You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan


suatu bentuk pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu keperawatan.
Pada perkembangannya ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan
ilmu lain, mengingat ilmu keperawatan merupakan ilmu terapan yang selalu
berubah mengikuti perkembangan zaman. Demikian juga dengan pelayanan
keperawatan di Indonesia, kedepan diharapkan harus mampu memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara profesional sesuai dengan tuntutan
kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang kesehatan yang senantiasa
berkembang. Pelaksanaan asuhan keperawatan di sebagian besar rumah sakit
Indonesia umumnya telah menerapkan pendekatan ilmiah melalui proses
keperawatan.

Profesi keperawatan adalah profesi yang unik dan kompleks.Dalam


melaksanakan prakteknya, perawat harus mengacu pada model konsep dan
teori keperawatan yang sudah dimunculkan.Konsep adalah suatu ide dimana
terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir dengan smbol-simbol
yang nyata, sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun
suatu kerangka konseptual atau model keperawatan.

Teori adalah sekelompok konsep yang membentuk sebuah pola yang


nyata atau suatu pernyataan yang menjelaskan suatu proses, peristiwa atau
kejadian yang didasari fakta-fakta yang telah di observasi tetapi kurang
absolut atau bukti secara langsung. Yang dimaksud teori keperawatan adalah
usaha-usaha untuk menguraikan atau menjelaskan fenomena mengenai
keperawatan. Teori keperawatan digunakan sebagai dasar dalam menyusun
suatu model konsep dalam keperawatan,dan model konsep keperawatan
digunakan dalam menentukan model praktek keperawatan. Berikut ini adalah

1
ringkasan beberapa teori keperawatan yang perlu diketahui oleh para perawat
profesional sehingga mampu mengaplikasikan praktek keperawatan yang
didasarkan pada keyakinan dan nilai dasar keperawatan.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam Teori Konsep Model Keperawatan di Dunia ini ada beberapa
masalah yang akan dihadapi, yaitu:
1. Teori sistem menurut Adaptation Model (Callista Roy)
2. Teori sistem menurut Imogene King (Goal attain-ment theory)
3. Teori sistem menurut Health Care System Model (Betty Neuman)
4. Teori sistem menurut Behavioral System Model (Dorothy Johnson)
5. Teori sistem menurut Interpersonal (Caring) Theories
6. Teori sistem menurut Psychodynamic Nursing Theories (Hildegard
Peplau)
7. Teori sistem menurut Transcultural Care Theory (Madeleleine Leininger)
8. Teori sistem menurut Phylosophy and Science of Caring (Jean Watson)

1.3 Tujuan Penelitian

Teori keperawatan sebagai salah satu bagian kunci perkembangan ilmu


keperawatan dan pengembangan profesi keperawatan memiliki tujuan yang
ingin dicapai diantaranya :

1. Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan


tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan,
baik bentuk tindakan atau bentuk model praktek keperawatan sehingga
berbagai permasalahan dapat teratasi.
2. Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk
memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan
kemudian dapat memberikan dasar dalam penyelesaian berbagai masalah
keperawatan.

2
3. Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesaian masalah dalam
keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan
keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat dipertimbangkan.
4. Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan
filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam
tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang.

1.4 Manfaat Pembelajaran


1. Mahasiswa mampu memahami teori-teori keperawatan dan kerangka teori
keperawatan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP TEORI DAN MODEL KEPERAWATAN

2.1 PENGERTIAN

Model adalah contoh, menyerupai, merupakan pernyataan simbolik


tentang fenomena, menggambarkan teori dari skema konseptual melalui
penggunaan symbol dan diafragma. Konsep adalah suatu keyakinan yang
kompleks terhadap suatu obyek, benda, suatu peristiwa atau fenomena
berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa ide, pandangan atau
keyakinan. Model konsep adalah rangkaian konstruksi yang sangat abstrak
dan berkaitan yang menjelaskan secara luas fenomena-fenomena,
mengekspresikan asumsi dan mencerminkan masalah.

Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep


atau definisi yang memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-
gejala atau fenomena fenomena dengan menentukan hubungan spesifik
antara konsep tersebut dengan maksud untuk menguraikan, menerangkan,
meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji,
diubah atau digunakan sebagai suatu pedoman dalam penelitian.

Teori keperawatan didefinisikan oleh Stevens (1981) sebagai usaha


untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan.
Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin
ilmu lainnya dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan
memperkirakan dan mengontrol hasil asuhan keperawatan yang dilakukan.

4
Teori keperawatan menurut Barnum 1990 merupakan usaha-usaha
untuk menguraikan atau menjelaskan fenomena mengenai keperawatan.1

Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang


situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model
konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana
perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi
pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa
yang harus perawat kerjakan.

2.2 TUJUAN TEORI DAN MODEL KEPERAWATAN


a. Tujuan Teori Keperawatan
Teori keperawatan sebagai salah satu bagian kunci perkembangan
ilmu keperawatan dan pengembangan profesi keperawatan memiliki tujuan
yang ingin dicapai, diantaranya:
1. Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-
alasan tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan
keperawatan, baik bentuk tindakan atau bentuk model praktek
keperawatan sehingga berbagai permasalahan dapat teratasi.
2. Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat
untuk memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan
keperawatan kemudian dapat memberikan dasar dalam menyelesaikan
berbagai masalah keperawatan.
3. Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesain masalah
dalam keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan
tindakan keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat
dipertimbangkan.

5
4. Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi
dan filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman
dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang.1

b. Tujuan Model Keperawatan


1. Menjaga konsisten asuhan keperawatan.
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih, dan kekosongan pelaksanaan
asuhan keperawatan oleh tim keperawatan.
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan
keputusan.
5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan
keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.2

2.3 PANDANGAN BEBERAPA AHLI TENTANG MODEL KONSEP DAN


TEORI KEPERAWATAN

1. Adaptation Model (Calista Roy)


a. Model Adaptasi Roy

ROY berpendapat bahwa ada empat elemen penting dalam


model adaptasi keperawatan, yakni keperawatan, tenaga kesehatan,
lingkungan, dan sehat.

a) Elemen keperawatan
Keperawatan adalah suatu disiplin ilmu dan ilmu tersebut
menjadi landasan dalam melaksanakan praktik keperawatan (Roy,
1983).

6
Lebih spesifik Roy (1986) berpendapat bahwa keperawatan
sebagai ilmu dan praktik berperan dalam meningkatkan adaptasi
individu dan kelompok terhadap kesehatan sehingga sikap yang
muncul semakin positif.
Keperawatan memberi perbaikan pada manusia sebagai sutu
kesatuan yang utuh untuk beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi pada lingkungan dan berespons terhadap stimulus internal
yang mempengaruhi adaptasi.Jika stressor terjadi dan individu tidak
dapat menggunakan koping secara efektif maka individu tersebut
memerlukan perawatan.
Tujuan keperawatan adalah meningkatkan interaksi individu
dengan lingkungan, sehingga adaptasi dalam setiap aspek semakin
meningkat.Komponen-komponen adaptasi mencakup fungsi
fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan saling ketergantungan.

b) Elemen manusia
Manusia merupakan bagian dari sistem adaptasi, yaitu suatu
kumpulan unit yang saling berhubungan mempunyai masukan,
proses kontrol, keluaran dan umpan balik (Roy, 1986). Proses
kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan
adaptasi secara spesifik. Manusia dalam sistem ini berperan sebagai
kognator dan regulator (pengaturan) untuk mempertahankan
adaptasi.
Terdapat empat cara adaptasi, mencakup adaptasi terhadap
fungsi fisologis, konsep diri, fungsi peran dan terhadap kebutuhan
saling ketergantungan.
Pada model adaptasi keperawatan, manusia dilihat dari sistem
kehidupan yang terbuka, adaptif, melakukan pertukaran energi
dengan zat/benda dan lingkungan.
Manusia sebagai masukan dalam sistem adaptif, terdiri dari
lingkungan eksternal dan internal. Proses kontrol manusia adalah

7
mekanisme koping yakni sistem regulator dan kognator. Keluaran
dari sistem ini dapat berupa respons adaptif atau respons tidak
efektif.
Regulator dihubungkan dengan fungsi fisiologis sedangkan
kognator dihubungkan dengan konsep diri dan fungsi peran.

c) Elemen lingkungan
Lingkungan didefenisikan sebagai semua kondisi, keadaan, dan
faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan perilaku
individu atau kelompok.

d) Elemen sehat
Kesehatan didefenisikan sebagai keadaan yang muncul atau
proses yang terjadi pada mahluk hidup dan terintegrasi dalam
individu seutuhnya (Roy, 1984).

b. Proses adaptasi
Proses adaptasi melibatkan seluruh fungsi secara holistik,
mencakup semua interaksi individu dengan lingkungannya dan dibagi
menjadi dua proses, seperti yang berikut.
1. Proses yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan internal dan
eksternal. Perubahan ini merupakan stresor atau stimulus fokal.
Apabila stresor atau stimulus tersebut mendapat dukungan dari
faktor-faktor konseptual dan resitual maka akanmuncul interaksi
yang biasa disebut stres. Dengan demikian adaptasi sangat
diperlukan untuk mengatasi stres.
2. Proses mekanisme koping yang dirangsang untuk menghasilkan
respons adaptif atau tidak efektif. Hasil dari proses adaptasi adalah
suatu kondisi yang dapat meningkatkan pencapaian tujuan individu
mencakup kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi, dan
integritas.

8
c. Aplikasi Model Adaptasi Roy

Model ini dapat digunakan dalam penelitian keperawatan, dan


sebagai pedoman dalam memberikan perawatan pada anak-anak,
lansia, dan di komunitas.Model ini lebih menekankan pada faktor
psikologis.2

2. Imogene King (Goal attain-ment theory)


King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan
menggunakan pendekatan sistem terbuka dalam hubungan interaksi yang
konstan dengan lingkungan, sehingga King mengemukakan dalam model
konsep interaksi.
Dalam mencapai hubungan interaksi, King mengemukakan konsep
kerjanya yang meliputi adanya system personal, system interpersonal dan
system social yang saling berhubungan satu dengan yang lain, yang dapat
digambarkan sebagai berikut:

Sistem Sosial

Sistem personal
Sistem Interpersonal

Gambar 1.4. Hubungan system personal, interpersonal, dan sosial

9
Menurut King system personal merupakan system terbuka
dimana didalamnya terdapat persepsi, adanya pola tumbuh kembang,
gambaran tubuh, ruang dan waktu dari individu dan lingkungan, kemudian
hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan antara perawat dan
pasien serta hubungan social yang mengandung arti bahwa suatu interaksi
perawat dan pasien dalam menegakkan system social, sesuai dengan
situasi yang ada. Melalui dasar sistem tersebut, maka King memandang
manusia merupakan individu yang reaktif yakni bereaksi terhadap situasi,
orang dan objek. Manusia sebagai makhluk yang berorientasi terhadap
waktu tidak lepas dari masa lalu dan sekarang yang dapat mempengaruhi
masa yang akan datang dan sebagai makhluk social manusia akan hidup
bersama orang lain yang akan berinteraksi satu dengan yang lain.
Berdasarkan hal tersebut, maka manusia memiliki tiga kebutuhan
dasar yaitu:
1. Informasi kesehatan
2. Pencegah penyakit
3. Kebutuhan terhadap perawat ketika sakit.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, King mengemukakan
pendekatan teori yang terdiri dari komponen yang dapat digambarkan pada
gambar diatas.
Berdasarkan gambar tersebut, dapat dijelaskan bahwa konsep
hubungan manusia menurut King terdiri dari komponen:
1. Aksi merupakan proses awal hubungan dua individu dalam
berperilaku, dalam memahami atu mengenali kondisi yang ada dalam
keperawatn dengan gambaran hubungan perawat dank lien untuk
melakukan kontrak atau tujuan yang diharapkan.
2. Reaksi adalah suatu bentuk tindakan yang terjadi adanya aksi dan
meruapakn respons dari individu.

10
3. Interaksi merupakan suatu bentuk kerja sama yang saling
mempengaruhi antara perawat dan klien yang terwujud dalam
komunikasi.
4. Transaksi merupakan kondisi dimana antara perawat dan klien terjadi
suatu persetujuan dalam rencana tindakan keperawatan yang akan
dilakukan.

Perawat

Aksi Reaksi Interaksi Transaksi

Klien

Gambar 1.5. Model konsep menurut King

3. Health Care System Model (Betty Neuman)

Model konsep yang dikemukakan oleh Betty Neuman ini adalah


model konsep Health Care System yaitu model konsep yang
menggambarkan aktivitas keperawatan yang ditujukan kepada penekanan
penurunan stress dengan memperkuat garis pertahanan diri secara fleksibel
atau normal maupun resistan dengan sasaran pelayanan adalah komunitas.

Garis pertahanan diri pada komunitas tersebut meliputi garis


pertahanan fleksibel yaitu ketersediaan dana pelayanan kesehatan, iklim
dan pekerjaan dan lain-lain, garis pertahanan normal yang meliputi
ketersediaan pelayanan, adanya perlindungan status nutrisi secara umum,
tingkat pendapatan, rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan sikap
masyarakat terhadap kesehatan dan garis pertahanan resisten yang meliputi

11
adanya ketersediaan pelayanan kesehatan, tingkat pendidikan masyarakat,
transportasi, tempat rekreasi dan cakupan dari imunisasi didaerah yang
ada. Intervensi keperawatan diarahkan pada garis pertahanan dengan
penggunaan pencegahan primer, sekunder dan tersier.Model ini bertujuan
agar terjadi stabilitas klien dan keluarga dalam lingkungan yang
dinamis.Sehingga Betty Neuman menggambarkan peran perawat dapat
bersifat menyeluruh dan saling ketergantungan (interpendensi).

Betty Neuman dalam memahami konsep keperawatan ini memiliki


dasar pemikiran yang terkait dengan komponen paradigma yaitu
memandang manusia sebagai suatu system terbuka yang selalu mencari
keseimbangan dan merupakan satu kesatuan dari variable yang utuh
diantaranya fisiologis, psikologis, sosiokultural dan spiritual, juga
memandang pelayanan keperawatan akan dipengaruhi lingkungan serta
klien serta memandang sehat sebagai kondisi terbebasnya dari gangguan
pemenuhan kebutuhan dan merupakan keseimbangan yang dinamis dari
menghindari stressor.
Secara umum focus dari model konsep keperawatan menurut
Nueman ini berfokus pada respons terhadap stressor serta factor-faktor
yang mempengaruhi proses adaptasi pada pasien. Untuk itu tindakan
keperawtan seharusnya dilakukan menurut Neuman adalah mencegah atau
mengurangi adanya reaksi tubuh akibat stressor.Upaya tersebut dapat juga
dinamakan pencegahan primer, sekunder, dan tersier.9
Pencegahan primer dapat meliputi berbagai tindakan keperawatan
untuk mengidentifikasi adanya stressor, mencegah reaksi tubuh karena
adanya stressor serta mendukung koping pada pasien secara
konstruktif.Pencegahan sekunder menurut Neuman meliputi berbagai
tindakan perawatan yang dapat mengurangi gejala penyakit serta reaksi
tubuh lainnya karena adanya stressor dan pencegahan tersier dapat

12
meliputi pengobatan secara rutin dan teratur serta pencegahan terhadap
adanya kerusakan lebih lanjut dari komplikasi suatu penyakit.Upaya
pencegahan tersebut dipentingkan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.

4. Behavioral System Model (Dorothy Johnson)

Teori Dorothy Johnson tentang keperawatan (1968) berfokus pada


bagaimana klien beradaptasi terhadap kondisi sakitnya dan bagaimana
stress actual atau potensial dapat mempengaruhi kemampuan beradaptasi.
Tujuan dari keperawatan adalah menurunkan stress sehingga klien dapat
bergerak lebih mudah melewati masa penyembuhannya (Johnson, 1968).
Teori Johnson berfokus pada kebutuhan dasar yang mengacu pada
pengelompokkan perilaku berikut:

1. Perilaku mencari keamanan


2. Perilaku mencari perawatan
3. Menguasai diri sendiri dan lingkungan sesuai dengan standar
internalisasi prestasi
4. Mengakomodasi diet dengan cara yang diterima secar sosial dan
cultural
5. Mengeluarkan sampah tubuh dengan cara yang diterima secara sosial
dan cultural
6. Perilaku seksual dan identitas peran
7. Perilaku melindungi diri sendiri

Menurut Johnson, perawat mengkaji kebutuhan klien berdasarkan


kategori perilaku diatas, yang disebut subsistem perilaku. Dalam kondisi
normal klien berfungsi secara efektif didalam lingkungannya.Akan tetapi
ketika stres mengganggu adaptasi normal, perilaku klien menjadi tidak
dapat diduga dan tidak jelas.Perawat mengidentikasi ketidakmampuan

13
beradaptasi seperti ini dan memberikan asuhan keperawatan untuk
mengatasi masalah dalam memenuhi kebutuhan tersebut.8

5. Interpersonal (Caring) Theories


Caring secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan
perhatian, perasaan empati kepada orang lain dan perasaan cinta atau
menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan (Potter dan Perry
2005). Selain itu, caring mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan
dan perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai filosofi dan
etis perspektif.
Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena caring
merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja
untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien (Sartika dan Nanda,
2011). Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting
terutama dalam praktik keperawatan

6. Psychodynamic Nursing Theories (Hildegard E. Peplau)


Hildegar E.Peplau lahir pada tanggal 1 september 1909 di Reading,
Pennsylvania. Peplau lulus dari hospital School of Nursing di Pottstown,
penssyilvania pada tahun 1931. Gelar B.A. dalam bidang psikologi
interpersonal diperolehnya dari Bennington Univercity, Vermont pada
Tahun 1943. Peplau meraih gelar M.A. dalam bidang keperawatan
psikiatri dari Teachers College, Columbia, New York pada Tahun 1947
dan gelar Ed.D. dalam bidang pengembangan kurikulum pada tahun 1953.

a. Keperawatan Psikodinamik

14
Konstribusi Peplau dalam bidang keperawatan, khususnya
keperawatan psikiatri, sanga5t banyak. Tahun 1952, ia meluncurkan
bukunya yang berjudul interpersonal relations in Nursing. Peplau
membuat model keperawatan dengan istilah keperawatan
psikodinamik.Menurutnya, keperawatan psikodinamik merupakan
kemampuan seortang perawat untuk memahami tingkah lakunya guna
membantu orang lain, mengindetifikasi kesulitan yang dirasakannya,
dan untuk menerapkan prinsip hubungan manusia pada permasalahan
yang timbul di semua level pengalaman.

Fase orientasi
Pada fase ini, perawat dan klien bertindak sebagai dua individu
yang belum saling kenal mengenal. Selama fase orientasi, koien
merupakan seseorang yang memerlukan bantuan professional dan
perawat berperan membantu klien mengenali dan memahami
masalahnya serat menentukan apa myang klien perlukan saat itu. Jadi,
fase orientasi ini merupakan fase untuk menetukan adanya masalah.

Fase identifikasi
Pada fase ini, klien memberikan respons atau mengidentifikasi
persoalan yang ia hadapi bersama orang yang dianggap memahami
masalahnya. Respons setiap klien berbeda satu sama lain. Di sini
perawat melakukan eksplorasi perasaan dan membantu klien
menghadapi penyakit yang ia rasakan sebagai sebuah pengalaman
yang mengorientasi ulang perasaannya dan menguatkan kekuatan
positif pada pribadi klien serta memneri kepuasan yang diperlukan.

Fase eksploitasi
Pada fase 4 ini, perawat memberi layanan keperawatan
berdasarkan kebutuhan klien. Disinilah, masing-masing pihak mulai
merasa menjadi bagian integral dari proses interpersonal. Selama fase

15
eksploitasim, klien mengambil secara penuh nilai yang ditawarkan
kepadanya melalui sebuah hubungan.
Prisnsip tindakan pada fase ini adalah eksplorasi/menggali,
memahami keadaan klien, dan mencegah meluasnya masalah. Perawat
mendorong klien untuk menggali dan mengfungkapkan perasaan,
emosi, pikiran, serta sikapnya tanpa paksaan dan mempertahankan
suasana terapeutik yang mendukung.

Fase resolusi/terminasi
Pada fase resolusi, tujuan bersama antara perawat dan klien
sudah sampai pada tahap akhir dan keduanya siap mengakhiri
hubungan terapi utik yang selama ini terjalin.Fase resolusi terkadang
menjadi fase yang sulit bagi kedua bekah pihak, sebab disini dapat
terjadi peningkatan kecemasan dabn ketegangan jika ada hal-halk yang
belum terselesaikan pada masing-masing fase.Indicator keberhasilan
untuk fase ini adalah jika klien sudah mampu mandiri dan lepas dari
bantuan perawat. Selanjutnay, baik perawat maupun klien akan
menjadi individu yang matang dan lebih berpengalaman.4

b. Teori keperawatan Peplau dan komponen utama keperawatan


1. Keperawatan. Keperawatan didefinisikan oleh Peplau sebagai
sebuah proses yang signifikan, bersifat terapeutik, dan
interpersonal. Keperawatan merupakan instrument edukatif,
kekuatan yang mendewasakan dan menborong kepribadian
seseorang dalam arah yang kreatif, konstruktif, produktif, personal,
dan kehidupan komunitas. Profesi keperawatan memiliki tanggung
jawab legaldi dalaam pemanfaatan keperawatan secara vefektif
berikut segala konsekuensinya bagi klien.

16
2. Individu. Individu menurut eplau adalah organisme yang
mempunyai kemampuan untuk berusaha mengurangi ketegangan
yang ditimbulkan oleh kebutuhan.
3. Kesehatan. Peplau mendefinisikan kesehatan sebagai sebuah
symbol yang menyatakan secara tidak langsung perkembangan
progresif dari kepribadian dan proses kemanusiaan yang terus
menerus mengarah pada keadaan kreatif, konstruktif, produktif di
dalam kehidupan pribadi ataupun komunitas.
4. Lingkungan. Meskipun Peplau tidak secara langsung
menyebutkan lingkungan sebagai salah satu konsep utama dalam
perawatan, ia mendorong perawat untuk memperhatikan
kebudayaan da adat istiadat klien saat klien harus membiasakan
diri dengan rutinitas rumah sakit.

7. Transcultural Care Theory (Madeleine Leininger)

Teori ini diagagas pertama kali oleh Madeleine Leininger yang


diinspirasi oleh pengalaman dirinya sewaktu bekerja sebagai perawat
spesialis anak di Midwestern United States pada tahun 1950. Saat itu ia
melihat adanya perubahan perilaku di antara anak yang berasal dari
budaya yang berbeda. Perbedaan ini membuat Leininger menelaah
kembali profesi keperawatan.ia mengedintifikasi bahwa pengetahuan
perawat untuk memahami budaya anak dalam layanan keperawatan
ternyata masih kurang.

Pada tahun 1960, Leinenger pertama kali menggunakan kata


trancultural nursing, ethnonursing, dan cross-cultural nursing.Akhirnya,
pada tahun 1985, Leinenger mempublikasikan teorinya untuk pertama
kalinya, sedangkan ide-ide dan teorinya mulai dipresentasikan pada tahun
1988.Teori Leinenger kemudian disebut sebagai Cultural Care Diversity
and Universality.Tetapi para ahli sering menyebutnya sebagai
Trancultural Nursing Theory atau teori perawatan transkultural.

17
Konsep Teori Keperawatan Transkultural

Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama dalam


keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan analisis tentang
budaya dan sub-budaya yang berbeda di dunia yang menghargai perilaku
caring, layanan keperawatan, nilai-nilai, keyakinan tentang sehat-sakit,
serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan mengembangkan body of
knowledge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat praktik
keperawatan pada budaya tertentu dan budaya universal (Marriner-Tomey,
1994). Teori keperawatan transkultural ini menekankan pentingnya peran
perawat dalam memahami budaya klien.

Pemahaman yang benar pada diri perawat mengenai budaya klien,


baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat, dapat mencegah
terjadinya culture shock atau culture imposition.Culture shock terjadi saat
pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif
dengan kelompok budaya tertentu (klien). Klien akan merasakan perasaan
tidak nyaman, gelisah dan disorientasi karena perbedaan nilai budaya,
keyakinan, dan kebiasaan. Sedangkan culture imposition adalah
kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik secara diam-diam
maupun terang-terangan, memaksakan nilai-nilai budaya, keyakinan, dan
kebiasaan/perilaku yang dimilikinya kepada individu, keluarga, atau
kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya
lebih tinggi daripada budaya kelompok lain.

Model matahari terbit (sunrise model) ini melambangkan esensi


keperawatan dalam transkultural yang menjelaskan bahwa sebelum
memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu, keluarga,
kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus
mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (worldview) tentang
dimensi dan budaya serta struktur sosial yang berkembang di berbagai

18
belahan dunia (secara global) maupun masyarakat dalam lingkup yang
sempit.

Dimensi budaya dan strukur sosial tersebut menurut Leinenger


dipengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu teknologi, agama dan falsafah hidup,
faktor sosial dan kekerabatan, nilai budaya dan gaya hidup, politik dan
hukum, ekonomi, dan pendidikan.4

Setiap faktor tersebut berbeda pada setiap negara atau area, sesuai
dengan kondisi masing-masing daerah, dan akan memengaruhi pola/cara
dan praktik keperawatan. semua langkah perawatan tersebut ditujukan
untuk pemeliharaan kesehatan holistik, penyembuhan penyakit, dan
persiapan menghadapi kematian. Oleh karena itu, ketujuh faktor tersebut
harus dikaji oleh perawat sebelum memberikan asuhan keperawatan
kepada klien sebab masing-masing faktor memberi pengaruh terhadap
ekspresi, pola, dan praktik keperawatan (care expression, pattern, and
practices).Dengan demikian, ketujuh faktor tersebut besar kontribusinya
terhadap pencapaian kesehatan secara holistik atau kesejahteraan manusia,
baik pada level individu, keluarga, kelompok, komunitas, maupun institusi
di berbagai sistem kesehatan. Jika disesuaikan dengan proses keperawatan,
ketujuh faktor tersebut masuk ke dalam level pertama yaitu tahap
pengkajian.

Peran perawat pada transcultural nursing theory ini adalah


menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam
dengan sistem perawatan profesional melalui asuhan keperawatan.
Eksistensi peran perawat tersebut digambarkan oleh Leinenger dengan
gambar seperti di bawah ini. Oleh karena itu perawat harus mampu
membuat keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan
diberikan kepada masyarakat. Jika disesuaikan dengan proses

4
Asmadi. Konsep Dasar Keperawatan. Halaman 142

19
keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan, tindakan
keperawatan.

Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap


memperhatikan tiga prinsip asuhan keperawatan, yaitu :

1. Culture care preservation/maintenance, yaitu prinsip membantu,


memfasilitasi, atau memerhatikan fenomena budaya guna membantu
individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang
diinginkan.
2. Culture care accommodation/negotiation, yaitu prinsip membantu,
memfasilitasi, atau memerhatikan fenomena budaya yang ada, yang
merefleksikan budaya untuk beradaptasi, bernegosiasi, atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atu
klien.

Sistem Asuhan Sistem


generik atau profesional
Keperawata
tradisional n

Gambar 1.7. peran perawat dalam teori keperawatan transkultular

3. Culture care repatterning/restructuring, yaitu prinsip merekonstruksi


atau mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan
dan pola hidup klien ke arah yang lebih baik.
Hasil akhir yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan
transkultural pada asuhan keperawatan adalah tercapainya culture
congruent nursing care health and well being, yaitu asuhan keperawatan
yang kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang

20
sensitif, kreatif, serta cara-cara yang bermakna guna mencapai tingkat
kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.4

8. Phylosophy and science of caring (Jean Watson)


Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal
dengan teori pengetahuan manusia dan merawat manusia. Tolak ukur
pandangan Watson ini didasari pada unsure teori kemanusiaan. Pandangan
teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang
kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar
biofisikal (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan
cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan
psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktifitas dan
istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk
integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan
organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk
pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.1

Kebutuhan makanan dan cairan


Kebutuhan Blophysikal Kebutuhan eliminasi
Kebutuhan ventilasi

Kebutuhan aktivitas dan istirahat


Kebutuhan psikofisikal
Kebutuhan seksualitas

Kebutuhan psikososial Kebutuhan berprestasi


Kebutuhan berorganisasi

Intra personal-interpersonal Kebutuhan aktualisasi diri

Gambar 1.6. cabang kebutuhan manusia menurut Jean Watson

21
Berdasarkan empat kebutuhan tersebut, Jean Waston memahami
bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki berbagai
macam ragam perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan,
manusia seharusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental dan
spiritual karena sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan
dan jiwa sehingga untuk mencapai keadaan tersebut keperawatan harus
berperan dan meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya
penyakit, mengobati berbagai penyakit dan penyembuhan kesehatan dan
fokusnya pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

a. Teori human caring

Teori Jean Watson yang telah dipublikasikan dalam


keperawatan adalah human science and humancare. Watson
percaya bahwa focus utama dalam keperawatan adalah pada carative
factor yang bermula dari perspektif himanistik yang dikombinasikan
dengan dasar poengetahuan ilmiah. Oleh karena itu, perawat perlu
mengembangkan filososfi humanistic dan system nilai serta seni yang
kuat.Filosofi humanistic dan system nilai ini member fondasi yang
kokoh bagi ilmu keperawatan, sedangkan dasar seni dapat membantu
perawat menbgembangkan visi mereka serta nilai-nilai dunia dan
keterampilan berpikir kritis.Pengembangan keterampilan berpikir
kritis.Pengembangan keterampilan berpikir kritis dibutuhkan dalam
asuhan keperawatan, namun fokusnya lebih pada peningkatan
kesehatan, bukan pengobatan penyakit.4

22
b. Asumsi dasar tentang ilmu keperawatan Watson

Beberapa asumsi dasar tentang teori Watson adalah sebagai berikut:

1. Asuhan keperawatan dapat dilakukan dan diperaktikkan secara


interpersonal.
2. Asuhan keperawatan terlaksana oleh adanya factor carative yang
menghasilkan kepuasan pada kebutuhan manusia.
3. Asuhan keperawatan yang efektif dapat meningkatkan kesehatan
dan perkembangan individu dan keluarga.
4. Respons asuhan keperawatan tidak ahanya menerima seseorang
sebagaimana mereka sekarang, tetapi juga hal-hal yang mungkin
terjadi padanya nantinya.
5. Lingkungan asuhan keperawatan adalah sesuatu yang menawarkan
kemungkinan perkembangan potensi dan member keleluasaan bagi
seseorang untuk memilih kegiatan yang tebaik bagi dirinya dalam
waktu yang telah ditentukan.
6. Asuhan keperawatan lebih bersifat healthgenic (menyehatkan)
daripada curing (mengobati).
7. Praktik caring merupakan pusat keperawatan.

c. Factor carative teori Watson

Struktur dibangun dari sepuluh factor carative yaitu:

1. Membentuk sistem nilai humanistic-alturistik.


2. Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope).
3. Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain.
4. Membina hubungan saling percaya dab saling bantu (helping-trust).
5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negative.
6. Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistemantis dalam
pengambilan keputusan.

23
7. Meningkatkan proses belajar-mengajar interpersonal.
8. Menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi, dan
memeperbaiki mental, sosiokultural, dan spiritual.
9. Membantu dlam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
10. Mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomenologis.

BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang


situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model
konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana
perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi
pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga tahu apa yang
harus perawat kerjakan. Teori keperawatan digunakan sebagai dasar dalam
menyusun suatu model konsep dalam keperawatan dan model konsep
keperawatan digunakan dalam menentukan model praktek keperawatan. Ada
beberapa yang mempengaruhi teori keperawatan yaitu, filosofi Nightingale,
kebudayaan, pendidikan, dan ilmu keperawatan.

24
B. SARAN

Dalam penysunan makalah sebaiknya mahasiswa menggunakan minimal


tiga literatur untuk menghasilkan makalah yang isinya lengkap dan sebaiknya
perlu ditambahkan lagi buku-buku kesehatan lainnya yang belum tersedia di
perpustakaan untuk menunjang penyelesaian tugas mahasiswa.

25