You are on page 1of 7

BAB 2.

PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Hutan di Indonesia

Indonesia diberkahi dengan hutan-hutan tropis terluas dan beragam hayati


di dunia. Puluhan juta rakyat Indonesia secara langsung bergantung pada hutan-
hutan ini untuk kehidupan mereka, entah itu mengumpulkan hasil hutan untuk
kebutuhan sehari-hari atau bekerja di sektor pengolahan kayu. Hutan-hutan ini
adalah rumah bagi banyak flora dan fauna yang tak tertandingi di negara dengan
ukuran yang sebanding manapun. Bahkan saat ini, hampir setiap ekspedisi ilmiah
yang dilakukan di hutan tropis Indonesia kembali dengan penemuan spesies baru.

Namun tragedi sedang berlangsung di Indonesia. Negara ini sekarang


berada pada pusat perhatian dunia, dengan kemarahan domestik dan internasional
atas kerusakan yang merajalela pada sumber daya alam yang besar. "Keajaiban
ekonomi" di Indonesia dari tahun 1980-an dan 1990-an ternyata telah didasarkan,
sebagiannya, pada kehancuran ekologis dan penyalahgunaan hak dan adat istiadat
masyarakat setempat. Sebagai contoh, salah satu sektor yang paling cepat
berkembang di negara itu, industri pulp dan kertas, belum mendirikan perkebunan
yang diperlukan untuk menyediakan pasokan yang cukup dari kayu pulp.
Sebaliknya, penghasil pulp sebagian besar bergantung pada pembukaan hutan
alam. Perekonomian tersebut dipenuhi oleh pelanggaran hukum dan korupsi.

Penebangan liar telah merajalela selama bertahun-tahun dan diyakini telah


menghancurkan sekitar 10 juta hektar hutan. Industri pengolahan kayu di
Indonesia beroperasi di ketidakjelasan hukum, dimana perusahaan-perusahaan
besar yang---sampai krisis ekonomi tahun 1997---menarik miliaran dolar investasi
dari Barat, memperoleh lebih dari setengah pasokan kayu dari sumber-sumber
ilegal. Kayu secara rutin diselundupkan melintasi perbatasan ke negara-negara
tetangga, membuat jutaan dolar pendapatan pemerintah Indonesia hilang setiap
tahunnya.
Meskipun bukti-bukti kehancuran yang dikumpulkan menggunung,
keluruhan gambaran telah dibuat rumit oleh data yang bertentangan, dis-
informasi, klaim-klaim dan tandingannya. Kebutuhan untuk penilaian yang
objektif dari situasi ini sudah mendesak - kebutuhan akan informasi dasar yang
kuat untuk setiap individu dan organisasi yang berusaha membawa perubahan
yang positif.

Kesulitan mendapatkan data dirasa sangat besar, namun laporan ini dibuat
untuk memenuhi kebutuhan itu. Laporan ini memberikan ringkasan yang
komprehensif tentang skala dan laju perubahan yang memengaruhi hutan
Indonesia dan mengidentifikasi kekuatan dan para pelaku yang menyebabkan
deforestasi. Forest Watch Indonesia dan Global Forest Watch telah
mengumpulkan data resmi terbaik yang tersedia beserta laporan dari pemerhati
lingkungan di lapangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

1) Berapa banyak hutan Indonesia yang tersisa, dan berapa banyak yang telah
hilang selama 50 tahun terakhir?
2) Bagaimana kondisi hutan yang masih tersisa saat ini?
3) Apa kekuatan pendorong utama di belakang deforestasi, dan siapa yang
merupakan pelaku utama?
4) Mengingat kondisi politik dan ekonomi saat ini di Indonesia, bagaimana
prospek reformasi kebijakan kehutanan?

Donor bilateral dan multilateral utama sekarang bekerja secara aktif


dengan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan strategi dan rencana aksi
untuk melakukan reformasi. Kementerian Kehutanan Indonesia berkomitmen
untuk menerapkan tindakan spesifik di tingkat nasional dan baru-baru ini
mengesahkan rencana berskala besar untuk memerangi penebangan liar.

Namun walaupun reformasi kebijakan saat ini berhasil, sangat jelas bahwa
Indonesia berada dalam masa transisi dari negara yang kaya akan hutan ke negara
yang miskin akan hutan, seperti yang telah terjadi di Filipina dan Thailand.
Jutaan hektar bekas hutan sekarang tertutup sisa-sisa hutan yang telah
terdegradasi, semak belukar, dan rumput alang-alang disana-sini. Dengan
hilangnya hutan, Indonesia kehilangan keanekaragaman hayati, pasokan kayu,
pendapatan, dan jasa ekosistem.

Lahan hutan yang rusak dapat ditanami kembali dan dikelola oleh manusia
untuk menyediakan kayu, hasil kebun, buah-buahan, dan produk-produk non-kayu
lainnya. Jasa ekosistem seperti pengaturan air tawar dan retensi tanah dapat
dikembalikan. Bagian dari tragedi di hutan Indonesia adalah bahwa saat ini
program hutan tanaman industri dan sistem konversi hutan ke perkebunan belum
memberikan kontribusi untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan justru
mempercepat deforestasi.

Secara resmi, keputusan dalam sektor kehutanan tidak lagi berorientasi


pada pembukaan dan konversi lahan tetapi, dalam kenyataannya, pembukaan dan
konversi masih terus dipraktekkan. Sistem ini harus direstrukturisasi dengan
mengharuskan pembangunan perkebunan baru di wilayah lahan kritis yang sudah
tersedia untuk penanaman. Persyaratan ini harus ditegakkan. Indonesia berada di
persimpangan jalan di mana banyak sumber daya alam yang telah hancur atau
rusak, tapi masih banyak juga yang terjaga. Pengembangan lahan perkebunan
untuk memasok kayu dan ekspor tanaman berharga adalah bagian penting dari
strategi ekonomi negara.

Dalam tahun-tahun mendatang, jalan termudah adalah dengan terus


mengizinkan operasi penebangan dan perkebunan - dan membiarkan semakin
banyak tanah disia-siakan seiring pengembangannya -- dan kemudian terus
merambah ke hutan-hutan alam yang tersisa, dan memberikan keuntungan bagi
pengembang dengan profit besar secara cuma-cuma. Jalan yang lebih sulit namun
berkelanjutan adalah merebut kembali lahan yang saat ini menganggur dan
melestarikan hutan primer yang masih tersisa. Enam puluh empat juta hektar
hutan telah ditebang selama 50 tahun terakhir. Tidak ada pembenaran ekonomi
maupun etika untuk membiarkan 64 juta hektar lagi hilang selama 50 tahun ke
depan.

2.2 Jenis Jenis Hutan di Indonesia

Oleh karena Indonesia beriklim tropis dan banyak mendapat hujan,


wilayah ini mempunyai hutan-hutan lebat yang disebut hutan hujan tropis. Di
Indonesia terdapat beberapa macam hutan, seperti berikut ini.

1) Hutan hujan tropis, terdapat di daerah yang banyak mendapat hujan.


Pohon-pohon dalam hutan ini berdaun rindang dan lantai hutan gelap
karena sinar matahari tidak dapat menembus daun-daun rindangnya.
Tanah dan udara dalam hutan lembap karena uap airnya sukar naik
terevaporasi ke atas. Pohon-pohon dalam hutan tersebut sering dibelit oleh
tumbuhan sulur, seperti rotan.

2) Hutan musim, terdapat di daerah yang dipengaruhi iklim musim. Selama


musim kemarau, daun pohon-pohon di hutan musim ini banyak yang
gugur sehingga meranggas. Sebaliknya, setelah musim penghujan daun
pohon-pohon hutan musim lebat kembali. Hutan musim sering juga
disebut hutan homogen karena terdiri atas satu jenis tumbuhan saja.

3) Hutan bakau, terdapat di dataran rendah pantai yang banyak lumpurnya.


Pohon bakau mempunyai akar menjulang di atas permukaan air pada
waktu air laut surut dan terendam pada waktu air laut pasang. Akar pohon
bakau dapat menahan abrasi (kikisan ombak) air laut.

4) Hutan sabana (stepa), terdapat di daerah kurang hujan. Hutan sabana


merupakan padang rumput (stepa) yang di sebagian tempat terdapat hutan
dengan pohon-pohon yang rendah. Hutan ini banyak terdapat di daerah
Nusa Tenggara dan dimanfaatkan sebagai lahan usaha peternakan sapi dan
kuda.

Berbagai jenis hutan yang ada di Indonesia tersebut memiliki manfaat


antara lain sebagai berikut.

1) Mencegah erosi dan tanah longsor, karena akar-akar pohon memiliki daya
ikat terhadap butiran-butiran tanah.
2) Menjaga keseimbangan air tanah, karena curah hujan yang jatuh di daerah
hutan akan lebih banyak menjadi pengisi air tanah.
3) Menyimpan dan mengatur persediaan air, sebab akar-akar pohon di hutan
mampu menghambat dan menahan jalannya air yang masuk ke dalam
tanah.
4) Menyuburkan tanah, karena daun-daun yang berguguran dapat membentuk
tanah humus.
5) Menghasilkan bahan mentah untuk industri dan bahan bangunan, antara
lain rotan, dapat digunakan untuk industri dan bahan bangunan seperti
kamper (barus), dapat dipakai untuk wangi-wangian dan obatobatan;
damar, dapat diolah menjadi cat, pernis, lak; kopal (arpus), dapat dibuat
cat yang baik; getah perca, dapat dipakai sebagian bahan alat-alat
laboratorium, bola golf, pembalut kabel; dan jelutung, merupakan bahan
mentah industri kimia.
6) Mengurangi polusi udara, karena daun-daun pohon mampu menyerap gas-
gas polutan sehingga udara di sekitar hutan segar dan bersih.

2.3 Upaya Merevitalisasi Hutan di Indonesia

Revitalisasi hutan menjadi satu satunya alasan paling rasional saat ini di
gunakan sebagai bentuk penyelamatan terhadap hutan . Kamus Besar Bahasa
Indonesia memberi arti revitalisasi sebagai proses, cara, dan perbuatan
menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya.
Revitalisasi berarti menjadikan suatu perbuatan menjadi vital. Sedangkan vital
mempunyai arti yang sangat penting atau perlu sekali untuk kehidupan dan
sebagainya (Djoko santoso 2014). Jadi pengertian revitalisasi hutan adalah usaha
usaha untuk menjadikan hutan sebagai sesuatu yang sangat penting didalam
kehidupan manusia.

Menjadikan hutan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi manusia


berarti mensinergikan berbagai usaha usaha manusia dan mempertimbangkan
semua aspek secara kontemporer , aktif dan terintegrasi agar terciptanya daya
dukung lingkungan.

Upaya sinergitas lintas sektoral yaitu antara masyarakat , kementrian


lingkungan hidup dan kehutanan sangat penting dalam mendorong upaya
revitalisasi. Dalam kerjasama lintas sektoral ini pemerintah melalui kementrian
lingkungan hidup dan kehutanan berupaya mengandeng seluruh lapisan
masyarakat khususnya yang bermukim di sekitar hutan untuk sama sama
menjaga dan melestarikan hutan . Masyarakat harus diberikan pemahaman dan
penyadaran mengenai dampak kerusakan hutan bagi kelangsungan hidupan
mereka. Dengan membangun kesadaran yang demikian inilah di harapkan pada
tahun tahun kedepan masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya
melestarikan lingkungan hutan .

Apabila lingkungan hutan terpelihara dengan baik maka akan banyak


manfaat yang dapat kita rasakan terkhusus bagi masyarakat yang bermukim di
sekitar hutan, dimana masyarakat bisa mengambil dan memanfaatkan ranting-
ranting pepohonan yang kering untuk memasak ,bahkan dapat mengunakan kayu
pepohonan untuk membangun rumah, dan sebagainya yang bermanfaat tanpa
merusak ekosistem itu sendiri, karena itu semua merupakan rahmat dari Allah
SWT yang harus kita pergunakan dan kita jaga dengan sebaik- baiknya.

Hutan merupakan kekayaan alam yang di berikan oleh tuhan untuk


segenap rakyat Indonesia yang di peruntukan untuk sebesar besarnya manfaat
sebagaimana juga yang tertuang di dalam pasal 33 ayat 3 bahwa bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan di
pergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat .

Oleh karena itu, kita semua harus bertanggung jawab melindungi dan
melestarikan hutan. Jangan sampai ada oknum oknum tertentu yang dengan
seenaknya mengeksploitasi hutan Indonesia. Menjaga hutan berarti menjaga
kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuh tumbuhan dan seluruh mahluk
hidup dari kepunahannya.