You are on page 1of 8

Guruku, Pahlawanku

Kurang lebih satu tahun yang lalu terjadi suatu fenomena yang sangat mengejutkan,
adalah adanya sejumlah guru yang melakukan aksi baik di Ibu Kota maupuan di daerah-daerah
lainnya, baik itu dalam rangka menuntut peningkatan kesejahteraan guru ataupun lain
sebagainya. Komentarpun bermunculan dalam berbagai corak yang bersifat mendukung,
menyesalkan, sinis, atau acuh, atau menilai dengan bermacam-macam tudingan. Memang
disadari bahwa kurang tepat kalau guru melakukan aksi berupa demo, sebab hal itu tidak sesuai
dengan tuntutan jatidiri guru sebagai sumber nilai-nilai normatif. Akan tetapi dari sisi lain dapat
dikatakan bahwa perbuatan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi.

Sesungguhnya yang nampak itu hanyalah sebagaian kecil saja dari permmasalahan besar
yang ada di sekitar guru itu, seperti gunung es yang sebagaian besar berada di bawah laut. Kalau
mau melihat dalam cakrawala yang cukup luas disertai daya nalar yang jernih dan empatik serta
sikap yang arif, maka apa yang terjadi dalam bentuk demo merupakan suatu bentuk dinamika
prilaku para guru sebagi manusia biasa. Tuntutan kenaikan kesejahteraan hidup merupak puncak
gunung es yang nampak di permukaan laut, akan tetapi permasalah besarnya adalah kondisi
kekecewaan yan telah terpendam dalam kurun waktu yang cukup lama seusia negara dan bangsa
ini.

Berangkat dari penjelasan di atas, maka permasalahan atau tantangan yang terkait dengan
kondisi guru dan memerlukan perhatian dalam upaya menanganinya antara lain sebagai berikut.

1. Kuantitas, kualitas, dan distribusi

Dari aspek kuantitas, jumlah guru yang ada masih dirasakan belum cukup untuk
menghadapi pertambahan sisiwa serta tuntutan pembangunan sekarang. Dari aspek kulaitas,
sebagian besar guru-guru dewasa ini masih belum memiliki pendidikan minimal serta
kompempetensi yang dituntut. Dari aspek penyebarannya, masih terdapat ketidakseimbangan
penyebaran guru antar sekolah dan antar daerah. Dari aspek kesesuaiannya, di SLTA dan SM,
masih terdapat ketidaksepadanan guru berdasarkan mata pelajarannya.

2. Kesejahteraan

Dari keadilan kesejahteraan guru, masih ada beberapa kesenjangan yang dirasakan
sebagai perilakukan diskriminatif para guru seperti antara guru dengan PNS lain. Dari aspek
imbalan jasa, baik yang bersifat materi maupun non-materi, harus diakui masih jauh dari
memberikan kepuasan dan keadilan. Pendapatan yang diperoleh guru dibandingkan dengan
tugas dan tanggung jawabnya masih sangat jauh. Hubungan atar pribadi, yang sampai saat ini
masih dirasakan belum memberikan perwujudan yang memuaskan. Kondisi kerja para guru, baik
yang bersifat fisik maupun non fisik masih belum memberikan derajat kepuasan, meskipun
relatif lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Namun tempat mengajar yang belum
memenuhi dapat mempengaruhi kondisi kerja guru yang pada gilirannya akan berpengaruh pada
semangat dan kepuasan kerja. Kasusnya adalah kelas bocor, lantai pecah, ruang kelas roboh,
kekurangan alat bantu, halaman sempit dan kotor, dsb. Selanjutnya adalah kesempatan
meningkatkan dan mengembangkan karir yang masih sulit diakses oleh guru. Dan yang terakhir
adalah sistem pengolongan dan jenjang karir guru, yang ada sekarang belum memberikan
rangsangan motivasi kerja.

3. Manajemen Guru

Dari sudut pandang manjemen SDM guru, guru masih berada dalam pengelolaan yang
berisifat biokratis-administratif yang kurang berlandaskan paradigma pendidikan (antara lain
manajemen pemerintahan, kekuasaan, politik, dsb.). dari aspek unsur dan prosesnya, masih ada
kekurangterpaduan atara sisitem pendidikan, rekrutmen, pengangkatan, penempatan, supervisi,
dan pembinanan guru.
4. Penghargaan Terhadap Guru

Sperti dikemukakan di atas, hingga saat ini guru belum mendapatkan penghargaan yang
memadai. Selama ini pemerintah telah berusaha untuk memberikan penghargaan kepada guru
dalam bentuk pemilihan guru teladan, lomba kreatifitas guru, guru berprestasi, dsb. Meskipun
belum meberikan motivsi kepada para guru. Sebutan pahlawan tampa tanda jasa lebih
banyak dipersepsi sebagai pelecehan ketimbang penghargaan.

5. Pendidikan Guru

Sistem pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan masih belum
memberikan jaminan dihasilkannya guru yang bermutu dan berkewenangan disamping belum
terkait dengan sisitem lainnya. Pendidikan guru terlalu menekankan pada sisi akademik dan
kurang memperhatikan pebgembangan keperibadian disamping kurangnya keterkaitan dengan
tuntutan perkembangan lingkungan.

Melihat begitu banyaknya masalah dan tantangan yang harus dihadapi guru baik di masa
sekarang maupun masa yang akan datang, maka guru harus memiliki kompetensi-kompetensi
yang akan membantunya menghadapi permasalahan tersebut. Sehingga pada akhirnya tujuan
pendidikan yang telah dicanangkan akan bisa tercapai.

Sejalan dengan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa yang
mendatang akan semakin kompeks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan
berbagai penigkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Sehingga guru harus lebih
dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajran siswa. Jika guru tidak
memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang semakin capat, ia akan terpuruk
secara profesional. Untuk menghadapi tantangan profesional tersebut, guru perlu berfikir secara
antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaharuan ilmu dan pengetahuan yang
dimilikinya secara terus menerus.

Di samping itu, guru masa depan harus paham akan penelitian guna mendukung
efektifitas pembelajaran yang dilaksanaknnya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru
tidak terjebak pada praktek pembelajran yang menurut asumsi mereka efektif, namun
kenyataannya justru mematikan kreatifitas para siswanya. Begitu juga dengan hasil penelitian
yang mutaakhir, memungkinkan guru untuk mengembangkaan pembelajran yang bervariasi dari
tahun ketahun, disesuaikan dengan kontek ilmu pengetahun dan teknologi yang sedang
berlangsung.

Maju terus para guru Indonesia!!!!!


Bahaya Jajanan Anak Sekolah

Keekstreman cuaca berkait kemarau panjang, ditambah makin bervariasinya jajanan anak
dan makin padatnya jadwal kegiatan siswa di sekolah, mendorong mereka mengambil jalan
pintas dengan jajan sembarangan. Tidak berlebihan bila ada anggapan mereka tidak lagi
memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan higienitas jajanan yang dikonsumsi. Padahal, sekitar
20% jajanan anak SD tidak memenuhi syarat, sebagaimana dikatakan Kepala Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Saparringa (Kompas, 9/1/14). Jajanan anak SD seperti
bakso, cimol, siomay, minuman jelly dan sebagainya disinyalir banyak mengandung zat
pengawet berbahaya seperti boraks, pewarna pakaian, dan formalin.
Selain itu, lingkungan kotor, berdebu, dan tidak terjaminnya kebersihan alat masak pada
jajanan anak sekolah, ikut menyumbang kurang ramahnya makanan dan minuman itu bagi siswa.
Padahal mereka sangat butuh asupan gizi seimbang untuk mendukung perkembangan fisik dan
mentalnya. Terlebih usia SD masih dalam periode usia emas.
Dalam periode itu, mereka butuh makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin,
mineral, dan protein tinggi, dan sebagainya untuk meningkatkan kecerdasan dan perkembangan
otak. Semua itu mustahil didapat dari jajanan yang tidak sehat. Oleh karena itu, usaha untuk
menghindari terjadinya gizi buruk atau malnutrisi sangatlah urgen dilakukan.
BPOM telah menetapkan kriteria layak tidaknya jajanan anak. Yang tidak layak antara
lain makanan atau minuman itu mengandung bahan berbahaya, terkontaminasi logam berat, dan
tidak terjamin higienitasnya. Dari kategori itu, kita bisa mengambil langkah konkret guna
mengurangi, bahkan menghindari dampak buruk.
Ada beberapa langkah mencegah meningkatnya konsumsi jajanan anak. Pertama; sekolah
bisa memahamkan anak akan pentingnya pola empat sehat lima sempurna lewat cara menarik,
semisal melalui permainan kuis. Selain itu, rutin mengagendakan progam pemberian makanan
tambahan. Bisa juga memaksimalkan peran dokter kecil untuk mengedukasi dan mengajak
temannya akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Tentunya
bimbingan dan arahan guru sangat dibutuhkan oleh dokter kecil dalam menjalankan kegiatan
tersebut. Sekolah juga bisa mencanangkan gerakan kantin sehat.
Konsep Bento
Kedua; orang tua mengedukasi anak lewat pendekatan personal untuk selalu menjaga
makanan yang dikonsumsi anak di sekolah. Termasuk kesediaan orang tua membawakan anak
bekal makanan. Supaya lebih menarik, orang tua bisa membuat bekal dengan meniru konsep
Bento dari Jepang.
Caranya, membentuk bekal anak menjadi berbagai bentuk dan karakter lucu sehingga
menarik siswa membawa bekal dari rumah dan tidak jajan sembarangan. Kemudian,
membiasakan anak sarapan sebelum berangkat sekolah. Namun menu itu juga perlu
memperhatikan kandungan gizi.
Ketiga; penyedia menyesuaikan jajanan dengan usia anak. Hindari menjual jajanan yang
mengandung pengawet atau gula secara berlebiham dan pemanis buatan. Pasalnya, gula
berlebihan selain menyebabkan obesitas, dapat membuat anak cepat lelah dan mudah
mengantuk, cepat marah dan mudah tersinggung. Karena itu, penyedia jajanan seolah, terutama
kantin, harus menyediakan makanan bergizi dan menyehatkan.
Selain berperan optimal dalam proses tumbuh kembang anak, penyedia jajanan sekolah
juga membantu membentuk generasi cerdas dan sehat, dengan memasarkan makanan sehat dan
mengandung gizi seimbang.
Kedisiplinan dan komitmen semua pihak untuk membiasakan siswa memperhatikan
jajanan berperan penting dalam membantu proses tumbuh kembang anak. Fase emas
pertumbuhan dan perkembangan anak tak akan terulang. Jangan sampai hanya demi keuntungan
recehan dan dalih kepraktisan, kita mengorbankan fase emas tumbuh kembang karena kelak
semua rugi.
Awas, Bahaya Laten Nyontek!

Kalian tentunya pernah ngelihat sebuah iklan di televisi yang kejadiannya kurang lebih begini:
Hai bud ini kertasnya Rudi berbisik sambil melemparkan sebuah kertas lucek yang diremas.
Lalu budi menggambilnya dan menuliskan sesuatu dikertas itu dan mengembalikannya pada
Rudi. Ternyata di kertas itu Budi menuliskan : Mau pintar?? Makanya belajar

Dan Akhirnya Rudi pun ketahuan guru yang mengawasi jalannya ujian, Rudi pun hanya bias
cengar-cengir.

Ngepek, nyontek, nurun, dan kawan-kawannya adalah telah kita pahami bersama, bahwa hal itu
adalah melakukan kecurangan saat ujian atau ulangan. Caranya macam-macam, mulai dari
menulis kunci jawaban di kertas, meja, bangku, HP, atau yang parah adalah menulis di anggota
badan, entah itu di daerah kaki, tangan, tau daerah perut lalu mebukaknya saat ujian berlangsung,
bekerja sama dengan teman, atau yang lebih hebat adalah membuka buku saat pelaksanaan
ulangan (kecuali kalau ulanagnnya bersifat open book). Dan saya yakin, saya pernah
melakukannya, baik waktu masih di SD, SMP, SMA, atau sampai kuliah saat ini. Mudah-
mudahan kalian tidak.

Ada baiknya kalau saya boleh bertanya kepada kalian semua, kira-kira apa sih yang sedang
banyak-banyak terjadi di Negara Indonesia tercinta kita ini dan membudidaya dan mungkin
dilestarikan oleh orang Indonesia, baik dari golongan pemerintahan atau sampai tukang tambal
ban sekalipun itu??

Kalau kalian menjawab KORUPSI, saya yakin 99% jawaban kalian bener.
Dan ketika saya mengajak kalian untuk membahas dampak dari koropsi, maka kita sudah hapal
di luar kepala. Mulai dari kelaparan, kekeringan, putus sekolah, dan sebagainya, mungkin lebih
parah lagi kematian. Tapi kalau saya ajak mikir kenapa hati nurani mereka bisa tertutup alias
membatu ketika melakukan perbuatan haram yang disebut korupsi tersebut. Padahal sebenarnya
dalam diri manusia ada organ tubuh yang bernama hati yang tidak pernah berdusta sekalipun.
Saya ambil contoh, ketika ada orang yang meminta-minta dijalan, apa suara hati kita? Pada saat
itu suara hati yang timbul dalam hati nurani kita adalah kasihan dan ingin membantunya supaya
beban hidupnya tidak seberat itu. Tapi suatu saat ada semacam penutup hati yang menyebabkan
hati yang jujur tersebut tidak mampu kita dengar. Penutup itulah yang disebut EGO.

Lalu apa sebabnya perbuatn itu masih saja terjadi di negara tercinta kita, karean belum disadari
bahwa korupsi adalah perbuatan yang merugikan. Sesungguhnya itu adalah disebabkan adanya
kebiasan buruk yang terus diulang-ulang dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Karena
keburukan itu diulang-ulang, akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap baik. Satu contohnya
adalah, ketika anak kecil melihat adegan pegangan tangan atau ciuman di televisi, lalu karena
perbuatan itu diulang-ulang dan orang tua mereka tidak pernah mengawasinya dan melakukan
koreksi atas perbuatan buruk yang dilihat oleh buah hatinya, maka sampai dewasa sekalipun ia
akan ,menganggap bahwa ciuman atau pegangan tangan dengan laiki-laki tau perempuan yang
bukan muhrimnya adalah bukan perbuatan tercela dan berdosa.

So, sebenarnya ada hubungan apa sih sama diri kita??

Kalau ada pertanyaan, sebenarnya sama tidak sih KORUPSI dengan MENYONTEK?

KORUPSI = MENYONTEK?

Rasanya saya tidak perlu bahas lagi contoh-contoh budaya ketidak jujuran ini, mulai dari
menyontek yang dilakukan berjamaah antara murid dengan murid dan dengan gurunya, guru
yang ketahuan mencuri soal UAN, praktek jual beli ijazah, dan kawan-kawannya.
Jadi sudah jelas bahwa penyebab korupsi marak terjadi di Indonesia adalah karena bibit-bibit
puntra-putrinya saja telah melakukan tindakan korupsi kecil-kecilan yang disebut nyontek itu
sejak dari bangku sekolah. (gimana kalau sudah sukses??).

Saya yakin semua agama tidak ada yang menganjurkan untuk melakukan hal yang positif dengan
menghalalkan segala cara. Kesuksesan adalah dimana kita menyadari kekurangan diri kita dan
mengoreksinya agar suatu ketika bila kita menghadapi masalah yang sama dapat mengatasinya
denga baik. Ingat!!! Bukan menutupi kekurangan kita dengan kebobrokan orang lain. Yakinlah
dengan kemampuan diri kita. Kita bisa.. Kita bisa

..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Rad ayat 11)

Kesuksesan itu tidak dilihat dari beberapa kali mereka mendapat kegagalan, tapi dilihat dari
berapa kali ia bangkit dari kegagalan (Abu Bakar RA)

Jujur adalah mata uang yang berlaku dimana-mana (Pepatah)

Mau pintar??. Makanya belajar(Iklan Suplemen)


Kiat-kiat Mengatasi Lupa

Sifat Lupa Pada Manusia Lupa adalah sifat alami yang ada pada diri manusia. Siapapun
anda pasti pernah mengalami lupa. Biasa terjadi manakala kita melakukan aktivitas. Baik di
rumah, di tempat kerja, ataupun dalam melakukan aktivitas lainnya. Sifat lupa jelas
mendatangkan akibat. Bisa sepele, bisa juga fatal. Apapun alasannya, sifat lupa mengganggu
aktivitas yang kita lakukan. Mengganggu keadaan jasmani dan rohani. Lupa yang sifatnya
ringan, hanya mendatangkan sifat mengganggu pada keadaan jasmani. Bisa dapat segera di atasi
dengan berbagai cara. Sedangkan lupa yang sifatnya berat, dapat mengakibatkan gangguan baik
jasmani dan rohani. Semisal rasa lelah, frustasi, bahkan rendah diri. Contoh kejadian lupa yang
ringan. Hanya mengganggu keadaan jasmani, tetapi dapat kita atasi adalah lupa tidak sarapan.
Mungkin sebagian orang terlalu sibuk. Banyak pikiran. Banyak pekerjaan yang harus
diselesaikan dengan segera dan harus tepat waktu. Hingga akhirnya lupa sarapan atau makan
pagi sebelum berangkat kerja. Lupa sarapan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbagan
jasmani. Badan terasa lemah kurang bertenaga. Hal ini bisa diatasi dengan mengganjal perut.
Datang ke kantin menyempatkan sarapan. Atau sekedar ganjal perut dengan menyantap
kue atau biskuit yang dijual di kantin. Lupa dapat mengakibatkan kejadian fatal. Contohnya lupa
menyelesaikan laporan keuangan proyek tertentu. Padahal laporan keuangan ini harus disetor
kepada pimpinan hari itu juga. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Mungkin kita mencari
berbagai alasan untuk menutupi lupa yang terjadi. Tetapi jelas membawa dampak buruk terhadap
kinerja kita. Setidaknya ada penilaian dari pimpinan, bahwa kita termasuk orang pelupa dan bisa
jadi pemalas. Mengganggu agenda perusahaan. Melalaikan kepercayaan yang diamanahkan oleh
pimpinan ataupun tim kerja. Kiat-kiat Mengatasi Lupa 1. Biasakan mencatat atau menulis
rencana dan kegiatan berdasarkan skala prioritas. Kita mungkin terbiasa sekedar mengingat tugas
dan rutinitas yang harus dilakukan. Kebiasaan ini dianggap lumrah atau terbiasa dilakukan.
Padahal dalam aktivitas keseharian kita, ada hal-hal tertentu yang besifat penting. Perlu
segera dilakukan dan diselesaikan. Akan tetapi tidak kita rasakan. Biasakanlah mencatat atau
menulis kegiatan apa saja yang bersifat penting dan segera harus dilakukan atau diselesaikan. 2.
Sediakan Papan Agenda. Papan agenda dibutuhkan dalam menunjang aktivitas keseharian. Bisa
kita sediakan di rumah, di kantor, atau tempat lain yang dianggap perlu. Tempelkan di dinding
yang mudah dilihat dan terlihat. Catat atau tulis segala aktivitas yang dianggap perlu berdasarkan
prioritas. Jangan lupa cantumkan hari, tanggal, jam, dimana, dan dengan siapa aktivitas
dilakukan. 3. Bawalah Buku Saku Catatan atau Buku Agenda. Buku saku catatan atau buku
agenda banyak membantu agar kita tidak lupa tentang aktivitas yang akan dilakukan. Sama
dengan papan agenda, aktivitas yang akan dilakukan catat atau tulis berdasarkan skala prioritas.
Jangan tumpang tindih. Aktivitas yang sifatnya sangat penting dan segera dilakukan tulis
dipaling awal. Sehingga kita dapat menyelesaikan segala aktivitas keseharian secara runtut.
Misalkan, mengantar surat undangan harus dicatat tempat mana dulu yang harus dijangkau
hingga yang terakhir. Ibarat rute perjalanan, harus runtut. Jangan sampai bolak balik dari daerah
A ke B, balik lagi ke daerah A. Tuntaskan dulu daerah A secara runtut, barulah lanjutkan ke
daerah lain dengan runtut pula. 4. Mencatat Agenda Pada Media Lain. Perkembangan teknologi
memberikan keuntungan bagi kita. Contohnya handphone, bisa kita manfaatkan sebagai media
untuk mencatat rutinitas aktivitas keseharian. Kita bisa mengetikkan segala aktivitas pada menu
agenda. Di menu agenda handphone, banyak fitur yang membantu untuk mengingat aktivitas
yang akan kita lakukan. Bahkan tersedia alarm yang dapat disesuaikan dengan keinginan. Bisa
juga kita memanfaatkan fitur pesan. Langsung ketik saja agenda apa yang akan kita lakukan.
Lalu simpan pada menu draft yang akan tersimpan secara otomatis. Fitur ini sangat
membantu untuk mengingat agenda yang akan kita lakukan dan menghindari lupa pada apa yang
akan kita lakukan. 5. Jadikan Pembiasaan. Apapun media yang dapat membantu kita dalam
beraktivitas dan menghindari lupa, akan percuma jika tidak dibiasakan. Papan agenda, buku
catatan kegiatan, media lain tempat mencatat kegiatan rutin yang akan kita lakukan tidak akan
mengatasi sifat lupa jika tidak dibiasakan. Ibarat sebuah kebutuhan, jadikan mencatat atau
menulis berbagai aktivitas berdasar skala prioritas perlu kita biasakan. Baca dengan seksama
ibarat menghadapi soal ujian. Lantas siapkan dan kerjakan sesuai prioritas. Sehingga kita dapat
menyelesaikan tugas dan rutinitas tepat waktu dan sesuai harapan.
Punya Mental 'Kerupuk' Ayo Berubah!

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membentuk dirinya melalui setiap gesekan
yang ada. Kedewasaan adalah suatu hal yang pasti dan wajib di alami oleh semua manusia.
Setiap manusia haruslah bertumbuh dan bertambah dewasa mengikuti visi, misi dan target
hidupnya. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 2 yaitu kedewasaan yang berbentuk fisik dan
kedewasaan yang berbentuk mental. Kedewasaan yang berbentuk fisik bicara tentang pubertas
dll. Kedewasaan secara fisik tidak mungkin untuk dihindari. Namun kedewasaan yang berbentuk
mental seringkali dilupakan oleh seseorang. Menjadi dewasa adalah pilihan. Fisik boleh saja
menjadi dewasa namun apabila orang tersebut memutuskan selamanya memiliki mental anak-
anak maka selamanya pula ia menjadi seorang anak kecil yang terjebak dalam tubuh dewasa.
Mental adalah pertumbuhan menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Krupuk adalah
makanan yang cukup renyah dan gurih namun memiliki satu kekurangan yang luar biasa yaitu
tidak boleh terkena angin. Sekali saja terkena angin maka mustahil bagi kerupuk tersebut untuk
memiliki rasa yang enak dan teksturnya pun menjadi alot. Thomas Jefferson pernah berkata,"
Tidak ada yang bisa menghentikan orang dengan sikap mental yang tepat untuk mencapai
impiannya, tidak ada di bumi ini yang dapat membantu orang dengan sikap mental yang keliru".
Sama dengan manusia yang memiliki mental seperti krupuk ini. Contohnya seperti gampang
menyerah, takut bergesekan, tidak mau mengambil resiko, suka di zona nyaman dll. Apabila
anda memiliki mental dengan karakteristik seperti ini, ayo secepatnya BERUBAH ! Bagaimana
caranya? Miliki keinginan yang kuat untuk berubah - Tanpa keinginan yang kuat untuk berubah
maka selamanya anda terjabk di mental "krupuk" tersebut. Hal ini berbicara tentang mensugesti
diri sendiri untuk menjadi pribadi yang sukses dan berhasil di kemudian hari. Kekuatan dari
keinginan sangatlah luar biasa dalam mengubah seseorang. Bangunlah karakter kedewasaan anda
dengan situasi-situasi keras - Mental yang hebat di tempa di tengah-tengah situasi yang sulit.
Tanpa suasana dan situasi yang sulit maka mental anda sulit untuk berkembang, untuk itu
mulailah berani untuk keluar dari zona nyaman anda dan meraih dunia baru di luar sana atau
mungkin mencoba hal-hal yang belum pernah anda sentuh sebelumnya selama hal itu positif.
Miliki Leader yang siap dan mampu "menampar" anda - Leader yang bijaksana akan
memarahi anda di saat tepat, mengayomi anda di saat yang mebutuhkan, mendengar keluhan
anda dan mampu mengangkat anda. Leader yang mampu melakukan segala hal ini adalah leader
yang bermental baja dan memiliki keinginan hati yang teguh untuk menjadikan anda sukses.
Oleh sebab itu kalau saat ini anda memiliki leader seperti ini mulailah bagi anda untuk mengucap
syukur dan mulai menjalankan dengan sepenuh hati segala hal yang diinfokan oleh leader anda.
Gayle Forman pernah berkata," Berhenti tidak sulit. Memutuskan berhentilah yang sulit. Tapi,
begitu kau sudah melakukan lompatan mental itu, sisanya mudah". Perubahan bukanlah hal
mudah, butuh keberanian lebih untuk mau melakukan dan berkembang lebih lagi. Ayo berubah
dari mental "krupuk" ini !