You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN

CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)

DISUSUN OLEH :
IHSAN AJI PRATAMA
D2016031

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
AISYIYAH SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan dengan gangguan sistem kardiovaskuler termasuk
didalammya Congestive Heart Failure (CHF) masih menduduki peringkat
yang tinggi, menurut data WHO pada tahun 2007 dilaporkan bahwa gagal
jantung mempengaruhi lebih dari 20 juta pasien di dunia dan meningkat
seiring pertambahan usia dan mengenai pasien dengan usia lebih dari 65
tahun, dan sekitar 6-10% lebih banyak mengenai laki-laki dari pada wanita.
Pada tahun 2030 WHO memprediksi peningkatan penderita gagal jantung
mencapai 23 juta jiwa di dunia. Gagal jantung juga menjadi masalah khas
utama pada beberapa Negara industri maju dan negara berkembang seperti
Indonesia.
Menurut Kompas (2010), sekitar 4,3 juta penduduk Indonesia mengalami
gagal jantung, dan 500.000 kasus baru gagal jantung telah di diagnosis tiap
tahunnya. Harapan hidup penderita gagal jantung lebihburuk dibandingkan
dengan kanker apapun kecuali kanker paru-paru dan kanker ovarium karena
sampai 75% penderita gagal jantung meninggal dalam kurun waktu 5 tahun
sejak diagnosis. Sedangkan menurut profil kesehatan Indonesia pada tahun
2005 gagal jantung merupakan urutan ke 5 penyebab kematian terbanyak di
rumah sakit seluruh Indonesia. Perubahan gaya hidup, kadar kolesterol yang
tinggi, perokok aktif dan kurangnya kesadaran berolahraga menjadi faktor
pemicu munculnya penyakit gagal jantung.
Sedangkan data yang diperoleh dari rekam medik Rumah Sakit Dr.
Moewardi di Surakarta, diperoleh data prevalensi penderita CHF pada bulan
Januari sampai bulan November 2012 sebanyak 142 pasien.

B. Tujuan
Penulis memahami Ilmu Pengetahuan dengan pengalaman praktek dilapangan
dan mengaplikasikan ke dalam Asuhan Keperawatan dengan pasien
Congestive Heart Failure (CHF).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Gagal jantung disebut juga CHF (Congestive Heart Failure) atauDecomp
Cordis. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimanajantung sebagai
pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untukmatabolisme jaringan
(Price, S. A. 2007).
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologik berupa kelainanfungsi
jantung sehingga tidak mampu memompa darah untuk memenuhikebutuhan
metabolisme jaringan dan kemampuannya ada kalau disertaipeninggian
volume diastolik secara abnormal (Mansjoer, 2009).
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologik adanya kelainanfungsi
jantung berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhikebutuhan
metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalaudisertai
peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Smeltzer, 2007).

B. Klasifikasi
Klasifikasi gagal jantung menurut New York Heart Association (NYHA)
dalam Gray (2012), terbagi dalam 4 kelas yaitu:
1. NYHA I: Timbul sesak pada aktifitas fisik berat
2. NYHA II: Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang
3. NYHA III: Timbul sesak pada aktifitas fisik ringan
4. NYHA IV:Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan atau istirahat

C. Etiologi
Menurut Hudak dan Gallo (2010) penyebab kegagalan jantung yaitu
1. Disritmia, seperti: brakikardi, takikardi dan kontraksi premature yang
sering dapat menurunkan curah jantung.
2. Malfungsi katub dapat menimbulkan kegagalan pompa baik oleh
kelebihan beban tekanan (obstruksi pada pengaliran keluar dari pompa
ruang, seperti stenosis katub aortik atau stenosis pulmonal), atau dengan
kelebihan beban volume yang menunjukkan peningkatan volume darah ke
ventrikel kiri.
3. Abnormalitas Otot Jantung: Menyebabkan kegagalan ventrikel meliputi
infark miokard, aneurisma ventrikel, fibrosis miokard luas (biasanya dari
aterosklerosis koroner jantung atau hipertensi lama), fibrosis endokrin,
penyakit miokard primer (kardiomiopati), atau hipertrofi luas karena
hipertensi pulmonal, stenosis aorta atau hipertensi sistemik
4. Ruptyr miokart : terjadi sebagai awitan dramatic dan sering
membahayakan kegagalan pompa dan dihubungkan dengan mortalitas
tinggi. Ini biasa terjadi selama 8 hari pertama infark
Menurut Smeltzer (2007) penyebab gagal jantung kongestif yaitu:
1. Kelainan otot jantung
2. Aterosklerosis coroner
3. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload)
4. Peradangan dan penyakit miokardium degenerative
5. Penyakit jantung lain

D. Manifestasi Klinis
Menurut Hudak dan Gallo (2010), Gejala yang muncul sesuai dengan gejala
gagal jantung kiri diikuti gagal jantung kanan dan terjadinya di dada karena
peningkatan kebutuhan oksigen. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda
tanda gejala gagal jantung kongestif biasanya terdapat bunyi derap dan bising
akibat regurgitasi mitral.
1. Gagal Jantung Kiri
a. Gelisah dan cemas
b. Kongesti vaskuler pulmonal
c. Edema
d. Penurunan curah jantung
e. Gallop atrial (S3)
f. Gallop ventrikel (S4)
g. Crackles paru
h. Disritmia
i. Bunyi nafas mengi
j. Pulsus alternans
k. Pernafasan cheyne-stokes
l. Bukti-bukti radiologi tentang kongesti pulmonal
m. Dyspneu
n. Batuk
o. Mudah lelah
2. Gagal Jantung Kanan
a. Peningkatan JVP
b. Edema
c. Curah jantung rendah
d. Disritmia
e. S3 dan S4
f. Hiperresonan pada perkusi
g. Pitting edema
h. Hepatomegali
i. Anoreksia
j. Nokturia
k. Kelemahan

E. Komplikasi
Menurut Smeltzer (2007), komplikasi dari CHF adalah :
1. Edema pulmoner akut
2. Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme
dan masukan diit berlebih.
3. Perikarditis: Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah
uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
4. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system renin-
angiotensin-aldosteron.
5. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah
merah.
F. Patofisiologi
Kelainan intrinsic pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal
jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang
efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah
sekuncup, dan meningkatkan volume residu ventrikel. Dengan meningkatnya
EDV (volume akhir diastolic ventrikel), maka terjadi pula pengingkatan
tekanan akhir diastolic ventrikel kiri (LVEDP). Derajat peningkatan tekanan
tergantung dari kelenturan ventrikel. Dengan meningkatnya LVEDP, maka
terjadi pula peningkatan tekanan atrium kiri (LAP) karena atrium dan
ventrikel berhubungan langsung selama diastole. Peningkatan LAP diteruskan
ke belakang ke dalam anyaman vascular paru-paru, meningkatkan tekanan
kapiler dan vena paru-paru. Jika tekanan hidrostatik dari anyaman kapiler
paru-paru melebihi tekanan onkotik vascular, maka akan terjadi transudasi
cairan ke dalam intertisial. Jika kecepatan transudasi cairan melebihi
kecepatan drainase limfatik, maka akan terjadi edema intertisial. Peningkatan
tekanan lebih lanjut dapat mengakibatkan cairan merembes ke dalam alveoli
dan terjadilah edema paru-paru.
Tekana arteria paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap
peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan
tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti yang
terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, di mana
akhirnya akan terjadi kongesti sistemik dan edema.
Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat
dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dari katup-katup trikuspidalis atau
mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari
annulus katup atrioventrikularis, atau perubahan-perubahan pada orientasi otot
papilaris dan korda tendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang
(smeltzer 2007).
G. Pathway
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Doenges (2010) pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk
menegakkan diagnosa CHF yaitu:
1. Elektro kardiogram (EKG)
Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, disritmia,
takikardi, fibrilasi atrial
2. Scan jantung
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding.
3. Sonogram (echocardiogram, echokardiogram doppler)
Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam
fungsi/struktur katub atau area penurunan kontraktilitas ventricular.
4. Kateterisasi jantung
Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal
jantung kanan dan gagal jantung kiri dan stenosis katub atau insufisiensi.
5. Rongent Dada
Dapat menunjukan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi
atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah abnormal
6. Elektrolit
Mungkin berubah karena perpindahan cairan/penurunan fungsi ginjal,
terapi diuretic
7. Oksimetri Nadi
Saturasi oksigen mungkin rendah terutama jika gagal jantung kongestif
akut menjadi kronis.
8. Analisa Gas Darah (AGD)
Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratori ringan (dini) atau
hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir)
9. Pemeriksaan Tiroid
Peningkatan aktivitas tiroid menunjukkan hiperaktivitas tiroid sebagai pre
pencetus gagal jantung kongestif
I. Pengkajian
Menurut Doenges (2010), asuhan keperawatan yang penting dilakukan
pada klien CHF meliputi :
1. Pengkajian primer
a. Airway: penilaian akan kepatenan jalan nafas, meliputi pemeriksaan
mengenai adanya obstruksi jalan nafas, dan adanya benda asing. Pada
klien yang dapat berbicara dapat dianggap jalan napas bersih.
Dilakukan pula pengkajian adanya suara nafas tambahan seperti
snoring.
b. Breathing: frekuensi nafas, apakah ada penggunaan otot bantu
pernafasan, retraksi dinding dada, dan adanya sesak nafas. Palpasi
pengembangan paru, auskultasi suara nafas, kaji adanya suara napas
tambahan seperti ronchi, wheezing, dan kaji adanya trauma pada dada.
c. Circulation: dilakukan pengkajian tentang volume darah dan cardiac
output serta adanya perdarahan. Pengkajian juga meliputi status
hemodinamik, warna kulit, nadi.
d. Disability: nilai tingkat kesadaran, serta ukuran dan reaksi pupil.
2. Fokus Pengkajian: Fokus pengkajian pada pasien dengan gagal jantung.
Pengamatan terhadap tanda-tanda dan gejala kelebihan cairan sistematik
dan pulmonal.
a. Pernafasan : Auskultasi pada interval yang sering untuk menentukan
ada atau tidaknya krakles dan mengi, catat frekuensi dan kedalaman
bernafas.
b. Jantung: Auskultasi untuk mengetahui adanya bunyi bising jantung S3
dan S4, kemungkinan cara pemompaan sudah mulai gagal.
c. Tingkat kesadaran: Kaji tingkat kesadaran, adakah penurunan
kesadaran
d. Perifer: Kaji adakah sianosis perifer
e. Kaji bagian tubuh pasien yang mengalami edema dependen dan hepar
untuk mengetahui reflek hepatojugular (RHJ) dan distensi vena
jugularis (DVJ).
J. Diagnosa
Menurut Nanda (2009) dan Doengus (2010), diagnosa yang muncul pada klien
CHF adalah :
1. Penurunan cardiac output b.d perubahan kontraktilitas miokard
2. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2
Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran kapiler alveoli
3. Kelebihan volume cairan b.d pengaturan melemah

K. Intervensi
No. Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Penurunan - Cardiac Pump Cardiac Care
curah jantung effectiveness - Evaluasi adanya nyeri dada
b/d respon - Circulation Status (intensitas,lokasi, durasi)
fisiologis otot Vital Sign Status - Catat adanya disritmia jantung
jantung, Kriteria Hasil: - Catat adanya tanda dan gejala
peningkatan 1. Tanda Vital dalam penurunan cardiac putput
frekuensi, rentang normal - Monitor status kardiovaskuler
dilatasi, (Tekanan darah, - Monitor status pernafasan yang
hipertrofi atau Nadi, respirasi) menandakan gagal jantung
peningkatan 2. Dapat mentoleransi - Monitor abdomen sebagai indicator
isi sekuncup aktivitas, tidak ada penurunan perfusi
kelelahan - Monitor balance cairan
3. Tidak ada edema - Monitor adanya perubahan tekanan
paru, perifer, dan
darah
tidak ada asites
- Monitor respon pasien terhadap efek
4. Tidak ada
pengobatan antiaritmia
penurunan
- Atur periode latihan dan istirahat untuk
kesadaran
menghindari kelelahan
- Monitor toleransi aktivitas pasien
- Monitor adanya dyspneu, fatigue,
tekipneu dan ortopneu
- Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
- Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor adanya pulsus paradoksus
- Monitor adanya pulsus alterans
- Monitor jumlah dan irama jantung
- Monitor bunyi jantung
- Monitor frekuensi dan irama pernapasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab dari perubahan
vital
2. Perfusi - Circulation status Peripheral Sensation Management
jaringan tidak - Tissue Prefusion : (Manajemen sensasi perifer)
efektif b/d cerebral - Monitor adanya daerah tertentu yang
menurunnya Kriteria Hasil : hanya peka terhadap
curah jantung, 1. mendemonstrasikan panas/dingin/tajam/tumpul
hipoksemia status sirkulasi yang - Monitor adanya paretese
jaringan, ditandai dengan : - Instruksikan keluarga untuk
asidosis dan a. Tekanan systole mengobservasi kulit jika ada lsi atau
kemungkinan dandiastole laserasi
thrombus atau dalam rentang - Gunakan sarun tangan untuk proteksi
emboli yang diharapkan - Batasi gerakan pada kepala, leher dan
b. Tidak ada punggung
ortostatikhiperten - Monitor kemampuan BAB
si - Kolaborasi pemberian analgetik
c. Tidak ada tanda - Monitor adanya tromboplebitis
tanda - Diskusikan menganai penyebab
peningkatan perubahan sensasi
tekanan
intrakranial
(tidak lebih dari
15 mmHg)
2. mendemonstrasikan
kemampuan kognitif
yang ditandai
dengan:
a. berkomunikasi
dengan jelas dan
sesuai dengan
kemampuan
b. menunjukkan
perhatian,
konsentrasi dan
orientasi
c. memproses
informasi
d. membuat
keputusan
dengan benar
3. menunjukkan fungsi
sensori motori
cranial yang utuh :
tingkat kesadaran
mambaik, tidak ada
gerakan gerakan
involunter
3. Gangguan - Respiratory Status : Airway Management
pertukaran gas Gas exchange - Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
b/d kongesti - Respiratory Status : lift atau jaw thrust bila perlu
paru, ventilation v Vital - Posisikan pasien untuk memaksimalkan
hipertensi Sign Status ventilasi
pulmonal, Kriteria Hasil : - Identifikasi pasien perlunya
penurunan 1. Mendemonstrasika pemasangan alat jalan nafas buatan
perifer yang n peningkatan - Pasang mayo bila perlu
mengakibatka ventilasi dan - Lakukan fisioterapi dada jika perlu
n asidosis oksigenasi yang - Keluarkan sekret dengan batuk atau
laktat dan adekuat suction
penurunan 2. Memelihara - Auskultasi suara nafas, catat adanya
curah jantung. kebersihan paru suara tambahan
paru dan bebas dari - Lakukan suction pada mayo
tanda tanda distress - Berika bronkodilator bial perlu
pernafasan
- Barikan pelembab udara
3. Mendemonstrasika
- Atur intake untuk cairan
n batuk efektif dan
mengoptimalkan keseimbangan.
suara nafas yang
bersih, tidak ada - Monitor respirasi dan status O2
sianosis dan Respiratory Monitoring
dyspneu (mampu - Monitor rata rata, kedalaman, irama
mengeluarkan dan usaha respirasi
sputum, mampu - Catat pergerakan dada,amati
bernafas dengan kesimetrisan, penggunaan otot
mudah, tidak ada tambahan, retraksi otot supraclavicular
pursed lips) dan intercostal
4. Tanda tanda vital - Monitor suara nafas, seperti dengkur
dalam rentang - Monitor pola nafas : bradipena,
normal takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
- Catat lokasi trakea
- Monitor kelelahan otot diagfragma
( gerakan paradoksis )
- Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan
- Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalan napas utama
- Uskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya
AcidBase Managemen
- Monitro IV line
- Pertahankanjalan nafas paten
- Monitor AGD, tingkat elektrolit
- Monitor status hemodinamik(CVP,
MAP, PAP)
- Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
- Monitor pola respirasi
- Lakukan terapi oksigen
- Monitor status neurologi
- Tingkatkan oral hygiene

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Congestive Heart Failure (CHF) adalah suatu kasus kegawatdaruratan
yang dapat mengarah ke kondisi kritis dimana apabila tidak mendapatkan
penanganan yang tepat akan dapat menyebabkan kematian.
Penulis mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Congestive Heart Failure (CHF) dengan memberikan beberapa intervensi
yang telah disesuaikan dengan konsep dan kondisi klien, dan tentunya dengan
kerjasama dari pihak perawat ICU.

B. Saran
Dari asuhan keperawatan pada pasien dengan Congestive Heart Failure
diharapkan demi kemajuan selanjutnya maka penulis menyarankan kepada:
1. Instalasi pelayanan kesehatan diharapkan meningkatkan kinerja perawat
dan tenaga medis sehingga dapat meningkatkan asuhan keperawatan
terhadap pasien khususnya pasien dengan Congestive Heart Failure
(CHF).
2. Bagi penulis untuk selalu menambah wawasan dan referensi tentang CHF,
sehingga mampu melakukan asuhan keperawatan dengan benar dan tepat
3. Institusi pendidikan diharapkan lebih menyediakan fasilitas dan tenaga
pengajar yang berkualitas dan memunculkan inovasi - inovasi baru yang
dapat mendukung terciptanya perawat yang berkualitas dan profesional.

DAFTAR PUSTAKA
Braun, Vittoria et all. 2011. Innovative strategy for implementing chronic heart
failure guidelines among family physicians in different healthcare settings in
Berlin. European Journal Of Hearth Failure

Carpenitto, Lynda Juall. 2007. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,


edisi 10. Jakarta: EGC

Doenges E. Marlynn.2010. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan system


Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika

Nanda. 2009. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. EGC.Jakarta

Price, Sylvia A, et al. 2007. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Jakarta: EGC

Rampengan. 2007. Penilaian Awal dan Terapi Pasien dengan Gagal Jantung
Akut. Jurnal Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi Manado

Smeltzer & Bare.2007. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8.EGC,
Jakarta