You are on page 1of 26

1

A. DEFINISI PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

Paradigma konstruksionis memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang


natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis pada
paradigma konstruksionis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut
dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Dalam studi komunikasi, paradigma
konstruksionis ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia
sering dilawankan dengan paradigma positivis atau paradigma transmisi.
Paradigma Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek
dengan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat
sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai
penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek (komunikan/decoder) sebagai
faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosial.

Kajian pokok dalam paradigma konstruktivisme menurut Weber, menerangkan bahwa


substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja,
melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Weber
juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya tetapi
dengan beberapa catatan, dimana tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut harus
berhubungan dengan rasionalitas dan tindakan sosial harus dipelajari melalui penafsiran serta
pemahaman (interpretive understanding). Kajian paradigma konstruktivisme ini
menempatkan posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan
berusaha memahami dan mengkonstruksikan sesuatu yang menjadi pemahaman si subjek
yang akan diteliti. Weber melihat bahwa individu yang memberikan pengaruh pada
masyarakat tetapi dengan beberapa catatan, bahwa tindakan sosial individu berhubungan
dengan rasionalitas. Tindakan sosial yang dimaksudkan oleh Weber berupa tindakan yang
nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat
membatin, atau bersifat subjektif yang mengklaim terjadi karena pengaruh positif dari
situasi tertentu. (Sani. 2007: 1).
2

B. KONSTRUKTIVISME SECARA ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN


AKSIOLOGI

Ontologi Epistemologi Aksiologi


Relativism : Transacsionalist/Subjectivist: Facilitator

Realitas merupakan Pemahaman suatu Nilai, etika dan


konstruksi sosial. realitas atau temuan pilihan moral
Kebenaran suatu suatu penelitian merupakan bagian tak
realitas bersifat merupakan produk terpisahkan dari
relatif, berllaku sesuai interaksi peneliti penelitian
konteks spesifik yang dengan yang diteliti. Peneliti sebagai
dinilai relevan oleh passionate
pelaku sosial participant,fasilitator
yang menjembatani
keragamana
subjektivitas pelaku
sosial
Tujuan penelitian:
rekonstruksi realitas
sosial secara dialektis
antara peneliti dengan
yang diteliti
3

C. METODOLOGI PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

Item Positivisme Post Positivisme Kritis Konstruktivisme


Ontologi Naive realism Critical realism Historical Relativism- berdasarkan
realism realitas yang ada
disekitar/lokal dan
spesifik
Epistemologi Dualist/objectivist; Modified Transactional/s Transactional/subjectivist
mencari kebenaran dualist/objectivist; ubjectivist; ; created findings
critical mencari nilai
tradition/community; yang benar
mencari (solusi)
kemungkinan benar
Metodologi Experimental/mani Modified Dialogic/dialek Hermeneutika/dialektika
pulatif; verifikasi experimental/manipu tical
hipotesis; lative; menggunakan
menggunakan metode kuantitatif
metode kuantitatif

Tabel.1 Dasar-dasar Paradigma (Guba & Lincoln: 1994)

Metodologi: hermeneutikal dan dialektikal. Sifat variabel dan personal (intramental) dari
konstruksi sosial menunjukkan bahwa konstruksi individu dapat ditimbulkan dan
disempurnakan hanya melalui interaksi antara peneliti dan responden/objek. berbagai
konstruksi ini ditafsirkan menggunakan teknik hermeneutika konvensional, dan dibandingkan
dan dikontraskan melalui dialektika. Tujuan akhir adalah untuk menyaring sebuah konstruksi
kesepakatan/konsensus yang lebih banyak menginformasi daripada pendahulunya.
4

Issue Positivisme Postpositivisme Kritis Konstruktivisme


Inquiry Aim Explanasi: dapat diprediksi dan dikontrol Mengkritik dan Understanding;
merubah rekonstruksi
Nature of Menguji hipotesis Tidak memalsukan Struktural/wawasan Menyatukan
Knowladge berdasarkan fakta hipotesis yang historis rekonstruksi individu
berhubungan dari kesepakatan
dengan fakta atau
hukum
Knowladge Accretion Mengubah/mengoreksi Rekonstruksi yang
accumulation sejarah lebih menginformasi
dan baru;
pengalaman yang
mewakilkan
Goodness or Internal dan external validity, Historical situatedness; Kepercayaan dan
quality criteria reabiliabilty, dan objektivity erosion of ignorance keaslian
Values Tidak termasuk (excluded)-menolak Termasuk (included)- formative
influence
Ethics Ekstrinsik (di luar objek) Intrinsik;di dalam Intrinsik (di dalam
objek; kemiringan objek); dimana
moral menuju masuk ke dalam
pencerahan proses untuk
mendapatkan
jawaban;
mempunyai masalah
yang spesial
Voice Peneliti tertarik sebagai informan agen perubahan passionate
decision maker, policy maker, dan agen seperti advokat dan participant seperti
perubahan aktivis fasilitator dari multi
voice reconstruction
Training Teknis dan Teknikal; Bersosialisasi; kualitatif dan kuantitatif;
kuantitatif; teori kuantitatif dan berdasarkan sejarah; nilai dari memberdayakan
subtantif kualitatif; teori dan altruisme
subtantif
5

Accomodation Commensurable (bertaraf) Incommensurable (tidak bertaraf)


Hegemony Mengontrol publikasi Mencari input dan pengakuan

Tabel.2 Posisi Paradigma dalam Practical Issues (Guba & Lincoln: 1994)

D. INTI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki anggapan bahwa


pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri. Manusia
menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena,
pengalaman dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu
dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang sesuai (Suparno,
2008:28).
Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari
seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh tiap-tiap orang.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi merupkan suatu proses yang berkembang
terus-menerus. Dan dalam proses itulah keaktivan dan kesungguhan seseorang dalam
mengejar ilmu akan sangat berperan.

E. PENEKANAN PADA PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa


pengetahuan telah ditangkap manusia adalah konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri
(Matthews, 1994 dalam Suparno, 1997). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga
gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari kontruksi
kognitif melalui kegiatan individu dengan membuat struktur, kategori, konsep dan skema
yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Maka pengetahuan bukanlah
tentang dunia lepas dari pengamatan tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan
dari pengalaman atau dunia sejauh yang dialaminya. Proses konstruksi pengetahuan berjalan
terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman
yang baru (Piaget, 1971 dalam Suparno, 1997)

Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja,melainkan harus diinterpretasikan


sendiri oleh masing-masing individu. Pengetahuan juga bukan merupakan sesuatu yang sudah
6

ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itu keaktifan
seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.

Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif


mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas
pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain,
belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri.
Konstruktivisme memandang pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang
kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap
orang harus mengonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi,
tetapi suatu proses yang berkembang terus menerus.

Menurut paham konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak dipindahkan dari


guru kepada murid dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu membina sesuatu
pengetahuan mengikuti pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah hasil daripada
usaha murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid.

F. TOKOH-TOKOH DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

1. Giambatissta Vico

Gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dicetuskan oleh Giambatissta Vico. Vico


adalah cikal bakal dari konstruktivisme. Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia
yang dipublikasikan pada tahun 1710 mengungkapkan bahwa Tuhan adalah pencipta alam
semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Vico juga menjelaskan bahwa mengetahui
berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Hal ini berarti bahwa seseorang baru
mengetahui sesuatu jika dapat menjelaskan unsur-unsur yang membangun sesuatu itu.
Menurut Vico, pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku dan
selalu menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk.
Gagasan Vico kemudian disusul gagasan yang dinyatakan oleh Jean Piaget. Piaget
menuliskan gagasan konstruktivisme dalam perkembangan kognitif dan juga dalam
epistemologi genetik. Piaget menjelaskan mengenai teori adaptasi kognitif bahwa
pengetahuan diperoleh berdasarkan adaptasi struktur kognitif terhadap lingkungan, seperti
suatu organisme harus beradaptasi dengan habitatnya untuk dapat mempertahankan
kehidupan.
7

2. Jean Piaget

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar
konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori
perkembangan intelektual. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk
belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap
tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam
mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui
gerakan atau perbuatan.
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama yang menegaskan
bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah
menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi
tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental
yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan.
Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif
oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak
bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan. Dari
pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada
tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan
kematangan intelektual anak.
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan
konstruktivisme, Driver dan Bell mengajukan karakteristik sebagai berikut:
1) Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
2) Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,
3) Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal,
4) Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi
kelas,
5) Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan
sumber.
8

Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang
dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai
dengan skema yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan
skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun
secara hirarkis.
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang
berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern
atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan
intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan
mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan;
a. perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi
dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan
tersebut dan dengan urutan yang sama,
b. tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan
c. gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration),
proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan
struktur kognitif yang timbul (akomodasi).

3. Vygotsky
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi
dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah
diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa
inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang
penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Beberapa ahli konstruktivisme yang terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran
yang bermakna itu bermula dengan pengetahuan atau pengalaman sedia ada murid.
Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang
hampir semua perkara, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika kepahaman dan
9

miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, kepahaman atau kepercayaan
asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi
jawaban seperti yang dikehendaki oleh guru.

John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini mengatakan bahawa pendidik
yang cekap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau
membina pengalaman secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan
murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.

Dari persepektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme fungsi guru


akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian,
penyelidikan dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan
mengubah kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid
meniru dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru kepada kaedah pengajaran dan
pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid membina skema pengkonsepan
berdasarkan kepada pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penyelidikan
daripada pembinaan model daripada kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep
daripada kaca mata murid.

4. Ernst von Glasersfeld

Ernst von Glasersfeld lahir di Munich, 1917, orang tuanya berasal dari Austria, dan
besar di Northern Italy dan Switzerland. Belajar matematika di Zrich dan Vienna, dan
selama perang dunia kedua hidup sebagai petani di Irlandia. Dari tahun 1970, ia mengajar
psikologi kognitif di Universitas Georgia, USA. Mendapat gelar guru besar emeritus tahun
1987. Pada tahun 1970, ia mulai merumuskan epistemologi yang dikenal dengan
kontruktivisme radikal, mengacu epistemologi konstruktivisme Piaget .

Pendapat dan pandangan psikolog Glasersfeld dipengaruhi teori Piaget. Glasersfeld


(dalam Murphy, 1997) memandang konstruktivisme radikal berdasar konsepsi-konsepsi
pengetahuan. Glasersfled (1984) menyatakan: Some of the many ideas I have taken over
from Piaget. Piaget's work has greatly influenced and encouraged me during the 1970s; yang
artinya banyak ide yang saya ambil dari Piaget. Kerja Piaget mendorong dan berpengaruh
sangat besar selama tahun 1970; dan Glasersfeld sependapat dengan apa yang dikemukakan
Piaget: Intelligence organizes the world by organizing itself.
10

Berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan pendapat, Glasersfeld berbeda secara


radikal dengan konsepsi pemerolehan pengetahuan tradisional terutama dalam kaitan antara
pengetahuan dan realitas. Glasersfeld berpendapat bahwa pengetahuan dan realitas tidak
memiliki nilai mutlak dan pengetahuan diperoleh secara aktif serta dikonstruksi melalui
indera atau melalui komunikasi.

Von Glasersfeld (1984) mengemukakan bahwa konstruktivisme radikal untuk tidak


diinterpretasikan sebagai gambaran dari realitas secara mutlak tetapi sebagai model
pengetahuan (model of knowing) dan kemungkinan memperoleh pengetahuan dalam kognisi
dengan cara mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman sendiri. Dalam pembelajaran,
konstruktivisme radikal tergolong konstruktivisme individu, sebagaimana konstruktivisme
kognitif yang dikemukakan Piaget.

Berkaitan dengan pembelajaran, Glasersfeld (dalam Yackel, Cobb, Wood, dan


Merkel; 2002) menyatakan pandangannya sebagai berikut. Jika mempercayai bahwa
pengetahuan harus dikonstruksi oleh setiap individu yang belajar, maka pembelajaran
menjadi sangat berbeda dengan pembelajaran tradisional yang meyakini pengetahuan ada di
kepala guru dan guru harus mencari cara untuk mentransfer pengetahuan tersebut kepada
siswa. Pembelajaran menurut konstruktivisme radikal memandang bahwa pengetahuan harus
dikonstruksi oleh individu. Jadi berdasar informasi yang masuk ke diri siswa, siswa aktif
belajar mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman sendiri. Hal ini, pada awal
penyerapan pengetahuan, dimungkinkan terjadinya perbedaan konsepsi antar siswa terhadap
hasil pengamatan.

Apa yang disampaikan guru belum tentu diterima siswa sebagaimana apa yang
diharapkan guru. Tugas guru utamanya bukan mentransfer pengetahuan tetapi memfasilitasi
kegiatan pembelajaran sehingga siswa memiliki kesempatan aktif belajar dengan cara
mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman siswa sendiri. Dalam kegiatan
pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan adanya perbedaan tingkat konsepsi siswa
terhadap apa yang diamati. Dalam memahami suatu konsep, sering terjadi konflik kognitif
disebabkan oleh adanya problematika perbedaan tingkat konsepsi akibat beragamnya
pengalaman siswa. Dalam hal seperti ini, guru perlu membuat kesepakatan-kesepakatan
konseptual melalui diskusi kelas.
11

5. Chili, Humberto R. Maturana & F.J Varela

Konstruktivisme biologi kognitif diperkenalkan oleh seorang ahli biologi Chili,


Humberto R. Maturana dalam bukunya yang berjudul Der Baum Des Erkenntniss (Pohon
Pengetahuan). Maturana lahir pada tanggal 14 September 1928 di Santiago, Chile. Beliau
adalah seorang ilmuan biologi dan sekaligus seorang filsuf. Teori biologi kognitif ini muncul
bersamaan dengan teori konstruktivisme radikal sekitar tahun 1960an. Konstruktivisme
biologi kognitif berawal dari penemuan beliau bersama rekannya F.J Varela mengenai teori
autopoiesis, yaitu kontrol otomatis yang dimiliki manusia dalam sistem kehidupan. Mereka
memandang konstruktivisme sebagai teori pengetahuan yang berdasar atas penelitian modern
dalam biologi dan fisiologi sebagai ganti dari tradisi filosofis.

Pertanyaan Apa itu kehidupan? ternyata yang mengilhami konstruktivisme biologi


kognitif. Beberapa ahli mendefinisikan kehidupan dengan mendaftar ciri-ciri makhluk hidup
seperti berkembang biak, tumbuh, bernafas, genetika dan lain sebagainya. Akan tetapi,
mendefinisikan makhluk hidup dengan cara seperti ini ditolak oleh Maturana dan Varela,
sebab tidak seorangpun yakin bahwa daftar ciri-ciri yang diberikan sudah lengkap atau
belum. Selanjutnya, Maturana memandang kriteria kehidupan bukan dari struktur dan sifat-
sifatnya, melainkan dari organisasinya. Maknanya, kehidupan merupakan sebuah kesatuan
dalam proses produksi komponen-komponen makhluk hidup itu sendiri.

Selanjutnya, Maturana dan Varela (1980) memberikan definisi tentang sistem


autopoiesis, yaitu sebuah kesatuan proses jaringan dalam memproduksi, mentransformasi,
dan meregenerasi dirinya sendiri. Sudiarta (2010) mengemukakan bahwa autopoesis dapat
diartikan dengan kondisi yang selalu memperbaiki dan melindungi diri dengan melakukan
perubahan struktural secara terus-menerus dan berkelanjutan. Dalam hal ini, individu
memiliki kontrol otomatis terhadap kehidupannya tanpa intervensi dari luar

Sistem autopoiesis adalah sistem otonom tertutup (operasional closure), karena


bekerja berdasarkan hukum diri sendiri. Sistem autopoiesis memiliki batas-batasnya sendiri,
yang termasuk dalam operasinya (Maturana dan Varela, 1980). Dapat dikatakan bahwa dalam
sistem autopoiesis, jaringan mengatur dirinya sendiri secara tertutup tanpa memerlukan
kontrol eksternal dari lingkungan di luar dirinya. Dari pemahaman ini, jika kita hubungkan
dengan sistem kerja organ manusia berarti seluruh organ biologi manusia mampu bekerja
sendiri tanpa harus diperintah, apalagi dikendalikan oleh orang lain atau alat dari luar tubuh
kecuali memang organ tubuh manusia itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik lagi.
12

Karena sistem organ manusia bersifat autopoiesis maka begitupula dengan sistem
saraf. Maturana dan Varela (1980) memandang bahwa sistem saraf sebagai sistem yang
otonom yang mandiri dimana untuk mengoperasikan sebuah jaringan dilakukan secara
tertutup dengan ataupun tanpa adanya input. Sistem saraf merupakan jaringan tertutup dari
sebuah saraf yang berinteraksi sehingga terjadi sebuah perubahan aktivitas dalam saraf-saraf
yang selalu membimbing kepada sebuah perubahan dari aktivitas atau saraf-saraf lainnya.
Akan tetapi, walaupun bersifat tertutup lingkungan dapat juga mempengaruhi kinerja dari
sistem ini. Lingkungan dikategorikan sebagai ganguan yang akan merangsang munculnya
respon kinerja sistem saraf. Gangguan ini tidak berarti meniadakan ketertutupan dari sistem
saraf, karena hanyalah sekedar gangguan, proses respon dari gangguan yang terjadi di
sistem saraf tetap tidak dapat dikontrol oleh pihak luar.
13

G. TEORI TEORI DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

A. Interaksionisme Simbolik

Interaksi simbolik pada awalnya merupakan suatu gerakan pemikiran dalam ilmu
sosiologi yang dibangun oleh George Herbert Mead. Mead yang dikenal sebagai bapak Teori
Interaksionisme Simbolik ini menekankan sebuah pemahaman dunia sosial berdasarkan
pentingnya makna yang diproduksi dan diinterpretasikan melalui simbol-simbol dalam
interaksi sosial (Ardianto dan Anees, 2007:135). Para pemikir dalam tradisi teori
interaksionisme simbolik dibagi menjadi dua aliran, yaitu aliran Iowa dan Chicago.

Aliran Iowa meskipun mengacu pada prinsip-prinsip dasar pemikiran teori


interaksionisme simbolik, kalangan pemikir aliran Iowa banyak yang menganut tradisi
epistemologi dan metodologi post-positivis. Sedangkan Aliran Chicago banyak melakukan
pendekatan interpretif berdasarkan rintisan pemikiran George Herbert Mead.

George Herbert Mead mengemukakan bahwa makna muncul sebagai hasil interaksi
diantara manusia, baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui aksi dan respons yang
terjadi, kita memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan, dan karenanya kita dapat
memahami suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu (Morissan, 2009:75). Dalam deskripsi
Mead, proses pengambilan peran menduduki tempat yang penting. Interaksi berarti bahwa
para peserta masing-masing memindahkan diri mereka secara mental ke dalam posisi orang
lain. Dengan berbuat demikian, mereka mencoba mencari maksud dari aksi yang diberikan
oleh pihak lain, sehingga komunikasi dan interaksi dimungkinkan. Jadi interaksi tidak hanya
berlangsung melalui gerak-gerak saja, melainkan terutama melalui simbol-simbol yang perlu
dipahami dan dimengerti maknanya. Artinya, geraklah yang menentukan. Dalam interaksi
simbolik, orang mengartikan dan menafsirkan gerak-gerak orang lain dan bertindak sesuai
dengan arti itu.

Interaksi simbolik mendasarkan gagasannya atas enam hal berikut ini:

a. Manusia membuat keputusan dan bertindak pada situasi yang dihadapinya sesuai dengan
pengertian subjektifnya.

b. Kehidupan sosial merupakan proses interaksi, kehidupan sosial bukanlah struktur atau
bersifat struktural dan karena itu akan terus berubah.
14

c. Manusia memahami pengalamannya melalui makna dari simbol yang digunakan di


lingkungan terdekatnya (primary group), dan bahasa merupakan bagian yang sangat
penting dalam kehidupan sosial.

d. Dunia terdiri atas berbagai objek sosial yang memiliki nama dan makna yang ditentukan
secara sosial.

e. Manusia mendasarkan tindakannya atas interpretasi mereka, dengan mempertimbangkan


dan mendefenisikan objek-objek dan tindakan yang relevan pada situasi saat itu.

f. Diri seseorang adalah objek signifikan dan sebagaimana objek sosial lainnya, diri
didefenisikan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Karya Mead yang paling terkenal yang berjudul Mind, Self, and Society,
menggarisbawahi tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam menyusun sebuah diskusi tentang
teori interaksionisme simbolik. Ketiga konsep ini saling memengaruhi satu sama lain dalam
teori interaksionisme simbolik. Ketiga konsep tersebut adalah pikiran manusia (mind), diri
(self), dan masyarakat (society). Pikiran manusia (mind) dan interaksi sosial diri (self) dengan
yang lain digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) dimana
kita hidup. Ketiga konsep tersebut memiliki aspek-aspek yang berbeda, namun berasal dari
proses umum yang sama, yang disebut tindakan sosial (social act). Tindakan sosial (social
act) adalah suatu unit tingkah laku lengkap yang tidak dapat dianalisis ke dalam sub bagian
tertentu (Morissan, 2009:144). Mead mendefenisikan pikiran (mind) sebagai kemampuan
untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama. Mead percaya bahwa
manusia harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Bayi tidak dapat
benar-benar berinteraksi dengan orang lainnya sampai ia mempelajari bahasa (language),
atau sebuah sistem simbol verbal dan nonverbal yang diatur dalam pola-pola untuk
mengekspresikan pemikiran dan perasaan.

Bahasa bergantung pada apa yang disebut Mead sebagai simbol signifikan(significant
symbol), atau simbol-simbol yang memunculkan makna yang sama bagi banyak orang (West
dan Turner, 2009:105). Contohnya, ketika orang tua berbicara dengan lembut kepada
bayinya, bayi itu mungkin akan memberikan respons, tetapi dia tidak seutuhnya memahami
makna dari kata-kata yang digunakan orang tuanya. Namun ketika bayi tersebut mulai
mempelajari bahasa, bayi itu melakukan pertukaran makna atau simbol-simbol signifikan dan
dapat mengantisipasi respons orang lain terhadap simbol-simbol yang digunakan. Hal ini,
15

menurut Mead adalah bagaimana suatu kesadaran berkembang. Dengan menggunakan bahasa
dan berinteraksi dengan orang lain, kita mengembangkan pikiran dan ini membuat kita
mampu menciptakan setting interior bagi masyarakat yang kita lihat beroperasi di luar diri
kita. Jadi, pikiran dapat digambarkan sebagai cara orang menginternalisasi masyarakat.
Namun, pikiran tidak hanya bergantung pada masyarakat. Mead menyatakan bahwa
keduanya mempunyai hubungan timbal balik.

Pikiran merefleksikan dan menciptakan dunia sosial. Ketika seseorang belajar bahasa, ia
belajar berbagai norma sosial dan aturan budaya yang mengikatnya. Selain itu, ia juga
mempelajari cara-cara untuk membentuk dan mengubah dunia sosial melalui interaksi.
Menurut Mead, salah satu dari aktivitas penting yang diselesaikan orang melalui pemikiran
adalah pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik
menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan dari orang lain. Proses ini juga disebut
pengambilan perspektif karena kondisi ini mensyaratkan bahwa seseorang menghentikan
perspektifnya sendiri terhadap sebuah pengalaman dan sebaliknya membayangkannya dari
perspektif orang lain.

Mead menyatakan bahwa pengambilan peran adalah sebuah tindakan simbolis yang dapat
membantu menjelaskan perasaan kita mengenai diri dan juga memungkinkan kita untuk
mengembangkan kapasitas untuk berempati dengan orang lain. Mead mendefenisikan diri
(self) sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain.
Mead meyakini bahwa diri tidak berasal dari introspeksi atau dari pemikiran sendiri yang
sederhana, melainkan dari bagaimana kita dilihat oleh orang lain.

Meminjam konsep yang berasal dari sosiologis Charles Cooley, Mead menyebut hal
tersebut sebagai cermin diri (looking-glass self), atau kemampuan kita untuk melihat diri kita
sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain. Cooley (1972) meyakini tiga prinsip
pengembangan yang dihubungkan dengan cermin diri, yaitu: pertama, kita membayangkan
bagaimana kita terlihat di mata orang lain; kedua, kita membayangkan penilaian mereka
mengenai penampilan kita; ketiga, kita merasa tersakiti atau bangga berdasarkan perasaan
pribadi ini. Pemikiran Mead mengenai cermin diri ini mengimplikasikan kekuatan yang
dimiliki label terhadap konsep diri dan perilaku. Label menggambarkan prediksi pemenuhan
diri, yaitu harapan pribadi yang memengaruhi perilaku.
16

Ketika Mead berteori mengenai diri, ia mengamati bahwa melalui bahasa, orang
mempunyai kemampuan untuk menjadi subjek dan objek bagi dirinya sendiri. Sebagai
subjek, kita bertindak, dan sebagai objek, kita mengamati diri kita sendiri bertindak. Mead
menyebut subjek, atau diri yang bertindak sebagai I, dan objek atau diri yang mengamati
sebagai Me. I bersifat spontan, impulsif, dan kreatif, sedangkan Me lebih reflektif dan peka
secara sosial. Mead melihat dirisebagai sebuah proses yang mengintegrasikan antara I dan
Me.

Mead mendefenisikan masyarakat (society) sebagai jejaring hubungan sosial yang


diciptakan manusia. Individu-individu terlibat di dalam masyarakat melalui perilaku yang
mereka pilih secara aktif dan sukarela. Jadi, masyarakat menggambarkan keterhubungan
beberapa perangkat perilaku yang terus disesuaikan oleh individu-individu. Masyarakat ada
sebelum individu tetapi juga tetapi juga diciptakan dan dibentuk oleh individu, dengan
melakukan tindakan sejalan dengan orang lain. Mead berbicara mengenai dua bagian penting
masyarakat yang memengaruhi pikiran dan diri. Pemikiran Mead mengenai orang lain secara
khusus (particular others) merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan
bagi kita. Orang-orang ini biasanya adalah anggota keluarga, teman, dan kolega di tempat
kerja.

Identitas dari orang lain secara khusus dan konteksnya memengaruhi perasaan akan
penerimaan sosial kita dan rasa mengenaidiri kita. Orang lain secara umum (generalized
other) merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial atau budaya sebagai suatu
keseluruhan. Hal ini diberikan oleh masyarakat kepada kita, dan sikap dari orang lain secara
umum adalah sikap dari keseluruhan komunitas (Mead, 1934:154). Orang lain secara umum
menyediakan informasi mengenai peranan, aturan, dan sikap yang dimiliki bersama oleh
komunitas. Orang lain secara umum juga memberikan kita perasaan mengenai bagaimana
orang lain bereaksi kepada kita dan harapan sosial secara umum. Perasaan ini berpengaruh
dalam mengembangkan kesadaran sosial.

Herbert Blumer, mahaguru Universitas California di Berkeley, seperti dikutip Veeger


(1993), telah berusaha memadukan konsep-konsep Mead ke dalam suatu teori sosiologi yang
sekarang dikenal dengan nama interaksionisme simbolik, sebuah ekspresi yang tidak pernah
digunakan Mead sendiri. Blumer menyebutnya istilah tersebut sebagai, a somewhat barbaric
neologism that I coined in an offhand way... The term somehow caught on (sebuah kata baru
kasar yang aku peroleh tanpa pemikiran... Istilah yang terjadi begitu saja) (Littlejohn,
17

1996:160). Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas
manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana,2001:68).

Herbert Blumer kemudian menyambung gagasan-gagasan Mead yang tertulis dalam


karangannya yang berjudul Sociological Implications of the Thought of George Herbert
Mead dan bukunya Symbolic Interactionism: Perspective and Method (1969). Pertama,
konsep diri. Menurut Blumer, manusia bukan semata-mata organisme yang bergerak dibawah
pengaruh perangsang-perangsang dari luar maupun dalam, melainkan organisme yang sadar
akan dirinya (an organism having a self). Dikarenakan ia seorang diri, ia mampu
memandang diri sebagai objek pikirannya dan bergaul atau berinteraksi dengan diri sendiri.

Kedua, konsep perbuatan (action). Dalam pandangan Blumer, karena perbuatan manusia
dibentuk dalam dan melalui proses interaksi dengan diri sendiri, maka perbuatan itu berlainan
sama sekali dari gerak makhluk-makhluk yang bukan manusia. Manusia menghadapkan diri
pada macam-macam hal seperti kebutuhan, perasaan, tujuan, perbuatan orang lain,
pengharapan dan tuntutan orang lain, peraturan-peraturan masyarakatnya, situasinya, self
image-nya, ingatannya, dan cita-citanya untuk masa depan. Ketiga, konsep objek. Blumer
memandang, manusia hidup di tengah objek-objek. Kata objek dimengerti dalam arti luas
dan meliputi semua yang menjadi sasaran perhatian aktif manusia. Kata Blumer, objek dapat
bersifat fisik seperti kursi, atau khayalan, kebendaan, ataupun hal yang bersifat abstrak
seperti konsep kebebasan.

Keempat, konsep interaksi sosial. Interaksi dalam pandangan Blumer adalah bahwa para
peserta masing-masing memindahkan diri mereka secara mental ke dalam posisi orang lain.
Oleh penyesuaian timbal-balik, proses interaksi dalam keseluruhannya menjadi suatu proses
yang melebihi jumlah total unsur-unsurnya berupa maksud, tujuan dan sikap masing-masing
peserta. Kelima, konsep joint action. Pada konsep ini Blumer mengganti istilah social act dari
Mead dengan istilah joint action. Artinya aksi kolektif yang lahir dimana perbuatan-
perbuatan masing-masing peserta dicocokkan dan diserasikan satu sama lain. Sebagai contoh,
Blumer menyebutkan: transaksi dagang, makan bersama keluarga, upacara perkawinan, dan
sebagainya. Realitas sosial dibentuk dari joint actions dan merupakan objek sosiologi yang
sebenarnya.

Pemikiran Blumer memiliki pengaruh cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Blumer
berhasil mengembangkan teori interaksionisme simbolik pada tingkat metode yang cukup
18

rinci. Teori interaksionisme simbolik yang dimaksud Blumer bertumpu pada tiga premis
utama, yaitu:

1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu
bagi mereka.

2. Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain.

3. Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung.

B. Konsep Framing

Analisis framing adalah salah satu metode penelitian yang termasuk baru dalam dunia
ilmu komunikasi. Para ahli menyebutkan bahwa analisis framing ini merupakan perpanjangan
dari analisis wacana yang dielaborasi terus menerus ini, menghasilkan suatu metode yang up
to date untuk memahami fenomena-fenomena media mutakhir.

Analisis framing merupakan suatu ranah studi komunikasi yang menonjolkan


pendekatan multidisipliner dalam menganalisis pesan-pesan tertulis maupun lisan. Konsep
framing atau frame sendiri bukan berasal dari ilmu komunikasi, melainkan dari ilmu kognitif
(psikologis). Dalam prakteknya, analisis framing juga memungkinkan disertakannya konsep-
konsep sosiologis, politik dan kultural untuk menganalisis fenomena-fenomena komunikasi,
sehingga suatu fenomena dapat benar-benar dipahami dan diapresiasi berdasarkan konteks
sosiologis, politis atau kultural yang melingkupinya.

Konsep framing sering digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan


penonjolan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai
penempatan informasiinformasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu
mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain. Robert M. Entman lebih lanjut
mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan
membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Dalam banyak hal itu
berarti menyajikan secara khusus definisi terhadap masalah, interpretasi sebab akibat,
evaluasi moral, dan tawaran penyelesaian sebagaimana masalah itu digambarkan.

Dari definisi Entman tersebut framing pada dasarnya merujuk pada pemberian
definisi, penjelasan, evaluasi dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan
19

kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan. Dengan kata lain, framing
adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang
digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau
perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang
ditonjolkan dan dihilangkan dan hendak dibawa kemana berita tersebut.

Analisis framing mempunyai asumsi bahwa wacana media massa memiliki peran
yang sangat strategis dalam menentukan apa yang penting atau signifikan bagi publik dari
bermacam-macam isu dan persoalan yang hadir dalam wacana publik.

Agus Sudibyo (2001) mengatakan bahwa media massa dilihat sebagai media diskusi
antara pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda. Mereka berusaha
untuk menonjolkan kerangka pemikiran, perspektif, konsep, dan klaim interpretatif masing-
masing dalam rangka memaknai objek wacana. Keterlibatan mereka dalam suatu diskusi
sangat dipengaruhi oleh status, wawasan, dan pengalaman sosial masing-masing. Dalam
konteks inilah wacana media massa kemudian menjadi arena perang simbolik antara pihak-
pihak yang berkepentingan dengan suatu objek wacana. Perdebatan yang terjadi di dalamnya
dilakukan dengan cara-cara yang simbolik, sehingga lazim ditemukan bermacam-macam
perangkat linguistik atau perangkat wacana yang umumnya menyiratkan tendensi untuk
melegitimasi diri sendiri dan mendelegitimasi pihak lawan.

Maka jelas terlihat bahwa framing bukan hanya berkaitan dengan skema individu
(wartawan), melainkan juga berhubungan juga dengan proses produksi berita, kerangka kerja
dan rutinitas organisasi media. Bagaimana peristiwa dibingkai, kenapa peristiwa dipahami
dalam kerangka tertentu atau bingkai tertentu, tidak bingkai yang lain, bukan semata-mata
disebabkan oleh struktur skema wartawan, melainkan juga rutinitas kerja dan institusi media
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pemaknaan peristiwa.

Ada beberapa tokoh yang memberikan definisi framing. Beberapa definisi para ahli
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Defini Framing Menurut Beberapa Tokoh


TOKOH DEFINISI
Robert N. Entman Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian
tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek
20

lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam


konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi
lebih besar daripada sisi yang lain.
William A. Gamson Cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian
rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa
yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu
terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu
semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan
individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia
sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia
terima.
Todd Gitlin Strategi bagaimana realitas/dunia dibentuk dan disederhanakan
sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca.
Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak
menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca.itu dilakukan
dengan seleksi, pengulangan, penekanan, dan presentasi aspek
tertentu dari realitas.
David E. Snow and Pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dan kondisi yang
Robert Benfort relevan. Frame mengorganisasikan sistem kepercayaan dan
diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra
tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu.
Amy Binder Skema interpretasi yang digunakan oleh individu untuk
menempatkan, menafsirkan, mengidentifikasi, dan melabeli
peristiwa secara langsung atau tidak langsung. Frame
mengorganisir peristiwa yang kompleks ke dalam bentuk dan
pola yang mudah dipahami dan membantu individu untuk
mengerti makna peristiwa.
Zhongdang Pan and Strategi konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi
Gerald M. Kosicki yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan
peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi
pembentukan berita.
21

Meskipun berbeda dalam penekanan dan pengertian, ada titik singgung utama dari
definisi framing tersebut. Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu
dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi realitas itu, hasil
akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah
dikenal. Akibatnya, khalayak lebih mudah mengingat aspek-aspek tertentu yang disajikan
secara menonjol oleh media. Aspek-aspek yang tidak disajikan secara menonjol, bahkan tidak
diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak diperhatikan oleh khalayak. Framing
adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media. Akibat penonjolan aspek-
aspek tertentu ini, karenanya, seperti dikatakan Frank D. Durham, framing membuat dunia
lebih diketahui dan lebih dimengerti. Realitas yang kompleks dipahami dan disederhanakan
dalam kategori tertentu.

Ada dua aspek dalam framing. Pertama, memilih fakta/realitas. Proses memilih fakta
ini didasarkan pada asumsi, wartawan tidak melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam
memilih fakta ini selalu terkandung dua kemungkinan: apa yang dipilih (included) dan apa
yang dibuang (excluded). Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angle
tertentu, memilih fakta tertentu, dan melupakan fakta yang lain. Kedua, menuliskan fakta.
Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak.
Gagasan ini diungkapkan dengan, kalimat dan proposisi apa, dengan bantuan aksentuasi foto
dan gambar apa, dan sebagainya. Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan
dengan pemakaian perangkat tertentu: penempatan yang mencolok (menempatkan di
headline depan, atau bagian belakang), pengulangan, pemaikaian grafis untuk mendukung
dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan
orang/peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplikasi,
dan pemakaian kata yang mencolok, gambar, dan sebagainya. Realitas yang disajikan secara
menonjol atau mencolok, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan
mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.

Konsep framing mengacu pada perspektif dramaturgi yang dipelapori Erving


Goffman. Dramaturgi adalah sebuah kerangka analisis dan presentasi simbol yang
mempunyai efek persuasif. Dramaturgi melihat realitas seperti layaknya sebuah drama,
masing-masing aktor menampilkan dan berperan menurut karakter masing-masing. Manusia
berperilaku laksana dalam suatu panggung untuk menciptakan kesan yang meyakinkan
kepada khalayak. Dalam panggung itu, seorang dokter akan menciptakan kesan yang
22

meyakinkan dan mengikuti rutinitas agar ia dianggap sebagai dokter. Dalam perspektif
media, seperti dikatakan P.K Manning, pendekatan dramaturgi tersebut mempunyai dua
pengaruh. Pertama, ia melihat realitas dan aktor menampilkan dirinya dengan simbol, dan
penampilan masing-masing. Media karenanya, dilihat sebagai transaksi, melalui mana aktor
menampilkan dirinya lengkap dengan simbol dan citra yang ingin dihadirkannya. Kedua,
pendekatan dramaturgi melihat hubungan interaksionis antara khalayak dengan aktor
(penampil). Realitas yang terbentuk karenanya, dilihat sebagai hasil transaksi antara
keduanya.

Dalam perspektif Goffman, frame mengklasifikasi, mengorganisasi, dan


menginterpretasi secara aktif pengalaman hidup kita supaya kita bisa memahaminya.
Menurut Goffman, sebuah frame adalah sebuah skema interpretasi, di mana gambaran dunia
yang dimasuki seseorang diorganisasikan sehingga pengalaman tersebut menjadi punya arti
dan bermakna. Frame menawarkan penafsiran atas berbagai realitas sosial yang berlangsung
tiap hari. Ia seakan jawaban atas pertanyaan Apa sesunggubnya yang sedang terjadi?.
Jawaban atas pertanyaan tersebut membentuk suatu definisi atas situasi. Peristiwa dan realitas
didefinisikan secara kreatif sehingga mempunyai arti. Definisi seseorang atas situasi mi dapat
diklasifikasikan menjadi dua bagian: strips (kepingan-kepingan) dan frame (bingkai). Strips
merupakan urutan aktivitas, sedangkan frame adalah pola dasar organisasional untuk
mendefinisikan strips. Misalnya aktivitas pergi ke warung, mengambil botol, membuka tutup,
meminumnya, dan mengembalikan botol, adalah strip. Berbagai aktivitas tersebut dapat
diorganisasikan ke dalam frame sebagai minum teh botol.

Frame adalah sebuah pririsip di mana pengalaman dan realitas yang kompleks
tersebut diorganisasi secara subjektif. Lewat frame itu, orang melihat realitas dengan
pandangan tertentu dan melihat sebagai sesuatu yang bermakna dan beraturan. Frame media
mengorganisasikan realitas kehidupan sehari-hari dan akan ditransformasikan ke dalam
sebuah cerita. Analisis framing, karenanya, meneliti cara-cara individu mengorganisasikan
pengalamannya sehingga memungkinkan seseorang mengidentifikasi dan memahami
peristiwa-peristiwa, memaknai aktivitas-aktivitas kehidupan yang tengah berjalan.

C. Semiotika

Semiotika berasal dari bahasa Yunani semeion yang berarti tanda atau seme yang
berarti penafsir tanda. Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi (Littlejohn,
23

1996:64). Semiotika adalah studi mengenai tanda (signs) dan simbol yang merupakan tradisi
penting dalam pemikiran tradisi komunikasi. Tradisi semiotika mencakup teori utama
mengenai bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan, dan sebagainya
yang berada di luar diri (Morissan, 2009:27). Konsep dasar yang menyatukan tradisi
semiotika ini adalah tanda yang diartikan sebagai suatu stimulus yang mengacu pada
sesuatu yang bukan dirinya sendiri.

Semiotika, atau dalam istilah Roland Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak
mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to
signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to
communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam
hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur
dari tanda (Barthes,1988:179). Semiotika didefenisikan oleh Ferdinand de Saussure di dalam
Course in General Linguistic, sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari
kehidupan sosial.

Implisit dalam definisi Saussure adalah prinsip bahwa semiotika sangat


menyandarkan dirinya pada aturan main atau kode sosial yang berlaku di dalam masyarakat,
sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif (Piliang, 2012:300). Saussure
dengan model dyadic, menyatakan bahwa tanda terdiri atas: signifier (signifiant) yaitu forma
atau citra tanda tersebut, atau dengan kata lain wujud fisik dari tanda; dan signified (signifie)
yaitu konsep yang direpresentasikan atau konsep mental (Birowo, 2004:45). Tanda sebagai
kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari bidang penanda (signifier) dan bidang petanda
(signified). Suatu penanda tanpa petanda tidak memiliki arti apa-apa.

Charles Sanders Pierce, pendiri semiotika modern, mendifenisikan semiotika sebagai


suatu hubungan antara tanda (simbol), objek dan makna. Tanda mewakili objek (referent)
yang ada di dalam pikiran orang yang menginterpretasikannya (interpreter). Pierce
menyatakan bahwa representasi dari suatu objek dengan interpretant. Tanda merupakan
sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated). Tanda dan referen harus saling bekerja sama
agar suatu tanda dapat berfungsi.

Pierce mengatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang


menyerupainya dimana keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda
atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia menggunakan istilah icon
24

untuk kesamaannya, indeks untuk hubungan sebab-akibat, dan symbol untuk asosiasi
konvensional. Pembagian tipe-tipe tanda berdasarkan objeknya menjadi ikon, indeks
dansimbol menjadi sangat bermanfaat dan fundamental mengenai sifat tanda.

Tanda merupakan suatu yang mewakili sesuatu yang dapat berupa pengalaman,
pikiran,gagasan atau perasaan. Jika sesuatu misalnya A adalah asap hitam yang mengepul
dari kejauhan, maka ia dapat mewakili B, yang misalnya sebuah kebakaran (pengalaman).
Tanda semacam ini dapat disebut sebagai indeks yakni antara Adan B ada ketertarikan
(contiguity). Tanda juga bisa berupa lambang ataupun simbol, seperti contoh burung dara
yang sudah diyakini sebagai tanda atau lambang perdamaian. Burung dara tidak dapat begitu
saja digantikan dengan burung atau hewan yang lainnya. Ikon adalah tanda yang hubungan
antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan dalam bentuk alamiah. Atau dengan kata
lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan (Sobur,
2004:41).

Pada dasarnya ikon adalah suatu tanda yang bisa menggambarkan ciri utama dari
sesuatu, meskipun sesuatu yang lazim yang disebut sebagai objek acuan tersebut tidak hadir.
Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang
dipresentasikannya. Model tanda objek interpretant dari Pierce merupakan sebuah ikon
dalam upayanya mereproduksi dalam konkret struktur relasi yang abstrak diantara unsur-
unsurnya. Dapat pula dikatakan sebagai ikon atau tanda yang memiliki ciri yang sama dengan
apa yang dimaksudkan. Contohnya: Peta Indonesia yang merupakan ikon dari wilayah
Indonesia yang tergambar dalam peta tersebut, atau foto Megawati sebagai ikon presiden
perempuan pertama di Indonesia.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan
petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu
pada kenyataan (Sobur, 2004:42). Contohnya yang paling jelas adalah asap sebagai tanda
adanya api. Selain itu, tanda tangan (signature) merupakan indeks dari keberadaan seseorang
yang menorehkan tanda tanda tangan tersebut. Simbol adalah tanda yang menunjukkan
hubungan alamiah antara penanda dan pertandanya. Simbol juga merupakan tanda yang
berdasarkan konvensi (perjanjian) atau peraturan yang telah disepakati bersama. Simbol
dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya.
Contohnyaseperti burung Garuda bagi masyarakat Indonesia adalah sebagai lambang
Pancasila yang memiliki makna, namun bagi orang yang memiliki latar budaya yang berbeda
25

sepeti orang indian, mereka menganggap burung garuda dianggap seperti burung yang biasa
saja dan tidak memiliki arti apa-apa.

Hubungan antara ikon, indeks dan simbol tersebut memiliki sifat konvensional.
Hubungan antara simbol, thought of reference (pikiran atau referensi) dengan referent

Sumber: Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm.159

(acuan) dapat digambarkan melalui bagan semiotic triangle berikut ini:

Berdasarkan bagan di atas dapat dijelaskan bahwa pikiran merupakan mediasi antara
simbol dan acuan. Atas dasar hasil pemikiran itu pula terbuahkan referensi yang merupakan
hasil penggambaran maupun konseptualisasi acuan simbolik. Dengan demikian referensi
merupakan gambaran hubungan antara tanda kebahasaan berupa kata-kata maupun kalimat
dengan dunia acuan yang membuahkan satuan pengertian tertentu. Simbol berbeda dengan
tanda. Tanda berkaitan langsung dengan objek, sedangkan simbol memerlukan proses
pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan dia dengan objek. Dengan kata lain,
simbol lebih substansif daripada tanda.

Semiotika dibagi ke dalam tiga wilayah, yaitu:

1. Semantik

Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya, atau apa yang
diwakili suatu tanda. Semiotika menggunakan dua dunia, yaitu dunia benda (world of things)
dan dunia tanda (world of signs) dan menjelaskan hubungan keduanya. Prinsip dasar
semiotika adalah bahwa representasi selalu diperantarai atau dimediasi oleh kesadaran
interpretasi seorang individu, dan setiap interpretasi atau makna dari suatu tanda akan
berubah dari satu situasi ke situasi lainnya (Morissan, 2009: 29).

2. Sintaktik
26

Sintaktik (syntactics) yaitu studi mengenai hubungan diantara tanda. Dalam hal ini,
tanda tidak pernah sendirian mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem
tanda yang lebih besar atau kelompok tanda yang diorganisir melalui cara tertentu. Sistem
tanda seperti ini disebut dengan kode (code). Secara umum, sintaktik sebagai aturan yang
digunakan manusia untuk menggabungkan atau mengkombinasi berbagai tanda ke dalam
suatu sistem makna yang kompleks. Aturan yang terdapat pada sintatik memungkinkan
manusia menggunakan berbagai kombinasi tanda yang sangat banyak untuk mengungkapkan
arti atau makna (Morissan 2009:30).

3. Pragmatik

Pragmatik adalah bidang yang mempelajari bagaimana tanda menghasilkan perbedaan


dalam kehidupan manusia, atau dengan kata lain studi yang mempelajari penggunaan tanda
serta efek yang dihasilkan tanda. Aspek pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam
komunikasi, khususnya untuk mempelajari mengapa terjadi pemahaman (understanding) atau
kesalah pahaman (misunderstanding) dalam berkomunikasi (Morissan 2009:30).