pembuahan 2 sperma.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 19


2) Mola hidatidosa parsial
Adalah keadaan apabila perubahan hidatidosa bersifat lokal dan kurang berkembang
dan mungkin tampak sebagai jaringan janin biasanya paling tidak kantung amnion.
Terjadi pembengkakan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian vili yang
biasanya avaskular, sementara vili-vili pembuluh lainnya dengan sirkulasi janin-
plasenta yang berfungsi, tidak terkena.
Kariotipe Mola hidatidosa parsial biasanya tripoid -69,XXX 69,XXY atau 69,XYY-
dengan satu komplemen haploid ibu dan biasanya 2 komplemen haploid ayah.

Gambaran Mola Parsial Mola Sempurna


Kariotipe 69,XXX atau 69,XXY 46, XX atau 46, XY
Patologi
Janin Sering dijumpai Tidak ada
Amnion, SDM janin Sering dijumpai Tidak ada
Edema vilus Bervariasi, fokal Difusi
Proliferasi trofoblas Bervariasi, fokal, ringan Bervariasi, ringan sampai
sampai sedang berat
Gambaran Klinis
Diagnosis Missed abortion Gestasi mola
Ukuran Uterus Kecil untuk masa 50% l ebih besar untuk
kehamilan masa kehamilan

Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor faktor yang dapat menyebabkan
antara lain:
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat
dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. keadaan sosioekonomi yang rendah
4. paritas tinggi
5. kekurangan protein

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 20


6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas.

Patofisiologi

Di dalam tubuh kita, mual (nausea) dan muntah (vomiting) diatur oleh pusat muntah
yaitu CTZ (Chemoreceptor Trigger Zone) di area postrema di batang otak yaitu di Medulla
Oblongata.

Gambar: Pusat muntah di batang otak (courtesy: Guyton)

Area Postrema terletak di luar dari sawar darah otak (Blood-Brain Barrier) sehingga
ia sangat peka terhadap toksin dan zat kimia perangsang muntah dalam aliran darah.
Termasuk dalam hal ini adalah tingginya kadar hCG dan juga keton dalam darah wanita
hamil.

Tingginya keton pada ibu hamil disebabkan karena hipoglikemik (turunnya gula
darah) karena muntah yang berkepanjangan dan tidak terkoreksi. Sehingga keadaan muntah
yang tidak diperbaiki akan menyebabkan muntah semakin hebat. Ini disebut dengan circulus
vitreosus (lingkaran setan).

CTZ akan merangsang muntah melalui syaraf Trigeminus (N V), syaraf Fasialis
(NVII), syaraf Glossofaring (N IX), syaraf Vagus (N X) dan syaraf Hipoglossus (XII) pada
saluran cerna bagian atas dan juga melalui syaraf spinal pada otot diafragma.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 21


Sebelum seseorang muntah, ia akan mengalami gejala peringatan (Warning Sign)
yaitu: berkeringat banyak, pupil mata melebar, mual, hipersalivasi (rasa ingin meludah), dan
pucat.

Gejala dan diagnosis

Anamnesa/Keluhan

1. Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan
biasa

2. Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, warna kecoklatan

3. Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya

4. Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur (merupakan diagnosa pasti)

Inspeksi

5. Muka dan kadang-kadang badan terlihat pucat

6. Jika jaringan mola keluar dpt dilihat dg jelas

7. Palpasi

8. Uterus membesar tidak sesuai dengan tua kehamilan (uterus > dr usia kehamilan)

9. Tidak teraba bagian janin dan balotemen juga tdk ada gerakan janin

Auskultasi

1. Tidak terdengar DJJ

2. Terdengar bunyi bising yang khas

Reaksi Kehamilan

Kadar HCG >> (adanya proliferasi sel2 trofoblast) -> puncak hari ke 100

mis, Galli Mainini (bandingkan kadar HCG dengan kadar HCG pada kehamilan biasa

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 22


Pemeriksaan dalam

1. Pastikan besar rahim, rahim terasa lembek

2. Tidak ada bagian-bagian janin

3. Terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina serta evaluasi
keadaan serviks

Uji Sonde (penduga rahim)

Pada mola, sonde mudah masuk kedalam cavum uteri, pada kehamilan
biasanya ada tahanan oleh janin

Foto Rontgen abdomen

Tidak terlihat tulang2 janin(kehamilan 3-4 bulan)

Ultrasonografi

Gambaran badai salju dan tidak terlihat janin

Penatalaksanaan

Terapi

Perbaikan keadaan umum

Pemberian transfusi darah untuk menghilangkan syok atau anemia

Pengeluaran Jaringan mola

Ada 2 cara yaitu

1. Vakum kuretase

Diberi oksitosin agar dinding uterus berkontraksi dan mencegah terjadinya perforasi

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 23


diusahakan agar cervix terbuka => mempermudah kuret

Supaya pengosongan rahim dapat dilakukan dg cepat, dipergunakan cunam abortus


dan ekspresi pada fundus, jika uterus sudah kecil baru dilakukan curettage

Setelah 10-14 hari curettage 1, dilakukan curettage ke 2 => agar lebih bersih

2. Histerektomi

Pada wanita yang cukup umur dan cukup mempunyai anak>> => lebih baik dilakukan
histerektomi

Periksa Ulang (follow-up)

Ibu dianjurkan jangan hamil dulu (memakai alat kontrasepsi pil)

Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 thn (keganasan masih dapat timbul setelah
3 tahun pasca terkena mola hidatidosa)

Setiap Periksa ulang PENTING diperhatikan

1. Gejala Klinis

2. Lakukan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan in spekulo

3. Periksa HCG

Prognosis

Resiko kematian meningkat karena pada penderita mola hidatidosa mengalami


perdarahan,perforasi uterus, preeklamsi berat, tirotoksikosis atau infeksi. Akan tetapi,
sekarang angka kematian pada mola hidatidosa sangat jarang sekali.

Mola hidatidosa mengalami degenerasi keganasan menjadi tumor trofoblas


gestasional (TTG), baik berupa mola invasif, koriokarsinoma, maupun placental site
trophoblastic tumor (PSTT)

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 24


PLASENTA PREVIA

Definisi

Plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh
atau sebagian dari ostium uteri internum.

Klasifikasi:

1. Plasenta previa totalis: seluruh os istium internum tertutup oleh plasenta.


2. Plasenta previa lateralis: hanya sebagian dari os istium yang tertutup plasenta.
3. Palsenta previa marginalis: palsenta hanya pada pinbggir os istium.
4. Plasenta previa letak rendah: plasenta terdapat pada jarak kurang lebih dari 4cm.

Etiologi:

Plasenta previa terjadi pada kehamilan multigravida.

Patofisiologi:

Plasenta previa sering terjadi pada kehamilan multigravida, karena plasenta akan
mencari daerah yang subur untuk implantasi, sehingga plasenta terus bergerak ke bawah.

Insiden

Plasenta previa terjadi pada 0,5% dari semua kehamilan, dan bertanggung jawab
terhadap 20% kasus perdarahan antepartum. Plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita
multipara daripada primipara.

60% kasus perdarahan episode pertama terjadi setelah kehamilan minggu ke 36; 30%
terjadi antara minggu ke 32 dan 36; dan 10% sebelum minggu ke 32.(2)

Plasenta akreta, inkreta dan perkreta

Plasenta previa mungkin disertai oleh plasenta akreta atau salah satu bentuk lanjutnya,
plasenta inkreta atau perkreta. Perlekatan plasenta yang terlalu kuat tersebut diperkirakan
terjadi apabila desidua di segmen bawah uterus kurang berkembang.(3)

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 25


Gambaran klinis

Hal yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan yang tidak nyeri dan
biasanya belum muncul sampai menjelang akhir trimester kedua atau setelahnya. Namun,
beberapa jenis abortus dapat terjadi akibay abnormal plasenta yang sedang berkembang.
Perdarahan dari plasenta previa sering muncul tanpa peringatan, terjadi tanpa disertai rasa
nyeri pada wanita yang riwayat pranatalnya tampak normal. Perdarahan ini biasanya berhenti
spontan, namun kemudian kambuh. Pada sebagian kasus, terutama pada mereka yang
palsentanya tertanam dekat tetapi tidak menutupi os serviks, perdarahan mungkin belum
terjadi sampai persalinan dimulai.

Apabila plasenta terletak di atas os interna, pembentukan segmen bawah uterus dan
pembukaan os interna akan menyebabkan robeknya plasenta pada tempat melekatnya.
Perdarahan diperparah oleh ketidakmampuan serat miometrium di segmen bawah uterus
berkontraksi untuk menjepit pembuluh-pembuluh yang robek.

Perdarahan dari tempat implantasi plasenta di segmen bawah uterus dapat berlanjut
setelah palsenta dilahirkan karena segmen bawah uterus lebih rentan mengalami gangguan
kontraksi daripada korpus uterus. Perdarahan juga dapat laserasi serviks dan segmen bawah
uterus yang rapuh, terutama setelah pengeluaran plasenta yang agak melekat secara manual.(3)

Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka palpasi abdomen sering
ditemui bagian terbawah janin masih tinggi di atas simfisis dengan letak janin tidak dalam
letak memanjang.(1)

Diagnosis

Pada wanita dengan perdarahan uterus selama paruh terakhir kehamilan, plasenta
previa atau solusio plasenta harus selalu dicuragai. Diagnosis plasenta previa jarang dapat
dipastikan dengan pemeriksaan klinis, kecuali apabila satu jari tangan dimasukkan melalui
serviks dan plasenta diraba. Pemeriksaan serviks seperti ini jangan dilakukan kecuali
apabila wanita yang bersangkutan sudah di meja operasi dengan segala persiapan
untuk seksio sesarea segera karena bahkan pemeriksaan yang paling hati-hati pun
dapat menyebabkan perdarahan besar. Pemeriksaan double set-up semacam ini jarang
diperlukan karena lokasi plasenta hampir selalu dapat diketahui dengan USG.(3)

Komplikasi

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 26


Episode perdarahan berat dapat terjadi setiap saat, dan selama perdarahan ini janin
dapat mati karena hipoksia. Setelah lahir, mungkin terjadi perdarahan postpartum karena
trofoblas menginvasi segmen bawah uteri yang kurang didukung oleh jaringan vena. Pada
kebanyakan kasus, perdarahan berhenti setelah pemberian oksitosin, namun adakala
perdarahan tidak dapat dihentikan sehingga diperlukan histerektomi.

Terapi:
Dengan pengobatan aktif: kehamilan segera di akhiri sebelum terjadi perdarahan yang
membawa maut.
Cara :
- Pervaginal: dengan mengadakan tekanan pada plasenta sehingga menutup
pembuluh-pembuluh darah yang terbuka.
- Dengan cara sectio caesarea: dengan mengosongkan rahim sehingga
menghentikan perdarahan.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 27


Solusio Plasenta

Definisi

Lepasnya plasenta sebelum waktunya. Normalnya plasentaterlepas setelah anak lahir.


Plasenta yang terlepas dibawah 22 minggu akan disebut sebagai abortus, sedangkan plasenta
yng lepas diatas 22 mninggu akan disebut dengan solusio plasenta.

Klasifikasi

Plasenta menurut pendarahannya dibagi menjadi 3 jenis:

1. Pendarahan keluar
2. Pendarahan tersembunyi
3. Pendarahan masuk ruang amnion

Pada solusio plasenta, darah dari tempat pelepasan mencari jalan keluar antara selaput
janin dan dinding rahim dan akhirnya keluar dari serviks dan terjadilah pendarahan keluar.
Pada jenis yang lain hanya berbeda karena terdapat halangan.

Etiologi

1. Hipertensi
2. Talipusat yang pendek
3. Trauma
4. Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 28
5. Uterus yang sangat kecil

Dipengaruhi oleh

1. Umur lanjut
2. Multiparitas
3. Ketuban pecah sebelum waktunya
4. Defisiensi asam folat
5. Mioma uteri

Gejala-gejala

1. Pendaarahan yang nyeri, sering disertai oleh His


2. Anemi dan syok
3. Rahim keras seperti papan dan nyeri saat disentuh
4. Palpasi sukar karena rahim keras
5. Fundus uteri makin lama makin naik
6. DJJ biasanya tidak ada

PATOFISIOLOGI

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 29


Solusio placenta dimulai dengan perdarahan dalam desidua basalis, kemudianterjadi
hematom dalam desidua yang mengangkat lapisan-lapisan di atasnya.Hematom ini makin
lama makin besar sehingga placenta terdesak dan akhirnyaterlepas. Jika perdarahan sedikit,
hematom yang kecil itu hanya akan mendesakjaringan placenta, belum mengganggu
peredaran darah antara uterus dan placenta,sehingga tanda dan gejalanya pun tidak jelas.
Setelah placenta lahir baru didapatkancekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan
darah lama yang berwarnakehitaman.

Perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang teregang
olehkehamilan itu tak mampu untuk berkontraksi lebih untuk menghentikan
perdarahan.Akibatnya hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian
danakhirnya seluruh placenta akan terlepas. Sebagian akan menyelundup di bawahselaput
ketuban keluar dari vagina atau menembus selaput ketuban masuk ke dalamkantong ketuban,
atau mengadakan ekstravasasi di antara serabut otot uterus. Bilaekstravasasi berlangsung
hebat, maka seluruh permukaan uterus akan berbercak unguatau biru, disebut uterus
couvelaire. Uterus seperti ini sangat tegang dan nyeri.
Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter,
banyakromboplastin akan masuk ke dalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi
pembekuanintravaskuler dimana-mana, menyebabkan sebagian besar persediaan
fibrinogen habis.
Akibatnya, terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuandarah
pada uterus maupun alat-alat tubuh lainnya. Perfusi ginjal akan terganggukarena syok dan
pembekuan intravaskuler. Oliguria dan proteinuria akan terjadiakibat nekrosis tubuli ginjal
mendadak yang masih dapat sembuh kembali, atau akibatnekrosis korteks ginjal mendadak

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 30


yang biasanya berakibat fatal. Nasib janintergantung dari luasnya placenta yang lepas.
Apabila sebagian besar atau seluruhnyaterlepas, anoksia akan mengakibatkan kematian janin.
Apabila sebagian kecil yanglepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali atau
mengakibatakan gawat janin.
Waktu adalah hal yang sangat menentukan dalam beratnya gangguan pembekuandarah,
kelainan ginjal dan nasib janin. Makin lama sejak terjadinya solusio placentasampai
persalinan selesai, makin hebat komplikasinya.

KOMPLIKASI

Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnyaplasenta
yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung.Komplikasi
yang dapat terjadi pada ibu :
a. Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta
hampirtidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan
segera.Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum bebas
dariperdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk
menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya
kelainanpada pembekuan darah. Pada solusio plasenta berat keadaan syok
seringtidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat.
Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia, karena
itupengobatan segera ialah pemulihan defisit volume intravaskuler
secepatmungkin. Angka kesakitan dan kematian ibu tertinggi terjadi pada
solusioplasenta berat. Meskipun kematian dapat terjadi akibat nekrosis
hipofifisdan gagal ginjal, tapi mayoritas kematian disebabkan syok
perdarahan danpenimbunan cairan yang berlebihan. Tekanan darah tidak
merupakanpetunjuk banyaknya perdarahan, karenav asospasme akibat
perdarahanakan meninggikan tekanan darah. Pemberian terapi cairan
bertujuanmengembalikan stabilitas hemodinamik dan mengkoreksi
keadaankoagulopathi. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah
pilihan yangideal, karena pemberian darah segar selain dapat memberikan
sel darahmerah juga dilengkapi oleh platelet dan faktor pembekuan.
b. Gagal ginjal

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 31


Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
penderitasolusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan
hipovolemiakarena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis
tubuli ginjalyang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong
denganpenanganan yang baik. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok
danpembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi
akibatnekrosis tubuli atau nekrosis korteks ginjal mendadak. Oleh karena
ituoliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin
yangharus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta berat.
Pencegahangagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang
secukupnya,pemberantasaninfeksi,atasi hipovolemia, secepat
mungkinmenyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan
darah.
c. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya
disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Dari penelitian yang dilakukan oleh
Wirjohadiwardojo di RSUPNCM dilaporkan kelainan pembekuan darah
terjadi pada 46% dari 134 kasus solusio plasenta yang ditelitinya.
Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah
450mg%, berkisar antara 300-700 mg%. Apabila kadar fibrinogen
plasmakurang dari 100 mg% maka akan terjadi gangguan pembekuan
darah.Mekanisme gangguan pembekuan darah terjadi melalui dua fase,
yaitu:
- Fase I
Pada pembuluh darah terminal (arteriole, kapiler, venule)
terjadipembekuan darah, disebut disseminated intravasculer
clotting.Akibatnya ialah peredaran darah kapiler (mikrosirkulasi)
terganggu.Jadi pada fase I, turunnya kadar fibrinogen disebabkan
karenapemakaian zat tersebut, maka fase I disebut jugacoagulopathi
consumptive. Diduga bahwa hematom subkhorionik mengeluarkan
tromboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler
tersebut.Akibat gangguan mikrosirkulasi dapat mengakibatkan syok,
kerusakanjaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia dan
kerusakanginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 32


- Fase II
Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif, yaitu usaha tubuh
untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Usaha
ini dilaksanakan dengan fibrinolisis. Fibrinolisis yang berlebihan malah
berakibat lebih menurunkan lagi kadar fibrinogen sehingga
terjadiperdarahan patologis. Kecurigaan akan adanya kelainan
pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium,
namun diklinik pengamatan pembekuan darah merupakan cara
pemeriksaan yang terbaik karena pemeriksaan laboratorium lainnya
memerlukan waktu terlalu lama, sehingga hasilnya tidak mencerminkan
keadaan penderita saat itu.
d. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot
rahimdan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum
latum.Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan
warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebutUterus
couvelaire. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau tidak, tergantung
pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan.

Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:


1. Fetal distress
2. Gangguan pertumbuhan/perkembangan
3. Hipoksia dan anemia
4. Kematian

PENATALAKSANAAN

A. Tindakan gawat darurat

Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah
luas yang manifestasinya adalah :

Perdarahan bertambah banyak


Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
Gawat janin

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 33


maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus
segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.

B. Terapi Ekspektatif

Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta
maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif.

C. Persalinan Pervaginam

Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan
atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.

Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukanamniotomi dengan


tujuan untuk :

1. Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan


mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu
yang menyebabkan DIC)
2. Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat
merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka
servik)

Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera
diikuti dengan tanda-tanda persalinan.

D. Seksio Sesaria

Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak

Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam
waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3
4 cm.

Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan
seksio sesar pada kasus solusio plasenta.

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 34


Pengaruh pada kehamilan selanjutnya
Akan lebih rentan lagi terkena solusio plasenta sekitar 10 kali lipat. Hal tersebut
dimungkinkan karena penyembuhan yang belum pulih dari alat reproduksi si ibu.

Prognosis

Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus,banyaknya
perdarahan, ada atau tidak hipertensi menahun atau preeklamsia,tersembunyi tidaknya
perdarahan, dan selisih waktu terjadinya solusio plasentasampai selesainya persalinan. Angka
kematian ibu pada kasus solusio plasenta beratberkisar antara 0,5-5%. Sebagian besar kematian
tersebut disebabkan olehperdarahan, gagal jantung dan gagal ginjal.
Hampir 100% janin pada kasus solusio plasenta berat mengalami kematian.Tetapi ada
literatur yang menyebutkan angka kematian pada kasus berat berkisarantara 50-80%. Pada
kasus solusio plasenta ringan sampai sedang, keadaan janintergantung pada luasnya plasenta
yang lepas dari dinding uterus, lamanya solusioplasenta berlangsung dan usia kehamilan.
Perdarahan lebih dari 2000 ml biasanyamenyebabkan kematian janin. Pada kasus-kasus tertentu
tindakan seksio sesariadapat mengurangi angka kematian janin

Interpretasi Hasil Pemeriksaan

Page 1

1. Anamnesis

Kondisi umum : Baik


Keluhan : - Kram atau nyeri pada baggian bawah perut
- Vaginal Spotting

2. Pemeriksaan fisik

Tinggi Badan : 160 cm


Berat Badan : 55 kg
BMI : 21,48
Tinggi badan dan berat badan menurut BMI pada ibu hamil dalam kategori normal.
Vital sign : Normal
- TD : normal pada ibu hamil 80/60 mmHg 120/80 mmHg

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 35


- HR : normal pada ibu hamil 60-100x/ menit
- RR : normal, biasanya meningkat pada ibu hamil 20-25%
- Suhu : normal, biasanya meningkat pada ibu hamil 15-20%
Abdomen : - Kontur normal
- Area supra pubis terasa sedikit nyeri tekan
- Uterus tidak teraba
Px. Speculum : Fluxus positif dari ostium uteri externa
Pada wanita yang abortus, biasanya terdapat cairan yang keluar dari OUE
Vaginal Toucher : - Ostium Uterine : tertutup
- Uterus Size : membesar dan lembut
o Tanda Hegar positif : menandakan Ny. Chika positif hamil
o Tanda piskacek positif : menandakan Ny. Chika positif hamil

- Area Adnexa : tidak ada massa (Tidak ada KET & Kista)

- Kavum Douglas : tidak ditemukan tonjolan (Tidak ada KET)

Biasanya pemeriksaan ini untuk pemeriksaan tumor.

3. Pemeriksaan penunjang

Hb : 12,1 g/dL, dalam batas normal. Normal 12-16 g/dL


USG : Tidak terdapat janin di dalam uterus
Karena Ny. Anti mengalami abortus

Page 2

1. Anamnesis
Keluhan Utama :- Kram atau nyeri pada baggian bawah perut
- Perdarahan pada vagina

Keluhan Tambahan :-Keluar massa seperti hati saat BAK (kemungkinan janinnya
keluar)

2. Pemeriksaan Fisik
Tekanan Darah : 120/80 mmHg (Normal, diperiksa apakah ada potensi darah
tinggi/tidak)

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 36


HR : 100 bpm (Normal,untuk mengetahui takikardi/tidak karena
perdarahan)
Jantung dan Paru normal
3. Pemeriksaan Obstetric
Tinggi Fundus 3 jari di atas simfisis (Tidak Normal, setara dengan kehamilan 12 minggu)
4. Pemeriksaan Spekulum
Fluxus Negative (kemungkinan abortus spontan)
Portio tertutup (Kemungkinan abortus spontan)
5. Hasil Laboratorium
Hb 10,3 gr% (Anemia ringan karena perdarahan, N=10,5 gr%)

Page 3

Diberikan Ferrous sulfat untuk 2 minggu (untuk mengatasi anemia nya)

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 37


BAB 3

PENUTUP

Dengan adanya masalah yang diberikan pada saat tutorial, kami mengambil
kesimpulan bahwa pada Ny.Chika mengalami abortus. Abortus adalah berakhirnya
kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup. Terdapat bermacam-
macam abortus yang dapat terjadi pada wanita . Dengan gejala yang ditemukan, dapat di
ambil diagnosis bahwa Ny.Chika mengalami abortus komplit yaitu pengeluaran seluruh hasil
konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu.

Perdarahan ini ditangani dengan pemberian obat penambah darah untuk mengatasi
anemianya

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 38


REFERENSI

1. Dorland, W. A. Newman, Kamus Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC, 2002.


2. Sherwood, Lauralee.2001.Fisiologi manusia.Edisi 2. Jakarta : EGC, 2001.
3. Guyton dan Hall. Fisiologi kedokteran. Edisi 11.Jakarta : EGC, 2008.
4. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kandungan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2009.
5. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2009.
6. Linda J.H. dan Danny J.S. At a Glance Sistem Reproduksi. Edisi 2. Jakarta :
ERrlangga, 2008.
7. Sadler. Embriologi Kedokteran Langman. Edisi 10. Jakarta : EGC, 2010.

8. Gandasoebrata, R. Penenuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat.


9. GreenSpan. Endokrinologi Dasar dan Klinik. Edisi 4. Jaksrta : EGC, 2000.

10. Vitahealth. 2008. Infertil: Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya.
Jakarta: Gramedia.

11. Watson, A., P. Vandekerckhove, and R. Lilford. "Techniques for Pelvic Surgery in
Subfertility (Cochrane Review)." The Cochrane Library 1 (January 20, 2003).

12. Williams,Obstetric ed.21.Jakarta. EGC

C-2 Makalah Kasus Abortus 2011 Page 39