You are on page 1of 4

Marmer

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Marmer adalah batuan kristalin kasar yang berasal dari batu gamping atau dolomit. Marmer
yang murni berwarna putih dan terutama disusun oleh mineral kalsit.

Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu
gamping. Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadi
rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.

Akibat rekristalisasi struktur asal batuan membentuk tekstur baru dan keteraturan butir. Marmer
Indonesia diperkirakan berumur sekitar 3060 juta tahun atau berumur Kuarter hingga Tersier.

campuran warna yang berbeda,dapat mempunyai pita-pita warna.kristal-kristalnya sedang


sampai kasar,jika ditetesi asam akan mengeluarkan bunyi mendesis

Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terlama di Indonesia. PT. CITATAH Tbk
adalah salah satu penghasil marmer di Indonesia dengan lokasi quarry terbesar saat ini di
Pangkep, Ujung Pandang, yang membawa nama Indonesia sebagai salah satu produsen marmer
di dunia,sekaligus yang terbesar di Indonesia. Saat ini daerah penghasil marmer di Indonesia
sudah tersebar luas, antara lain Lampung, Jawa Tengah, Bandung, Sulawesi, Kalimantan,
Bangka, dan Kupang,namun marmer terbaik terdapat di Sulawesi Selatan
Proses Pembentukan Marmer

Marmer umumnya tersusun atas mineral kalsit atau kalsium karbonat (CaCO3) dengan
kandungan mineral minor lainya yaitu kuarsa, mika, klorit, tremolit, dan silikat lainnya seperti
graphit, hematit, dan limonit. Nilai komersil marmer bergantung kepada warna dan tekstur.

Marmer yang berkualitas sangat tinggi adalah marmer yang berwarna putih jernih, sebab
kandungan kalsitnya lebih dari 90%. Marmer yang berwarna abu-abu dihasilkan dari kandungan
grapit pada batuan tersebut, pink dan merah akibat adanya kandungan hematit, kuning dan krem
sebagai pengaruh dari kandungan limonit. Berdasarkan besar butirannya, marmer bisa bertekstur
halus hingga kasar. Sifat lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas marmer adalah porositas,
kekuatan regangan, dan ketahanan terhadap pengaruh suhu dan cuaca.

Marmer merupakan bahan galian yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, bahkan cukup
gencar pula muncul ke permukaan yang menimbulkan sensasi pencarian marmer yang dapat
tembus cahaya dengan harga penawaran sangat menggiurkan, walaupun hanya sebatas orang per
orang dan diliputi misteri, hobi, dan aspek mistik lainnya.

PROSES PEMBENTUKAN MARMER

Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam adalah batuan hasil proses metamorfosis
atau malihan dari batuan asalnya yaitu batu kapur atau dolomit. Pengaruh temperatur dan
tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada
batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.
Akibat rekristalisasi tersebut akan menghilangkan struktur asal batuan tersebut, sehingga
membentuk tekstur baru dan keteraturan butir. Pembentukan mineral ini di Indonesia yang sudah
ditemukan adalah sekitar 30 60 juta tahun yang lalu atau berumur Kwarter hingga Tersier.

Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batu gamping. Setiap ada batu marmer
akan selalu ada batu gamping, walaupun tidak setiap ada batu gamping akan ada marmer. Karena
keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik
berupa tekanan maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di Indonesia penyebaran marmer
tersebut cukup banyak.

PENAMBANGAN MARMER

Untuk mengetahui besarnya cadangan suatu tubuh marmer maka biasanya dilakukan eksplorasi
geofisika agar diketahui baik penyebaran horizontal maupun vertikal, kemudian dibuat sumur uji
dan pengeboran untuk mengetahui ketebalan lapisan. Untuk mengetahui kualitas marmer di
suatu lokasi maka diambil sampel yang diuji di laboratorium baik fisika maupun kimia, secara
mikroskopis.

Sebelum keluar teknologi baru, penambangan marmer dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:

Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah dengan menggunakan
buldozer dan ekskavator untuk menggali tanah yang menutupi tubuh batuan guna menyiapkan
kegiatan penambangan.
Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, pemahatan, dan seleksi tiap blok dan
mengangkutnya ke lokasi pengolahan selanjutnya.

Biasanya pemboran dilakukan dengan mengebor vertikal sampai kedalaman 110 cm pada sisi
panjang dengan ukuran 260 cm dan sisi lebar (mendatar) sebesar 135 cm (Asril Riyanto, 1994).
Sedangkan pemahatan mendatar dimaksudkan untuk melepas blok dengan ukuran standar 260 x
110 x 135 cm. Kegiatan tersebut dibantu dengan alat angkat/tarik, alat dorong, serta alat angkut.
Setelah muncul teknologi baru yaitu dengan menggunakan alat pengerat bermata diamond, maka
segala kegiatan eksploitasi dilakukan di lokasi marmer tersebut berada. Untuk tahap awal
dilakukan pemolaan diameter batu yang akan dibelah dan dipotong, selanjutnya dibor sampai
kedalam tertentu lalu dilakukan pengeratan tersebut.

Pengolahan merupakan proses kegiatan memperhalus produk hingga menjadi produk yang siap
dipasrkan. Adapaun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

Untuk yang masih menggunakan teknologi lama maka blok batu pualam berukuran ( 260 x 100 x
135 ) cm digergaji menjadi lempengan-lempengan denganketebalan rata-rata 1,8 sampai 2 cm.
Lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai
ukuran-ukuran standar pesanan.
Barang setengah jadi tersebut kemudian digerinda dua tahap dan kemudian disempurnakan
atau ditambal dan dipoles pada lapisan-lapisan yang berlubang hingga akan dihasilkan marmer
yang mengkilap.
PERKEMBANGAN MARMER

Marmer pada saat ini masih merupakan barang mewah, kecuali untuk ukuran yang kecil-kecil
sebagai souvenir. Marmer atau batu pualam yang mengkilap biasanya dijadikan salah satu ciri
fisik kemewahan sebuah bangunan dan rumah. Kemewahan marmer belum ada yang menandingi
karena kualitasnya yang baik dibandingkan produk lantai atau dinding dari bahan lain.

Dilihat dari sisi pembiayaan, membuat lantai dari marmer harus menyiapkan dana yang tidak
sedikit. Hanya orang yang memiliki dana berlebih saja yang mampu membelinya, guna
menghiasi gedung atau rumah mewah mereka.

Perkembangan yang sangat mencolok adalah dari segi penambangannya, karena saat ini telah
lebih simple yaitu dengan menggunakan teknologi mutakhir. Sedangkan prospek ke depan untuk
marmer masih dalam pangsa pasar yang masih terbatas di kalangan menengah sampai kalangan
atas, kecuali hanya untuk souvenir yang kecil kecil saja masih dapat dijangkau oleh kalangan
menengah ke bawah.