You are on page 1of 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru

(alveoli). Berdasarkan lokasi lesi di paru, pneumonia dibagi menjadi 3 yaitu

pneumonia lobaris, pneumonia interstitialis, bronkopneumonia (Price, 2012).

Pada anak dikarenakan luas permukaan paru tidak seluas orang dewasa maka

lebih rentan terkena bronkopneumonia, serta menimbulkan konsolidasi

jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat, dan menimbulkan angka

kesakitan yang tinggi, dengan gejala-gejala batuk, demam, dan sesak nafas

(Qaulyiah, 2010).

Secara klinis Pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai suatu peradangan paru

yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit, dan lain-

lain). Secara anatomi Pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai Pneumonia

lobaris, Pneumonia segmentalis, dan Pneumonia lobularis yang dikenal

sebagai Bronko pneumonia dan biasanya mengenai paru bagian bawah. Selain

itu Pneumonia dapat juga dibedakan berdasarkan tempat dapatannya, yaitu

Pneumonia komunitas dan Pneumonia rumah sakit (Qaulyiah, 2010).

Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada

sejumlah penyebab non infeksi yang kadang-kadang perlu dipertimbangkan.

Penyebab non infeksi ini meliputi aspirasi makanan dan atau asam lambung,

6
benda asing, hidrokarbon, dan hipersensitivitas dan pneumonitis akibat obat

atau radiasi (Behrman, 2000).

2.2 Epidemiologi

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak

berusia di bawah 5 tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian

anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita meninggal setiap tahun

akibat pneymonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Insiden

pneumonia di negara berkembang yaitu 30-45% per 1000 anak di bawah usia

5 tahun, 16-22% per 1000 anak pada usia 5-9 tahun, dan 7-16% per 1000

anak pada yang lebih tua (William, 2000; Anggraini, 2014).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,

menunjukkan prevalensi Nasional ISPA: 25,5% (16 provinsi di atas angka

nasional), angka kesakitan (morbidita) Pneumonia pada Bayi: 2,2 %, Balita:

3%, angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8%, dan Balita 15,5% (Depkes

RI, 2007). Unicef memperkirakan bahwa 3 juta anak di dunia meninggal

karena penyakit Pneumonia setiap tahun. Meskipun penyakit ini lebih banyak

ditemukan pada daerah berkembang akan tetapi di negara majupun ditemukan

kasus, yang cukup signifikan. Berdasarkan umur pneumonia dapat menyerang

siapa saja, meskipun lebih banyak ditemukan pada balita. Dalam penentuan

klasifikasi penyakit pneumonia pada balita, yaitu kelompok umur 2 bulan -

<5 tahun dan kelompok umur <2 bulan (Depkes RI, 2005).

7
Di negara yang sedang berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah

umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika

pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di

Brunei, nomor 7 di Malaysia, nomor 3 di Singapura, nomor 6 di Thailand dan

nomor 3 di Vietnam. Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab

kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran

napas akut termasuk bronkopneumonia dan influenza (Administered by the

Albert Medical Association, 2002; Fadhila, 2013).

Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan

masyarakat utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian

balita di Indonesia. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia

prevalensi pneumonia balita di Indonesia meningkat dari 7,6% pada tahun

2002 menjadi 11,2% pada tahun 2007 (Kemenkes RI, 2010; Saputri, 2013).

3.3 Etiologi

Pneumonia dapat disebabkan oleh mikroorganisme, namun di Indonesia

pneumonia pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar

untuk diperoleh, sedangkan dengan memeriksa imunologi belum memberikan

hasil yang memuasakan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab

pneumonia, hanya biakan dari aspirat paru, serta pemeriksaan specimen darah

yang dapat diandalkan untuk membantu penetapan etiologi pneumonia.

Menurut Hisao dari beberapa pathogen penyebab Pneumonia, Streptococcus

8
pneumonia merupakan pathogen paling paling banyak sebagai penyebab

pneumonia pada semua kelompok umur (Depkes RI, 2005).

Penyebab utama virus pneumonia pada anak adalah Respiratory Syncytial

Virus (RSV) yang mencakup 15-40% kasus diikuti virus inflamasi A dan B,

parainfluenza, human metapneumovirus dan adenovirus (Behrman, 2000).

Estimasi insiden global pneumonia RSV anak-balita adalah 33.8 juta episode

baru di seluruh dunia dengan 3.4 juta episode pneumonia berat yang perlu

rawat-inap. Diperkiran pada tahun 2005 terjadi kematian 66.000-199.000

anak balita karena pneumonia RSV, 99% diantaranya terjadi di negara

berkembang. Data di atas mempertegas kembali peran RSV sebagai etiologi

potensial dan signifikan pada pneumonia anak-balita baik sebagai penyebab

tunggal maupun bersama dengan infeksi lain.

Daftar etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan usia yang bersumber dari

data di negara maju dapat dilihat di tabel bawah berikut ini;

Tabel 1. Etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara maju
Usia Etiologi yang Etiologi yang

sering jarang
Lahir-20 hari Bakteri Bakteri
Escherichia coli Bakteri anaerob
Streptococcus Streptococcus

grup B grup D
Listeria Haemophilus

monocytogenes influenza
Streptococcus

pneumonie

9
Ureaplasma

urealyticum
Virus
CMV
HMV
Bakteri Bakteri
Chlamydia Bordetella

trachomatis pertusis
Streptococcus Haemophilus

pneumoniae influenza tipe B


Virus Moraxella

catharalis
Adenovirus Staphylococcus
3 Minggu-3 Bulan
aureus
Influenza Ureaplasma

urealyticum
Parainfluenza 1, Virus

2, 3
Respiratory CMV

Syncytial virus
Bakteri Bakteri
Chlamydia Haemophilus

trachomatis influenza tipe B


Mycoplasma Moraxella

pneumoniae catharalis
Streptococcus Staphylococcus
4 bulan-5 tahun
pneumoniae aureus
Virus Neisseria

meningitides
Adenovirus Virus
Rinovirus Varisela zoster
Influenza
Parainfluenza
5 tahun-remaja Bakteri Bakteri

10
Chlamydia Haemophilus

pneumoniae influenza
Mycoplasma Legionella sp

pneumoniae
Streptococcus Staphylococcus

pneumoniae aureus
Virus
Adenovirus
Epstein-Bar virus
Rinovirus
Varicella zoster
2.3 Klasifikasi Pneumonia

Menurut Departemen Kesehatan tahun 2009 klasifikasi pneumonia

berdasarkan adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai

peningkatan frekuensi napas seuai kelompok umur yakni:

a. Kelompok umur 2 bulan - 5 Tahun

1) Klasifikasi Pneumonia berat selain batuk dan atau sukar bernapas,

tanda penyerta lain yaitu tarikan dinding dada bagian bawah kedalama

(chest indrawing),
2) Klasifikasi Pneumonia selain ditandai dengan batuk dan atau sukar

bernapas, tanda penyerta lainnya yaitu napas cepat sesuai golongan

umur. Umur 2 Bulan - < 1 Tahun irama napas sama dengan 50 kali atau

lebih/menit sedangkan untuk umur 1 - <5 Tahun irama napasnya 40

kali atau lebih/menit.


3) Klasifikasi bukan Pneumonia hanya ditandai dengan batuk dan atau

sukar bernapas tidak ada tanda penyerta lain yakni tidak ada napas

cepat dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah kedalam.
b. Kelompok umur < 2 Bulan
1) Klasifikasi pneumonia berat untuk umur <2 Bulan ditandai dengan

napas cepat > 60 kali atau lebih/menit atau ada tarikan kuat dinding

11
dada bagian bawah kedalam serta dibarengi dengan batuk dan atau

sukar bernapas.
2) Klasifikasi bukan pneumonia untuk kelompok umur <2 Bulan

hanya ditandai dengan batuk dan atau sukar bernapas serta tidak

ada napas cepat dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah

ke dalam (Depkes: 2009)

2.4 Patogenesis

Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan

mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan

paru. Terdapatnya bakteri atau virus di dalam paru merupakan

ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat

berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit. Masuknya

mikroorganisme ke dalam saluran napas dan paru dapat melalui berbagai

cara, antara lain:

1. Inhalasi langsung dari udara.


2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring.
3. Perluasan langsung dari tempat-tempat lain.
4. Penyebaran secara hematogen.

Mekanisme daya tahan traktus respiratorius sangat efisien untuk mencegah

infeksi yang terdiri dari:

1. Susunan anatomis rongga hidung.

2. Jaringan limfoid di nasofaring.

3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan

sekret lain yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.

12
4. Refleks batuk.

5. Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.

6. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.

7. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari Ig A.

8. Sekresi enzim-enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang

bekerja sebagai antimikroba yang nonspesifik (Price, 2012)

Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui

saluran respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang

mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya.

Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi sebukan sel

PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya kuman di alveoli.

Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah. Selanjutnya, deposisi fibrin

semakin bertambah, terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi

proses fagositosis yang cepat. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu.

Selanjutnya, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami

degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang. Stadium ini disebut

stadium resolusi. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena

akan tetap normal (Garna, 2005).

Pneumonia viral biasanya berassal dari penyebaran infeksi di sepanjang jalan

napas atas yang diikuti oleh kerusakan epitel respiratorius, menyebabkan

obstruksi jalan napas akibat bengkakm sekresi abnormal, dan debris seluler,

diameter jalan napas yang kecil pada bayi menyebabkan bayi rentan terhadao

13
infeksi berat. Atelektasis, edema interstisial, dan ventilation-perfusion

mismatch menyebabkan hipoksemia yang sering disertai obstruksi jalan

napas. Infeksi viral pada traktus respiratorius juga dapat meningkatkan resiko

terhadap infeksi bakteri sekunder dengan mengganggu mekanisme pertahanan

normal pejamu, mengubah sekresi normal, dan memodifikasi flora bakterial

(Garna, 2005).

Ketika infeksi bakteri terjadi pada parenkim paru, proses patologik bervariasi

tergantung organisme yang menginvasi. M. Pneumoniae menempel pada

epitel respiratorius, menghambat kerja silier, dan menyebabkan destruksi

seluluer dan memicu respon inflamasi di submukosa. Ketika infeksi berlanjut,

debris seluler yang terlepas, sel-sel inflamasi, dan mukus menyebabkan

obstruksi jalan napas, dengan penyebaran infeksi terjadi di sepanjang cabang-

cabang bronkial, seperti pada pneumonia viral. S. Pneumoniae menyebabkan

edema lokal yang membantu proliferasi mikroorganisme dan penyebarannya

ke bagian paru lain, biasanya menghasilkan karakteristik sebagai bercak-

bercak konsolidasi merata di seluruh lapangan paru (Hegar, 2010).

Infeksi Streptococcus grup A pada saluran napas bawah menyebabkan infeksi

yang lebih difus dengan pneumonia interstisial. Pneumonia lobar tidak lazim.

Lesi terdiri atas nekrosis mukosa trakeobronkial dengan pembentukan ulkus

yang compang camping dan sejumlah besar eksudat, edema, dan perdarahan

terlokalisasi. Proses ini dapat meluas ke sekat interalveolar dan melibatkan

fasa limfatika. Pneumonia yang disebabkan S.aureus adalah berat dan infeksi

dengan cepat menjelek yang disertai dengan morbiditas yang lama dan

14
mortalitas yang tinggi, kecuali bila diobati lebih awal. Staphylococcus

menyebabkann penggabungan bronkopneumoni yang sering unilateral atau

lebih mencolok pada satu sisi ditandai adanya daerah nekrosis perdarahan

yang luas dan kaverna tidak teratur (Behrman, 2000).

2.5 Diagnosis
2.5.1 Manifestasi Klinis

Pada pneumonia gejala klinisnya adalah sebagai berikut:

Gejala infeksi saluran nafas :

1. Batuk, malaise, febris, dapat wheezing, sesak, nyeri kepala, nyeri otot,

anoreksia, kesulitan menelan,nyeri dada, pleuritis, bisa timbul sianosis.

2. Febris:

- Dapat akut, tinggi sampai 39-40oC, meningkat cepat

- Fluktuatif

- Turun secara lisis

- Sering terjadi relaps oleh karena terjadi daerah konsolidasi yang baru,

berlangsung 3-4 minggu

- Pada anak yang lemah kadang-kadang : subfebris

3. Kardiorespirasi :

- Nadi relatif lebih cepat dari lobar pneumonia

- Sesak

- Respirasi cepat dan dangkal dapat sampai 100 x/menit

- Sering dengan grunting (seperti mendengkur)

- Pernafasan cuping hidung

15
- Sianosis sekitar mulut dan hidung

- Batuk variable, pada awalnya kering, kemudian produktif

4. Lain-lain:

- Gelisah dan cemas

- Muntah dan diare

- Tampak sakit berat, gangguan respirasi lebih nyata dari lobar

pneumonia, sayu, pucat, lidah kering

- anoreksia

5. Fisik :

- Tergantung dari luasnya infiltrat

- Sering negatif pada awal, bila menyatu : dullness/ redup

- Suara respirasi mengeras/ kasar, terutama dekat basal paru-paru

- Ronki basah, nyaring, halus sampai sedang pada daerah konsolidasi

- Retraksi ringan pada ICS terutama pada anak dibawah 2 tahun, karena

dinding thorak lemah

- Perkusi: variable, normal, hipersonor (karena empisema

kompansantoir).

- Sputum kuning kehijauan kemudian berubuah menjadi kemerahan atau

berkarat

- Dasar kuku kebiruan

- Thorax photo menunjukkan infiltrasi lebar

- Leukositosis (Rahajoe, 2010).

16
Berdasarkan beberapa manifestasi klinis/ tanda yang terlihat pada pneumonia

anak, maka klasifikasi beratnya pneumonia pada anak di bawah lima tahun

(balita) ditentukan berdasarkan usia adalah sebagai berikut;

Tabel 2. Klasifikasi beratnya pneumonia pada anak di bawah lima tahun


(balita) ditentukan berdasarkan usia
Klasifikasi Anak usia < 2 Anak usia 2

bulan bulan-5 tahun


Pneumonia sangat Hipo/hipernatremi Kesadaran turun
Kurang mau Tidak mau minum
berat Kejang
minum Stridor
Kejang Sianosis sentral
Wheezing Gizi buruk
Stridor
Sianosis
Pneumonia berat Tarikan dinding Tarikan dinding

dada tampak jelas dada dalam


Takipnea Dapat minumm
Sianosis (-)
Pneumonia Takipnea Takipnea
Tarikan dinding Tarikan dinding

dada minimal dada dalam (-)


Bukan pneumonia Tarikan dinding dada dalam (-), takipnea (-)

2.5.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik ditandai dengan adanya retraksi dinding dada dan atau

respiratory rate (RR) > 50x/ menit pada bayi adalah nilai prediktif positif

pneumonia dari 45% bayi yang kemudian terbukti terdapat konsolidasi pada

rontgen thoraksnya. Pemeriksaan fisik biasanya menunjukan tanda klinis

berupa pekak perkusi, suara napas melemah, dan adanya ronki basah halus

(Brithis Thoracic Society, 2011).

17
Pada pemeriksaan fisik penderita pneumonia dapat juga ditemukan hal-hal

sebagai berikut:

1. Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan nadi harus dilakukan

pada saat awal pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat

menyebabkan anak gelisah atau rewel. Penilaian keadaan umum antara

lain meliputi kesadaran dan kemampuan makan/ minum.


2. Gejala distres pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk,

krepitasi, ernapasan cuping hidung dan penurunan suara paru


3. Demam dan sianosis
4. Anak di bawah 5 tahun mungkin tidak menunjukkan gejala pneumonia

yang klasik. Pada anak yang demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri

yang diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi muda, terdapat gejala

pernapasan tak teratur dan hipopnea.


5. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan

getaran fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi

perluasan infeksi paru (kolaps paru/ atelektasis) maka transmisi energi

vibrasi akan berkurang.


6. Pada perkusi tidak terdapat kelainan tertentu.
7. Pada auskultasi ditemukan crackels sedang nyaring.
Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan

berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada

tinggi ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang

mendominasi), keras atau lemah (tergantung amplitudo osilasi), jarang

atau banyak ( tergantung jumlah crackles individual), halus dan kasar

(tergantung dari mekanisme terjadinya). Crackles dihasilkan oleh

18
gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan napas/ jalan napas

kecil yang tiba-tiba terbuka.

2.5.3 Pemeriksaan Penunjang

Beberapa macam pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk

menegakan diagnosis pneumonia adalah

1. Pemeriksaan Laboratorium
o Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit perlu

dilakukan untuk membantu menentukan pemberian antibiotik


o Pemeriksaan kultur dan pewarnaan Gram sputum dengan kualitas

yang baik direkomendasikan dalam tata laksana anak dengan

pneumonia yang berat


o Kultur darah tidak direkomendasikan secara rutin pada pasien

rawat jalan, tetapi direkomendasikan pada pasien rawat inap

dengan kondisi berat dan pada setiap anak yang dicurigai

menderita pneumonia bakterial


o Pada anak kurang dari 18 bulan, dilakukan pemeriksaan untuk

mendeteksi antigen virus dengan atau tanpa kultur virus jika

fasilitas tersedia
o Jika ada efusi pleura, dilakukan pungsi cairan pleura dan dilakukan

pemeriksaan mikroskopis, kultur, serta deteksi antigen bakteri (jika

fasilitas tersedia) untuk penegakkan diagnosis dan menentukan

mulainya pemberian antibiotik


o Pemeriksaan C-reactive protein (CRP), LED, dan pemeriksaan fase

akut lain tidak dapat membedakan infeksi viral dan bakterial dan

tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin

19
o Pemeriksaan uji tuberkulin selalu dipertimbangkan pada anak

dengan riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa (Behrman,

2000).
2.Pemeriksaan Radiologi
o Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin pada anak

dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa komplikasi


o Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia yang

dirawat inap atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan


o Pemeriksaan foto dada follow up hanya dilakukan bila didapatkan adanya

kolaps lobus, kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumonia berat, gejala

yang menetap atau memburuk, atau tidak respons terhadap antibiotik


o Pemeriksaan foto dada tidak dapat mengidentifikasi agen penyebab.

Secara umum gambaran foto thoraks terdiri dari;

- Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan

bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan hiperaerasi.


- Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.

Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia

lobaris atau terlihat sebagai lesi tungga yang biasanya cukup besar,

berbentuk sfeeris, berbatas yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi

tumor paru, disebut sebagai round pneumonia.


- Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua

paru berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah

perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

Gambaran foto rontgen thoraks dapat membantu mengarahkan

kecenderungan etiologi. Penebalan peribronkial, infiltrat interstitial merata

20
dan hiperinflasi cenderung terlihat pada pneumonia virus (Hegar, 2010).

Pneumonia pada anak umumnya didiagnosa dengan gambaran klinis yang

menunjukan keterlibatan sistem respiratori dan gambaran radiologis

berupa infiltrat alveolar, konsolidasi segmen atau lobar, bronkopneumonia

dan airbronchogram (Rahajoe, 2010).

2.6 Diagnosis Banding

Bronkiolitis merupakan diagnosis banding pada kasus ini. Bronkiolitis sering

menyerang anak usia 2-24 bulan dengan puncak insidensi pada bayi laki-laki

usia 2-8 bulan yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) dan hidup

dilingkungan padat penduduk. Gejala pada bronkiolitis yang mirip dengan

pneumonia adalah didahului dengan ISPA, seperti pilek ringan, batuk, dan

demam, disusul dengan batuk disertai sesak napas, merintih, napas berbunyi,

rewel, dan penurunan nafsu makan. Pada bronkiolitis ditemukan wheezing di

mana pada pneumonia/ bronkopneumonia tidak selalu ditemukan adanya

wheezing (Rahajoe, 2010). Gambaran foto rontgen pada bronkiolitis juga

terdapat hiperinflasi, penebalan peribronkial, dan sering terdapat atelektasis

subsegmental (Peltjo et al., 2012).

Bronkiolitis memiliki gejala batuk yang pada mulanya kering dan keras yang

kemudian berkembang menjadi batuk produktif, serta dapat pula ditemukan

ronkhi kering pada auskultasi paru. Bronkiolitis umunya tidak disertai dengan

demam dan jarang yang menimbulkan gejala sesak napas sampai

21
mengakibatkan retraksi dan napas cuping hidung, serta dapat ditemukan

wheezing pada auskultasi paru (Rahajoe, 2010).

2.7 Penatalaksanaan Pneumonia

Kriteria Rawat Inap

Bayi:

o Saturasi oksigen <92%, sianosis

o Frekuensi napas >60 x/menit

o Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting

o Tidak mau minum/menetek

o Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Anak:

o Saturasi oksigen <92%, sianosis

o Frekuensi napas >50 x/menit

o Distres pernapasan

o Grunting

o Terdapat tanda dehidrasi

o Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Tata laksana umum

o Pasien dengan saturasi oksigen <92% pada saat +bernapas dengan udara

kamar harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau

sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%

22
o Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan

intravena dan dilakukan balans cairan ketat

o Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak

dengan pneumonia

o Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan

pasien dan mengontrol batuk

o Nebulisasi dengan 2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk

memperbaiki mucocilliary clearance

o Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya

setiap 4 jam sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen

Pemberian Antibiotik

o Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak

<5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen yang

menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik, dan murah.

Alternatifnya adalah co-amoxiclav, ceflacor, eritromisin, claritromisin, dan

azitromisin

o M. pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka

antibiotik golongan makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara

empiris pada anak >5 tahun

o Makrolid diberikan jika M. pneumoniae atau C. pneumonia dicurigai

sebagai penyebab

23
o Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S. pneumoniae sangat

mungkin sebagai penyebab.

o Jika S. aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau

kombinasi flucloxacillin dengan amoksisilin

o Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat

menerima obat per oral (misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat

pneumonia berat.

o Antibiotik intravena yang danjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol,

co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime

o Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan

setelah mendapat antibiotik intravena. (Rahajoe, 2010)

Rekomendasi UKK Respirologi

Antibiotik untuk community acquired pneumonia:

o Neonatus - 2 bulan: Ampisilin + gentamisin

o 2 bulan:

- Lini pertama Ampisilin bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat

ditambahkan kloramfenikol

- Lini kedua Seftriakson

Bila klinis perbaikan antibiotik intravena dapat diganti preparat oral dengan

antibiotik golongan yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya.

Nutrisi

24
o Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral

harus dihindari. Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube (NGT)

atau intravena. Tetapi harus diingat bahwa pemasangan NGT dapat

menekan pernapasan, khususnya pada bayi/anak dengan ukuran lubang

hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran

yang terkecil.

o Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak

mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan

sekresi hormon antidiuretik.

Kriteria pulang

o Gejala dan tanda pneumonia menghilang

o Asupan per oral adekuat

o Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)

o Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol

o Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah

2.8 Definisi Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu

wilayah kerja. Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh

puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan

nasional yakni meningkatkan kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup

sehat bagi setiap orang yang bertempat tingal di wilayah kerja puskesmas

25
agar terwujud derajat kesehatanyang setinggi-tingginya dalam rangka

mewujudkan Indonesia Sehat (Kemenkes RI, 2014).

Berdasarkan buku pedoman kerja puskesmas yang terbaru ada 20 usaha

pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh puskesmas, itu pun sangat

tergantung kepada faktor tenaga, sarana, dan prasarana serta biaya yang

tersedia berikut kemampuan manajemen dari tiap-tiap puskesmas. Dua puluh

kegiatan pokok puskesmas adalah :

1. Upaya kesehatan ibu dan anak

2. Upaya keluarga berencana

3. Upaya peningkatan gizi

4. Upaya kesehatan lingkungan

5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

6. Upaya pengobatan

7. Upaya penyuluhan

8. Upaya kesehatan sekolah

9. Upaya kesehatan olahraga

10. Upaya perawatan kesehatan masyarakat

11. Upaya peningkatan kesehatan kerja

12. Upaya kesehatan gigi dan mulut

13. Upaya kesehatan jiwa

14. Upaya kesehatan mata

15. Laboratorium kesehatan

16. Upaya pencatatan dan pelaporan

17. Upaya pembinaan peran serta masyarakat

26
18. Upaya pembinaan pengobatan tradisional

19. Upaya kesehatan remaja

20. Dana sehat (Permenkes RI No.75, 2014).

2.8.1 Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

1. Tujuan

Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian, dan

kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.

a. Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah :

Malaria,Demam Berdarah Dengue, Tuberkulosis, HIV/AIDS,

Diare, Polio, Filaria, Kusta, Pneumonia, dan Penyakit-Penyakit

Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), termasuk

penyakit karantina dan risiko masalah kesehatanmasyarakat yang

memperoleh perhatian dunia internasional (Public

HealthEmergency Of International Concern).

b. Penyakit tidak menular yang diutamakan adalah: penyakit

Jantung, Kanker,Diabetes Mellitus dan penyakit metabolik,

penyakit kronis dan degeneratif,serta gangguan akibat kecelakaan

dan cedera.

2. Sasaran

a. Persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization

(UCI) sebesar 100%.

27
b. Angka penemuan kasus penderita TB (Case Detection Rate)

penyakit Tbsebesar 70% dan angka keberhasilan pengobatan

(Succes Rate) TB di atas 85%.

c. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan _ 2/100.000 anak

usiankurang dari 15 tahun.

d. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani sebesar

80%.

e. Penderita Malaria yang diobati sebesar 100%.

f. CFR Diare pada saat KLB adalah < 1,2%

g. ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan ART

sebanyak 100%.

h. Tersedianya dan tersosialisasikannya kebijakan dan pedoman, serta

hukum kesehatan penunjang program yang terdistribusi hingga ke

desa.

3. Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini

serta penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah

secara berjenjang hingga ke desa.

4. Kegiatan Pokok

1. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko

2. Peningkatan imunisasi

3. Penemuan dan tatalaksana penderita

4. Peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah

5. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan

dan pemberantasan penyakit.

28
6. Pencegahan dan penanggulangan Flu Burung/penyakit lainnnya

5. Lingkup Kegiatan Pencegahan Penyakit

1. Penyakit Menular Langsung

o TBC

o HIV/AIDS & Penyakit Menular Seksual

o ISPA

o Diare, Kecacingan & Penyakit Saluran Pencernaan

o Kusta & Frambusia

2. Penyakit Bersumber Binatang

o Malaria

o Arbovirosis

o Zoonosis (Rabies)

o Filariasis & Schistosomiasis

3. Surveilans Epidemiologi & Kesehatan Matra

o Imunisasi

o Surveilans Epidemiologi

o Karantina Kesehatan & Public Health Emergence of

International Concern (PHEIC)

o Kesehatan Matra

o Kesehatan Haji

4. Penyakit Tidak Menular

o Penyakit Jantung & Pembuluh Darah

o Kanker

29
o Diabetes Mellitus & Penyakit Metabolis

o Penyakit Kronis & Degeneratif Lainnya

o Gangguan Akibat Kecelakaan & Cedera

6. Kebijakan Pelaksanaan:

a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong

peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian integral

pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia Indonesia yang

sehat dan produktif terutama bagi masyarakat rentan dan miskin hingga

ke desa.

b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui

penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan

perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian faktor risiko baik di

perkotaan dan di perdesaan.

c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi

dengan fokus pemantauan wilayah setempat dan kewaspadaan dini,

guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit antar daerah

maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.

d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan

penanggulangan penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan

penanggulangan KLB/ wabah dan bencana maupun kesehatan matra,

serta kemampuan untuk melakukan rapid assessement dan rapid

respons.

30
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

memantapkan jejaring lintas program, lintas sektor, serta kemitraan

dengan masyarakat termasuk swasta untuk percepatan program

pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui pertukaran

informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan

pemanfaatan sumberdaya lainnya.

f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan

melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum

penyelenggaraan program pencegahan dan pemberantasan penyakit di

tingkat pusat hingga desa.

g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia di bidang

pencegahan dan pemberantasan penyakit sehingga mampu

menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat secara

berjenjang hingga ke desa.

h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

menyiapkan, mengadakan, dan mendistribusikan bahan-bahan yang

esensial untuk mendukung penyelenggaraan program pencegahan dan

pemberantasan penyakit hingga ke desa

i. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk

meningkatkan cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan

penatalaksanaan kasus penyakit secara berkualitas hingga ke desa.

7. Kegiatan upaya pencegahan penyakit

31
8. Kegiatan upaya pemberantasan penyakit

32
Usaha Untuk mencegah pneumonia ada 2 yaitu:

o Pencegahan Non spesifik, yaitu:

1. Meningkatkan derajat sosio-ekonomi

Kemiskinan

33
Tingkat pendidikan

Kurang gizi

Derajat kesehatan

Morbiditas dan mortalitas

2. Lingkungan yang bersih, bebas polusi

o Pencegahan Spesifik

1. Cegah BBLR

2. Pemberian makanan yang baik/gizi seimbang

3. Berikan imunisasi

2.9 Kerangka Teori

Penanganan Cakupan balita dengan


pneumonia pneumonia yang ditangani

Penanganan KLB Penemuan dan


penatalaksanaan
pneumonia dengan
Penanganan Acute program MTBS yaitu
Flacid Paralysis diagnosis penyakit, status
gizi, status imunisasi,
Pengendalian TB pemberian vitamin A, dan
menentukan tindakan
pengobatan
Pencegahan dan
Penemuan dan Pengendalian diare
Penanganan
Penyakit Pencegahan dan
pemberantasan dbd

Pengendalian HIV-AIDS

Pemberantasan Kusta
Gambar 2. Kerangka Teori

Penanganan Malaria

Penganan Infeksi
34
Menular Seksual
2.10 Kerangka Konsep

Input Proses Output

Petugas puskesmas Persiapan penerapan Pemeriksaan dan


tersebut, antara MTBS, Penerapan MTBS penatalaksanaan
lain: dokter, bidan, di Puskesmas, Pencatatan pneumonia
perawat, petugas
dan pelaporan Hasil melalui program
imunisasi,
Sarana: Ruang Pelayanan. MTBS >50%
MTBS di
puskesmas,
Formulir MTBS
dan Kartu Nasihat
IBU (KNI),
logistik (Timer
ISPA atau arloji
dengan jarum
detik, Tensimeter
dan Manset anak).
Pendanaan
Lingkungan: PSP
masyarakat, BP
swasta

35