Вы находитесь на странице: 1из 25

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY. M DENGAN PRE DAN POST OPERASI TONSILEKTOMI

DI RUANG AYYUB 3 RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG

NAMA : NAFISATUN NISA

NIM : G3A016049

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN 2016
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TONSILITIS

NAMA : NAFISATUN NISA

NIM : G3A016049

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN 2016
A. PENGERTIAN
Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan.
Radang tonsil pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga
infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai
tonsilofaringitis (Sudoyo & dkk, 2012)
Peradangan kronis yang mengenai seluruh jaringan tonsil yang pada
umumnya sering didahului oleh suatu keradangan di bagian tubuh lain, seperti
misal sinusitis, rhinitis, infeksi umum seperti morbili, dan sebagainya. (Corwin,
2008)

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL


Tonsil atau Amandel merupakan kumpulan jaringan limfoid yang banyak
mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Tonsil terletak
pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Ia juga
bagian dari struktur yang disebut Ring of Waldeyer ( cincin waldeyer ). Kedua
tonsil terdiri juga atas jaringan limfe, letaknya di antara lengkung langit-langit dan
mendapat persediaan limfosit yang melimpah di dalam cairan yang ada pada
permukaan dalam sel-sel tonsil.

Tonsil terdiri atas:

1. Tonsil fariengalis, agak menonjol keluar dari atas faring dan terletak di
belakang koana
2. Tonsil palatina, dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
3. Tonsil linguais, epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh
dengan cara menahan kuman memasuki tubuh melalui mulut, hidung, dan
kerongkongan, oleh karena itu tidak jarang tonsil mengalami peradangan.
Peradangan pada tonsil disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah
satu gangguan Telinga Hidung & Tenggorokan ( THT ). Kuman yang dimakan
oleh imunitas seluler tonsil dan adenoid terkadang tidak mati dan tetap
bersarang disana serta menyebabkan infeksi amandel yang kronis dan
berulang (Tonsilitis kronis). Infeksi yang berulang ini akan menyebabkan
tonsil dan adenoid bekerja terus dengan memproduksi sel-sel imun yang
banyak sehingga ukuran tonsil dan adenoid akan membesar dengan cepat
melebihi ukuran yang normal. (Pearce, 2012)

C. ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis bermacam macam, diantaranya adalah yang tersebut
dibawah ini yaitu :

1. Streptokokus Beta Hemolitikus


2. Streptokokus Viridans
3. Streptokokus Piogenes
4. Virus Influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet
infections ) (Corwin, 2008).

D. PATOFISIOLOGI
Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Amandel
atau tonsil berperan sebagai filter, menyelimuti organisme yang berbahaya
tersebut. Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi
yang akan datang akan tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan
infeksi atau virus. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka
jaringan limfoid superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang
dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada
korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan
kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan
detritus disebut tonsillitis falikularis, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu
maka terjadi tonsillitis lakunaris. Tonsilitis dimulai dengan gejala sakit
tenggorokan ringan hingga menjadi parah. Pasien hanya mengeluh merasa sakit
tenggorokannya sehingga berhenti makan. Tonsilitis dapat menyebabkan
kesukaran menelan, panas, bengkak, dan kelenjar getah bening melemah didalam
daerah sub mandibuler, sakit pada sendi dan otot, kedinginan, seluruh tubuh sakit,
sakit kepala dan biasanya sakit pada telinga. Sekresi yang berlebih membuat
pasien mengeluh sukar menelan, belakang tenggorokan akan terasa mengental.
Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran semu
(Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang
berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses
penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan
mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh
detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul
perlengketan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai
dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula. (Corwin, 2008)

E. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala Tonsilitis menurut ( Smeltzer & Bare, 2010) ialah sakit
tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan. Tanda dan gejala yang
timbul yaitu nyeri tenggorok, tidak nafsu makan, nyeri menelan, kadang-kadang
disertai otalgia, demam tinggi, serta pembesaran kelenjar submandibuler dan nyeri
tekan. (Smletzer & Bare, 2010)
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien tonsilitis menurut ( Mansjoer, 2008) yaitu :
1. Penatalaksanaan tonsilitis akut
a. Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat
kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan
eritromisin atau klindomisin.
b. Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid
untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
c. Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari
komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok
3x negatif.
d. Pemberian antipiretik (Mansjoer, 2008).
2. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap. Terapi radikal
dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak
berhasil

G. PENGKAJIAN
1. Fokus pengkajian wawancara
a. Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
b. Apakah pengobatan adekuat
c. Kapan gejala itu muncul
d. Bagaimana pola makannya
e. Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
2. Pemeriksaan fisik
Data dasar pengkajian menurut ( Doengoes, 2000), yaitu :
a. Intergritas Ego, Gejala : Perasaan takut, khawatir Tanda : ansietas, depresi,
menolak.
b. Makanan / Cairan, Gejala : Kesulitan menelan, Tanda : Kesulitan menelan,
mudah terdesak, inflamasi
c. Hygiene, Tanda : kebersihan gigi dan mulut buruk
d. Nyeri / Keamanan, Tanda : Gelisah, perilaku berhati-bati, Gejala : Sakit
tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ke telinga
e. Pernapasan, Gejala : Riwayat menghisap asap rokok ( mungkin ada
anggota keluarga yang merokok ), tinggal di tempat yang berdebu.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Tes Laboratorium, Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan
apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien dengan tonsilitis merupakan
bakteri grup A, kemudian pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung
jenisnya, serta laju endap darah. Persiapan pemeriksaan yang perlu
sebelum tonsilektomi adalah :
1) Rutin : Hemoglobine, lekosit, urine.
2) Reaksi alergi, gangguan perdarahan, pembekuan.
3) Pemeriksaan lain atas indikasi (Rongten foto, EKG, gula darah,
elektrolit, dan sebagainya.
b. Kultur : kultur dan uji resistensi bila diperlukan.
c. Terapi : dengan menggunakan antibiotik spectrum lebar dan sulfonamide,
antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan.
4. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur
jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial
kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:

T0 : Tonsil masuk di dalam fossa


T1 : <25 % volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring

H. PATHWAYS KEPERAWATAN

Infeksi virus influenza, perokok


aktif
Inflamasi pada tonsil

Tonsilitis

Tonsilektomi

Pre operasi
Post operasi

Nyeri saat menelan Kurang informasi


Terdapat luka insisi
ansietas
Gangguan menelan Terjadinya
diskontinuitas jaringan

Nyeri akut Resiko infeksi


I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul (Nanda NIC-N0C 2015-2017) :
1. Pre Operasi
a. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake tidak adekuat.
b. hipertermia berhubungan dengan respon inflamasi.
c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan akan dilakukannya
tonsilektomi.
2. Post Operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, diskontinuitas jaringan.
b. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan berhubungan dengan penumpukan
sekret.
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan
d. Resiko infeksi berhubungan dengan pemajanan mikroorganisme.

J. FOKUS INTERVENSI
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Pre Operasi
a. Resiko ketidakseimbangan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat.
1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam
pemenuhan kebutuhan nutrisi terbantu
2) NOC : pasien berusaha untuk mempertahankan intake setiap hari,
3) NIC
a) Kaji status nutrisi
R : mengetahui status nutrisi
b) Anjurkan pasien makan makanan yg cair dan dingin
R : pasien tonsilitis mengalami peradangan dia area tenggorokan
sebaiknya mengkonsumsi makanan yang cair dan dingin
c) Mulai dengan makanan kecil dan tingkatkan sesuai toleransi
R : mengkonsumsi makanan sesuai dengan kemampuan pasien
untuk intake yg adekuat
d) Berikan diet nutrisi seimbang ( makanan cair atau halus )
R : membantu memenuhi kebutuhan nutrisi
b. hipertermia berhubungan dengan respon inflamasi.
1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x7 jam
suhu tubuh normal
2) NOC : suhu tubuh 36,5-37,5 C, ektremitas tidak teraba hangat
3) NIC
a) Pantau tanda-tanda vital secara berkala
R : mengetahui adanya hipertermia
b) Beri kompres air biasa
R : membantu menurunkan suhu tubuh
c) Kondisikan ruangan
R : suhu ruangan yang terlalu panas dapat menyebabkan
hipertermia
d) Beri pendidikan kesehatan mengenai proses penyakit
R : informasi dapat mengurangi kecemasan pasien
e) Kolaborasi pemberian antipiretik
R : membantu menurunkan suhu tubuh
c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan akan dilakukannya
tonsilektomi.
1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x7 jam
cemas teratasi
2) NOC : pasien mengatakan sudah tidak cemas, tidak ada ekpresi
wajah cemas, ttv normal
3) NIC
a) Kaji tingkat kecemasan
R : mengetahui tingkat kecemasan
b) Berikan informasi mengenai prosedur tindakan operasi yang akan
dilakukan
R : informasi yang jelas dapat mengurangi kecemasan
c) Anjurkan pasien untuk tetap tenang dan berdoa
R : edukasi spiritual membantu menenangkan pasien
d) Motivasi pasien dan keluarga dalam menghadapi operasi
R : motivasi yang posiif dapat membantu pasien untuk semangat
2. Post Operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, diskontinuitas jaringan.
1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam
nyeri teratasi
2) NOC : pasien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri turun, TTV
normal
3) NIC :
a) Kaji intensitas nyeri dengan P Q R S T
R : mengetahui kualitas nyeri pasien
b) Beri posisi nyaman
R : posisi mempengaruhi rasa nyeri
c) Berikan pendidikan kesehatan mengenai penyebab nyeri
R : mengurangi kecemasan pasien
d) Kolaborasi pemberian analgetik
R : analgetik membantu mengurangi rasa nyeri
b. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan berhubungan dengan penumpukan
sekret.
1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam
berdihan jalan napas tidak terganggu
2) NOC : suara napas bersih, tidak ada ronchi, RR 16-20 x/menit,irama
reguler
3) NIC :
a) Auskultasi suara napas
R : mengidentifikasi adanya suara napas abnormal
b) Miringkan pasien saat tidur
R : menghindari terjadinya aspirasi (muntah)
c) Ajarkan batuk efektif
R : membantu mengeluarkan sekret yang berlebih
d) Kolaborasi pemberian mukolitik
R : membantu mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan
1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam
pemenuhan volume cairan tidak terganggu
2) NOC :
Membran mukosa lembab,turgor kulit bagus, tanda-tanda vital dalam
batas normal
3) NIC :
a. Kaji tanda-tanda dehidrasi
R : mengidentifikasi terjadinya dehidrasi
b. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi cairan cukup
R : membantu pemenuhan kebutuhan cairan
c. Kondisikan suhu ruangan
R : ruangan yang panas mempengaruhi hidrasi
d. Lanjutkan pemberian terapi cairan intravena
R : memenuhi kebutuhan cairan
d. Resiko infeksi berhubungan dengan pemajanan mikroorganisme.
1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam
tidak ada tanda-tanda infeksi
2) NOC : suhu tubuh normal, lekosit dalam jumlah normal, luka post
operasi bersih
3) NIC :
a) Kaji tanda-tanda infeksi
R : mengetahui adanya infeksi
b) Lakukan pencegahan infeksi baik pada diri sendiri, pasien,
keluarga ataupun pengunjung dengan cuci tangan
R : cuci tangan dapat mencegah infeksi
c) Beri pendidikan kesehatan mengenai resiko terjadinya infeksi pada
pasien
R : pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan
d) Kolaborasi pemberian antibiotik
R : antibiotik membantu mengurangi infeksi
Tanggal pengkajian : 15, 16, 17 November 2016
A. IDENTITAS
1. Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 46 tahun
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Semarang
Diagnosa Medis : Tonsilitis
Tanggla masuk : 14 Novmeber 2016
2. Penanggung Jawab
Nama : Tn. S
Umur : 49 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan pasien : Suami

B. Status Kesehatan
1. Keluhan utama (Saat dikaji)
Nyeri pada tenggorokan
2. Alasan masuk rumah sakit
Pasien mengatakan telinga terasa bindeng seperti ada plastic yang diremas-
remas. nyeri terlebih saat menelan makanan, setelah periksa di dokter THT
disarankan untuk operasi
3. Riwayat kesehatan
Pasien mengatakan selama 1 tahun terakhir sering mengalami batuk,
saat batuk pasien sering merasakan nyeri tenggorokan, nyeri setiap saat
terlebih saat menelan. Pasien mengatakan cemas tentang penyakitnya
terlebih makanan yang harus dikonsumsi. Pasien tampak kesakaitan
memegangi tenggorokan. Pasien banyak bertanya dan tampak cemas.
P : nyeri saat menelan, Q : nyeri seperti ditusuk, R : nyeri dibagian,
tenggorokan, S : 6, T : 1-2 menit saat menelan. Td : 120/mmHg, N : 85
x/m, RR : 24 x/m, S : 37, 7 C.

C. Pengkajian Pola Fungsi dan Pemeriksaan Fisik


1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
a. Pre operasi
Sebelum sakit pasien selalu memeriksakan diri di pelayanan kesehatan
b. Post operasi
Setelah melalui tindakan operasi pasien selalu kooperatif dengan terapi
yang diberikan dalam masa perawatan
2. Neurosensori dan kognitif
a. Pre operasi
Pasien mengatakan nyeri saat menelan makanan
b. Post operasi
Pasien mengatakan nyeri pada bagian yang habis di operasi
P : nyeri saat menelan
Q : nyeri seperti ditusuk
R : nyeri dibagian tenggorokan
S:4
T : 1-2 menit saat menelan
3. Pola nutrisi cairan dan elektrolit
a. Pre operasi
Sebelum dioperasi pasien mengatakan di rumah makan seperti biasa,
makanan padat berupa nasi sayur dan lauk, makan 3 kali sehari,
minum 5-6 gelas perhari
b. Post operasi
Setelah dioperasi pasien mendapatkan diit cair dan dingin
a. Antropometri
BB = 70 Kg

TB = 150 cm

LILA = 21 cm

50/(1,67X1,67) = 17.93 BMI Normal weight

b. Biochemical data
Hemoglobin = 13,3 mg/dl

Hemotokrit = 39.2 mg/dl

c. Clinical sign of nutritional status


Rambut tipis, bibir kering, wajah klien tampak lembab, bau mulut.

d. Diit
Diit TIM

4. Pola pernapasan dan aktivitas


a. Pre operasi
Sebelum dioperasi pasien tidak memiliki gangguan pernapasan
b. Post operasi
Setelah selesai dioperasi pasien juga tidak memiliki gangguan pada
sistem pernapasan
Skrining fungsional-indeks bathel :

Faktor ketergantungan Skor


Personal Hygiene 7
Mandi 7
Makan 9
Toileting 8
Menaiki tangga 5
Memakai pakaian 9
Kontrol BAB 7
Kontrol BAK 7
Ambulasi atau menggunakan kursi roda 8
Transport kursi-tempat tidur 8
Total 75

Ketergantungan ringan (75-90)


5. Sirkulasi
a. Pre operasi
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah sebelum
dioperasi 130/80 mmHg, nadi 88x/ menit, CRT < 3 detik
b. Post operasi
Setelah di operasi tekanan darah 110/80, nadi 85 x / menit, CRT < 3
detik, SPO2 97 %
6. Eliminasi
a. Pre operasi
Pasien tidak memiliki gangguan dalam sistem perkemihan, sebelm di
operasi pasien BAK 1-2 x dalam sehari dengan konsistensi jernih
berwarna kuning. BAB 1 kali dalam sehari dengan konsistensi padat
berwarna kuning
b. Post operasi
Pasien tidak memiliki gangguan dalam sistem perkemihan, sebelm di
operasi pasien BAK 1-2 x dalam sehari dengan konsistensi jernih
berwarna kuning. Pasien belum BAB
Cairan masuk
Minum : 500 cc
Makan : 100 cc
Infus : 500 cc
CAIRAN MASUK = 500 + 100 + 500
= 1100
CAIRAN KELUAR
BAB : 200 cc
BAK : 150 cc
IWL normal 285 => IWL kenaikan suhu : IWL + 500 (36,7 36,
5)
= 285 + 500 (0,2)
= 157 CC
Cairan masuk : 350 + 157 = 507 cc
BC : 1100 507 = 593 CC

7. Pemeriksaan fisik
a. Pre Operasi
1) Tanda-tanda vital (TTV)
a) Tekanan Darah : 130/80
b) Nadi : 88x/ Menit
c) Suhu : 37,8 C
d) BB : 70 Kg
e) TB : 145 Cm
2) Keadaan umum
Kesadaran : Composmetis (Kesadaran penuh)
Wajah : Pucat
3) mata
1) Bentuk bola mata : Simetris kiri dan kanan
2) Kelopak : Tidak ada edema dan memar
3) Konjungtiva : tidak anemis
4) Sklera : Tidak ikterik
4) Dada
a) Paru
Inspeksi : tidak ada kelainan, dada simetris
Palpasi :gerakan dada bersamaan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
b) Jantung
Inspeksi : tidak ada jejas atau bekas luka
Palpasi : teraba denyut jantung
Perkusi : redup
Auskultasi : S1, S2
5) Abdomen
Inspeksi : tidak ada acites
Auskultasi : peristaltik usus 10 x/ menit
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : redup
6) Ektremitas
1. Mobilitas bagus
2. Terpasang infus ditangan kanan, luka infus bersih tidak ada
infeksi
3. Kaki kanan dan kiri mobilitas bagus, tanpa bantuan alat
b. Post operasi
1) Tanda-tanda vital (TTV)
a) Tekanan Darah : 110/80
b) Nadi : 80x/ Menit
c) Suhu : 37,8 C
d) BB : 70 Kg
e) TB : 145 Cm
2) Keadaan umum
Kesadaran : Composmetis (Kesadaran penuh)
Wajah : Pucat
3) Mata
Bentuk bola mata : Simetris kiri dan kanan
Kelopak : Tidak ada edema dan memar
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : Tidak ikterik
4) Dada
c) Paru
Inspeksi : tidak ada kelainan, dada simetris
Palpasi :gerakan dada bersamaan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
d) Jantung
Inspeksi : tidak ada jejas atau bekas luka
Palpasi : teraba denyut jantung
Perkusi : redup
Auskultasi : S1, S2
5) Abdomen
Inspeksi : tidak ada acites
Auskultasi : peristaltik usus 8 x/ menit
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : redup
6) Ektremitas
a) Mobilitas bagus
b) Terpasang infus ditangan kanan, luka infus bersih tidak ada
infeksi
c) Kaki kanan dan kiri mobilitas bagus, tanpa bantuan alat

D. Data Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium tanggal 14 November 2016
Nama Test Hasil Unit Nilai
Rujukan
Darah Rutin
Hemoglobin 15,2 g/Dl 13-17
Lekosit 12.800 /mm3 3600-10.600
Trombosit 442.000 /mm3 150.000-
440.000
Hematokrit 45,7 % 40-52
Eosinofil 3,1 2-4
Basofil 1,5 0-1
N segmen 51,7 50-70
Limfosit 37,4 25-40
Monosit 6,3 2-8

2. Terapi yang diperoleh


a. Cefriaxon 1 x 2 gram
b. Ketorolac 1x 1 amp
c. Infus RL 20 Tpm

3. Diit yang diperoleh


Diit cair dingin

E. Analisa Data
1. Pre operasi
Data Masalah Etiologi
Data Subjektif : Gangguan menelan Abnormalitas orofaring
Pasien mangatakan
nyeri saat menelan

Data Obektif :
Lama saat menelan
makanan, batuk
ketika akan menelan
Data Subjektif : Ansietas Kurang informasi
Pasien mengatakan
cemas
Data Objektif :
Pasien tampak
cemas, nadi cepat
88x/ menit, akral
dingin

2. Post operasi
Data Masalah Etiologi
Data Subjektif : Nyeri akut Prosedur invasif,
Pasien mangatakan tonsilektomi
nyeri

Data Obektif :
Pasien tampak
memegangi leher,
wajah tampak
meringis, skala nyeri
4, akral dingin
Data Subjektif : Resiko infeksi Adanya jaringan
-
terbuka( prosedur
Data Objektif :
Ada luka terbuka invasif)
pos op
Suhu tubuh 37,8
3. Pathways Keperawatan Kasus

Infeksi virus influenza, perokok


aktif

Inflamasi pada tonsil

Tonsilitis

Tonsilektomi

Pre operasi
Post operasi

Nyeri saat menelan Kurang informasi


Terdapat luka insisi
ansietas
Gangguan menelan Terjadinya
diskontinuitas jaringan

Nyeri akut Resiko infeksi


4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre operasi
1) Gangguan menelan berhubungan dengan abnormalitas orofaring
2) Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi
b. Post operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2) Resiko infeksi berhubungan dengan adanya jaringan terbuka

5. INTERVENSI

NO. TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI DAN RASIONAL


DX
1 Tujuan : setelah dilakukan tindakan NIC :
1. Kaji tingkat kesulitan menelan
keperawatan selama 1 x 7 jam
2. Identifikasi penyebab gangguan
proses menelan terbantu
menelan
NOC :
3. Berikan informasi tentang
1. Pasien dapat mempertahankan
penyebab gangguan menelan
makanan dalam mulut
4. Berikan diit cair
2. Kemampuan menelan adekuat
2 Tujuan : setelah dilakukan tindakan NIC
1. Kaji tingkat kecemasan
keperawatan selama 1x7 jam cemas
2. Anjurkan pasien untuk tenang
berkurang 3. Beri informasi mengenai tindakan
NOC :
operasi
1. Pasien mengatakan sudah tidak 4. Libatkan keluarga dalam masa
cemas perawatan agar pasien termotivasi
2. Ttv normal
3. Tidak ada ekspresi cemas
3 Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1. Kaji intensitas nyeri
2. Ajarkan teknik relaksasi
keprawatan selama 1x7 jam nyeri
3. Beri posisi yang nyaman dan
akut teratasi
informasikan tentang penyebab
NOC :
1. Pasien mengatakan nyeri nyeri
4. Berikan analgetik sesuai advice
berkurang
2. Skala nyeri turun, TTV normal dokter
4 Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tanda-tanda infeksi
2. Anjurkan pasien menjaga
keperawatan selama 1 x 7 jam tidak
kebersiihan mulut
terjadi infeksi
3. Anjurkan untuk menghindari
NOC :
Pasien mengatakan lebih nyaman, makanan / minuman yang panas
suhu tubuh 36,5-37,5, lekosit 4000- 4. Berikan antibiotik sesuai advice
10000 rb/ul dokter

6. IMPLERMENTASI
NO. WAKTU TINDAKAN RESPON TTD
DX KEPERAWATAN
14/11/2016 1. Mengkaji tingkat S : pasien mengatakan
kesulitan menelan bisa makan jika
makanannya berkuah atau
makanan yang cair
O : pasien tampak
memegangi leher
2. Mengidentifikasi
penyebab gangguan S : pasien mengatakan
menelan sejak 6 bulan yang lalu
sering batuk, tenggorokan
sakit dan tidur
mendengkur
O : tonsil tampak
membengkak dan
3. Mengkaji tingkat berwarna kemerahan
kecemasan
S : pasien mengatakan
cemas menghadapi operasi
O : pasien tampak cemas,
nadi 90 x/menit, akral
4. Menganjurkan pasien dingin
untuk tenang
S : pasien mengatakan
belum lega jika belum
5. Memberikan informasi dioperasi
tentang penyebab O : pasien tampak cemas
terjadinya gangguan
menelan dan tindakan S : pasien mengatakan
yang akan dilakukan kurang paham
untuk mengatasinya O : pasien memperhatikan
penjelasan perawat
6. Melanjutkan pemberian
diit cair
S : pasien mengatakan diit
cair mudah dilakukan
O : pasien menghabiskan
7. Menganjurkan keluarga
minuman yang disediakan
untuk terlibat dalam masa
oleh tim gizi
perawatan
S : keluarga mengatakan
akan mendampingi pasien
hingga masa perawatan
selesai
O : keluarga
memperhatikan penjelasan
perawat
15/12/2016 1. Mengkaji skala nyeri S : pasien mengatakan
nyeri
P: nyeri saat akan
menelan,
Q : seperti ditusuk
R : nyeri di tenggrokan
S:4
T: 1-2menit
O : pasieen memegangi
leher
2. Megajarkan teknik
relaksasi nafas dalam S : pasien mengatakan
nyeri berkurang
3. Memberi posisi nyaman
O : skala nyeri 3
S : pasien mengatakan
lebih nyaman jika tidur
tanpa bantal
O : pasien tidur tanpa
4. Mengkaji tanda-tanda bantal
infeksi
S : pasien mengatakan
5. Menganjurkan pasien badan seperti mau demam
untuk menjaga kebersihan O : suhu tubuh 37,8 C,
mulut ada luka post operasi
S : pasien mengatakan
akan selalu rajin untuk
menjaga kesehatan mulut
6. Menganjurkan pasien O : pasien memperhatikan
untuk menghindari penjelasan perawat
makanan atau minuman
yang panas S : pasien mengtakan akan
menghindari minuman
panas
7. Melanjutkan terapi O : pasien memperhatikan
pemberian cairan penjelasan perawat
intravena
S :-
O: obat masuk melalui
intravena

7. EVALUASI
Waktu Evaluasi ttd
14/11/2016 S : pasien mengatakan nyeri saat menelan, nyeri
seperti ditusuk, nyeri di tenggorokan skala 4 dan
nyeri berlangsung 1-2 menit saat makan
Pasien mengatakan cemas karena akan dioperasi

O : pasien hanya berani minum, pasien tampak


cemas, tidak bisa tidur, akral dingin nadi 90
x/menit

A : gangguan menelan dan cemas belum teratasi

P:
1. Beri posisi yang nyaman
2. Anjurkan konsumsi makanan cair yang dingin
3. Persiapan operasi jam 8
4. Anjurkan pasien untuk tenang dan beri
penjelasan tindakan operasi

15/12/2016 S : pasien mengatakan nyeri pada tenggorokan,


P : nyeri jika menelan
Q nyeri seperti ditusuk
R : tenggorokan
S:2
T : 1-2 menit
Pasien mengatakan badan seperi mau demam
O : pasien tampak tenang suhu tubuh 37,8
A : nyeri belum teratasi, dan resiko infeksi

P:
1. Pantau suhu tubuh
2. Ajarkan teknk relaksasi
3. Lanjutkan pemberian analgetik ketorolac dan
antibiotik ceftriaxon via iv

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2008). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosa Keperawatan, Definisi dan


Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Mansjoer, A. (2008). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2013). Aplikasi NANDA & NIC NOC. Yogyakarta:
Mediaction.

Pearce, S. (2012). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: EGC.

Perry, P., & Potter, A. G. (2005). Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

Smletzer, S. C., & Bare, B. G. (2010). Medical Surgical Nursing. USA: LWW.
Sudoyo, A., & dkk. (2012). Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.