You are on page 1of 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Patent Ductus Arteriosus (PDA)


2.1.1 Definisi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Menurut Perki (2015) Patent Ductus Arteriosus PDA adalah penyakit
jantung bawaan dimana duktus arteriosus tidak menutup sehingga terdapat
hubungan antara aorta dan arteri pulmonalis.
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah persistensi duktus arteriosus (DA),
yaitu pembuluh darah normal pada kehidupan janin, yang menghubungkan
arteri pulmoner dengan aorta. Pada kondisi normal, DA menutup secara
fungsional 1 hingga 3 hari seteah lahir, penutupan secara struktural dicapai
pada usia 3 minggu kehidupan (Sakidjan, 2016).
PDA adalah tetap terbukanya duktus arteriosus setelah lahir, yang
menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih
tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah) (Betz & Sowden,
2002). Duktus arteriosus merupakan arteri janin yang menghubungkan aorta
dengan arteri pumonalis, jika arteri ini terbuka setelah lahir disebut PDA
(American Heart Association, 2009). Jadi PDA merupakan kegagalan
menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri
pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya
darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan
rendah.
2.1.2 Anatomi Fisiologi Patent Ductus Arteriosus (PDA)

Gambar 2.1 Anatomi Jantung

6
Jantung adalah organ yang berfungsi memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan suplai oksigen bagi seluruh jaringan. Darah akan mengalir melalui
vena cava superior dan inferior dari sistem vena sistemik masuk ke dalam
atrium kanan. Setelah itu, dipompakan ke ventrikel kanan melalui katup
trikuspid. Selanjutnya, ventrikel kanan akan memompakan darah ke dalam
arteri pulmonal melalui katup pulmonal. Setelah mencapai kapiler alveoli,
darah mengalami proses oksigenasi melalui difusi gas di alveoli paru. Darah
yang telah berikatan dengan oksigen akan dialirkan ke dalam vena pumonalis
dan masuk ke atrium kiri. Selanjutnya, darah dipompakan ke ventrikel kiri
melalui katup mitral. Darah yang terkumpul di ventrikel kiri kemudian akan
dipompakan ke seluruh tubuh melalui katup aorta dan sistem vaskular
sistemik. Tiga arteri utama berasal dari arkus aorta, memasok darah ke leher,
kepala, dan lengan. Arteri besar lainnya yang berasal dari aorta adalah arteri
ginjal, yang memasok ginjal, sumbu celiac dan arteri mesenterika superior
dan inferior, yang memasok usus, limpa, dan hati, dan arteri iliaka, yang
cabang ke batang bawah dan menjadi arteri femoral dan popliteal dari paha
dan kaki.
Pada jantung dengan PDA, duktus arteriosus tidak menutup yang
mengakibatkan adanya pirau kiri ke kanan, yaitu aliran dari sirkulasi sistemik
ke sirkulasi pulmoner. Darah yang seharusnya dialirkan ke sistem sistemik
akan masuk ke aliran pulmoner. Aliran darah pulmoner yang berlebihan ini
memicu terjadinya edema paru dan penurunan kompians paru, kelebihan
volume yang berlangsung lama ke sirkulasi pulmoner akan mengakibatkan
dilatasi vaskuler pulmoner (Udjianti, 2011).
2.1.3 Etiologi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Sebagian besar PJB termasuk PDA ini terjadi akibat kesalahan
embriogenesis antara minggu ke-3 sampai minggu ke-8 gestasi, ketika
struktur utama jantung sudah terbentuk dan mulai untuk berfungsi.
Etiologinya masih belum diketahui secara pasti, namun studi awal
epidemiologik melaporkan pengaruh multifaktorial merupakan penyebab
pada 90% kasus anomali jantung, dengan kadar rekurensi 2%-6%
(Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, 2013).

7
2.1.4 Faktor Predisposisi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Menurut beberapa literatur, etiologi pada PDA masih belum jelas
diketahui,. Menurut Sakidjan (2016) ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi duktus arteriosus tidak menutup, yaitu :
2.1.4.1 Prematuritas
Prematuritas dianggap sebagai penyebab terbesar timbulnya PDA. Pada
bayi prematur, gejala cenderung timbul sangat awal, terutama bila disertai
dengan sindrom distress pernapasan.
2.1.4.2 Hipoksia
PDA juga lebih sering terdapat pada anak yang lahir di tempat yang
tinggi atau di daerah pegunungan. Hal ini terjadi karena adanya hipoksia,
dan hipoksia ini menyebabkan duktus gagal menutup.
2.1.4.3 Infeksi virus rubella
Infeksi virus rubella yang terjadi pada trimester I kehamilan juga
dihubungkan dengan terjadinya PDA. Infeksi virus rubella ini
mempengaruhi terhadap PDA dikarenakan pada trimester I terjadi proses
pembentukan organ-organ jantung janin, ketika ibu terkena virus rubella
maka akan mengganggu penutupan duktus tersebut.
2.1.4.5 Genetika
Kejadian kasus familial PDA telah dilaporkan tetapi penyebab genetik
belum ditentukan.Tingkat kekambuhan antara saudara kandung adalah 5%.
Beberapa bukti awal menunjukkan bahwa sebanyak sepertiga dari kasus
disebabkan oleh suatu sifat resesif berlabel PDA1 yang terletak pada
kromosom 12, setidaknya dalam beberapa populasi.
2.1.5 Manifestasi Klinis Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Menurut Allen (2008), manifestasi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
dibagi menjadi tiga, yaitu:
2.1.5.1 PDA Kecil
Pasien dengan PDA berukuran kecil biasanya bersifat asimtomatis atau
tanpa gejala.
2.1.5.2 PDA Sedang

8
Pasien dengan ukuran PDA sedang terjadi gejala terjadinya infeksi
pulmonal.
2.1.5.3 PDA Besar
Pasien dengan ukuran PDA yang besar akan memperlihatkan gagal
jantung kongestive akibat dari peningkatan aliran dan tekanan pulmonal
terlihat tanda dan gejala seperti reflek menghisap yang buruk, nafas yang
dangkal, ekstremitas yang teraba dingin, peningkatan pulsasi di area
ventrikel kiri, suara jantung murmur, edema paru.
2.1.6 Ukuran Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Klasifikasi PDA menurut ukuran berdasarkan hasil ekokardiografi (Larry
Kaiser, 2013):
2.1.5.1 PDA kecil atau small
Diameter transductal <1,5, tidak ada tanda-tanda beban volume
dijantung kiri, tidak ada tanda-tanda beban tekanan di jantung kiri, aliran
diastolic arteri pada organ-organ akhir normal.
2.1.5.2 PDA sedang atau moderate
Diameter transductal 1,5 - 3,0 mm, beban volume jantung kiri ringan
sampai sedang, beban tekanan jantung kiri ringan sampai sedang,
berkurang atau tidak adanya aliran diastolic di arteri superior mesenteric,
arteri middle cerebral atau arteri renal.
2.1.5.2 PDA besar atau large
Diameter transductal >3,0 mm, beban volume jantung kiri berat/ severe,
beban tekanan jantung kiri berat/ severe, aliran balik end-diastolic di arteri
superior mesenteric, arteri middle cerebral atau arteri renal.
2.1.6 Patofisiologi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Duktus arteriosus (DA) paten selama hidup janin, struktur ini penting
karena sangat berperan dalam mengalirkan darah ke seluruh organ-organ
janin. Dari minggu keenam dan seterusnya kehidupan janin, DA bertanggung
jawab untuk sebagian besar darah yang keluar dari ventrikel kanan, dan
memberikan kontribusi 60% dari curah jantung. Karena paru-paru belum
berfungsi, maka hanya sekitar 5-10% saja yang mengalir ke sirkulasi paru.
Duktus arteriosus tetap terbuka karena adanya produksi terus menerus

9
prostlaglandin E2 (PGE2). Penutupan DA sebelum kelahiran akibat
penggunaan obat anti infamasi (prostlagandin antagonis) pada ibu, dapat
menyebabkan gagal jantung kanan yang berakhir dengan kematian janin.
Besarnya aliran darah ke sirkulasi pulmoner melalui DA ditentukan oleh:
2.1.6.1 Diameter internal bagian yang paling sempit dari DA, semakin
sempit diameternya maka semakin tinggi tekanan pirau sehingga
kemungkinan terjadinya lisis semakin tinggi yang terjadi.
2.1.6.2 Panjang dari DA, semakin panjang DA semakin kecil aliran pirau
yang terjadi. Hubungan antara resistensi vaskular pulmoner dengan
resistensi pembuluh darah sistemik, jika resistensi pembuluh darah
sistemik tinggi dan/atau resistensi vaskular pulmoner rendah maka
aliran pirau yang terjadi melalui DA meningkat.
Pirau kiri ke kanan yang besar melalui PDA menghasilkan dilatasi
ventrikel kiri dan atrium kiri. Arteri dan vena pulmoner juga melebar, bahkan,
aorta desendes pun dapat melebar pada PDA yang cukup besar.
Duktus arteriosus secara fungsional akan menutup 1 - 3 hari setelah lahir,
bila tidak menutup maka terjadilah pirau kiri ke kanan, yaitu aliran dari
sirkulasi sistemik ke sirkulasi pulmoner. Darah dari aorta akan masuk ke arteri
pulmoner melalui PDA karena tekanan aorta lebih tinggi dari pada arteri
pulmoner. Aliran darah pulmoner yang berlebihan ini memicu terjadinya
edema paru dan penurunan komplians paru, kelebihan volume yang
berlangsung lama ke sirkulasi pulmoner akan mengakibatkan dilatasi vaskuler
pulmoner. Bertambahnya aliran darah ke paru menyebabkan tekanan arteri
pulmonal meningkat dan menyebabkan PH (Pulmonal hipertensi). Secara
mikroskopis terlihat penebalan pada bagian medial muskular dari arteri dan
vena pulmoner, terjadi pula muskularisasi dari arteriol. Pada beberapa kasus
PDA berkembang menjadi hipertensi pulmoner berat dan penyakit vaskular
pulmoner yang irreversible.
Meningkatnya aliran darah ke paru-paru menyebabkan menurunnya aliran
darah ke sistemik. Hal ini merangsang stimulasi sistem saraf simpatis untuk
meningkatkan denyut jantung, kerja ventrikel kiri meningkat yang akhirnya
dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri.

10
Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru-paru menyebakan sindrom
essenmenger. Shunting atau pirau yang terjadi dari pulmonal ke aorta.
Tekanan paru lebih besar dari pada aorta berakibat meningkatkan beban kerja
ventrikel kanan. Beban kerja yang meningkat terus menerus akan
mengakibatkan hipertrofi ventrikel kanan.
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Menurut Perki (2015) pemeriksaan penunjang, yaitu:
2.1.8.1 EKG 12 minimal 2 kali
Gambaran EKG pada PDA ukuran sedang adalah hipertrofi ventrikel
kiri, dan hipertrofi biventrikular pada PDA ukuran besar. Bila sudah
terjadi penyakit vaskular pulmoner obstruktif, terlihat hipertrofi
ventrikel kanan.
2.1.8.2 Foto Thoraks
Terlihat kardiomegali, akibat dilatasi atrium dan ventrikel kiri,
kadang dilatasi ventrikel kanan. Segmen pulmonal yang menonjol,
disertai vaskularisasi paru yang meningkat (plethora). Bila terjadi
penyakit vaskular pumoner dan cabang-cabangnya di hilus melebar,
tetapi di perifer paru sepi (prunning).
2.1.8.3 Ekokardiografi untuk diagnosis dan evaluasi postoperatif
a. M-mode
Oleh M-mode echo dapat dievaluasi ukuran atrium kiri dan
ventrikel kiri, sebagai petunjuk tidak langsung besar kecilnya
PDA.
b. 2-dimensi
Dengan echo 2-dimensi atau color parasternal atas (high
parasternal/ductal cut) atau suprasternal dapat memperlihatkan
ukuran dan arah aliran PDA.
c. Dopler
Dengan dopler dapat mengevaluasi besar perbedaan tekanan
antara aorta dan arteri pulmoner (Sakidjan, 2016).
2.1.8.4 Sadap jantung pada kasus dengan kecurigaan PVD

11
Kateterisasi jantung pada saat ini jarang dilakukan pada pasien anak
dengan PDA untuk kepentingan diagnostik, biasanya digunakan
intervensi tindakan pemasangan Coil atau Device Closure. kateterisasi
biasa digunakan untuk mengevaluasi resisten dan aktivitas vaskular
pulmonal.
2.1.8.5 MRI
Pada kasus PDA dengan pirau kecil untuk menentukan flow ratio
2.1.8.6 Pemeriksaan laboratorium
Jika diperlukan kultur darah, urinalisa pada kasus dicurigai infektif
endokarditis, gizi buruk dan sindrom tertentu.
2.1.9 Penatalaksanaan Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Menurut Perki (2015) dalam menentukan tata laksana penyakit jantung
bawaan PDA, pertimbangan untuk memilih apakah perlu bedah atau
kardiologi intervensi, yaitu:
2.1.9.1 Neonatus / bayi dengan gagal jantung kongestif (GJK)
Pada neonatus, terutama prematur dengan PDA besar akan terjadi GJK:
a. Perbaiki keadaan umum
b. Atasi hipoglikemi serta hipokal semi yang sering dijumpai pada bayi
prematur, yang dapat memperburuk kondisi miokard sehingga
mempermudah terjadinya GJK.
c. Berikan obat anti gagal jantung seperti digitalis, diuretika dan
vasodilator. Pada bayi prematur, bila tidak perlu sebaiknya
pemberian diuretika dan vasodilator dihindari karena akan
menghambat penutupan PDA secara spontan.
2.1.9.2 Bayi premature dengan GJK dan usia <10 hari.
a. Berikan obat anti gagal jantung
b. Berikan Indometasin intravena atau peroral dengan dosis 0,2
mg/kgBB sebanyak 3x interval 12 jam untuk menutup PDA.
Kontra indikasi pemberian Indometasin:
a. Gangguan fungsi ginjal, perdarahan intracranial atau gastro-
intestinal,
b. Necrotizing Entero Colitis (NEC),

12
c. Gangguan fungsi hati dan
d. Sepsis.
Bila PDA gagal menutup, pemberian Indometasin dapat diulangi.
Tetapi bila tetap tidak menutup atau bahkan terbuka kembali maka harus
dilakukan operasi ligasi PDA.
2.1.9.3 Bayi cukup bulan dengan GJK.
a. GJK diatasi dulu dengan obat-obat anti gagal jantung.
b. Bila berhasil, maka operasi ligasi PDA dapat ditunda sampai usia 1216
minggu, karena ada kemungkinan PDA menutup spontan.
c. Bila GJK tak teratasi, maka ligasi PDA harus segera dilakukan.
2.1.9.4 Bayi tanpa GJK.
Tindakan penutupan PDA secara bedah (ligasi PDA) atau punnon
bedah dengan pemasangan device dilakukan elektif pada usiad iatas 12-16
minggu, tanpa didahului pemeriksaan sadap jantung. Syarat pemasangan
device lihat bab pemasangan ADO.
2.1.9.5 Anak dan orang dewasa tanpa PH
Bila klinis tidak ada tanda-tanda PH dan ekokardiogram memper-
lihatkan aliran pirau melalui PDA yang kontinu dari kiri ke kanan, maka
intervensi non bedah atau bedah dapat dilakukan tanpa pemeriksaan sadap
jantung.
2.1.9.6 Anak atau orang dewasa dengan PH
Pada anak atau orang dewasa jarang disertai GJK. Bila PDA cukup
besar maka dengan bertambahnya usia kemungkinan terjadi PH dengan
PVD semakin besar. Pemasangan device tidak dianjurkan bila ada PH.
a. Bila ada PH tetapi pada ekokardiogram aliran pirau melalui PDA
masih kontinu dari kiri ke kanan, maka operasi ligasi PDA perlu
segera dilakukan.
b. Bila ada PH tetapi aliran pirau sudah dua arah, maka perlu dilakukan
pemeriksaan sadap jantung untuk menilai reaktifitas vaskuler paru.
Apabila perhitungan PARi <8 U/m2 setelah PDA dioklusi dengan
kateter balon dan dilakukan test O2 100%, maka operasi ligasi PDA

13
dapat dilakukan. Operasi tidak dianjurkan lagi pada PH dengan
vaskuler paru yang sudah tidak reaktif.
Demikian juga menurut Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
(2013) bedah invasif minimal, meskipun sayatannya lebih kecil jika
dibandingkan bedah konvensional, namun bedah invasif minimal tetap
menggunakan mesin jantung paru. Kardiologi intervensi, efektivitasnya sama
dengan pembedahan, namun kardiologi intervensi tidak seinvasif
pembedahan, karena tidak menggunakan mesin jantung paru dan pasien tidak
memerlukan ICU pasca-tindakan. Oleh karena itu kardiologi intervensi saat
ini dianggap sebagai terapi pilihan terkini untuk penyakit jantung bawaan.
Pada bayi kecil, karena pembuluh darah yang kecil, tindakan kardiologi
intervensi tidak dapat dilakukan. Untuk itu sekarang ini dikembangkan terapi
hibrida yang merupakan gabungan bedah dan intervensi kardiologi. Dalam
hal ini dokter bedah melakukan torakotomi, kemudian pediatrik kardiologi
langsung melakukan pemasangan kateter dengan menusuk dinding jantung
langsung tata laksana penyakit jantung bawaan.
Terapi medikamentosa memang ditujukan hanya untuk terapi sementara
agar tindakan definitif atau paliatif dapat ditunda sampai anak mencapai umur
yang dianggap aman untuk dilakukan tindakan, yaitu sekitar usia 1-2 tahun.
Terapi medikamentosa, dapat berupa terapi awal seperti pemberian obat
prostaglandin E1 untuk membuka PDA pada PJB kritis yang memerlukan
duktus arteriosus sebagai satu-satunya sumber darah ke paru atau ke sistemik.
Pada bayi kurang bulan dengan PDA, pemberian obat-obatan, seperti
indometasin atau ibuprofen, dapat digunakan untuk menutup PDA yang
angka keberhasilannya cukup tinggi. Terapi obat-obatan yang lain, yaitu
terapi untuk mengatasi komplikasi, seperti pemberian obat inotropik, diuretic,
atau vasodilator, untuk mengatasi gagal jantung.

2.3 Amplatzer Duct Occluder (ADO)


2.3.1 Definisi Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Amplatzer Duct Occluder (ADO) adalah suatu alat penutup PDA yang
tidak memerlukan operasi besar dan dipasang secara transkateter. Indikasi

14
penutupan PDA secara umum meliputi adanya pirau dari ruang jantung
kiri ke kanan yang ditandai dengan flow ratio >1.5 dengan resistensi
vaskuler paru yang masih baik. Beberapa pusat pelayanan
mengindikasikan penutupan transkateter dengan alat device pada lesi PDA
berukuran 4 sampai 10 mm. Amplatzer ductal occluder (ADO) terdiri dari
lempeng berbentuk cakram yang datar dan badan utama yang berbentuk
silinder serta didalamnya terdapat lapisan dakron yang terbuat dari
polyester. Retention disc ukurannya 4 mm lebih besar dari badan utama,
strukturnya mirip dengan kerucut.
2.3.2 Prosedur Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Prosedur penutupan PDA transkateter dilakukan di laboratorium
kateterisasi jantung dengan menggunakan fluoroskopi dan ekokardiografi.
Untuk menutup PDA digunakan berbagai jenis device. Bila ukuran PDA
<4mm dapat digunakan coil atau Nit Occluder, sedangkan untuk ukuran
4mm digunakan device amplatzer dan sejenisnya. Prosedur ini tidak
memerlukan sayatan dan pasien hanya perlu perawatan sehari saja.

Gambar 2.2 Amplatzer Duct Occluder (ADO)


Sumber: sciencedirect.com
2.3.2.1 Prosedur ini dilakukan di laboratorium kateterisai jantung atau cath
lab. Pasien akan dibaringkan pada meja x-ray dan kamera x-ray
akan bergerak diatas bagian dada selama prosedur. Kemudian
monitor jantung menggunakan alat electrocardiogram (ECG).
Selama proses ECG, alat pensensoran elektrik, yang disebut

15
electroda atau lead, dipasangkan pada permukaan kulit sekitar
jantung dan tempat lain di dada dan anggota tubuh lainnya. Proses
ECG tidak akan menimbulkan rasa sakit dan jantung, jumlah
detakan per menit, dan aliran denyut nadi melalui otot jantung.
2.3.2.2 Anstesi diberikan secara gtotal atau lokal. Hal ini tergantung pada
teknik yang digunakan dokter untuk menempatkan alat. Tidak akan
ada rasa tidak nyamn yang berlebihan.
2.3.2.3 Introduksi kateter melalui lipat paha adalah cara yang palinhg
sering digunakan dan memerlukan irisan kecil disekitar paha
bagian atas. Irisnan ini akan digunakan untuk memasukkan
introducer sheath kedalam vena atau arteri femoral. Kemudian akan
memasukkan guiding kateter kedalam introducer sheath dan
mendorongnya hingga mencapai jantung. Pilihan lain untuk
memasukkan kateter adalah melalui lengan brchial. Kirisan kecil
akan dilakukan pada suiku bagian dalam.
2.3.2.4 Dokter kemudian akan mengukur tekanan dan oksigen pada darah
di tiap ruang jantung dan mengukur besar PDA.
2.3.2.5 Ukuran Amplatzer Duct Occluder (ADO) yang sesuai akan
dipasangkan ke Amplatzer Delivery Cable.
2.3.2.6 Duct Occluder dan deliveri kabel akan dimasukkan melalui kateter
khusus dan didorong masuk melalui PDA.
2.3.2.7 Dokter kemudian akan mendorong keluar dari kateter dan
memasang Amplatzer Duct Occluder (ADO) pada PDA
2.3.2.8 Doker akan secara seksama menganalisa posisi alat pada jantung.
2.3.2.9 Ketika sudah sesuai dengan posisi alat, alat akan dilepaskan dengan
mencopot kabel dan menariknya keluar melalui kateter. Amplatzer
Duct Occluder (ADO) sekarang telah terpasang pada jantung
2.3.2.10 Kateter akan ditarik keluarg dan prosedur telah selesai.
2.3.3 Kontraindikasi Amplatzer Duct Occluder (ADO)
2.3.3.1 Berat badan < 6 kg
2.3.3.2 Usia < 6 bulan
2.3.3.3 Mengalami penggumpalan darah pada jantung

16
2.3.3.4 Ukuran jantung dan pembuluh darah sangat kecil
2.3.3.5 Ada infeksi lain pada tubuh
2.3.3.6 Tekanan darah tinggi pada arteri pulmonal
2.3.4 Komplikasi Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Komplikasi yang bisa terjadi adalah:
2.3.4.1 Residual PDA
2.3.4.2 Embolisasi coil
2.3.4.3 Hemolisis
2.3.4.5 Stenosis arteri pulmoner kiri
2.3.4.6 Oklusi aorta dengan device amplatzer dan oklusi vena femoral.
2.3.5 Efek Samping/risiko Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Ada beberapa resiko yang dapat dialami denga menggunakan prosedur
kateterisasi jantung juga beberapa resiko yang berhubungan dengan
pemasangan ADO:
2.3.5.1 Efek samping terlihat pada saat uji klinis
a. Kematian (0.3%) kematian pada saat atau setelah prosedur
yang diakibatkan kompliksai prosedur
b. Pergeseran/alat yang lepas (0.3%)
c. Penggumpalan darah (trombus) (0.3%)
d. Tersumbatnya sebagian dari arteri pulmonal (0.3%), aliran
darah menuju arteri pulmonal terganggu oleh alat
e. Efek aneurisma smentara (0.3%)
f. Lebam pada lokasi tempat kateter dimasukan (hematoma)
(1.7%)
g. Denyut nadi bagian kaki melemah (1.0%)
h. Irama jantung irreguler (aritmia) (0.5%)
2.3.5.2 Efek samping tidak tampak tapi berpotensi terjadi
a. Gelembung udara atau gumpalan darah yang menyumbat
aliran darah (embolus)
b. Reaksi alergi pada bahan pewarna, obat atau anestesi
c. Tidak adanya pernafasan untuk sementara (Apnea)

17
d. kemerahan dan bengkak pada lapisan luar jantung
(endokarditis)
e. Pendarahan
f. Luka pada sistem saraf di lengan dan leher bagian bawah
(brachial plexus injury)
g. Nyeri di dada
h. Kegagalan pada delivery system
i. Demam
j. Sakit kepala/migraine
k. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
l. Peforasi pada vena atau jantung
m. Stroke, TIA atau penutupan saluran peripheral
n. Valvular regurgitation (baliknya aliran darah melalui valve)
2.3.5.3 Hal yang harus diperhatikan terhadap efek samping
a. pasien yang alergi pada nikel dapat mengalami reaksi alergi pada
alat ini
b. Data uji klinis yang terbatas untuk apsien usia 40 tahun keatas
c. Jika pasien (ibu) sedang hamil, ibu dan bayi akan berisiko
terkena sinar x-ray.
d. Jika alat terlepas, pasien mungkin akan membutuhkan
pembedahan untuk mengambilnya. PDA akan ditutup pada saat
yang sama
e. Juga ada risiko-risiko yang belum diketahui saat ini
2.3.6 Keuntungan Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Keuntungan utama adalah menghindari pembedahan jantung, dengan
hasil:
2.3.6.1 Jangka waktu rawat inap dan pemulihan yang lebih cepat
2.3.6.2 tidak adanya bekas luka bedah di dada.

18
2.4 Asuhan Keperawatan Post Amplatzer Duct Occluder (ADO)
2.4.1 Pengkajian Post Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Setelah klien keluar dari cath lab dan tidak ada maslah di ruang cath
laboratorium makn pemantauan dilanjutkan di ruang perawatan.

Gambar 2.2
Alur pasien tindakan invasif
Tapi jika ada maslah ke ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua
organ terus dilanjutkan (NANDA, 2015):
2.4.1.1 Status Respirasi
Umumnya pasien post tindakan dipasang alat bantu endotrakheal tube
dan ventilasi mekanik untuk membantu sistem pernafasannya. Efek dari

19
penggunaan alat ventilasi mekanik dan pemasangan endotrakheal tube
adalah produksi sputum/ sekret pada jalan nafas. Produksi sekret/ sputum
akan tetap terjadi hingga alat ventilasi mekanik di lepas. setelah klien
exstubasi maka fisioterapi harus segera dikerjakan untuk mencegah retensi
sputum yang akan menyebabkan problem pernapasan.
2.4.1.2 Nyeri
Kaji sifat, jenis, lokasi, durasi, ketidaknyamanan respon terhadap
analgetik.
2.4.1.3 Perawatan luka
Perawatan luka dapat tertutup atau terbuka. Bila ada tanda-tanda infeksi
seperti kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda
panas, lekositosis harus segera dilaporkan agar segera mendapat
penanganan. Edukasi tentang perawatan luka di rumah juga diberikan
kepada keluarga.
2.4.1.4 Obat-obatan
Obat obatan ini biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit daerah
dada waktu batuk akan mengganggu pernapasan klien.
2.4.1.5 Mobilisasi
Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun dari
tempat tidur, berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan
keluar dari ruangan dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.
Dan mobilisasi ini boleh dilakukasn setelah 6 jam dari selesai tindakan
ADO atau ekstubasi

20
2.4.1.6 Pulsasi

Gambar 2.3
Pengkajian pulsasi
2.4.2 Diagnosa Keperawatan Post Amplatzer Duct Occluder (ADO)
2.4.2.1 Penurunan curah jantung berhubungan dengan fungsi jantung yang
terganggu.
2.4.2.2 Nyeri Nyeri berhubungan dengan luka post puncture di femoralis
kanan ditandai dengan pasien merintih kesakitan dengan skala 3-
4/10.

21
2.4.2.3 Risiko perdarahan berhubungan dengan luka post puncture di
femoralis kanan ditandai dengan pasien bergerak aktif pada kaki
yang ada luka post puncture atau pasien rewel.
2.4.2.4 Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan alat invasif tubuh.

22
2.4.2 Rencana Asuhan Keperawatan Post Amplatzer Duct Occluder (ADO)
Rencana Asuhan Keperawatan
No. Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil (NOC) Intervensi (NIC)
1. Penurunan curah Setelah dilakukan assuhan keperawatan selama - Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, radiasi,
jantung 3 x 24jam pasien menunjukkan curah jantung durasi, dan faktor pencetus nyeri)
adekuat - Lakukan penilaian komprehensif terhadap sirkulasi perifer
Kriteria: (misalnya, cek nadi perifer, edema, pengisian kapiler dan
- Tekanan darah dalam batas normal suhu ekstrimitas)
- Toleransi terhadap aktifitas - Dokumentasikan adanya disritmia jantung
- Nadi perifer kuat - Catat tanda dan gejala penurunan curah jantung
- Ukuran jantung normal - Observasi tanda-tanda vital
- Tidak ada distensi vena jugulariss - Observasi status kardiovaskuler
- Tidak ada disritmia - Observasi disritmia jantung termasuk gangguan irama dan
- Tidak ada bunyi jantung abnormal konduksi
- Tidak ada angina - Observasi status respirasi terhdap gejala gagal jantung
- Tidak ada edema perifer - Observasi abbdomen untuk mengindikasikan adanya
- Tidak ada edema paru penurunan perfusi
- Tidak ada diaporesis - Observasi keseimbangan cairan (asupan-haluarann dan
berat badan harian)

23
- Tidak ada mual - Observasi fungsi pace maker sesuai kebutuhan
- Tidak ada kelelahan - Kenali adanyna perubahan tekanan darah
- Kenali pengaruh psikologis yang mendasari kondisi klien
- Evaluasi respon klien terhdap klien disritmia
- Kolaborasi dalam pemberian terapi antiaritmia sesuai
kebutuhan
- Observasi respon klien terhadap pemberian terapi
antiaritmia
- Instruksikan klien dan keluarga tentang pembatasan
aktivitas
- Tentukan periode latihan dan istirahat untuk menghindari
kelelahan
- Observasi toleransi klien terhadap aktivitas
- Observasi adanya dispnea, kelelahan, takipnea, dan
ortopnea
- Anjurkan untuk mengurangi stres
- Ciptakan hubungan yang saling mendukung antara klien
dan keluarga
- Anjurkan klien untuk melaporkan adanya ketidaknyamanan

24
dada
- Tawarkan dukungan spiritual untuk klien dan kelurganya
2. Nyeri Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Mandiri:
3 x 24 jam pasien dapat: - Kaji tanda-tanda Nyeri.
- Pasien menyatakan nyeri berkurang secara - Observasi keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas.
verbal. - Observasi tanda-tanda vital
- Pasien terlihat tenang. - Beri posisi yang nyaman untuk pasien.
- Tanda vital dalam batas normal - Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.
- Beri lingkungan yang nyaman
Kolaborasi:
- Berikan medikasi analgesik sesuai instruksi dokter.
3. Risiko perdarahan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama - Monitor tanda-tanda perdarahan
3 x 24 jam, tidak terjadi perdarahan dengan - Monitor tanda-tanda vital
kriteria: - Monitor pulsasi dorsalis pedis kanan dan kiri
- Tidak terjadi perdarahan - Monitor nilai laboratorium meliputi: Hb, Ht, PT,APTT dan
- Hasil Laboratorium dalam batas normal Trombosit
PT/APTT dan tidak memanjang. - Lindungi pasien dari trauma yang dapat menimbulkan
- Hemodinamik stabil perdarahan
- Anjurkan diusahakan kaki yang ada luka post puncture

25
diluruskan 6 jam setelah ekstubasi

- Kolaborasi dalam pemberian produk darah jika diperlukan


4. Risiko infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Infection control
3 x 24 jam pasien dapat: - Fasilitasi lingkungan sekitar pasien tetap bersih.
a) Meningkatkan pertahanan tubuh dengan - Pisahkan peralatan pasien satu dengan pasien lain untuk
kriteria : meminimalisir infeksi.
- Status gastrointestinal dalam rentang - Batasi jumlah pengunjung.
normal. - Ajarkan teknik cuci tangan 6 langkah yang benar kepada
- Status respirasi dalam rentang normal. pasien dan keluarga.
- Status genitourinari dalam rentang normal. - Lakukan teknik cuci tangan pada setiap petugas yang
- Suhu tubuh dalam rentang normal. bersentuhan langsung dengan pasien sesuai dengan prinsip 5
- Integritas kulit, membran mukosa normal. moments.
- Nilai sel darah putih dalam batas normal. - Gunakan teknik aseptik untuk tindakan-tindakan tertentu,
- Tidak ada infeksi ulang seperti pengambilan spesimen darah, rawat luka, dll.
b) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang - Jaga kebersihan lingkungan
kontrol infeksi meningkat, dengan kriteria: - Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
- Keluarga mengetahui cara penyebaran Wound Care (3660) dan Wound Care ; Closed Drainage
infeksi. (36620)

26
- Keluarga mengetahui faktor yang berperan - Monitor karakteristik dari luka, termasuk drainase, ukuran,
dalam penyebaran infeksi. warna, dan tanda-tanda infeksi.
- Keluarga memahami tanda-tanda infeksi - Jaga kebersihan luka dengan menggunakan normal salin.
- Gunakan dressing sesuai dengan karakteristik luka post
puncture.
- Ajarkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda-tanda
infeksi.
- Kaji volume dan karakteristik drainase.

27
6