You are on page 1of 3

MAKROSOMIA

Makrosomia adalah kata yang digunakan, secara agak kurang tepat untuk menjelaskan janin-
neonatus yang sangat besar. Terdapat kesepakatan umum antara ahli obsretrik bahwa
neonatus yang beratnya kurang dari 4000 g tidak dianggap terlalu besar; tetapi konsensus
serupa tentang devinisi makrosomia belum tercapai.

DEFINISI MAKROSOMIA

Untuk pemakaian klinis umum terdapat beberapa definisi makrosomia. Dua definisi yang
digunakan didasarkan padadistribusi matematis berat badan lahir. Berat badan lahir yang
melebihi persentil ke-90 untuk minggu gestasional tertentu digunakan sebagai satu ambang
untuk makrosomia. Dipihak lain, berat lahir dua simpang baku diatas rerata juga digunakan
untuk mendefinisikan pertumbuhan janin yang berlebihan. Sebagai contoh, ambang berat
badan lahir pada minggu pada 39 minggu adalah 4500 g dan bukan 4000 g.

Berat badan lahir absolut yang melebihi suatu ambang ambang spesifik juga untuk
mendefinisikan makrosomia. Sebagai contoh berat badan yang melebihi 4000 g sering
digunakan sebagai ambang. Pendapat lain juga munyebutkan 4250 g atau bahkan 4500 g.
American colege of obstetricians and ginekologist (1991) menyimpulkan bahwa kata
makrosomia tepat digunakan pada janin yan saat lahir memiliki berat 4500 g atau lebih.

FAKTOR RESIKO

Pada wanita yang melahirkan bayi makrosomik faktor resiko pada ibu teridentifikasi hany
40%. Insiden diabetes pada ibu meningkat seiring dengan menigkatnya berat badan lahir
yang lebih dari 4000 g. Diantara janin makrosomik dari wanita pengidap diabetes, terdapat
peningkatan lingkar bahu yang konsekuensinya adalah peningkatan distosia bahu pada
kelahiran pervaginam.

Terdapat beberapa faktor lain yang meningkatkan kemungkinan bayi besar:

1. Ukuran orang tua yang besar, terutama obesitas pada ibu.


2. Multiparitas.
3. Gestasi lama
4. Usia ibu.
5. Janin laki-laki
6. Bayi sebelumnya memiliki berat lebih dari 4000 g.
7. Ras dan etnik.

Jika wanita hamil memiliki berat lebih dari 150 kg, janinnya memiliki resiko 30% mengalami
makrosomia.

KONTROVERSI PENATALAKSANAAN PADA JANIN YANG DICURIGAI


MAKROSOMIA

Pengetahuan pasti tentang berat badan janin dapat menghindarkan seorang wanita dari
pelahiran pervaginam janin yang kemungkinan besar akan mengalami kemacetan akibat
disproporsi fotopelfis sejati atau penyulit pada distosia bahu. Terdapat beberapa pendekatan
kontroversial untuk mencegah penyulit persalinan pada makrosomial ini.

1. Induksi persalinan profilaktik


Sebagian pihak menganjurkan induksi persalinan jika ditegakkan diagnosa
makrosomia pada wanita nondiabetes sebagai suatu cara menghindari pertumbuhan
janin lebih lanjut sehingga penyulit persalinan dapat dikurangi. Akan tetapi, induksi
persalinan belum terbukti dapat mengurangi angka sesar atau distosia bahu dengan
mencegah pertumbuhan janin lebih lanjut.
2. Sesar elektif
Kebijakan melakukan sesar pada janin makrosomik yang didiagnosis dengan
utrasonografi dilaporkan tidak efektif secara medis maupun ekonomis bila
dibandingkan penatalaksanaan obstetris standar. Akan tetapi, kebijakan sesar elektif
pada penderira diabetes denagan janin makrosomik mungkin dapat dipertahankan.
Protokol sesar rutin pada wanita pengidap diabetes denagan janin yang secara
sonografi diperkirakan memiliki berat 4250 g atau lebih dilaporkan secara bermakna
dapat mengurangi angka distosia bahu.
3. Pencegahan distosis bahu
Kekhawatiran utama dalam melahirkan bayi makrosomik adalah distosia bahu dan
resiko kelumpuhan permanen pleksus brakialis. Distosia bahu terjadi jika panggul ibu
memiliki ukuran cukup untuk melahirkan kepala janin, tapi tidak cukup besar untuk
melahirka bahu janin yang diameternya sangat besar. Dalam keadaan ini, bahu
anterior tersangkut disimpisis pubis ibu. Bahkan dengan bantuan obstetris yang cakap
selama pelahiran, peregangan dan cedera pleksus brakialis dibahu yang bersangkutan
mungkin tak terhindarkan. Untungnya kurang dari 10 % dari semua kasus distosia
bahu menyebabkan cedera pleksus brakialis yang menetap.
Berdasarkan fakta sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diperkirakan atau
dicegah, maka kebijakan sesar terencana berdasarkan kecurigaan makrosomia pada
populasi umum tidak memiliki alasan yang kuat karena jumlah sesar yang harus
dilakukan ada biayanya. Sesar terencana merupakan strategi yang masuk akal pada
wanita penderita diabetes dengan taksiran berat janin melebihi 4250 g sampai 4500 g.

REFERENSI
Leveno, kenneth J. 2009. Obstetri Williams. Jakarta: EGC