You are on page 1of 2

Remaja Anti-Fenomena Cinta

Cinta bukanlah hal yang tabu lagi di kalangan remaja. Di era modernisasi, cinta sering
kali disalahgunakan. Dalam pubertas remaja diikuti dengan perubahan psikis dalam dirinya
seperti timbulnya rasa ingin tahu yang tinggi, ketertarikan terhadap lawan jenis, dan aksi
pencarian jati diri. Perubahan psikis pubertas sering kali diselewengkan sebagai landasan
fenomena cinta. Maksudnya ialah fenomena seks bebas/free sex. Pelaku fenomena itu
berasumsi melakukannya atas dasar cinta. Kita sebagai remaja perlu memahami seperti apa
fenomena yang popular saat ini.

Fenomena cinta menimbulkan masalah seperti meningkatnya peminat pernikahan dini


dan penyakit kelamin yang berbahaya. Penyebabnya adalah: pergaulan yang salah, menonton
film atau video porno, kurangnya pengetahuan bahaya pergaulan bebas, rendahnya
pemahaman dan pengamalan agama, dll.

Menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 61% remaja
tingkat SMP dan SMA melakukan hubungan seksual di luar nikah, dan 21% melakukan
praktik aborsi.

Lalu bagaimana tanggapan remaja tentang fenomena ini?

Remaja yang berpartisipasi dalam fenomena ini beranggapan fenomena cinta


merupakan hal yang lumrah dilakukan di era Globalisasi. Fenomena cinta adalah budaya
keren dari negeri barat yang dipandang sebagai negeri maju dan popular sehingga perlu
dicontoh budayanya. Mereka berasumsi bahwa penolaknya dianggap kuno, sok suci, dan
ndeso.

Benarkah demikian? Kita coba beralih ke kubu kontra.

Penentang keras fenomena cinta, menganggap hal itu tidak patut dilakukan, karena
tidak sesuai dengan norma dan dampak yang ditimbulkannya beresiko. Fenomena ini juga
merusak pandangan publik kepada remaja sehingga remaja dianggap sebagai biang keladinya
fenomena cinta itu sendiri.

Lalu apa dampak positif dan dampak negatifnya?

Fenomena ini hampir tidak memiliki dampak positif. Akan tetapi menurut pendukung
fenomena ini, dampak positifnya adalah memberikan kepuasan dalam diri, terobatinya rasa
ingin tahu terhadap fenomena cinta, dan sebagai pengharmonis hubungan cinta mereka.

Secara umum dampak negative fenomena ini, yaitu:


1. Menimbulkan berbagai penyakit kelamin seperti:
a. Herpes Genital
b. Sifilis ( Raja Singa)
Dimulai lecet tapi sakit pada penis dan dapat berlangsung selama 30 tahun.
c. Gonore (Kencing Nanah)
Mengakibatkan rasa sakit ketika BAK dan mengeluarkan nanah.
d. Klamidia
Dapat menyebabkan atritis dan mandul.
e. Jengger Ayam/Kutil di kelamin
Belum ditemukan obatnya.
f. Hepatitis B
Penyakit yang dapat menimbulkan kanker hati.
g. Kanker prostat
Pria yang sering seks dengan banyak wanita, 2X lipat resiko terkena kanker
prostat.
h. Kanker Serviks/Mulut Rahim
Sekitar 33 % wanita berpotensi terkena virus ini. Penularannya, hubungan seks.
i. HIV/AIDS
Menyerang sistem kekebalan tubuh. Ditularkan melalui darah dan sperma.
j. Trichomoniasis
Berdampak vagina berbusa. Dapat membuat bayi prematur.
2. Melakukan aborsi jika hamil.
3. Dengan terpaksa, menjadi peminat pernikahan dini karena hamil di luar nikah.
4. Pandangan terhadap dirinya akan selalu buruk.

Lalu apa tindakan kita sebagai remaja anti-fenomena cinta ??

Kita sebagai remaja harus berfikir positif, jauhi gaya hidup yang tidak sesuai dengan
norma. Kehidupan remaja menyenangkan jika dijalani dengan penuh optimis. Pahami dan
amalkan ajaran agama dengan keikhlasan. Tetaplah waspada terhadap pengaruh-pengaruh
buruk.
Kemudian sebagai remaja anti-fenomena cinta, harus giat mensosialisasikan anti-free
sex agar remaja lain tidak terjerumus ke dalamnya. Dengan begitu setidaknya pelaku free sex
mulai berkurang.
Just enjoy our life with positive thing, guys..:)

OLEH: LUTHFIANTI FANANI


SMAN 1 NGANTANG