You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

Semua orang yang bekerja di industri beresiko mengalami kecelakaan kerja. Begitu banyak
bahaya bisa muncul dari sekeliling tempat kita bekerja. Salah satu cara untuk mencegah
kecelakaan kerja adalah dengan menetapkan prosedur pekerjaan dan melatih para pekerja
untuk bisa menjalankan prosedur tersebut. Dalam membuat prosedur pekerjaan bahaya
yang akan timbul sudah di identifikasi dan di siapkan cara penanggulangannya.
Kerugian akibat kecelakaan dalam bentuk material dapat berupa uang, kerusakan harta
benda maupun kehilangan waktu kerja. Dilihat dari sisi perusahaan hal tersebut merupakan
pemborosan ekonomi perusahaan. Oleh karena itu pencegahan kecelakaan di tempat kerja
adalah merupakan tugas yang penting, baik dilihat dari segi ekonomi maupun dari segi
kemanusiaan.
Disini penulis mengambil Study kasus mengenai ambruknya jembatan Kartanegara
(Mahakam II) di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Ditengah gencar dan semangatnya Pemerintah dalam membangun infrastruktur untuk
meningkatkan perekonomian daerah di seluruh Nusantara, kita dikejutkan dengan
runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegra yang menghubungkan Samarinda dan Tenggarong di
Kalimantan Timur. Jembatan yang mulai dibangun tahun 1995 dan mulai dioperasikan
tahun 2001 tersebut runtuh sehingga mengakibatkan korban jiwa, korban luka, dan korban
materiil yang tidak sedikit.
Ditengarai ada pergeseran badan jalan di jembatan Mahakam II Kutai Kartanegara (Kukar).
Jembatan Mahakam II merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Jembatan
Kartanegara merupakan jembatan kedua yang dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah
Jembatan Mahakam di Samarinda dan dikenal sebagai Golden Gate-nya Kalimantan karena
menyerupai jembatan di San Fransisco, Amerika Serikat. Jembatan ini juga merupakan
akses menuju Samarinda ataupun sebaliknya yang dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit.
Melewati Jembatan Kutai Kartanegara ada pemandangan menarik yang dapat disaksikan,
yaitu hamparan sebuah pulau kecil yaitu Pulau Kumala, sebuah pulau yang telah disulap
menjadi Kawasan Wisata Rekreasi yang banyak diminati oleh wisatawan Nusantara karena
merupakan kawasan rekreasi keluarga yang hampir mirip dengan Taman Impian Jaya
Ancol di Jakarta.
Jembatan Mahakam II diperbaiki. Perbaikan tersebut merupakan kegiatan pemeliharaan.
Pemeliharaan itu mulai melakukan penyetingan terhadap tali penahan jembatan. Saat
proses dilakukan petugas tak menghentikan arus lalu lintas yang memasuki jam-jam sibuk.
Petugas hanya menutup sebagian badan jalan dan menjadikan jalur dua arah itu menjadi
satu arah dengan sistem buka tutup. Badan jalan alami penurunan dan tiang penyangga
kendor sehingga mengurangi kekuatan jembatan. Tali putus kemudian secara berantai tali
lain juga putus. Runtuhnya jembatan menyisakan dua pilar penyangganya. Beberapa
kendaraan roda dua dan lebih menjadi korban dari runtuhnya jembatan itu. Sebagian
tercebur, sebagian lagi terhimpit di balik runtuhnya jembatan. Beberapa petugas yang
memperbaiki juga menjadi korban tewas dari robohnya jembatan ini.
BAB II
ANALISIS
2.1 Studi Kasus
A. Kasus
Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara
Sejauh ini, tujuh orang tewas dan 40 lainnya terluka. Pencarian korban terus dilakukan.
( VIVAnews ).
Penyebab ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara mulai tersingkap. Dugaan sementara,
ada unsur kelalaian yang mengakibatkan malapetaka ini. Wakil Bupati Kutai Kartanegara
M. Ghufron memastikan jembatan ambruk saat badan jembatan sedang diperbaiki.
Jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang melintasi Sungai Mahakam di Kalimantan
Timur ini runtuh Sabtu sore, 26 November 2011, dan tinggal menyisakan dua pilar
penyangganya. Hingga berita ini diunggah, sedikitnya tujuh orang tewas, 40 lainnya
terluka, dan 33 orang dilaporkan hilang.
Sekitar pukul 02.12 WITA, Rombongan menteri tiba di lokasi didampingi langsung Bupati
Kukar, Rita Widyasari, Kapolda Irjen Pol Bambang Wijanarko dan Kapolres AKBP I Gde
Haryarsana. Menkokesra Agung Laksono langsung menanyakan kronologi kejadian.
Kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono yang langsung terbang
ke lokasi bersama Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirman, Minggu pk. 02.12 WITA,
Kapolres Kutai Kartanegara AKBP I Gde Haryarsana melaporkan pihaknya menduga ada
unsur kesalahan manusia di balik kejadian ini. Menurut dia, seharusnya ketika pekerjaan
perbaikan tali jembatan sedang dilakukan, tidak boleh ada arus lalu lintas di atas jembatan.
Seharusnya jembatan ditutup," kata Haryarsana. "Tidak boleh ada getaran ketika
pengerjaan dilakukan. Getarannya membuat tali yang sedang di-set goyang dan lepas."
Namun demikian, Menteri Agung menyatakan tak mau buru-buru menarik kesimpulan.
"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim ahli," tuturnya.
Yang sudah pasti, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyatakan jembatan runtuh
saat sedang diperbaiki. Dan perbaikan yang dilakukan Sabtu nahas itu merupakan program
pemeliharaan yang sudah dianggarkan senilai Rp2 miliar dan disetujui Bupati Kutai
Kartanegara Rita Widyasari.
Melalui Sri Wahyuni, Kabag Humas Pemkab Kutai Kartanegara, Bupati Rita menjelaskan
pada hari pertama pemeliharaan itu petugas menyetel kembali tali penahan jembatan.
Namun, saat proses dilakukan petugas tak menghentikan arus lalu lintas yang padat saat
memasuki jam-jam sibuk. Petugas, kata Sri Wahyuni, hanya menutup sebagian badan jalan
dan menjadikan jalur dua arah menjadi satu arah dengan sistem buka tutup.
"Petaka terjadi ketika jembatan tak sanggup menahan beban maksimal. Ditambah lagi
kekuatan jembatan berkurang lantaran tali penyangga sedang mengalami perbaikan," ujar
Sri Wahyuni dalam jumpa pers di kantor Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara,
Minggu.
Ketika itu, badan jalan drop dan tali penyangga kendor sehingga mengurangi kekuatan
jembatan. Sri menuturkan, sebelum terjadi bencana, badan jalan di jembatan memang
sudah bergeser. Sebab itulah diputuskan untuk dilakukan proses pemeliharaan untuk
mengembalikan jembatan seperti setelan semula.
Bupati Rita menerangkan pihaknya sedang memeriksa kondisi jembatan sebelum ambruk.
Pemeriksaan juga dilakukan oleh tim investigasi yang diturunkan Kementerian Pekerjaan
Umum.

Penyelamatan korban
Hingga Minggu, upaya pencarian korban terus digelar. Tim penyelamat mencari korban
yang tercebur ke Sungai Mahakam dengan menyisir area sungai persis di bawah jembatan.
Tim pencari korban terdiri dari personel TNI, Polri, Satpol PP, Palang Merah, serta ormas
yang berbasis di Kutai Kartanegara.
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), menjelaskan untuk membantu upaya pencarian dan
penyelamatan korban, pada Minggu pagi tim SAR khusus akan diberangkatkan dengan
pesawat Hercules dari Halim Perdanakusumah, Jakarta.
"Basarnas akan memberangkatkan tim ahli SAR dan peralatan untuk melakukan pencarian
dan penyelamatan korban. Sebab, kedalaman sungai sekitar 40 meter dengan arus sungai
yang deras, sehingga cukup menyulitkan pencarian," katanya.
BNPB, Pemerintah Kutai Kartanegara, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, bersama
kementerian dan lembaga terkait juga mengambil langkah-langkah penanganan darurat.
Sutopo mengatakan Menteri PU dan Gubernur Kaltim telah berkoordinasi dengan kepala
BNPB terkait rencana membangun pelabuhan darurat untuk penyeberangan feri di dekat
jembatan yang runtuh. Tujuannya agar aktivitas sosial ekonomi masyarakat di Kutai tetap
berjalan.
"Jembatan Kutai Kartanegara merupakan prasarana ekonomi strategis yang
menghubungkan Kukar dengan daerah lainnya," kata Sutopo kepada VIVAnews.com.
Sutopo menambahkan besarnya dana dan spesifikasi teknis pembangunan pelabuhan
darurat tersebut sedang disiapkan. "Skema usulan kegiatan dari Gubernur Kaltim yang
disetujui Menteri PU, ditunjukkan kepada Kepala BNPB, dan BNPB akan memberikan
anggaran dari dana on call," tuturnya.
Golden Gate
Jembatan Tenggarongbegitu jembatan ini biasa disebut--dirancang menyerupai Golden
Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Dibangun mulai tahun 1997 dan selesai pada
2011, jembatan ini menghubungkan Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong
Seberang di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Bentang bebas jembatan ini-- area yang tergantung tanpa penyangga--mencapai 270 meter,
sedangkan total panjangnya menurut situs Pemerintah Kabupaten Kutai mencapai 580
meter.
Ada pemandangan menarik yang dapat Anda saksikan jika melintasi jembatan ini:
hamparan pulau Kumala, pulau kecil yang disulap menjadi kawasan wisata rekreasi favorit
masyarakat. Menurut pemerintah setempat, kawasan ini dirancang sebagai tempat rekreasi
keluarga mirip Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta.
Di kawasan jembatan ini juga terdapat Jam Bentong yang merupakan sebuah tugu dan
taman-taman yang terlihat dari atas jembatan. Di dekat jembatan juga dibangun sarana
olahraga panjat dinding. Area ini setiap sore selalu dipenuhi pengunjung yang ingin
menikmati keindahan jembatan.

]
B. analisis kasus
Analisis Penyebab runtuhnya jembatan kutai kartanegara Kalimantan. Beberapa pekan lalu
kita dihebohkan dengan berita robohnya jembatan kutai kartanegara Kalimantan yang
merupakan salah satu jembatan panjang kebanggaan bangsa Indonesia, berbagai spesifikasi
serta penelirian telah dilakukan untuk menemukan penyebab kerobohan jembatan kutai
kartanegara tersebut, sebelumnya marilah kita berdoa bersama untuk puluhan korban
keruntuhan jembatan tersebut semoga diterima dan mendapatkan tempat terbaik disisi
Tuhan yang maha kuasa, diterima serta amal baiknya serta diampuni segala dosa-dosanya,
selanjutnya mari kita analisapenyebab keruntuhan jembatan Kalimantan ini. Sebelumnya
kita lihat dahulu data teknis jembatan kutai kartanegara Kalimantan ini.
Spesifikasi Jembatan:
- Nama resmi : Jembatan Kutai Kartanegara Ing Martadipura
- Desain struktur: Jembatan gantung berkabel tunggal dengan bahan profil baja.
- Panjang total : 710 m
- Panjang bentang utama : 270 m
- Ruang bebas 15 m dengan vertical clearance 5 m
- Tanggal mulai dibangun adalah 17 Agustus 1995
- Selesai dibangun tahun 2001
- Mengalami kerobohan tanggal 26 November 2011
- Umur jembatan saat mengalami kerobohan adalah 2001 s/d 2011 = 10 tahun
Peristiwa keruntuhan jembatan terjadi pada tanggal 26 november 2011 sehingga puluhan
kendaraan tercebur ke sungai Mahakam dengan korban yang ditemukan 21 orang
meninggal akibat kerobohan jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan ini.
Hasil investigasi beberapa universitas di Indonesia menyatakan adanya indikasi kesalahan
konstruksi namun ini baru sebatas penelitian, berbagai hal bisa menjadi penyebab
kerobohan sebuah jembatan, berikut ini faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerobohan
jembatan secara umum.

Kesalahan Perencanaan Jembatan


Perencanaan yang keliru dalam membuat desain jembatan akan menghasilkan pemilihan
tipe bahan bangunan serta dimensi material dibawah batas kekuatan yang diperlukan, jika
hal ini terjadi maka sebuah struktur bangunan yang sudah jadi atau masih dalam tahap
pembangunan bisa dipastikan akan mengalami kerobohan karena struktur jembatan tidak
kuat menahan beban yang terjadi baik itu berat sendiri jembatan, beban hidup seperti
kendaraan lewat, beban angin sampai dengan beban gempa menyesuaikan lokasi dimana
jembatan tersebut dibangun.
Perencanaan Sudah Benar Namun Terjadi Pengurangan Spesifikasi Bahan Dalam
Pelaksanaan.Meskipun proses perencanaan jembatan sudah dilakukan dengan benar serta
adanya penambahan faktor keamanan akibat beban tak terduga namun jika dalam
pelaksanaannya terjadi pengurangan bahan maka akan terjadi penurunan hasil kekuatan
struktur yang sudah dibangun kurang dari hasil perencanaan ditentukan menggunakan besi
diameter 13 mm namun dalam pelaksanaan digunakan besi diameter 8 mm maka hal ini
dapat menyebabkan keruntuhan jembatan.

Terjadi Kelelahan Bahan Akibat Beban Tak Terduga


Berbagai macam beban yang tidak terduga sebelumnya sehingga tidak masuk kedalam
daftar data perencanaan juga bisa jadi penyebab kegagalan struktur misalnya ketika
melewati jembatan tertentu terkadang kita melihat sebuah papan yang dituliskan maksimal
berat kendaraan yang lebih berat atau dengan jumlah diluar batas kemampuan kekautan
jembatan maka akan dapat menjadi penyebab keruntuhan.

Terjadi Perlemahan Struktur Jembatan


Misalnya sebagai akibat sebagian bahan bangunan mengalami kerusakan seperti besi yang
mengalami perkaratan atau mengendornya sambungan baut pada satu bagian struktur juga
dapat menjadi penyebab robohnya jembatan, oleh karena itu diperlukan kegiatan
pemeliharaan jembatan langsung dapat diperbaiki sebelum mengalami keruntuhan.

Terjadi Perusakan Pada Jembatan


Faktor kesengajaan untuk merusak sebuah jembatan yang sudah dibangun juga dapat
menjadi penyebab robohnya jembatan, misalnya dengan mengendorkan bagian sambungan
baut, atau melakukan hal-hal lainnya yang mampu melemahkan struktur jembatan,
sehingga diperlukan upaya pengawasan yang ketat pada jembatan yang beresiko
mengalami perusakan bangunan.
Dan masih banyak lagi faktor yang menyebabkan runtuhnya jembatan, kembali kepada
topic analisa penyebab runtuhnya jembatan kutai kartanegara Kalimantan.
2.2 Analisa Dampak Sosial Ekonomi dan Lingkungan

A. Analisa Dampak Sosial Ekonomi Lingkungan

Dalam menganalisa dampak Sosial Ekonomi Lingkungan ini, penulis menggunakan salah
satu data yang bersumber dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, dan
Lingkungan. Pengumpulan data dan observasi lapangan untuk kajian ini dilakukan selama
empat hari, 7-10 Desember 2011 di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan
Timur. Pasca penelitian ini dilakukan, sangat terbuka kemungkinan terjadinya perubahan-
perubahan kondisi masyarakat maupun kebijakan pemerintah daerah setempat.

PROFIL RESPONDEN
Responden yang menjadi sasaran dalam tulisan ini adalah anggota masyarakat yang
bertempat tinggal di Tenggarong dan Tenggarong Seberang (dan kecamatan- kecamatan
di sekitarnya). Mereka dipilih secara purposif, dan diupayakan orang-orang yang selama
ini sering menggunakan jembatan Kutai Kartanegara (user), serta orang- orang yang
paling merasakan dampak negatif runtuhnya jembatan tersebut, yang juga meliputi
pejabat-pejabat pemerintah dari berbagai Dinas/Instansi Kabupaten Kutai Kartanegara
dan petugas yang terlibat dalam operasi tanggap darurat
Selama penelitian ini berlangsung, tim peneliti berhasil mewawancarai sebanyak
82 responden, terdiri dari 57 orang di Tenggarong dan 25 orang di
Tenggarong Seberang yang dicatat dalam lembaran kuesioner sebagai panduan.
Selain itu tim juga mengumpulkan informasi secara kualitatif dari sejumlah nara
sumber dengan beragam latar belakang.
Berikut ini sebagian profil dari responden. Dari 57 responden di Tenggarong,
sebanyak 67% di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya perempuan. Sedangkan
dari 25 responden di Tenggarong Seberang, sebanyak 84% laki-laki dan
16% perempuan. Dilihat dari latar belakang pendidikan untuk responden di
Tenggarong, 5% berpendidikan sekolah dasar (SD), 18% SLTP, 37% SLTA dan 40
lulus perguruan tinggi. Sedangkan responden di Tenggarong Seberang, 24%
berpendidikan SD, 20% SLTP, 24% SLTA dan 32% perguruan tinggi.
Berdasarkan usia reponden, sebanyak 47% persen di Tenggarong berusia antara 41-
55 tahun, 42% berusia 26-40 tahun, 7% berusia kurang dari 26 tahun dan
4% berusia di atas 55 tahun. Sedangkan responden di Tenggarong Seberang,
sebanyak 45% berusia antara 41-55 tahun, 43% berusia 26-40 tahun, 7% berusia
kurang dari 26 tahun dan sisanya 5% berusia di atas 55 tahun.
Dilihat dari jenis pekerjaan, sebanyak 63% responden di Tenggarong bekerja sebagai
PNS, 24% sebagai pedagang, 7% sebagai pegawai swasta, 2% sebagai nelayan, 2%
sebagai buruh dan 2% sebagai petani. Sedangkan di Tenggarong
Seberang, sebanyak 36% bekerja sebagai PNS, 24% pedagang, 16% pegawai swasta,
8% petani, 8% buruh, 4% pelajar dan 4% nelayan.

B. Dampak Terhadap Mobilitas Dalam Kegiatan Sosial


B.1 Kegiatan Pendidikan
Sebelum runtuh 26 November 2011 silam, Jembatan Kutai Kartanegara (JKK) berperan
penting memfasilitasi masyarakat dalam kegiatan pendidikan. Dalam penelitian ini
diketahui dari 44 orang responden yang tinggal di wilayah Tenggarong, sebanyak 62%
di antaranya mengaku melewati JKK setiap hari, 9% menyatakan sering, 11%
menyatakan jarang dan 18% mengatakan sangat jarang.
Sedangkan masyarakat di wilayah Tenggarong Seberang, dari survei ini sebanyak
20 orang responden, 55% di antaranya mengaku setiap hari melewati jembatan
tersebut, 5% menyatakan sering, 20% jarang dan 20% sangat jarang (lihat gambar 2.).

Frekuensi mobilitas masyarakat dalam kegiatan pendidikan mengalami perubahan setelah


JKK runtuh, terutama mereka yang tinggal di wilayah Tenggarong. Dari 43 responden,
hanya 26% warga Tenggarong yang tetap menyeberang Sungai Mahakam setiap hari, 2%
sering, 28% jarang dan 44% sangat jarang. Sedangkan kecenderungan yang berbeda
ditunjukkan oleh masyarakat di wilayah Tenggarong Seberang. Mereka tampak memiliki
ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan JKK dan kota Tenggarong dalam
memfasilitasi kegiatan pendidikan. Hal itu ditunjukkan oleh hasil survei pasca runtuhnya
JKK. Dari 20 responden, 63% di antaranya menyatakan tetap melakukan mobilitas setelah
runtuhnya JKK.
Hal ini berarti tingkat mobilitas masyarakat Tenggarong Seberang dalam
kegiatan pendidikan tidak mengalami perubahan yang berarti pasca runtuhnya JKK.
Sedangkan 6% responden lainnya menyatakan sering, 12% mengatakan jarang dan
19% sisanya menyatakan sangat jarang, seperti yang ditunjukkan oleh grafik di bawah
ini.
Meskipun JKK merupakan sarana vital dalam memfasilitasi kegiatan pendidikan, namun
masyarakat di Tenggarong maupun Tenggarong Seberang tidak terlalu terganggu akibat
runtuhnya JKK. Hal itu terlihat dari hasil survei yang menunjukkan perbedaan tipis
antara warga yang terganggu dengan warga yang tidak terganggu. Dari 41 responden
di wilayah Tenggarong, 56% di antaranya mengaku terganggu, sedangkan dari 19
responden di wilayah Tenggarong Seberang 58% di antaranya juga menyatakan
terganggu.
Akibat gangguan mobilitas tersebut masyarakat di Kutai Kartanegara mampu beradaptasi
dengan melakukan beberapa pilihan tindakan untuk tetap dapat melangsungkan kegiatan
di bidang pendidikan. Dari 34 responden di wilayah Tenggarong, 71% di antaranya
menggunakan ferry, 20% memilih rute lain, 3% pindah sekolah dan 6% sisanya
menyatakan tidak tahu.
Sedangkan warga di sisi Tenggarong Seberang, dari 15 responden yang diwawancarai,
60% di antaranya menyatakan menggunakan ferry, 6% memilih rute lain, 7% pindah
sekolah, 20% pindah tempat tinggal (sewa rumah, kos, menumpang di rumah milik
saudara) dan sisanya 7% menyatakan tidak tahu, seperti terlihat pada grafik di bawah
ini.

Sejumlah warga yang ditanya tentang masalah yang dihadapi akibat gangguan mobilitas
dalam kegiatan pendidikan, memberikan jawaban yang bervariasi. Dari 65 responden di
Tenggarong, 40% di antaranya mengaku biaya yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi,
37% menyatakan waktu tempuh lebih lama, 5% mengatakan kualitas layanan
menurun, 12% menyatakan tidak mengalami kendala yang berarti dan sisanya
6% tidak menjawab.
Jawaban yang tak jauh beda didapati dari warga di wilayah Tenggarong Seberang. Dari
25 responden, 44% menyatakan waktu tempuh lebih lama, 28% mengaku biaya yang
dikeluarkan menjadi lebih tinggi, 4% tidak menjawab dan 24% menyatakan tidak
mengalami kendala yang berarti, seperti ditunjukkan grafik berikut ini.

B.2 Layanan Kesehatan


Dilihat dari mobilitas terhadap akses kesehatan masyarakat Tenggarong Seberang
mengaku terganggu akibat runtuhnya JKK (52% dari 25 responden) karena mereka biasa
mengakses layanan kesehatan di Tenggarong. Selebihnya (48%) masih bisa
memanfaatkan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Polindes atau Rumah Sakit di
Samarinda. Di sisi Tenggarong, 55% dari 57 responden justru tidak terganggu
Untuk tetap mendapatkan layanan kesehatan, sebagian warga Tenggarong Seberang (42%
dari 25 responden) memanfaatkan ferry penyeberangan. Pindah fasilitas seperti berobat ke
Puskesmas dan Polindes setempat yang tak perlu menyeberang juga menjadi alternatif
sebanyak 37% responden. Melalui rute lain untuk ke rumah sakit di Samarinda juga
dilakukan oleh 11% responden. Selebihnya (5%) menjawab tidak tahu dan (5%) menjawab
lainnya. Sedangkan masyarakat Tenggarong yang memerlukan pelayanan kesehatan seperti
ke RS di Samarinda sebagian besar dari 57 responden (44%) memilih menggunakan rute
darat yang lebih jauh, menggunakan ferry penyeberangan (36%), pindah fasilitas seperti
memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia di Tenggarong (11%), tidak tahu (6%) dan
lainnya (3%). Kendala yang dihadapi responden di Tenggarong Seberang untuk
mendapatkan fasilitas kesehatan adalah waktu tempuh menjadi lebih lama (38%) dari 25
responden, biaya yang dikeluarkan lebih besar untuk transportasi (25%), tidak tahu (25%),
tidak menghadapi kendala berarti (8%) dan mengeluhkan kualitas layanan menjadi menurun
(4%).
Kendala yang sama juga dihadapi masyarakat Tenggarong seperti biaya
perjalanan mejadi lebih besar (31%) dari 25 responden, waktu tempuh menghabiskan
waktu lebih lama (26%), tidak tahu (21%), kualitas layanan menjadi menurun (18%)
dan menjawab tidak ada kendala (4%).

C. DAMPAK TERHADAP MOBILITAS DALAM KEGIATAN EKONOMI

C.1. Kegiatan Perdagangan

JKK selama ini juga memfasilitasi masyarakat di Kutai Kartanegara dalam menjalankan
kegiatan di sektor perdagangan. Dari penelitian ini diketahui frekuensi mobilitas
masyarakat di Tenggarong maupun Tenggarong Seberang melewati JKK cukup tinggi
sebelum JKK runtuh. Dari 56 responden di Tenggarong, sebanyak 57% di antaranya
mengaku setiap hari melewati JKK, 18% sering melewati, 9% jarang dan 16% sangat
jarang. Sedangkan dari 16 responden di Tenggarong Seberang, sebanyak 63% menyatakan
setiap hari melewati JKK, 6% mengaku sering, 12% mengatakan jarang dan 19% sangat
jarang, seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini. Namun frekuensi mobilitas
masyarakat di sektor perdagangan berubah setelah JKK runtuh. Perubahan paling
menyolok terjadi pada masyarakat di Tenggarong. Dari 56 responden di Tenggarong,
hanya tinggal 24% yang menyatakan setiap hari melewati JKK, 7% sering, 20%
jarang dan 49% sangat jarang. Sedangkan bagi masyarakat di Tenggarong Seberang,
dari 16 responden yang diwawancarai, sebanyak 44% menyatakan setiap hari, 6%
sering, 25% jarang dan 44% sangat jarang. Penelitian ini juga menelusuri mobilitas
masyarakat di sektor perdagangan setelah JKK runtuh. Dari 56 responden di Tenggarong,
39% di antaranya menyatakan memilih rute memutar yang lebih jauh, 29% tetap
menyeberang sungai Mahakam menggunakan feri, 15% menyatakan tetap berdagang tapi
tanpa harus menyeberang dan sisanya 17% tidak menjawab. Sedangkan bagi masyarakat
Tenggarong Seberang, mobilitas pasca runtuhnya JKK tetap tinggi. Dari 16 responden,
sebanyak 38% di antaranya menggunakan feri, 6% memilih rute memutar dan 56% sisanya
tidak menjawab. Baik masyarakat di Tenggarong maupun Tenggarong Seberang, mayoritas
menyatakan mobilitas di bidang perdagangan terganggu dengan runtuhnya JKK. Yaitu 60%
dari 53 responden di Tenggarong mengaku terganggu, demikian pula 62% dari 13
responden di Tenggarong Seberang menyatakan terganggu. Akibat gangguan mobilitas
setelah runtuhnya JKK tersebut, sebagian masyarakat mampu beradaptasi dengan
melakukan beberapa pilihan tindakan agar mampu bertahan di sektor perdagangan. Dari
42 responden di Tenggarong, 12% di antaranya menyatakan mengubah pola pemasaran,
17% mencari pasar alternatif dan 59% sisanya tidak memberikan jawaban. Sedangkan
13 responden di Tenggarong Seberang, sebanyak 8% di antaranya memilih menimbun
komoditas, 46% menjawab tidak tahu dan sisanya 46% memberikan jawaban lain
seperti berhenti dari aktivitasnya, seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Sejumlah
warga masyarakat yang ditanyai tentang masalah apa yang dihadapi dalam melakukan
kegiatan perdagangan setelah JKK runtuh, memberikan jawaban yang beragam. Dari 94
responden di Tenggarong, sebanyak 38% di antaranya menjawab biaya yang dikeluarkan
dalam aktivitas perdagangannya menjadi lebih besar, 33% menyaakan waktu tempuh
lebih lama, 14% menyatakan harga komoditas naik, 10% mengaku tidak menghadapi
kendala yang berarti dan sisanya 5% tidak menjawab. Sedangkan masyarakat di
Tenggarong Seberang memberikan jawaban yang tidak jauh berbeda.
Dari 23 responden, sebanyak 30% di antaranya menyatakan waktu tempuh lebih lama,
22% menyatakan biaya yang dikeluarkan lebih besar, 22% mengaku tidak menemui
kendala yang berarti, 17% menyatakan harga komoditas naik dan sisanya 9% tidak
memberikan jawaban, seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini.

4.2. Kegiatan Pertambangan

Sebelum jembatan Kutai Kartanegara runtuh, setiap hari kapal-kapal ponton (tongkang)
pengangkut batubara berlalu-lalang di bawah jembatan tersebut dari lokasi penambangan
(bagian hulu) menuju ke hilir, tempat bersandarnya kapal besar yang akan mengangkut
batubara ke luar Kalimantan. Frekuensi ponton (tongkang) yang melintas di bawah
jembatan Kutai Kertanegara cukup padat, yang menurut informasi mencapai 20-30 buah
per hari. Kapal ponton ini tergolong besar karena mampu memuat batubara sekitar 40
ribu metrik ton (ukuran 300 feet). Karena itu ombak yang ditimbulkan oleh kapal-kapal
tersebut acapkali cukup besar dan bisa berdampak terhadap perjalanan ferry kecil dan
ketinting. Setelah sampai di dermaga tepi pantai, muatan batubara tersebut sudah ditunggu
oleh kapal-kapal besar. Setiap kapal besar bisa menampung batubara sebanyak volume
ponton.
Setelah jembatan Kutai Kartanegara runtuh, aktivitas tersebut menjadi sangat terganggu.
Kapal-kapal ponton yang memuat batubara tidak bisa melewati bekas jembatan, karena
masih banyak reruntuhan dan kendaraan (motor dan mobil) yang belum dapat dievakuasi.
Pada saat penelitian dilakukan sejumlah ponton tertahan karena tidak bisa melewati
bawah jembatan, baik ponton berisi batabura untuk dibawa ke kapal-kapal besar, maupun
ponton kosong yang akan mengambil batubara di lokasi-lokasi penambangan. Pada saat
penelitian ini dilakukan belum dapat diperoleh informasi seputar kebijakan pemerintah
daerah atau pemerintah provinsi untuk mengatasi terhentinya kapal-kapal ponton tersebut.
Apabila masalah ini tidak segera terpecahkan, maka kerugian yang terkait dengan kegiatan
pertambangan diperkirakan semakin tinggi.

4.3. Kegiatan Pariwisata

Keberadaan jembatan Kutai Kartanegara bukan hanya berfungsi memfasilitasi mobilitas


pelbagai kegiatan, tetapi jembatan tersebut juga sebagai obyek wisata. Bahkan jembatan
yang disebut sebagai golden gate Kalimantan Timur tersebut dalam sepuluh tahun
terakhir ini dinyatakan sebagai icon kabupaten Kutai Kartanegara. Pada saat
weekend atau hari-hari libur banyak wisatawan dari luar kota Tenggarong berkunjung
menikmati keindahan jembatan tersebut. Di sekitar jembatan telah dalam beberapa tahun
terakhir ini dibangun ruang terbuka yang lazim dipergunakan untuk pentas seni. Kemudian
tidak jauh dari jembatan ini terdapat obyek wisata pulau Kemala yang juga dikunjungi oleh
wisatawan dari luar Tenggarong. Kunjungan wisatawan ke Tenggarong telah
menghidupkan pedagang-pedagang makanan, minuman, buah-buahan, souvenir yang
menjual dagangannya di tepi sungai Mahakam.
Setelah jembatan runtuh, tidak ada lagi kegiatan pariwisata di sekitar jembatan tersebut.
Kegiatan pedagang-pedangan makanan, minuman, buah-buahan dan
souvenir memang masih ada tetapi jauh berkurang. Ruang terbuka di bawah jembatan yang
runtuh kini merupakan lokasi (spot) yang tertutup, tidak boleh dikunjungi oleh
siapapun kecuali petugas-petugas dan pejabat-pejabat yang berkepentingan dengan proses
evakuasi reruntuhan dan kendaraan (sepeda motor dan mobil) yang berada di masih berada
di bawah jembatan. Sampai dengan penelitian ini dilakukan di lokasi
tersebut masih berdiri tenda-tenda pos komando dari berbagai instansi yang
bertanggungjawab terhadap kegiatan evakuasi.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Berdasarkan hasil penelitian dan analisis sebagaimana uraian yang telah
dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Setelah jembatan Kutai Kartanegara runtuh, frekuensi dan intensitas penggunaan ferry
dan ketinting semakin tinggi. Kondisi tersebut akan berlangsung hingga 3-5 tahun kedepan
atau sebelum jembatan baru selesai dibangun. Pemerintah Kabupaten perlu membuat
regulasi yang mengatur standar keselamatan bagi penyedia dan pengguna jasa layanan ferry
dan ketinting. Misalnya perlengkapan berupa pelampung, pembatasan jumlah penumpang
dan kelaikan armada.

2. Intensitas dan frekuensi penggunaan transport dari Tenggarong Loa Janan


Samarinda (maupun sebaliknya) semakin tinggi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur
perlu melebarkan jalan di jalur tersebut, disertai regulasi dan dikawal dengan petugas
lalu lintas supaya tidak terjadi kemacetan.

3. Intensitas dan frekuensi penggunaan jembatan Mahakam dan Mahulu semakin tinggi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuat regulasi untuk mengurangi
kepadatan kendaran yang melintasi jembatan tersebut. Di kedua ujung jembatan
tersebut juga perlu ada fasilitas untuk mengawasi penggunaan jembatan agar tidak
terjadi kemacetan di tengah jembatan, disertai penguatan koordinasi antar instansi
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

4. Pemerintah Kabupaten perlu membuat regulasi tarif penyeberangan ferry dan


ketinting, dan memberikan subsidi biaya penyebarangan ferry dan ketinting bagi murid
sekolah, guru, tenaga kependidikan lainnya, dokter dan tenaga medis lainnya.

5. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara perlu mengintensifkan pelayanan


kesehatan bagi masyarakat di Tenggarong Seberang dengan menghidupkan kembali
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (fix facilities) yang selama ini mengalami
kekosongan tenaga medis (tidak beroperasi). Jika diperlukan, Pemkab juga dapat
memberikan layanan melalui Puskesmas Keliling (mobile facilities).

6. Keberlanjutan usaha ekonomi masyarakat di Tenggarong Seberang sangat


tergantung dari lalu-lintas yang melewati jembatan Kutai Kartanegara menuju Samarinda
dan sebaliknya, sebelum jembatan tersebut runtuh. Oleh sebab itu pembangunan dermaga
ferry sebaiknya dirancang agar nantinya bisa mengalirkan lalu lintas kendaraan melewati
jalur sebelumnya. Dengan demikian jalur darat Tenggarong-Samarinda yang melewati
bekas JKK bisa hidup kembali, sehingga dampak munculnya pengangguran bisa dihindari.

7. Untuk mengantisipasi dampak ikutan berupa munculnya hunian baru baik untuk
kegiatan ekonomi maupun tempat tinggal di sekitar dermaga dan di sepanjang jalan
menuju dermaga, Pemkab Kutai Kartanegara perlu melakukan pengawasan terhadap
perkembangan pemanfaatan lahan di sekitar dermaga tersebut. Agar pengawasan
tersebut lebih efektif, Pemkab dapat membuat regulasi tentang tata ruang dan pemanfaatan
lahan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan di kemudian hari.
Lampiran

STUDY KASUS
RUNTUHNYA JEMBATAN KARTANEGARA (MAHAKAM II)
TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA,
KALIMANTAN TIMUR

Oleh :

Mashudi Agung Wibowo


3 BS 3 / 13331310022