You are on page 1of 21

1

BAB I

PENDAHULUAN

Undenscenden testis (UDT) atau cryptorchidism merupakan kondisi ketika


testis tidak berada di dalam kantong skrotum, tetapi berada di salah satu tempat
sepanjang jalur penurunan testis yang normal. Undenscenden testis adalah salah
satu kelainan yang paling sering terjadi pada bayi laki-laki. Pada kelainan ini,
testis tidak terletak di dalam skrotum. Angka kejadiannya yaitu pada 4 5 % bayi
laki-laki dengan umur kehamilan yang cukup dan 20 33 % pada bayi laki-laki
premature. Predisposisi terjadinya adalah prematuritas, berat badan bayi lahir
rendah, kecil masa kehamilan, kehamilan kembar dan penggunaan estrogen pada
trimester pertama.
UDT dapat kembali turun spontan ke testis sekitar 70 77% pada usia 3
bulan.2 Penatalaksanaan yang terlambat pada UDT akan menimbulkan efek pada
testis di kemudian hari. UDT meningkatkan risiko infertilitas dan berhubungan
dengan risiko tumor sel germinal yang meningkat 3 10 kali. Atrofi testis terjadi
pada usia 5 7 tahun, akan tetapi perubahan morfologi dimulai pada usia 1 2
tahun.6,9,10 Risiko kerusakan histologi testis juga berhubungan dengan letak
abnormal testis. Pada awal pubertas, lebih dari 90% testis kehilangan sel
germinalnya pada kasus intraabdomen, sedangkan pada kasus testis inguinal dan
preskrotal, penurunan sel geminal mencapai 41% dan 20%.11
Posisi testis memiliki keterlibatan yang signifikan pada kelanjutan hidup
penderita. Kelainan ini dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan dan
meningkatkan resiko timbulnya tumor testis pada usia dewasa muda. Oleh karena
itu pembedahan untuk menangani UDT ini sangat signifikan.12
2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Undescended testis (UDT) adalah suatu kondisi dimana testis tidak dijumpai
pada tempat yang semestinya yaitu di dalam skrotum. Dalam hal ini mungkin
testis tidak mampu mencapai skrotum tetapi masih berada pada jalurnya yang
normal, keadaan ini disebut kriptorkismus, atau pada proses desensus, testis
tersesat (keluar) dari jalurnya yang normal, keadaan ini disebut sebagai testis
ektopik. 1,2
Pada masa janin testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat sebelum
bayi dilahirkan, testis mengalami desensus testikulorum atau turun ke kantung
skrotum. Diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis ke
skrotum, antara lain: 1) adanya tarikan dari gubernakulum testis dan refleks dari
otot kremaster, 2) perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan
badan, dan 3) dorongan dari tekanan intraabdominal.

2.2 Embriologi dan Proses Penurunan Testis


Pada minggu keenam umur kehamilan primordial germ cells mengalami
migrasi dari yolk sac ke-genital ridge. Dengan adanya gen SRY (sex determining
region Y), maka akan berkembang menjadi testis pada minggu ke-7. Testis yg
berisi prekursor sel-sel Sertoli besar (yang nanti menjadi tubulus seminiferous dan
sel-sel Leydig kecil) dengan stimulasi FSH yang dihasilkan pituitary mulai aktif
berfungsi sejak minggu ke-8 kehamilan dengan mengeluarkan MIF (Mllerian
Inhibiting Factor), yang menyebabkan involusi ipsilateral dari duktus mullerian.
MIF juga meningkatkan reseptor androgen pada membran sel Leydig. Pada
minggu ke-10-11 kehamilan, akibat stimulasi chorionic gonadotropin yang
dihasilkan plasenta dan LH dari pituitary sel-sel Leydig akan mensekresi
testosteron yang sangat esensial bagi diferensiasi duktus Wolfian menjadi
epididimis, vas deferens, dan vesika seminalis. 1,6,7
3

Penurunan testis dimulai pada sekitar minggu ke-10. Walaupun


mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun para ahli sepakat bahwa
terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yakni: faktor endokrin, mekanik
(anatomik), dan neural. Terjadi dalam 2 fase yang dimulai sekitar minggu ke-10
kehamilan segera setelah terjadi diferensiasi seksual. Fase transabdominal dan
fase inguinoscrotal. Keduanya terjadi dibawah kontrol hormonal yang berbeda.
1,6,7

Fase transabdominal terjadi antara minggu ke-10 dan 15 kehamilan, di mana


testis mengalami penurunan dari urogenital ridge ke regio inguinal. Hal ini terjadi
karena adanya regresi ligamentum suspensorium cranialis dibawah pengaruh
androgen (testosteron), disertai pemendekan gubernaculum (ligamen yang
melekatkan bagian inferior testis ke-segmen bawah skrotum) di bawah pengaruh
MIF. Dengan perkembangan yang cepat dari regio abdominopelvic maka testis
akan terbawa turun ke daerah inguinal anterior. Pada bulan ke-3 kehamilan
terbentuk processus vaginalis yang secara bertahap berkembang ke-arah skrotum.
Selanjutnya fase ini akan menjadi tidak aktif sampai bulan ke-7 kehamilan. 1,6,7

Gambar 2.1 Skema penurunan testis menurut Hutson


4

Keterangan gambar:
Antara minggu ke- 815 gubernaculum (G) berkembang pada laki-laki,
mendekatkan testis (T) ke-inguinal. Ligamentum suspensorium cranialis (CSL)
mengalami regresi. Migrasi gubernaculum ke-skrotum terjadi pada minggu ke- 28
35. B: Peranan gubernaculum dan CSL pada diferensiasi seksual rodent. Pada
jantan CSL mengalami regresi dan gubernaculum mengalami perkembangan;
sebaliknya pada betina CSL menetap, dan gubernaculum menipis dan memanjang.
(Sumber : Hutson JM, Hasthorpe S, Heys CF. Anatomical and Functional of
Testicular Descent and Cryptorchidism. Endocrine Reviews 1997; 18 (2): 259-75)

Fase inguinoscrotal terjadi mulai bulan ke-7 atau minggu ke-28 sampai
dengan minggu ke-35 kehamilan. Testis mengalami penurunan dari regio inguinal
ke-dalam skrotum dibawah pengaruh hormon androgen. Mekanismenya belum
diketahui secara pasti, namun diduga melalui mediasi pengeluaran calcitonin
gene-related peptide (CGRP). Androgen akan merangsang nervus genitofemoral
untuk mengeluarkan CGRP yang menyebabkan kontraksi ritmis dari
gubernaculum. Faktor mekanik yang turut berperan pada fase ini adalah tekanan
abdominal meningkat yang menyebabkan keluarnya testis dari cavum abdomen,
di samping itu tekanan abdomen akan menyebabkan terbentuknya ujung dari
processus vaginalis melalui canalis inguinalis menuju skrotum. Proses penurunan
testis ini masih bisa berlangsung sampai bayi usia 9-12 bulan. 1,6,7
5

Gambar 2.2. Skema berlangsungnya 2 fase dari penurunan testis

2.3. Etiologi
Mekanisme terjadinya UDT berhubungan dengan banyak faktor
(multifaktorial) yaitu:
1) Perbedaaan pertumbuhan relatif tubuh terhadap funikulus spermatikus atau
gubernakulum.
2) Peningkatan tekanan abdomen.
3) Faktor hormonal: testosteron, MIS, dan extrinsic estrogen.
4) Perkembangan epididimis.
5) Perlekatan gubernakular.
6) Genito femoral nerve/calcitonin gene-related peptide (CGRP).
7) Sekunder pasca-operasi inguinal yang menyebabkan jaringan ikat. 1,2,3

UDT juga dapat terjadi karena adanya kelainan pada gubernakulum testis
kelainan intrinsik testis, atau defisiensi hormon gonadotropin yang memacu
proses desensus testis. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi kelompok bayi
6

baru lahir yang beresiko mengalami UDT untuk mencari riwayat alami dan
faktor-faktor yang mempengaruhi desensus setelah lahir. Penelitian ini
menemukan bahwa UDT secara signifikan lebih banyak ditemukan pada bayi
prematur, kecil untuk masa kehamilan, berat bayi baru lahir yang rendah, dan
kembar.1,2
UDT dapat merupakan kelainan tunggal yang berdiri sendiri (isolated
anomaly) ataupun bersamaan dengan kelainan kromosom, endokrin, intersex, dan
kelainan bawaan lainnya. Bila disertai dengan kelainan bawaan lain seperti
hipospadia kemungkinan lebih tinggi disertai dengan kelainan kromosom (sekitar
12 25 %).1,6
Terdapat faktor keturunan terjadinya UDT pada kasus-kasus yang isolated,
di samping itu testis sebelah kanan lebih sering mengalami UDT. Sekitar 4,0 %
anak-anak UDT mempunyai ayah yang UDT, dan 6,29,8% mempunyai saudara
laki-laki UDT; atau secara umum terdapat risiko 3,6 kali terjadi UDT pada laki-
laki yang mempunyai anggota keluarga UDT dibanding dengan populasi umum.
1,2,6

2.4. Klasifikasi
UDT dikelompokkan menjadi 3 tipe:
1) UDT sesungguhnya (true undescended): testis mengalami penurunan parsial
melalui jalur yang normal, tetapi terhenti. Dibedakan menjadi teraba
(palpable) dan tidak teraba (impalpable).
2) Testis ektopik: testis mengalami penurunan di luar jalur penurunan yang
normal.
3) Testis retractile: testis dapat diraba/dibawa ke-dasar skrotum tetapi akibat
refleks kremaster yang berlebihan dapat kembali segera ke-kanalis inguinalis,
bukan termasuk UDT yang sebenarnya.

Pembagian lain membedakan true UDT menurut lokasi terhentinya testis,


menjadi: abdominal, inguinal, dan suprascrotal (gambar 2). Gliding testis atau
sliding testis adalah istilah yang dipakai pada keadaan UDT dimana testis dapat
dimanipulasi hingga bagian atas skrotum, tetapi segera kembali begitu tarikan
7

dilepaskan. 1,2,6 Gliding testis harus dibedakan dengan testis yang retraktil, gliding
testis terajadi akibat tidak adanya gubernaculum attachment dan mempunyai
processus vaginalis yang lebar sehingga testis sangat mobile dan meningkatkan
risiko terjadinya torsi. Dengan melakukan overstrecht selama 1 menit pada saat
pemeriksaan fisik (untuk melumpuhkan refleks cremaster), testis yang retraktil
akan menetap di dalam skrotum, sedangkan gliding testis akan tetap kembali ke-
kanalis inguinalis. 1,2,6

Gambar 2.3 Kemungkinan lokasi testis pada true UDT dan ektopik testis

2.5. Patogenesis dan Patofisiologi


Suhu di dalam rongga abdomen kurang lebih 1-20C lebih tinggi daripada
suhu di dalam skrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang
lebih tinggi daripada testis normal; hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel
germinal testis. 1,2
Pada usia 2 tahun, sebanyak 1/5 bagian dari sel-sel germinal testis telah
mengalami kerusakan, sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel-sel germinal
yang masih normal. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya testis
menjadi mengecil. Karena sel-sel Leydig sebagai penghasil hormon androgen
tidak ikut rusak, maka potensi potensi seksual tidak mengalami gangguan. Akibat
8

lain yang ditimbulkan dari letak testis yang tidak berada di skrotum adalah mudah
terpluntir (torsio), mudah terkena trauma, dan lebih mudah mengalami degenerasi
maligna.1-3

2.6. Diagnosis
2.6.1. Anamnesis
Pada anamnesis, tentukan apakah testis pernah teraba di skrotum, riwayat
operasi daerah inguinal, riwayat prenatal: terapi hormonal pada ibu untuk
reproduksi, kehamilan kembar, prematuritas, riwayat keluarga: UDT, hipospadia,
infertilitas, intersex, pubertas prekoks. Pada anamnesis juga, yang harus digali
adalah tentang prematuritas penderita (30% bayi prematur mengalami UDT),
penggunaan obat-obatan saat ibu hamil (estrogen), riwayat operasi inguinal. Harus
dipastikan juga apakah sebelumnya testis pernah teraba di skrotum pada saat lahir
atau tahun pertama kehidupan (testis retractile akibat refleks cremaster yang
berlebihan sering terjadi pada umur 4-6 tahun). Perlu juga digali riwayat
perkembangan mental anak, dan pada anak yang lebih besar bisa ditanyakan ada
tidaknya gangguan penciuman (biasanya penderita tidak menyadari). Riwayat
keluarga tentang UDT, infertilitas, kelainan bawaan genitalia, dan kematian
neonatal. 1,2
Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak
pernah ditempati oleh testis. Pada palpasi, testis tidak teraba di kantung skrotum,
melainkan berada di inguinal atau di tempat lain. Pada saat melakukan palpasi
untuk mencari keberadaan testis, jari tangan pemeriksa harus dalam keadaan
hangat.1,2
Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya, harus dibedakan dengan
anorkismus bilateral (tidak mempunyai testis). Untuk itu perlu dilakukan
pemeriksaan hormonal antara lain hormon testosteron, kemudian dilakukan uji
dengan pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin). 1,2
9

2.6.2. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan sebaiknya dilakukan di ruangan yang tenang dan hangat.
Pemeriksaan secara umum harus dilakukan dengan mencari adanya tanda-tanda
sindrom tertentu, dismorfik, hipospadia, atau genitalia ambigua. 1,2,6
Pemeriksaan testis sebaiknya dilakukan pada posisi terlentang dengan
frog leg position dan jongkok. Dengan 2 tangan yang hangat dan akan lebih
baik bila menggunakan jelly atau sabun, dimulai dari SIAS menyusuri kanalis
inguinalis ke-arah medial dan skrotum. Bila teraba testis harus dicoba untuk
diarahkan ke-skrotum, dengan kombinasi menyapu dan menarik terkadang
testis dapat didorong ke-dalam skrotum. Dengan mempertahankan posisi testis
didalam skrotum selama 1 menit, otot-otot cremaster diharapkan akan mengalami
fatigue; bila testis dapat bertahan di dalam skrotum, menunjukkan testis yang
retractile sedangkan pada UDT akan segera kembali begitu testis dilepas.
Tentukan lokasi, ukuran dan tekstur testis. 1,2,6
Testis yang atropi atau vanishing testis dapat dijumpai pada jalur
penurunan yang normal. Kemungkinan etiologinya adalah iskemia masa neonatal
akibat torsi. Testis kontra lateralnya biasanya mengalami hipertrofi.Lokasi UDT
tersering terdapat pada kanalis inguinalis (72%), diikuti supraskrotal (20%), dan
intra-abdomen (8%). Sehingga pemeriksaan fisik yang baik dapat menentukan
lokasi UDT tersebut. 1,2,6
Adanya UDT bilateral yang tidak teraba gonad/testis apalagi disertai
hipospadia dan virilisasi, harus dipikirkan kemungkinan intersex, individu dengan
kromosom XX yang mengalami female pseudo-hermaphroditism yang berat; atau
Anorchia kongenital sebagai akibat torsi testis in utero.3,13,15 Sedangkan simple
UDT merupakan hal yang seringkali dijumpai terutama pada bayi yang prematur,
akan tetapi masih dapat terjadi penurunan testis dalam tahun pertama
kehidupannya. 1,2,6

2.6.3. Pemeriksaan Laboratorium


Pada anak dengan UDT unilateral tidak memerlukan pemeriksaan
laboratorium lebih lanjut. Sedangkan pada UDT bilateral tidak teraba testis
dengan disertai hipospadia dan virilisasi, diperlukan pemeriksaan analisis
10

kromosom dan hormonal (yang terpenting adalah 17 hydroxyprogesterone) untuk


menyingkirkan kemungkinan intersex. 1,2,6
Setelah menyingkirkan kemungkinan intersex, pada penderita UDT
bilateral dengan usia < 3 bulan dan tidak teraba testis, pemeriksaan LH, FSH, dan
testosteron akan dapat membantu menentukan apakah terdapat testis atau tidak.
Bila umur telah mencapai di atas 3 bulan pemeriksaan hormonal tersebut harus
dilakukan dengan melakukan stimulasi test menggunakan hCG (human chorionic
gonadotropin hormone). Ketiadaan peningkatan kadar testosteron disertai
peningkatan LH/FSH setelah dilakukan stimulasi mengindikasikan anorchia. 1,2,6
Prinsip stimulasi test dengan hCG atau hCG test adalah mengukur kadar
hormon testosteron pada keadaan basal dan 24-48 jam setelah stimulasi. Respon
testosteron normal pada hCG test sangat tergantung umur penderita. Pada bayi,
respon normal setelah hCHG test bervariasi antara 2-10x bahkan 20x. Pada masa
kanak-kanak, peningkatannya sekitar 5-10x. Sedangkan pada masa pubertas,
dengan meningkatnya kadar testosteron basal, maka peningkatan setelah stimulasi
hCG hanya sekitar 2-3x. 1,2,6

2.6.4. Pemeriksaan Radiologi


USG hanya dapat membantu menentukan lokasi testis terutama di daerah
inguinal, di mana hal ini akan mudah sekali dilakukan perabaan dengan tangan.3
Pada penelitian terhadap 66 kasus rujukan dengan UDT tidak teraba testis, USG
hanya dapat mendeteksi 37,5% (12 dari 32) testis inguinal; dan tidak dapat
mendeteksi testis intra-abdomen.17 Hal ini tentunya sangat tergantung dari
pengalaman dan kwalitas alat yang digunakan. 1,6,9
CT scan dan MRI mempunyai ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan
USG terutama diperuntukkan testis intra-abdomen (tak teraba testis). MRI
mempunyai sensitifitas yang lebih baik untuk digunakan pada anak-anak yang
lebih besar (belasan tahun).3,4,5 MRI juga dapat mendeteksi kecurigaan
keganasan testis.5 Baik USG, CT scan maupun MRI tidak dapat dipakai untuk
mendeteksi vanishing testis ataupun anorchia. 1,6,9
Dengan ditemukannya metode-metode yang non-invasif maka penggunaan
angiografi (venografi) untuk mendeteksi testis yang tidak teraba menjadi semakin
11

berkurang. Metode ini paling baik digunakan untuk menentukan vanishing testis
ataupun anorchia. Dengan metode ini akan dapat dievaluasi pleksus
pampiniformis, parenkim testis, dan blind-ending dari vena testis (pada
anorchia).5 Kelemahannya selain infasif, juga terbatas pada umur anak-anak yang
lebih besar mengingat kecilnya ukuran vena-vena gonad. 1,6,9

2.6.5. Laparoskopi
Metode laparoskopi pertama kali digunakan untuk mendeteksi UDT tidak
teraba testis pada tahun 1976. Metode ini merupakan metode infasif yang cukup
aman oleh ahli yang berpengalaman. Sebaiknya dilakukan pada anak yang lebih
besar dan setelah pemeriksaan lain tidak dapat mendeteksi adanya testis di
inguinal. 1,6
Beberapa hal yang dapat dievaluasi selama laparoskopi adalah: kondisi
cincin inguinalis interna, processus vaginalis (patent atau non-patent), testis dan
vaskularisasinya serta struktur wolfian-nya.6 Tiga hal yang sering dijumpai saat
laparoskopi adalah: blind-ending pembuluh darah testis yang mengindikasikan
anorchia (44%), testis intra-abdomen (36%), dan struktur cord (vasa dan vas
deferens) yang keluar ke-dalam cincin inguinalis interna. 1,6

2.7. Diagnosis Banding


Seringkali dijumpai testis yang biasanya berada di kantung skrotum tiba-tiba
berada di daerah inguinal dan pada keadaan lain kembali ke tempat semula.
Keadaan ini terjadi karena reflek otot kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca
dingin, atau setelah melakukan aktifitas fisik. Hal ini disebut sebagai testis
retraktil atau kriptorkismus fisiologis dan kelainan ini tidak perlu diobati. Selain
itu UDT perlu dibedakan dengan anorkismus, yaitu testis memang tidak ada. Hal
ini biasa terjadi secara kongenital memang tidak terbentuk testis, atau testis yang
mengalami atrofi akibat torsio in utero atau torsio pada saat neonatus.1,2

2.8. Penatalaksanaan
Tujuan terapi UDT yang utama dan dianut hingga saat ini adalah
memperkecil risiko terjadinya infertilitas dan keganasan dengan melakukan
12

reposisi testis kedalam skrotum baik dengan menggunakan terapi hormonal


ataupun dengan cara pembedahan (orchiopexy). 1,6
Penatalaksanaan yang terlambat pada UDT akan menimbulkan efek pada
testis di kemudian hari. Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan testis tidak dapat
turun sendiri setelah usia 1 tahun, sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi
kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat untuk melakukan
terapi adalah pada usia 1 tahun. Pada prinsipnya testis yang tidak berada di
skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik dengan cara medikamentosa
maupun pembedahan. 1,6
UDT meningkatkan risiko infertilitas dan berhubungan dengan risiko tumor
sel germinal yang meningkat 3-10 kali. Atrofi testis terjadi pada usia 5-7 tahun,
akan tetapi perubahan morfologi dimulai pada usia 1-2 tahun. Risiko kerusakan
histologi testis juga berhubungan dengan letak abnormal testis. Pada awal
pubertas, lebih dari 90% testis kehilangan sel germinalnya pada kasus
intraabdomen, sedangkan pada kasus testis inguinal dan preskrotal, penurunan sel
geminal mencapai 41% dan 20%.1,2

Gambar 2.4. Algoritma penatalaksanaan UDT


13

Gambar 2.5. Penatalaksanaan Kriptorkismus

Gambar 2.6. Penatalaksanaan Kriptorkismus Kongenital

a) Palpable UDT
Penanganan utama pada palpable UDT adalah orchidopexy dan membuat
kantong subdartos. Tingkat kesuksesan dari tindakan tersebut mencapai 95%
dengan testis tetap berada di dalam skrotum dan tidak mengalami atrophi.
Pembedahan biasanya dilakukan dengan anastesi umum, dan pasien dalam posisi
supinasi. Insisi dilakukan sepanjang garis Langer, di atas annulus internal.
Aponeurosis oblique eksternal diinsisi ke arah lateral dari annulus eksternal sesuai
dengan arah serat-seratnya, dan dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai
14

saraf ilioinguinalis. Testis dan spermatic cord lalu dibebaskan. Vas deferens dan
pembuluh-pembuluh darahnya dipisahkan dari Tunica vaginalis. Prosesus
vaginalis dipisahkan dari struktur cord dan diligasi di annulus internal.
Pemotongan secara retroperitoneal pada annulus internal dapat memperpanjang
cord sehingga testis dapat mencapai skrotum. Sebuah tembusan dibuat dari
kanalis inguinalis ke dalam skrotum dengan menggunakan satu jari atau sebuah
clamp besar. Kantong subdartos dibuat dengan meletakkan satu jari melalui
tembusan dan meregangkan kulit skrotum. Insisi sepanjang 1-2 cm dilakukan
pada kulit skrotum yang diregangkan dengan jari tersebut. Sebuah clamp lalu
diletakkan di jari operator, dan ujungnya dipandu ke dalam kanalis inguinalis
dengan menarik jari. Clamp kemudian digunakan untuk menjepit jaringan di
antara testis. Clamp lalu ditarik untuk membawa testis ke dalam kantong.
Menjepit testis atau vas deferens secara langsung harus dihindari agar tidak
menimbulkan luka.
Jika testis sudah berada di dalam kantong, leher kantong dijahit sehingga
menjadi lebih sempit untuk mencegah testis tertarik naik kembali. Saat ini,
pengukuran dan biopsi testis bisa dilakukan. Kulit skrotum lalu ditutup.
Aponeurosis oblique eksternal disatukan kembali dengan penjahitan absorbable.
Kulit dan jaringan subkutis ditutup dengan penjahitan subkutis. Setelah beberapa
minggu, luka bekas operasi perlu diperiksa, dan 6-12 bulan kemudian
pemeriksaan testis perlu dilakukan. Posisi dan kondisi akhir dari testis perlu
diperhatikan. Walaupun jarang terjadi, atrophi dan retraksi dapat muncul sebagai
komplikasi.

b) Nonpalpable UDT
Penanganan nonpalpable UDT dapat dimulai dengan eksplorasi inguinal
ataupun laparoskopi diagnostik. Laparoskopi diagnostik dapat dilakukan melalui
umbilikus. Apabila pembuluh-pembuluh darah testis terlihat keluar dari annulus
internal, insisi pada daerah inguinal dilakukan untuk menentukan lokasi testis.
Orchidopexy dilakukan jika testis dapat ditemukan. Jika pembuluh-pembuluh
darah berakhir di dalam kanalis inguinalis, ujung dari pembuluh darah tersebut
dapat diambil untuk dilakukan pemeriksaan patologis. Adanya sisa dari jaringan
15

testis atau hemosiderin dan kalsifikasi merupakan indikasi dari kemungkinan


terjadinya perinatal torsion dan resorption testis. Jika melalui laparoskopik
diagnostik testis diketahui berada pada daerah intraabdomen, terdapat beberapa
pilihan tindakan. Pada Fowler-Stephens orchidopexy, dilakukan ligasi pembuluh-
pembuluh darah testis secara laparoskopik atau laparotomy, yang membuat
kelangsungan hidup testis bergantung pada arteri cremaster. Untuk alasan ini,
Fowler-Stephens orchidopexy adalah pilihan yang kurang tepat jika sebelumnya
telah dilakukan eksplorasi inguinal yang membahayakan suplai vaskuler ke testis.
Setelah ligasi dilakukan, orchidopexy dilakukan setelah sekitar 6 bulan untuk
memberikan waktu pertumbuhan sirkulasi kolateral. Tingkat kesuksesan dari
prosedur ini mencapai lebih dari 90%, dengan testis tetap berada di dalam
skrotum dan tidak mengalami atrophi. Tindakan lain yang dapat dilakukan jika
testis berada pada daerah intra abdomen adalah orchidopexy mikrovaskuler
(autotransplantasi) dan orchidectomy.

2.8.1. Terapi Hormonal


Terapi hormonal primer lebih banyak digunakan di Eropa. Hormon yang
diberikan adalah hCG, gonadotropinreleasing hormone (GnRH) atau LH-
releasing hormone (LHRH). Terapi hormonal meningkatkan produksi testosteron
dengan menstimulasi berbagai tingkat jalur hipotalamus-pituitary-gonadal. Terapi
ini berdasarkan observasi bahwa proses turunnya testis berhubungan dengan
androgen. Tingkat testosteron lebih tinggi bila diberikan hCG dibandingkan
GnRH. Semakin rendah letak testis, semakin besar kemungkinan keberhasilan
terapi hormonal. 1,2,5
International Health Foundation menyarankan dosis hCG sebanyak 250
IU/ kali pada bayi, 500 IU pada anak sampai usia 6 tahun dan 1000 IU pada anak
lebih dari 6 tahun. Terapi diberikan 2 kali seminggu selama 5 minggu. Angka
keberhasilannya 6 55%. Secara keseluruhan, terapi hormon efektif pada
beberapa kelompok kasus, yaitu testis yang terletak di leher skrotum atau UDT
bilateral. Efek samping adalah peningkatan rugae skrotum, pigmentasi, rambut
pubis dan pertumbuhan penis. Pemberian dosis lebih dari 15000 IU dapat
menginduksi fusi epiphyseal plate dan mengurangi pertumbuhan somatik. 1,6
16

Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil


terutama pada kelainan bilateral, sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya
masih belum memuaskan. Obat yang sering dipergunakan adalah hormone hCG
yang disemprotkan intranasal.5

2.8.2. Pembedahan
Apabila hormonal telah gagal, terapi standar pembedahan untuk kasus
UDT adalah orchiopexy. Keputusan untuk melakukan orchiopexy harus
mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain teknis, risiko anastesi, psikologis
anak, dan risiko bila operasi tersebut ditunda.
Operasi pada kriptorkismus adalah orchiopexy. Tujuan operasi pada
kriptorkismus adalah: (1) mempertahankan fertilitas, (2) mencegah timbulnya
degenerasi maligna, (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis, (4)
melakukan koreksi hernia, dan (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa
rendah diri karena tidak mempunyai testis. Operasi yang dikerjakan adalah
orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi
pada kantung sub dartos.1
17

Gambar 2.7. Orchiopexy

Keterangan gambar:
Orchiopexy digunakan untuk memperbaiki UDT pada anak-anak. Satu insisi
dibuat pada abdomen yang merupakan lokasi UDT, dan insisi lain dibuat pada
skrotum (A). Testis dipisahkan dari jaringan sekitarnya (B) dan dikeluarkan dari
insisi abdomen menempel pada spermatic cord (C). Testis kemudian dimasukkan
turun ke dalam skrotum (D) dan dijahit (E).

Komplikasi Orchiopexy
Beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat tindakan pembedahan Orchiopexy
antara lain 1,6 :
1. Posisi testis yang tidak baik karena diseksi retroperitoneal yang tidak komplit
(10% kasus)
2. Atrofi testis karena devaskularisasi saat membuka funikulus (5% kasus)
3. Trauma pada vas deferens ( 12% kasus)
4. Pasca-operasi torsio
18

5. Epididimoorkhitis
6. Pembengkakan skrotum

2.9. Komplikasi UDT


Telah lama diketahui bahwa komplikasi utama yang dapat terjadi pada UDT
adalah keganasan testis dan infertilitas akibat degenerasi testis Di samping itu
disebut juga terjadinya torsi testis, dan hernia inguinalis. 1,6
a. Risiko Keganasan
Terdapat hubungan yang erat antara UDT dan keganasan testis. Insiden
keganasan testis sebesar 1-6 pada setiap 500 laki-laki UDT di Amerika.
Risiko terjadinya keganasan testis yang tidak turun pada anak dengan UDT
dilaporkan berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak dengan testis normal.
Makin tinggi lokasi UDT makin tinggi risiko keganasannya, testis abdominal
mempunyai risiko menjadi ganas 4x lebih besar dibanding testis inguinal. 1,6,9
Orchiopexi sendiri tidak akan mengurangi risiko terjadinya keganasan,
tetapi akan lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan pada penderita
yang telah dilakukan orchiopexy. 1,6,9
b. Infertilitas
Penderita UDT bilateral mengalami penurunan fertilitas yang lebih berat
dibandingkan penderita UDT unilateral, dan apalagi dibandingkan dengan
populasi normal. Penderita UDT bilateral mempunyai risiko infertilitas 6x
lebih besar dibandingkan populasi normal (38% infertil pada UDT bilateral
dibandingkan 6% infertil pada populasi normal), sedangkan pada UDT
unilateral berisiko hanya 2x lebih besar. 1,6,9
Komplikasi infertilitas ini berkaitan dengan terjadinya degenerasi pada
UDT. Biopsi pada anak-anak dan binatang coba UDT menunjukkan adanya
penurunan volume testis, jumlah germ cells dan spermatogonia dibandingkan
dengan testis yang normal. Biopsi testis pada anak dengan UDT unilateral
yang dilakukan sebelum umur 1 tahun menunjukkan gambaran yang tidak
berbeda bermakna dengan testis yang normal. 1,6,9
Perubahan gambaran histologis yang bermakna mulai tampak setelah
umur 1 tahun, semakin memburuk dengan bertambahnya umur. Tidak seperti
19

risiko keganasan, penurunan testis lebih dini akan mencegah proses


degenerasi lebih lanjut. 1,6,9
20

BAB III
PENUTUP

Undescended testis (UDT) adalah suatu kondisi dimana testis tidak dijumpai
pada tempat yang semestinya yaitu di dalam skrotum. Dalam hal ini mungkin
testis tidak mampu mencapai skrotum tetapi masih berada pada jalurnya yang
normal, keadaan ini disebut kriptorkismus, atau pada proses desensus, testis
tersesat (keluar) dari jalurnya yang normal, keadaan ini disebut sebagai testis
ektopik.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis ke skrotum, antara
lain: 1) adanya tarikan dari gubernakulum testis dan refleks dari otot kremaster, 2)
perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan badan, dan 3)
dorongan dari tekanan intraabdominal.
Tujuan terapi UDT yang utama dan dianut hingga saat ini adalah
memperkecil risiko terjadinya infertilitas dan keganasan dengan melakukan
reposisi testis kedalam skrotum baik dengan menggunakan terapi hormonal
ataupun dengan cara pembedahan (orchiopexy)
21

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto; 2003.


h.137-40.
2. Schneck FX, Bellinger MF. Abnormalities of the testes and scrotum and their
surgical management. Dalam: Walsh PC. Campbells Urology Vol 1. 8th
edition. Philadelphia: WB Saunders Company. 2000
3. Tanagho EA, Nguyen HT. Embriology of the Genitourinary System. Dalam:
Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology. Edisi 17. California:
The McGraw Hill companies; 2000. h.23-45.
4. Docimo, S. G., R. I. Silver, and W. Cromie. The Undescended Testicle:
Diagnosis and Management. American Family Physician, 62 (November 1,
2000): 20372044, 20472048.
5. Batubara JRL. Terapi hormonal pada kriptorkismus. Disampaikan pada
Simposium Sehari Tatalaksana Optimal Kriptorkismus, Jakarta, 13 Agustus,
1994.
6. Kolon TF. Cryptorchidism. 2002. Diunduh dari
http://www.emedicine.com/med/topic2707.html.
7. Sadler. Embriologi Kedokteran LANGMAN. Edisi ke-7. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2000. h.280-310.
8. Dogra VS, Mojibian H. Cryptorchidism. In:
http://www.emedicine.com/radio/topic201.htm
9. Kolon. TF, Patel RP, Huff DS, Cryptorchidism: diagnosis, treatment, and long
term prognosis. Urol Clin North Am 2004; 31:718.
10. Tomiyama H, Sasaki Y, Huynh J, Yong E, Ting A, Hutson JM. Testicular
descent, cryptorchidism and inguinal hernia: the melbourne perspective. J P
Urol 2005;1:11-26
11. Kogan SJ. Pediatric Andrology. In: Gillenwater JY, Grayhack JT, Howards
SS, Mitchell ME, editors. Adult and pediatrics urology. 4th ed. Philadelphia:
Lippincott William & Wilkins; 2002.
12. Hutson J. Cryptorchidism. Dalam: Puri P, Hllwarth M, penyunting. Pediatric
Surgery: Diagnosis and Management. Jerman: Springer, 2009; hal 919-926