You are on page 1of 5

UNIVERSITAS RIAU 2015, Teknik Lingkungan S1

Pentingnya Aspek Sosial Budaya dalam Kebijakan Perdagangan Karbon


sebagai Ajang Perbaikan Iklim Melalui REDD
Oleh:
Parlaungan Hasibuan

Program Studi Teknik Lingkungan FT Universitas Riau

ABSTRAK
Pelepasan emisi karbon yang berlebihan dihasilkan dari penggunaan kendaraan
bermotor, pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas industri, pembakaran sampah plastik
dan kebakaran hutan yang saat ini terjadi di Indonesia. Data Sign Smart yang didapatkan
lewat pengukuran emisi dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi itu mengungkap, pada
tahun 2000, emisi karbon dioksida dari batubara masih 444.738 ton, tetapi pada tahun
2013 mencapai 2.290.082 ton, ini menunjukkan peningkatan emisi yang pesat. Proses
diplomasi tidak semata hanya berbicara dalam konteks kepentingan nasional, akan
tetapi lebih luas melihat bagaimana proses diplomasi juga meref leksikan kemampuan
mengkomunikasikan kondisi global ke dalam konteks domestik, dan begitu juga
sebalikanya memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan domestik dalam ranah
rezim internasional perubahan iklim. Dengan demikian, hubungan antara faktor
domestik (lokal) dengan kondisi global/ internasional bisa tercermin dalam kebijakan-
kebijakan yang dihasilkan (win-set). Lebih lanjut, implementasi kebijakan perubahan
iklim global pada level domestik akan lebih acceptable dan populis karena kebijakan
yang dirumuskan tidak lagi bersifat parsial melainkan bersifat menyeluruh
(komprehensif) yang merefleksikan kebutuahan dari berbagai sektor dan level.

1.1. Pendahuluan
Perubahan iklim ditandai dengan (nationalgeographic.co.id).
pelepasan emisi karbon ke atmosfer Komitmen Indonesia dalam
secara berlebihan. Pelepasan emisi menanggulangi isu perubahan iklim
karbon yang berlebihan dihasilkan dari global ditandai dengan meratifikasi
penggunaan kendaraan bermotor, keanggotaannya dalam The United
pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas
Nations Framework Convention on
industri, pembakaran sampah plastik dan
Climate Change ( UNFCCC) melalui
kebakaran hutan yang saat ini terjadi di
Indonesia (mangrovemagz.com). Undang Undang No. 6 Tahun 1994 dan
Data Sign Smart yang didapatkan juga telah meratifikasi skema kebijakan
lewat pengukuran emisi dari 514 dalam Protokol Kyoto melalui UU no.
kabupaten/kota di 34 provinsi itu 17/2004 (Apriwan, 2010). Keberlanjutan
mengungkap, pada tahun 2000, emisi dari Skema Protokol Kyoto di atas akan
karbon dioksida dari batubara masih diperbaharui pada 2012, dan Skema
444.738 ton, tetapi pada tahun 2013 pengurangan emisi dan deforestasi dan
mencapai 2.290.082 ton, ini menunjukkan
degradasi hutan (REDD) dipromosikan
peningkatan emisi yang pesat.
UNIVERSITAS RIAU 2015, Teknik Lingkungan S1

sebagai salah satu skema yang akan (berdasarkan skenario Business As Usual-
dijadikan penerus skema pengurangan BAU) menjadi 41 % dengan bantuan
emisi gas rumah kaca bagi negara - negara negara-negara industry maju pada tahun
berkembang. Skema ini bertujuan untuk 2040 (Purwanto, Sartika dan
Rahman,2010: 2).
memberi harga pada karbon yang bisa
Akan tetapi masih banyak pro dan
diserap hutan dan yang bisa ditahan jika
kontra terkait kesiapan di tingkat lokal
terjadi penebangan hutan. Sederhananya
maupun nasional. Dimana, adanya
skema REDD memberikan insentif kepada
keprihatinan bahwa skema REDD hanya
negara-negara pemilik hutan tropis untuk
memprioritaskan, kepentingan
menjaga dan tidak mengekploitasi
konservasi dan menguatkan kontrol
hutannya untuk kepentingan ekonomi
negara/global terhadap pemanfaatan
(Ica, 2010: 55).
pengelolaan hutan. Sementara isu
Kondisi ini memungkinkan bagi pihak
pengentasan kemiskinan, bagi
negara maju untuk membeli karbon ke
masyarakat yang hidupnya bergantung
negara-negara berkembang melalui
pada hutan,termasuk masyarakat adat,
produksi hutan mereka. Dengan
justru tidak mendapatkan porsi yang
membayar Oksigen yang dihasilkan oleh
seimbang. Muncul keprihatinan lebih
hutan negara-negara berkembang,
dalam mengingat bahwa skema REDD
negara-negara maju tidak harus
yang didanai oleh institusi yang
menurunkan produksi emisi karbon,
dikontrol oleh negara maju (seperti
tetapi bisa diganti dengan mekanisme
Bank Dunia), atau sektor swasta
perdagangan karbon melalui skema REDD
(melalui pasar karbon) hanya akan
tersebut.
melayani kepentingan negara-negara
Indonesia sebagai negara
dan perusahaan itu, daripada penduduk
berkembang cukup proaktif untuk
berpartisipasi dalam skema terakhir ini. yang tinggal dan bergantung pada hutan
Dengan luas hutan sekitar 144 juta demi keberlansungan kehidupan mereka
hektar dan merupakan negara yang (Keadilan Iklim dan Penghidupan yang
memiliki hutan tropis terluas ketiga di Berkelanjutan, 2008).
dunia, Indonesia merupakan pasar yang
potensial dalam penerapan skema REDD 2.1. Pembahasan
tersebut. Partisipasi Indonesia ini terlihat Putnam (1988), menawarkan sebuah
dari aktifnya Indonesia mempromosikan
kerangka atau model yang reliable untuk
skema REDD ini disetiap pertemuan
menjembatani faktor domestik dan
UNFCCC mulai dari COP 13 Bali 2007
sampai pada COP 15 Copenhagen 2009. internasional atau faktor internal dan
Komitmen Indonesia ini juga tercermin eksternal dengan pendekatan two level
dari pernyataan Presiden Susilo Bambang games, konsep ini menjelaskan
Yudhoyono pada COP 15, bahwa bagaimana faktor domestik suatu negara
Indonesia optimis untuk menurunkan sangat menentukan keberhasilan politik
GHG Emission nya dari 26 % luar negeri mereka di tengah konstelasi
UNIVERSITAS RIAU 2015, Teknik Lingkungan S1

politik internasional. Untuk itu diperlukan terkait semata, tanpa mengakomodir


sinergisitas antara kedua level tersebut, kepentingan masyarakatnyang bermukin
sehingga bisa memudahkan dan di sekitar hutan (Ica, 2010: 55).
menguatkan proses perumusan kebijakan Kemudian, untuk konteks
maupun implementasi dari kebijakan luar Sumatera Barat misalnya, dengan
negeri (Starr, 2006:4). luas hutan 4.228.730,00 Hektar
Hasil riset Purwanto, dkk, (2010) dari (http://www.dephut.go.id/files/
CIFOR, menemukan bahwa adanya aspek Sumbar_07_Luas_Kws_Hutan.pdf)
sosial budaya terkait pada pemanfaatan yang tersebar di 19 kabupaten/kota
sumber daya alam seperti hutan. Kondisi merupakan daerah yang cukup
ini berangkat dari keberadaan komunitas signifikan terkait skema kebijakan
lokal disekitar wilayah sumber daya. REDD tersebut. Seperti yang
Komunitas lokal yang pada umumnya dilaporkan harian Padang Ekspres,
hidup dalam alam sub-sistem atau pra- beberapa negara seperti Australia dan
kapitalis selama ini menjadi tersisihkan Singapura ingin menjalin perdagangan
karena kehadiran pemerintah dan swasta karbon dengan Sumatera Barat, akan
melalui investasi modal pertambangan tetapi karena belum ada regulasi yang
dan perusahan konsesi hutan di sekitar jelas tentang mekanisme penjualan
kawasan sumber daya. Pola- pola ini karbon tersebut, Pemerintah
selalu muncul pada program-program Sumatera Barat selalu menunda
pembangunan yang menempatkan kerjasama tersebut (Perdagangan
komunitas lokal termarginalkan ketika Karbon Ditunda, Padang Ekspress,
berhadapan dengan ekonomi kapitalis. 20/04/2011).
Wulansari (2010) memberikan Dengan demikian, skema REDD yang
pandangan bahwa adanya potensi akan berkaitan dengan pemanfaatan
konflik dalam penerapan skema REDD lahan hutan di Sumatera Barat, secara
di Indonesia. REDD dinilai berpotensi tidak lansung akan berhadapan dengan
mengabaikan, bahkan melanggar hak- kepemilikan tanah ulayat yang juga
hak masyarakat adat atas hutan yang merupakan hutan yang akan menjadi
telah menjadi sumber penghidupan komoditas perdagangan karbon dalam
mereka sejak lama. Masyarakat lokal skema kebijakan perubahan iklim global
Sumatera dan Papua memiliki REDD. Artinya, konflik atas penggunaan
kepercayaan bahwa hutan termasuk lahan akan semakin kompleks, seiring
dalam kehidupannya, sementara munculnya keberadaan REDD yang mau
pemerintah lokal, provinsi maupun tidak mau akan dialami oleh setiap
nasional berhak menyewakan lahannya daerah di Indonesia.
kepada perusahaan. Sehingga
mekanisme REDD hanyalah melibatkan 3.1. Kesimpulan
pemerintah atau kepentingan yang Artinya, produk kebijakan
UNIVERSITAS RIAU 2015, Teknik Lingkungan S1

perubahan iklim global UNFCCC, menyeluruh (komprehensif) yang


khususnya terkait dengan skema REDD merefleksikan kebutuahan dari
dan perdagangan karbon perlu berbagai sektor dan level.
memang mempertimbangkan kembali
konteks domestik (daerah), dalam
artian bagaimana kondisi nyata,
kebutuhan dan kepentingan domestik
tersebut terakomodir dalam skema
kebijakan yang dihasilkan. Model two
level games yang ditawarkan oleh
Putnam cukup reliable memberikan
gambaran bagaimana hubungan
domestik dan internasional
(intermestik) harusnya dibangun
dalam proses diplomasi dan negosiasi
dalam level rezim perubahan iklim
global.
Pendekatan ini memberikan
pemahaman bahwa, proses diplomasi
tidak semata hanya berbicara dalam
konteks kepentingan nasional, akan
tetapi lebih luas melihat bagaimana
proses diplomasi juga meref leksikan
kemampuan mengkomunikasikan
kondisi global ke dalam konteks
domestik, dan begitu juga sebalikanya
memperjuangkan kepentingan dan DAFTAR PUSTAKA
kebutuhan domestik dalam ranah
rezim internasional perubahan iklim. Apriwan. 2010. Clean and Development
Dengan demikian, hubungan antara Mechanism in Indonesia.Makalah
faktor domestik (lokal) dengan kondisi dipresentasikan pada Environmental
global/ internasional bisa tercermin Policy Program. International
dalam kebijakan-kebijakan yang University of Japan, Japan Maret.
Ica, Wulansari. 2010. Deforestasi di
dihasilkan (win-set). Lebih lanjut,
Indonesia dan Mekanisme REDD.
implementasi kebijakan perubahan Jurnal Ilmiah Hubungan
iklim global pada level domestik akan Internasional, Volume 6 No.2 PACIS
lebih acceptable dan populis karena Universitas Katolik Parahyangan,
kebijakan yang dirumuskan tidak lagi Bandung.
bersifat parsial melainkan bersifat
Keadilan Iklim dan Penghidupan yang
UNIVERSITAS RIAU 2015, Teknik Lingkungan S1

Berkelanjutan, Kompilasi News


Letter Down To Earth (DTE), 2008,
KIPPY Print Solution.

Noviyanti, Kartika.(2015). Gagasan Hutan


Mangrove dalam Menangani Emisi

Karbon.http://mangrovemagz.com/in
dex.php/berita-mangrove/opini/238-
gagasan-hutan- mangrove-dalam-
menangani-emisi-karbon
Padang Ekspres. 20 April 2011.
Perdagangan Karbon Ditunda.
(Online),

(http://unfccc.int/essential_backgrou
nd/feeling_the_heat/items/
2917.php, diakses 10 Juni 2009).

Purwanto, Semiarto Aji, Iwi Sartika, Rano


Rahman. 2010. Kesiapan dan
kerentanan sosial dalamskema
kebijakan perubahan iklim/REDD di
Indonesia. Kertas Kerja Epistema
No.08/2010, Jakarta: Epistema
Institute.

Wiji Utomo, Yunanto.(2015). Emisi


Karbon dari Sektor Energi yang Terus
Meningkat.http://nationalgeographic
.co.id/berita/2015/07/emisi-karbon-
dari-sektor-energi-yang-teru s-
meningkat