You are on page 1of 19

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Payudara
2.1.1. Anatomi Payudara
Mammae adalah kelenjar yang terletak di bagian anterior dan termasuk bagian dari
lateral thoraks. Mammae melebar ke arah superior dari iga dua, inferior dari kartilago kosta
enam dan medial dari sternum serta lateral linea mid-aksilaris. Kompleks nipple-areola
terletak diantara kosta empat dan lima. Setiap mammae terdiri dari 15-20 lobus kelenjar yang
setiap lobus terdiri dari beberapa lobulus. Setiap lobulus kelenjar masing-masing mempunyai
saluran ke papila mammae yang disebut duktus laktiferus (diameter 2-4 mm). Diantara kelenjar
susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan
lemak.

1
Gambar 1. Anatomi Payudara

Kuadran Payudara
Untuk mempermudah menyatakan letak suatu kelainan, payudara dibagi menjadi lima
regio, yaitu :
a. Kuadran atas bagian medial (inner upper quadrant)
b. Kuadran atas bagian lateral (outer upper quadrant)
c. Kuadran bawah bagian medial (inner lower quadrant)
d. Kuadran bawah bagian lateral (outer lower quadrant)
e. Regio puting susu (nipple)

Gambar 2. Kuadran Payudara

2
Vaskularisasi
Vaskularisasi mammae terdiri dari arteri dan vena yaitu:

1. Arteri
Cabang-cabang perforantes A. mammaria interna (A. thoracica interna)
Cabang lateral dari A. intercostalis posterior
Cabang-cabang dari A. axillaris
A. thoracodorsalis yang merupakan cabang A. subscapularis
2. Vena
Cabang-cabang perforantes V. thoracica interna
Cabang-cabang V. axillaris yang terdiri dari V. thoraco-acromialis,
V. thoracica lateralis dan V thoraco dorsalis
Vena-vena kecil yang bermuara pada V. Intercostalis

3
Innervasi

Payudara sisi superior dipersarafi oleh N. Supraclavicula yang berasal dari cabang
ke-3 dan ke-4 plexus servicalis. Payudara sisi medial dipersarafi oleh cabang N. Cutaneus
Anterior dan N. Intercostalis II-VII. Papilla mammae tertama dipersarafi oleh cabang N.
Cutaneus Lateral dari N. Intercostalis IV. Sedangkan cabang N. Cutaneus Lateral dari N.
Intercostalis lain mempersarafi areola dan mammae sisi lateral.
Persarafan kulit mammae bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2
sampai T6. Jaringan kelenjar mammae sendiri diurus oleh sistem saraf otonom. Pada
prinsipnya inervasi mammae berasal dari N. intercostalis IV, V, VI dan cabang dari plexus
cervicalis.
Di daerah ruang axilla terdapat N. Intercostobrachialis dan N. Cutaneus
Brachiusmedialis, dimana cedera pada saraf ini dapat mengakibatkan mati rasa atau dysesthesia
di sepanjang permukaan medial dan posterior lengan, juga mati rasa pada kulit axilla di
sepanjang dinding dada yang dipersarafinya. Pada diseksi axilla saraf ini sukar disingkirkan
sehingga sering terjadi mati rasa pasca bedah.
Terdapat 6 kelompok kelenjar limfatik yang dikenali oleh ahli bedah yaitu kelompok
limfatik vena aksilaris, mammaria eksterna, skapular, sentral, subclavicular, dan interpektoral
(Rotters group). Sekitar 75% aliran limfatik payudara mengalir ke kelompok limfatik aksila,
sebagian lagi ke kelenjar parasternal (mammaria interna), terutama bagian sentral, medial dan
interpektoralis. Pada aksila, terdapat rata-rata 50 buah kelenjar getah bening yang berada di
sepanjang arteri dan vena brachialis.
4
Jika dilakukan perabaan pada payudara, akan terasa perbedaan di tempat yang berlainan.
Pada bagian lateral atas (dekat aksila), cenderung terasa bergumpal-gumpal besar. Pada bagian
bawah, akan terasa seperti pasir atau kerikil. Sedangkan bagian di bawah puting susu, akan
terasa seperti kumpulan biji yang besar. Namun, perabaan ini dapat berbeda pada orang yang
berbeda.

Aliran Limfe
Aliran limfe mammaria secara praktis dibagi menjadi kuadran-kuadran. Kuadran lateral
mengalirkan cairan limf nya ke nodi axillares anteriores atau kelompok pectorales (terletak
tepat posterior terhadap pinggir bawah musculus pectoralis mayor). kuadran medial
mengalirkan cairan limf nya melalui pembuluh-pembuluh yang menembus ruangan
intercostalis dan masuk ke dalam kelompok nodi thoracales internae (terletak di dalam cavitas
thoracis di sepanjang arteria thoracica interna). Beberapa pembuluh limf mengiktui arteriae
intercostales posteriores dan mengalirkan cairan limf nya ke posterior ke dalam nodi
intercostales posteriores (treletak di sepanjang arteriae intercostales posteriores); beberapa
pembuluh berhubungan dengan pembuluh limf dari payudara sisi yang lain dan berhubungan
juga dengan kelenjar di dinding anterior abdomen.

Gambar 3. Aliran limf Kelenjar mammae

5
2.1.2. Fisiologi Payudara
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai hormon. Estrogen diketahui
merangsang perkembangan duktus mamilaris. Progesterone memulai perkembangan
lobules-lobulus payudara. Prolaktin merangsang laktogenesis.
Perubahan pertama dimulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, lalu masa
fertilitas, sampai klimakterium, hingga menopause.
1. Sejak pubertas, pengaruh estrogen dan progesterone yang diproduksi ovarium dan
juga hormon hipofisis menyebabkan berkembangnya duktus dan timbulnya asinus.
Pubertas terjadi pembesaran payudara yang diakibatkan karena bertambahnya
jaringan kelenjar dan deposit jaringan lemak.
2. Perubahan selanjutnya terjadi sesuai dengan daur haid. Siklus menstruasi pada fase
premenstruasi akan terjadi pembesaran vascular dan pembesaran kelenjar,
kemudian akan terjadi regresi kelenjar pada fase pasca menstruasi. Sekitar haid hari
ke-8, payudara membesar dan pada beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi
pembesaran maksimal. Kadang, timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata.
3. Pada kehamilan, payudara membesar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus
berproliferasi dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis
anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus,
kemudian dikeluarkan melalui duktus ke putting susu yang dipicu oleh oksitosin.
Pada kehamilan tua dan setelah melahirkan, payudara menghasilkan kolostrum
sampai sekitar 3-4 hari postpartum, kemudian sekresi susu dimulai sebagai respon
terhadap rangsang penghisapan dan bayi (sucking reflex).
4. Pada saat menopause, terjadi perubahan pada payudara yaitu lobulus beinvolusi
serta lemak menggantikan parenkim.

6
2.2.FIBROADENOMA MAMMAE
2.2.1. Definisi
Fibroadenoma mammae (FAM) adalah tumor neoplasma jinak payudara yang terdiri dari
campuran elemen kelenjar (grandular) dan elemen stroma (mesenkhimal) yang terbanyak
adalah komponen jaringan fibrous.

2.2.2. Epidemiologi
Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia remaja
atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan dari NSW Breast Cancer Institute, fibroadenoma
umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas
50 tahun, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma.

2.2.3. Etiologi
Penyebab fibroadenoma mammae belum diketahui secara jelas, kemungkinan akibat
perubahan hormonal. Biasanya ukurannya akan meningkat pada saat menstruasi atau pada saat
hamil karena produksi hormon estrogen meningkat. Estrogen meningkatkan substansi dasar
stroma yang mempunyai kecenderungan reorganisasi fibrosa. Selain itu fibroadenoma
mammae dapat juga dipengaruhi genetik dan juga faktor predisposisi berupa :
a. Usia : < 30 tahun
b. Jenis kelamin
c. Pekerjaan
d. Diet
e. Stress

2.2.4. Patofisiologi
Fibroadenoma adalah tumor jinak yang menggambarkan suatu proses hiperplasia dan
proliferasi pada satu duktus terminal, perkembangannya dihubungkan dengan suatu proses
aberasi perkembangan normal. Penyebab proliferasi duktus tidak diketahui, diperkirakan sel
stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang mempengaruhi sel epitel.
Peningkatan mutlak aktivitas estrogen, diperkirakan berperan dalam pembentukannya.
Pada masa remaja, fibroadenoma dapat dijumpai dalam ukuran yang besar.
Fibroadenoma jarang ditemukan pada wanita yang telah mengalami menopause dan dapat
terbentuk gambaran kalsifikasi kasar. Sebaliknya, fibroadenoma dapat berkembang dengan
cepat selama proses kehamilan, pada terapi pergantian hormon, dan pada orang-orang yang

7
mengalami penurunan kekebalan imunitas, bahkan pada beberapa kasus, dapat menyebabkan
keganasan.

2.2.5. Manifestasi Klinik


Manifestasi klinis dari fibroadenoma mammae antara lain:
1. Benjolan pada payudara yang lambat membesar
2. Bentuk bulat/lonjong
3. Single atau multiple pada satu atau kedua payudara
4. Permukaan halus
5. Konsistensi kenyal padat
6. Batas tegas
7. Mobilitas baik
8. Sering tidak disertai nyeri

2.2.6. Diagnosis
1. Anamnesis
a. Usia muda
b. Merasa ada benjolan di payudara yang sudah cukup lama diketahui
c. Benjolan sering tidak disertai rasa nyeri, benjolan di payudara terasa mobile
2. Pemeriksaan Fisik
a. Biasanya benjolan tidak terlalu besar
b. Dapat tunggal atau multiple
c. Pada palpasi: terasa tumor kenyal padat, berbatas tegas, permukaan halus meskipun
kadang-kadang berdungkul, sangat mobile, tidak nyeri tekan, dan tidak teraba
pembesaran kelenjar getah bening axilla ipsilateral.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. USG
Pada USG payudara akan terlihat massa yang homogen, berbatas tegas dengan
halo sign dengan internal echo yang normo atau hiper yang merupakan gambaran
pseudokapsul yang disebabkan penekanan dari jaringan disekitarnya, untuk
membedakan tumor solid dan kusta.

8
Gambar 4. USG fibroadenomamammae
b. Mammografi
a) Biasanya dilakukan pada wanita berusia 35 tahun, dan adanya kecurigaan
keganasan
b) Pada fibroadenoma memiliki densitas yang sama seperti jaringan sekitarnya
c) Dapat tampak konstipasi yang merupakan tanda keganasan
Mammography sangat berguna untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua
sekitar 60 atau 70 tahun, sedangkan pada wanita usia muda tidak digunakan
mammography, sebagai gantinya digunakan USG, hal ini karena fibroadenoma pada
wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik bila menggunakan
mammography.
Mammography merupakan suatu teknik pemeriksaan soft tissue. Adanya proses
keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer yaitu
jaringan berfibrosis reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran VE dan
rontgenologik dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa retraksi,
penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi palpila dan areola
adanya bridge of tumor, keadaan daerah dan jaringan fibroglanduler tidak teratur,
infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mammae dan adanya metastis ke kelenjar.
Mammografi ini dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi
sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Hanya saja untuk skrining masal cara
ini adalah cara yang mahal dan dianjurkan digunakan secara selektif saja misalnya pada
wanita dengan adanya faktor resiko. Ketetapan 83-95%, tergantung dari teknis dan ahli
radiologinya.

9
c. Histopatologi
Secara makroskopis, semua tumor teraba padat dengan warna cokelat putih
pada irisan, dengan bercak bercak kuning merah muda yang mencerminkan daerah
kelenjar.

Gambar 5. Makroskopik Fibroadenoma Payudara

Secara histologis, tumor terdiri atas jaringan ikat dan kelenjar dengan berbagai
proporsi dan variasi. Tampak storma fibroblastik longgar yang mengandung rongga
mirip duktus berlapis sel epitel dengan ukuran dan bentuk yang beragam. Rongga yang
mirip duktus atau kelenjar ini dilapisi oleh satu atau lebih lapisan sel yang reguler
dengan membran basal jelas dan utuh. Meskipun di sebagian lesi duktus terbuka, bulat
hingga oval dan cukup teratur (fibroadenoma perikanalikularis), sebagian lainnya
tertekan oleh proliferasi ekstensif stroma sehingga pada potongan melintang rongga
tersebut tampak sebagi celah atau struktur ireguler mirip bintang (fibroadenoma
intrakanalikularis).

Gambar 6. Gambaran Mikroskopik Fibroadenoma

10
2.2.7. Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari fibroadenoma, antara lain:
A. Kista Mammae
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular. Kista terbentuk dari cairan yang
berasal dari kelenjar payudara. Mikrokista terlalu kecil untuk dapat diraba, Kista tidak dapat
dibedakan dengan massa lain pada mammae dengan mammografi atau pemeriksaan fisis dan
ditemukan hanya bila jaringan tersebut dilihat di bawah mikroskop. Jika cairan terus berkembang
akan terbentuk makrokista. Makrokista ini dapat dengan mudah diraba dan diameternya dapat
mencapai 1 sampai 2 inchi.

INSIDENS : Dikatakan bahwa kista ditemukan pada 1/3 dari wanita berusia antara 35 sampai 50
tahun, dan menurun setelah wanita melewati masa menopause.

ETIOPATOGENESIS : Kista Mammae seperti fibroadenoma, kista mammae merupakan suatu


kelainan dari fisiologi normal lobular. Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum
diketahui pasti walaupun terdapat bukti yang mengaitkan pembentukan kista ini akibat perubahan
hormonal. Patogenesis dari kista mammae ini masih belum jelas. Penelitian awal menyatakan bahwa
kista mammae terjadi karena distensi duktus atau involusi lobus. Sewaktu proses ini terjadi, lobus
membentuk mikrokista yang akan bergabung menjadi kista yang lebih besar; perubahan ini terjadi
karena adanya obstruksi dari aliran lobus dan jaringan fibrous yang menggantikan stroma. Namun,
penelitian lain menyebutkan bahwa kista payudara ini tampaknya berasal dari destruksi dan dilatasi
lobulus dan duktus terminalis payudara

GAMBARAN KLINIS : Karakteristik kista mammae adalah licin dan teraba kenyal pada palpasi.
Kista dapat tunggal maupun multipel, unilateral atau bilateral dan biasanya terasa nyeri bila di
palpasi. Kista teraba sebagai massa yang berbatas jelas, mobile, dan berisi cairan. Gambaran

11
klasik dari kista ini bisa menghilang jika kista terletak pada bagian dalam mammae. Jaringan normal
dari nodular mammae yang meliputi kista bisa menyembunyikan gambaran klasik dari lesi yakni
licin semasa dipalpasi.

DIAGNOSIS : Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui pemeriksaan klinis , aspirasi sitologi
dan ultrasonografi. Kista biasanya berisi cairan yang keruh dan debris. Cairan dari kista bisa berbeda
warnanya, mulai dari kuning pudar sampai hitam, kadang terlihat translusen dan bisa juga kelihatan
tebal dan bengkak.

PENATALAKSANAAN : Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. Namun terapi ini
sudah tidak dilakukan karena simple aspiration sudah memadai. Terdapat dua cardinal rules bagi
menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni (1) massa menghilang secara keseluruhan setelah
diaspirasi dan (2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah. Sekiranya kondisi ini tidak
terpenuhi, ultrasonografi, needle biopsy dan eksisi direkomendasikan. Terdapat dua indikasi untuk
dilakukan eksisi pada kista. Indikasi pertama adalah sekiranya cairan aspirasi mengandungi darah (
selagi tidak disebabkan oleh trauma dari jarum ), kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang
sangat jarang ditemukan. Indikasi kedua adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi karena
aspirasi yang tidak adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum dilakukan eksisi.

B. Papilloma Intraduktus
Papilloma Intraduktus merupakan tumor benigna pada epithelium duktus mammae dimana
terjadinya hipertrofi pada epithelium dan mioepithelial. Tumor ini bisa terjadi disepanjang sistem
duktus dan predileksinya adalah pada ujung dari sistem duktus yakni sinus lactiferous dan duktus
terminalis.
INSIDENS : Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada wanita paramenopausal
atau postmenopausal dengan insidens tertinggi pada dekade ke enam.

ETIOPATOGENESIS : Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini masih belum jelas. Dari
kepustakaan dikatakan bahwa, Papilloma Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel
fibrokistik yang hiperplasia.

GAMBARAN KLINIS : Hampir 90% dari papilloma intraduktus adalah dari tipe soliter. Papilloma
Intraduktus soliter sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang dengan
nipple discharge yang serous dan bercampur darah. Ada juga pasien yang datang dengan keluhan
massa pada area subareola walaupun massa ini lebih sering ditemukan pada pemeriksaan fisis.
Massa yang teraba sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi.

12
GAMBARAN HISTOLOGI : Secara histologi, tumor ini terdiri dari papilla multipel yang masing-
masing terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi sel epitel kuboidal atau silinder yang biasanya terdiri
dari dua lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel.

PENATALAKSANAAN : Umumnya, pasien diterapi secara konservatif dan papilloma serta nipple
discharge dapat menghilang secara spontan dalam waktu beberapa minggu. Apabila hal ini tidak
berlaku, eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan. Eksisi duktus terminal merupakan prosedur
bedah pilihan sebagai penatalaksanan nipple discharge. Pada prosedur ini,digunakan anestesi lokal
dengan atau tanpa sedasi. Tujuannnya adalah untuk eksisi dari duktus yang terkait dengan nipple
discharge dengan pengangkatan jaringan sekitar seminimal mungkin. Apabila lesi benigna ini
dicurigai mengalami perubahan kearah maligna, terapi yang diberikan adalah eksisi luas disertai
radiasi.

C. Perubahan Fibrokistik
Penyakit fibrokistik atau yang dulu dikenal sebagai kelainan fibrokistik adalah benjolan payudara
yang sering dialami oleh sebagian besar wanita dan bukanlah merupakan suatu kelainan. Kelainan
fibrokistik timbul pada berbagai usia, terjadi akibat ketidakseimbangan hormonal, dan terkait dengan
proses penuaan alami. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Kelainan fibrokistik pada
payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan jaringan fibrous dan glandular.

INSIDENS : Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (>50%).

GAMBARAN KLINIS : Gejala kelainan fibrokistik yang membuat pasien datang ke dokter antara
lain bengkak, adanya benjolan yang kadang nyeri bila disentuh, adanya pengerasan sebelum periode
haid, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan
pada payudara membesar sesaat sebelum menstruasi. Kelainan ini terdapat benjolan fibrokistik
biasanya multipel, keras, adanya kista, fibrosis, benjolan konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan
rasa nyeri. Kista dapat membesar dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena
hubungannya dengan perubahan hormonal tiap bulannya.

DIAGNOSIS : Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram, atau
biopsi. Biopsi dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker. Perubahan
fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas maupun bawah..
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan dengan seksama untuk
membedakannya dengan keganasan. Pemeriksaan patologis kelainan fibrokistik dapat memiliki lima
belas macam gambaran antara lain adenosis, epiteliosis, fibrosis stroma, kista multipel yang disertai
fibrosis, hingga metaplasia dan hiperplasia epitelial.

13
Apabila melalui pemeriksaan fisik didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama
berada di bagian atas-luar payudara tanpa ada benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan
mammogram dan pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan
dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya diperiksakan tes hemoccult untuk
pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari
beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut jinak.

PENATALAKSANAAN : Medikamentosa simptomatis, operasi apabila medikamentosa tidak


menghilangkan keluhannya dan ditemukan pada usia pertengahan sampai usia lanjut.

D. Tumor Filoides (Sistosarkoma filoides)


Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes adalah tumor fibroepitelial yang
ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan komponen epitel dan berasal dari
jaringan penyokong nonepitel. Benjolan ini jarang bilateral dan biasanya muncul sebagai benjolan
yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor filodes
biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang cepat. Tumor filoides
merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal dan mungkin ganas (10-
15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran yang besar.

INSIDENS : Tumor ini terdapat pada semua usia, kebanyakan pada usia sekitar 30 tahun.

GAMBARAN KLINIS : Tumor filoides adalah tipe yang jarang dari tumor payudara, yang hampir
sama dengan fibroadenoma yaitu terdiri dari dua jaringan, jaringan stroma dan glandular. Berbentuk
bulat lonjong dengan permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas dengan ukuran yang lebih besar
dari fibroadenoma. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan biasanya
muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi,
meskipun tumor filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang
cepat.

PENATALAKSANAAN : Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan pengangkatan


tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara sekitar yang normal. Jika tumor sudah
besar, biasanya perlu dilakukan mastektomi simpel. Sedangkan tumor filoides yang ganas dengan
batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi radikal walaupun mungkin bermetastasis secara
hematogen seperti sarkoma.

14
E. Adenosis Sklerosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan fibrokistik.
Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjar-kelenjar yang lebih banyak
dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama lain, maka kumpulan lobulus
dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba. Adenosis sklerotik adalah tipe khusus dari adenosis
dimana pembesaran lobulus disertai dengan parut seperti jaringan fibrous.
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis agregasi, atau
tumor adenosis. Sangat penting untuk digarisbawahi walaupun merupakan tumor, namun kondisi ini
termasuk jinak dan bukanlah kanker.

GAMBARAN KLINIS : Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas sehingga dapat diraba,
dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker melalui pemeriksaan fisik payudara.
Perubahan histologis berupa proliferasi (proliferasi duktus) dan involusi (stromal fibrosis, regresi
epitel). Adenosis sklerosis dengan karakteristik lobus payudara yang terdistorsi dan biasanya muncul
pada mikrokista multipel, tetapi biasanya muncul berupa massa yang dapat terpalpasi. Kalsifikasi
dapat terbentuk pada adenosis, adenosis sklerotik, dan kanker, sehingga makin membingungkan
diagnosis.
PENATALAKSANAAN : Biopsi melalui aspirasi jarum halus biasanya dapat menunjukkan apakah
tumor ini jinak atau tidak. Namun dengan biopsi melalui pembedahan dianjurkan untuk memastikan
tidak terjadinya kanker.

G. Galaktokel
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil atau
menyusui atau dengan kata lain merupakan dilatasi kistik suatu duktus yang tersumbat yang
terbentuk selama masa laktasi. Galaktokel merupakan lesi benigna yang luar biasa pada payudara
dan merupakan timbunan air susu yang dilapisi oleh epitel kuboid. Seperti kista lainnya, galaktokel
tidak bersifat seperti kanker.

GAMBARAN KLINIS : Biasanya galaktokel tampak rata, Kista menimbulkan benjolan yang nyeri
dan mungkin pecah sehingga memicu reaksi peradangan lokal serta dapat menyebabkan
terbentuknya fokus indurasi persisten. Benjolan dapat digerakkan (mobile) dan berbatas jelas

DIAGNOSIS : Untuk menegakkan diagnosa dilakukan skrining sonografi, dimana akan terlihat
penyebaran dan kepadatan tumor tersebut.

15
PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan galaktokel dilakukan dengan aspirasi jarum halus
untuk mengeluarkan sekret susu. Pembedahan dilakukan jika kista terlalu kental dan sulit di aspirasi
atau jika terjadi infeksi pada galaktokel tersebut.
F. Ductus Ectasia
Ektasia duktus merupakan lesi benigna yang ditandai adanya pelebaran dan pengerasan dari
duktus. Kelainan ini merupakan kelainan jinak akibat kerusakan elastin dinding duktus payudara,
diikuti infiltrasi sel radang dan hasil akhirnya adalah dilatasi dan pemendekan duktus.

INSIDENS : Ektasia duktus adalah kondisi yang biasanya menyerang wanita usia sekitar 40 sampai
50 tahun dan di anggap sebagai variasi normal proses payudara wanita usia lanjut

GAMBARAN KLINIS : Adanya massa berupa ductus yang membesar dicirikan dengan sekresi
puting yang berwarna hijau atau hitam pekat, dan lengket. Pada puting serta daerah disekitarnya
akan terasa sakit serta tampak kemerahan dan teraba adanya massa berupa duktus yang membesar.
Retraksi puting kadang juga dapat terjadi.

PENATALAKSANAAN : Kondisi ini umumnya tidak memerlukan tindakan apapun, atau dapat
membaik dengan melakukan pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat antibiotik. Apabila
keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat melalui pembedahan dengan cara
insisi pada tepi areola. Eksisi duktus dapat dilakukan seandainya cairan yang keluar dari puting
sangat banyak dan sangat mengganggu.

G. Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa terjadi spontan atau
akibat dari cedera yang mengenai payudara. Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara
yang rusak, daerah yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan parut.

GAMBARAN KLINIS : Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak
membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata.

DIAGNOSIS : Karena kebanyakan kanker payudara berkonsistensi keras, daerah yang mengalami
nekrosis lemak dengan jaringan parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika hanya dari
pemeriksaan fisik ataupun mammogram sekalipun.
GAMBARAN HISTOPATOLOGIS : Terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian menjadi
fibrosis.

PENATALAKSANAAN : Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan pembedahan eksisi

16
2.2.8. Penatalaksanaan
Operasi merupakan satu-satunya pengobatan untuk fibroadenoma. Operasi dilakukan
sejak dini, hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi payudara dan untuk menghindari bekas
luka. Pemilihan tipe insisi dilakukan berdasarkan ukuran dan lokasi dari lesi di payudara.

2.2.9. Prognosis
Prognosis dari penyakit ini baik, walaupun penderita mempunyai resiko yang tinggi
untuk menderita kanker payudara. Bagian yang tidak diangkat harus diperiksa secara teratur.

17
BAB III
KESIMPULAN

1. Payudara merupakan sekumpulan kelenjar kulit yang terletak pada costae dua sampai
costae enam, dari tepi lateral sternum sampai linea axilaris media.
2. Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama
dimulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke
klimakterium, dan menopause.
3. Fibroadenoma mammae (FAM) adalah tumor neoplasma jinak payudara yang terdiri dari
campuran elemen kelenjar (grandular) dan elemen stroma (mesenkhimal) yang terbanyak
adalah komponen jaringan fibrous
4. Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia remaja
atau sekitar 20 tahun.
5. Penyebab fibroadenoma mammae belum diketahui secara jelas, kemungkinan akibat
perubahan hormonal.
6. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
7. Operasi merupakan satu-satunya pengobatan untuk fibroadenoma.
8. Prognosis dari penyakit ini baik

18
DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Penerbitan Media Aesculapius
FKUI. 2008

Crum Christoper P., Lester Susan C., Cotran Ramzi S. Sistem Genitalia Perempuan dan
Payudara. Dalam : Robbins, Stanley L., Kumar Vinay., Cotran Ramzi S. Robbins Buku Ajar
Patologi. Volume 2. Edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2007.

Robbins Stanley L., Kumar Vinay., Cotran Ramzi S. Robbins Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta : EGC. 2010

Sjamsuhidajat R., De jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2012.

Fleischer Arthur C., Cullinan Jeanne A. Ultrasonography in Obsetrics and Gynaecology;


Obsetric Radiology. In : Grainger Ronald G., Allison David. Grainger & Allisons Diagnostic
Radiology : A Textbokk of Medical Imaging. Third Edition. Churchill Livingstone. New
York. 1997

19