You are on page 1of 3

NAMA : SEPTIANA DWI WURYANINGTYAS

NIM : 101611133011
KELAS : IKM-B 2016

RENDAHNYA DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM


AJANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Persaingan tenaga kerja akan semakin ketat menjelang pemberlakuan Masyarakat


Ekonomi ASEAN atau Pasar Bebas ASEAN tahun 2016. Indonesia dan negara-negara di
wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi yang dikenal
sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
2015 pada awal tahun 2016. Pasar bebas ini akan diberlakukan untuk berbagai bidang, tidak
terkecuali pada bidang kesehatan. Hal ini merisaukan atau mengkhawatirkan untuk sektor
kesehatan khususnya dokter lokal. Indonesia dikhawatirkan menjadi ladang basah bagi dokter
asing maupun pemodal asing di bidang kesehatan. Adanya MEA ini mungkin akan
mendatangkan para tenaga kerja medis atau kesehatan yang profesional yang mampu
bersaing dengan ketat dari wilayah Asia Tenggara. Indonesia harus menunjukkan kualitas
dan kuantitas produk dan sumber daya manusia (SDM) kepada negara-negara lain
dengan terbuka, tetapi pada sisi yang lain dapat menjadi boomerang untuk Indonesia
apabila Indonesia tidak dapat memanfaatkannya dengan baik.
Menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), bukan hanya kompetensi, tetapi
spesialisasi SDM kesehatan juga dibutuhkan dalam menghadapi tantangan saat ini. Dalam era
masyarakat ekonomi ASEAN, persaingan perdagangan dan jasa termasuk disektor kesehatan
akan semakin kompetitif dan hanya negara dengan pemerintah daerahnya yang siap saja
yang akan mampu berkompetisi dan menghasilkan banyak keuntungan. Potensi keuntungan
dapat berupa terciptanya lapangan kerja yang luas pada sarana-sarana pelayanan kesehatan,
meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dan derajat kesehatan masyarakat dan
mengurangi kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi, Secara makro, imbas positifnya
juga pada peningkatan pendapatan ekonomi rakyat dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi
karena mendatangkan devisa yang besar bagi negara, perluasan cakupan skala ekonomi,
meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya
transaksi perdagangan, serta memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Di samping
itu, juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar termasuk pasar jasa
kesehatan intra ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian
peraturan-peraturan dan standardisasi domestik. Intinya sumber-sumber dan distribusi
kesehatan dan kesejahteraan akan lebih dinikmati oleh rakyat. Sebaliknya, negara dan
pemerintah daerah yang tidak siap akan terancam oleh kuatnya arus persaingan dan daya
saing melawan berbagai negara dalam merebut pasar kesehatan dan tempat produksi berbagai
obat, bahan obat dan alat kesehatan. Saat ini mungkin negara lain banyak yang memiliki alat
kesehatan yang lebih canggih dari para tenaga medis yang membuatnya. Fasilitas di
Indonesia sendiri pasti belum memadai jika dibanding negara lain terutama di wilayah Asia
Tenggara.
WHO menyatakan bahwa hampir sepertiga dari kematian ibu dan anak secara global
terjadi di negara pada kawasan Asia Tenggara. WHO memperkirakan bahwa sebanyak 37 juta
kelahiran terjadi di Asia Tenggara setiap tahun, tetapi ironisnya total kematian ibu dan bayi
baru lahir di wilayah ini diperkirakan mencapai 170.000-1.300.000 per tahun. Kasus lainnya
terutama di Indonesia yaitu jumlah kasus demam berdarah di Indonesia tercatat paling tinggi
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2009, mencapai sekitar 150
ribu kasus. Angka ini tidak menurun hingga 2010. Data Kemenkes hingga pertengahan tahun
2013, kasus demam berdarah terjadi di 31 provinsi dengan penderita 48.905 orang, 376 di
antaranya meninggal dunia. Sementara ditahun sebelumnya Kemenkes mencatat 90.245
penderita, dengan angka kematian mencapai 816 orang. Sampai tahun 2016 ini masih banyak
juga kasus demam berdarah dan banyak penderitanya yang meninggal dunia. Kasus tersebut
dari tahun ke tahun selalu meningkat karena dari manusianya sendiri yang tidak bisa menjaga
lingkungan sekitar, maka banyak tersebar nyamuk demam berdarah dan korban selalu
bertamabah hanya karena kesalahan manusia itu sendiri. Hal tersebut bisa menjadi rendahnya
sektor kesehatan di Indonesia. Sebagai anggota MEA pasti merasa rendah dihadapan negara
lain yang memiliki sektor kesehatan lebih tinggi.
Jumlah tenaga medis di Indonesia juga masih jauh dari ideal. Indonesia kekurangan
dokter umum, sejak 2007 hingga 2010 sebanyak 26.000 lebih, dokter spesialis 8.000 lebih,
dokter gigi 14.000 lebih, perawat 63.000 lebih, dan bidan 97.000 lebih. Karena itu, rasio
dokter di Indonesia masih satu berbanding 5.000 penduduk. Jika dibandingkan dengan
Malaysia, rasio dokter di Malaysia satu berbanding 700 jiwa. Sehingga pasien-pasien disana
bisa terlayani dengan baik. Kekurangan dokter dan kebutuhan dokter spesialis masih sulit
terpenuhi karena baru sedikit perguruan tinggi kedokteran yang membuka program spesialis.
Adanya kesenjangan pelayanan kesehatan, persebaran dokter di Indonesia yang tidak merata,
apalagi dokter spesialis, merupakan kendala yang sulit diatasi. Database Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI),menunjukkan jumlah dokter spesialis anak di Jakarta pada tahun 2005
tercatat 443 (rasio 5,29 SpA per 100.000 penduduk), sedangkan di Papua hanya 7 (0,32 SpA
per 100.000 penduduk). Ketiadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai dan
sumberdaya kesehatan yang terbatas dan berkualitas rendah menyebabkan dalam setahun
hampir 1 juta orang Indonesia berobat ke luar negeri dengan uang yang dibelanjakan ke luar
negeri untuk kepentingan berobat mencapai angka Rp 20 triliun.
Tantangan lainnya adalah peraturan domestik yang belum rinci dan harmonis,
pengaturan fasilitas layanan kesehatan yang belum mendetail, dan masih adanya jenis
pelayanan kesehatan yang belum dikembangkan, seperti insinyur kesehatan, dokter terbang
dan kedokteran telemedicine. Untuk meningkatkan akses terhadap pengetahuan kesehatan
dunia dan layanan telemedicine, tentu dibutuhkan aturan regulasinya namun penyiapan
aturan regulasi tentang telemedicine di Indonesia dapat dikatakan terlambat.
Harapan yang dapat diraih Indonesa, masih memberikan peluang yang terbuka luas.
Untuk meraihnya, Indonesia perlu meningkatkan standar kompetensi tenaga kerja dokter di
Indonesia, sambil berupaya mengejar keseragaman kompetensi bersama di antara negara-
negara ASEAN. Selain itu perlunya melakukan evaluasi rutin standar kompetensi yang sudah
dibuat untuk bisa mengikuti perkembangan standar kompetensi di negara lain. Peningkatan
jumlah dokter melalui penambahan institusi pendidikan kedokteran, juga dibutuhkan. Begitu
pula pemerataan distribusi dokter dan intitusi kedokteran yang selama ini bertumpuk di Pulau
Jawa perlu didistrubusikan secara merata ke daerah. Selain itu, infrastruktur pendukung
dalam hal teknologi kedokteran dan institusi pendidikan kedokteran yang memadai juga
harus diperkuat. Bukan hanya dibidang kedokteran saja, tenaga medis lainnya juga
membutuhkan peningkatan mulai dari teknologi, fasilitas dan pendidikan. Karena Indonesia
juga memerlukan tenaga medis lainnya yang lebih mempunyai kinerja yang baik demi
tugasnya meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. Butuh dukungan, kerja sama dan
motivasi juga dari masyarakat Indonesia agar terlaksananya sektor kesehatan yang lebih baik
dalam ajang MEA 2016 kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA:
Arman Anwar (2016), Mampukah Sektor Kesehatan Indonesia Berkompetisi Dalam Ajang
Masyarakat Ekonomi Asean ?,http://fhukum.unpatti.ac.id/hkm-internasional/390-mampukah-
sektor-kesehatan-indonesia-berkompetisi-dalam-ajang-masyarakat-ekonomi-asean