Вы находитесь на странице: 1из 9

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN

CEDERA SERVIKAL MEDULA SPINALIS

Junita Maja P. S.

Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado


Email: junita.177ps@gmail.com

Abstract: Spinal cord injury is a traumatic lesion of the spinal cord which causes neurological
disorders. The symptoms vary from pain, paralysis, and the occurence of incontinence,
depending on the location of the injured spinal cord. The damage of the spinal cord may be
incomplete or complete. We reported a 55-year-old male with his main complaint being
weakness throughout all four limbs which occured after a fall with a hyperextended neck
position. At the time of admission, the duration of injury was 12 hours. Physical examinations
showed motoric and sensoric disorders, without any autonomic abnormalities. Cervical
radiographics and a CT scan revealed no abnormalities, whereas the MRI images showed a
contusion at C3. The management of this case included stabilization of the neck, a protocol
treatment for cervical injuries, an administration of a high-dose of methylprednisolone,
prevention of complications, and a regular session of physiotherapy. During treatment, the
patient showed a significant progression in both motoric and sensoric functions. Conclusion:
Based on all the tests performed and the follow-up, the diagnosis of this case was central cord
syndrome (CCS) due to incomplete cervical medulla spinalis injury.
Keywords: cervical injury, spinal cord, diagnosis, treatment

Abstrak: Trauma medula spinalis adalah trauma pada tulang belakang yang menyebabkan lesi
di medula spinalis sehingga menimbulkan gangguan neurologik. Gejala-gejala dapat bervariasi
mulai dari nyeri, paralisis sampai terjadinya inkontinensia, dan sangat bergantung pada lokasi
medula spinalis yang mengalami cedera. Kerusakan medula spinalis dapat bersifat inkomplit
dan komplit. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki 55 tahun dengan kelemahan keempat
anggota gerak yang terjadi setelah terjatuh dengan posisi leher yang hiperekstensi. Saat masuk
rumah sakit, cedera sudah berlangsung selama 12 jam. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
gangguan motorik dan sensorik, sedangkan otonom tidak ditemukan kelainan. Gambaran
radiologik foto servikal dan CT-Scan servikal tidak terdapat kelainan, sedangkan pada MRI
tampak gambaran kontusio di segmen medula spinalis C3. Penanganan pada kasus ini yaitu
stabilisasi leher, tatalaksana umum untuk cedera leher, pemberian metilprednisolon dosis
tinggi, pencegahan komplikasi yang muncul, dan fisioterapi yang teratur. Selama perawatan
pasien menunjukkan kemajuan yang berarti, baik dari fungsi motorik maupun sensorik.
Simpulan: Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan dan pemantauan lanjut
selama perawatan, diagnosis yang ditegakkan ialah central cord syndrome (CCS) akibat
cedera medula spinalis servikal inkomplit.
Kata kunci: cedera servikal, medula spinalis, diagnosis, tatalaksana

Cedera medula spinalis adalah trauma pada Gejala-gejala dapat bervariasi mulai dari
tulang belakang yang menyebabkan lesi nyeri, paralisis, sampai terjadinya
medula spinalis sehingga terjadi gangguan inkontinensia. Kerusakan medula spinalis
neurologik, tergantung letak kerusakan dapat dijelaskan dari tingkat inkomplit
saraf spinalis dan jaringan saraf yang rusak. dengan gejala-gejala yang tidak berefek

181
182 Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5, Nomor 3, November 2013, hlm. 181-189

pada pasien sampai tingkat komplit Saat berada di rumah sakit, kelemahan
dimana pasien mengalami kegagalan fungsi anggota gerak dirasakan menetap sejak
total.1 terjatuh. Pasien tidak mengeluhkan sesak
Cedera medula spinalis pertama kali napas, gangguan menelan, mual, muntah,
tercatat dalam sejarah sekitar 1700 SM penurunan kesadaran, kejang, batuk, dan
pada papirus Edwin Smith. Penyebab demam. Keluhan seperti ini baru pertama
cedera medula spinalis tersering ialah kali dirasakan. Sejak terjatuh, pasien belum
kecelakaan lalu lintas (50%), jatuh (25%), pernah buang air besar maupun kecil.
dan cedera yang berhubungan dengan Buang air besar terakhir satu hari sebelum
olahraga (10%); selain itu, akibat kekeras- MRS. Riwayat penyakit penyerta
an dan kecelakaan kerja. Cedera medula disangkal. Riwayat konsumsi alkohol
spinalis akibat trauma diperkirakan terjadi sebanyak satu gelas kecil beberapa saat
pada 30-40 per satu juta penduduk per sebelum pasien berjalan ke kebun.
tahun, dan sekitar 8.000-10.000 penderita Pada pemeriksaan fisik status genera-
setiap tahun; umumnya terjadi pada remaja lis ditemukan keadaan umum tampak sakit
dan dewasa muda. Walaupun insidens per sedang. Status antropometri: berat badan 50
tahun relatif rendah, biaya perawatan dan kg, tinggi badan 160 cm, dengan indeks
rehabilitasi untuk cedera medula spinalis massa tubuh 19,53 kg/m2. Tanda-tanda
sangat tinggi, yaitu sekitar US$ vital dalam batas normal. Kulit berwarna
1,2
53.000/pasien. kuning langsat, terdapat vulnus excoriatum
Angka mortalitas diperkirakan 48% di regio frontalis dekstra. Pemeriksaan fisik
dalam 24 jam pertama. Sekitar 80% tidak menunjukkan kelainan.
meninggal di tempat kejadian oleh karena Pemeriksaan neurologik menunjukkan
vertebra servikalis memiliki risiko trauma GCS: E 4 M 6 V 5 = 15. Pupil bulat isokor
paling besar, dengan level tersering C5, pada kedua mata, diameter 3 mm, simetris,
diikuti C4, C6, kemudian T12, L1, dan refleks cahaya normal baik yang langsung
T10. Berdasarkan kecacatan yang terjadi, maupun tidak langsung. Pemeriksaan
52% kasus mengalami paraplegia dan 47% nervus kranialis I XII intak, dan pada
mengalami tetraplegia.2-4 funduskopi ODS tidak ditemukan tanda
papil edema. Status motorik didapatkan
trofi normal, tanpa fasikulasi dan klonus.
LAPORAN KASUS Kekuatan otot menurun, yaitu: 1-1-4-3
Seorang laki-laki berusia 55 tahun, pada ekstremitas atas bilateral; 2-4-3-3
pekerjaan petani, masuk rumah sakit pada ekstremitas kanan bawah; dan 3-3-4-2
tanggal 21 Februari 2012 dengan keluhan pada ekstremitas kiri bawah. Tonus otot
utama kelemahan keempat anggota gerak, ekstremitas atas dan bawah normal. Refleks
yang dialami segera setelah terjatuh yaitu fisiologik normal, dan tidak dite-mukan
sekitar 12 jam sebelum masuk rumah sakit refleks patologik. Status sensorik hipestesi
(MRS). eksteroseptif setinggi segmen medula
Pasien terjatuh saat sedang berjalan ke spinalis C5 ke bawah, dengan pro-
kebun oleh karena kakinya tersangkut prioseptif terganggu. Pada status otonom
rantai anjing, dengan kepala bagian bela- tidak ditemukan inkontinensia urin et alvi.
kang kanan membentur tanah pada posisi Hasil pemeriksaan laboratorik darah di
kepala tertekuk ke belakang. Kelemahan instalasi darurat medik umumnya dalam
keempat anggota gerak langsung dirasakan batas normal, kecuali kadar natrium yang
saat itu, disertai rasa tebal pada keempat agak rendah (126 mmol/L). Pada pemerik-
anggota gerak. Pasien hanya bisa meng- saan EKG didapatkan incomplete RBBB.
angkat anggota gerak kemudian langsung Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu X-
terjatuh, sedangkan ujung anggota gerak foto servikal AP/lateral dan X-foto toraks
atas tidak bisa digerakkan sama sekali. PA dalam batas normal.
Maja JPS, Diagnosis dan Penatalaksanaan Cedera Servikal... 183

Diagnosis kerja yang ditegakkan ialah prednisolon dilanjutkan dengan dosis 3x16
tetraparesis upper motor neuron (UMN) et mg per oral yang secara bertahap diturun-
causa trauma medula spinalis setinggi C5, kan setiap 3 hari sampai dosis minimal 4
disertai hiponatremia ringan. mg sehari; Mecobalamin dan ranitidin per
Penatalaksanaan saat MRS ialah oral; terapi lain dilanjutkan.
pemasangan neck collar, iv line NaCl 0,9% Pada perawatan hari ke-20 dilakukan
500 cc tiap 8 jam, metilprednisolon 30 CT-Scan servikal sentrasi C4-C6 dengan
mg/kgBB (1500 mg) dalam 15 menit, hasil dalam batas normal. Terapi dan
kemudian dilanjutkan setelah 45 menit 5,4 program rehabilitasi dilanjutkan. Diagnosis
mg/kgBB/jam (270 mg/jam) selama 47 kerja ialah Cervical 5 ASIA D; SCIWORA.
jam, Mecobalamin 500 mg tiap 12 jam iv, Hasil MRI memperlihatkan pada T1
ranitidin 50 mg tiap 12 jam iv, Laktulosa gambaran hipointens dan pada T2
sirup 3 x 1 sendok makan, dan rawat luka. gambaran hiperintens di medula spinalis
Pada perawatan hari ke-1 didapatkan segmen C3, dengan kesan kontusio medula
keluhan nyeri pada leher dan rasa tebal spinalis C3 (Gambar 1).
pada keempat anggota gerak mulai mem-
baik. Inspeksi regio vertebralis (log roll)
tidak ditemukan jejas dan deformitas. Pada
pemeriksaan colok dubur ditemukan tonus
sfingter ani cekat, dan sacral sparring
masih baik. Status motorik didapatkan trofi
normal, tanpa fasikulasi dan klonus.
Kekuatan otot masih menurun pada ke-
empat ekstremitas walaupun sudah
menunjukkan kemajuan. Pemeriksaan
penunjang laboratorik dalam batas normal,
kecuali gula darah 2 jam post prandial 197
mg/dL. Penatalaksanaan dengan rigid
collar neck dan mobilisasi cara log roll.
Terapi dilanjutkan dengan tambahan
ketorolac 20 mg 3 x 1 tablet (jika nyeri).
Diet lunak 1900 kkal dibagi atas empat
porsi, protein 2 g/kgBB/hari, takar urin, dan
keseimbangan cairan tubuh.
Pada perawatan hari ke-2, kelemahan
keempat anggota gerak dan rasa tebal pada
keempat anggota gerak masih terasa. Hasil
Gambar 1. Gambar MRI potongan sagital
pemeriksaan Grading ASIA/IMSOP: D. T1W (kiri) dan T2W (kanan)
Diagnosis kerja ialah Cervical 5 ASIA D;
curiga spinal cord injury without radiologic
abnormalities (SCIWORA). Program yang
direncanakan oleh Bagian Rehabilitasi Pada perawatan hari ke-29, keempat
Medik ialah: breathing exercise, mobilisasi anggota gerak mengalami perbaikan.
dengan neck collar, proper bed positioning, Kekuatan otot masing-masing ekstremitas
latihan isometrik servikal (Calliet exercise), (atas dan bawah) 4-4-4-4. Tonus otot
latihan penguatan otot aktif resisted ekstremitas atas dan bawah normal. Refleks
keempat ekstremitas; dan terapi dilanjutkan fisiologik meningkat pada ke-empat
Pada perawatan hari ke-3, keluhan ekstremitas, dan ditemukan refleks
masih tetap sama. Pemeriksaan gula darah patologik pada kedua ekstremitas atas. Saat
sewaktu 152 mg/dL, sedangkan yang lain- pulang, pasien dianjurkan untuk tetap
nya dalam batas normal. Pemberian metil- menggunakan neck collar, Mecobalamin
184 Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5, Nomor 3, November 2013, hlm. 181-189

500 mg 3x1 tablet, dan kontrol teratur di ditemukan kelemahan anggota gerak yang
poliklinik rehabilitasi medik. terjadi secara tiba-tiba sesaat setelah pasien
terjatuh dengan posisi kepala hiperekstensi
disertai gangguan sensorik berupa rasa
BAHASAN
baal. Posisi jatuh dengan kepala hiper-
Trauma medula spinalis adalah trauma ekstensi dapat menyebabkan peregangan
langsung atau tidak langsung pada tulang ligamentum longitudinal anterior, yang
belakang yang menyebabkan lesi medula merusak ruangan diskus vertebralis atau
spinalis sehingga menimbulkan gangguan bagian marginal tulang vertebra. Hal ini
neurologik, yang dapat berakibat kecacatan mengakibatkan fraktur batas anterior
menetap atau kematian.1 Tergantung letak superior atau inferior tulang belakang.
kerusakan saraf spinalis dan jaringan saraf Bagian posterior secara serentak meng-
yang rusak, gejala-gejala dapat bervariasi alami kompresi, sehingga mengakibatkan
mulai dari nyeri, paralisis, sampai fraktur prosesus spinosus, serta lamina dan
terjadinya inkontinensia. Kerusakan permukaannya.4,5 Pada kasus ini tidak
medula spinalis dapat dijelaskan dari dijumpai fraktur tulang servikal.
tingkat inkomplit dimana gejala-gejalanya Pada kasus ini pemeriksaan status
tidak berefek pada pasien, sampai kerusak- motorik awal menunjukkan trofi normal,
an komplit dimana pasien mengalami tanpa fasikulasi dan klonus. Pada keempat
kegagalan fungsi total.5,6 ekstremitas bilateral ditemukan kekuatan
Kerusakan medula spinalis tersering otot yang menurun sedangkan tonus otot
oleh penyebab traumatik, disebabkan dis- normal. Refleks fisiologik masih normal,
lokasi, rotasi, axial loading, dan hiper- tidak ditemukan refleks patologik. Status
fleksi atau hiperekstensi medula spinalis sensorik hipestesi eksteroseptif setinggi
atau kauda ekuina. Kecelakaan kendaraan segmen medula spinalis C5 ke bawah, dan
bermotor merupakan penyebab tersering proprioseptif terganggu. Inkontinensia urin
dari trauma medula spinalis, sedangkan et alvi tidak ditemukan.
penyebab lainnya ialah: jatuh, kecelakaan Cedera medula spinalis dapat dibagi
kerja, kecelakaan olahraga, dan penetrasi menjadi komplit dan inkomplit berdasar-
oleh tikaman atau peluru senjata api. kan ada/tidaknya fungsi yang dipertahan-
Disamping trauma pada vertebra dan kan di bawah lesi (Tabel 1). Terdapat 5
medula spinalis serta penyakit vaskuler, sindrom utama cedera medula spinalis
kerusakan medula spinalis juga dapat inkomplit menurut American Spinal Cord
disebabkan keadaan non-traumatik seperti Injury Association, yaitu: (1) Central cord
kanker, infeksi, dan penyakit sendi syndrome; (2) Anterior cord syndrome;
intervertebralis.1,2,5,6 (3) Brown-Sequard syndrome; (4) Cauda
Mekanisme tersering pada cedera equina syndrome; dan (5) Conus medularis
medula spinalis ialah gaya translasional syndrome. Sindrom inkomplit yang sangat
tidak langsung pada vertebra seperti hiper- jarang terjadi yaitu Posterior cord
ekstensi dan fleksi-rotasi (paling tidak syndrome (Tabel 2). Pada ilustrasi kasus di
stabil) mendadak yang mengakibatkan atas tipe sindrom cedera medula spinalis
cedera medula spinalis. Cedera juga dapat yang paling sesuai ialah central cord
diakibatkan oleh kompresi langsung pada syndrome (CCS).3-8
medula spinalis. Pada beberapa kasus, CCS terjadi akibat cedera inkomplit
terutama yang berusia muda (<8 tahun), pada bagian sentral segmen servikal
dapat terjadi cedera medula spinalis tanpa medula spinalis, paling sering pada segmen
kerusakan tulang atau struktur disekitarnya servikal bagian tengah hingga bagian
(SCIWORA).3 bawah. Kasus CCS di masyarakat sering
Diagnosis kasus ini ditegakkan berda- terjadi melalui mekanisme cedera
sarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hiperekstensi pada kasus spondilosis
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis servikal. Cedera tersebut terjadi akibat
Maja JPS, Diagnosis dan Penatalaksanaan Cedera Servikal... 185

trauma yang mengakibatkan pendesakan terjadi cedera yang edematosa dari-pada


ligamentum flavum (ligamen kuat yang hematomielia destruktif.5,7
saling menghubungkan lamina vertebra, Penelitian yang lebih mutakhir mene-
berfungsi untuk melindungi saraf dan mukan bahwa CCS mungkin terjadi akibat
medula spinalis serta menstabilisasikan perdarahan ke bagian sentral medula
spina sehingga tidak terjadi pergerakan spinalis, atau akibat disrupsi akson di kornu
berlebihan pada vertebra) yang akhirnya lateral pada level cedera namun tidak
menjepit medula spinalis dari posterior mengakibatkan kerusakan berarti pada
dan/atau akibat kompresi oleh osteofit atau substansia grisea. CCS juga dapat terjadi
material diskus dari anterior.5,9,10 Kompresi akibat fraktur dislokasi dan fraktur
juga menyebabkan gangguan perfusi dari kompresi, khususnya pada individu yang
arteri spinalis anterior. Pada pemeriksaan mengalami penyempitan kanalis spinalis
fisik kasus CCS biasanya terbatas pada secara kongenital. Tekanan kompresi yang
kelainan sistem neurologik, terdiri atas arahnya antero-posterior ini mengakibat-
gabungan lesi UMN dan lower motor kan kerusakan yang lebih parah di daerah
neuron (LMN) yang memasok ekstremitas sentral. Mekanisme cedera di atas
atas dan mengakibatkan paralisis flaksid mengakibatkan kerusakan yang paling
parsial; serta lesi yang lebih dominan pada parah pada bagian sentral medula spinalis
UMN yang memasok ekstremitas bawah dan kerusakan yang lebih ringan pada
mengakibatkan paralisis spastik. Kelainan bagian perifer medula spinalis. Cedera pada
ekstremitas atas biasanya lebih parah area ini mengakibatkan kerusakan traktus
daripada kelainan ekstremitas bawah, dan spinotalamikus lateralis dan traktus
terutama terjadi pada otot-otot tangan kortikospinalisis dengan gejala yang khas
bagian distal. Kehilangan kemampuan (Tabel 2).12,13
sensorik terjadi hingga derajat tertentu, Gangguan motorik maupun sensorik
meskipun sensasi sakral biasanya masih pada CCS terjadi akibat pola laminasi
utuh. Kemampuan kontraksi anus dan tonus traktus kortikospinalis dan traktus spino-
sfingter serta refleks Babinsky harus talamikus yang khas pada medula spinalis.
diperiksa.5,8,10,11 Traktus spinotalamikus lateralis memiliki
Pendapat lain menyebutkan bahwa susunan laminasi dengan pola somato-
kerusakan medula spinalis kemungkinan topik, dimana serat-serat yang berasal dari
terjadi akibat kontusio medula spinalis. segmen sakral terletak paling dorsolateral,
Kontusio ini terjadi karena medula spinalis selanjutnya oleh serat segmen lumbal dan
terapung dalam cairan serebrospinal. Pada torakal, sedangkan serat segmen servikal
goncangan misalnya akibat terjatuh maka terletak paling ventromedial. Karena CCS
terjadi osilasi, yang bila tidak teratur dapat disebabkan oleh cedera pada bagian sentral,
mengakibatkan benturan medula spinalis ke maka serat-serat bagian servikal yang
vertebra, dengan akibat terjadi stasis aliran mengalami cedera parah sedangkan serat-
aksoplasma, sehingga lebih cenderung serat bagian sakral tidak mengalami cedera.

Tabel 1. Tabulasi perbandingan klinik lesi komplit dan inkomplit8


Karakteristik Lesi komplit Lesi inkomplit
Motorik Hilang di bawah lesi Sering (+)
Protopatik (nyeri, suhu) Hilang di bawah lesi Sering (+)
Propioseptik (joint position, vibrasi) Hilang di bawah lesi Sering (+)
Sacral sparing Negatif Positif
Radiologik vertebra Sering fraktur, luksasi, atau listesis Sering normal
Hemoragi (54%) Edema (62%)
MRI Kompresi (25%) Kontusi (26%)
Kontusi (11%) Normal (15%)
186 Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5, Nomor 3, November 2013, hlm. 181-189

Tabel 2. Komparasi karakteristik klinik sindrom cedera medula spinalis2


Karakteristik Central cord Anterior cord Brown-Sequard Posterior cord
Klinik syndrome syndrome syndrome syndrome
Kejadian Sering Jarang Jarang Sangat jarang
Biomekanika Hiperekstensi Hiperfleksi Penetrasi Hiperekstensi
Sering paralisis Kelemahan Gangguan
Gangguan
komplit biasanya anggota bervariasi,
bervariasi;
Motorik bilateral; gerak ipsilateral gangguan traktus
jarang paralisis
gangguan traktus lesi; gangguan desenden
komplit
desenden traktus desenden ringan
Sering hilang Sering hilang
Gangguan Gangguan
total bilateral; total kontralateral;
Protopatik bervariasi, bervariasi,
gangguan traktus gangguan traktus
tidak khas biasanya ringan
asenden asenden
Hilang total
Jarang sekali ipsilateral;
Propioseptik Biasanya utuh Terganggu
terganggu gangguan traktus
asenden
Sering nyata, cepat; Fungsi buruk,
khas kelemahan Paling buruk di namun
Perbaikan ----
tangan dan jari antara lainnya independensi
menetap paling baik

Kerusakan inkomplit pada traktus ini yang mengenai traktus ini, maka awalnya
mengakibatkan hilangnya kemampuan tonus otot-otot yang bersangkutan akan
sensorik hingga batas-batas tertentu dalam hilang. Setelah beberapa hari atau minggu,
penghantaran impuls rasa nyeri dan suhu; tonus otot akan kembali secara berangsur-
juga hilangnya kemampuan motorik yang angsur hingga dapat terjadi spastisitas. Jika
berhubungan dengan rasa penuh pada kerusakan serat UMN yang melayani
kandung kemih, keinginan untuk miksi, ekstremitas bawah cukup berat, refleks
serta rasa nyeri pada kandung kemih, Babinsky akan positif.1,12,13
uretra, dan ureter, yang mengakibatkan Pemeriksaan penunjang yang disaran-
disfungsi kandung kemih.12,13 kan meliputi pemeriksaan laboratorik darah
Kerusakan traktus kortikospinalisis dan pemeriksaan radiologik, dianjur-kan
dapat mengakibatkan hilangnya kemampu- dengan 3 posisi standar (antero-posterior,
an untuk mengadakan pergerakan di bawah lateral, dan odontoid) untuk vertebra
kemauan terutama pada bagian distal servikal, serta posisi AP dan lateral untuk
ekstremitas baik atas maupun bawah. Oleh vertebra torakal dan lumbal. Pada kasus
karena tipe laminasi traktus kortikospinalis yang tidak menunjukkan kelainan
dengan serat-serat yang melayani tangan radiologik, pemeriksaan lanjutan CT-
terletak lebih medial daripada serat-serat Scan dan MRI sangat dianjurkan. MRI
yang melayani kaki, maka cedera inkom- merupakan alat diagnostik yang paling baik
plit di sentral segmen servikal medula untuk mendeteksi lesi medula spinalis
spinalis akan mengakibatkan kelemahan akibat cedera/trauma. Pada pasien ini tidak
ekstremitas atas yang lebih parah daripada ditemukan kelainan pada foto servikal
ekstremitas bawah. Sendi-sendi yang AP/lateral dan CT-Scan servikal. Pemerik-
terletak di sebelah proksimal maupun saan MRI menunjukkan pada T1 tampak
gerakan-gerakan yang bersifat kasar gambaran hipointens dan pada T2 tampak
bisanya tidak terlalu terpengaruh. Jika gambaran hiperintens di medula spinalis
terjadi cedera yang mengakibatkan perda- segmen C3, dengan kesan adanya kontusio
rahan atau trombosis (seperti pada CCS) pada medula spinalis C3.
Maja JPS, Diagnosis dan Penatalaksanaan Cedera Servikal... 187

Bagian medula spinalis yang paling hanya 1-2% pasien dengan cedera medula
rentan ialah bagian dengan vaskularisasi spinalis komplit dapat berjalan.1 Keadaan
yang paling banyak yaitu bagian sentral. ini disebabkan kesulitan saat pemeriksaan
Pada CCS, bagian yang paling menderita neurologik awal, terutama pada pasien
gaya trauma dapat mengalami nekrosis dalam keadaan mabuk, pengaruh obat-obat
traumatik yang permanen. Edema yang penenang, syok spinal, gegar otak, atau
terjadi dapat meluas sampai 1-2 segmen di tidak kooperatif oleh karena hal-hal lain.
bawah dan di atas titik pusat cedera. Cedera medula spinalis komplit yang bisa
Sebagian besar kasus CCS menunjukkan mengalami perbaikan dapat diidentifikasi
hipo/isointens pada T1 dan hiperintens dengan tes elektrofisiologi yang menun-
pada T2, yang mengindikasikan adanya jukkan serabut saraf yang masih intak pada
edema.5-7 stadium subakut maupun kronik. Studi
Pasien ini didiagnosis dengan Servikal otopsi menunjukkan bahwa pada cedera
5 ASIA D berdasarkan derajat cedera medula spinalis komplit masih terdapat
medula spinalis menurut skala ASIA daerah anatomi yang intak.1
/IMSOP (American Spinal Cord Injury Terapi pada kasus cedera medula
Association/Internatonal Medical Society spinalis terutama ditujukan untuk mening-
of Paraplegia). Skala penilaian ASIA/ katkan dan mempertahankan fungsi
IMSOP (Tabel 3) yang baru telah sensorik dan motorik. Pasien dengan cedera
dikembangkan untuk membedakan cedera medula spinalis komplit hanya memiliki
komplit maupun inkomplit. Untuk mem- peluang 5% untuk kembali normal. Lesi
bedakan keduanya dilakukan tes tusuk medula spinalis komplit yang tidak
jarum dan raba halus pada daerah derma- menunjukkan perbaikan dalam 72 jam
tom L4 dan L5, daerah mukokutaneus pertama, cenderung menetap dan prog-
perianal, sensasi anal dalam, serta kontrak- nosisnya buruk. Cedera medula spina-lis
si spinkter ani eksterna dengan pemeriksa- inkomplit cenderung memiliki prognosis
an colok dubur. Perbedaan kedua jenis yang lebih baik. Bila fungsi sensorik di
cedera ini memengaruhi perencanaan bawah lesi masih ada, maka kemungkinan
tatalaksana dan kemungkinan keluaran untuk kembali berjalan >50%.
suatu cedera.5-8 Metilprednisolon merupakan terapi
Cedera inkomplit memiliki kemung- yang paling umum digunakan untuk cedera
kinan keluaran yang lebih baik dibanding- medula spinalis traumatika dan direkomen-
kan cedera komplit servikal, torakal, atau dasikan oleh National Institute of Health di
torakolumbal. Studi lampau menyebutkan Amerika Serikat. Penggunaannya sebagai
bahwa hampir tidak terjadi perbaikan pada terapi utama cedera medula spinalis
cedera medula spinalis komplit. Hasenbout traumatika masih dikritik oleh banyak
mengemukakan bahwa dalam tinjauan pihak dan belum digunakan sebagai terapi
komprehensif dari serial kasus yang luas, standar. Kajian Braken dalam Cochrane

Tabel 3. Klasifikasi derajat cedera medula spinalis menurut ASIA/IMSOP1


Tingkat Tipe Gangguan medula spinalis
A Komplit Tidak ada fungsi motorik dan sensorik sampai S4-S5
Fungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu sampai
B Inkomplit
segmen sakral S4-S5
Fungsi motorik terganggu dibawah level tapi otot-otot
C Inkomplit
motorik utama masih mempunyai kekuatan <3
Fungsi motorik terganggu dibawah level, kekuatan otot-otot
D Inkomplit
motorik utama >3
E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal
188 Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5, Nomor 3, November 2013, hlm. 181-189

Library menunjukkan bahwa metilpred- memerlukan waktu yang paling lama untuk
nisolon dosis tinggi merupakan satu- kembali normal. Bila lesi disebabkan oleh
satunya terapi farmakologik yang terbukti perdarahan atau iskemia, prognosis
efektif pada uji klinik tahap 3, sehingga biasanya lebih buruk dan penyembuhan
obat ini dianjurkan sebagai terapi cedera spontan sulit terjadi.
medula spinalis traumatika. Mekanisme Faktor yang memengaruhi prognosis
kerja metilprednisolon ialah menurunkan antara lain: tingkat keparahan kelemahan
respon inflamasi dengan menekan migrasi ekstremitas atas, pulihnya fungsi motorik
netrofil dan menghambat peningkatan dalam waktu singkat, peningkatan yang
permeabilitas vaskular. Metilprenidsolon signifikan pada kekuatan ekstremitas atas
menghambat kerja lipid peroksidase dan maupun bawah pada tahap awal rehabi-
hidrolisis sehingga dapat menghambat litasi, usia yang lebih muda, serta tidak
destruksi membran sel. Kerusakan mem- terdapat kelainan neurologik pada
10,11
bran sel mencapai puncak sekitar 8 jam; ekstremitas bawah.
oleh karena itu, metilprednisolon harus di-
berikan dalam rentang waktu tersebut.
SIMPULAN
Lipid peroksidase mengacu pada degra-
dasi oksidatif lipid, yaitu proses dimana Telah dilaporkan kasus cedera servikal
radikal bebas "mencuri" elektron dari lipid medula spinalis yang inkomplit. Penata-
pada membran sel, yang mengakibatkan laksanaan dengan stabilisasi leher, tata-
kerusakan sel.2,5-7 laksana umum cedera leher, pemberian
Pencegahan komplikasi sangat berperan metilprednisolon dosis tinggi, pencegahan
penting. Tindakan rehabilitasi medik komplikasi, dan fisioterapi teratur. Setelah
merupakan kunci utama dalam penanganan perawatan, pasien menunjukkan kemajuan
pasien cedera medula spinalis. Fisioterapi, yang berarti, baik fungsi motorik maupun
terapi okupasi, dan bladder training harus sensorik.
dilakukan sedini mungkin. Tujuan utama
fisioterapi ialah untuk mempertahankan
DAFTAR PUSTAKA
range of movement (ROM) dan kemampu-
an mobilitas, dengan memperkuat fungsi 1. Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock
otot-otot. Terapi okupasional terutama JT. Spinal cord injury. In: Narayan RK,
ditujukan untuk memperkuat dan memper- editor. Neurotrauma Vol II. Mc-Graw-
baiki fungsi ekstremitas atas, serta mem- Hill. New York. 1996; II;1041-112.
2. Derwenskus J, Zaidat O. Spinal cord injury
pertahankan kemampuan aktivitas hidup
and related disease. In: Suarez JI,
sehari-hari. Pembentukan kontraktur harus editor. Critical Care Neurology and
dicegah seoptimal mungkin.1,2,5-7 Neurosurgery. New Jersey: Humana
Prognosis bonam pada kasus ini karena Pres, 2004; 433-48.
selama perawatan pasien mengalami per- 3. Kelompok Studi Neurotraumatologi.
baikan neurologik yang berarti. Pasien CCS PERDOSSI. Konsensus Trauma
yang berusia <50 tahun biasanya memiliki Kepala dan Medula Spinalis. 2006.
prognosis baik; dalam waktu singkat 97% 4. Basuki A. Cedera medula spinalis akut. In:
kasus mengalami kesembuhan, memper- Basuki A, Dian S, editors. Kegawat-
oleh kembali kemampuan mobilisasi, dan daruratan Neurologi. Bandung:
dapat melakukan kegiatan harian dengan Bagian/UPF Ilmu Penyakit Saraf FK
UNPAD/RSHS, 2010; p. 123-49.
normal. Pasien berusia >50 tahun memiliki
5. Baskin DS. Spinal cord injury. In: Evans
prognosis lebih buruk; hanya 17% kasus RW, editor. Neurology and Trauma.
yang mengalami kesembuhan. Bila New York: Oxford University Press,
penyebab CCS ialah edema, gejala dapat 2006; p. 265-344.
membaik dalam waktu singkat. Fungsi kaki 6. Sullivan SJ, Hassan DG. Spinal trauma. In:
biasanya akan kembali lebih dulu. Gerakan Manji H, Connolly S, Dorward N,
lengan bawah dan jari tangan biasanya Kitchen N, Mehta A, Wils A, editors.
Maja JPS, Diagnosis dan Penatalaksanaan Cedera Servikal... 189

Neurotrauma. Oxford American York: Informa Healthcare, 2008; p.


Handbook of Neurology. Philadelphia: 357-414.
Oxford University Press, 2010; p. 356- 10. Sadowsky C, McDonald JW. Spinal cord
65. injury. The Lancet. 2002;359:417-25.
7. Brown J, Johnston RA. Acute spinal cord 11. Pinzon R. Mielopati servikal terkini:
compression. In: Hughes RAC, editor. Telaah pustaka terkini. Cermin Dunia
Neurological Emergencies (Fourth Kedokteran. 2007;154:39-42.
Edition). London: BMJ Books, 2003; p. 12. Baehr M, Frotscher M. Motor system. In:
345-76. Topical Diagnosis in Neurology:
8. Ropper A, Samuels MA. Spinal cord Anatomy, Physiology, Signs,
disorder in trauma. Adams and Victors Symptoms (Fourth Edition). New
Principles of Neurology (Ninth York: Thieme, 2005; p. 57-115.
Edition). New York: McGraw-Hill, 13. Snell RS. Medula spinalis serta tractus
2009. p. 1181-89. ascendens dan descendens. In:
9. Dillman D, Brambrink A. Spinal cord Sugiharto L, alih bahasa; Dimanti A,
injury. In: Bhardwaj A, Ellegala DB, Hartanto H, editors. Neuroanatomi
Kirsch JR, editors. Acute Brain and Klinik (Edisi Kelima). Jakarta: EGC,
Spinal Cord Injury, Evolving 2002; p. 150-210.
Paradigms and Management. New