You are on page 1of 3

Review Pendekatan Fenomenologis Alfred Schutz

Alfred Schutz merupakan ahli ekonomi, filsuf dan juga seorang pengacara. Pemikir asal
Wina, Austria-Hungaria ini bertindak sebagai propagandis sosiologi fenomenologi dalam
beberapa karyanya seperti The Phenomenology Of The Social World (1967), Collected Papers
(1962,1964, dan 1966) juga Reflections On The Problem Of Relevance (1970).
Teori pendekatan fenomenologi Schutz menitikberatkan pada pengalaman sosial
individu. Ia memakai konsep filsafat Husserl sebagai metode memeriksa dan menganalisis
kehidupan batiniah individu, berupa pengalaman-pengalaman mengenai fenomena atau
penampakan-penampakan sebagaimana terjadi dalam hal yang disebut arus kesadaran.
Dilihatnya proses pembentukan pengalaman individu lebih bersifat intensional yang melibatkan
orang lain pada perspektif objektif (pengalaman masa lalu dan tingkat pengetahuan). Objek-
objek di dunia kehidupan dianggap telah mereduksi pengalaman pada prasangka-prasangka,
sehingga perlu dibersihkan dengan proses refleksi pengalaman atas fenomena. Schutz
memfokuskan pemikirannya pada titik proses pereduksian fenomena dan analisis psikologis
terhadap pengalaman individu akan orang lain. Metode yang dilakukan dengan refleksi
pengalaman sosial, yakni kesadaran individu sendiri yang berinteraksi dengan orang lain.
Sehingga dalam memahami kehidupan sosial, individu harus dapat menanggalkan sesuatu yang
berada diluar pengalaman hidupnya dan melihat objek-objek hanya berdasarkan praktek
pengalaman indivudu sehari-hari.
Menurut Schutz, hakikat manusia merupakan pengalaman subjektif pada tindakan dan
pengambilan sikap. Manusia senantiasa bertindak atas kesadaran dirinya untuk tujuan yang telah
dicita-citakannya. Sebagaimana Husserl, Alfred Schutz juga menginterpretatifkan bahwa
aktualisasi tindakan manusia hanya dipahami lewat refleksi atas tindakannya dimasa lampau
yang kemudian manusia memaknai tindakan itu sendiri. Akan tetapi masalahnya adalah ingatan
itu subtansinya tidak dapat menciptakan kembali pengalaman hidup yang masih diingat.
Kejadian lalu tidak akan bisa dihadirkan sama persis pada kehidupan saat ini, sehingga
pengalaman masa lalu hanya dipecah-pecah dan diberi makna tanpa bisa direduksi. Tindakan
manusia menurut Schutz dengan sadar mengarah pada kepentingan pragmatis. Sebelumnya
manusia telah menetapkan segala sesuatunya akan orang-orang dan barang-barang sebagai
maksud dan tujuannya. Asumsinya manusia mempunyai hasrat untuk menguasai dunia dan
mengubah orang-orang lain sesuai kehendaknya. Individu harus mampu mendefinisikan
lingkungan sosialnya untuk dapat menetapkan, merumuskan, memetakan permasalahan agar
tujuan kepentinganya dapat diraih. Dalam mendifinisikan situasinya manusia menggunakan
persediaan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dikembangkan menurut pengalaman-
pengalamannya. Pendefinisian situasi melibatkan sebuah abstraksi dan formalisasi ini yang
kemudian disebut Schutz sebagai tipifikasi. Pada intinya teori Schutz tentang manusia
menjelaskan bahwa, meskipun manusia mewarisi ilmu pengetahuan yang tidak bisa mengontrol
tujuan itu, pada posisi tertentu manusia tidak hanya membangun dunianya sendiri tetapi juga
bertindak spontan atas proyek atau kepentingan tertentu.
Masyarakat dalam konsep Schutz merupakan komunitas linguistik yang berada melalui
simbol-simbol timbal-balik. Kehidupan indvidu sebagai intersubjektif kelompok-kelompok
yang memiliki makna-makna. Kelompok ini saling memahami satu sama lain dan bertindak
dengan motif serta realitas yang sama. Schutz menganggap bukan kesadara individu akan
pengalaman-pengalaman orang lain yang bersifat empati, tetapi secara fisik individu hadir
sebagai orang yang sedang menjalani kehidupan dunia yang sama. Pengalaman hadir sebagai
eksistensi alter-ego yang mencakup arus kesadaran bersama orang lain yang memungkinkan
untuk saling memahami dalam komunitasnya (consociates).
Individu yang disatukan oleh pengalaman bersama dan rasa memiliki dunia yng sama
yang berkembang menjadi sebuah komunitas, Schutz memandang perlunya sebuah pembaharuan
secara berkesinambungan menganai hubungan tatap muka dan komunikasi berdasarkan
tipifikasi. Saat ditengah masyarakat ada orang asing, bagaimana ini kemudian sarana belajar
mereka menghadapi struktur masyarakat. Anggota masyarakat juga membuat tipifikasi untuk
menyesuaikan atau mengintegrasikan orang asing tersebut. Sebagaimana di esai yang ditulis
Schutz The Homecomer, yang menyebutkan kepulangan seorang veteran untuk bisa
menyesuaikan dengan tipifikasi komunitasnya. Pengalaman dirinya dapat disatukan dengan
konstruksi pengalaman komunitas yang telah terbangun.
Melalui pengetahuan langsung eksitensi khas orang, kita menjalin hubungan yang
mencangkup pengalaman bersama di masa silam walau tidak demikian yang terjadi saat ini. Apa
yang selanjutnya disebut Schutz orang-orang sezaman. Hubungan interaksi pengalaman tidak
sampai batas tersebut, kemudian berkembang menjadi hubungan pengalaman dengan para
pendahulu atau penerus. Hubungan dibedakan menjadi 2, yakni hubungan langsung dan tidak
langsung. Hubungan langsung berbentuk saling tatap muka, entah di masa silam atau masa kini.
Sedangkan hubungan tidak labgsung merupakan hubungan dengan orang-orang sejaman yang
masih hidup.
Masyarakat adalah sebuah konstruksi ide-ide yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi
individu abstrak yang bersangkutan. Tipifikasi abstrak inilah yang membentuk sosio-kultural.
Pada tingkatan tersebut, mulai adanya aturan, peran dan institusi-institusi sebagai bahasa yang
menangkap tipifikasi abstrak. Analisi Schutz mengenai kesadaran indivudu dijelaskan bahwa
mereka berkomunitas (masyarakat) lebih didasarkan pada sebuah kekitaan. Akan tetapi juga
ada teori yang menganggap masyarakat sebagai sistem peran dan institusi yang harus bisa
manusia sesuaikan.
Persediaan pengetahuan bersama yang termanifestasikan berupa kerabat, usia, jenis
kelamin, kekuasaan dan status sosial merupakan konstruksi dan ide yang dipakai individu demi
kepentingan dan maksudnya. Schutz membuat kerangka gagasan antar praktek pengalaman
hidup seharu-hari dengan kegiatan ilmiah. Keduanya harus dibedakan dengan jelas. Praktek
pengalaman bersifat praktis sedangkan kegiatan ilmuan merupakan pencarian sesuatu secara
mendetail. Abstraksi dan objektivikasi kehidupan sehari-hari dipakai dalam studi ilmiah di
masyarakat. Dan tipifikasi-tipifikasi yang dipakai lebih sekedar sebagai pengamatan atau
mengubah kenyataan ssial. Ilmuan sosial diharapkan untuk mampu meninggalkan aspek
kenyataan-kenyataan praktis selama studi ilmiahnya agar lebih konsisten dan komprehensif. Jadi
pemikir sosial akhirnya membangun tipe ideal kepribadian dan aliran tindakan. Tipe ideal ini
mengansumsikan bahwa individu-individu dalam situasi standar memberi makna subjektif
kepada tindakan mereka sehingga kita mengetahui seorang sebagai jenis tertentu secara khas
bertingkah laku. Tipe ideal ini sejatinya melukiskan motivasi paradigmatis dari para individu dan
diterapkan pada kelompok-kelompok tapi tidak padam orang kongkret. Tujuan ini sebenarnya
memisahkan penafsiran kenyataan sosial dengan pelibatan praktis.
Tipe ideal ini, lebih lanjut Alfred Schutz menjelaskan harus memiliki postulat penafsiran
subjektif dalam arti tipe-tipe ideal itu dapat memberi penjelasan untuk memahami tindakan-
tindakan. Juga ada postulat kecukupan sebagai model yang harus dipahami pelaku sehingga
pandangan deskriptif dan interpretatif tindakan ssial dapat relevan ada ditengah masyarakat.
Lebih lanjut Schutz berpendapat masyarakat adalah konsep pragmatis yang dipakai untuk menata
pengalaman-pengalamannya dalam gelas kepentingan-kepentingan dan harapan untuk meraih
tujuan-tujuan yang hendak dicapai.